Tuesday, August 17, 2010

CHAPTER 3: Inversion Impulse # 3

Musim panas.
Hari terasa panas.
Langit biru yang luas yang dihiasi awan putih.
Suara-suara burung gereja terdengar.

Cip cip cip
Cip cip cip
Cip cip cip
Cip cip cip

Terdengar jelas, membuatku ingin mati saja.

Hari yang sangat panas
Dunia terasa seperti dalam penggorengan.

Uwaaaa, uh uh
U, waaaaa,

Suara Akiha yang sedang menangis.
Seorang anak tergeletak dibawah kakinya.
Bersimbah darah.
Terbunuh
Mayat seorang anak laki-laki seumurku.

Sura burung gereja tidak terdengar lagi.

Kedua tanganku
Berwarna merah
Darah dari anak yang tergeletak itu

“AKIHA!!!!”

Orang-orang dewasa berlari mendekat.

“Apa yang__!!!!”

Salah satu dari mereka mearik Akiha pergi.

Anak yang tergeletak itu mati.
Orang-orang dewasa berteriak.

“Apa kau membunuhnya?”

Mereka meneriakiku.
Menyebut namaku, dan mengatakan kalau aku telah membunuhnya.
Mereka terus berteriak seperti orang gila.
Mereka memanggilku SHIKI

****

“Shiki-sama, jika tidak bangun sekarang, nanti anda terlambat”

Mendengar namaku dipanggil, aku membuka mataku.

“Hisui?”
“Selamat pagi, Shiki-sama” Hisui menyapaku dengan membungkukkan badannya.

Sinar matahari masuk melalui jendela. Aku berada didalam kamarku.

“Hi, Hisui…?”

“Shiki-sama. Apakah anda merasa kurang enak badan?”

“Ah, tidak. Aku hanya…. bermimpi…. apa ya?” aku tidak bisa mengingat detil mimpiku.

Hisui sedikit memiringkan kepalanya kebingungan.

Sudahlah, tidak ada gunanya menceritakan ini semua ke Hisui. Mampi tadi___ apa-apaan? Sepert sesuatu…. SESUATU YANG SANGAT KUKENAL.

SHI…KI? orang-orang dewasa itu memangilku SHIKI

“Ada apa Shiki-sama?”

“Tidak. Tidak Apa. Maaf, aku akan segera ke ruang makan.”

Mengangguk, Hisui berjalan menuju pintu kamarku.

Tap tap tap

Suara langkahnya terdengar lebih mantap. Sampai di pintu, dia berbalik.

“Shiki-sama, kalau saya boleh tahu, jam berapa anda pulang tadi malam?”

“Ah, kemarin? Mmm… cukup larut”

“Shiki-sama, anda mengatakan kalau anda akan pulang jam 4 sore. Apakah ada perubahan jadwal?”

Ah, aku ingat. Kemarin aku mengatakan itu kepada Hisui. Mungkin dia menungguku jam 4 sore.

“Maaf. Banyak hal terjadi, dan aku tidak bisa pulang tepat waktu. Lain kali tidak akan terjadi. Jadi kuharap, kau mau memaafkanku untuk yang kemarin”

“Anda tidak perlu mengatakan hal tersebut, Shiki-sama. Tugas pelayan adalah menyesuaikan dengan jadwal tuan mereka. Namun, saya mohon, bila terjadi perubahan jadwal seperti kemarin, anda menelepon rumah terlebih dahulu. Apapun yang terjadi, saya yakin anda masih bisa menghubungi rumah.”

“Kau benar. Maaf. Lain kali, aku akan tepat waktu”

“Saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi.”

Tadi itu…. Sepertinya Hisui sedikit marah. Biasanya dia tidak pernah menunjukkan ekspresi, jadi mungin dia akan menjadi sangat mengerikan kalau marah.

“Ok, baiklah. Saatnya bangun” melempar selimut, aku bangun dari tempat tidurku. Dan tiba-tiba__

“AKH!”

Tubuhku terasa sangat sakit. Sakit ini, tidak berasal dari lukaku semalam. Sakit ini dari tempat yang lebih dalam, di dekat jantungku.

“Aaaa…gh…” mencengkram selimut, aku berusaha menahan sakit. Dan setelah itu, rasa sakit tiba-tiba menghilang.

“Luka… di dada?” aku menyentuh dadaku. Meskipun lukaku sudah sembuh, tapi kadang masih terasa sakit seperti barusan. Dokter mengatakan kalau lukaku sudah sembuh, tapi luka psikologisku membuatku terus-terusan mengingat rasa sakit yang pernah kualami.biasanya sakit ini muncul juka aku melihat sesuatu yang berwarna merah. Darah dan kematian, pasti membuatku mengingat kembali kejadian 8 tahun lalu.

“Mungkin gara-gara tadi malam”

Gang yang berwarna merah. Dan wajah Yumizuka yang tersenyum.

“UG___H!!”

Dadaku sakit.
Bayangan Yumizuka tidak mau meninggalkan pikiranku.
Tapi aku tidak tahu apa yang harus kkulakukan, apa yang bisa kulakukan.

“Si..al”
Menyeka keringat, aku bangun dari ranjang. Setelah mengganti piyamaku dengan seragam sekolah, aku menuju ruang makan.

Akiha dan Hisui berada disana. Kohaku mungkin ada di dapur menyiapkan sarapanku.

“Selamat pagi, Kak”
Akiha yang duduk di sofa menyapaku.

“Ah, selamat pagi. Maaf soal kejadian kemarin” Balas menyapa, aku duduk di salah satu kursi. Aku tidak punya banyak waktu untuk tinggal dan mengobrol dengan Akiha, dan saat ini aku memang sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.

“Kak, saya ingin berbicara sedikit dengan kakak. Bisakah?”

“Baiklah, tapi jangan lama-lama, soalnya aku harus berangkat ke sekolah”

“Baiklah, melanjutkan pembicaraan tadi malam, apa yang kakak lakukan kemarin?” Akiha bertanya dengan pandangan yang lurus dan menusuk.

“Tidak ada. Hanya…. Jalan-jalan. Maaf kalau aku pulang terlambat, tapi itu bukan masalah besar, kan?”

“HANYA berjalan-jalan di tengah malam itu masalah besar! Kakak masih SMA, jadi jangan keluyuran malam-malam. Selain itu banyak kejadian yang terjadi setiap malam akhir-akhir ini”

Ah___ kejadian, pembunuhan yang terjadi tiap malam. Kenapa aku tidak menyadarinya? Pembunuh itu membunuh orang dan menghisap darah mereka. Sangat pas dengan apa yang dilakukan oleh Yumizuka kemarin.

“…. Saya ingin Kakak sedikit meluangkan waktu untuk beristirahat. Jika Kakak pulang dengan seperti kemarin, saya akan cemas. Jika Kakak memiliki masalah, katakan padaku. Mungkin tidak banyak, tapi kalau saya bisa…”

Aku tidak ingin memikirkannya, tapi….. Yumizuka. Yumizuka mungkin saja pembunuh yang berkeliaran itu.

“Kak? Kau mendengarkan?”

“Eh?__Umm, ya. Aku mendengarkan” Aku mendengarkan Akiha, tapi dalam kepalaku, aku terus memikirkan Yumizuka kemarin malam.

“Jadi, Kakak tidak bisa menceritakan kejadian kemarin malam?”

“Ya. Lagipula, tidak ada hubungannya denganmu, Akiha” aku mengatakannya agar percakapan ini segera selesai.

“Baiklah, saya mengerti. Silahkan. Silahkan saja berbuat semau kakak. Saya jugan akan berbuat semau saya” Akiha kemudian keluar menuju lobi dengan kesal.

“Shiki-sama., benarkah ini tidak apa-apa?”

“Apanya, Hisui?”

“Saya percaya bahwa sebenarnya Akiha-sama sangat mencemaskan anda. Tapi mungkin sulit bagi Akiha-sama untuk mengutarakannya karena beliau jarang menunjukkan perasaannya.”

“Aku tahu itu, tapi sekarang… kepalaku penuh dengan … ah, sudahlah. Aku minta maaf”

“………” Hisui terdiam menanggapi reaksiku.

“Shiki-saaan, sarapaaaaan!” terdengar Suara Kohaku dari dapur.

*****

“Shiki-sama, jam berapa anda akan pulang nanti?”

“Karena ini hari sabtu, jadi aku pulang jam…. Sebentar… mungkin sore. Ada sesuatu yang harus kulakukan.”

“Saya mengerti. Jaga diri anda baik-baik” Hisui membungkuk dengan dalam.

Setelah Hisui mengantarku hingga gerbang, aku berangkat menuju sekolah.

*****

Tidak ada gunanya pergi ke sekolah. Yumizuka hanya dianggap murid yang absen, dan tidak ada seorang temanpun yang peduli padanya. Waktu berjalan dengan cepat. Mungkin Arihiko dan Ciel-senpai sempat menghampiriku, tapi aku tidak begitu ingat. Siang datang, dan sekolah usai.

Aku tidak tahu dimana, tapi aku harus menemukan Yumizuka. Aku berjalan mencarinya berkeliling kota. Tapi tidak juga aku menemukannya. Akhirnya matahari mulai terbenam. Hingga selama ini pun, aku belum juga melihat tanda-tanda Yumizuka dimanapun.

“Cih…” aku menggigit bibirku dengan kesal. Tapi bukan marah karena aku tidak bisa menemukannya, tapi karena dua hari yang lalu aku pernah berjanji padanya.

___ Jadi, kalau aku dalam bahaya, kau akan segera datang dan menyelamatkan aku bukan?

Dia pernah meminta seperti itu, dan aku menjawabnya Ya. Aku akan mencoba semampuku. Tapi sekarang, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Menatap matahari yang semakin tenggelam. Mungkin aku baru bisa menemukannya setelah malam tiba.

“Tapi aku berjanji akan pulang sore hari”

Baiklah, aku akan kembali ke rumah dulu, dan memikirkan tindakkanku selanjutnya di kamar.

****

“Selamat datang, Shiki-sama”

“Aku pulang, Hisui. Mana Akiha?”

“Akiha-sama masih ada kegiatan di sekolah. Karena beliau mungkin datang terlambat, bagaimana kalau anda makan dulu?”

Kegiatan ya? Mungkin saja banyak kegiatan disekolahnya. Karena sekolahnya adalah sekolah putri yang sangat prestisius.

“Aku akan di kamar hingga waktu makan malam dan akku akan turun kalau makanan sudah siap”

“Baiklah, selamat beristirahat”

Berbalik, aku meninggalkan Hisui menuju kamarku.

*****

Makan malam usai. Setelah itu, aku hanya duduk-duduk di kamarku saja. Jarum jam menunjukkan jam sembilan malam. Karena jam malam rumah ini adalah jam 8, aku sudah tidak bisa keluar lagi.

Tapi itu hanya peraturan. Kalau mau, aku bisa saja keluar kapanpun. Aku tidak mau meninggalkannya sendirian. Aku tahu kalau mencari Yumizuka sekarang itu bisa berbahaya. Karena apapun alasannya, dia sudah membunuh banyak orang.

Saat itu, ketika kami pulang bersama, aku tidak bisa melupakan kata-kata terakhirnya.

"Aku akan mencarinya"

Aku mengganti bajuku, dan menyelipkan pisau dalam kantungku. dengan mengendap-endap, aku menyusup keluar rumah agar tidak membangunkan Akiha atau yang lainnya.

Lampu lobi mati. Sangat gelap dan sepi. Sangat sempurna untuk menyusup keluar.

Crek, crek

Hanya suara deritan tangga kayu yang kuinjak yang terdengar. menuruni tangga, aku bergerak menuju pintu depan. dan kemudian....

"__Kak? kakak mau kemana malam-malam begini?"

Akiha berdiri di tengah lobi, bertanya dengan suara yang hampir berbisik

"A, Akiha? kau sudah pulang rupanya"

"Ya. beberapa saat yang lalu. Tapi kak, yang lebih penting__ apa yang kakak lakukan? kakak berganti pakaian, jadi kelihatannya kakak mau pergi keluar"

Tatapan Akiha dingin menusuk dadaku. Bukan tatapan marah, tapi dia menatapku tidak percaya.

"Kakak hendak pergi keluar, dan mencari perkara seperti kemarin, bukan begitu Kak?"

"....... Maaf, temanku sedang dalam masalah. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri"

"Begitu ya. Apakah kakak akan tetap pergi meskipun saya berusaha menghentikan kakak?"

"Ya. tapi percayalah. aku tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku hanya ingin.... memeriksanya saja. Maaf aku sudah bikin masalah, padahal kau baru saja pulang"

Setelah mengatakan itu, aku melangkah keluar.

"... Kak ...." suara yang lembut. Tidak terdengar nada bicara Akiha yang biasanya. Seperti suara Akiha kecil 8 tahun yang lalu, yang selalu dipenuhi ketidak berdayaan.

"Kakak akan.... pulang bukan?" Suara Akiha dan wajahnya yang rapuh. Wajah Akiha yang terlihat selalu siap menangis, seperti 8 tahun yang lalu.

"Tentu saja. aku akan pulang. jadi jangan melihatku dengan wajah seperti itu"

"Tapi...."

"Tenang saja. Aku pasti kembali. Maaf, aku selalu membuat masalah"

"Kkakak!"

Tidak mengacuhkan panggilan Akiha dibelakangku, aku berlari keluar.

__Diluar, bulan bersinar terang.

Mungkin gara-gara melihat wajah Akiha tadi, aku jadi merasa aku tidak akan pulang selamanya.

***

Akhirnya aku tiba di distrik perbelanjaan. Kemungkinan besar Yumizuka akan muncul disini. Karena semua korban pembunuhan ditemukan disekitar distrik ini.

"Sial! apa yang sedang kupikirkan?!"

Aku mengumpati logikaku sendiri. Tapi paling tidak kemungkinanku bertemu dengannya disini lebih besar dari pada ditempat lain.

Aku mulai mencari Yumizuka.

Dimana dia? Dimana dia? Dimana dia? Aku tidak bisa menemukannya. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.

*hosh hosh hosh*

Aku berlari, berlari, dan berlari.

*hosh hosh hosh*

Berlari dan terus mencari.

*hosh hosh hosh*

Tubuhku terasa panas karena kelelahan.

Sekarang hampir tengah malam. Mungkin sudah tidak ada gunanya mencari. Tapi masih ada satu tempat yang belum kucari.

Meninggalkan distrik perbelanjaan yang terang, aku menuju taman yang gelap. Karena pembunuhan berantai akhir-akhir ini, tidak ada seorangpun yang berada disini. Aku sendiri tidak pernah berharap menemukan Yumizuka disini, tapi tempat inilah satu-satunya tempat yang belum kucari.

Sepi. Dibawah sinar bulan ini, aku tidak merasakan adanya kehidupan. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa bulu kudukku berdiri semua. Kepalaku terasa berat, dan tubuhku terasa sangat dingin. Aku ketakutan.

Aku berusaha mengatur nafasku dan mengumpulkan keberanian. Berbeda dengan tubuhku yang dingin, tenggorokanku terasa panas mencekat, kering kehausan. Kumasukkan tanganku kedalam kantong celana, untuk memastikan bahwa aku membawa pisauku.

Ada yang aneh. Taman ini memancarkan aura buruk. Tapi aku terus berjalan menuju pusat taman.

Disana, aku melihat seseorang. Berlutut, dan bernafas. Dengan kesulitan. Wajahnya pucat, dia mencengkram lehernya sendiri, tampak kesakitan.

Yumizuka Satsuki.

“Yumizuka?” Akhirnya aku menemukannya. Tanpa memikirkan kejadian kemarin malam, aku berlari kearahnya.

“Jangan!” Yumizuka menghenikanku hanya dengan kata-katanya.
“Jangan Shiki-kun. Aku senang kau datang, tapi saat ini aku tidak ingin kau berada di dekatku. Kumohon, jangan mendekat”

Suara nafasnya menunjukkan kalau dia sedang menahan sakit. Tubuhnya gemetaran ketika dia berbicara, dia terlihat siap pingsan kapan saja.

“Dasar bodoh! Kau sakit! Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri”

“Tidak. Aku baik-baik saja. Karena kau datang, sekarang aku baik-baik saja” memaksakan diri untung berdiri, dia tersenyum padaku.

“Ada apa Yumizuka-san? Kenapa kau tidak pulang? Dan apa-apan kemarin itu? Kenapa …. Kemarin…. kau ….mereka….”

“Ya? Kenapa dengan kemarin?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti”

“Benarkah? Kau melihat apa yang terjadi kemarin bukan? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku yang membunuh orang-orang itu?” katanya tanpa ragu.

Dia terlihat seperti menertawakan kebingunganku.

“Apakah pembunuhan berantai akhir-akhir ini….. kau yang melakukannya, Yumizuka?”

“Pembunuhan? Aku tidak suka dengan kata itu. Tapi kalau kau bertanya, Ya. Aku yang melakukannya”

“Apa maksudmu?”

“Seperti itulah. Aku yang membunuh mereka, dan aku akan terus melakukannya”

“Yumizuka___kau..”

“Ayolah, aku memanggilmu Shiki-kun. Kuharap kau juga memanggil nama kecilku. Kau tahu, aku merasa sangat bodoh. Aku tidak pernah bisa berbicara seperti ini denganmu. Aku selalu melihatmu dari kejauhan.

“Yumi…zuka?”

“Selalu. Bahkan sejak sebelum kejadian di gudang olahraga, aku selalu melihatmu. Aku benar-benar seorang pengecut. Aku selalu mengiyakan semua perkataan temanku bila nampaknya benar. Sekolah tidak pernah menjadi tempat yang menyenangkan, Shiki-kun, sampai kau berbicara padaku. Waktu itu, kelas dua SMP”

“Eh?”

“Sudahlah, kau pasti tidak mengingatnya. Waktu itu kau… bagaimana mengatakannya ya? ….. tampak natural. Tidak pernah menonjolkan diri. Kau mungkin tidak pernah memikirkan apa yang sudah kau lakukan waktu itu”

Apa yang bisa kukatakan. Yang dikatakan Yumizuka benar. Aku tidak pernah mengingat apa yang sudah kulakukan. Aku tidak tahu apa yang kukatakan padanya. Aku bahkan tidak ingat kalau aku pernah bicara padanya waktu itu.

“Tidak apa, Shiki-kun. Janganlah berwajah seperti itu. Kau hanya mau bergaul dengan Inui-kun, jadi tidak heran jika kau tidak mengacuhkan teman sekelas lainnya. Tapi, kau tahu, hanya dengan sekelas denganmu saja, aku sudah merasa senang. Aku hanya ingin bercakap-cakap denganmu, dan mendengarmu memanggil namaku. Benar-benar impian yang sangat kecil, bukan?”

Dia mengatakannya dengan menerawang. Terlihat bernostalgia dengan kenangannya. Hari-hari itu, dia mengingatnya seakan telah lama berlalu.

“Aku selalu melihatmu. Meskipun aku tahu, tidak mungkin kau memberiku perhatianmu, tapi aku terus melihatmu.”

Jujur saja, aku merasa senang ketika dia mengatakannya.

“Kau menyukaiku, Shiki-kun?”

Mendapat pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba, membuatku bingung untuk menjawab. Diam adalah jawabanku.

Aku tidak pernah memiliki perasaan khusus terhadap teman sekelasku yang bernama Yumizuka Satsuki. Aku mencarinya hanya karena apa yang terjadi dua hari yang lalu membuat sebuah impresi yang sangat kuat di dalam kepalaku.

“Sudah kuduga. Kau mungkin bahkan tidak menyadari keberadaanku. Tidak mungkin kau menyukaiku__ AGH!!!”

Tubuh Yumizuka kembali gemetaran. Nafasnya memburu, dan tiba-tiba saja terjatuh berlutut. Dengan suara tercekik, Yumizuka memuntahkan darah dari mulutnya.

“YUMIZUKA!!”

Kali ini aku berlari kearahnya.

“Kau tidak apa-apa? Yumizuka!!”

Aku berusaha membopongnya, namun saat itu juga, aku merasa semua bulu kudukku berdiri. Aku merasakan tubuhnya yang, sangat dingin.

“Shiki-kun”

Suaranya yang gemetar memanggil namaku.

“Tidak apa….. jika kau tidak menyukaiku.”

Yumizuka terbatuk.

“Jangan bicara dulu. Akan kubawa kau ke rumah sakit sekarang”

“Tapi aku mengerti sekarang. Siapa dirimu, dan apa yang kau inginkan. Sekarang aku mengerti semuanya tentang dirimu. Karena….. aku sekarang telah berubah menjadi sesuatu yang sama denganmu, Shiki-kun”

Setelah mengatakannya, Yumizuka menancapkan taringnya ke leherku.

“A~ah…..”

Kabur. Kesadaranku mulai mengabur. Aku merasakan taring Yumizuka di leherku. Darahku di hisap. Rasanya jiwaku juga ikut di hisapnya. Kekuatanku menghilang perlahan.

“Yumi….zuka….”

Kedua lenganku bergerak dan mendorong tubuhnya menjauh dengan paksa. Dia kemudian jatuh terduduk.

“Kau… apa yang kau….” Dengan sisa-sisa kekuatanku, aku mencoba berdiri. Namun gagal. Aku tidak punya cukup kekuatan. Bekas gigitan Yumizuka membekas di leherku. Dan di dalam kedua lubang itu, aku bisa merasakan ada sesuatu yang memasuki tubuhku. Menginvasi. Sesuatu yang menyiksaku. Tubuhku terasa terbakar.

Sakit sakit sakit sakit

Dalam kesakitan, aku mencakari tanah.

Sakit sakit sakit sakit.

Dalam kesakitan, aku menggelepar di lantai.

Yumizuka melihatku dengan senyumnya.

“Jangan cemas, Shiki-kun. Rasa sakit itu hanya sementara. Setelah darah kita bercampur, rasa sakit itu akan menghilang. Jangan cemas. Kali ini aku melakukannya dengan sempurna. Kau tidak akan menjadi mahluk gagal seperti kemarin malam. Sekarang, kau akan besamaku selamanya.” Yumizuka terlihat kegirangan

“A, apa yang kau katakan? Yumizuka?”

“Aku bilang, aku menjadikanmu sama denganku, Shiki-kun. Kau akan menghisap darah, abadi, dan tidak bisa berjalan dibawah sinar matahari. Kau akan menjadi mahluk yang berbeda”

Jangan bercanda. Itu sama saja dengan menjadi…..

