Thursday, September 23, 2010

Chapter 4: Dark Scar #1

Aku terbangun oleh sinar matahari pagi yang terang. Menegakkan tubuh atasku, aku menengok keluar melalui jendela. Suasana sangat indah dan cerah. Minggu yang menyenangkan.

Langit yang cerah menyapaku. Namun hal itu membuatku sakit. Gadis yang menghilang kemarin sudah tidak bisa lagi mengalami pagi indah seperti ini.

Tok tok

Terdengar suara ketukan yang ragu

“Anda sudah bangun, Shiki-sama”.

“Ya, aku sudah bangun” jawabku. “Masuklah”

“Permisi” pintu terbuka, dan Hisui masuk. “Selamat pagi Shiki-sama”

“Selamat pagi. Sarapan sudah siap?”

“Sebelumnya Saya minta maaf jika yang Saya katakan tidak berkenan kepada Anda. Tapi, sudahkah Anda melihat jam ketika bangun?”

Aku melihat jam yang tergantung di dinding. Dan jam itu menunjukkan pukul 12 lebih.

“Jamnya rusak ya?” tanyaku

“Saya rasa tidak” jawab Hisui. “Saya telah berusaha membangunkan Anda berkali-kali, namun mata Anda tidak juga terbuka”

Benarkah aku tidur senyenyak itu? Yah mungkin saja, setelah kejadian kemarin.

“Sebenarnya tidak apa-apa karena hari ini adalah hari minggu. Namun, kalau boleh Saya bertanya, apakah Anda akan pergi keluar lagi malam ini?”

“Ah, tidak. Yang lebih penting, bagaimana Akiha? Sepertinya dia juga tidur larut kemarin”

“Akiha-sama bangun seperti biasanya pagi ini” Hisui tampak ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi ditahannya.

“Wow, dia benar-benar berbeda denganku”

Aku kembali memikirkan apa yang terjadi malam kemarin. Ketika aku masih berada dalam situasi sulit karena masalah dengan Yumizuka, Akiha merawatku tanpa banyak bicara. Setelah itu… mmm… sedikit memalukan, karena itu aku tidak ingin mengingatnya lagi.

“Hisui, sepertinya Akiha itu orang yang sangat sibuk. Apa dia punya kegiatan rutin ketika libur?”

“Ya tentu saja. Namun saat ini, Akiha-sama masih ada di rumah.”

Dia ada acara tapi sampai jam segini masih di rumah?

“Aku tidak begitu mengerti, tapi …. Yah sudahlah. Aku mau ganti baju dulu. Tolong keluar sebentar”

“Baiklah kalau begitu. Saya permisi”

“Ah, Hisui” sebelum dia keluar, aku memanggilnya kembali.

“Ada apa, Shiki-sama?”

“Aku lupa mengatakannya, terima kasih telah membangunkanku. Dan mungkin ini sedikit terlambat, tapi…. Selamat pagi, Hisui”

“Ya. Semooga hari Anda menyenangkan, Shiki-sama”

Aku menatap langit-langit dan menghela nafas panjang. Tentang Yumizuka Satsuki. Aku tidak mungkin bisa melupakannya sepanjang hidupku. Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu mengontrol kehidupanku. Aku punya rumah untuk pulang. Akiha selalu di sini menungguku, dan aku punya kehidupan pribadi. Untuk melindungi semua itu, aku mengkhianatinya.

“Ah, aku harus bergegas ganti baju”

********

Di ruang tengah, aku melihat Akiha duduk di sofa, Kohaku menemaninya, dan Hisui berdiri di dekat tembok.

“Selamat pagi, Shiki-san” sapa Kohaku.

“Selamat pagi Kohaku-san. Maaf, tapi bisakah kau menyiapkan sesuatu untuk kumakan? Aku merasa sedikit lapar.”

“Tentu saja. Mohon tunggu sebentar”

Dengan cepat, Kohaku menuju ke dapur. Yang artinya meninggalkan Akiha dan Hisui, yang berdiri diam sepertui patung.

“….Yo, Akiha. Pagi”

Akiha hanya menatapku dengan mata tidak puas, tanpa menjawab sapaanku.

Mungkin dia masih merasa marah gara-gara kejadian semalam. Aku tahu aku yang salah memeluknya seperti itu.

“Akiha___ Kau tahu, semalam itu…”

“Kak, tidur sampai siang. Apa sih, yang Kakak pikirkan?”

