Aku terbangun oleh sinar matahari pagi yang terang. Menegakkan tubuh atasku, aku menengok keluar melalui jendela. Suasana sangat indah dan cerah. Minggu yang menyenangkan.
Langit yang cerah menyapaku. Namun hal itu membuatku sakit. Gadis yang menghilang kemarin sudah tidak bisa lagi mengalami pagi indah seperti ini.
Tok tok
Terdengar suara ketukan yang ragu
“Anda sudah bangun, Shiki-sama”.
“Ya, aku sudah bangun” jawabku. “Masuklah”
“Permisi” pintu terbuka, dan Hisui masuk. “Selamat pagi Shiki-sama”
“Selamat pagi. Sarapan sudah siap?”
“Sebelumnya Saya minta maaf jika yang Saya katakan tidak berkenan kepada Anda. Tapi, sudahkah Anda melihat jam ketika bangun?”
Aku melihat jam yang tergantung di dinding. Dan jam itu menunjukkan pukul 12 lebih.
“Jamnya rusak ya?” tanyaku
“Saya rasa tidak” jawab Hisui. “Saya telah berusaha membangunkan Anda berkali-kali, namun mata Anda tidak juga terbuka”
Benarkah aku tidur senyenyak itu? Yah mungkin saja, setelah kejadian kemarin.
“Sebenarnya tidak apa-apa karena hari ini adalah hari minggu. Namun, kalau boleh Saya bertanya, apakah Anda akan pergi keluar lagi malam ini?”
“Ah, tidak. Yang lebih penting, bagaimana Akiha? Sepertinya dia juga tidur larut kemarin”
“Akiha-sama bangun seperti biasanya pagi ini” Hisui tampak ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi ditahannya.
“Wow, dia benar-benar berbeda denganku”
Aku kembali memikirkan apa yang terjadi malam kemarin. Ketika aku masih berada dalam situasi sulit karena masalah dengan Yumizuka, Akiha merawatku tanpa banyak bicara. Setelah itu… mmm… sedikit memalukan, karena itu aku tidak ingin mengingatnya lagi.
“Hisui, sepertinya Akiha itu orang yang sangat sibuk. Apa dia punya kegiatan rutin ketika libur?”
“Ya tentu saja. Namun saat ini, Akiha-sama masih ada di rumah.”
Dia ada acara tapi sampai jam segini masih di rumah?
“Aku tidak begitu mengerti, tapi …. Yah sudahlah. Aku mau ganti baju dulu. Tolong keluar sebentar”
“Baiklah kalau begitu. Saya permisi”
“Ah, Hisui” sebelum dia keluar, aku memanggilnya kembali.
“Ada apa, Shiki-sama?”
“Aku lupa mengatakannya, terima kasih telah membangunkanku. Dan mungkin ini sedikit terlambat, tapi…. Selamat pagi, Hisui”
“Ya. Semooga hari Anda menyenangkan, Shiki-sama”
Aku menatap langit-langit dan menghela nafas panjang. Tentang Yumizuka Satsuki. Aku tidak mungkin bisa melupakannya sepanjang hidupku. Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu mengontrol kehidupanku. Aku punya rumah untuk pulang. Akiha selalu di sini menungguku, dan aku punya kehidupan pribadi. Untuk melindungi semua itu, aku mengkhianatinya.
“Ah, aku harus bergegas ganti baju”
********
Di ruang tengah, aku melihat Akiha duduk di sofa, Kohaku menemaninya, dan Hisui berdiri di dekat tembok.
“Selamat pagi, Shiki-san” sapa Kohaku.
“Selamat pagi Kohaku-san. Maaf, tapi bisakah kau menyiapkan sesuatu untuk kumakan? Aku merasa sedikit lapar.”
“Tentu saja. Mohon tunggu sebentar”
Dengan cepat, Kohaku menuju ke dapur. Yang artinya meninggalkan Akiha dan Hisui, yang berdiri diam sepertui patung.
“….Yo, Akiha. Pagi”
Akiha hanya menatapku dengan mata tidak puas, tanpa menjawab sapaanku.
Mungkin dia masih merasa marah gara-gara kejadian semalam. Aku tahu aku yang salah memeluknya seperti itu.
“Akiha___ Kau tahu, semalam itu…”
“Kak, tidur sampai siang. Apa sih, yang Kakak pikirkan?”
“Mm, yah, maaf. Aku…”
“Hmp….. Hari ini libur, dan Kakak memilih tidur sampai siang. Kemalasan itu yang membuatku marah”
Akiha membuang muka dengan marah. Tapi mungkin kata ‘kesal’ akan lebih cocok daripada ‘marah’.
“Mau bagaimana lagi. Aku pulang larut, dan tubuhku sangat lelah”
“Itu salah Kakak sendiri. Apapun situasinya, tolong taati peraturan rumah”
Ugh, aku benci mengakuinya. Tapi karena dia tidur kira-kira pada jam yang sama denganku dan masih bisa bangun pagi, aku tidak bisa membalas perkataannya.
“Selain itu Kak, bukankah lebih baik kau tidak merepotkan Hisui dengan menyuruhnya membangunkan Kakak tiap pagi? Yang satu ini Saya lepaskan, karena kejadian semalam. Tapi Kakak selalu tidur terlalu lama.”
“Uuum, Akiha.mungkin aku harus mengatakan kalau aku tidur selama ini bukan karena aku mau”
“Kalau begitu, kenapa Kakak selalu tidur hingga menit terakhir setiap pagi? Apa Kakak tidak tahu bagaimana perasaan Saya menunggu hingga Kakak bangun, dan___”
“Akiha-sama!” potong Hisui
Seperti tersadar, Akiha menghentikan ucapannya. Wajahnya memerah, dan dia kemudian terdiam sejenak. Atfosfer yang penuh tekanan itu segera menghilang.
“Akiha, aku sudah bilang sebelumnya, tapi bangun jam 7 lebih itu tidak kusengaja. Meskipun aku ingin bangun lebih pagi, tapi tubuhku berkata lain. Kalau kau mau aku bangun lebih pagi, belikan aku sebuah wekker yang bisa bersuara keras”
“Uuu… Kak, mungkin ini terdengar bodoh. Tapi pernahkah Kakak memberi tahu Hisui jam berapa Kakak ingin dibangunkan?”
Benar juga. Aku melupakan hal yang kelihatannya sepele seperti itu.
“Ah, kau benar. Hisui selalu membangunkanku setiap pagi. Jadi Hisui.....” aku mengalihkan pAndanganku ke Hisui. “Mulai besok, bisakah kau bangunkan aku jam 6.30? Aku akan sangat menghargainya”
Hisui balas menatapku, dan kemudian menjawab,”Saya menolak.”
“Eh?” kataku dan Akiha bersamaan.
“Maafkan Saya. Namun Saya menolak melakukannya”
“Eh?” aku jadi tidak tahu harus berkata apa. Rasa terkejut seperti membuat otakku berhenti bekerja. Melihat situasi ini, Akiha juga terkejut dengan jawaban Hisui.
“Hisui, kenapa kau tidak bisa membangunkan Kakak?”
“Saya tidak mampu melakukan tugas yang tidak mungkin bisa Saya lakukan. Saya rasa, Saya tidak mungkin mampu membangunkan Shiki-sama sendiri”
“Tidak mampu? Kenapa?” tanyaku.
Hisui terus menatapku.
“Selama tiga hari ini, semua usaha Saya sia-sia. Shiki-sama, apakah Anda tahu berapa kali Saya berusaha membangunkan Anda pagi ini?”
“Ah, aku tidak tahu___ eh? Membangunkanku? Kukira aku bangun sendiri”
“Ini berarti, Shiki-sama bahkan tidak ingat jika Saya membangunkannya. Akiha-sama, begitulah situasinya”
“Saya mengerti” kata Akiha sambil melirikku mengejek. “Maksudmu, kau telah mencoba membangunkan Kakak berkali-kali, dan tidak ada reaksi sama sekali. Begitu bukan, Hisui?”
Hisui mengangguk.
Dan aku ikut mengangguk.
Begitu rupanya. Sebenarnya Hisui sudah berusaha membangunkanku berkali-kali pagi ini. Aku tidak ingin mengatakannya, tapi mungkin aku berbakat tidur. Hebat.
“Kakaaaak. Kenapa Kakak malah terlihat bangga?”
“Tidak, hanya terkejut betapa beratnya perjuangan untuk membangunkanku”
“Baiklah kalau begitu. Seperti yang sebelumnya saja, Hisui, tolong bagunkan Kakak sesering yang kau bisa. Dan ngomong-ngomong, Hisui…”
“Ya, Akiha-sama?”
“Benarkah Kakak sesulit itu dibangunkan?”
“Benar sekali. Tidur Shiki-sama sangat tenang, seperti patung”
Seperti patung? Aku?
“Ooo, rupanya Kakak mempunyai pose tidur yang menarik”
“Mm, bukan seperti itu, hanya saja…. Shiki-sama terlihat seperti orang yang berbeda ketika tidur. Saya tidak pernah melihat wajah tidur yang sedamai itu. Sehingga, ketika Saya pertama kali membangunkannya, Saya sempat mengira Shiki-sama meninggal, dan Saya….. Saya jadi tidak berani membangunkannya keras-keras.”