“Kau akan menjadi seorang Vampire. Kau tahu, aku sendiri tidak tahu kenapa bisa menjadi seperti ini. Dua malam yang lalu, aku hanya berjalan-jalan di distrik perbelanjaan. Dan kemudian, tiba-tiba saja aku mendapati diriku terkapar di gang kemarin. Awalnya aku merasa dingin dan sakit. Kemudian, secara aneh, tubuhku berubah dan aku seperti mengerti semuanya. Tubuhku sakit karena hancur dengan sangat cepat. Dan sinar matahari yang menjadi katalisnya. Dan untuk menggantikan sel-sel tubuhku yang rusak, aku perlu memperoleh informasi genetik dari mahluk hidup yang sama jenisnya dengan diriku dulu. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku mulai menghisap darah manusia secara acak. Dan kau tahu apa? Rasanya nikmat sekali! Rasa sakitku menghilang, dan rasanya aku seperti bisa melakukan apapun yang kuinginkan. Aku tidak menyesal karena aku melakukannya untuk bertahan hidup. Aku membunuh bukan karena aku menyukainya. Aku menghisap darah seperti layaknya manusia memakan daging ayam. Karena itulah, aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Awalnya memang seperti itu, tapi akhir-akhir ini menghisap darah menjadi sebuah kegiatan yang menarik. Kau mengerti bukan, Shiki-kun? Pastinya. Karena kau adalah seorang pembunuh yang jauh lebih baik daripada aku”

”Ap___”
Apa yang kau katakan, Yumizuka?

“Sudah kubilang aku selalu melihatmu. Karena itu, aku tahu sisi lembut dan sisi mengerikan yang ada dalam dirimu. Aku dulu tidak berani berbicara padamu karena aku tidak mengerti sisi mengerikanmu. Tapi sekarang aku mengerti. Kau sama denganku. Tidak masalah apakah kau menyukai atau membenci seseorang. Kau bisa membunuh siapapun yang kau inginkan”

“Jangan bercanda.” Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk membunuh

“Aku tidak bercanda!” kata Yumizuka keras. “Aku dulu tidak mengerti aura rapuh yang terpancar dari dirimu. Tapi karena sekarang tubuhku sudah berubah, aku mengerti semuanya. Ada orang-orang yang terlahir sebagai pembunuh alami, dan diantara mereka, kaulah yang terbaik. Kau tahu, aku sangat gembira kemarin. Pertama kalinya aku merasa senang setelah tubuhku berubah menjadi seperti ini. Karena akhirnya aku bisa mengerti dirimu sepenuhnya.”

“Jangan bercanda! Aku tidak pernah…..” aku tidak pernah? Ya aku memang pernah merasakan keinginan yang sangat kuat untuk membunuh seseorang.

“Sebuah keinginan membunuh, tanpa pengaruh dari emosi. Sisi rapuhmu yang selalu ingin kuketahui. Ah, aku lupa mengatakan satu hal lagi. Kau tahu bahwa seseorang menjadi vampire setelah darahnya dihisap oleh vampire bukan? Itu benar. Lebih tepatnya orang yang dihisap darahnya akan mati. Kemudian vampire akan menitikkan setetes darah kepada tubuh korban agar mereka menjadi bangsanya. Dan aku telah memasukkan setes darahku kedalam tubuhmua melalui gigitan tadi” Yumizuka mengatakannya dengan penuh kepuasan.

“Jadi… ini … ulah darahmu?”

Rasanya sakit sekali. Cukup untuk membuatku jadi gila.

“Baiklah, kurasa sudah cukup. Berdirilah, Shiki-kun”

Aku mendengar perintah Yumizuka. Perlahan rasa sakit yang kuderita menghilang. Aku kemudian berdiri.

“Bagus. Mulai sekarang, kita akan terus bersama, Shiki-kun. Kemarilah. Genggam tanganku, dan buatlah aku menjadi nyaman.”

Yumizuka menjulukan tangannya.

Jantungku berdebar keras. Kakiku mulai melangkah. Tapi tidak melangkah kedepan. Kakiku melangkah mundur.

“Shiki…kun?” Suara Yumizuka terdengar bingung.

Dadaku berdebar kencang.
Tenggorokanku terasa kering.
Seluruh tubuhku mengenali mahluk yang berdiri didepanku sebagai musuh.
Nafasku mulai memburu.
Aku berusaha melawan pengaruh ‘racun’ yang dimasukkan Yumizuka kedalam tubuhku.

“Kenapa? Kenapa kau tidak mengikuti perintahku?”

Deg deg
Jantungku berdetak semakin keras

Deg deg
Inikah naluri yang dikatakan oleh Yumizuka barusan?

Deg deg.
Naluri membunuh.

Deg deg.
Detak jantungku semakin keras, menyuruhku untuk mebunuh, dan membunuh.

“Kenapa? Kenapa darahku tidak bereaksi?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku memang merasa seperti ada lumpur di dalam tubuhku.” Dan itu pastilah darah vampire Yumizuka.

“Sudahlah Yumizuka-san. Percuma kau melakukan semua ini. Kau sedang sakit. Kita sekarang akan pergi ke rumah sakit, dan mencari cara untuk mengembalikantubuhmu seperti semula.”

Aku tidak ingin melihatnya tersiksa. Tapi dia melihatku dengan tatapan amarah.

“Darahku sudah bercampur dengan darahmu. Kau seharusnya sudah menjadi bagian dari diriku! Jangan-jangan…. Kau sudah berada dalam pengaruh seseorang sekarang?”

“Aku tidak tahu.Yang aku tahu adalah____ kau mengatakan gelap, dingin, dan sepi. Yang aku ingat adalah wajahmu yang tersenyum, memintaku untuk membantu setiap kali kau dalam kesulitan.”

Sejujurnya, aku tidak tahu vampire itu mahluk yang seperti apa. Tapi jika kau harus membunuh dan menghisap darah untuk bertahan hidup, dan kau masih merasa kesakitan, berarti kau harus mencari cara untuk mengubah tubuhmu kembali.

“Apakah kau masih merasa sakit?”

“Ya” jawab Yumizuka. Kadang aku masih merasa sakit hingga sekarang. Nadiku masih serapuh dulu. Jadi, aliran darah saja terasa sangat sakit. Lembut dan lemah. Mudah pecah kapan saja. Tapi selama aku menghisap darah, rasa sakit itu akan menghilang”

“Apakah kau masih merasa sakit?”

“Ya.” Jawab Yumizuka. “Hatiku terasa sakit. Karena aku harus menghisap darah orang lain untuk bertahan hidup. Aku memang tidak menganggap itu salah, tapi tetap saja hatiku terasa sakit. Aku takut jika diriku yang dulu benar-benar akan menghilang. Tapi aku tidak akan setakut itu jika aku tidak sendirian.”

“Kau bilang kau kedinginan”

“Ya” jawab Yumizuka.”Rasanya dingin sekali hingga jariku seperti membeku. Tapi kuarasa hal itu tidaklah buruk. Aku hanya tidak lagi bisa merasakan kehangatan.”

“Pernahkah kau meminta tolong?”

“Ya.” Jawab Yumizuka. “Tapi aku sudah tidak bisa tertolong lagi.”

“Kenapa?”

“Kenapa? Aku juga ingin tahu. Ketika aku terbangun, tiba-tiba saja tubuhku sudah menjadi seperti ini. Mungkin akan lebih baik kalau aku mati saja.”

“Kau bicara apa?!” Tidak mampu menerima kenyataan, secara tidak sadar aku berteriak.

Yumizuka tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya saja.

“Dua hari yang lalu….” Kata Yumizuka. “Aku adalah mahluk sepertimu. Rasanya benar-benar seperti mimpi. Aku baru menyadari berharganya saat-saat itu setelah aku kehilangan. Ya__ benar-benar seperti mimpi. Aku bersedia memberikan apapun jika aku bisa kembali seperti dulu.”

“Kalau begitu___”

“Tapi tidak mungkin, Shiki. Aku sudah tidak bisa kembali lagi. Aku harus terus hidup seperti ini. Kedinginan, kesakitan, dan…. kesepian”

Yumizuka terlihat sedih. Tubuhnya yang dingin gemetar.

“Aku kedinginan dan selalu kesepian kemanapun aku pergi” suara yang terdengar samar-samar keluar dari mulutnya.

Aku teringat janji yang kuucapkan dua hari yang lalu.

“Aku akan menolongmu. Aku akan melakukan apapun untuk___”

“Ha ha ha ha” tawa yumizuka memotong kalimatku. “Apakah kau masih berpikiran untuk mengubahku menjadi seperti dulu, Shiki-kun? kau benar-benar baik. Benar-benar terlalu baik untuk seseorang yang suka membunuh sepertimu.”

Yumizuka tertawa gembira.

“Tapi ada satu cara jika kau benar-benar ingin menolongku” mengatakannya, Yumizuka melangkah maju.

Deg deg
Aku merasakan adanya bahaya.

Deg deg
“Caranya sangat mudah, Shiki-kun.”

Deg deg
“Kau cukup menjadi temanku saja”

Mata Yumizuka berubah merah dan menatap tajam seperti menembus jantungku. Aku sadar aku sedang menghadapi bahaya, tapi kakiku tidak mau kusuruh bergerak.

“Dengan begitu, aku tidak akan merasakan lagi kesakitan, kedinginan, dan kesepian. Bahkan jika aku bisa bersamamu, maka aku akan merasa jauh lebih bahagia daripada ketika aku masih menjadi manusia.”

Deg deg
Jantungku berdetak semakin keras.

Deg deg.
Yumizuka meraih leherku dengan tangannya.

Deg deg.
Dengan cepat aku segera menggerakkan kepalaku, dan menjatuhkan diri ke tanah.. Akhirnya kakiku mau juga kupaksa untuk bergerak.

Penyerang, dan yang diserang saling menatap, saling terkejut.

“Begitu ya” kata Yumizuka memecah keheningan. “Kukira akan mudah untuk membuatmu jadi milikku.” Matanya yang merah terlihat haus darah.

Setiap rambut di seluruh tubuhku berdiri karena ketakutan. Dan tanpa sadar, aku mengambil pisau dari saku celanaku. Aku kemudian menggerakkan pisauku dengan gerakan yang lebih cepat daripada suara terkejutku sendiri.

“Eh?” tiba-tiba saja aku menebas paha Yumizuka.

Suara Yumizuka berteriak kesakitan terdengar keras. Ketika kulihat pisau ditanganku, aku melihat darah, dan kemudian aku menyadari jika paha Yumizuka telah sobek.

Kesadaranku kembali. aku segera berlari menuju Yumizuka yang bergulingan kesakitan di tanah.

“Ke, kenapa aku__”

Aku tidak tahu.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menebasnya. Aku hanya teringat ketika aku merasa ketakutan, dan tiba-tiba saja paha Yumizuka telah tersobek.

Hosh hosh!
Darah Yumizuka menghiasi mata pisauku.

Hosh hosh!
Aku bernafas seperti telah berlari jarak jauh.

Hosh hosh!
Aku masih mengingat sensasi ketika aku memotong paha Yumizuka.

Mengingatnya membuat nafasku semakin memburu.
Aku merasa takut. Dan dalam ketakutan itu, aku merasakan adanya kesenangan yang luar biasa.

Yumizuka berusaha membunuhku. Dan tubuhku bereaksi dengan sendirinya.

Aku harus lari. Kalau aku terus disini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti.

Tapi untuk apa aku lari? Tentu saja. Jika tidak, mahluk itu akan membunuhku. Maku bisa merasakan mahluk itu mengejarku dari belakang.

Kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Aku masih ingat senyum lembut Yumizuka sore itu. Tapi kenapa dia bisa berubah menjadi mahluk haus darah seperti ini?

Tiba-tiba saja ada yang memukulku dari belakang, dan membuatku terjatuh. Tubuhku memang lecet-lecet karena terjatuh ketika berlari, tapi punggungku terasa jauh lebih sakit. Dengan sebuah hantaman sekeras itu, tidak heran kalau aku sempat tidak bisa menarik nafas.

Ketika aku menoleh kebelakang, aku melihat sesuatu yang menghantamku menggelinding.

Kepala manusia.

Darah mengalir dari leher orang itu. Memerahkan aspal, dan menodai bajuku.

“Kena kau” suara gembira terdengar dari kejauhan. Dan semakin mendekat dengan cepat. Suara Yumizuka Satsuki.

“Sakitkah? Maaf, aku hanya ingin membuatmu terkejut dengan melempar ini” dia meminta maaf sambil menendang kepala orang itu ke sisi jalan.

“Di, dia….” Aku menunjuk kearah kepal itu.

“Oh, hanya orang yang kebetulan lewat” kata Yumizuka santai. “Aku sempat mencicipi darahnya, tapi darah pemabuk itu benar-benar menjijikkan. Shiki-kun. kalau kau nanti menjadi vampire, kau harus memilih korban yang berbadan sehat, tidak yang seperti ini”

Tersenyum tanpa rasa bersalah, Yumizuka berjalan mendekat. Bye-bye, katanya. Benar-benar berbeda dengan gadis yang kukenal dulu.

Percuma___
Ini percuma___
Yumizuka Satsuki, sudah tak tertolong lagi.

Perlahan, aku berdiri dengan menggenggam erat pisau ditanganku. Aku tidak pernah berencana untuk menjadi vampire dan menghisap darah orang. Jadi, hanya ada satu jalan untuk mengakhiri semua ini.

“Yumizuka-san, aku sudah tidak bisa menolongmu lagi”

“Oh, itu tidak benar. Kau akan menolongku jika kau mau bersamaku.”

Aku melepas kacamataku. Rasa sakit menyerang otakku. Ini adalah pertama kalinya aku melepas kacamata dengan niatan untuk membunuh.

“Aku senang kau bersemangat seperti ini, Shiki-kun. tapi sayangnya sudah terlambat. Pemenangnya sudah ditentukan sejak awal.”

Tiba-tiba saja Yumizuka menghilang, dan sesaat kemudian aku merasakan sesuatu yang menghantamku dari samping.

“Gaaakh!!” aku terlempar dengan punggung membentur dinding toko. Tapi aku masih bisa berdiri.

“Oh, kau masih bisa bergerak? Untuk seseorang yang sakit-sakitan, ternyata tubuhmu kuat juga, Shiki-kun”

Aku membuat sedikit kesalahan. Aku memang bisa melihat garis, tapi tetap saja aku ini manusia biasa. Lawanku ratusan kali lebih cepat dariku. Meskipun aku bisa melihat garis, percuma saja kalau aku tidak bisa menyentuhnya.

Yumizuka mencengkeram tanganku, dan kemudian melemparku dengan mudahnya. Sekali lagi, punggungku menghantam dinding sebuah toko.

Pandanganku menjadi gelap. Tubuhku sakit, dan aku kehilangan pengelihatanku.

“Belum saatnya tidur, Shiki-kun”

Mendengar suara Yumizuka, kesadaranku kembali dan aku langsung menggulingkan badan kesamping. Tepat di tempat sebelum aku berguling, Yumizuka menghantamkan tangannya. Saura aspal yang pecah mencapai telingaku.

Aku memaksa tubuhku yang masih sedikit mati rasa untuk bergerak menjauh. Perlahan, pengelihatanku kembali normal.

“Kau….!” Aku mengacungkan pisau kearah Yumizuka.

“Sudah kubilang percuma. Sebaiknya kau menyerah saja, Shiki-kun”

Dia mendekat dan berusaha meraihku. Tapi kali ini, aku berhasil menghindar. Aku mendengar suara tidak percaya Yumizuka. Sekarang aku berdiri tepat dibelakangnya.

“Kubilang,…. JANGAN BERGERAK!!!”

Teriakan Yumizuka membahana. Aku mengayunkan pisauku seperti orang gila. Dan salah satunya mengenai Yumizuka. Sesaat aku merasa menyesal, tapi kenapa aku harus menyesal terhadap orang yang berusaha membunuhku?

“Pembohong!!” Yumizuka menekanku mundur hingga membentur tembok gang buntu. Yumizuka kemudian memukul. Aku secara reflex memejamkan mata, bersiap menerima pukulan.

“Eh?”

Dinding dibelakangku bergetar. Ternyata pukulan Yumizuka mengarah ke dinding.

“Pembohong!” teriak Yumizuka. “Kau bilang kau akan menolongku jika aku berada dalam kesulitan”

Wajah Yumizuka terlihat sangat emosional.

“Kenapa?! Apa karena aku telah menjadi mahluk seperti ini? Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa!! Aku menjadi seperti ini bukan karena aku ingin…..”
Seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk, Yumizuka terus-terusan memukuli tembok dibelakangku.

“Rasanya sakit! Sakit sekali! Tapi kenapa kau tidak menolongku?! Kau berjanji akan menolongku, tapi kenapa….”

Perlahan ketakutanku menghilang.

“Seandainya saja kau mau berada di sisiku, aku bisa menahan semua rasa sakit ini. Kenapa? Kenapa kau tidak mau menerimaku?”

Dia menangis. Kebencian Yumizuka satsuki tidak ditujukan kepadaku, Tohno Shiki. Tapi dia membenci dirinya sendir yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menerima nasibnya.

Yumizuka menatap tubuhku yang tidak bergerak dengan wajah terkejut. Dia seperti menyesal dengan apa yang dilakukannya.

“Sh…Shiki-kun. aku tidak bermaksud… tidak…”

Suaranya terdengar gemetaran. Dia berusaha mengendalikan diri, namun suaranya terdengar seperti akan menangis.

Tidak apa. Tidak perlu menyalahkan diri seperti itu. Meskipun jiwa dan ragamu berubah menjadi vampire, kau tetaplah hanya seorang korban. Yumizuka, kau mengatakan kalau kau kesakitan, kedinginan, dan kesepian. Hanya ada satu yang bisa kulakukan untuk menolongmu.

“… Kau boleh meminum darahku”

“Shiki-kun?”

“Kau boleh meminum darahku. Aku akan selalu bersamamu”

Setelah sempat ragu, dia akhirnya memelukku.

“Benarkah tidak apa-apa?” dia terdengar seperti antara ragu dan senang.

Ironis sekali. Dia memang telah menjadi vampire. Tapi bagian yang terpenting, hatinya, masih manusia. Karena masih memiliki hati manusia, Yumizuka Satsuki merasa sakit setiap kali menghisap darah. Selama hatinya seperti itu, dia akan terus merasa kesakitan.

Perlahan dian menancapkan taringnya ke leherku. Kemudian aku bisa merasakan suhu tubuhku yang semakin turun.

Sunyi.
Sebuah kematian yang sunyi.

Dengan ini, Tohno Shiki akan menghilang, dan semuanya akan selesai.

Tiba-tiba saja aku teringat wajah Akiha kecil yang menangis ketika aku meninggalkannya untuk tinggal bersama keluarga Arima.

Kakak akan.... pulang bukan?

Aku teringat kata Akiha beberapa saat yang lalu.

Akiha. Adiku yang kutinggalkan sendiri selama 8 tahun lamanya. Aku belum pernah melakukan apapun untuknya sebagai seorang kakak.

Selalu___

Selalu sendiri di dalam rumah yang besar itu.

“Aki__ha…”

Tidak. Aku tidak boleh seperti ini.

“Yumizuka-san… maafkan aku”

Aku menggerakkan pisauku, dan memotong garis yang ada di dadanya, seorang gadis yang pada saat-saat terakhir terus meminta pertolongan. Dan aku menusukkan pisauku ke dada gadis itu.

“Shiki…-kun…” perlahan Yumizuka menarik diri dariku.

“Maaf, aku tidak bisa menolongmu, Yumizuka-san”

Hanya inilah yang bisa kulakukan. Jika dia tidak bisa lepas dari rasa sakit, akan kuberikan sebuah kematian tanpa rasa sakit.

“Aku mengerti. Pada akhirnya, aku tidak bisa bersamamu, bukan?” suaranya terdengar sangat damai. Terdengar seperti suaranya dua hari yang lalu.

“Aku senang, meskipun hanya sesaat, kau memilihku Tohno-kun. Mungkin mati seperti ini tidaklah terlalu buruk. Semua rasa sakit menghilang seperti sihir.” Dia kembali memanggilku dengan ‘Tohno-kun’

Aku merasakan sesuatu yang menggelitik di kakiku. Aku melihat kaki Yumizuka telah menjadi abu dari lutut kebawah.

“Dan aku bisa merasakan kehangatan sekarang. He he he.. ini pasti kehangatanmu, Tohno-kun” katanya bahagia.

Ini adalah penyesalan paling murni yang kurasakan. Sebuah penyesalan yang membuatku ingin mati saja. Aku sudah mempersiapkan diri untuk mendengar kata-katanya yang penuh kebencian ketika aku memutuskan untuk mengkhianatinya.

Tapi kenapa? Kenapa kalimat seperti itu yang kau katakan? kenapa dengan suara yang terdengar bahagia? Kenapa kau tidak menyalahkan aku?

Mataku terasa pedih hingga aku menitikkan air mata.

“Tohno-kun, kau menangis. Kau benar-benar orang yang baik. Bahkan setelah aku melakukan hal-hal buruk padamu, kau tetap menangis untukku. Yah, mungkin karena itulah aku menyukaimu. Aku selalu memperhatikanmu, karena itulah aku tahu segala hal tentangmu yang tidak diketahui oleh orang lain.”

Dia terdengar sangat bangga. Dan aku bisa merasakan kalau bagian bawah tubuhnya telah menghilang ditiup angin.

“Aku ingin berbicara denganmu lebih sering. Sebagai teman sekelas. Lebih sering. Karena itu aku tidak ingin aku mati sekarang.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya terdiam. Dia kemudian menyandarkan kepalanya dibahuku.

“ini adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan untukku. Jadi jangan menangis, Tohno-kun. kau melakukan hal yang benar. Ah, sepertinya aku tidak akan bisa berbicara lagi, baiklah kalau begitu, Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun”

“Yu, Yumizuka__”

“Selamat tinggal, dan.. terima kasih”

Angin bertiup membawa abu yumizuka menghilang dari hadapanku. Tubunya menghilang seperti sihir. Yang tertinggal hanyalah penyesalan.

Aku membunuhnya.
Aku berjanji untuk menolongnya, tapi pada akhirnya aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.

Selamat tinggal, dan …Terima kasih

Kenapa dia berterima kasih padaku? Aku membunuhnya, dan dia berterima kasih padaku.

Dengan menyeret tubuhku yang penuh luka, aku berjalan pulang.

Pintu rumah terbuka dengan suara berderik. Dengan tertatih-tatih, aku berhasil membawa tubuhku yang penuh luka kembali ke rumah.

“__Ah” aku melihat Akiha di lobi. Apa dia terus menungguku selama ini?

“Kak, apa yang kakak lakukan selama ini? Jam berapa sekar__ Kak, kau..?” Akiha terlihat sangat terkejut.

Kenapa? Aku bahkan tidak tahu kenapa dia bisa terkejut sampai seperti itu.

“Tu, tunggu sebentar. Kakak kenapa? Kakak terluka dimana-mana dan… Kakak terlihat…”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab apapun. Aku bahkan tidak tahu apa yang dikatakan oleh Akiha barusan.