“Mm, yah, maaf. Aku…”

“Hmp….. Hari ini libur, dan Kakak memilih tidur sampai siang. Kemalasan itu yang membuatku marah”

Akiha membuang muka dengan marah. Tapi mungkin kata ‘kesal’ akan lebih cocok daripada ‘marah’.

“Mau bagaimana lagi. Aku pulang larut, dan tubuhku sangat lelah”

“Itu salah Kakak sendiri. Apapun situasinya, tolong taati peraturan rumah”

Ugh, aku benci mengakuinya. Tapi karena dia tidur kira-kira pada jam yang sama denganku dan masih bisa bangun pagi, aku tidak bisa membalas perkataannya.

“Selain itu Kak, bukankah lebih baik kau tidak merepotkan Hisui dengan menyuruhnya membangunkan Kakak tiap pagi? Yang satu ini Saya lepaskan, karena kejadian semalam. Tapi Kakak selalu tidur terlalu lama.”

“Uuum, Akiha.mungkin aku harus mengatakan kalau aku tidur selama ini bukan karena aku mau”

“Kalau begitu, kenapa Kakak selalu tidur hingga menit terakhir setiap pagi? Apa Kakak tidak tahu bagaimana perasaan Saya menunggu hingga Kakak bangun, dan___”

“Akiha-sama!” potong Hisui

Seperti tersadar, Akiha menghentikan ucapannya. Wajahnya memerah, dan dia kemudian terdiam sejenak. Atfosfer yang penuh tekanan itu segera menghilang.

“Akiha, aku sudah bilang sebelumnya, tapi bangun jam 7 lebih itu tidak kusengaja. Meskipun aku ingin bangun lebih pagi, tapi tubuhku berkata lain. Kalau kau mau aku bangun lebih pagi, belikan aku sebuah wekker yang bisa bersuara keras”

“Uuu… Kak, mungkin ini terdengar bodoh. Tapi pernahkah Kakak memberi tahu Hisui jam berapa Kakak ingin dibangunkan?”

Benar juga. Aku melupakan hal yang kelihatannya sepele seperti itu.

“Ah, kau benar. Hisui selalu membangunkanku setiap pagi. Jadi Hisui.....” aku mengalihkan pAndanganku ke Hisui. “Mulai besok, bisakah kau bangunkan aku jam 6.30? Aku akan sangat menghargainya”

Hisui balas menatapku, dan kemudian menjawab,”Saya menolak.”

“Eh?” kataku dan Akiha bersamaan.

“Maafkan Saya. Namun Saya menolak melakukannya”

“Eh?” aku jadi tidak tahu harus berkata apa. Rasa terkejut seperti membuat otakku berhenti bekerja. Melihat situasi ini, Akiha juga terkejut dengan jawaban Hisui.

“Hisui, kenapa kau tidak bisa membangunkan Kakak?”

“Saya tidak mampu melakukan tugas yang tidak mungkin bisa Saya lakukan. Saya rasa, Saya tidak mungkin mampu membangunkan Shiki-sama sendiri”

“Tidak mampu? Kenapa?” tanyaku.

Hisui terus menatapku.

“Selama tiga hari ini, semua usaha Saya sia-sia. Shiki-sama, apakah Anda tahu berapa kali Saya berusaha membangunkan Anda pagi ini?”

“Ah, aku tidak tahu___ eh? Membangunkanku? Kukira aku bangun sendiri”

“Ini berarti, Shiki-sama bahkan tidak ingat jika Saya membangunkannya. Akiha-sama, begitulah situasinya”

“Saya mengerti” kata Akiha sambil melirikku mengejek. “Maksudmu, kau telah mencoba membangunkan Kakak berkali-kali, dan tidak ada reaksi sama sekali. Begitu bukan, Hisui?”

Hisui mengangguk.

Dan aku ikut mengangguk.

Begitu rupanya. Sebenarnya Hisui sudah berusaha membangunkanku berkali-kali pagi ini. Aku tidak ingin mengatakannya, tapi mungkin aku berbakat tidur. Hebat.

“Kakaaaak. Kenapa Kakak malah terlihat bangga?”

“Tidak, hanya terkejut betapa beratnya perjuangan untuk membangunkanku”

“Baiklah kalau begitu. Seperti yang sebelumnya saja, Hisui, tolong bagunkan Kakak sesering yang kau bisa. Dan ngomong-ngomong, Hisui…”

“Ya, Akiha-sama?”

“Benarkah Kakak sesulit itu dibangunkan?”

“Benar sekali. Tidur Shiki-sama sangat tenang, seperti patung”

Seperti patung? Aku?