Menunduk malu-malu, Hisui menjelaskan bagaimana rupaku ketika sedang tidur. Dan aku tentunya tidak bisa untuk tidak merasa malu. Hisui terdiam, dan Akiha berusaha untuk tidak melihatku, meskipun dia sedikit mencuri-curi lirikan. Atmosfer disini menjadi terasa sedikit berat.
“Maaf membuat Anda menunggu lama. Makanan siaaaap!” suara ceria Kohaku memecahkan kesunyian diantara kami.
“Ka, kalau begitu, aku makan dulu” aku segera bergegas menuju ruang makan, menghindari situasi tidak nyaman di ruang tengah.
*******
Seusai makan, Akiha dan Hisui masih berada di ruang tengah. Tidak enak rasanya kalau aku langsung masuk ke kamar tanpa menghirukan mereka. Jadi aku masuk kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa, berhadapan dengan Akiha.
“Anda ingin teh hijau, Shiki-san?”
Kohaku meletakkan cangkir didepanku, dan mengisinya dengan teh hijau.
“Ah, terima kasih”
“Sama-sama. Ini adalah rumah Anda, jadi cobalah untuk lebih rileks. Jangan tegang seperti itu”
Kohaku sedang berusaha untuk membuatku merasa lebih nyaman, karena itu dia berusaha melayaniku sebaik-baiknya.
“Padahal kurasa aku sudah terbiasa dengan rumah ini, apa aku masih terlihat tertekan?”
“Mmm… Saya tidak bisa memastikan, tapi bahu Anda terlihat tegang. Mungkin Anda harus berusaha menikmati, daripada mencoba membiasakan diri”
“Kohaku” potong Akiha. “Berhentilah memanjakan Kakak. Dia terbisa bermalas-malasan di rumah keluarga Arima. Sedikit ketegangan mungkin baik untuknya”
“Hi hi, Akiha sama benar-benar keras terhadap Shiki-san, benar bukan?” tanya Kohaku tertawa kecil
“Saya tidak berusaha keras, tapi Kakak memang harus diawasi benar-benar”
Benar-benar mengjutkan. Ketika Akiha berbicara dengan Kohaku, tidak muncul tanda-tanda sifat dingin seperti yang biasanya ditunjukkan padaku. Mungkin karena mereka seumur, atau mungkin juga karena mereka benar-benar teman baik.
Aku kemudian melempar lirikanku ke Hisui.
Karena Akiha memecat semua pelayan selain Kohaku dan Hisui, kupikir Akiha juga sangat mempercayai Hisui. Tapi karena sifatnya yang bertolak belakang dengan saudarinya, kurasa mereka berdua jarang berbicara.
“Anda memerlukan sesuatu, Shiki-sama?”
Hisui yang menyadari kalau aku melirik kearahnya menanyakan kalau ada yang bisa dia bantu.
“Ah, tidak. Terima kasih. Aku hanya berpikir kalau kau sangat pendiam.”
“Ya. Itu yang diajarkan oleh Makihisa-sama kepada Saya” jawabnya dingin.
Jawabannya sangat dingin, sehingga membuatku tidak bisa melanjutkan percakapan. Aku merasa sedikit tidak nyaman. Dan sepertinya Akiha dan Kohaku masih sibuk mengobrol.
“Shiki-sama, boleh saya bertanya?”
“Eh? Ah, tentu saja”
“Tampaknya Anda kemarin kembali keluar malam. Apakah Anda memiliki agenda rutin yang harus dikerjakan tiap malam?”
“Ah, tidak. Aku tidak punya. Dua hari terakhir ini saja yang sedikit spesial.”
Aku mencuri Pandang kearah Akiha ketika mengatakannya. Akiha kemudian diam memandangi kami berdua. Mungkin Hisui dan Kohaku tidak tahu kejadian kemarin malam.
“Tidak apa, Hisui. Aku tidak akan keluar malam lagi. Lagian aku bukan anak kecil lagi. Seharusnya tidak ada masalah kalau aku keluar malam.”
“Memang benar, Shiki-sama. Tapi Anda adalah putra tertua keluarga Tohno. Tolong berhentilah melakukan tindakan-tindakan yang tidak perlu”
“Ya ya ya Hisui-chan benar.” Sambung Kohaku. “Dokter anda mengatakan jika anda tidak boleh terlalu letih. Anemia bukan?”
“Benar sih, tapi ini tidak ada hubungannya dengan keluar malam.”
“Memang benar, namun ketika siang, akan ada orang-orang yang bisa membantu anda. Malam hari itu berbeda. Ada pembunuhan vampire akhir-akhir ini, jadi jika anda pingsan di malam hari, apa yang akan terjadi?”
Pembunuhan vampire. Pembunuh yang berkeliaran di malam hari. Kemarin malam, aku membunuh teman sekelasku dengan tanganku sendiri.
“Tidak masalah, Kohaku. Sudah tidak ada vampire di luar sana. Kejadian itu, tidak akan terjadi lagi.”
Ya. Karena Yumizuka Satsuki sudah tidak ada lagi di dunia ini.
“Oh? Benarkah?”
“Saya belum pernah mendengar ini sebelumnya” lanjut Akiha. “Mungkin Kakak tahu sesuatu. Oh benar. Sepertinya ada korban murid dari sekolah Kakak. Kelas 2-3. Itu kelas Kakak bukan?”
“Eh? Kurasa tidak ada”
“Ah, Shiki-san. Anda tidak melihat berita pagi ini ya? Kemarin polisi menemukan genangan darah milik seseorang yang bernama Yumizuka Satsuki. Darahnya sudah mengering cukup lama, tapi dari jumlah darahnya, bisa dipastikan kalau dia telah meninggal”
Jantungku mulai berdetak tak karuan. Kenyataan Yumizuka Satsuki telah meninggal, aku tahu persis tentang hal itu. Tapi ketika mereka mengatakan Yumizuka meninggal, terdengar olehku seperti,”Kau membunuhnya, bukan?”
“Kak? Ada apa? Wajah Kakak tiba-tiba pucat”
Tidak mungkin aku menjawab Aku baik-baik saja. Aku mengatakan pada diriku sendiri kalau aku tidak akan menyesalinya. Tapi setiap kali aku memikirkannya, aku merasa ada bayangan besar yang menelanku.
“Semuanya… mari kita adakan pesta penyambutan!!!”
Tiba-tiba saja Kohaku mengalihkan pembicaraan. Mungkin karena dia melihatku yang tampak sedih dan tertekan, dan tidak ingin aku bertambah sedih lagi.
“Huh?” kataku dan Akiha bersamaan. Bahkan Hisui juga sedikit memiringkan kepalanya keheranan.
“Penyambutan kedatangan Shiki-san. Kita semua disini, dan kita belum merayakan kembalinya Shiki-san. Jadi hari ini, harus ada pesta. Benar bukan?” Kohaku melihat kearahku. “Bagaimana Akiha-sama? Jika diperkenankan, kami akan segera melakukan persiapan sekarang”
“Ya. Kakak telah pulang, dan kita belum menyambutnya. Ide yang bagus. Hisui, kau setuju?”
“Ah__ya. Jika Shiki-sama tidak berkeberatan. Saya rasa tidak akan buruk”
Tiga orang itu kemudian menatapku bersamaan.
Sepertinya menarik. Aku juga tidak ingin Kohaku mencemaskanku.
“Mana mungkin aku menolak”
“Baiklah, Saya akan segera menyiapkan bahan makanannya. Hisui-chan, bisa tolong kau kerjakan pekerjaanku hari ini?”
“Baik kak. Membersihkan lobi dan sayap timur, bukan?”
“Terus, apa yang harus kulakukan, Kohaku?” tanya Akiha.
“Akiha-sama dan Shiki-san beristirahat di kamar masing-masing”
Hisui kemudian bergegas ke dapur, dan Hisui ke kebun.
“Baiklah kak, Saya akan kembali kekamar.”
Jadi, apa yang harus kulakukan? Kalau aku menolong Hisui, mungkin aku hanya akan merepotkan saja. Mungkin aku sebaiknya berbicara dengan Akiha, mumpung dia ada di rumah.
****
“Akiha, kau didalam?”
“Eh? Ka, Kakak?”
Suara buru-buru terdengar dari dalam kamarnya.
“Cuma ingin bicara sebentar. Boleh masuk?”
“Aaaa… tunggu sebentar…. Ya, silahkan masuk”
Heh, kalau kupikir-pikir, ini pertama kalinya aku masuk kedalam kamar Akiha. Jadi aku membuka pintu kamarnya dengan perasaan sedikit tegang. Dan kamarnya sama persis dengan apa yang kubayangkan.
“Ya kak? Apa ada yang penting sehingga Kakak kemari?”
“Ah tidak juga. Cuma pingin sedikit mengobrol. Kalau kau sedang sibuk, aku bisa kembali lain waktu.”
“Sibuk? Mmm… ya mungkin sedikit sibuk. Namun kukira bisa ditunda kalau Kakak ingin bicara denganku”
Akiha merapikan buku catatan di atas mejanya.
“Ah, PR rupanya. Yah, kurasa aku memang harus pergi. Aku tidak mau menggangu belajarmu”
“Saya baru saja mau mulai, jadi Saya rasa bisa ditunda untuk nanti malam. Silahkan duduk kak. Teh?”
“Terima kasih, tapi tidak. Terima kasih”
“Ah, kalau begitu Saya juga tidak”
Akiha duduk dikursinya. Dan kuletakkan pantatku dikursi yang nyaman, dan melihat ruangan adikku. Ruangan yang sangat bagus, tapi bukan tipeku.