“Po, pokoknya saya akan merawat luka kakak terlebih dahulu. Kakak bisa berjalan?”

Aku mengangguk.

“Saya akan mengambil kotak P3K, kakak silahkan menunggu di ruang tengah” Akiha menghilang dengan langkah yang cepat.

********
Akiha merawatku sendiri. Dia mengelap tubuhku yang kotor dengan handuk, menyiapkan makanan, dan menemaniku sampai kamarku. Selama itu, aku tidak bisa berkata satu patah katapun.

“Baiklah, saya akan kembali ke kamar. Kakak beristirahatlah dengan tenang”

Sampai akhir dia tidak bertanya kenapa aku bisa sampai seperti ini.

Dia kemudian berbalik.
Dia hendak pergi meninggalkan kamarku.
Meninggalkanku.
Menghilang
Seperti gadis yang baru saja kubunuh.

Tanpa berpikir, aku langsung meraih lengan Akiha. Dan kemudian, aku memeluknya. Erat.

“K, kak?”

Aku tidak ingin sendiri. Aku tidak ingin kesepian. Aku akhirnya mengerti perasaan Yumizuka Satsuki.

Aku memeluk Akiha tanpa berpikir. Dan akiha hanya diam. Meskipun seharusnya dia menolakku, dia tetap bergeming.

Seperti ini. Aku ingin tetap seperti ini.

“Aku… benar-benar jahat” Aku mengakui dosaku. “Aku ingin menolongnya. Aku ingin menolongnya, tapi akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Seperti mencari pencerahan, aku memeluk Akiha lebih erat lagi.

Seakan tersadar, Akiha kemudian melepaskan pelukanku.

“Kak, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kupikir sebaiknya aku tidak menanyakannya padamu. Aku tidak bisa memberi jawaban. Kakak harus mencari jawabannya sendiri”

Kata-katanya tajam dan langsung mengena. Yang dikatakannya benar, dan akhirnya aku kembali tersadar.

“Maaf, lupakan saja yang barusan”

“…….” Terdiam sejenak, Akiha kemudian meninggalkan kamarku. Tapi sebelum keluar, dia berkata,”Saya tidak akan bertanya apa yang terjadi. Namun ketika Kakak pergi, saya merasa sangat ketakutan. Saya merasa jika kakak akan pergi lagi, dan tidak akan kembali, seperti 8 tahun yang lalu”

Dia kemudian terbatuk, yang menurutku seperti disengaja, dan melanjutkan,”Namun akhirnya Kakak kembali. Kakak tadi bilang kalau Kakak tidak berhasil menolong seseorang. Tapi paling tidak Kakak telah menyelamatkanku dari ketakutan. Jadi selamat datang kembali, Kak. Kembalinya kakak benar-benar membuatku…. senang”

Aku bisa melihat wajahnya yang sedikit memerah malu-malu ketika mengucapkan kalimat terakhir itu.

“Sa, saya akan mengatakan dengan lebih jelas lagi agar Kakakku yang bodoh dan lamban ini mengerti. To, tolong jangan tinggalkan adikmu yang manis ini sendiri lagi”

Mendengar kata-kata Akiha seperti menghilangkan bebanku. Sekarang aku merasa sangat ringan. “Aku mengerti. Tapi manis? Kau benar-benar bisa memuji dirimu sendiri, Akiha”

Akiha tersenyum melihatku yang sudah bisa tertawa. “Selamat tidur Kak, mimpi indah. Besok adalah hari yang baru untuk Kakak”

Dengan itu Akiha pergi. Dan aku membaringkan tubuhku diatas ranjang.

Apa yang terjadi pada Yumizuka akan selalu membekas dalam hatiku. Tapi aku tidak boleh terus bermuram. Aku tidak boleh menyesali tindakanku selama-lamanya. Aku harus percaya jika yang kulakukan adalah yang terbaik, meskipun aku tahu itu dosa. Dan aku siap untuk menerima hukumannya suatu saat nanti.

“Aku pulang, Akiha” gumamku, dan kemudian aku tertidur.
Read More..

Monday, August 16, 2010

CHAPTER 2: Inversion Impulse #2

Dulu, halaman rumah terlihat seperti taman bermain yang luar biasa besar. Kebunnya terlihat seperti hutan. Rumahnya sendiri terlihat seperti kastil. Waktu itu Aku berpikir untuk menjelajahi seluruh rumah saja mungkin memerlukan waktu berhari-hari.

Dulu setiap hari terasa menyenangkan. Tidak ada yang berpikir untuk cepat menjadi dewasa. Kami percaya, bahwa setiap hari akan selalu sama.

Dulu, kami hanya anak-anak yang senang bermain. Kami sangat akrab. Setiap kali Aku menoleh kebelakang, Akiha selalu disana bersembunyi sambil melambaikan tangannya dengan malu-malu.

Dulu, halaman rumah terlihat seperti taman bermain yang luar biasa besar. Kebunnya terlihat seperti hutan. Rumahnya sendiri terlihat seperti kastil. Waktu itu Aku berpikir untuk menjelajahi seluruh rumah saja mungkin memerlukan waktu berhari-hari.

Dulu setiap hari terasa menyenangkan. Tidak ada yang berpikir untuk cepat menjadi dewasa. Kami percaya, bahwa setiap hari akan selalu sama.

Dulu, kami hanya anak-anak yang senang bermain. Kami sangat akrab

“Selamat pagi”

Aku mendengar suara yang terdengar asing ditelingaku

“Sudah pagi, sudah saatnya Anda bangun, Shiki-sama”

Aku membuka mataku. Aku melihat Hisui berdiri jauh dari tempat tidur, berdiri seperti patung.

“........”

Aku dimana ya?

“Selamat pagi, Shiki-sama” kata gadis berpakaian maid itu sambil membungkukkan badannya.

“Ah ya, aku sudah kembali ke rumahku. Benar....”

Aku memaksa diriku sendiri untuk melihat sekeliling.
“Selamat pagi, Hisui. Terima kasih telah mau membangunkanku”

“Tidak perlu berterima kasih, Shiki-sama. Adalah tugasku untuk membangunkan Anda.”

Hisui memberi jawaban yang datar dan tanpa ekspesi. Meski begitu, aku melihat bahwa sebenarnya Hisui sangat cantik. Akan sangat menyenangkan bila seorang gadis seperti ini membangunkanku setiap pagi dengan senyuman. Namun tampaknya tidak bisa untuk Hisui. Sayang sekali. Seandainya saja Hisui memiliki setengah dari keceriaan Kohaku, dia pasti tampak sangat manis.

“Anda memerlukan sesuatu?”
Menyadari aku menatapnya, Hisui balas menatapku.

“Tidak, tidak usah. Melihatmu ketika aku bangun pagi meyadarkanku bahwa sekarang aku berada dikediaman Tohno.”

Kemudian aku bangun dan sedikit meregangkan tubuhku.

“Shiki-sama, kalau tidak cepat, anda akan terlambat. Jarak dari sini menuju sekolah anda memerlukan waktu tempuh 30 menit. Artinya anda hanya punya waktu 20 menit untuk sarapan”

“Eh?” aku melihat jam dinding. “AAAAAH!! Sudah jam 7!!”

“Seragam Anda telah saya lipat dan saya letakkan di meja. Harap segera turun bila Anda telah selesai berganti pakaian.”

Setelah selesai berganti baju, aku segera turun.

Dibawah, Akiha dan Kohaku terlihat berada di ruang tengah. Akiha mengenakan seragam sekolah putri Akagami. Sebuah sekolah putri yang sangat terkenal. Mereka sedang minum teh bersama. Seolah-olah waktu sarapan telah usai. Aku kemudian menyapa Akiha.

“Selamat pagi Akiha,”

“Selamat pagi Kak” balas Akiha dengan tenang.

“Selamat pagi Shiki-san. Sarapan sudah tersedia di meja makan. Silahkan” Kata Kohaku dengan senyuman hangatnya, sangatberbeda dengan Akiha yang dingin.

“Ah, tentu saja. Sepertinya kalian sudah selesai sarapan ya?”

“Tentu saja. Saya tidak tahu jam berapa biasanya kakak bangun, tapi biasakanlah untuk sarapan tepat waktu. Sarapan setelah jam 7 menunjukkan kemalasan kakak”

“Sarapan jam 7 itu normal bagiku. Memangnya jam berapoa kau bangun pagi, Akiha?”

“Jam 5. Kenapa?” tanya Akiha judes

Wow pagi sekali.

“Selain itu Kak, bukankah sekolah kakak berjarak hanya 30 menit jalan kaki dari sini. Jangan sampai terlambat. Itu akan sangat memalukan.”

Kata-kata Akiha benar-benar ‘berduri’. Tapi karena dia benar, aku tidak bisa melawan.

“Akiha-sama, sudah saatnya untuk berangkat”

“Iya iya, aku tahu. Ck, jangan terlalu mencemaskan hal-hal kecil” seperti mengeluh, Akiha berdiri. “Baiklah, saya berangkat sekarang” setelah mengatakannya, Akiha berjalan meninggalkan ruang tengah dan KOhaku mengikutinya dari belakang.

“Baiklah, aku juga harus bergegas”

Setelah aku menghabiskan makanan yang dibuatkan oleh Kohaku, aku menuju lobi. Disana, Hisui telah menungguku dengan membawakan tas sekolahku.

“Apakah anda tidak akan terlambat?” tanya Hisui.

“Jika aku lari, dari sini ke sekolah tidak sampai 20 menit. Sekarang jam 7.30. Kurasa aku tidak akan terlambat.”

Mendengar penjelasanku, Hisui mengangguk

“Baiklah, saya akan mengantar anda sampai kepintu gerbang.”

Sebenarnya agak sedikit malu aku memiliki pelayan pribadi.

“Shiki-san! Tunggu”

Dengan sedikit tergesa-gesa, Kohaku menuruni tangga dari lantai dua.

“........”

Hisui sedikit mundur begitu Kakaknya muncul.

“Bukankah tadi kamu bersama Akiha?” aku bertanya

“Akiha-sama, berangkat kesekolah dengan mobil. Karena saya harus menyerahkan sesuatu pada Anda, saya tetap tinggal di dalam.”

“Memberiku apa?”

“Ini. Ini dari keluarga Arima.”

Kohaku tersenyum.

“Huh? Tapi sepertinya semua barang-barangku sudah sampai disini, kok. Semua yang kugunakan ketika aku masih disana adalah milik keluarga Arima. Jadi sebenarnya barang-barangku hanya berupa baju saja.”

“Benarkah? Tapi benda ini juga dikirim kemari”

Kohaku menyerahkan sebuah kotak kayu tipis. Mungkin panjangnya sekitar 20 cm, dan tidak berat

“Kohaku, aku belum pernah melihat benda ini sebelumnya.”

“Mungkin dari almarhum tuan Mikihisa?”

“Dari Ayah?”

Aku malah merasa heran. Benarkah Ayah yang mengusirku selama 8 tahun itu meninggalkan sesuatu untukku?

“Baiklah kalau begitu, Kohaku, tolong kamu letakkan benda ini dikamarku”

“___________”

Kohaku terus memandangi kotak kayu itu. Dia terlihat seperti anak kecil yang menginginkan mainan baru.

Teruuuus memandang.

Dia mungkin benar-benar anak kecil.

“Baiklah, kamu ingin tahu apa yang ada didalamnya kan?”

“Oh, tidak kok. Aku hanya bertanya-tanya kira-kira apa yang ada didalamnya.” Jawab Kohaku tersipu.

Itu sama saja Kohaku. Aku tersenyum.

“Baiklah, kita buka. Satu.... dua... tigaaaaa!!”

Terdengar suara ketika kotak kayu itu dibuka. Didalamnya terdapat batangan besi tipis berukuran 10 Cm.

“Apa ini?”

Bentuknya sudah tidak karuan dan ada banyak bekas jari diatasnya.

Mungkin ayah benar-benar membenciku karena meninggalkan sebuah sampah seperti ini.

“Shiki-san, ini sebuah pisau”

Ah, benar juga. Aku baru sadar.

“Tua, tapi tampaknya sangat kuat.” Aku mengambil pisau itu.

“Ah, di gagangnya tertulis tahun dan era pembuatannya.” Kata Kohaku

Memang ada tulisan digagang pisau ini. Tulisan ‘tujuh’ dan ‘malam’

“Kakak. Tidak ada nama era yang seperti itu. Disitu hanya tertulis Nanaya (tujuh-malam)”

“!!!”

Aku sedikit terkejut. Hisui yang sedari tadi diam ternyata melihat pisau ini dari balik bahuku.

“K, kau membuatku kaget, Hisui. kamu tidak perlu melihat dari balik bahuku seperti itu, kau tahu. Jika kamu ingin melihat, akan kutunjukkan padamu.”

“Ah____” Tiba-tiba saja pipi Hisui sedikit memerah. “Ma, maafkan saya. Pisaunya sangat bagus sehingga saya, .....” kata Hisui terbata

“Bagus? Kau pikir ini bagus? Hanya sebuah pisau tua menurutku,”

“Anda salah. Pisau ini ditempa dengan sangat baik. Saya rasa pisau ini memiliki sejarah yang panjang.”

“Benarkah?”

Karena Hisui terlihat sangat yakin, aku mulai berpikiran sama. Kalau begitu, ini warisan yang tidak terlalu buruk.

“Nanaya? Apa mungkin nama pisau ini ya?” tanya Kohaku.

“Mungkin juga” Aku memandangi pisau yang ada didepanku. Tidak salah lagi, pisau ini adalah barang antik.

“Baiklah, pisau ini aku ambil” Aku memasukkan pisau itu kedalam kantong celanaku.

“Shiki-sama, apakah Anda tidak terlambat?” Tanya Hisui tiba-tiba.

“Ahh! Aku akan terlambat. Aku pergi sekarang. Kohaku terima kasih telah menyampaikan pisau ini”

“Sama-sama” Kohaku tersenyum sambil melambaikan tangannya.

Aku segera keluar dari rumah melewati kebun menuju gerbang depan. Hisui mengikutiku dari belakang.

“….. kau mengantarku, Hisui?”

Hisui menjawabnya dengan anggukan.

“Shiki-sama, kira-kira jam berapa anda akan pulang?”

Sepertinya Hisui masih akan terus menggunakan ‘-Sama’ sampai kapanpun. Kalau aku tidak bergegas aku akan terlambat. Sebaiknya aku membahas masalah ini lain kali saja.

“Shiki-sama?”

“Ah, iya. Sekitar jam 4 mungkin. Soalnya aku tidak ikut klub apapun”

“Saya mengerti. Hati-hatilah dijalan”

“Tentu saja. Terimakasih”

Melambaikan tangan kearah Hisui, aku berjalan meninggalkan pintu gerbang.

Aku berjalan melalui jalan yang tidak biasa kulewati. Bisanya aku berangkat dari rumah keluarga Arima. Jadi ini pertama kalinya aku beangkat melalui jalan ini. Yang baru memang hanya rute jalannya. Namun aku merasa akan pergi kesekolah yang baru.

“Tidak banyak murid sekolahku yang lewat sini”

Jarang sekali ada orang yang tinggal didaerah ini. Jam 7.30 pagi. Aku tidak melihat murid sekolahku yang berangkat melaui jalan ini sama sekali.

Memasuki daerah perkantoran, suasana semakin ramai. Banyak terlihat orang-orang bersiap untuk bekerja. Aku merasa atmosfer disini sedikit berbeda. Rasanya sedikit berat. Mungkin disebabkan karena pembunuhan berantai itu. Pagi ini, jumlah orang yang berada dijalanan lebih sedikit dari biasanya.

“Yumizuka… tidak ada. Yah, aku tidak mungkin selalu beruntung bisa berpapasan dengannya” aku tersenyum mengingat wajah manis teman sekelasku itu.

Teringat Yumizuka, aku mempercepat langkahku. Aku ingin segera sampai sekolah.

Akhirnya aku sampai. Beberapa menit sebelum jam pertama dimulai, kelas sudah ramai. Sambil menunggu bel, semua teman teman dikelasku sedang megobrol dengan yang lainnya. Sangat ramai seperti ada festival yang diadakan disini. Tapi ada yang aneh dengan suasana kelas pagi ini.

Aku berjalan menuju kursiku yang letaknya dekat jendela, dimana Arihiko menungguku dengan wajah cemberut.

“Hei, Arihiko, kelihatannya ada yang aneh pagi ini. Kau tahu sesuatu?”

“Entahlah. Katanya sih, ada murid kelas ini yang kabur dari rumah”

“Benarkah?” aku duduk di kursiku sambil menghela nafas. “Siapa?”

“Mana aku tahu? Kita akan tahu setelah homeroom. Kursi siapa yang kosong, dia yang kabur dari rumah”

Dia benar, tapi aku merasa Arihiko sedikit keterlaluan. Salah satu teman sekelas kami ada yang menghilang, tapi dia tidak menghiraukannya seakan mengatakan ‘bukan urusanku’

“Kau tidak cemas, Arihiko?”

“Aku? Kenapa? Kamu ini terlalu pencemas. Yang kabur kan bukan aku atau kamu, jadi cuek aja”

Aku lupa. Orang satu ini sangat dingin terhadap orang lain selain temannya sendiri.

“Tapi sebenarnya aku cemas juga, sih. Kau tahu dia kabur saat seperti ini. Entah dia berani atau….”

“Saat seerti ini? Maksudmu?”

“Kemarin aku sudah cerita, Shiki. Tentang pembunuh berantai. Bukan salah siapa-siapa kalau secara kebetulan dia bertemu dengan pembunuh itu”

“Ah, itu tidak mungkin terjadi”

“Kau harus lebih sering nonton TV, Shiki. Korban kedelapan telah ditemukan. Malam hari, kota ini sekarang sangat sepi. Hanya ada pemabuk danpolisi yang berkeliaran.” Kata Arihiko serius.

Mendengarnya, aku juga mulai merasa tidak nyaman.

“Ah itu Kunifuji-sensei datang. Homeroom akan dimulai” Arihiko kemudian meninggalkanku dan berjalan menuju kursinya.

Homeroom dimulai, dan semua murid duduk di kursi masing-masing. Hanya ada satu kursi yang kosong. Tidak salah lagi. Tidak ada yang duduk di kursi milik Yumizuka Satsuki.

-“Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun”-

Itu adalah kata-kata Yumizuka sebelum kami berpisah kemarin. Aku tidak tahu apa yang terjadi dirumahnya, tapi tidak mungkin seseorang mengembangkan senyum seperti itu sebelum kabur dari rumah.

“Ah, Yumizuka absen rupanya” kata Kunifuji-sensei ketika mengabsen. Yumizuka hanya dianggap absen saja. Seakan tidak terjadi apa-apa, homeroom berjalan seperti biasanya. Aku ingin bertanya mengenai Yumizuka, tapi tampaknya Sensei tidak akan menjawabnya. Jika dia kabur dari rumah, itu urusannya sendiri.

Toh gosip itu belum tentu benar. Mungkin saja Yumizuka hanya terlambat.

*******

Aku masih merasa tidak bersemangat meskipun waktu makan siang tiba. Meskipun gosip mengenai Yumizuka yang kabur dari rumah cukup mengejutkan, tapi itu bukan topik yang ramai dibicarakan. Semua tampak biasa-biasa saja. Mungkin hanya aku yang mencemaskan teman sekelasku yang absen itu.

“Shiki, ayo makan” ajak Arihiko.

“Tidak dulu deh, lagi malas makan”

“Jangan terlalu memikirkan masalah orang lain”

Masalah orang lain heh? Kata-kata Arihiko benar juga.

“Kau tidak ikut makan hari ini?”

Aku dikejutkan sosok berkacamata yang tiba –tiba muncul.

“Senpai? Apa yang kau lakukan di kelas kami?”

“Rencananya sih, makan siang bersama kalian. Tohno-kun, kau tidak ikut makan?” duduk diatas meja, Senpai memandangku curiga.

“lagi tidak nafsu, Senpai”

“Sakit?”

“Tidak juga. Silahkan Kalau mau makan, kalian bisa ke kantin sekarang.”

“Kau terlihat…. Tidak bersemangat. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kalau kau tidak makan, kau malah akan sakit beneran.”

“Iya sih, tapi……”

Aku tidak lapar.

“Baiklah kalau begitu. Kuajak kau ke tempat spesial. Sebenarnya tempat ini rahasia, tapi khusus untukmu saja, Tohno-kun”

Kemudian Senpai menarik tanganku dengan paksa, menyuruhku mengikutinya.

Ciel Senpai membawaku ke sebuah ruang kelas yang kosong di ujung gedung sekolah.

“Disini?”

“Benar. Karena disini sanagt tenang.”

“Tapi bukankah kelas ini dikunci, Senpai?”

“Hanya digunakan oleh anggota klub upacara minum teh”

Senpai mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.

“Oh, jadi Senpai anggota klub itu?”

“Benar. Dan satu-satunya” tertawa, Senpai memasuki ruang kelas yang disulap menjadi bergaya jepang klasik.

Suasana didalamnya membuatku lupa kalau sebenarnya ruangan ini masih didalam gedung sekolah.

Lembutnya tatami dan sinar matahari yang masuk melalui jendela membuatku merasa rileks.

“Seperti yang kukatakan tadi, aku satu-satunya anggota klub ini. Jadi aku bisa bebas menggunakan ruangan ini selama istirahat siang dan sepulang sekolah. Ini silahkan”

Senpai menyerahkan bantal duduk padaku.

“Aku akan membuat teh sekarang. Silahkan duduk, Tohno-kun”
Tidak ada salahnya menuruti Senpai. Jai aku patuh saja dan duduk mematuhi perintahnya.

Inilah sihir ruangan yang bergaya jepang klasik. Semua hal yang membuatku resah perlahan menghilang. Sekarang aku bisa memikirkan apa yang terjadi dengan Yumizuka dengan kepala dingin.

“Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu, Tohno-kun. Jadi sekalian makan siang saja” kata Senpai sambil menyuguhkan teh.

“Apa?” Aku meminum teh yang suguhkan. Karena berada dalam ruangan bergaya jepang, secara otomatis aku menegakkan punggungku.

Aku melakukannya secara tidak sadar. Keluarga Arima tempatku dulu tinggal membuka kursus upacara minum teh. Mungkin gara-gara aku dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, aku jadi lebih menyukai kamar bergaya jepang daripada bergaya barat.

“Kalau kau tidak keberatan, aku ingin tahu tentang keluargamu”

“Bukannya keberatan, tapi kurasa cerita tentang keluargaku kurang menarik”

“Tidak masalah, aku cuma pingin dengar. Kemarin kau bilang kau ‘pindah ke rumahmu’. Aku masih belum begitu jelas maksudmu” Senpai bertanya dengar wajah yang dipenuhi rasa ingin tahu.