“Ooo, rupanya Kakak mempunyai pose tidur yang menarik”

“Mm, bukan seperti itu, hanya saja…. Shiki-sama terlihat seperti orang yang berbeda ketika tidur. Saya tidak pernah melihat wajah tidur yang sedamai itu. Sehingga, ketika Saya pertama kali membangunkannya, Saya sempat mengira Shiki-sama meninggal, dan Saya….. Saya jadi tidak berani membangunkannya keras-keras.”

Menunduk malu-malu, Hisui menjelaskan bagaimana rupaku ketika sedang tidur. Dan aku tentunya tidak bisa untuk tidak merasa malu. Hisui terdiam, dan Akiha berusaha untuk tidak melihatku, meskipun dia sedikit mencuri-curi lirikan. Atmosfer disini menjadi terasa sedikit berat.

“Maaf membuat Anda menunggu lama. Makanan siaaaap!” suara ceria Kohaku memecahkan kesunyian diantara kami.

“Ka, kalau begitu, aku makan dulu” aku segera bergegas menuju ruang makan, menghindari situasi tidak nyaman di ruang tengah.

*******

Seusai makan, Akiha dan Hisui masih berada di ruang tengah. Tidak enak rasanya kalau aku langsung masuk ke kamar tanpa menghirukan mereka. Jadi aku masuk kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa, berhadapan dengan Akiha.

“Anda ingin teh hijau, Shiki-san?”

Kohaku meletakkan cangkir didepanku, dan mengisinya dengan teh hijau.

“Ah, terima kasih”

“Sama-sama. Ini adalah rumah Anda, jadi cobalah untuk lebih rileks. Jangan tegang seperti itu”

Kohaku sedang berusaha untuk membuatku merasa lebih nyaman, karena itu dia berusaha melayaniku sebaik-baiknya.

“Padahal kurasa aku sudah terbiasa dengan rumah ini, apa aku masih terlihat tertekan?”

“Mmm… Saya tidak bisa memastikan, tapi bahu Anda terlihat tegang. Mungkin Anda harus berusaha menikmati, daripada mencoba membiasakan diri”

“Kohaku” potong Akiha. “Berhentilah memanjakan Kakak. Dia terbisa bermalas-malasan di rumah keluarga Arima. Sedikit ketegangan mungkin baik untuknya”

“Hi hi, Akiha sama benar-benar keras terhadap Shiki-san, benar bukan?” tanya Kohaku tertawa kecil

“Saya tidak berusaha keras, tapi Kakak memang harus diawasi benar-benar”

Benar-benar mengjutkan. Ketika Akiha berbicara dengan Kohaku, tidak muncul tanda-tanda sifat dingin seperti yang biasanya ditunjukkan padaku. Mungkin karena mereka seumur, atau mungkin juga karena mereka benar-benar teman baik.

Aku kemudian melempar lirikanku ke Hisui.

Karena Akiha memecat semua pelayan selain Kohaku dan Hisui, kupikir Akiha juga sangat mempercayai Hisui. Tapi karena sifatnya yang bertolak belakang dengan saudarinya, kurasa mereka berdua jarang berbicara.

“Anda memerlukan sesuatu, Shiki-sama?”

Hisui yang menyadari kalau aku melirik kearahnya menanyakan kalau ada yang bisa dia bantu.

“Ah, tidak. Terima kasih. Aku hanya berpikir kalau kau sangat pendiam.”

“Ya. Itu yang diajarkan oleh Makihisa-sama kepada Saya” jawabnya dingin.

Jawabannya sangat dingin, sehingga membuatku tidak bisa melanjutkan percakapan. Aku merasa sedikit tidak nyaman. Dan sepertinya Akiha dan Kohaku masih sibuk mengobrol.

“Shiki-sama, boleh saya bertanya?”

“Eh? Ah, tentu saja”

“Tampaknya Anda kemarin kembali keluar malam. Apakah Anda memiliki agenda rutin yang harus dikerjakan tiap malam?”

“Ah, tidak. Aku tidak punya. Dua hari terakhir ini saja yang sedikit spesial.”

Aku mencuri Pandang kearah Akiha ketika mengatakannya. Akiha kemudian diam memandangi kami berdua. Mungkin Hisui dan Kohaku tidak tahu kejadian kemarin malam.

“Tidak apa, Hisui. Aku tidak akan keluar malam lagi. Lagian aku bukan anak kecil lagi. Seharusnya tidak ada masalah kalau aku keluar malam.”