Aku tidak pernah bisa mengatur kamarku. Isi kamarku cuma tempat tidur, ranjang, dan itu saja kukira. Jika saja aku diberi kamar seperti ini, mungkin aku malah kepingin kabur.
“Hey, Akiha”
“Ya?”
“Ada sedikit yang membuatku heran dan kepikiran selama ini. Kenapa kau memintaku pulang? Ayah meninggal dan aku ini anak pertama. Kurasa kalau hanya alasan itu, kurang bisa kuterima.”
“Hmpf,” Akiha mendengus. “Apa maksud Kakak tidak bisa terima? Ini adalah rumah Kakak, hal yang wajar jika Kakak pulang kembali kemari. Tidak perlu ada alasan yang lainnya”
“Iya sih, tapi apa kau tidak menyimpan dendam kepadaku? Aku meninggalkanmu selama 8 tahun”
“Tentu saja. Tapi itu semua salah ayah yang mengirim Kakak ke keluarga Arima. Tapi yang paling membuatku marah, Kakak tidak pernah mengirim surat padaku!” kata Akiha dengan nada tinggi
“I… itu….”
“’Itu’ apa? Ayolah kak, ‘itu’ apa?!! Apa Kakak kemari hanya ingin membuat saya teringat kembali apa yang sudah hampir saya lupakan?! Apa Kakak benar-benar senang membuatku kesal, hah?!”
“Bukan begitu! Tentu saja aku tidak ingin melihatmu marah. Aku tidak pernah mengirim surat karena ayah melarangku, jadi__”
“Saya tahu! Yang membuatku marah adalah Kakak mengingatkanku kembali akan hal itu!”
“Maaf…..”
“Sudahlah. Jangan membicarakan hal itu” dengan kesal, Akiha membuang muka.
Heh, apa yan sudah kulakukan ini? Setelah akhirnya punya waktu dengan Akiha, kenapa aku malah membicarakan sesuatu yang membuatnya marah?
“Yah, sepertinya Kakak memang senang membicarakan hal yang remeh-temeh seperti ini. Kohaku benar. Pokoknya ini adalah rumah Kakak, dan sebaiknya Kakak lebih rileks tinggal disini”
“Kucoba untuk membiasakan diri secepatnya. Tapi__”
“Tapi?”
“Tapi aku kok tidak merasakan adanya kenangan. Aku memang ingat pernah tinggal disini, tapi aku binggung karena tempat ini sama sekali tidak sama dengan apa yang kuingat. Mungkin karena aku sudah pergi selama 8 tahun,. Jadi lupa”
Mendengar kata-kataku, Akiha terlihat sedikit cemas.
“Kenapa kamu? Sudah kubilang, bukannya aku tidak suka dengan rumah ini. Jangan cemaslah, aku bilang aku tidak akan meninggalkan rumah ini”
“Ah, ya, benar. Tapi__”
Akiha terlihat sangat aneh untuk suatu alasan yang tidak kutahu.
“Kak, Saya punya pertanyaan yang lupa saya tanyakan. Tentang luka kecelakaan 8 tahun yang lalu”
“Hmmm? Maksudmu yang di dadaku?”
“Ya. Kohaku mengatakan kalau luka itu belum benar-benar sembuh. Apakah masih menganggu?”
“Entahlah. Sebenarnya luka ini sudah sembuh beberapa tahun yang lalu, tapi sepertinya ada beberapa organ yang ikut terluka. Dokter bilang bisa sembuh, tapi ada kemungkinan tidak stabil. Mungkin anemia akutku gara-gara itu”
“Apakah, mmm… masih sakit?” Akiha seperti berbisik.
“Ah tidak. Tidak lagi. Aku memang sering merasa pusing kalau bangun tiba-tiba, tapi tidak pernah lebih parah dari itu. Akhir-akhir ini pusing itu sudah tidak terjadi lagi. mungkin anemiaku akan sembuh dalam beberapa tahun ini. Pokoknya jangan cemas. Banyak orang yang terluka dan memerlukan waktu berpuluh tahun untuk sembuh. Dibandingkan mereka, lukaku ini tidak ada apa-apanya”
Akiha terus terdiam. Dia seperti tidak berani menatapku.
Sial, suasananya malah terasa berat. Dan Akiha terus diam.
“Akiha?”
“Ah, ya? Ada apa Kak?” Akiha menjawab dengan sedikit terkejut, seperti habis bangun tidur.
“Ada apa? Kau sakit? Apa tidak sebaiknya kau tiduran dulu? Aku akan balik ke kamarku”
“Bu, bukan begitu. Hanya saja, ketika berbicara dengan Kakak, Saya teringat masa lalu”
Tubuh Akiha gemetar. Dia terlihat bisa jatuh kapan saja, tapi diberhasil memepertahankan tubuhnya untuk tetap duduk tegak. Nafasnya mulai tersengal-sengal, kondisinya terlihat sangat aneh.
“Akiha, kau tidak apa-apa? Sebaiknya kau tiduran dulu”
“Ti, tidak. Saya baik-baik saja. Sebenarnya, walau tidak separah Kakak, Saya juga sering merasa pusing. Saya teringat kecelakaan 8 tahun lalu. Luka Kakak yang parah. Dan darah yang keluar dari luka itu. Semuanya membuatku merasa pusing.”
“Aku mengerti. Tapi tolong, jangan paksakan diri”
“Saya mengerti. Tidak apa-apa. Berbeda dengan Kakak, yang terjadi padaku adalah murni luka psikologis, bukan fisik” Akiha menjawab tegas, tampaknya sudah pulih benar.
“Sebaiknya Kakak kembali ke kamar Kakak, menunggu Kohaku memanggil”
“Kau benar. Sudah jam 5. Baiklah, aku akan kembali. Tapi Akiha, jangan memaksakan diri”
“Oh? Tumben sekali Kakak begitu perhatian. Mungkin sesekali akan saya turuti nasehat Kakak”
Aku membuka pintu kamar. Kamar Akiha berada diujung Sayap barat, sekitar 50 meter dari kamarku, yang berada di Sayap timur.
“Ah, Kakak…”
“Ya? Ada apa?”
“Tidak, tapi…..” Akiha terdiam, tidak mampu menemukan kata yang tepat. Dan matanya menatap kearahku. “Tidak apa, maaf”
Matanya terlihat meminta maaf padaku.
“Kita akan bertemu di ruang makan nanti. Saya tidak akan marah dengan apa yang akan Kakak lakukan hari ini, jadi Kakak jangan cemas.”
“Oh! Syukurlah! Kuharap kita bisa melupakan table manner hari ini”
Dengan itu, aku meninggalkan kamar Akiha.
******
“Sekarang, saatnya toss untuk kepulangan Shiki-san!! Semuanya, silahkan mengambil minuman apapun yang kalian suka”
Kohaku mengatur gelas-gelas berisi minuman di depan kami, dengan senyum merekah yang polos.
Masalahnya, kebanyakan minuman yang disediakan bukan jus atau minuman ringan lainnya. Namun minuman yang mengandung alkohol.
“…. Uum, Akiha?”
“Ya kak?”
Aku melihat sesuatu yang berbusa di dalam gelas yang dipegang Akiha.
“Itu wiski bukan?”
“Tentu saja? Ada yang salah?”
“Tidakkah klita terlalu muda untuk minum minuman seperti ini?”
“Ayolah, ini pesta penyambutan untuk Kakak. Kita harus menyuguhkan minuman semacam ini. Atau Kakak lemah terhadap alkohol?” kata Akiha dengan senyuman puas.
“Hisui-chan, tumben sekali. Tidak minum jus hari ini?” tanya Kohaku.
“………..”
Dengan malu-malu, Hisui menuangkan wine kedalam gelasnya.
“Lihat kak, bahkan Hisui ikut minum. Kakak tidak berpikir untuk menjadi satu-satunya orang disini yang minum jus, bukan?” pancing Akiha
“Kau benar-benar ingin pesta gila-gilaan ya?”
“Begitulah. jujur saja, sebenarnya Saya tidak begitu suka pesta. Namun khusus hari ini pengecualian”
Yah, sudahlah. Alkohol memang tidak baik untuk tubuhku, tapi kalau sedikit sepertinya tidak masalah. Dan yang kadar alkoholnya paling ringan sepertinya wine.
“Baiklah semuanya…!” seru Kohaku. “Angkat gelas kalian, dan… CHEERS!”
Dengan suara ‘Tring’, kamu mengadu ujung gelas kami. Kohaku menegak isi gelasnya dengan sekali teguk, Akiha terlihat sangat menikmati, sedangkan Hisui menyeruputnya sedikit-sedikit.
Apapun yang terjadi setelah ini, aku tidak mau bertanggung jawab.
__ Satu jam kemudian __
Hisui tertidur di kursi. Dan kemudian Kohaku menggendongnya menuju kamar sambil tersenyum. Aku sendiri, karena tidak terbiasa dengan alkohol, merasa sedikit pusing. Akiha masih duduk di kursinya sambil menikmati gelas yang entah keberapa.
“Kau… luar biasa, Akiha.”
“Oh, ada caranya kak. Saya tidak pernah minum sekaligus. Jadi tidak masalah seberapa banyak saya minum minuman seperti ini”
Bukan itu maksudku. Aku bilang luar biasa karena kau sudah terbiasa minum aklokohol meskipun masih usia sekolah.