“Menjelaskannya bagaimana ya? Bisa dibilang seperti ini, aku ini anak yang dibuang. Dulu aku pernah mengalami kecelakaan parah ketika masih berum,ur 9 tahun. Aku sembuh, namun setelah itu, aku sering mengalami anemia dan mudah muntah-muntah. Karena itu aku dititipkan kepada keluarga Arima”

“Jadi keluarga Arima menjadi orang tuamu sejak kau berumur 9 tahun?”

“Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya ayah kurang menyukaiku. Dan setelah aku dititipkan, aku tidak akan pernah mau kembali kerumah. Dulu aku mengira akan tinggal bersama keluarga Arima selamanya. Namun setelah ayah meninggal, aku diminta pulang kembali kerumahku”

Ceritaku selesai sampai disitu. Senpai terlihat mengangguk-angguk kecil.

“Boleh tanya lagi?”

“Silahkan Senpai”

“Apa kau tidak menyukai keluargamu dulu?”

Keluargaku dulu, keluarga Arima. Mereka yang membesarkanku seperti anaknya sendiri. Ayah dan ibu yang tidak berhubungan darah denganku.

“Aku menyukai mereka. Mereka sangat baik padaku meskipun aku bukan anak kandung mereka”

Aku sangat menyukai keluarga itu. Suatu saat, aku akan benar-benar menjadi anggota keluarga mereka. Itu yang kupikirkan sejak kecil.

“Aku bahagia bersama mereka. Aku menganggap keluarga Arima adalah keluarga yang paling ideal menurutku”

“Ada ‘tapi’nya bukan?” Tanya senpai setelah menatap wajahku lekat.

“……… Ya. Meskipun aku sangat menyukai mereka, tapi tetap saja ada sebuah garis yang memisahkan kami. Garis yang bernama ‘ikatan darah’. Aku tahu seharusnya aku tidak mengacuhkannya, tapi tetap saja….. “ aku tidak berani melanjutkan kalimatku.

Senpai menghindari tatapanku. Bahunya gemetar dan wajahnya seakan mengatakan ‘Maafkan aku’.

“Membosankan bukan? Mendengar cerita tentang keluargaku hanya buang-buang waktu”

“Tidak juga, Tohno-kun. Ceritamu tadi bisa dibilang sangat….. berarti” setelah mengatakan demikian, Senpai mulai menggigit rotinya.

Aku juga segera mengikutinya, memakan roti yang sudah kubawa. Aku harus berterima kasih kepada Senpai, karena gara-gara dia memintaku bercerita tentang keluarga Arima, nafsu makanku kembali. Meskipun demikian, tetapsaja aku menyisakan setengah dari roti yang kumakan tadi.

“Jadi gara-gara itu Tohno-kun terlihat tidak nafsu makan?”

“he? Tidak juga sih, bukan masalah besar menurutku”

“Kalau begitu kau tidak makan karena alasan kesehatan, mungkin?”

“Aku baik-baik saja, senpai. Ngomong-ngomong tentang pembunuhan berantai, apa pendapat Senpai?”

Sebenarnya aku merasa enggan menanyakannya, tapi Yumizuka yang menghilang membuatku sedikit merasa cemas.

“Tentang vampire itu?”

“Benar. Sudah 8 korban kalau aku tidak salah.”

“Aku tidak tahu banyak, tapi kata ‘vampire’ itu membuatku bergidik”

Dinamai vampire karena darah korban habis seperti dihisap. Aneh sekali, bukan?

“Tapi kenapa dinamai ‘vampire’?”

“Karena darah korban yang dihisap habis itu. Tidak aneh kalau si pembunuh dijuluki ‘vampire’”

“Kau tahu apa yang terjadi pada korban yang darahnya dihisap vampire? Menurut legenda, Tohno-kun?” tersenyum, senpai menanyakan sebuah pertanyaan yang aneh.

“Kalau ada orang yang darahnya dihisap, maka orang itu juga jadi vampire, kalau aku tidak salah”

“Benar. Jadi seharusnya tubuh korban tidak ditemukan, bukan? Kalau benar yang melakukannya vampire seharusnya kita tidak akan tahu adanya korban”

“Ah, aku mengerti. Tapi, Senpai, itu cuma julukan saja. Jangan-jangan Senpai benar-benar percaya adanya vampire?”

“Sama sekali tidak. Tapi karena tubuh korban ditemukan, berarti yang melakukannya bukan vampire” senpai tersenyum ketika mengatakan kesimpulannya.

“Tapi Tohno-kun, bisa saja kejadiannya seperti ini. Bagaimana jika tubuh korban yang ditemukan itu adalah korban yang gagal menjadi vampire? Jadi ada dua kemungkinan, jika korban menjadi vampire, maka tubuhnya tidak akan ditemukan, karena mereka masih hidup sebenarnya. Sedangkan yang tidak bisa menjadi vampire, mati. Karena itu tubuhnya ditemukan”

“Ya… itu sih….”

Senpai tetap tersenyum ketika mengatakannya. Aku tahu kalau dia hanya bercanda, tapi candaan seperti ini tidak bisa membuatku tertawa.

“Akan terlihat seperti cerita horror jika hal tersebut benar-benar terjadi. Dan karena aku tidak suka cerita-cerita menakutkan seprti itu, maka kita hentikan saja pembicaraan ini”

“Tapi Senpai, kau terlihat bersemangat ketika bercerita tadi”

“Ha ha, aku memang tidak suka cerita seram, tapi aku senang membuatmu ketakutan”

Senang membuatku takut?….. Apa aku telah melakukan sesuatu sehingga membuatnya dendam kepadaku?

“Lupakan lelucon tadi. Tapi memang benar, kalau malam hari akihr-akihr ini menjadi sangat berbahaya. Kau tidak boleh terlalu banyak main sampai malam, Tohno-kun”

Senpai member nasehat dengan gaya bercanda. Aku tidak bisa menebak kapan Senpai serius dan kapan tidak.

**********

Makan siang berakhir. Pelajaran Sejarah klasik seakan masuk telinga kiri dan kemudian keluar dari telinga kanan.

__ Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun__

Adalah kata-kata yang diucapkan Yumizuka padaku kemarin. Tidak mungkin ada seseorang yang setelah mengatakan kata-kata itu, terus kabur dari rumah. Perasaanku tidak enak. Ada pembunuh yang berkeliaran malam hari. Pergi keluar malam sangat berbahaya.

“……!!!!!”

Mungkin karena cahaya senja yang merah ketika kami berpisah kemarin, bayangan Yumizuka dalam kepalaku menjadi bersimbah darah.

Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur. Keseimbanganku juga kacau. Mataku berkunang-kunang dan kepalaku terasa berat.

“Sial!”

Aku tahu apa yang terjadi. Anemia. Aku merasa pandanganku mulai gelap.

Ini buruk. Aku selama ini tidak pernah pingsan di dalam kelas. Aku berusaha menggunakan meja untuk menjaga keseimbanganku. Namun sia-sia. Karena tanganku terasa lemas. Aku hampir terjatuh.

Bayangan Yumizuka yang bersimbah darah masih berada dalam kepalaku. Aku seakan bisa menyentuhnya.

___ Aku selalu percaya bahwa Tohno-kun akan datang dan menolongku setiap kali aku mengalami kesulitan ___

Sudah kubilang, aku tidak bisa selalu membantumu. Setinggi apapun kau menilaiku, aku bukanlah seorang superman.


********

“Maaf merepotkan, Arihiko”

“Untungnya aku sudah terbiasa melihatmu yang mendadak pingsan karena anemia. Tapi yang benar saja, kau bisa tidur di UKS sampai selama itu?”

“Kau seharusnya membangunkanku. Tidak ada untungnya menungguiku tidur sampai gerbang sekolah dikunci”

“Diamlah, memangnya aku tega membangunkan orang sakit? Sudahlah, ayo cepat pulang, ini sudah hampir jam 7”

Setelah aku pingsan karena anemia, Arihiko membawaku ke ruang UKS. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 ketika aku terbangun.

“Baiklah, kau bisa pulang sendiri dari sini. Sampai ketemu besok” kata Arihiko setelah kami sampai gerbang depan.

“Baiklah, dan maaf merepotkan”

“Sudahlah, besok-besok, kau harus membayarnya dua kali lipat”

Tersenyum kering aku membawa kakiku menuju rumah.

******

Aku tiba di perempatan tempatku berpapasan dengan Yumizuka secara tidak sengaja kemarin. Baru pukul 7, namun suasana sudah sangat sepi. Mungkin gara-gara pembunuh itu, orang-orang jadi takut keluar malam. Satu-satunya orang yang kulihat hanyalah sosok seorang wanita yang tampak dari kejauhan.

“Pirang?”

Wanita itu mungkin orang asing. Aku bisa melihat rambut emasnya bergoyang setiap kali dia melangkah. Meskipun aku hanya bisa melihat punggungnya, aku bisa menebak kalau dia pasti sanagt cantik.

DEG!

Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang.
Tenggorokanku terasa kering
Aku berkeringat, deras.
Kepalaku sakit.
Bukan anemia.
Karena kesadaranku tidak memudar, namun malah tampak menajam.

*hah hah*

Aku berusaha mengatur nafasku.
Punggung itu___
Melihat punggung wanita itu___
Wanita ber rambut emas itu____

Kepalaku semakin sakit.

*hosh hosh*

Aku ingin mengikuti wanita itu___
Setelah itu___
Apa?___

Apa yang ingin kulakukan setelahnya?

Wanita itu berjalan dan menghilang di distrik perbelanjaan yang ramai.

“Aku…ikuti…dia….”

Langkah kakiku berjalan mengikutinya. Namun sebelum aku berjalan terlalu jauh…. aku melihat banyangan Yumizuka, disudut mataku.

“Yumizuka-san?” Sakit kepalaku mendadak menghilang.

Hanya sekilas, tapi aku yakin kalau itu adalah sosok Yumizuka. Apa dia menuju pusat kota?

“Apa yang dia lakukan jam segini?”

Aku merasa marah. Aku tidak peduli apakah dia kabur dari rumah atau tidak. Sangat berbahaya untuk seorang gadis berjalan sendirian pada malam hari.

Yumizuka berjalan di antara keramaian kota.

Sebenarnya aku tidak yakin apakah dia Yumizuka, tapi aku memutuskan untuk mengikutinya.

“Yumizuka-san!! Tunggu!” aku berteriak sambil mengejarnya.

Yumizuka berbalik seakan mendengar suara panggilanku.

Wajah itu, aku yakin dia Yumizuka. Gadis yang berada didepan itu pasti Yumizuka Satsuki. Tapi entah kenapa, aku merasa bulu kudukku berdiri ketika memandangnya

Detak jantungku menggila
Kepalaku bagian belakang terasa berat.
Tenggorokanku terasa kering.
Sakit kepala kembali menyerang seperti ketika aku melihat gadis pirang tadi.

“Ke… kenapa aku…..?”

Tubuhku terasa membara.
Pusing.
Sekan-akan aku sedang mengalami demam tinggi.

Yumizuka kembali berjalan.

“Yumizuka-san, tunggu….!”

Memanggil namanya, aku berlari. Yumizuka terus berjalan tanpa sekalipun mnengok kebelakang. Kupaksakan tubuhku untuk berlari, namun tetap saja aku tidak bisa mengejarnya.

Secepat apapun aku berlari, aku tidak bisa mengejarnya yang hanya berjalan.

Aneh.
Ada yang aneh.
Aku tahu ada yang aneh, tapi aku tidak tahu apa.
Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mengejar Yumizuka Satsuki.

Kemudian aku kehilangan dia. Mataku tidak bisa menemukan Yumizuka yang kukejar.

“Cih, kemana dia?” aku berusaha mengatur nafas. Dadaku naik turun. Mungkin tanpa kusadari, aku sudah berlari cukup lama.

“Jam berapa ini?” Aku melihat jam dari kaca etalase sebuah took. Sudah tengah malam.

“Aku sudah berlari selama itu?” sulit dipercaya, tapi kurasa jam tidak akan berbohong. Sebagian besar toko di distrik perbelanjaan ini memang sudah tutup.

“Aku harus pulang” meskipun aku mencemaskan Yumizuka, tapi kurasa aku tidak akan bisa menemukannya malam mini. Aku mengejarnya hapir selama empat jam sambil memanggilnya. Tapi tidak ada respon sedikit pun. Apa sih, yang dipikirkannya?

Menghela nafas, aku berbalik dan berjalan menuju rumah.

Sepi sekali. Memang masih ada beberapa orang di distrik perbelanjaan, tapi disekitar rumah pasti sudah sanagt sepi. Bayangan pembunuh berantai menghantui kepalaku.

Tengah malam, berjalan sendiri. Aku bisa saja jadi sasaran empuk pembunuh itu.

Bruk!

“?” ada suara. Dibalik gedung itu, ada suara seperti orang yang terjatuh.

“Didalam gang itu?” suara itu hanya terdengar sekali. Keheningan yang mencekam membuatku sedikit bergidik. Aku mendapat firasat buruk.

Sesorang terjatuh didalam gang itu, atau hanya angin yang bertiup hingga menjatuhkan sesuatu?

Apapun itu, sebaiknya ku tidak melibatkan diri. Tapi, mungkin karena aku baru saja mencari Yumizuka, aku merasa dia ada disana.

“Apa yang harus kulakukan?”

Secara tidak sadar, aku merogoh saku, dan menemukan pisau yang diberikan oleh Kohaku pagi tadi.

Aku tidak bisa tidak mengacuhkan firasatku. Dengan adanya pembunuh yang menghantui kota pada malam hari, aku seharusnya tidak mempedulikan apapun yang terjadi dibalik gang itu. Tapi aku teringat senyum Yumizuka kemarin.

Tidak ada alasan bagi Yumizuka untuk berada disana. Tapi kalau dia berada disana, mungkin dia membutuhkan bantuan. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau membiarkan hal buruk terjadi padanya.

“Baiklah” jika pembunuh itu menyerang, aku juga masih memiliki ‘mata’ ini. Dulu Sensei pernah bilang, agar tidak menggunakan kemampuan mata ini seenaknya. Tapi kalau lawannya seorang pembunuh, kukira dia tidak akan keberatan.

“Baiklah….” Meneguhkan hati, aku kemudian melangkah menuju sumber suara.

Deg deg

Jantungku berdegup kencang
Gang ini sangat sepi.
Suara berasal dari ujung sana.

Deg deg

Bagian belakang kepalaku terasa sakit.

Deg deg

Kenapa?
Aku tak tahu.
Tapi instingku berkata….

Deg deg

Jangan
Jangan kesana
Kalau aku kesana, aku tidak akan bisa kembali lagi.

Deg deg

Tapi semuanya sudah terlambat.
Langkahku membawaku semakin mendekati sumber suara.

“eh…..?” adalah kata pertama yang kuucapkan.
Setelah melihat dinding gang seperti di cat dengan warna merah.
Potongan daging berserakan diantara tumpukan-tumpukan sampah.
Bukan potongan daging ayam, bebek, maupun kambing.

Manusia.

Potongan-potongan tubuh manusia.
Lantai dan dinding gang berwarna merah.
Merah.

Bau amis menusuk hidungku.
Darah.
Bau darah.

Kepala
Berguling-guling.
Menunjukkan ekspresi yang mengerikan.

Kepala yang terbelah dua.
Kepala yang saking rusaknya, aku tidak bisa membedakan apakah dia wanita atau laki-laki.

Tak bisa bersuara, aku hanya bisa memandangi pemandangan horror didepanku dalam diam.

Mereka sudah tidak bisa lagi disebut manusia.
Bahkan patung yang dibuat oleh seorang amatir terlihat jauh lebih baik daripada mereka.

Apa ini?
Apa ini?
Apa ini?
Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?

Didepanku, aku melihat warna yang sangat kubenci.
Tapi aku masih sanggup berdiri, tanpa merasa takut.

Sebuah mayat bergerak-gerak.
Bukan. Bukan mayat.
Dia masih hidup.
Manusia dengan tubuh yang masih utuh.

Melihat seseorang yang masih hidup saat ini terasa sangat mengejutkan. Tapi dia masih hidup. Dan aku harus menolongnya. Aku berlari kearahnya. Menariknya dari lautan daging, aku melihat wajahnya.

“HIIIII…….!!!” Secara reflex, aku berteriak dan melompat mundur.

Tengkorak.
Tengkorak tanpa wajah.

Aku berusaha menjauh, namun dia lebih cepat mengejarku.
Mengeluarkan suara seperti ‘hyuuu! hyuuuu!” dia melompat kearahku.

Tangan itu.
Tangannya yang kering itu berusaha menggapaiku.

“HYAAAAA!!!!” aku berusaha melepaskan genggamannya. Tapi dia memegang lenganku dengan sangat erat. Jari-jarinya yang putih menancap di lenganku.

Sakit.
Jari-jarinya setajam jarum.
Begitu hebatnya rasa sakit yang kurasakan, sehingga aku tidak bisa bersuara.

Dengan suara bergemeretak, rahangnya terbuka.
Cukup lebar, sehingga dia bisa menelan kepalaku dalam sekali gigitan. Ketika dia mendekat, aku seakan mendengar dia berkata, ‘aku tidak ingin mati. Tolong aku! Tolong aku!’

Mahluk yang hanya terbuat dari tulang dan kulit yang berusaha menelan kepalaku itu, tiba-tiba roboh.

Perlahan, dia berubah menjadi debu, dan menghilang tertiup angin.

“A, apa itu tadi?”

Rasa sakit masih menjalari tubuhku.
Artinya aku tidak sedang bermimpi.

“Tohno-kun, berbahaya kalau kau disini sendirian”

“!!!!” Aku menoleh kearah suara yang memanggilku dari belakang. Aku melihat Yumizuka Satsuki berdiri.

“Yu…mizuka?”

“Selamat malam. Tempat yang aneh untuk bertemu ya?” selayaknya bertemu di mall, dia menyapaku dengan suaranya yang ringan.

“Yumizuka-san? Kau…. Apayang kau lakukan? Disini?”

“Jalan-jalan. Tapi… wah, apa yang kau lakukan disini, Tohno-kun? membunuh orang sebanyak itu tidak baik, kau tahu?” kata Yumizuka sambil tersenyum.

“Membunuh? Eh?” aku kembali menoleh dan melihat pemandangan horror dibelakangku.

Tohno Shiki sedang berdiri ditengah lautan darah.

“Bukan aku”

“Bagaimana bisa bukan? Semua mati, hanya Tohno-kun yang masih hidup. Ini artinya, kau yang membunuh mereka semua.”

Aku menelan ludah, sedangkan Yumizuka tertawa terkikik.

“Bukan…aku…” lidahku kelu. Aku ingin mengatakan banyak hal, tapi aku seperti lupa dengan semua pelajaran bahasa yang pernah kupelajari.

Ada banyak yang ingin kutanyakan, seperti apa yang dilakukan Yumizuka disini setelah kabur dari rumah.

Ada banyak yang ingin kutanyakan, seperti kenapa Yumizuka masih bisa tersenyum setelah melihat pemandangan horror dibelakangku.

“I…ini…”

“Sudahlah, Tohno-kun. aku mengerti. Kau hanya mengganggu makan malam seseorang secara tidak sengaja.” Yumizuka masih tertawa

Caranya tawanya sangat tidak sesuai dengan situasi saat ini. Aku merasa merinding. Yumizuka berdiri di ujung gang. Tangannya berada dibelakang seperti menyembunyikan sesuatu. Dan kalau diperhatikan lebih detil, ada beberapa noda merah menempel di seragamnya.

“Yumizuka… kau…”
“Ya? Ada apa Tohno-kun?” dia masih tertawa.

Tidak.
Gadis ini pasti bukan Yumizuka Satsuki.

“Kenapa kau menyembunyikan tanganmu, Yumizuka?”
“Ha ha ha…. Sepertinya ketahuan ya? Kau terlalu jeli untuk melewatkan hal kecil seperti ini. Karena itu aku menyukaimu, Shiki.”

Setelah memanggilku dengan nama ‘Shiki’, dia menunjukkan tangannya. Kedua tangannya berwarna merah. Merah darah. Belum kering. Aku masih bisa warna merah itu menetes dari tangannya. Dan dengan bangganya, Yumizuka tersenyum.

“Ya. Aku yang membunuh mereka semua”

“A, apa?”

“Tapi tidak masalah, aku membunuh mereka bukan karena benci. Aku hanya membutuhkan darah mereka untuk tetap hidup.”

Apa ini? Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Yumizuka.

“Kau membunuh mereka?”

“Kau tidak akan percaya kalau aku bilang ‘bohong’ bukan? Atau kau pikir mustahil bagi seorang gadis sepertiku melakukan ini semua?”

Tawanya terdengar lembut.

Tidak mungkin.
Aku tidak percaya ini.
Tapi dia tidak berbohong.

Semua ini….
Dilakukan oleh Yumizuka Satsuki.

“Kenapa….?”

“Kenapa? Sudah kubilang, aku harus melakukannya untuk bertahan hidup, Shiki”

“Tapi membunuh itu SALAH!!”

“Aku tidak salah. Tapi memang aku tadi sedikit melakukan kesalahan. Ketika menghisap darah salah satu dari mereka, secara tidak sengaja, darahku masuk kedalam tubuhnya. Dan, dialah yang menyerangmu tadi, Shiki. Tapi untunglah, dia sudah hancur sebelum berubah sempurna.”

“A, apa maksudmu?”

“Tidak apa kalau kau tidak mengerti. Aku sendiri tidak begitu mengerti, jadi aku tidak bisa menjelaskan dengan baik.”

Yumizuka tersenyum. Dia kemudian melanjutkan,”awalnya aku takut. Tapi setelah itu, aku merasa bisa menjadi seperti Shiki. Menjadi sepertimu, aku merasa hebat. Jadi tunggu aku, oke? Aku akan menjadi vampire yang hebat, dan kemudian kembali menemuimu”

Yumizuka berbalik, dan kemudian melompat. Tinggi sekali.

“Tunggu, Yumizuka!”

Yumizuka telah menghilang. Aku tak mungkin bisa mengejarnya. Kecepatannya seperti kecepatan seekor binatang. Bukan kecepatan yang bisa dicapai oleh tubuh manusia.

“Apa yang terjadi padamu, Yumizuka….”

Luka di lenganku kembali terasa perih. Aku memukul dinding gang karena kesal.

*********

Gerbang rumah. Aku tidak melihat adanya cahaya dari dalam. Entah kenapa, aku tidak sadar kalau malam sudah selarut ini. Aku bakal dimarahi akiha habis-habisan kali ini.

Membuka pintu sepelan mungkkin agar tidak menimbulkan suara, aku disambut oleh ruang lobi yang kosong.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku harus segera merawat lukaku, tapi tidak mungkin aku membangunkan kohaku sekarang.