“Memang benar, Shiki-sama. Tapi Anda adalah putra tertua keluarga Tohno. Tolong berhentilah melakukan tindakan-tindakan yang tidak perlu”

“Ya ya ya Hisui-chan benar.” Sambung Kohaku. “Dokter anda mengatakan jika anda tidak boleh terlalu letih. Anemia bukan?”

“Benar sih, tapi ini tidak ada hubungannya dengan keluar malam.”

“Memang benar, namun ketika siang, akan ada orang-orang yang bisa membantu anda. Malam hari itu berbeda. Ada pembunuhan vampire akhir-akhir ini, jadi jika anda pingsan di malam hari, apa yang akan terjadi?”

Pembunuhan vampire. Pembunuh yang berkeliaran di malam hari. Kemarin malam, aku membunuh teman sekelasku dengan tanganku sendiri.

“Tidak masalah, Kohaku. Sudah tidak ada vampire di luar sana. Kejadian itu, tidak akan terjadi lagi.”

Ya. Karena Yumizuka Satsuki sudah tidak ada lagi di dunia ini.

“Oh? Benarkah?”

“Saya belum pernah mendengar ini sebelumnya” lanjut Akiha. “Mungkin Kakak tahu sesuatu. Oh benar. Sepertinya ada korban murid dari sekolah Kakak. Kelas 2-3. Itu kelas Kakak bukan?”

“Eh? Kurasa tidak ada”

“Ah, Shiki-san. Anda tidak melihat berita pagi ini ya? Kemarin polisi menemukan genangan darah milik seseorang yang bernama Yumizuka Satsuki. Darahnya sudah mengering cukup lama, tapi dari jumlah darahnya, bisa dipastikan kalau dia telah meninggal”

Jantungku mulai berdetak tak karuan. Kenyataan Yumizuka Satsuki telah meninggal, aku tahu persis tentang hal itu. Tapi ketika mereka mengatakan Yumizuka meninggal, terdengar olehku seperti,”Kau membunuhnya, bukan?”

“Kak? Ada apa? Wajah Kakak tiba-tiba pucat”

Tidak mungkin aku menjawab Aku baik-baik saja. Aku mengatakan pada diriku sendiri kalau aku tidak akan menyesalinya. Tapi setiap kali aku memikirkannya, aku merasa ada bayangan besar yang menelanku.

“Semuanya… mari kita adakan pesta penyambutan!!!”

Tiba-tiba saja Kohaku mengalihkan pembicaraan. Mungkin karena dia melihatku yang tampak sedih dan tertekan, dan tidak ingin aku bertambah sedih lagi.

“Huh?” kataku dan Akiha bersamaan. Bahkan Hisui juga sedikit memiringkan kepalanya keheranan.

“Penyambutan kedatangan Shiki-san. Kita semua disini, dan kita belum merayakan kembalinya Shiki-san. Jadi hari ini, harus ada pesta. Benar bukan?” Kohaku melihat kearahku. “Bagaimana Akiha-sama? Jika diperkenankan, kami akan segera melakukan persiapan sekarang”

“Ya. Kakak telah pulang, dan kita belum menyambutnya. Ide yang bagus. Hisui, kau setuju?”

“Ah__ya. Jika Shiki-sama tidak berkeberatan. Saya rasa tidak akan buruk”

Tiga orang itu kemudian menatapku bersamaan.

Sepertinya menarik. Aku juga tidak ingin Kohaku mencemaskanku.

“Mana mungkin aku menolak”

“Baiklah, Saya akan segera menyiapkan bahan makanannya. Hisui-chan, bisa tolong kau kerjakan pekerjaanku hari ini?”

“Baik kak. Membersihkan lobi dan sayap timur, bukan?”

“Terus, apa yang harus kulakukan, Kohaku?” tanya Akiha.

“Akiha-sama dan Shiki-san beristirahat di kamar masing-masing”

Hisui kemudian bergegas ke dapur, dan Hisui ke kebun.

“Baiklah kak, Saya akan kembali kekamar.”

Jadi, apa yang harus kulakukan? Kalau aku menolong Hisui, mungkin aku hanya akan merepotkan saja. Mungkin aku sebaiknya berbicara dengan Akiha, mumpung dia ada di rumah.

****

“Akiha, kau didalam?”

“Eh? Ka, Kakak?”

Suara buru-buru terdengar dari dalam kamarnya.

“Cuma ingin bicara sebentar. Boleh masuk?”