“Sudahlah kak, minumlah. Kohaku sudah menyiapkan semua ini”
“Ah, iya. Aku harus mengucapkan terima kasih nanati”
“Baiklah, Saya mungkin sudah mulai mabuk, jadi Saya akan keluar sebentar”
Akiha memang berkata ‘mabuk’, namun dia berjalan keluar ruang makan seanggun biasanya.
Mengikuti Akiha, aku keluar untuk menghirup udara segar.
Sekarang masih jam 6 lebih sedikit. Matahari memerahkan langit.
“Matahari merah”
Sampai sekarang, warna merah matahari sore mengingatkanku pada darah. Namun hari ini, mengingatkanku pada senyum terakhir Yumizuka ketika kami berpisah di persimpangan jalan.
Deg deg
Deg deg
Deg deg
Aku merasa sesuatu menusuk jantungku.
Lukaku? Ataukah hatiku yang terluka karena penyesalan? Aku tidak tahu
“Ugh”
Aku merasa pusing. Karena alkohol dan rasa sakit didadaku. Hal kecil seperti itu cukup untuk membuatku kehilangan kesadaran. Semuanya terlihat putih.
Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun.
Aku teringat ucapan terakhir Yumizuka ketika kami berpisah.
Seandainya aku bisa melupakannya, akan lebih mudah bagiku. Tidak mungkin bagiku untuk melupakannya senyumannya saat itu. Dan selama luka dileherku masih ada, tidak mungkin aku bisa.
*********
“Ah___”
Tersadar, aku sudah berada di dalam kamarku. Selama aku tertidur, pasti Akiha menemaniku karena dia ada di depanku.
“Akiha”
“Sudah bangun Kak? Syukurlah. Tiba-tiba saja Kakak pingsan. Apa yang terjadi?”
“Aku.... pingsan?”
“Benar. Dan untungnya tidak terlalu lama. Maaf, Saya telah meminta Kakak minum seperti itu”
“Bukan. Bukan karena minuman. Ini hanya pingsan biasa” mengatakan hal itu, aku menatap langit-langit. Kepalaku masih pusing, dan sepertinya aku sedang enggan berbicara. Meskipun begitu, Akiha sepertinya tidak terganggu. Dia terus mennemaniku dalam diam.
“Akiha....”
“Ya Kak?”
“Tidakkah menemaniku seperti ini terasa membosankan? Aku baik-baik saja. Kalau mau, kau boleh kembali ke kamarmu”
“Apakah aku mengganggu Kakak?”
“Bukan begitu. Aku hanya berpikir kalau kau mungkin merasa bosan”
“Membosankan memang. Namun tidak apa. Saya melakukannya karena ingin. Jadi Kakak tidak perlu cemas”
Baiklah kalau itu maumu.
Waktu berjalan dengan cepat. Sekarang sudah jam 7 lebih. Akiha sudah menemaniku selama 1 jam lebih.
Ah, aku ingat sekarang. Dulu, juga pernah seperti ini. Lebih dari 8 tahun yang lalu, Akiha juga pernah merawatku ketika aku terkena flu. Flu yang sangat parah. Bahkan untuk bernafaspun rasanya sulit. Gadis cilik berambut hitam panjang itu terus duduk disampingku sambil mengenggam tanganku.
Didalam kamar yang ber-tatami gelap, Akiha cilik terus memandangiku dengan matanya yang hampir menangis.
“Aku sedikit lega”
“Ya Kak? Kakak mengatakan sesuatu” tanya Akiha
“Ya. Aku berpikir kalau masih ada sedikit Akiha yang dulu dalam dirimu. Bukan sesuatu yang penting, namun cukup untuk membuatku senang” Aku tersenyum kearahnya.
“Aku mengerti,” kata Akiha malu-malu “Tapi Kakak benar-benar tidak berubah. Selalu merepotkan orang lain” keluh Akiha sambil mengalihkan pandangannya dariku.
Aku tahu kalau dia sebenarnya hanya malu. Dan aku merasa sedikit bertambah senang karenanya.
“Ih, kenapa Kakak tersenyum seperti itu. Kalau Kakak masih punya tenaga, berarti aku tidak perlu lagi menjagamu”
“Tidak___ hanya saja... aku teringat sesuatu. Dulu, waktu itu di kamar yang ber-tatami___”
Tatami? Aku ingat jelas kalau Akiha dulu juga pernah menjagaku seperti ini, tapi di dalam kamar yang ……. ber-tatami? Bukan di kamar ini?
Ada sesuatu
Ada sesuatu yang salah.
“Akiha, apa kita punya kamar yang ber-tatami dirumah ini?”
“Tidak. Tidak ada kamar bergaya Jepang di sini”
“Ah, iya juga. Kau benar. Tidak mungkin ada”
“Memangnya kenapa kak?”
“Tidak... hanya saja, rumah ini sangat besar. Jadi mungkin kita punya satu-dua kamar yang ber-tatami.
“Tapi memang di sini ada sebuah bangunan bergaya jepang namun sudah terbengkalai”
“Eh?”
Ya tentu saja. Kenapa aku bisa lupa. Di tengah hutan di halaman, ada rumah yang bergaya jepang.
“Syukurlah, Kakak sudah kembali bersemangat. Kurasa saya hanya akan menganggu jika terus berada di sini. Sebaiknya saya kembali ke kamarku”
Berdiri dari kursi, Akiha berjalan keluar.
“Terima kasih, Akiha. Maaf merepotkan”
“Jangan cemas. Mulai esok, hidup Kakak akan seperti ini”
Setelah mengatakan sesuatu yang tidak kupahami, Akiha keluar.
Aku mematikan lampu kamar dan kemudian merebahkan tubuhku diatas ranjang. Aku berterima kasih kepada Akiha yang telah merawatku sehingga aku bisa lebih rileks. Dengan kondisi seperti ini, mungkin aku bisa tidur dan bermimpi tenang untuk pertama kalinya.
Aku menarik nafas panjang dan perlahan menutup mataku. Begitu aku menutup mata, ingatanku tentang Akiha cilik berkelebat dibenakku. Didalam sebuah ruangan bergaya Jepang yang gelap, dimana tidak ada seorangpun yang mau datang menjengukku, kecuali Akiha. Apa dia menyelinap kabur dari pengawasan Ayah? Akiha masuk dan kemudian menangis sambil menggenggam tanganku.
“Maaf” katanya.
Aku tidak tahu kenapa, tapi gadis cilik berambut hitam panjang itu terus mengatakan maaf berulang-ulang.
___aku mengingatnya.
Putri pertama keluarga Tohno adalah satu-satunya orang yang perhatian terhadapku. Gadis cilik yang selalu menangis di dalam ruangan bergaya Jepang yang gelap. Aku menggigit bibirku karena frustasi saat itu. Kepalaku terasa pusing karena demam.
Kenapa dia menangis?
Kalau karena aku, aku tidak akan membuatnya menangis.
Maaf
Maaf, Kakak Shiki
Air matanya terlihat sangat indah. Dan saat itu aku bersumpah untuk tidak akan meninggalkannya..
•
Read More..
Thursday, September 23, 2010
Tuesday, August 17, 2010
CHAPTER 3: Inversion Impulse # 3
Musim panas.
Hari terasa panas.
Langit biru yang luas yang dihiasi awan putih.
Suara-suara burung gereja terdengar.
Cip cip cip
Cip cip cip
Cip cip cip
Cip cip cip
Terdengar jelas, membuatku ingin mati saja.
Hari yang sangat panas
Dunia terasa seperti dalam penggorengan.
Uwaaaa, uh uh
U, waaaaa,
Suara Akiha yang sedang menangis.
Seorang anak tergeletak dibawah kakinya.
Bersimbah darah.
Terbunuh
Mayat seorang anak laki-laki seumurku.
Sura burung gereja tidak terdengar lagi.
Kedua tanganku
Berwarna merah
Darah dari anak yang tergeletak itu
“AKIHA!!!!”
Orang-orang dewasa berlari mendekat.
“Apa yang__!!!!”
Salah satu dari mereka mearik Akiha pergi.
Anak yang tergeletak itu mati.
Orang-orang dewasa berteriak.
“Apa kau membunuhnya?”
Mereka meneriakiku.
Menyebut namaku, dan mengatakan kalau aku telah membunuhnya.
Mereka terus berteriak seperti orang gila.
Mereka memanggilku SHIKI
****
“Shiki-sama, jika tidak bangun sekarang, nanti anda terlambat”
Mendengar namaku dipanggil, aku membuka mataku.
“Hisui?”
“Selamat pagi, Shiki-sama” Hisui menyapaku dengan membungkukkan badannya.
Sinar matahari masuk melalui jendela. Aku berada didalam kamarku.
“Hi, Hisui…?”
“Shiki-sama. Apakah anda merasa kurang enak badan?”
“Ah, tidak. Aku hanya…. bermimpi…. apa ya?” aku tidak bisa mengingat detil mimpiku.
Hisui sedikit memiringkan kepalanya kebingungan.
Sudahlah, tidak ada gunanya menceritakan ini semua ke Hisui. Mampi tadi___ apa-apaan? Sepert sesuatu…. SESUATU YANG SANGAT KUKENAL.
SHI…KI? orang-orang dewasa itu memangilku SHIKI
“Ada apa Shiki-sama?”