“…Kak?”
“Akiha..?”

Aku menoleh kearah suara itu. Aku melihat Akiha berdiri diatas tangga.

“Kak, pulang larut malam, apa sih yang ada dalam pikiran kakak?” katanya marah sambil menghampiriku.

Setelah menapak anak tangga terakhir, mata Akiha membelalak melihat konsisiku sekarang.

“Kak! Kenapa kakak bisa…”

Sial. Aku ingin menyembunyikan luka ini, tapi sudah tidak mungkin lagi.


“I, ini hanya….”
“Diam dulu. apa lukanya hanya di bahu saja?”
“Ya, ini….”
“Alasannya nanti saja. Sekarang kita harus merawat luka Kakak. Maaf sebentar…”

Perlahan, Akiha menyentuh bahuku.

“__Akh!”

Tubuhku berjengit hanya karena sentuhan ringan Akiha. Luka ini tampaknya lebih dalam dari perkiraanku.

“Ah, maaf. Sakit ya Kak…?”

“Aku ingin bilang kalau aku baik-baik saja, tapi tampaknya tidak mungkin. Sentuhanmu tadi saja terasa sangat sakit”

“Tampaknya dalam. Baiklah, saya akan merawat luka itu sekarang. Jadi, Kak, silahkan ke ruang tengah” kata Akiha sambil bergerak menuju lantai dua dengan sedikit tergesa.

Aku menyalakan lampu di ruang tengah, dan duduk di sofa. Luka di bahuku terasa sangat sakit tak tertahankan.

“Maaf membuat Kakak menunggu.” Akiha datang membawa kotak P3K. “Saya tidak tahu apakah ini akan banyak membantu, tapi paling tidak, luka itu harus diberi disinfektan.”

Akiha mulai merawat lukaku. Seragamku yang berlumuran darah dipotong menggunakan gunting agar lebih mudah mengoleskan disinfektan ke lukaku.

“GUUH!!” aku menggeretakkan gigi dan mengepalkan tangan setelah tiba-tiba rasa sakit menjalar seperti listrik karena obat yang dioleskan Akiha. Namun setelah itu, perlahan rasa sakit menghilang. Akiha mungkin pandai merawat atau mungkin saja sebenarnya lukaku tidak separah dugaanku.

“Baiklah, selesai. Luka seperti ini akan sembuh besok pagi.” Akiha mengemasi kotak P3K.

Sebenarnya aku sedikit terkejut. Karena akuk mengira Akiha akan menanyakan dimana aku mendapatkan luka ini. Dan tentu saja memarahiku karena pulang pagi.

“…. Kau tidak bertanya, Akiha…?”

“Bertanya tentang…. apa?”
“Yah, kau tahu, karena aku pulang pagi, atau kenapa aku terluka?”

Aku mengatakannya seperti memprotes. Mungkin juga aku sebenarnya hanya ingin diperhatikan. Atau mungkin aku sudah terlalu lelah. Kelelahan membuatku bicara ngawur.

“Kak, … saya tahu prioritas. Sekarang yang paling penting adalah merawat lukamu terlebih dahulu.”

“Begitu ya? Oke, aku mengerti”

“Sebenarnya Kakak menganggap saya orang seperti apa? Tidak mungkin saya mengomeli orang yang terluka”

“Ah iya, maaf.”

“Tapi saya tetap ingin mendengar alasan kakak setelah luka kakak sembuh. Istirahatlah sekarang”

“________”

Aku mengalihkan pandanganku dari akiha. Aku bersyukur Akiha mau pengertian. Tapi meskipun sudah sembuh juga, aku tidak mungkin bisa mengatakan yang sebenarnya.”

“Akiha, Aku___”

“Sudahlah, kak. Jangan menatapku dengan wajah seperti itu. Sekarang kakak harus kembali kekamar dan segera tidur. Dan juga, paling kakak tidak akan menceritakannya padaku meskipun sudah sembuh”

Membaca pikiranku dengan sempurna, Akiha berbalik dan berjalan meninggalkan lobi. Menaiki tangga, menuju kamarnya.Aku hanya duduk disofa melihatnya pergi.

Tiba-tiba saja aku kepikiran sesuatu. Apakah Akiha dengan sengaja menunggu kedatanganku? Bagaimana mungkin dia muncul di lobi tiba-tiba seperti tadi?

“___Akiha”

“Ya Kak?”

“Terima kasih sudah mau merawatku. Maaf, aku selalu membuatmu cemas”

“Ah___” Akiha berhenti didepan pintu kamarnya.. Dan kemudian dia berbalik kearahku. “Sa, saya tidak mencemaskan kakak. Jika kakak memiliki tenaga untuk memuji, sebaiknya gunakan saja untuk menjaga diri kakak sendiri!”

Dengan keras, dia membanting pintu kamarnya.

“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya” Tapi aku tahu kalau dia mencemaskanku.

Tadi itu…. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Potongan-potongan tubuh berserakan di gang. Kemudian, sosok Yumizuka yang tangannya berlumuran darah. Membayangkannya saja, membuat bulu kudukku berdiri semua.

Aku berdiri dan kemudian menuju kamarku. Mengganti baju, aku kemudian melempar tubuhku keatas kasur. Setiap kali aku menutup mataku, bayangan pemandangan horror di gang berseliweran dikepalaku.

___ Ya. Aku yang membunuh mereka semua.

Kata Yumizuka waktu itu. Tanpa rasa bersalah.

___ Aku hanya membutuhkan darah mereka untuk tetap hidup.

Dan dia membunuh mereka. Seperti vampire…. Seperti lelucon yang sangat buruk.

___ Jadi tunggu aku, oke? Aku akan menjadi vampire yang hebat.

Dan aku tidak bisa mengingat apa kata Yumizuka selanjutnya.

Perlahan rasa kantuk menyerang. Dengan masih membayangkan wajah Yumizuka, aku menutup mataku pelan.

Hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik. Yumizuka mengatakan yang sebenarnya, dan dia yang membantai orang-orang itu.


Read More..

Tuesday, August 10, 2010

Chapter 1: Inversion Impulse

Musim semi
Bekas-bekas musim panas telah menghilang di pertengahan bulan Oktober ini. Hari ini adalah hari dimana aku, Tohno Shiki, kembali kerumah keluargaku, di kediaman Tohno. Setelah delapan tahun sejak kepergianku dari rumah itu

“Shiki… Cepatlah! Nanti kamu terlambat kesekolah!”

Aku mendengar suara Keiko-san memanggilku dari dapur.

“Baik, aku segera turun”

Aku memandangi kamarku yang selama ini kutempati sejak aku tinggal di kediaman keluarga Arima hingga sekarang. Aku kemudian segera turun menemui Keiko-san.

“Aku pergi sekarang. Terima kasih telah merawatku selama delapan tahun ini”
Aku membungkukkan badanku.

Aku berjalan melalui pintu masuk rumah keluarga Arima, dan kemudian berbalik karena mendengar suara Keiko-san memanggilku.

“Shiki,.....”

Aku hanya tesenyum.

“Sampai jumpa, Ibu”.

Aku jarang memanggil Keiko-san dengan sebutan ‘ibu’. Biasanya aku hanya memanggil dengan namanya saja.

Aku berjalan melewati pagar rumah kediaman Arima. Aku tidak akan kembali lagi kesini. Tidak akan kembali lagi kesini, sebagai anggoa keluarga Arima.

Delapan tahun. Mata dari seseorang yang telah menjadi ibuku selama delapan tahun terlihat begitu sedih. Aku belum pernah melihat Keiko-san seperti ini.

“Tinggal di rumah kediaman Tohno sangatlah sulit. Jaga dirimu baik-baik, Shiki. Jangan memaksakan diri, karena badanmu lemah”

Kata-kata Keiko-san menghentikan langkahku. Aku berbalik dan menjawab.

“Tidak apa-apa. Setelah delapan tahun ini, tubuhku semakin sehat. Sesehat orang biasa”
“Mungkin kamu benar, tapi, tinggal di kediaman Tohno sangat ‘berbeda’.”

Aku mengerti maksud Keiko-san. Kediaman Tohno sangatlah besar. Sesuatu yang sangat jarang ditemui zaman ini. Bukan hanya rumahnya yang besar. Namun keluarga Tohno sendiri juga sangat berpengaruh di negeri ini. Katanya, keluarga Tohno menanamkan modalnya ke berbagai perusahaan di seluruh penjuru negeri. Sebenarnya, disitulah aku seharusnya tinggal. Keluarga Arima selama ini hanya merawatku saja.

“Baiklah, aku pergi sekarang. Terima kasih telah merawatku selama ini”

Aku mengulang kata-kata itu sekali lagi, kemudian membelakangi rumah keluarga Arima, dan melangkah pergi.

Aku meninggalkan rumah keluarga Arima menuju sekolah dengan hati yang berat. Delapan tahun yang lalu, aku sembuh dari luka akibat kecelakaan yang bisa mengakibatkan kematian. Kemudian aku diserahkan kepada keluarga Arima, yang merupakan keluarga cabang dari keluarga Tohno. Aku tinggal di rumah keluarga Tohno hanya sampai umurku sembilan tahun. Setelah itu aku tinggal dirumah keluarga Arima hingga sekarang. Aku menjalani hidup yang normal sebagai anak angkat.

Sejak bertemu dengan Sensei yang memberiku kacamata yang kupakai hingga sekarang, hidup seorang Tohno Shiki sangatlah normal. Hingga kepala keluarga Tohno mengirimkan surat yang menyuruhku untuk kembali kesana, ketempat keluarga yang sempat membuangku

Jujur saja, bahkan sejak sebelum terjadinya kecelakaan, aku sendiri tidak pernah bisa merasa nyaman tinggal di rumah kediaman Tohno. Mungkin karena peraturan disana terlalu keras. Mungkin karena itu pula aku tidak menolak ketika ayah mengirimku ketempat keluarga Arima. Aku bahkan menganggap keluarga Arima sebagai keluargaku sendiri. Aku tidak pernah menyesal tinggal disana.

Kecuali satu hal. Adik perempuanku, tetap tinggal di kediaman keluarga Tohno.

“Mungkin Akiha membenciku sekarang.”

Itu wajar saja, karena Akiha, adikku, selama ini terus hidup dibawah pengawasan Ayah yang keras. Mungkin saja Akiha menganggapku melarikan diri.

“Yah, mau bagaimana lagi? Apa yang akan terjadi, terjadilah” pikirku.

Sepulang sekolah, aku akan pulang kerumah keluarga Tohno. Hanya tuhan yang tahu apa yang akan terjadi. Aku lihat saja perkembangannya nanti. Sekarang aku memiliki masalah yang lebih penting. Jam ditanganku menunjukkan pukul 7.45. itu artinya sebentar lagi aku terlambat, karena pelajaran dimulai pukul 8 tepat. Aku menggenggam erat tasku, dan mulai berlari.

“Hosh*….hosh*….”

Tidak terlambat. Untung aku tahu jalan pintas melalui gerbang belakang sekolah. Kalau kupikir-pikir lagi, hari ini adalah hari terakhir aku masuk sekolah melalui gerbang belakang. Karena mulai besok, aku berangkat dari kediaman keluarga Tohno, yang letaknya, meskipun jauh, berada didepan sekolah.

“Fiuuu…” sampai tepat waktu, aku segera menuju tempat dudukku yang berada disamping jendela.

“Selamat pagi, Tohno-kun”

Suara yang terdengar asing menyapaku. Berbalik badan, aku melihat seorang gadis berdiri disampingku.

“Tohno-kun, Pak Guru mencarimu. Katanya ada dia ingin bicara mengenai rumahmu”

“Rumahku? Ah, pasti mengenai pindahan itu” Aku merasa sudah mengisi semua form yang diperlukan untuk mengurus pergantian alamat. Mungkin ada yang terlewat.

Gadis itu termenung berdiri disampingku. Terus-terusan menatap kearahku.

“Uh… selamat pagi, Yumizuka-san”

“Ya, selamat pagi Tohno-kun. Baguslah, ternyata kau mengingat namaku” Terlihat lega, Yumizuka memberiku senyuman mungilnya.

“Hei, aku mengingat semua nama teman sekelasku, tahu. Hanya saja, kita jarang saling bertegur sapa seperti ini”

“Kau benar. Sejujurnya, aku sendiri sedikit merasa gugup ketika menyapamu tadi” Yumizuka kembali tersenyum. Dia terlihat gembira.

“…………….” Yumizuka kembali menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu.

Sejujurnya, aku tidak begitu mengenal Yumizuka. Meskipun kami berada dalam satu kelas, namun kami jarang saling berbicara.

Aku mengenal Yumizuka karena dia sering menjadi bahan obrolan diantara teman-teman cowokku. Dan tidak ada isu-isu jelek yang beredar mengenainya diantara teman-teman cewek. Pendek kata, dia seperti idola di kelas ini.

Biasanya dia selalu dikelilingi teman-temannya. Benar-benar kebalikan dari penyendiri seperti aku. Banyak sekali alasan bagiku untuk mengingat nama ‘Yumizuka Satsuki’, namun aku tidak menemukan satu alasan pun baginya untuk mengingat nama ‘Tohno Shiki’

“Tohno-kun, mmm… boleh aku bertanya?”
“Silahkan, kalau aku bisa jawab, akan kujawab.”

“Mungkin ini sedikit pribadi… tapi, kau tadi bilang mau pindah rumah….” suaranya terdengar sedikit gemetar, seakan-akan sulit baginya untuk menanyakan hal tersebut. Dia menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada untuk lebih membuatnya tenang. “Apa kau akan pindah sekolah?”

“Ah tidak kok, aku hanya pindah rumah saja, tapi aku tidak akan pindah sekolah. Rumah baruku masih di kota ini, bukan sesuatu yang besar””

“Begitu ya?” katanya lega.

Aneh sekali. Kenapa hal kecil seperti kepindahanku membuatnya bereaksi seperti itu?

“Berarti kau akan meninggalkan keluarga Arima?”
“Benar. Aku suka tinggal disana, tapi aku tidak bisa terus-terusan membebani mereka.”

Tunggu dulu? Yumizuka tahu kalau aku tinggal bersama keluarga Arima? Tidak ada yang tahu kalau aku tinggal bersama mereka kecuali satu orang.

“Yo…Shiki!”

Dan orang itu tiba-tiba muncul dari pintu kelas. Orang yang telah menjadi temanku sejak aku masih SMP.

“Hei, Yumizuka. Tumben kau mau ngobrol sama Shiki”

“Selamat pagi, Inui-kun”

Yumizuka memalingkan muka tanpa antusias. Kurasa Yumizuka jenis orang yang sulit berkomunikasi dengan cowok macam dia.

“Ooooo…. Ada apa ini? Shiki godain cewek? kirain kamu homo” goda Arihiko dengan suara keras.

“Bangsat. Jangan menyebar gosip yang tidak benar. Aku normal, tahu!”

“Benarkah? Baguslah, sobat. Cewek jaman sekarang melihat orang homo sebagai sesuatu yang menyengangkan. Tapi cuma sampai situ saja” tawa cerianya menggema di ruangan kelas pagi ini.

Menghela nafas, aku kemudian bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku kenal dengan orang macam ini?

Rambutnya dicat oranye. Telinganya ditindik, tatapan matanya seolah-olah menantang semua orang yang dilihatnya.

Namanya Inui Arihiko. Mungkin dia satu-satunya berandalan disekolah ini.

“Pagi-pagi begini, apa kau harus bicara sekeras itu? Aku sedang susah, jadi menyingkirlah dariku untuk hari ini saja, Oke?” aku mengayunkan tanganku menyuruhhya pergi.

“Susah? Kenapa? Ini belum tanggal tua, kan?”

“Tunggu dulu. kutarik kata-kataku tadi. Daripada hanya hari ini saja, aku lebih suka kau tidak mendekatiku sampai akhir hidupku. Aku akan tambah depresi kalau kau ada disekitarku”

“Hei hei, kau tidak boleh bicara begitu, Shiki. Sikapmu bisa membuat orang lain sakit hati, kau tahu itu?”

“Oh, mati saja kamu”

“Wow,wow, pagi ini kau lebih jahat dari biasanya”

“Aku sedang susah, kau tahu? Aku tidak bersikap seperti ini pada orang lain. khusus padamu saja”

“Kenapa kamu jahat sekali padaku, Shiki? kamu nggak kaya gini sama orang lain”
“Kamu baru sadar sekarang?”
“Tidak Adil!” protes Arihiko
“Hidup memang tidak adil, bung” aku menyahut

Begitulah hubunganku dengan Arihiko. Kami berteman baik, namun kami selalu melontarkan ejekan-ejekan setiap kali kami bertemu.

“Ngomong-ngomong Arihiko, ada angin apa gerangan yang membuatmu bisa datang tepat waktu? Biasanya kamukan nongol setelah jam kedua selesai”

“Kenapa? Ya setelah ada kejadian ‘itu’ aku tidak pernah keluar malam lagi. Jadi aku bisa bangun pagi” jawabnya “Kamu tahu tentang pembunuhan berantai itu kan?” tambah Arihiko

“Pembunuhan berantai? Ya aku pernah dengar. orang-orang memanggil pelakunya dengan sebutan ‘Vampire Maniak’ kan?”

Kami jadi mengobrol tentang pembunuh berantai yang selalu melakukan aksinya di malam hari. Karena itulah Arihiko tidak pernah keluar malam lagi. Terlalu beresiko.

“Kamu tahu ga? Semua korbannya adalah perempuan. Korban kedelapan ditemukan dua hari yang lalu” kata Arihiko serius. “Lebih anehnya, semua korban meninggal dengan luka berbentuk salib di leher” tambahnya

“Tidak seperti itu Inui-kun, semua korbannya meninggal karena kehabisan darah. Seakan-akan dihisap oleh vampire” kata Yumizuka membenarkan

“Wow, kamu tahu banyak tentang hal ini, eh? Yumizuka-san”

“Tidak juga” jawab gadis yang bernama Yumizuka itu. “Sebenarnya, karena terjadinya di daerah sekitar sini, jadi mau tidak mau, aku jadi tahu”

Begitu ya, kukira dulunya pembunuhan itu terjadi di kota sebelah. Rupanya pembunuh itu melebarkan wilayahnya sampai sini.

“Yah, pokoknya karena itulah aku tidak mau lagi main sampai malam” kata Arihiko menegaskan.

Aku duduk disebelah Arihiko. Dan tanpa sengaja, tangannya menyentuh tanganku.

“Hey bung, tanganmu dingin sekali. kamu anemia lagi ya?” Arihiko bertanya.

“Wah, terima kasih sudah begitu perhatian. Kalau aku anemia 24 jam sehari, aku pasti sudah mati.”

“Ok, kalau kamunya bilang begitu, artinya kamu baik-baik saja”

KRIIIIING!!

Pembicaraan kami terputus karena mendengar suara bel berbunyi.

“Pelajaran segera dimulai. Sana, kembali ke kursimu”

Arihiko kemudian berjalan menuju tempat duduknya.

Aku sebenarnya merasa sedikit heran. Kenapa Yumizuka melibatkan diri dalam pembicaraan kami tadi. Memang dia teman sekelasku, Namun aku sebenarnya jarang sekali mengobrol dengannya.

Jam kedua selesai. Wali kelasku yang juga guru matematika memanggilku. “ada beberapa dokumen yang belum kau isi” begitu katanya.

Kalau hanya mengisi dokumen saja kurasa tidak akan lama. Sebaiknya aku segera ke kantor guru sebelum jam ketiga dimulai. Kantor ada di lantai satu, sedangkan kelasku ada di lantai dua. Kalau aku lari, aku masih sempat kembali ke kelas sebelum jam ketiga dimulai.
Tap tap tap!

Aku berlari.

Tap tap tap!

Aku berlari menuruni tangga.

Tap tap tap
Dan… BRAAAK!!

Sebuah tumbukan membuatku terlempar dan jatuh kelantai. Kepalaku membentur sesuatu, dan untuk sesaat, dunia terlihat berputar-putar.

“Ow…owowowow…”

Aku mendengar suara seseorang didekatku. Suara seorang gadis. Sepertinya aku tadi menabraknya ketika berlari.

“Maaf. Kau tidak apa-apa?” mataku masih berkunang-kunang, tapi aku tetap meminta maaf kepada orang yang kutabrak.

“I, iya. Aku tidak apa-apa. Kau juga baik-baik saja?” tidak terdengar nada menyalahkan dari suara yang lembut itu. Aku tidak mengenalnya, tapi tampaknya dia mencemaskanku.

“Tidak apa. Aku baik-baik saja” jawabku sambil mengejap-ngejapkan mata. Sebentar kemudian, pengelihatanku kembali normal.

“Kau tidak apa-apa?” kata gadis itu. “dahimu sedikit bengkak”
“Eh?” aku meraba dahiku dan merasa sedikit sakit.
“Maaf, aku tadi sedikit melamun. Dahimu pasti sakit, ya?” kata pelajar putri itu memandangku dengan tatapan menyesal.

Dari cara bicaranya, aku mengira dia masih kelas satu. Namun setelah kulihat warna dasi pitanya, aku baru menyadari kalau dia adalah kakak kelasku.

“Ti, tidak apa. Aku yang salah. Maaf telah menabrakmu, Senpai” aku membungkukkan badan meminta maaf.

“Ah, benar juga” katanya tersadar. “Kau tidak boleh lari-lari di lorong, kau tahu itu? Ada beberapa orang yang senang melamun sambil melihat halaman sekolah seperti aku.” Nada bicarannya berubah menjadi seperti menggurui.

“I, iya. Saya minta maaf. Senpai tidak apa-apa?”
“Hanya jatuh. Ini karena kau melempar dirimu sendiri ketembok untuk menghindari tabrakan, Tohno-kun”
“Benarkah? Yah, tidak heran kalau aku sempat melihat bintang-bintang berputar dikepalaku. Saya minta maaf, tapi melamun di lorong juga berbahaya, Senpai”

”Ya. Aku akan lebih hati-hati” Senpai mengangguk sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang tulus.

“Ka, kalau begitu, aku pergi dulu” menghilangkan debu dari celanaku dengan menepuknya, aku kemudian berjalan menuju kantor. Namun senpai tadi tetap memandangku melalui kacamatanya.

Tunggu dulu. Tadi siapa ya? Aku tidak begitu memperhatikannya, tapi kalau dipikir-pikir, dia cantik juga. Kalau dia secantik itu, seharusnya ada rumor tentang ‘gadis kelas tiga berkacamata yang cantik’

“Mmm… aku pergi sekarang. Sebaiknya Senpai segera kembali kekelas senpai. Namaku Tohno, kelas 2-3”

Dia mengangguk. Meskipun dia lebih tua dariku, tapi aku merasa seperti berbicara dengan orang yang lebih muda.