“Aaaa… tunggu sebentar…. Ya, silahkan masuk”

Heh, kalau kupikir-pikir, ini pertama kalinya aku masuk kedalam kamar Akiha. Jadi aku membuka pintu kamarnya dengan perasaan sedikit tegang. Dan kamarnya sama persis dengan apa yang kubayangkan.

“Ya kak? Apa ada yang penting sehingga Kakak kemari?”

“Ah tidak juga. Cuma pingin sedikit mengobrol. Kalau kau sedang sibuk, aku bisa kembali lain waktu.”

“Sibuk? Mmm… ya mungkin sedikit sibuk. Namun kukira bisa ditunda kalau Kakak ingin bicara denganku”

Akiha merapikan buku catatan di atas mejanya.

“Ah, PR rupanya. Yah, kurasa aku memang harus pergi. Aku tidak mau menggangu belajarmu”

“Saya baru saja mau mulai, jadi Saya rasa bisa ditunda untuk nanti malam. Silahkan duduk kak. Teh?”

“Terima kasih, tapi tidak. Terima kasih”

“Ah, kalau begitu Saya juga tidak”

Akiha duduk dikursinya. Dan kuletakkan pantatku dikursi yang nyaman, dan melihat ruangan adikku. Ruangan yang sangat bagus, tapi bukan tipeku.

Aku tidak pernah bisa mengatur kamarku. Isi kamarku cuma tempat tidur, ranjang, dan itu saja kukira. Jika saja aku diberi kamar seperti ini, mungkin aku malah kepingin kabur.

“Hey, Akiha”

“Ya?”

“Ada sedikit yang membuatku heran dan kepikiran selama ini. Kenapa kau memintaku pulang? Ayah meninggal dan aku ini anak pertama. Kurasa kalau hanya alasan itu, kurang bisa kuterima.”

“Hmpf,” Akiha mendengus. “Apa maksud Kakak tidak bisa terima? Ini adalah rumah Kakak, hal yang wajar jika Kakak pulang kembali kemari. Tidak perlu ada alasan yang lainnya”

“Iya sih, tapi apa kau tidak menyimpan dendam kepadaku? Aku meninggalkanmu selama 8 tahun”

“Tentu saja. Tapi itu semua salah ayah yang mengirim Kakak ke keluarga Arima. Tapi yang paling membuatku marah, Kakak tidak pernah mengirim surat padaku!” kata Akiha dengan nada tinggi

“I… itu….”

“’Itu’ apa? Ayolah kak, ‘itu’ apa?!! Apa Kakak kemari hanya ingin membuat saya teringat kembali apa yang sudah hampir saya lupakan?! Apa Kakak benar-benar senang membuatku kesal, hah?!”

“Bukan begitu! Tentu saja aku tidak ingin melihatmu marah. Aku tidak pernah mengirim surat karena ayah melarangku, jadi__”

“Saya tahu! Yang membuatku marah adalah Kakak mengingatkanku kembali akan hal itu!”

“Maaf…..”

“Sudahlah. Jangan membicarakan hal itu” dengan kesal, Akiha membuang muka.

Heh, apa yan sudah kulakukan ini? Setelah akhirnya punya waktu dengan Akiha, kenapa aku malah membicarakan sesuatu yang membuatnya marah?

“Yah, sepertinya Kakak memang senang membicarakan hal yang remeh-temeh seperti ini. Kohaku benar. Pokoknya ini adalah rumah Kakak, dan sebaiknya Kakak lebih rileks tinggal disini”

“Kucoba untuk membiasakan diri secepatnya. Tapi__”

“Tapi?”

“Tapi aku kok tidak merasakan adanya kenangan. Aku memang ingat pernah tinggal disini, tapi aku binggung karena tempat ini sama sekali tidak sama dengan apa yang kuingat. Mungkin karena aku sudah pergi selama 8 tahun,. Jadi lupa”

Mendengar kata-kataku, Akiha terlihat sedikit cemas.

“Kenapa kamu? Sudah kubilang, bukannya aku tidak suka dengan rumah ini. Jangan cemaslah, aku bilang aku tidak akan meninggalkan rumah ini”

“Ah, ya, benar. Tapi__”

Akiha terlihat sangat aneh untuk suatu alasan yang tidak kutahu.

“Kak, Saya punya pertanyaan yang lupa saya tanyakan. Tentang luka kecelakaan 8 tahun yang lalu”

“Hmmm? Maksudmu yang di dadaku?”