“Tidak. Tidak Apa. Maaf, aku akan segera ke ruang makan.”
Mengangguk, Hisui berjalan menuju pintu kamarku.
Tap tap tap
Suara langkahnya terdengar lebih mantap. Sampai di pintu, dia berbalik.
“Shiki-sama, kalau saya boleh tahu, jam berapa anda pulang tadi malam?”
“Ah, kemarin? Mmm… cukup larut”
“Shiki-sama, anda mengatakan kalau anda akan pulang jam 4 sore. Apakah ada perubahan jadwal?”
Ah, aku ingat. Kemarin aku mengatakan itu kepada Hisui. Mungkin dia menungguku jam 4 sore.
“Maaf. Banyak hal terjadi, dan aku tidak bisa pulang tepat waktu. Lain kali tidak akan terjadi. Jadi kuharap, kau mau memaafkanku untuk yang kemarin”
“Anda tidak perlu mengatakan hal tersebut, Shiki-sama. Tugas pelayan adalah menyesuaikan dengan jadwal tuan mereka. Namun, saya mohon, bila terjadi perubahan jadwal seperti kemarin, anda menelepon rumah terlebih dahulu. Apapun yang terjadi, saya yakin anda masih bisa menghubungi rumah.”
“Kau benar. Maaf. Lain kali, aku akan tepat waktu”
“Saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi.”
Tadi itu…. Sepertinya Hisui sedikit marah. Biasanya dia tidak pernah menunjukkan ekspresi, jadi mungin dia akan menjadi sangat mengerikan kalau marah.
“Ok, baiklah. Saatnya bangun” melempar selimut, aku bangun dari tempat tidurku. Dan tiba-tiba__
“AKH!”
Tubuhku terasa sangat sakit. Sakit ini, tidak berasal dari lukaku semalam. Sakit ini dari tempat yang lebih dalam, di dekat jantungku.
“Aaaa…gh…” mencengkram selimut, aku berusaha menahan sakit. Dan setelah itu, rasa sakit tiba-tiba menghilang.
“Luka… di dada?” aku menyentuh dadaku. Meskipun lukaku sudah sembuh, tapi kadang masih terasa sakit seperti barusan. Dokter mengatakan kalau lukaku sudah sembuh, tapi luka psikologisku membuatku terus-terusan mengingat rasa sakit yang pernah kualami.biasanya sakit ini muncul juka aku melihat sesuatu yang berwarna merah. Darah dan kematian, pasti membuatku mengingat kembali kejadian 8 tahun lalu.
“Mungkin gara-gara tadi malam”
Gang yang berwarna merah. Dan wajah Yumizuka yang tersenyum.
“UG___H!!”
Dadaku sakit.
Bayangan Yumizuka tidak mau meninggalkan pikiranku.
Tapi aku tidak tahu apa yang harus kkulakukan, apa yang bisa kulakukan.
“Si..al”
Menyeka keringat, aku bangun dari ranjang. Setelah mengganti piyamaku dengan seragam sekolah, aku menuju ruang makan.
Akiha dan Hisui berada disana. Kohaku mungkin ada di dapur menyiapkan sarapanku.
“Selamat pagi, Kak”
Akiha yang duduk di sofa menyapaku.
“Ah, selamat pagi. Maaf soal kejadian kemarin” Balas menyapa, aku duduk di salah satu kursi. Aku tidak punya banyak waktu untuk tinggal dan mengobrol dengan Akiha, dan saat ini aku memang sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.
“Kak, saya ingin berbicara sedikit dengan kakak. Bisakah?”
“Baiklah, tapi jangan lama-lama, soalnya aku harus berangkat ke sekolah”
“Baiklah, melanjutkan pembicaraan tadi malam, apa yang kakak lakukan kemarin?” Akiha bertanya dengan pandangan yang lurus dan menusuk.
“Tidak ada. Hanya…. Jalan-jalan. Maaf kalau aku pulang terlambat, tapi itu bukan masalah besar, kan?”
“HANYA berjalan-jalan di tengah malam itu masalah besar! Kakak masih SMA, jadi jangan keluyuran malam-malam. Selain itu banyak kejadian yang terjadi setiap malam akhir-akhir ini”
Ah___ kejadian, pembunuhan yang terjadi tiap malam. Kenapa aku tidak menyadarinya? Pembunuh itu membunuh orang dan menghisap darah mereka. Sangat pas dengan apa yang dilakukan oleh Yumizuka kemarin.
“…. Saya ingin Kakak sedikit meluangkan waktu untuk beristirahat. Jika Kakak pulang dengan seperti kemarin, saya akan cemas. Jika Kakak memiliki masalah, katakan padaku. Mungkin tidak banyak, tapi kalau saya bisa…”
Aku tidak ingin memikirkannya, tapi….. Yumizuka. Yumizuka mungkin saja pembunuh yang berkeliaran itu.
“Kak? Kau mendengarkan?”
“Eh?__Umm, ya. Aku mendengarkan” Aku mendengarkan Akiha, tapi dalam kepalaku, aku terus memikirkan Yumizuka kemarin malam.
“Jadi, Kakak tidak bisa menceritakan kejadian kemarin malam?”
“Ya. Lagipula, tidak ada hubungannya denganmu, Akiha” aku mengatakannya agar percakapan ini segera selesai.
“Baiklah, saya mengerti. Silahkan. Silahkan saja berbuat semau kakak. Saya jugan akan berbuat semau saya” Akiha kemudian keluar menuju lobi dengan kesal.
“Shiki-sama., benarkah ini tidak apa-apa?”
“Apanya, Hisui?”
“Saya percaya bahwa sebenarnya Akiha-sama sangat mencemaskan anda. Tapi mungkin sulit bagi Akiha-sama untuk mengutarakannya karena beliau jarang menunjukkan perasaannya.”
“Aku tahu itu, tapi sekarang… kepalaku penuh dengan … ah, sudahlah. Aku minta maaf”
“………” Hisui terdiam menanggapi reaksiku.
“Shiki-saaan, sarapaaaaan!” terdengar Suara Kohaku dari dapur.
*****
“Shiki-sama, jam berapa anda akan pulang nanti?”
“Karena ini hari sabtu, jadi aku pulang jam…. Sebentar… mungkin sore. Ada sesuatu yang harus kulakukan.”
“Saya mengerti. Jaga diri anda baik-baik” Hisui membungkuk dengan dalam.
Setelah Hisui mengantarku hingga gerbang, aku berangkat menuju sekolah.
*****
Tidak ada gunanya pergi ke sekolah. Yumizuka hanya dianggap murid yang absen, dan tidak ada seorang temanpun yang peduli padanya. Waktu berjalan dengan cepat. Mungkin Arihiko dan Ciel-senpai sempat menghampiriku, tapi aku tidak begitu ingat. Siang datang, dan sekolah usai.
Aku tidak tahu dimana, tapi aku harus menemukan Yumizuka. Aku berjalan mencarinya berkeliling kota. Tapi tidak juga aku menemukannya. Akhirnya matahari mulai terbenam. Hingga selama ini pun, aku belum juga melihat tanda-tanda Yumizuka dimanapun.
“Cih…” aku menggigit bibirku dengan kesal. Tapi bukan marah karena aku tidak bisa menemukannya, tapi karena dua hari yang lalu aku pernah berjanji padanya.
___ Jadi, kalau aku dalam bahaya, kau akan segera datang dan menyelamatkan aku bukan?
Dia pernah meminta seperti itu, dan aku menjawabnya Ya. Aku akan mencoba semampuku. Tapi sekarang, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Menatap matahari yang semakin tenggelam. Mungkin aku baru bisa menemukannya setelah malam tiba.
“Tapi aku berjanji akan pulang sore hari”
Baiklah, aku akan kembali ke rumah dulu, dan memikirkan tindakkanku selanjutnya di kamar.
****
“Selamat datang, Shiki-sama”
“Aku pulang, Hisui. Mana Akiha?”
“Akiha-sama masih ada kegiatan di sekolah. Karena beliau mungkin datang terlambat, bagaimana kalau anda makan dulu?”
Kegiatan ya? Mungkin saja banyak kegiatan disekolahnya. Karena sekolahnya adalah sekolah putri yang sangat prestisius.
“Aku akan di kamar hingga waktu makan malam dan akku akan turun kalau makanan sudah siap”
“Baiklah, selamat beristirahat”
Berbalik, aku meninggalkan Hisui menuju kamarku.
*****
Makan malam usai. Setelah itu, aku hanya duduk-duduk di kamarku saja. Jarum jam menunjukkan jam sembilan malam. Karena jam malam rumah ini adalah jam 8, aku sudah tidak bisa keluar lagi.
Tapi itu hanya peraturan. Kalau mau, aku bisa saja keluar kapanpun. Aku tidak mau meninggalkannya sendirian. Aku tahu kalau mencari Yumizuka sekarang itu bisa berbahaya. Karena apapun alasannya, dia sudah membunuh banyak orang.
Saat itu, ketika kami pulang bersama, aku tidak bisa melupakan kata-kata terakhirnya.
"Aku akan mencarinya"
Aku mengganti bajuku, dan menyelipkan pisau dalam kantungku. dengan mengendap-endap, aku menyusup keluar rumah agar tidak membangunkan Akiha atau yang lainnya.
Lampu lobi mati. Sangat gelap dan sepi. Sangat sempurna untuk menyusup keluar.