“Aku mengerti. Nanti makan siang aku akan ke kelasmu. Ingat Shiki-kun, kau tidak boleh lari di lorong seperti tadi.”

“Tentu saja, dan senpai juga sebaiknya tidak melamun di lorong” dengan itu, aku melambaikan tangan dan____

Tunggu…. Shiki-kun? Aku belum pernah memberi tahu nama kecilku. Dan seperttinya dia juga menyebut namaku seperti itu sebelumnya.

“Apa kita pernah bertemu, Senpai?”

“HEEEH?!” teriak Senpai terkejut. “Jahatnya… kau lupa padaku, Tohno Shiki-kun?”

Lupa? Tidak mungkin, ah? Kalau aku dengan gadis secantik dia, mana mungkin aku bisa lupa.

Dia memandangku seperti memaksaku untuk mengingat-ingat lagi. Mata itu…. Aku yakin aku pernah melihatnya. Kurasa kami pernah beberapa kali bertukar sapa.

“Ciel-Senpai, kalau tidak salah?” tebakku ragu.

“Syukurlah kau masih ingat.kau jenis orang yang suka melamun dan pelupa, ya? Tohno-kun”

Suka melamun, tidak. Tapi kalau pelupa, yah, harus kuakui itu benar.

“Baiklah kalau begitu, sampai ketemu makan siang nanti ya” Ciel-senpai membungkukan badannya kemudian berjalan berlawanan arah dengan kantor guru.

******************

Waktu makan siang tiba. Kelas menjadi lebih hidup. Beberapa murid laki-laki langsung berlari menuju kantin, beberapa gadis membentuk kelompok untuk makan siang bersama, dan beberapa lagi keluar dengan tenangnya sambil membawa kotak makan siang mereka.

Aku mengamati mereka sambil mengeluarkan kotak susu dan roti yang kubawa.

“Lagi tidak nafasu makan? Shiki?”

Cowok berambut oranye yang berdiri didepanku mengatakan sesuatu yang seperti sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Dan aku lagi malas untuk meladeninya.

“Tapi… apa-apan ini? Hanya kita berdua. Apa artinya makan siang tanpa ditemani bunga yang bermekaran?”

“Kalau kau mau ditemani ‘bunga bermekaran’-mu, kenapa kau tidak bergabung dengan kelompok yang disana? Aku tidak akan melarangmu”

“Bodoh! Kalau aku bilang ‘bunga bermekaran’, itu artinya seorang gadis. Cewek-cewek yang berkelompok itu tidak bagus. Mereka lebih cocok disebut beracun dari pada cantik”

Komentar Arihiko mungkin bisa menghasilkan lemparan batu kearah kepalanya kalau kelompok cewek itu mendengar. Untungnya hal itu tidak terjadi.

“Cukup kasar, Arihiko. Aku tahu kau anak nakal, tapi tidakkah kau sedikit keterlaluan akhir-akhir ini? Kau hampir melebihi kata ‘nakal’ dan mulai menuju ‘jahat’”

“Mau gimana lagi? Ketika menemukan ada cewek cakep di sekolah ini. Mataku menjadi semakin kritis”
“Hah…begitu? Jadi, siapa cewek cakep itu?”

“Rahasia. Aku tidak mau menambah saingan” Arihiko tertawa dengan sebuah senyuman ambisius menghiasi wajahnya. Karena aku tidak memilikinya, aku sedikit merasa kagum dengan kemampuannya mengekspresikan diri dengan vulgar.

Dan kemudian, gadis yang kutabrak tadi pagi muncul dari daun pintu. Membawa kotak makan siang, aku tidak mungkin salah mengenali.

“Halo, Tohno-kun. apa aku mengganggu?”
“Ah, tentu saja tidak”

Tersenyum, Ciel Senpai mengambil kursi dan duduk dengan santainya.

“Senpai, yang tadi pagi masih sakit?”
“Tidak kok”

Senyumannya benar-benar bisa membuatku salah tingkah.

“Tadi kau menyuruhku untuk kemari saat makan siang, jadi kuarasa tidak sopan kalau aku tidak memenuhi undanganmu”

“Aku memang bilang begitu, tapi….”

Maksudku kalau senpai terluka dan minta pertanggung jawaban.

“SENPAIIII!!!” Arihiko menggebrak meja dan berdiri dengan tiba-tiba.
“Ah, Inui-kun. apa kau teman Tohno-kun?”
“Yeah! Lebih dari sekedar teman. Aku dan dia sudah kenal bersahabat sejak kecil! Benar bukan? Shiki? Dia bisa kubilang teman terbaikku!”

“_____” aku tidak bisa bilang setuju atau tidak setuju dengan pernyataan Arihiko.

Pada akhirnya, Arihiko berhasil memaksa senpai untuk makan siang bersama. Sejak awal Senpai memang sudah membawa bekal makan siangnya, jadi mungkin sejak awal dia memang sudah berniat untuk makan bersama.

****

“Jadi, Inui-kun tinggal sendiri?”
“Bareng adik perempuanku kok. Orang tua kami pergi dan mempercayakan tanggung jawab rumah pada kami, jadi kami harus bisa memasak sendiri”

Arihiko tampak sangat akrab dengan Senpai. Dia lebih banyak bicara daripada aku.

“Ngomong-ngomong senpai, tadi kau bilang dipanggil Shiki kemari. Memangnya ada apa?”
“Ah, tadi pagi kami bertabrakan. Tidak sakit sih, tapi sepertinya kepala Tohno-kun terbentur tembok”
“Jadi kau kemari karena cemas?”
“Yah, bisa dibilang begitu”

Cara bicara senpai sangat cepat, namun jelas terdengar. Karena mendengarkan suaranya lebih menyenangkan, aku memutuskan untuk tetap diam saja. Tapi tiba-tiba Arihiko bertanya padaku, “Kenapa Shiki, sampai menabrak orang? Anemiamu lagi?”

“Tidak kok, tadi aku buru-buru karena ada satu-dua hal yang harus kulakukan mengenai masalah pindah rumahku”

“Benarkah? Kalau begitu itu salahmu, Shiki” kata Arihiko melipat lengannya sambil mengangguk

“Pindah? Kau mau pindah sekolah, Tohno-kun?” tiba-tiba saja Senpai memotong pembicaraan kami dengan sedikit histeris.

“Cuma pindah tempat tinggal kok. Aku harus mengurus beberapa dokumen untuk mengganti alamat rumahku”

“Oh, jadi kau sekarang tinggal sendiri?”

“Tidak, Cuma aku akan kembali kerumahku yang sebenarnya. Sebuah rumah besar diatas bukit. Aku sendiri masih belum percaya kalau itu rumahku”

“Ah, rumah itu?” Tanya Senpai sedikit tidak percaya

Rumah besar ala barat yang tidak lazim ditemukan di Jepang, mungkin terlihat aneh bagi penduduk sekitar. aku memang sudah 8 tahun tidak kesana, tapi dalam ingatanku rumah itu memang benar-benar besar.

“Benar. Itu rumahku. Aku sempat berpikir kalau tempat itu tidak cocok untukku, tapi semua sudah terlambat. Hari ini aku akan pulang kesana”

“Kau tidak… terlihat senang, Shiki” kata Arihiko.

“Tidak tahu. Aku sendiri tidak tahu apakah aku senang atau tidak”

“Meskipun itu rumahmu, kau sudah tidak tinggal disana selama 8 tahun. Aku mengerti kalau kau merasa rumah itu seperti asing bagimu”

“Tapi aku masih bisa sedikit rileks, karena kalau ada apa-apa, aku akan mengungsi kerumahmu”

“Hei dengar, aku tidak suka idemu yang kabur kerumahku kalau sesuatu yang buruk terjadi” protes Arihiko. Dia memukul meja dengan keras.

“Tohno-kun sering menginap dirumahmu?” tanya senpai kepada Arihiko.
“Yup. Keparat ini selalu main kerumahku setiap kali liburan panjang. Karena dia anak baik, adik perempuanku jadi suka padanya. Dan dia dengan pede-nya menginap dirumahku tanpa membayar satu sen-pun!!”

Aku membuang muka mendengar kata-kata Arihiko. Dan secara tidak sengaja, mataku menemukanYumizuka. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi sepertinya dia segan memotong obrolan kami bertiga.

Aku kemudian berdiri dan meninggalkan Arihiko dan Ciel-Senpai.

“Ada apa Yumizuka-san?”

“Ah? A, aku ingin bicara sebentar, tapi mungkin saatnya kurang tepat”

“Tidak apa. Bicaralah”

“Tapi…..” mata Yumizuka melirik kearah Arihiko. Mungkin Yumizuka kurang nyaman berada didekat temanku yang satu itu.

“Kalau dilorong bagaimana?” Yumizuka menawarkan.

“Baiklah,” aku menoleh kearah Arihiko. “Arihiko, aku keluar sebentar”

Arihiko membalas dengan lambaian tangan, setelah itu aku dan Yumizuka berjalan keluar kelas.

“Jadi?” tanyaku

“Mungkin aku salah, tapi apa Tohno-kun akhir-akhir ini sering ke daerah perkantoran pada malam hari?”

Hah? Daerah perkantoran? Siang saja aku jarang kesana. Pertanyaan yang tidak pernah kuduga.

“Malam? Jam berapa?”

“Tengah malam”

“Kalau begitu itu bukan aku. Di rumah ada jam malamnya. Jam 7 malam aku sudah tidak boleh keluar. Kalau sampai pulang kemalaman, terpaksa aku harus berkemah di halaman”

Dia terlihat gembira dengan jawabanku.

“Ah, benar juga. Keluarga Arima terkenal tradisional dan tegas. Pasti mereka juga keras padamu, Tohno-kun”

“Wow, kau tahu tentang itu, Yumizuka-san? Jangan-jangan kau ikut les upacara minum teh yang diselenggarakan keluargaku”

“Tidak” Yumizuka tersenyum. “Tapi aku punya teman yang ikut les itu. Dan katanya memang benar-benar ketat aturannya”

“Tapi, dari mana kau tahu kalau aku tinggal bersama keluarga Arima? Yang tahu tentang itu hanya beberapa orang saja”

“Aha ha ha, apa kau lupa kalau kita sekelas saat SMP?” kata Yumizuka terkikik.

“Eh?”

Satu kelas? Aku tidak begitu ingat, tapi kalau benar, tidak heran kalau dia tahu tentang hal itu.

“Tapi syukurlah, yang malam-malam itu bukan kamu, Tohno-kun. maaf mengganggu makan siangmu”

Yumizuka segera kembali ke kelas setelah mengatakannya.

“Sudah selesai ngobrolnya?” tiba-tiba saja kepala Arihiko menjulur keluar dari pintu kelas.

“Yah. Dia cuma salah mengenali orang. Ngomong-ngomong Arihiko…..”

“Benar kita dan Yumizuka sekelas sejak SMP. Kelas dua, kelas tiga, dan kelas satu SMA. Total selama tiga tahun kita bertiga sekelas” potong Arihiko seakan-akan tahu apa yang ingin kutanyakan.

“Kau tahu apa yang ingin kutanyakan?”

“Dari wajahmu aku tahu. Tapi brengsek benar kau ini. Kukira selama ini kau hanya tidak mengacuhkannya saja, tapi ternyata kau memang tidak pernah TAHU kalau dia ada. Dia pasti menderita selama ini” Arihiko menatapku dengan tatapan menyalahkan, sambil menurunkan bahunya.

“Ah, pacarnya Tohno-kun ya? Yang tadi itu?” Tiba-tiba senpai ikut muncul dari balik pintu kelas.

“A, apa yang kau katakan Senpai” jawabku gugup. “Mengobrol saja kami jarang”

“Tidak usah bohong. Semua yang lihat juga tahu kalau kalian sangat dekat. Aku jadi sedikit cemburu”

Tapi kau terlihat senang. Senpai terlihat sangat bersemangat…. Untuk menggodaku.

“Arihiko. Tolong jelaskan padanya”

“Jelaskan apa? Tadi pagi saja kalian bicara mesra begitu”

“Kyaa! Ketemu diam-diam di dalam kelas pagi-pagi buta” Senpai memegangi pipinya yang memerah. Dan tampaknya dia semakin senang menggodaku dengan bantuan Arihiko.

“…….” Sudahlah, aku tidak usah menggubris mereka.

“Tapi kau keterlaluan juga, Tohno-kun. dia tadi tampak sedikit sedih bukan? Seharusnya kau lebih perhatian. Jadi…”

“Senpai…..” potongku

“?”

“Jam makan siang sudah hampir habis”

“Aku tahu. Baiklah, sampai ketemu Tohno-kun, Inui-kun” tersenyum, Senpai meninggalkan kelas kami.

“Shiki” panggil Arihiko dengan wajah serius setelah senpai menjauh. “Jangan mengejar Yumizuka”

“Jangan? Kenapa?”

“Dengar. Meskipun Yumizuka tampak gaul, tapi sebenarnya dia sangat pemalu dan single-minded. Sama sekali tidak cocok dengan orang yang super cuek seperti kamu. Gadis itu berbahaya”

Setelah mengatakan itu, Arihiko kembali duduk dikursinya.

“Ngomong apa dia?” batinku.

**********

Sekolah telah usai. Tapi aku merasa tidak ingin segera pulang. Aku memandang halaman sekolah dengan tatapan kosong.

Ruang kelas bersemu oranye tertimpa cahaya matahari terbenam. Warnanya yang seperti cat air, menyakiti mataku.

Aku tidak suka warna merah. Ketika melihatnya aku merasa mau muntah. Tampaknya aku lemah terhadap hal-hal yang mengingatkanku pada darah. Bisa dibilang aku sendiri lemah terhadap darah. Mungkin karena disebabkan oleh kecelakaan 8 tahun lalu yang hampir merenggut nyawaku. Masih terdapat bekas kecelakaan itu didadaku. Sejak saat itu aku sering sekali pingsan karena anemia, dan sering merepotkan orang-orang disekitarku.

“Bekas luka di dada, huh?”

Bukan hanya bekas luka ini yang menjadi warisan kecelakaan tersebut. Mataku menjadi sangat aneh. Aku mampu melihat garis-garis maut disetiap benda. Aku sangat berterimakasih kepada Sensei karena memberiku kacamata ini. Bila tidak, mungkin sekarang aku sudah menjadi gila.

Keiko-san pernah mengatakan kalau kediaman Tohno tidak ‘normal’. Kurasa itu tidak masalah, toh aku sendiri bukan orang yang normal.

“..............”

Aku harus segera pulang. Aku tidak bisa terlalu lama disini.

Mengemasi buku-bukuku, aku segera meninggalkan sekolah. Kalau kupikir-pikir ini pertama kalinya aku pulang melalui gerbang depan.

“Mulai sekarang, gerbang ini akan kulewati setiap kali aku berangkat dan pulang sekolah”

Meninggalkan gerbang sekolah, aku berjalan menuju perempatan didekat daerah perumahan. Perempatan yang memisahkan daerah perumahan dan pusat kota. Selain itu___

“Tohno-kun” Seseorang memanggilku. Secara tidak sengaja aku berpapasan dengan Yumizuka.

“Ah, Yumizuka-san” aku balas menyapa.

Mungkin karena Ciel-senpai menggodaku tadi siang, aku menjadi sedikit tersipu ketika menyapanya. Yumizuka menatapku dengan sedikit aneh.

“A, ada apa, Yumizuka-san? Apa ada yang aneh dengan wajahku?”
“Tidak, Cuma heran saja. Apa yang kau lakukan disini, Tohno-kun? rumahmu kan disebelah sana?” Yumizuka menunjuk arah yang berlawanan dengan arahku berjalan.

“Ah itu… ya, seperti yang sudah kukatakan tadi, aku pindah rumah mulai hari ini. Aku akan tinggal di rumah di puncak bukit itu” Aku menunjuk arah depanku.

“Ah, iya. Tadi pagi kita sudah bicara tentang itu” Yumizuka menepukkan kedua telapak tangannya didepan dagunya. tanda mengerti.

…… Ok, dia terlihat sangat manis ketika melakukannya.

“Benar. Hari ini aku meninggalkan kediaman Arima, dan akan tinggal di rumahku yang sebenarnya.”
“Kediaman keluarga Tohno?”
“Yah, dan entah kenapa aku merasa aku bakal kurang cocok tinggal disana”

“Tapi ini artinya kau adalah pangeran yang tinggal di istana besar bukan?” dengan senyuman kecil, pandangan Yumizuka menerawang jauh ke kaki langit. “Apa kau akan baik-baik saja, Tohno-kun? meskipun rumahmu sendiri, tapi kau sudah meninggalkannya selama 8 tahun bukan? Merasa takut atau cemas mungkin?” tambahnya bertanya.

“Entahlah. sejak dulu, aku memang tidak begitu suka rumah itu. Tapi tetap saja___”
Aku tidak bisa meninggalkan adikku sendirian. Meskipun merasa tidak nyaman, aku harus tetap kembali ke rumah itu. “___aku harus kembali kesana. Ke rumahku yang sebenarnya”

“Aku mengerti. Kau sedang buru-buru bukan? Maaf aku jadi bikin lama” untuk suatu alasan, Yumizuka terus-terusan melihat kebawah, tanpa bicara.

“Ada apa Yumizuka-san? Kau sakit?” aku mencoba memecahkan keheningan ini, namun Yumizuka terus menatap tanah. Aku tidak bisa meninggalkannya seperti ini. Aku akhirnya memutuskan untuk tetap disana, memandanginya.

Sampai akhirnya,

“A..anu..”
“Ya?”
“Kita searah sampai bukit”
“Benarkah? Kalau begitu, ayo pulang bareng”

“Eh?” Yumizuka terkejut. Matanya melebar, dan tangannya menutupi mulutnya. “Ka, kau benar. Kita searah. Jadi tidak aneh kalau kita pulang bersama.” Katanya tiba-tiba dengan riang. Aku bisa melihat dia sedikit melompat ketika mengatakan kalimat terakhirnya.

Aku pulang bersama dengan Yumizuka. Sepanjang perjalanan, kami banyak mengobrol. Bersama dengan Yumizuka, menyenangkan juga bisa menikmati saat-saat seperti ini.

“Hi hi hi…” Ketika berjalan, tiba-tiba saja Yumizuka tertawa, seperti mengingat sesuatu yang lucu.
“Ada yang lucu?”
“Tidak. Hanya saja mulai besok, aku akan berangkat dan pulang sekolah dengan rute yang sama denganmu” jawabnya gembira.

Aku tidak pernah menyadarinya. Tapi aku merasa Yumizuka sangatlah manis. Aku akhirnya tahu bagaimana perasaan teman-teman cowokku yang sampai mau mati-matian melakukan PDKT terhadapnya.

Percakapan kami selesai. Aku hanya terus memandangi wajah tersenyum Yumizuka sambil berjalan. Tanpa bicara kami berdua berjalan beriringan menuju daerah perumahan dengan cahaya senja keemasan menyinari kami.

“Hei, kau ingat ketika liburan musim dingin kelas dua SMP?” tanya Yumizuka dengan suara lirih.

Liburan musim dingin kelas dua SMP. Ketika aku memutuskan untuk mengambil pelajaran tambahan di sekolah karena aku merasa tidak nyaman tinggal terus-terusan di rumah. Aku ingat hal itu, tapi aku tidak mengerti kenapa dia menanyakannya.

“Sudah kuduga. Tohno-kun pasti tidak mengingatnya” Kecewa, aku melihat Yumizuka menurunkan bahunya sambil mendesah. “Ada dua gudang olah raga di SMP saat itu, kau ingat? Yang baru digunakan untuk menyimpan peralatan klub yang memiliki banyak anggota, sedangkan yang lama untuk klub-klub kecil seperti Badminton. Ruang olah raga lama sedikit bermasalah pada grendel pintunya, sehingga kadang tidak bisa dibuka”

“Ah, iya. Aku tahu itu. Gudang itu akhirnya dibongkar setelah kejadian ada beberapa murid yang terkunci didalamnya”

“Ya. Murid-murid itu adalah anggota klub Badminton”

“Ah!!” Aku ingat sekarang.

************

Waktu itu cuaca sangat dingin. Beberapa hari setelah tahun baru. Aku mengikuti pelajaran tambahan disekolah hingga sekitar pukul lima sore. Langit semakin gelap, dan aku memutuskan untuk pulang setelah kulihat tidak ada seorangpun di dalam sekolah.

Musim dingin. Meskipun baru pukul lima, namun suasana sudah segelap malam. Menurut ramalan cuaca, salju akan turun malam ini, sehingga hawa dingin terasa sangat menusuk.

Dan ketika aku hendak meninggalkan sekolah, aku mendengar suara pintu yang digedor-gedor. Suaranya berasal dari arah gudang lama, dan aku memutuskan untuk mengeceknya.

Ada orang disana?

Aku bertanya, dan kemudian mendengar suara beberapa murid perempuan dari dalam gudang. Mereka telah terkunci selama dua jam lebih. Ketika mereka mengemasi perlengkapan klub, mareka menutup pintu gudang agar tidak kedinginan. Namun setelah itu, pintu gudang tidak lagi mau terbuka.

Mereka tidak dapat membuka pintu gudang dari dalam, dan memintaku untuk memanggil guru untuk menolong mereka keluar.

Tapi semua guru sudah pulang. Kalaupun aku memanggil mereka melalui telepon, akan butuh waktu sekitar satu jam untuk kembali kesekolah.

Hawa dingin menusuk tulang. Pertanda salju hendak turun. Akan sangat kejam kalau aku meninggalkan mereka yang terkunci didalam gudang, kedinginan, hanya memakai baju olah raga, untuk satu jam kedepan.

Setelah memastikan tidak ada orang disekitarku, aku melepaskan kacamataku, dan memotong ‘garis maut’ pintu gudang tersebut dengan batu.

Pintu terbuka. Lima orang murid perempuan, dengan mata merah karena manangis, berhamburan keluar.

********

“Ya. Aku ingat. Pernah ada kejadian seperi itu. Tapi kok kamu bisa tahu? Kapten klub saat itu mengatakan ‘Jangan beri tahu teman-teman yang lain, ini untuk kelangsungan klub kami’. Yah, terdengar seperti sebuah ancaman bagiku”

“Oh, Tohno-kun! apa kau tidak tertarik untuk mengetahui siapa saja yang terperangkap dalam gudang waktu itu? Dengar, aku adalah salah satu anggota klub Badminton yang terperangkap didalamnya” terdengar sedikit nada marah dari Yumizuka.


Eh? Itu artinya……

“Aku…” lanjut Yumizuka. “Masih ingat dengan jelas kejadian waktu itu. Dingin dan gelap. Kami semua sempat berpikir kalau kami akan mati membeku didalamnya. Selain itu aku juga merasa sangat lapar. Mungkin saja aku bisa pingsan karenanya”

“Berat juga ya?”