“Ya. Kohaku mengatakan kalau luka itu belum benar-benar sembuh. Apakah masih menganggu?”

“Entahlah. Sebenarnya luka ini sudah sembuh beberapa tahun yang lalu, tapi sepertinya ada beberapa organ yang ikut terluka. Dokter bilang bisa sembuh, tapi ada kemungkinan tidak stabil. Mungkin anemia akutku gara-gara itu”

“Apakah, mmm… masih sakit?” Akiha seperti berbisik.

“Ah tidak. Tidak lagi. Aku memang sering merasa pusing kalau bangun tiba-tiba, tapi tidak pernah lebih parah dari itu. Akhir-akhir ini pusing itu sudah tidak terjadi lagi. mungkin anemiaku akan sembuh dalam beberapa tahun ini. Pokoknya jangan cemas. Banyak orang yang terluka dan memerlukan waktu berpuluh tahun untuk sembuh. Dibandingkan mereka, lukaku ini tidak ada apa-apanya”

Akiha terus terdiam. Dia seperti tidak berani menatapku.

Sial, suasananya malah terasa berat. Dan Akiha terus diam.

“Akiha?”

“Ah, ya? Ada apa Kak?” Akiha menjawab dengan sedikit terkejut, seperti habis bangun tidur.

“Ada apa? Kau sakit? Apa tidak sebaiknya kau tiduran dulu? Aku akan balik ke kamarku”

“Bu, bukan begitu. Hanya saja, ketika berbicara dengan Kakak, Saya teringat masa lalu”

Tubuh Akiha gemetar. Dia terlihat bisa jatuh kapan saja, tapi diberhasil memepertahankan tubuhnya untuk tetap duduk tegak. Nafasnya mulai tersengal-sengal, kondisinya terlihat sangat aneh.

“Akiha, kau tidak apa-apa? Sebaiknya kau tiduran dulu”

“Ti, tidak. Saya baik-baik saja. Sebenarnya, walau tidak separah Kakak, Saya juga sering merasa pusing. Saya teringat kecelakaan 8 tahun lalu. Luka Kakak yang parah. Dan darah yang keluar dari luka itu. Semuanya membuatku merasa pusing.”

“Aku mengerti. Tapi tolong, jangan paksakan diri”

“Saya mengerti. Tidak apa-apa. Berbeda dengan Kakak, yang terjadi padaku adalah murni luka psikologis, bukan fisik” Akiha menjawab tegas, tampaknya sudah pulih benar.

“Sebaiknya Kakak kembali ke kamar Kakak, menunggu Kohaku memanggil”

“Kau benar. Sudah jam 5. Baiklah, aku akan kembali. Tapi Akiha, jangan memaksakan diri”

“Oh? Tumben sekali Kakak begitu perhatian. Mungkin sesekali akan saya turuti nasehat Kakak”

Aku membuka pintu kamar. Kamar Akiha berada diujung Sayap barat, sekitar 50 meter dari kamarku, yang berada di Sayap timur.

“Ah, Kakak…”

“Ya? Ada apa?”

“Tidak, tapi…..” Akiha terdiam, tidak mampu menemukan kata yang tepat. Dan matanya menatap kearahku. “Tidak apa, maaf”

Matanya terlihat meminta maaf padaku.

“Kita akan bertemu di ruang makan nanti. Saya tidak akan marah dengan apa yang akan Kakak lakukan hari ini, jadi Kakak jangan cemas.”

“Oh! Syukurlah! Kuharap kita bisa melupakan table manner hari ini”

Dengan itu, aku meninggalkan kamar Akiha.


******

“Sekarang, saatnya toss untuk kepulangan Shiki-san!! Semuanya, silahkan mengambil minuman apapun yang kalian suka”

Kohaku mengatur gelas-gelas berisi minuman di depan kami, dengan senyum merekah yang polos.

Masalahnya, kebanyakan minuman yang disediakan bukan jus atau minuman ringan lainnya. Namun minuman yang mengandung alkohol.

“…. Uum, Akiha?”

“Ya kak?”

Aku melihat sesuatu yang berbusa di dalam gelas yang dipegang Akiha.

“Itu wiski bukan?”

“Tentu saja? Ada yang salah?”

“Tidakkah klita terlalu muda untuk minum minuman seperti ini?”

“Ayolah, ini pesta penyambutan untuk Kakak. Kita harus menyuguhkan minuman semacam ini. Atau Kakak lemah terhadap alkohol?” kata Akiha dengan senyuman puas.

“Hisui-chan, tumben sekali. Tidak minum jus hari ini?” tanya Kohaku.