Crek, crek
Hanya suara deritan tangga kayu yang kuinjak yang terdengar. menuruni tangga, aku bergerak menuju pintu depan. dan kemudian....
"__Kak? kakak mau kemana malam-malam begini?"
Akiha berdiri di tengah lobi, bertanya dengan suara yang hampir berbisik
"A, Akiha? kau sudah pulang rupanya"
"Ya. beberapa saat yang lalu. Tapi kak, yang lebih penting__ apa yang kakak lakukan? kakak berganti pakaian, jadi kelihatannya kakak mau pergi keluar"
Tatapan Akiha dingin menusuk dadaku. Bukan tatapan marah, tapi dia menatapku tidak percaya.
"Kakak hendak pergi keluar, dan mencari perkara seperti kemarin, bukan begitu Kak?"
"....... Maaf, temanku sedang dalam masalah. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri"
"Begitu ya. Apakah kakak akan tetap pergi meskipun saya berusaha menghentikan kakak?"
"Ya. tapi percayalah. aku tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku hanya ingin.... memeriksanya saja. Maaf aku sudah bikin masalah, padahal kau baru saja pulang"
Setelah mengatakan itu, aku melangkah keluar.
"... Kak ...." suara yang lembut. Tidak terdengar nada bicara Akiha yang biasanya. Seperti suara Akiha kecil 8 tahun yang lalu, yang selalu dipenuhi ketidak berdayaan.
"Kakak akan.... pulang bukan?" Suara Akiha dan wajahnya yang rapuh. Wajah Akiha yang terlihat selalu siap menangis, seperti 8 tahun yang lalu.
"Tentu saja. aku akan pulang. jadi jangan melihatku dengan wajah seperti itu"
"Tapi...."
"Tenang saja. Aku pasti kembali. Maaf, aku selalu membuat masalah"
"Kkakak!"
Tidak mengacuhkan panggilan Akiha dibelakangku, aku berlari keluar.
__Diluar, bulan bersinar terang.
Mungkin gara-gara melihat wajah Akiha tadi, aku jadi merasa aku tidak akan pulang selamanya.
***
Akhirnya aku tiba di distrik perbelanjaan. Kemungkinan besar Yumizuka akan muncul disini. Karena semua korban pembunuhan ditemukan disekitar distrik ini.
"Sial! apa yang sedang kupikirkan?!"
Aku mengumpati logikaku sendiri. Tapi paling tidak kemungkinanku bertemu dengannya disini lebih besar dari pada ditempat lain.
Aku mulai mencari Yumizuka.
Dimana dia? Dimana dia? Dimana dia? Aku tidak bisa menemukannya. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
*hosh hosh hosh*
Aku berlari, berlari, dan berlari.
*hosh hosh hosh*
Berlari dan terus mencari.
*hosh hosh hosh*
Tubuhku terasa panas karena kelelahan.
Sekarang hampir tengah malam. Mungkin sudah tidak ada gunanya mencari. Tapi masih ada satu tempat yang belum kucari.
Meninggalkan distrik perbelanjaan yang terang, aku menuju taman yang gelap. Karena pembunuhan berantai akhir-akhir ini, tidak ada seorangpun yang berada disini. Aku sendiri tidak pernah berharap menemukan Yumizuka disini, tapi tempat inilah satu-satunya tempat yang belum kucari.
Sepi. Dibawah sinar bulan ini, aku tidak merasakan adanya kehidupan. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa bulu kudukku berdiri semua. Kepalaku terasa berat, dan tubuhku terasa sangat dingin. Aku ketakutan.
Aku berusaha mengatur nafasku dan mengumpulkan keberanian. Berbeda dengan tubuhku yang dingin, tenggorokanku terasa panas mencekat, kering kehausan. Kumasukkan tanganku kedalam kantong celana, untuk memastikan bahwa aku membawa pisauku.
Ada yang aneh. Taman ini memancarkan aura buruk. Tapi aku terus berjalan menuju pusat taman.
Disana, aku melihat seseorang. Berlutut, dan bernafas. Dengan kesulitan. Wajahnya pucat, dia mencengkram lehernya sendiri, tampak kesakitan.
Yumizuka Satsuki.
“Yumizuka?” Akhirnya aku menemukannya. Tanpa memikirkan kejadian kemarin malam, aku berlari kearahnya.
“Jangan!” Yumizuka menghenikanku hanya dengan kata-katanya.
“Jangan Shiki-kun. Aku senang kau datang, tapi saat ini aku tidak ingin kau berada di dekatku. Kumohon, jangan mendekat”
Suara nafasnya menunjukkan kalau dia sedang menahan sakit. Tubuhnya gemetaran ketika dia berbicara, dia terlihat siap pingsan kapan saja.
“Dasar bodoh! Kau sakit! Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri”
“Tidak. Aku baik-baik saja. Karena kau datang, sekarang aku baik-baik saja” memaksakan diri untung berdiri, dia tersenyum padaku.
“Ada apa Yumizuka-san? Kenapa kau tidak pulang? Dan apa-apan kemarin itu? Kenapa …. Kemarin…. kau ….mereka….”
“Ya? Kenapa dengan kemarin?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti”
“Benarkah? Kau melihat apa yang terjadi kemarin bukan? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku yang membunuh orang-orang itu?” katanya tanpa ragu.
Dia terlihat seperti menertawakan kebingunganku.
“Apakah pembunuhan berantai akhir-akhir ini….. kau yang melakukannya, Yumizuka?”
“Pembunuhan? Aku tidak suka dengan kata itu. Tapi kalau kau bertanya, Ya. Aku yang melakukannya”
“Apa maksudmu?”
“Seperti itulah. Aku yang membunuh mereka, dan aku akan terus melakukannya”
“Yumizuka___kau..”
“Ayolah, aku memanggilmu Shiki-kun. Kuharap kau juga memanggil nama kecilku. Kau tahu, aku merasa sangat bodoh. Aku tidak pernah bisa berbicara seperti ini denganmu. Aku selalu melihatmu dari kejauhan.
“Yumi…zuka?”
“Selalu. Bahkan sejak sebelum kejadian di gudang olahraga, aku selalu melihatmu. Aku benar-benar seorang pengecut. Aku selalu mengiyakan semua perkataan temanku bila nampaknya benar. Sekolah tidak pernah menjadi tempat yang menyenangkan, Shiki-kun, sampai kau berbicara padaku. Waktu itu, kelas dua SMP”
“Eh?”
“Sudahlah, kau pasti tidak mengingatnya. Waktu itu kau… bagaimana mengatakannya ya? ….. tampak natural. Tidak pernah menonjolkan diri. Kau mungkin tidak pernah memikirkan apa yang sudah kau lakukan waktu itu”
Apa yang bisa kukatakan. Yang dikatakan Yumizuka benar. Aku tidak pernah mengingat apa yang sudah kulakukan. Aku tidak tahu apa yang kukatakan padanya. Aku bahkan tidak ingat kalau aku pernah bicara padanya waktu itu.
“Tidak apa, Shiki-kun. Janganlah berwajah seperti itu. Kau hanya mau bergaul dengan Inui-kun, jadi tidak heran jika kau tidak mengacuhkan teman sekelas lainnya. Tapi, kau tahu, hanya dengan sekelas denganmu saja, aku sudah merasa senang. Aku hanya ingin bercakap-cakap denganmu, dan mendengarmu memanggil namaku. Benar-benar impian yang sangat kecil, bukan?”
Dia mengatakannya dengan menerawang. Terlihat bernostalgia dengan kenangannya. Hari-hari itu, dia mengingatnya seakan telah lama berlalu.
“Aku selalu melihatmu. Meskipun aku tahu, tidak mungkin kau memberiku perhatianmu, tapi aku terus melihatmu.”
Jujur saja, aku merasa senang ketika dia mengatakannya.
“Kau menyukaiku, Shiki-kun?”
Mendapat pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba, membuatku bingung untuk menjawab. Diam adalah jawabanku.
Aku tidak pernah memiliki perasaan khusus terhadap teman sekelasku yang bernama Yumizuka Satsuki. Aku mencarinya hanya karena apa yang terjadi dua hari yang lalu membuat sebuah impresi yang sangat kuat di dalam kepalaku.
“Sudah kuduga. Kau mungkin bahkan tidak menyadari keberadaanku. Tidak mungkin kau menyukaiku__ AGH!!!”
Tubuh Yumizuka kembali gemetaran. Nafasnya memburu, dan tiba-tiba saja terjatuh berlutut. Dengan suara tercekik, Yumizuka memuntahkan darah dari mulutnya.
“YUMIZUKA!!”
Kali ini aku berlari kearahnya.
“Kau tidak apa-apa? Yumizuka!!”
Aku berusaha membopongnya, namun saat itu juga, aku merasa semua bulu kudukku berdiri. Aku merasakan tubuhnya yang, sangat dingin.
“Shiki-kun”
Suaranya yang gemetar memanggil namaku.
“Tidak apa….. jika kau tidak menyukaiku.”
Yumizuka terbatuk.
“Jangan bicara dulu. Akan kubawa kau ke rumah sakit sekarang”
“Tapi aku mengerti sekarang. Siapa dirimu, dan apa yang kau inginkan. Sekarang aku mengerti semuanya tentang dirimu. Karena….. aku sekarang telah berubah menjadi sesuatu yang sama denganmu, Shiki-kun”
Setelah mengatakannya, Yumizuka menancapkan taringnya ke leherku.