“Kemudian, ketika kami semua menggigil dan ketakutan, kau berteriak dari luar ‘Ada orang disana?’. Kemudian dengan marah, Kapten membalas, ‘Apa kau harus tanya?’ kau masih ingat bukan?”

“Yah, aku masih ingat ada suara berdebam ketika dia melempar bat bisbol kearah pintu. Aku masih ingat itu”

“Ya. Benar!” Kata Yumizuka, tertawa. “Namun ketika kau mengatakan kalau semua guru sudah pulang, harapan kami kembali hilang. Kami sudah tidak tahan berada didalam gudang itu, namun kami harus menghadapi resiko terperangkap hingga pagi. Ketika kami sudah pasrah dengan nasib kami, kau tiba-tiba berkata,’Aku mungkin bisa membukakan pintu ini, jika kau mau menjaga rahasia’”

“Kemudian salah satu dari kalian menjawab dengan marah, ‘kalau bisa semudah itu dibuka, kami tidak akan menderita seperti ini!’ sambil sekali lagi menggedor pintu dengan keras. Dia benar-benar marah waktu itu”

“Ha ha ha, Kapten merasa bertanggung jawab, jadi tidak ada waktu untuk bersabar. Tapi setelahnya, tiba-tiba saja pintu gudang terbuka. Semua orang gembira. Mereka pasti mengira pukulan kapten dengan bat bisbol berhasil membuka pintu gudang tersebut. Tapi, aku melihatmu. Kau yang berdiri terdiam disamping pintu gudang yang terbuka.”

Yumizuka memandangku. Tatapannya terasa hangat. Tapi masalahnya, bagiku hal itu adalah sesuatu yang biasa. Aku tidak pantas mendapatkan rasa terima kasih sebesar itu.

“Saat itu, aku menangis sekerasnya. Hingga mataku terasa pedih. Kau tahu apa yang kau katakan ketika melihatku seperti itu?”

“Wah, aku lupa. Memangnya aku bilang apa?” aku benar-benar lupa, jadi aku bertanya seakan-akan orang lain yang mengatakannya.

Yumizuka menatapku sambil tersenyum. Dia kemudian berkata, “Waktu itu kau meletakkan tanganmu dikepalaku dan mengelusnya. Kemudian kau berkata,’Cepat pulang dan makanlah Ozuni (makanan khas jepang ketika tahun baru)’. Aku benar-benar malu saat itu. Tubuhku masih menggigil kedinginan”

“Benarkah?”

“Kurasa waktu itu kau menyuruhku menghangatkan badan dengan memakan Ozuni”

“Ah, tentu saja. Waktu itu baru saja lepas tahun baru”

“Kemudian, sejak saat itu, aku mulai berpikir. Banyak sekali orang-orang yang dapat diandalkan, namun ketika aku dalam bahaya, yang akan datang menolong pastilah Tohno-kun”

“Ah, kau terlalu berlebihan. Hanya kebetulan saja kok”

Yumizuka menggeleng tanda tidak setuju dengan ucapanku.

“Aku selalu percaya bahwa Tohno-kun akan datang dan menolongku setiap kali aku mengalami kesulitan” Ekspresi wajah Yumizuka menunjukkan kepastian.

“Kau terlalu berlebihan memujiku. Aku tidak sampai segitunya”

“Tidak apa. Aku percaya, dan tolong biarkan aku mempercayainya” Yumizuka menatap lurus mataku. Membuatku merasa terlalu malu untuk balas menatapnya.

“Terserah kalau begitu”

“Jadi, kalau aku dalam bahaya, kau akan segera datang dan menyelamatkan aku bukan?”

Jujur saja, aku bukan tipe orang yang bisa diharapkan. Tapi melihat wajahnya, aku merasa tidak enak kalau harus menghancurkan harapannya.

“Ya. Aku akan mencoba semampuku” jawabku.

“Kau tahu, aku selalu ingin bisa mengobrol seperti ini bersamamu, Tohno-kun”

Mungkin karena pengaruh sinar matahari senja, tapi aku melihat wajah Yumizuka terlihat sedikit kesepian.

“Kenapa tidak? Kita bisa cerita-cerita seperti ini setiap hari”

Yumizuka menggeleng. “Inui-kun selalu berada didekatmu, selain itu, kita juga terlalu berbeda”

Mengatakan itu, Yumizuka berjalan menjauh.

“Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun” tersenyum, Yumizuka melambaikan tangan dan berjalan menuju persimpangan.

Aku melanjutkan berjalan menuju kediaman Tohno. Perjalanan yang terasa sangat asing bagiku. Pemandangan sekitar memang tidak begitu asing, karena aku pernah tinggal disini hingga berumur 9 tahun. Ini bukan pertama kainya aku melalui jalan ini.

Aku meninggalkan rumah sejak aku berumur 9 tahun. Saat ini, adikku, Akiha, tinggal dirumah yang bergaya barat itu sendirian. Ayahku, Tohno Makihisa, meninggal beberapa hari yang lalu. Ibu meninggal setelah melahirkan Akiha. Ini artinya, keluarga inti Tohno hanya tinggal kami berdua. Menjadi anak laki-laki pertama belum tentu menjadikanku pewaris kekayaan keluarga Tohno. Menjadi pewaris berarti harus mengikuti aturan-aturan tertentu yang membuatku sering dimarahi oleh ayah. Mungkin setelah terjadi kecelakaan, Ayah menemukan alasan yang tepat untuk mengusirku dari rumah. ‘Seseorang yang bisa mati kapan saja tidak cocok menjadi pewaris’ mungkin itulah yang ada dibenak Ayah saat itu. Sayangnya harapan Ayah meleset. Aku sembuh. Meskipun begitu, Akiha terlanjur dijadikan pewaris utama keluarga Tohno. Dan kudengar selama ini Akiha dibesarkan dilingkungan yang super ketat dibawah pengawasan Ayah.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bermain bersama Akiha. Setelah kecelakaan, aku belum pernah melihatnya lagi. Sepertinya Akiha selalu mengunjungi rumah keluarga Arima. Namun sayangnya, kami tidak pernah bisa bertemu karena aku masih harus pergi kerumah sakit setiap hari. Dan akhirnya kami benar-benar putus kontak setelah Akiha disekolahkan keluar negeri. Berbeda dengan Akiha, aku dibesarkan jauh dari keluarga utama. Sehingga aku bisa hidup bebas seperti ini.

Sebenarnya aku tidak mau kembali kerumah itu meskipun Ayah telah meninggal. Namun Akiha ada disana. Ketika masih kecil, Akiha adalah seorang anak yang patuh, cengeng dan gampang sekali ketakutan. Dia selalu mengikuti aku kemanapun aku pergi. Tubuhnya yang kecil, dengan rambut panjangnya yang berwarna hitam membuatnya tampak seperti boneka Perancis. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian setelah Ayah meninggal. Selain itu, aku juga merasa bersalah. Aku seakan-akan memaksanya menerima semua tanggung jawab keluarga Tohno, sedangkan aku hidup dengan bebasnya diluar. Mungkin saja sebenarnya aku kembali kerumah karena rasa penyesalan dan sebagai bentuk permintaan maafku terhadap Akiha.

Akhirnya, aku sampai didepan pintu gerbang rumah kediaman keluarga Tohno. Rumah yang luar biasa besarnya tepat berada didepanku. Mungkin bahkan lebih besar daripada sekolahku. Rumah ini dikelilingi pagar besi yang sepertinya sangat mahal. Banyak sekali pohon yang tumbuh di taman. Bahkan bisa dibilang terlihat seperti hutan. Bangunan utama terletak ditengah-tengah dengan beberapa bangunan lain disebelahnya.

Aku kemudian membuka pagar yang tidak terkunci.

“Baiklah......” aku berusaha menekan keteganganku.

Aku masuk kehalaman menuju bangunan utama, berdiri didepan pintu, dan kemudian menekan bel.

DING DONG!

Terdengar suara bel yang kutekan diikuti dengan suara langkah kaki dari balik pintu.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka.

“Kami telah menunggu Anda.”

Aku melihat seorang gadis muda yang memakai apron dan yutaka membukakan pintu.

“Syukurlah. Anda sangat terlambat, sehingga saya sempat takut bila anda tersesat. Saya bahkan berencana untuk menjemput anda bila anda belum juga tiba hingga matahari terbenam.” Kata gadis yang memakai apron putih tadi tersenyum hangat.

“Ah, tidak, itu...”

Melihatnya menggunakan model pakaian yang sudah kuno membuatku tidak bisa merangkai kata.

Melihatku yang sedikit kebingungan, dia sedikit memiringkan kepalanya.

“Anda Shiki-Sama (Tuan Shiki), bukan?” dia bertanya dengan sopan

“Eh-ya, tapi tolong tanpa kata ‘sama’”

“Anda tidak apa-apa? Jangan membuat saya takut seperti itu.” Dia berkata dengan nada agak khawatir. “Saya sempat berpikir kalau saya telah melakukan sesuatu yang salah.”

Caranya berbicara seperti seorang ibu kepada anaknya. Dia berkata dengan lembut dan dengan seyuman hangat diwajahnya.

Dia memakai yutaka dibalik apron putih. Dia juga memanggilku dengan sebutan ‘sama’. Ini artinya......

“Kamu....salah satu pelayan disini, kan?”

Gadis itu menjawabnya dengan senyuman.

“Silahkan masuk, saya tahu anda pasti lelah. Akiha-sama menunggu anda di ruang utama”

Dengan cepat gadis itu menuntunku menuju ruang utama melalui lobi. Kemudian dia tiba-tiba berbalik kearahku seakan teringat sesuatu. Ia lalu membungkuk dengan senyuman lebar diwajahnya.

“Okaerinassai (Selamat datang kembali), Shiki-sama”

Dia mengucapkan salam dengan senyumnya yang secantik bunga. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa membalas membungkuk saja.

Dipandu oleh gadis itu, akhirnya aku sampai di ruang utama. Entah aku sudah lupa, atau rumah ini telah dirombak, aku tidak ingat ada ruangan seperti ini. Terasa seakan-akan rumah ini milik orang lain.

“Shiki-sama telah tiba, Nona.” Kata gadis itu

“Baiklah, sekarang kembalilah kedapur, Kohaku” kata seseorang yang ada disana

“Baik”

Tampaknya pelayan tadi bernama Kohaku. Kohaku membungkukkan badannya, kemudian meninggalkan ruang tengah.

Dengan perginya Kohaku, dalam ruangan ini, hanya tinggal Aku, dan dua orang gadis yang tidak kukenal.

“Lama tidak bertemu, Kakak” kata gadis yang berambut panjang berwarna hitam.

Semua pikiranku seakan-akan berhenti. Aku terlalu terkejut untuk membalas salamnya. Yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk, dan berkata”Ya”

Mau bagaimana lagi. Tampaknya gadis yang memanggilku ‘kakak’ ini sangat berbeda dengan delapan tahun yang lalu. Benar! Dia adalah Akiha.
Dia sudah sangat berubah. Sekarang, dia telah menjadi sepeti seorang putri yang anggun dari keluarga terhormat.

“Kak?” Akiha sedikit merasa heran dengan sikapku.

“Aa...um”

Sial! aku benar-benar kehabisan kata-kata. Kepalaku seperti berjungkir balik mencoba mengenali gadis yang ada didepanku ini sebagai Akiha. Namun tampaknya Akiha langsung mengenaliku sebagai kakaknya.

“Kakak tampak tidak sehat. Apakah Kakak ingin istirahat dulu sebelum kita berbicara?” Akiha bertanya dengan pandangan yang tajam.

Entah ini hanya perasaanku atau apa, namun tampaknya Akiha sedang dalam mood yang kurang baik.

“Tidak usah, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terkejut karena kamu telah banyak berubah, Akiha”

“Manusia akan berubah apalagi kita sudah tidak bertemu selama 8 tahun, Kak” kata Akiha dengan tenang. “Atau mungkin Kakak mengira kalau kita akan tetap seperti dulu selamamnya?”

Apa-apaan ini? Kata-kata Akiha sangat tajam dan menusuk.

“Tidak, hanya saja kamu telah banyak berubah. Sekarang kamu menjadi lebih cantik”

Aku tidak berusaha merayunya. Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya.

“Kakak benar. Namun sebaliknya, sepertinya Kakak tidak banyak berubah.” Akiha menjawab dengan dingin. Ia menutup matanya.

Sebenarnya aku sudah mengira kalau ini akan terjadi.

“Baiklah, kalau kakak merasa baik-baik saja, kita mulai pembicaraan kita sekarang saja. Kurasa Kakak belum tahu alasan mengapa Kakak dipanggil kembali, bukan?”

“Ya Kau benar. Aku hanya tahu aku dipanggil kembali setelah Ayah meninggal. Aku pun mengetahui berita meninggalnya Ayah melalui koran. Bukan dari saudaraku sendiri.”

Mungkin akan terdengar sinis. Namun begitulah kenyataannya.

“......Maaf. Adalah salahku Kakak tidak mendengar berita tentang kematian Ayah” Akiha tertunduk menyesal.

“Tidak apa-apa. Toh dia tidak akan hidup kembali bila kau memberitahuku tentang kematiannya. Jangan khawatir.”

“....Maaf. Namun saya lega setelah Kakak mengatakannya.”

Wajah Akiha menjadi serius. Namun aku tidak begitu suka dengan topik pembicaraan seperti ini.

“Memanggil kakak kembali kesini sebenarnya adalah ide saya. Adalah hal yang aneh bila putra pertama keluarga Tohno dititipkan kepada keluarga Arima selamanya. Setelah Ayah meninggal, keluarga inti Tohno hanya tinggal Kakak dan Saya. saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Ayah ketika Kakak dititipkan ke keluarga Arima. Namun setelah Ayah meninggal, Kakak tidak perlu lagi tinggal bersama mereka. Karena itu Kakak harus kembali”

“Mmm... tapi mengejutkan juga kamu bisa meyakinkan kerabat-kerabat kita yang lain. Bukankah mereka yang mengusulkan untuk menitipkan aku ke tempat keluarga Arima?”

“Tapi sekarang saya adalah kepala keluarga Tohno” jawab Akiha. “Saya menolak semua usulan yang mereka berikan” tambahnya

“Saya ingin Kakak tinggal disini. Namun perlu Kakak ketahui, disini masih berlaku peraturan-peraturan tertentu. Mungkin Kakak harus membuang gaya hidup yang kakak jalani selama ini.”
“Ha ha. Kuarasa itu tidak akan terjadi, Akiha. Sekarang ini tidak mungkin aku merubah sikapku menjadi layaknya seorang bangsawan.” aku berusaha menentang Akiha.

“Saya hanya ingin Kakak mencoba. Atau jangan-jangan Kakak merasa tidak mampu melakukan sesuatu yang telah berhasil kulakukan?”

Akiha memandangku dingin. Seakan-akan dia ingin menumpahkan semua kekesalannya yang dia pendam setelah kutinggalkan selama 8 tahun.

“Baiklah, aku mengerti. Akan kucoba semampuku”

Akiha menatapku tajam dengan tatapan yang solah mengatakan ‘Aku tak percaya’

“Saya hanya ingin melihat hasilnya.”

Kata-katanya tidak mengenal kasihan.

“Baiklah, kita kembali ketopik awal. yang akan tinggal disini adalah Kakak dan Saya. Karena saya tidak menyukai keramaian, saya mengusir semua kerabat yang dulu tinggal disini.”

“Eh !?”

Ok, yang ini baru mengejutkan.

“Tunggu dulu Akiha, kamu mengusir semuanya?” aku bertanya dengan nada tidak percaya.

“Saya yakin, Kakak tidak akan mau bertemu dengan mereka. saya juga telah memecat beberapa pelayan, namun jumlah yang tersisa cukup untuk melayani kita berdua.”

“Akiha, mungkin kamu akan diserang oleh kerabat-kerabat yang lain saat rapat keluarga bila kamu melakukan semua itu.” aku memperingatkan Akiha atas tindakan yang diambilnya.

“Diamlah Kak, daripada banyak orang disini, bukankah lebih baik bila hanya ada kita berdua saja?”

Akiha tampak kesal. Memang benar, dengan begini, aku akan merasa lebih nyaman. Tapi.....

“Kamu baru saja menjadi kepala keluarga, Akiha. Kalau kamu menggunakan kekuasaanmu seperti diktator, kerabat-kerabat yang lain tidak akan tinggal diam.”

“Benar sekali. Namun selama ini, saya sudah tidak menyukai mereka semua. saya sudah muak mendengar rengekan-rengekan mereka.”

“Tapi Akiha.......”

“Ahh, cukup Kak! Dengar, Kakak tidak perlu mengkhawatirkanku. Kahawatirkan saja bagaimana Kakak akan menjalani hidup mulai sekarang. Karena saya melihat Kakak akan menemui kesulitan” Akiha bersungut-sungut. Dia sedikit membuang muka.

“Sekarang bila ada sesuatu yang Kakak tidak mengerti, Kakak bisa bertanya padanya, Hisui.”

Dia menoleh kearah gadis yang berdiri disampingnya. Gadis yang bernama Hisui tadi membungkukkan badannya. Wajahnya dingin tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Dia bernama Hisui.” Akiha memperkenalkan kami berdua. “Mulai saat ini, dia akan menjadi pelayan pribadi Kakak. Kakak bisa menerimanya?”

___________Eh?

“Tunggu dulu... pelayan pribadi? Maksudmu?”

“Kakak tentunya sudah tahu maksudku”

Aku tidak percaya ini.

“Aku bukan anak kecil, Akiha. Aku tidak perlu pelayan. Aku bisa melakukan semuanya sendiri”

“Termasuk mencuci dan memasak?” tantang Akiha..

Sial. Kali ini dia benar.

“Apapun yang terjadi, karena Kakak sudah kembali, Kakak harus mengikuti semua peraturanku. Aku tidak tahu bagaimana keluarga Arima mendidik Kakak, tapi karena Kakak sekarang tinggal di kediaman Tohno, terima saja semuanya.”

Aku tidak bisa melawan Akiha. Aku kemudian melirik kearah Hisui. Wajahnya dingin seperti boneka.

“Baiklah, sekarang tolong bawa Kakak kekamarnya” Akiha memerintah Hisui. Dan Hisui langsung menjawab dengan patuh.

“Baik, Akiha-sama”

Hisui kemudian mendekatiku.

“Sebelah sini, Shiki-sama”

Hisui kemudian menuntunku ke lobi. Mau tidak mau, aku mengikutinya.

Kami sampai di lobi. Rumah ini terbagi menjadi dua bagian. Sebelah barat dan timur dengan lobi berada ditengah-tengah. Aku ingat bahwa rumah ini dibangun simetris. Sehingga bagian barat dan timur sangat mirip.

“Kamar anda disebelah sini, Shiki-sama”

Hisui menaiki tangga. Tampaknya, kamarku berada dilantai dua. Kamar pelayan berada di lantai satu. Mungkin kamar Hisui dan Kohaku berada disana.

Diluar, matahari telah terbenam. Gadis yang menggunakan baju maid model barat ini terus berjalan tanpa bersuara.

“Seperti di negeri impian”

Tanpa berpikir, aku mengutarakan apa yang ada dikepalaku.

“Anda mengatakan sesuatu, Shiki-sama?”

Hisui berhenti dan menoleh kearahku.

“Tidak, Cuma bicara sendiri kok. Jangan diperhatikan.”

Setelah menatapku sejenak, Hisui membungkukkan badan, dan kembali berjalan.

Akhirnya kami sampai dikamarku. Begitu masuk, aku kehilangan kata-kata. Kamarnya sangat luas. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh anak SMA.

“Ini kamarku?” aku sedikit tidak percaya.

“Ya, namun bila anda tidak berkenan, saya bisa menyiapkan kamar yang lain.” Katanya datar

“Tidak usah. Kamar ini sudah lebih dari cukup.”

“Sebenarnya kamar ini tidak pernah dipakai sejak 8 tahun yang lalu. Jadi saya tidak percaya anda akan menemukan sesuatu yang tidak memuaskan disini”

Ada sesuatu yang aneh ketika Hisui mengatakannya. Dia mengatakannya seolah-olah dulu ini adalah kamarku.

“Hey, mungkinkah dulu ini adalah kamarku?”

“Saya hanya diberi tahu seperti itu. Apa saya salah?”
Hisui mencondongkan kepalanya sedikit kesamping dengan sedikit kesal.

Entah kenapa aku menjadi lega. Ternyata Hisui juga dapat memperlihatkan emosi.

“Baiklah, sekarang kamar ini menjadi kamarku. Dulu kamarku hanya seukuran 3x3. sekarang aku akan tidur ditempat yang seperti kamar hotel ini.”

“Saya mengerti. saya juga berharap anda dapat segera membiasakan hidup disini. Apapun yang terjadi, anda adalah Tohno Shiki-sama” kata Hisui

Aku meletakkan tas dimeja, dan kemudian meregangkan punggungku..

“Shiki-sama, semua barang-barang anda sudah berada disini. Apakah anda merasa ada yang kurang?”

“Sepertinya tidak. Kenapa bertanya?”

“Karena saya merasa barang-barang anda yang dikirim kemari terlalu sedikit. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk meminta.” Kata Hisui masih dengan nada datar.

“Untuk saat ini, tidak perlu. Toh barang-barangku memang hanya sedikit. Hanya tas ini, kacamata, dan....”

Buku didalam tas dan sebuah pita berwarna putih yang entah milik siapa.

“Pokoknya, jangan khawatir dengan barang-barangku.”

“Saya mengerti. Kalau begitu, saya akan kembali satu jam lagi.” Kata Hisui

“Satu jam lagi? Untuk makan malam?”

“Benar.”

Seperti yang kuduga. Ketika berbicara, ekspresi wajah Hisui tetap dingin.

Aku ingin Istirahat. Tapi bagaimana bisa. Biasanya jam segini aku menonton TV. Tapi aku tidak yakin ada benda seperti itu dirumah ini.

“Hisui, mungkin aku menanyakan sesuatu yang aneh, tapi dirumah ini ada TV tidak?”

“TV?” Mata hisui sedikit menyipit

Mungkin sedkit aneh menanyakan keberadaan TV dirumah sebesar ini. Hisui memperlihatkan wajah bingung yang belum pernah kulihat.

“Tidak ada TV disini. Dulu pernah ada. Namun salah satu tamu membawanya pergi.”

“Tamu? Siapa?” aku bertanya

“Salah satu kerabat” jawab Hisui dingin. “Putra pertama dari Kugamine-sama, putri ketiga dari Touzaki-sama dan tunangannya, dan putra pertama dari Kishima-sama pernah tinggal disini selama 3 tahun” tambahnya

“3 tahun? Itu bukan tamu namanya, tapi orang numpang”

Hisui tidak menjawab

Ayah tidak menyukai benda-benda teknologi. Dia berpikir banda-benda seperti itu terlalu vulgar. Jadi mungkin benar-benar tidak ada TV disini. Akiha mungkin juga berpikiran sama.