“………..”

Dengan malu-malu, Hisui menuangkan wine kedalam gelasnya.

“Lihat kak, bahkan Hisui ikut minum. Kakak tidak berpikir untuk menjadi satu-satunya orang disini yang minum jus, bukan?” pancing Akiha

“Kau benar-benar ingin pesta gila-gilaan ya?”

“Begitulah. jujur saja, sebenarnya Saya tidak begitu suka pesta. Namun khusus hari ini pengecualian”

Yah, sudahlah. Alkohol memang tidak baik untuk tubuhku, tapi kalau sedikit sepertinya tidak masalah. Dan yang kadar alkoholnya paling ringan sepertinya wine.

“Baiklah semuanya…!” seru Kohaku. “Angkat gelas kalian, dan… CHEERS!”

Dengan suara ‘Tring’, kamu mengadu ujung gelas kami. Kohaku menegak isi gelasnya dengan sekali teguk, Akiha terlihat sangat menikmati, sedangkan Hisui menyeruputnya sedikit-sedikit.

Apapun yang terjadi setelah ini, aku tidak mau bertanggung jawab.

__ Satu jam kemudian __

Hisui tertidur di kursi. Dan kemudian Kohaku menggendongnya menuju kamar sambil tersenyum. Aku sendiri, karena tidak terbiasa dengan alkohol, merasa sedikit pusing. Akiha masih duduk di kursinya sambil menikmati gelas yang entah keberapa.

“Kau… luar biasa, Akiha.”

“Oh, ada caranya kak. Saya tidak pernah minum sekaligus. Jadi tidak masalah seberapa banyak saya minum minuman seperti ini”

Bukan itu maksudku. Aku bilang luar biasa karena kau sudah terbiasa minum aklokohol meskipun masih usia sekolah.

“Sudahlah kak, minumlah. Kohaku sudah menyiapkan semua ini”

“Ah, iya. Aku harus mengucapkan terima kasih nanati”

“Baiklah, Saya mungkin sudah mulai mabuk, jadi Saya akan keluar sebentar”

Akiha memang berkata ‘mabuk’, namun dia berjalan keluar ruang makan seanggun biasanya.

Mengikuti Akiha, aku keluar untuk menghirup udara segar.

Sekarang masih jam 6 lebih sedikit. Matahari memerahkan langit.

“Matahari merah”

Sampai sekarang, warna merah matahari sore mengingatkanku pada darah. Namun hari ini, mengingatkanku pada senyum terakhir Yumizuka ketika kami berpisah di persimpangan jalan.

Deg deg
Deg deg
Deg deg

Aku merasa sesuatu menusuk jantungku.

Lukaku? Ataukah hatiku yang terluka karena penyesalan? Aku tidak tahu

“Ugh”

Aku merasa pusing. Karena alkohol dan rasa sakit didadaku. Hal kecil seperti itu cukup untuk membuatku kehilangan kesadaran. Semuanya terlihat putih.

Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun.

Aku teringat ucapan terakhir Yumizuka ketika kami berpisah.

Seandainya aku bisa melupakannya, akan lebih mudah bagiku. Tidak mungkin bagiku untuk melupakannya senyumannya saat itu. Dan selama luka dileherku masih ada, tidak mungkin aku bisa.


*********

“Ah___”

Tersadar, aku sudah berada di dalam kamarku. Selama aku tertidur, pasti Akiha menemaniku karena dia ada di depanku.

“Akiha”

“Sudah bangun Kak? Syukurlah. Tiba-tiba saja Kakak pingsan. Apa yang terjadi?”

“Aku.... pingsan?”

“Benar. Dan untungnya tidak terlalu lama. Maaf, Saya telah meminta Kakak minum seperti itu”

“Bukan. Bukan karena minuman. Ini hanya pingsan biasa” mengatakan hal itu, aku menatap langit-langit. Kepalaku masih pusing, dan sepertinya aku sedang enggan berbicara. Meskipun begitu, Akiha sepertinya tidak terganggu. Dia terus mennemaniku dalam diam.

“Akiha....”

“Ya Kak?”

“Tidakkah menemaniku seperti ini terasa membosankan? Aku baik-baik saja. Kalau mau, kau boleh kembali ke kamarmu”

“Apakah aku mengganggu Kakak?”

“Bukan begitu. Aku hanya berpikir kalau kau mungkin merasa bosan”

“Membosankan memang. Namun tidak apa. Saya melakukannya karena ingin. Jadi Kakak tidak perlu cemas”

Baiklah kalau itu maumu.