“A~ah…..”
Kabur. Kesadaranku mulai mengabur. Aku merasakan taring Yumizuka di leherku. Darahku di hisap. Rasanya jiwaku juga ikut di hisapnya. Kekuatanku menghilang perlahan.
“Yumi….zuka….”
Kedua lenganku bergerak dan mendorong tubuhnya menjauh dengan paksa. Dia kemudian jatuh terduduk.
“Kau… apa yang kau….” Dengan sisa-sisa kekuatanku, aku mencoba berdiri. Namun gagal. Aku tidak punya cukup kekuatan. Bekas gigitan Yumizuka membekas di leherku. Dan di dalam kedua lubang itu, aku bisa merasakan ada sesuatu yang memasuki tubuhku. Menginvasi. Sesuatu yang menyiksaku. Tubuhku terasa terbakar.
Sakit sakit sakit sakit
Dalam kesakitan, aku mencakari tanah.
Sakit sakit sakit sakit.
Dalam kesakitan, aku menggelepar di lantai.
Yumizuka melihatku dengan senyumnya.
“Jangan cemas, Shiki-kun. Rasa sakit itu hanya sementara. Setelah darah kita bercampur, rasa sakit itu akan menghilang. Jangan cemas. Kali ini aku melakukannya dengan sempurna. Kau tidak akan menjadi mahluk gagal seperti kemarin malam. Sekarang, kau akan besamaku selamanya.” Yumizuka terlihat kegirangan
“A, apa yang kau katakan? Yumizuka?”
“Aku bilang, aku menjadikanmu sama denganku, Shiki-kun. Kau akan menghisap darah, abadi, dan tidak bisa berjalan dibawah sinar matahari. Kau akan menjadi mahluk yang berbeda”
Jangan bercanda. Itu sama saja dengan menjadi…..
“Kau akan menjadi seorang Vampire. Kau tahu, aku sendiri tidak tahu kenapa bisa menjadi seperti ini. Dua malam yang lalu, aku hanya berjalan-jalan di distrik perbelanjaan. Dan kemudian, tiba-tiba saja aku mendapati diriku terkapar di gang kemarin. Awalnya aku merasa dingin dan sakit. Kemudian, secara aneh, tubuhku berubah dan aku seperti mengerti semuanya. Tubuhku sakit karena hancur dengan sangat cepat. Dan sinar matahari yang menjadi katalisnya. Dan untuk menggantikan sel-sel tubuhku yang rusak, aku perlu memperoleh informasi genetik dari mahluk hidup yang sama jenisnya dengan diriku dulu. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku mulai menghisap darah manusia secara acak. Dan kau tahu apa? Rasanya nikmat sekali! Rasa sakitku menghilang, dan rasanya aku seperti bisa melakukan apapun yang kuinginkan. Aku tidak menyesal karena aku melakukannya untuk bertahan hidup. Aku membunuh bukan karena aku menyukainya. Aku menghisap darah seperti layaknya manusia memakan daging ayam. Karena itulah, aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Awalnya memang seperti itu, tapi akhir-akhir ini menghisap darah menjadi sebuah kegiatan yang menarik. Kau mengerti bukan, Shiki-kun? Pastinya. Karena kau adalah seorang pembunuh yang jauh lebih baik daripada aku”
”Ap___”
Apa yang kau katakan, Yumizuka?
“Sudah kubilang aku selalu melihatmu. Karena itu, aku tahu sisi lembut dan sisi mengerikan yang ada dalam dirimu. Aku dulu tidak berani berbicara padamu karena aku tidak mengerti sisi mengerikanmu. Tapi sekarang aku mengerti. Kau sama denganku. Tidak masalah apakah kau menyukai atau membenci seseorang. Kau bisa membunuh siapapun yang kau inginkan”
“Jangan bercanda.” Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk membunuh
“Aku tidak bercanda!” kata Yumizuka keras. “Aku dulu tidak mengerti aura rapuh yang terpancar dari dirimu. Tapi karena sekarang tubuhku sudah berubah, aku mengerti semuanya. Ada orang-orang yang terlahir sebagai pembunuh alami, dan diantara mereka, kaulah yang terbaik. Kau tahu, aku sangat gembira kemarin. Pertama kalinya aku merasa senang setelah tubuhku berubah menjadi seperti ini. Karena akhirnya aku bisa mengerti dirimu sepenuhnya.”
“Jangan bercanda! Aku tidak pernah…..” aku tidak pernah? Ya aku memang pernah merasakan keinginan yang sangat kuat untuk membunuh seseorang.
“Sebuah keinginan membunuh, tanpa pengaruh dari emosi. Sisi rapuhmu yang selalu ingin kuketahui. Ah, aku lupa mengatakan satu hal lagi. Kau tahu bahwa seseorang menjadi vampire setelah darahnya dihisap oleh vampire bukan? Itu benar. Lebih tepatnya orang yang dihisap darahnya akan mati. Kemudian vampire akan menitikkan setetes darah kepada tubuh korban agar mereka menjadi bangsanya. Dan aku telah memasukkan setes darahku kedalam tubuhmua melalui gigitan tadi” Yumizuka mengatakannya dengan penuh kepuasan.
“Jadi… ini … ulah darahmu?”
Rasanya sakit sekali. Cukup untuk membuatku jadi gila.
“Baiklah, kurasa sudah cukup. Berdirilah, Shiki-kun”
Aku mendengar perintah Yumizuka. Perlahan rasa sakit yang kuderita menghilang. Aku kemudian berdiri.
“Bagus. Mulai sekarang, kita akan terus bersama, Shiki-kun. Kemarilah. Genggam tanganku, dan buatlah aku menjadi nyaman.”
Yumizuka menjulukan tangannya.
Jantungku berdebar keras. Kakiku mulai melangkah. Tapi tidak melangkah kedepan. Kakiku melangkah mundur.
“Shiki…kun?” Suara Yumizuka terdengar bingung.
Dadaku berdebar kencang.
Tenggorokanku terasa kering.
Seluruh tubuhku mengenali mahluk yang berdiri didepanku sebagai musuh.
Nafasku mulai memburu.
Aku berusaha melawan pengaruh ‘racun’ yang dimasukkan Yumizuka kedalam tubuhku.
“Kenapa? Kenapa kau tidak mengikuti perintahku?”
Deg deg
Jantungku berdetak semakin keras
Deg deg
Inikah naluri yang dikatakan oleh Yumizuka barusan?
Deg deg.
Naluri membunuh.
Deg deg.
Detak jantungku semakin keras, menyuruhku untuk mebunuh, dan membunuh.
“Kenapa? Kenapa darahku tidak bereaksi?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku memang merasa seperti ada lumpur di dalam tubuhku.” Dan itu pastilah darah vampire Yumizuka.
“Sudahlah Yumizuka-san. Percuma kau melakukan semua ini. Kau sedang sakit. Kita sekarang akan pergi ke rumah sakit, dan mencari cara untuk mengembalikantubuhmu seperti semula.”
Aku tidak ingin melihatnya tersiksa. Tapi dia melihatku dengan tatapan amarah.
“Darahku sudah bercampur dengan darahmu. Kau seharusnya sudah menjadi bagian dari diriku! Jangan-jangan…. Kau sudah berada dalam pengaruh seseorang sekarang?”
“Aku tidak tahu.Yang aku tahu adalah____ kau mengatakan gelap, dingin, dan sepi. Yang aku ingat adalah wajahmu yang tersenyum, memintaku untuk membantu setiap kali kau dalam kesulitan.”
Sejujurnya, aku tidak tahu vampire itu mahluk yang seperti apa. Tapi jika kau harus membunuh dan menghisap darah untuk bertahan hidup, dan kau masih merasa kesakitan, berarti kau harus mencari cara untuk mengubah tubuhmu kembali.
“Apakah kau masih merasa sakit?”
“Ya” jawab Yumizuka. Kadang aku masih merasa sakit hingga sekarang. Nadiku masih serapuh dulu. Jadi, aliran darah saja terasa sangat sakit. Lembut dan lemah. Mudah pecah kapan saja. Tapi selama aku menghisap darah, rasa sakit itu akan menghilang”
“Apakah kau masih merasa sakit?”
“Ya.” Jawab Yumizuka. “Hatiku terasa sakit. Karena aku harus menghisap darah orang lain untuk bertahan hidup. Aku memang tidak menganggap itu salah, tapi tetap saja hatiku terasa sakit. Aku takut jika diriku yang dulu benar-benar akan menghilang. Tapi aku tidak akan setakut itu jika aku tidak sendirian.”
“Kau bilang kau kedinginan”
“Ya” jawab Yumizuka.”Rasanya dingin sekali hingga jariku seperti membeku. Tapi kuarasa hal itu tidaklah buruk. Aku hanya tidak lagi bisa merasakan kehangatan.”
“Pernahkah kau meminta tolong?”
“Ya.” Jawab Yumizuka. “Tapi aku sudah tidak bisa tertolong lagi.”
“Kenapa?”
“Kenapa? Aku juga ingin tahu. Ketika aku terbangun, tiba-tiba saja tubuhku sudah menjadi seperti ini. Mungkin akan lebih baik kalau aku mati saja.”
“Kau bicara apa?!” Tidak mampu menerima kenyataan, secara tidak sadar aku berteriak.