“Ya sudahlah, toh, aku tidak akan mati kalau tidak ada TV”

Hisui terdiam. Dia bisa menjadi contoh pelayan yang baik. Dia tidak akan berkata apapun bila tidak ditanya secara langsung. Tapi tentu saja sikapnya itu membuatku susah. Aku ingin membuatnya tersenyum. Tapi tampaknya mustahil bila usahanya hanya setengah-setengah.

“Oh ya, dilantai pertama sayap bagian barat ada perpustakaan kan? Mungkin aku akan sesekali kesana untuk mengisi waktu luang.”

Hisui tetap diam. Berdiri didekat pintu, aku bahkan tidak tahu kemana dia memandang.

“Hisui?”

Dia diam, namun tiba-tiba dia menoleh dan memandang lurus kearahku.

“Sepertinya dikamar kakak ada satu”

“Huh? Ada ‘satu’ apa ?”

“TV” jawabnya. “Seingat saya, dikamar kakak ada satu.”

Hisui mengatakan seakan-akan mengingat kejadian yang telah bertahun-tahun terjadi.

“Tunggu dulu,... maksudnya Kakak? Jangan bilang kalau itu adalah Kohaku”

“Benar. Yang bekerja sebagai pelayan dirumah ini hanya Kakak dan Saya.”

Aku baru sadar bahwa sebenarnya wajah Kohaku dan Hisui sangat mirip. Hanya saja sulit dipercaya bahwa mereka kakak beradik. Kohaku selalu tersenyum hangat. Sedangkan Hisui terlihat sangat dingin.

“Aaa.. begitu ya, sepertinya Kohaku memang jenis orang yang selalu menonton acara-acara TV”

Tapi aku tidak mungkin pergi kekamar Kohaku dan mengatakan ’boleh menonton TV disini?’

“Ya sudahlah, tak usah dipikirkan lagi”

Hanya tuhan yang tahu komentar sinis seperti apa yang akan dikatakan Akiha bila aku membeli TV.

“Baiklah, aku akan berada dikamar sampai jam makan malam. Kalau sudah waktunya, tolong panggil aku nanti. kamu masih ada pekerjaan kan, Hisui?”

Hisui hanya mengangguk dan dengan tenang meninggalkan kamarku.

Waktu makan malam akhirnya tiba. Yang ada dimeja makan hanyalah aku dan Akiha. Tidaklah aneh, bila kohaku dan Hisui tidak makan bersama kami. Mereka berdiri dibelakang kami untuk menyediakan apapun yang kami perlukan.

Aku tidak begitu menyukai suasana seperti ini. Selain itu itu aku sudah lupa semua hal tentang table manner. Aku berusaha mengingat sedikit-sedikit, tapi sangatlah menyebalkan melihat Akiha selalu mengangkat alisnya dengan kesal setiap kali aku melakukan gerakan. Ketika aku berpikir bahwa aku akan makan seperti ini setiap hari, nafsu makanku langsung hilang.

Setelah makan malam, aku segera kembali kekamarku. Sekarang sekitar jam 8 malam. Masih terlalu dini untuk tidur. Aku bingung mau melakukan apa. Setelah melakukan sedikit peregangan, aku membanting tubuhku diatas kasur.

“Saat makan akan menjadi saat-saat yang berat” gumamku

Daripada bengong di kamar, aku memutuskan untuk turun ke ruang tengah, dimana Akiha menikmati saat-saat santainya sendirian. Tidak terlihat Kohaku maupun HIsui disana. Ada dua cangkir the diatas meja, dan Akiha menggunakan salah satunya.

“Ah? Kakak juga ingin minum teh?”
“Tidak. Aku Cuma mau bicara denganmu”
“Kalau begitu, silahkan duduk. Teh?”
“Boleh. Aku mau yang manis”

Sebenarnya aku lebih suka teh hijau, tapi sekali-kali teh merah tidak masalah.
Dengan anggun, Akiha menuangkan the dari teko putih kedalam cangikr yang lain.

“Terima kasih” aku duduk di sofa, dan kemudian menyeruput the merah yang masih panas itu.

Akiha yang dingin dan anggun duduk didepanku sehingga membuatku sedikit merasa tidak nyaman. Aku tadi bilang mau bicara, tapi jujur saja, aku tidak tahu mau bicara tentang apa.

“Kak? Kok diam? Bukankah ada sesuatu yang ingin Kakak bicarakan?’

Atmosfer disekitar Akiha tidak seperti seorang adik perempuan, tapi lebi seperti seorang lady. Dan aku sedikit merasa segan berbicara dengannya.

“Ya, aku hanya ingin tahu apa saja yang kau lakukan 8 tahun ini”
“Apa itu harus kakak tanyakan? Setelah kakak pergi selama ini?” Akiha menatap tajam mataku seolah ingin mengeluh. 8 tahun ini sepertinya menjadi topik pembicaraan yang tabu.

“Kalau kakak? Apa yang kakak lakukan selama ini? Aku mengirim banyak surat, namun kakak tidak pernah membalasnya sekalipun.”

“*Uhuk*” Aku pura-pura terbatuk.

Memang benar, Akiha mengirim banyak surat kepadaku. namun Aku tidak pernah membalasnya. Aku ini jenis orang tidak pandai berkorespondensi surat-menyurat. Aku sering binggung apa yang harus kutulis, jika disuruh menulis surat.

“Tapi sudahlah, meskipun kakak menulis surat balasan, saya yakin, Ayah tidak akan meyerahkannya kepadaku. Yang lebih penting, bagaimana perasaan kakak setelah meninggalkan rumah selama 8 tahun? Rumah masih belum banyak berubah bukan?”

Tidak banyak berubah ya? Tapi meskipun Akiha mengatakan demikian, aku tetap merasa rumah ini sangat asing bagiku.

“Kak?”

“Eh? Ya? Maaf, tadi aku sedikit melamun. Rumah ini mungkin tidak banyak berubah, tapi aku tetap merasa asing disini. Aku masih ingat ruangan ini dan lobi, tapi untuk koridor dan kamarku sendiri, aku sudah tidak ingat sama sekali”

“Benarkah? 8 tahun memang waktu yang sangat lama”

Benar. Sangat lama. Hampir separuh dari seluruh hidupku sampai saat ini.

“Tapi tenang saja. Aku pasti akan cepat terbiasa. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau sedikit toleransi dengan sikapku nanti”

“Jangan bercanda. Saya sudah cukup memberi toleransi ketika makan malam tadi”

Ketika makan malam, cara Akiha menatapku membuatku merinding hanya karena aku menggunakan pisau yang salah. itu yang namanya toleransi?

“Oh… ya…. Kau sudah cukup bertoleransi…. tadi”
“Ya. Saya sudah memberi cukup kelonggaran mengingat kakak selama ini diasuh oleh keluarga Arima. Bibi Keiko terlalu memanjakan kakak. Dan hasilnya dapat dilihat ketika makan malam tadi”

“Mau bagaimana lagi? Aku tidak pernah berpikir akan kembali ke rumah ini”
“Benarkah? Kakak terdengar seperti tidak mau tinggal disini”
“Bu, bukan begitu. Aku tidak mau meninggalkanmu sendiri, jadi…”


Ya. Itu alasan kenapa aku mau kembali. Kalau bukan karena Akiha, aku tidak akan mau.

“Setelah 8 tahun ini, aku ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Aku mencemaskanmu” aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa aku mau kembali tinggal di rumah ini.

“Be, begitukah?” Akiha terlihat sedikit tersipu. “Kalau begitu, terima__”
“Tapi sepertinya kecemasanku berlebihan. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang tegar. Lega memang, tapi aku juga sedikit kecewa”

Sedikit kecewa? Mungkin aku memilih kata yang salah. Selama ini dalam benakku, Akiha adalahs eorang anak kecil yang pemalu dan penakut. Akiha yang sekarang terlihat seperti orang lain.

“Maaf kalau aku mengecewakan kakak!” Mata Akiha menyipit dan menimbulkan rasa takut untukku yang menatapnya.

Sial! Sepertinya aku benar-benar salah memilih kata.

“Baiklah, sekarang saya ingin mendengar bagaimana Kakak bersama keluarga Arima” Akiha bertanya dengan memasang wajah yang mengancam. Aku merasa seperti diinterogasi meskipun yang bertanya adalah adikku sendiri.

“Kak? Kau dengar aku?”
“Ya, aku dengar. Tentang kehidupanku disana, bukan? Sangat normal. Tidak pernah ada masalah. Dan sepertinya aku lebih cocok tinggal disana”
“Bukan itu maksudku. Saya ingin menanyakan kesehatan kakak disana. Saya dnegar, kakak sering pingsan akibat anemia kronis”
”Hanya tahun pertama setelah keluar dari rumah sakit. Setelah itu, aku baik-baik saja. Kalau pingsan, paling sebulan sekali. Aku tidak separah itu sehingga harus membuatmu cemas.”

Akiha mengangguk dengan wajah serius.

“kakak juga menggunakan kacamata sekarang. Apakah pengelihatan kakak memburuk setelah keluar dari rumah sakit?”

Akiha tidak tahu alasan kenapa aku memakai kacamata ini. Aku tidak mungkin bercerita tentang garis-garis maut yang bisa kulihat kalau aku melepaskan kacamataku.

“Ya, mataku sedikit aneh setelah aku mengalami kecelakaan itu. Tapi bukan masalah besar kok”

“Kakak tahu, saya tadi merasa…. sedikit terkejut. Saya tidak tahu kalau kakak memakai kacamata sekarang”

“Benarkah? Tapi kau tadi terlihat sangat tenang”

“Tentu saja! Ini pertemuan pertama setelah 8 tahun. Saya tidak mungkin memperlihatkan sikap yang tidak pantas” Jawab Akiha galak.

“Akiha-sama” Tiba-tiba saja Kohaku muncul dari balik pintu. “Kamar mandi sudah siap”

“Benarkah Kohaku? Baiklah, saya akan segera kesana”
“Tapi apa tidak apa-apa? Sekarang anda masih berbincang dengan Shiki-sama. Kamar mandi masih bisa menunggu kok”
“Tidak apa. Kami hanya membicarakan sesuatu yang tidak penting”

Akiha berdiri, dan kemudian berjalan meninggalkan ruang tengah. Kohaku segera mengikutinya. Ditinggal sendiri, aku menghabiskan tehku.

Akiha dan Kohaku mungkin pergi ke kamar mandi. Sebaiknya, aku kembali kekamarku.

“…. Tapi mereka berdua tidak akan mandi bersama bukan?”

Mungkin saja. Apa Kohaku akan menggosokkan punggung Akiha? Kalau sesama perempuan, sih, tidak apa-apa. Tapi….

“Kak, aku bebas berpikir yang tidak-tidak. Tapi….”
“!!!!”

Akiha kembali keruang tengah pada saat yang kurang tepat.

“Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak pada Hisui. Berbeda dengan Kohaku, dia tidak bisa diajak bercanda!!”

Akiha menatapku dengan pandangan menuduh, seperti tahu apa yang sedang kupikirkan.

“Tu, tunggu dulu. bukankah tadi kau sedang ke kamar mandi bersama Kohaku?”
“Aku hanya ingin memberi tahu kalau kamar mandi besar yang sering kita gunakan bersama dulu sudah tidak digunakan lagi. Akan sanagt merepotkan bagi KOhaku dan Hisui untuk merawatnya, jadi aku menutup tempat itu.
“Kamar mandi besar?” berusaha mengingat, aku memasang wajah ragu.
“Kakak tidak ingat? Pokoknya kalau mau mandi gunakan kamar mandi didalam kamar kakak”

Setelah mengatakan itu, Akiha pergi.

Setelah Akiha pergi, tidak ada lagi artinya aku tetap tinggal di ruang ini. Aku akan kembali kekamar dan mandi.

*********

“Ah…!” aku melihat kamarku sudah dirapikan. Mungkin Hisui yang melakukannya ketika aku keluar tadi.

“Senang sih, tapi ini berlebihan buatku”

*tok tok*

“Anda didalam, Shiki-sama?”

Aku mendengar suara Hisui memanggilku.

“Masuklah”

Terdengar suara pintu terbuka, dan kemudian pelayan itu memasuki kamarku.

“Maaf menganggu” katanya sambil membungkukkan badan.
“Selamat malam. Terimakasih seudah merapikan kamarku, Hisui”

Hisui tidak menjawab. Mungkin akuk tidak akan pernah terbiasa dengan sikap dinginnya.

“Akiha sama meminta saya untuk membantu bila Shiki-sama ingin bertanya tentang rumah ini”

“Banyak sih, tapi aku akan tahu sendiri kalau aku tinggal disini. Tapi… benarkah jam malam dirumah ini pukul 7?”

“Eh? Ya benar. Gerbang akan ditutup pada pukul 7, dan semua pintu ditutup pukul 8. Selain itu ada peraturan yang melarang berjalan-jalan di dalam rumah setelah pukul 10.”

“Bahkan tidak boleh berjalan-jalan didalam rumah? Memang aku tidak bisa protes, tapi tidakkah peraturan itu terlalu keras? Aku dan Akiha bukan anak-anak lagi. Tidak perlu sampai sejauh itu.”

“Benar. Namun peraturan tetaplah peraturan. Selain itu, anda pasti tahu tentang kejadian setiap malam akhir-akhir ini bukan, Shiki-sama?”

...........
Aku teringat dengan vampire yang diceritakan oleh Yumizuka dan Arihiko tadi pagi. Dengan adanya kejadian seperti itu memang lebih baik mengutamakan keselamatan daripada menyesal nantinya.

“Apakah anda mempunyai pertanyaan yang lain?”

Sebenarnya aku punya banyak sekali pertanyaan tentang Hisui dan Kohaku.

“Boleh bertanya diluar topik yang tadi?”

“Silahkan, Shiki-sama”

“Kalau boleh aku ingin bertanya tentang pekerjaan yang kau dan Kohaku lakukan disini.”

“Saya disini untuk melayani Anda, dan Kakak melayani Akiha-sama. Kami juga melakukan pekerjaan rumah tangga rutin di sini.” Kata Hisui menjelaskan.

“Apakah anda memiliki pertanyaan yang lain?”

“Intinya tugas kalian melayani, kan?”

Mungkin wajar bagi Akiha dilayani seperti ini. Namun untukku yang selama ini dibesarkan sebagai anak normal, hal seperti ini terasa sangat aneh. Aku tidak ingin dilayani oleh seorang gadis yang seumuran denganku. Setidaknya untuk saat ini.

“Sebagai pelayan pribadi ya?”

“Benar. Dan bila anda ingin bertanya sesuatu, anda tidak perlu sungkan.”

“Ok, aku mengerti. Dari pada dimarahi Akiha, sebaiknya aku membiarkan kamu melayaniku”

Hisui memandangku dengan tatapan tanpa ekspresi seperti biasanya.

“Mungkin anda menginginkan sesuatu, Shiki-sama?”

“Tidak, tidak usah. Tapi bisakah kamu berhenti memanggilku ‘Shiki-sama’? jujur saja, aku tidak begitu suka dipanggil seperti itu,”

“Tapi Shiki-sama, anda adalah tuan saya”

“.......”

Aku terdiam sebentar

“Selama ini aku hidup sebagai anak biasa. Aku tidak ingin ada gadis yang seumuran denganku memangilku dengan imbuhan ‘-sama’”

“Saya mengerti.” Respon Hisui tanpa antusias.

“Panggil saja aku ‘Shiki’. Dan sebagai gantinya aku akan memanggimu ‘Hisui’. Kita hilangkan saja formalitas diantara kita. Menurutku begitu lebih baik”

Hisui menaikkan alisnya seakan-akan mengalami kesulitan

“Tapi, Shiki-sama adalah tuan saya” Ia kembali mengulang kata-katanya.

“Bukan begitu. Kamu hanya melakukan tugas-tugas yang tak bisa aku lakukan. Jadi bukannya aku adalah tuanmu atau yang lainnya.” aku berusaha menjelaskan.

“Saya mengerti”

Sebuah tanggapan tanpa antusias lagi
Meskipun begitu, tampaknya Hisui belum benar-benar mengerti.

“Pokoknya, jangan terlalu formal padaku. Dan aku akan sangat berterima kasih bila kamu menyampaikannya juga pada Kohaku.”

“Baiklah, akan saya sampaikan, Shiki-sama” Hisui membungkukkan badannya tanpa ekspresi.

Sekarang aku yakin kalau dia benar-benar tidak mengerti apa yang kukatakan tadi.

“Saya akan pergi sekarang. Silahkan beristirahat”

Hisui berjalan meninggalkan kamarku. Tiba-tiba aku ingat menanyakan sesuatu.

“Tunggu, Hisui”

Aku memegang pundak Hisui sebelum dia pergi.

PLAKK!

Tiba-tiba saja dengan cepat Hisui menampar tanganku yang menyentuh pundaknya.

“Eh?”

Kejadiannya begitu cepat terjadi. Hisui masih tetap tanpa ekspresi, namun aku tahu dia memandangku dengan sengit.

“Eh? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?”

“Ah? Ma..maaf”

Seakan tersadar, Hisui meminta maaf dengan terbata-bata.

“Sa...saya tidak terbiasa disentuh oleh orang lain. Mohon maafkan saya”

Hisui terlihat sedikit gemetar. Aku merasa aku baru saja melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan.

“Ah... Aku juga minta maaf”

Tanpa berpikir, aku juga meminta maaf. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa bersalah terhadap Hisui.

“_____”

Hisui hanya terdiam. Aku merasa dia sudah sedikit tenang.

“Anda tidak perlu meminta maaf, Shiki-sama. Sayalah yang bersalah”

“Ya.., anu..., mungkin aku hanya...”

Aku menggaruk kepalaku sendiri. Hisui tetap menatapku. Sesekali dia berkedip.

“Um... apa yang ingin anda tanyakan, Shiki-sama?”

Ah, aku kembali teringat. Aku menghentikan Hisui karena ingin menanyakan sesuatu.

“Oh, aku ingin bertanya mengenai Akiha. Bukankah dia bersekolah di luar negeri?”

“Benar, Shiki-sama. Namun hanya sampai SMP. Sekarang, Akiha-sama bersekolah di sini.”

“Maksudmu berangkat dari sini?”

“Benar, namun tidak biasanya beliau pulang petang hari seperti hari ini. Akiha sama memiliki kegiatan latihan hingga waktu makan malam. Jadi biasanya beliau pulang sebelum jam 7”

“Latihan? Latihan apa?”

“Hari ini adalah hari kamis. Jadi seharusnya beliau latihan biola. Bila anda ingin tahu lebih banyak tentang Akiha-sama, anda bisa bertanya pada Kakak”

Hisui kemudian membungkukkan badannya dan meninggalkan kamarku.

Akiha yang kuingat adalah Akiha yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Dulu ketika masih kecil, Akhiha sangat pendiam. Dia tidak pernah berani untuk meminta maupun menolak. Dia anak kecil yang rapuh, yang selalu takut dimarahi Ayah.

“Dia benar-benar berubah setelah 8 tahun ini.”

8 tahun adalah waktu yang sangat lama. Hampir separuh dari hidup kami. Aku menghilang dari rumah ini pada saat-saat vital seorang anak kecil menjadi dewasa.

“...Maaf, Akiha”

Aku berpikir mungkin seharusnya aku tetap disini selama 8 tahun itu.

Aku tiduran di kamarku sendirian. Rumah ini, dan para kerabat yang lain, aku merasa bahwa mereka sudah seperti orang asing bagiku.

“Setelah ini, apa yang akan terjadi padaku?”

Beranya pada diri sendiri, aku mulai mengantuk dan tertidur.

……
……….
…………..

Auuuuuuu!

Aku mendengar suara.

Auuuuuuu!

Ada sesuatu. Seperti suara anjing. Tapi suaranya lebih tajam dan tinggi

Auuuuuuu!

Suara itu terngiang dikepalaku.

Auuuuuuu!

Aku merasa terganggu. Suara binatang ini membuat kepalaku pening

Auuuuuuu!

Belum berhenti juga.

Auuuuuuu!

Auuuuuuu!

Auuuuuuuuuuuuuu!

“Seeesh, bisa diam nggak sih?!!”

Aku terbangun. Aku masih bisa mendengar lolongan itu dari balik jendela. Jam menunjukkan pukul 11 kurang.

“Bagaimana aku bisa tidur, kalau seperti ini?”

Menutup telinga dengan bantal, aku kembali berusaha untuk tidur. Aku berusaha membayangkan kalau suara anjing itu hanyalah suara mobil yang lalu lalang didepan rumah.

Hari ini benar-benar melelahkan. Aku merasa lelah secara mental gara-gara kejadian makan malam tadi, dan juga kata-kata Akiha padaku.

Aku menutup mata, dan perlahan kembali tertidur.

******

“___ngh?” aku mendengar suara aneh dari lantai bawah. Setengah bangun, aku melihat jam dinding. Jam dua lebih sedikit. Suara anjing telah berhenti. Suasana sangatlah hening. Aku bahkan sampai bisa mendengar detak jam dinding kamarku.

“……” aku mendengar suara itu lagi. Dari dalam rumah. Di lobi.
“Pencuri?” bisa saja. Semua isi rumah ini bernilai sanagt tinggi. Selain itu, rumah ini hanay dihuni oleh Kohaku, Hisui, Akiha, dan Aku. Tentusaja sangat tidak aman.

Bangkit dari tempat tidur, aku perlahan berjalan keluar kamar.

Kalau benar-benar pencuri, maka Akiha dan yang lainnya bisa dalam bahaya. Aku harus turun ke lobi, dan melihat apa yang terjadi.

Sesampainya di lobi, aku tidak melihat ada apa-apa disana. Aku sempat berpikir semuanya baik-baik saja asmpai aku mendengar suara….

Srak,

“…!!!” datang, orang itu datang!
Aku melihat sesosok manusia berjalan memasuki lobi dengan limbung. Langkahnya tampak tak beraturan, dan orang itu adalah___

“A, akiha? Apa yang dia lakukan disini?” dia berjalan dari arah sayap barat dimana disana terdapat kamar Kohaku dan kamar ayah. Yah, mungkin dia harus melakukan sesuatu, atau ada yang harus dia bicarakan dengan Kohaku.

“sudah ah, tidur saja” aku memutuskan untuk kembali kekamar. “Besok harus sekolah”

Meskipun aku berbaring diatas ranjang dengan menutup mata, pikiranku terus melayang, teringat sosok Akiha dengan mata sayunya di lobi tadi. Entah kenapa, aku merasa ada yang sangat salah waktu itu.

Read More..