Waktu berjalan dengan cepat. Sekarang sudah jam 7 lebih. Akiha sudah menemaniku selama 1 jam lebih.

Ah, aku ingat sekarang. Dulu, juga pernah seperti ini. Lebih dari 8 tahun yang lalu, Akiha juga pernah merawatku ketika aku terkena flu. Flu yang sangat parah. Bahkan untuk bernafaspun rasanya sulit. Gadis cilik berambut hitam panjang itu terus duduk disampingku sambil mengenggam tanganku.

Didalam kamar yang ber-tatami gelap, Akiha cilik terus memandangiku dengan matanya yang hampir menangis.

“Aku sedikit lega”

“Ya Kak? Kakak mengatakan sesuatu” tanya Akiha

“Ya. Aku berpikir kalau masih ada sedikit Akiha yang dulu dalam dirimu. Bukan sesuatu yang penting, namun cukup untuk membuatku senang” Aku tersenyum kearahnya.

“Aku mengerti,” kata Akiha malu-malu “Tapi Kakak benar-benar tidak berubah. Selalu merepotkan orang lain” keluh Akiha sambil mengalihkan pandangannya dariku.

Aku tahu kalau dia sebenarnya hanya malu. Dan aku merasa sedikit bertambah senang karenanya.

“Ih, kenapa Kakak tersenyum seperti itu. Kalau Kakak masih punya tenaga, berarti aku tidak perlu lagi menjagamu”

“Tidak___ hanya saja... aku teringat sesuatu. Dulu, waktu itu di kamar yang ber-tatami___”

Tatami? Aku ingat jelas kalau Akiha dulu juga pernah menjagaku seperti ini, tapi di dalam kamar yang ……. ber-tatami? Bukan di kamar ini?

Ada sesuatu
Ada sesuatu yang salah.

“Akiha, apa kita punya kamar yang ber-tatami dirumah ini?”

“Tidak. Tidak ada kamar bergaya Jepang di sini”

“Ah, iya juga. Kau benar. Tidak mungkin ada”

“Memangnya kenapa kak?”

“Tidak... hanya saja, rumah ini sangat besar. Jadi mungkin kita punya satu-dua kamar yang ber-tatami.

“Tapi memang di sini ada sebuah bangunan bergaya jepang namun sudah terbengkalai”

“Eh?”

Ya tentu saja. Kenapa aku bisa lupa. Di tengah hutan di halaman, ada rumah yang bergaya jepang.

“Syukurlah, Kakak sudah kembali bersemangat. Kurasa saya hanya akan menganggu jika terus berada di sini. Sebaiknya saya kembali ke kamarku”

Berdiri dari kursi, Akiha berjalan keluar.

“Terima kasih, Akiha. Maaf merepotkan”

“Jangan cemas. Mulai esok, hidup Kakak akan seperti ini”

Setelah mengatakan sesuatu yang tidak kupahami, Akiha keluar.

Aku mematikan lampu kamar dan kemudian merebahkan tubuhku diatas ranjang. Aku berterima kasih kepada Akiha yang telah merawatku sehingga aku bisa lebih rileks. Dengan kondisi seperti ini, mungkin aku bisa tidur dan bermimpi tenang untuk pertama kalinya.

Aku menarik nafas panjang dan perlahan menutup mataku. Begitu aku menutup mata, ingatanku tentang Akiha cilik berkelebat dibenakku. Didalam sebuah ruangan bergaya Jepang yang gelap, dimana tidak ada seorangpun yang mau datang menjengukku, kecuali Akiha. Apa dia menyelinap kabur dari pengawasan Ayah? Akiha masuk dan kemudian menangis sambil menggenggam tanganku.

“Maaf” katanya.

Aku tidak tahu kenapa, tapi gadis cilik berambut hitam panjang itu terus mengatakan maaf berulang-ulang.

___aku mengingatnya.

Putri pertama keluarga Tohno adalah satu-satunya orang yang perhatian terhadapku. Gadis cilik yang selalu menangis di dalam ruangan bergaya Jepang yang gelap. Aku menggigit bibirku karena frustasi saat itu. Kepalaku terasa pusing karena demam.

Kenapa dia menangis?
Kalau karena aku, aku tidak akan membuatnya menangis.

Maaf
Maaf, Kakak Shiki

Air matanya terlihat sangat indah. Dan saat itu aku bersumpah untuk tidak akan meninggalkannya..

Read More..