Yumizuka tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Dua hari yang lalu….” Kata Yumizuka. “Aku adalah mahluk sepertimu. Rasanya benar-benar seperti mimpi. Aku baru menyadari berharganya saat-saat itu setelah aku kehilangan. Ya__ benar-benar seperti mimpi. Aku bersedia memberikan apapun jika aku bisa kembali seperti dulu.”
“Kalau begitu___”
“Tapi tidak mungkin, Shiki. Aku sudah tidak bisa kembali lagi. Aku harus terus hidup seperti ini. Kedinginan, kesakitan, dan…. kesepian”
Yumizuka terlihat sedih. Tubuhnya yang dingin gemetar.
“Aku kedinginan dan selalu kesepian kemanapun aku pergi” suara yang terdengar samar-samar keluar dari mulutnya.
Aku teringat janji yang kuucapkan dua hari yang lalu.
“Aku akan menolongmu. Aku akan melakukan apapun untuk___”
“Ha ha ha ha” tawa yumizuka memotong kalimatku. “Apakah kau masih berpikiran untuk mengubahku menjadi seperti dulu, Shiki-kun? kau benar-benar baik. Benar-benar terlalu baik untuk seseorang yang suka membunuh sepertimu.”
Yumizuka tertawa gembira.
“Tapi ada satu cara jika kau benar-benar ingin menolongku” mengatakannya, Yumizuka melangkah maju.
Deg deg
Aku merasakan adanya bahaya.
Deg deg
“Caranya sangat mudah, Shiki-kun.”
Deg deg
“Kau cukup menjadi temanku saja”
Mata Yumizuka berubah merah dan menatap tajam seperti menembus jantungku. Aku sadar aku sedang menghadapi bahaya, tapi kakiku tidak mau kusuruh bergerak.
“Dengan begitu, aku tidak akan merasakan lagi kesakitan, kedinginan, dan kesepian. Bahkan jika aku bisa bersamamu, maka aku akan merasa jauh lebih bahagia daripada ketika aku masih menjadi manusia.”
Deg deg
Jantungku berdetak semakin keras.
Deg deg.
Yumizuka meraih leherku dengan tangannya.
Deg deg.
Dengan cepat aku segera menggerakkan kepalaku, dan menjatuhkan diri ke tanah.. Akhirnya kakiku mau juga kupaksa untuk bergerak.
Penyerang, dan yang diserang saling menatap, saling terkejut.
“Begitu ya” kata Yumizuka memecah keheningan. “Kukira akan mudah untuk membuatmu jadi milikku.” Matanya yang merah terlihat haus darah.
Setiap rambut di seluruh tubuhku berdiri karena ketakutan. Dan tanpa sadar, aku mengambil pisau dari saku celanaku. Aku kemudian menggerakkan pisauku dengan gerakan yang lebih cepat daripada suara terkejutku sendiri.
“Eh?” tiba-tiba saja aku menebas paha Yumizuka.
Suara Yumizuka berteriak kesakitan terdengar keras. Ketika kulihat pisau ditanganku, aku melihat darah, dan kemudian aku menyadari jika paha Yumizuka telah sobek.
Kesadaranku kembali. aku segera berlari menuju Yumizuka yang bergulingan kesakitan di tanah.
“Ke, kenapa aku__”
Aku tidak tahu.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menebasnya. Aku hanya teringat ketika aku merasa ketakutan, dan tiba-tiba saja paha Yumizuka telah tersobek.
Hosh hosh!
Darah Yumizuka menghiasi mata pisauku.
Hosh hosh!
Aku bernafas seperti telah berlari jarak jauh.
Hosh hosh!
Aku masih mengingat sensasi ketika aku memotong paha Yumizuka.
Mengingatnya membuat nafasku semakin memburu.
Aku merasa takut. Dan dalam ketakutan itu, aku merasakan adanya kesenangan yang luar biasa.
Yumizuka berusaha membunuhku. Dan tubuhku bereaksi dengan sendirinya.
Aku harus lari. Kalau aku terus disini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti.
Tapi untuk apa aku lari? Tentu saja. Jika tidak, mahluk itu akan membunuhku. Maku bisa merasakan mahluk itu mengejarku dari belakang.
Kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Aku masih ingat senyum lembut Yumizuka sore itu. Tapi kenapa dia bisa berubah menjadi mahluk haus darah seperti ini?
Tiba-tiba saja ada yang memukulku dari belakang, dan membuatku terjatuh. Tubuhku memang lecet-lecet karena terjatuh ketika berlari, tapi punggungku terasa jauh lebih sakit. Dengan sebuah hantaman sekeras itu, tidak heran kalau aku sempat tidak bisa menarik nafas.
Ketika aku menoleh kebelakang, aku melihat sesuatu yang menghantamku menggelinding.
Kepala manusia.
Darah mengalir dari leher orang itu. Memerahkan aspal, dan menodai bajuku.
“Kena kau” suara gembira terdengar dari kejauhan. Dan semakin mendekat dengan cepat. Suara Yumizuka Satsuki.
“Sakitkah? Maaf, aku hanya ingin membuatmu terkejut dengan melempar ini” dia meminta maaf sambil menendang kepala orang itu ke sisi jalan.
“Di, dia….” Aku menunjuk kearah kepal itu.
“Oh, hanya orang yang kebetulan lewat” kata Yumizuka santai. “Aku sempat mencicipi darahnya, tapi darah pemabuk itu benar-benar menjijikkan. Shiki-kun. kalau kau nanti menjadi vampire, kau harus memilih korban yang berbadan sehat, tidak yang seperti ini”
Tersenyum tanpa rasa bersalah, Yumizuka berjalan mendekat. Bye-bye, katanya. Benar-benar berbeda dengan gadis yang kukenal dulu.
Percuma___
Ini percuma___
Yumizuka Satsuki, sudah tak tertolong lagi.
Perlahan, aku berdiri dengan menggenggam erat pisau ditanganku. Aku tidak pernah berencana untuk menjadi vampire dan menghisap darah orang. Jadi, hanya ada satu jalan untuk mengakhiri semua ini.
“Yumizuka-san, aku sudah tidak bisa menolongmu lagi”
“Oh, itu tidak benar. Kau akan menolongku jika kau mau bersamaku.”
Aku melepas kacamataku. Rasa sakit menyerang otakku. Ini adalah pertama kalinya aku melepas kacamata dengan niatan untuk membunuh.
“Aku senang kau bersemangat seperti ini, Shiki-kun. tapi sayangnya sudah terlambat. Pemenangnya sudah ditentukan sejak awal.”
Tiba-tiba saja Yumizuka menghilang, dan sesaat kemudian aku merasakan sesuatu yang menghantamku dari samping.
“Gaaakh!!” aku terlempar dengan punggung membentur dinding toko. Tapi aku masih bisa berdiri.
“Oh, kau masih bisa bergerak? Untuk seseorang yang sakit-sakitan, ternyata tubuhmu kuat juga, Shiki-kun”
Aku membuat sedikit kesalahan. Aku memang bisa melihat garis, tapi tetap saja aku ini manusia biasa. Lawanku ratusan kali lebih cepat dariku. Meskipun aku bisa melihat garis, percuma saja kalau aku tidak bisa menyentuhnya.
Yumizuka mencengkeram tanganku, dan kemudian melemparku dengan mudahnya. Sekali lagi, punggungku menghantam dinding sebuah toko.
Pandanganku menjadi gelap. Tubuhku sakit, dan aku kehilangan pengelihatanku.
“Belum saatnya tidur, Shiki-kun”
Mendengar suara Yumizuka, kesadaranku kembali dan aku langsung menggulingkan badan kesamping. Tepat di tempat sebelum aku berguling, Yumizuka menghantamkan tangannya. Saura aspal yang pecah mencapai telingaku.
Aku memaksa tubuhku yang masih sedikit mati rasa untuk bergerak menjauh. Perlahan, pengelihatanku kembali normal.
“Kau….!” Aku mengacungkan pisau kearah Yumizuka.
“Sudah kubilang percuma. Sebaiknya kau menyerah saja, Shiki-kun”
Dia mendekat dan berusaha meraihku. Tapi kali ini, aku berhasil menghindar. Aku mendengar suara tidak percaya Yumizuka. Sekarang aku berdiri tepat dibelakangnya.
“Kubilang,…. JANGAN BERGERAK!!!”
Teriakan Yumizuka membahana. Aku mengayunkan pisauku seperti orang gila. Dan salah satunya mengenai Yumizuka. Sesaat aku merasa menyesal, tapi kenapa aku harus menyesal terhadap orang yang berusaha membunuhku?
“Pembohong!!” Yumizuka menekanku mundur hingga membentur tembok gang buntu. Yumizuka kemudian memukul. Aku secara reflex memejamkan mata, bersiap menerima pukulan.
“Eh?”
Dinding dibelakangku bergetar. Ternyata pukulan Yumizuka mengarah ke dinding.
“Pembohong!” teriak Yumizuka. “Kau bilang kau akan menolongku jika aku berada dalam kesulitan”
Wajah Yumizuka terlihat sangat emosional.
“Kenapa?! Apa karena aku telah menjadi mahluk seperti ini? Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa!! Aku menjadi seperti ini bukan karena aku ingin…..”
Seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk, Yumizuka terus-terusan memukuli tembok dibelakangku.
“Rasanya sakit! Sakit sekali! Tapi kenapa kau tidak menolongku?! Kau berjanji akan menolongku, tapi kenapa….”
Perlahan ketakutanku menghilang.
“Seandainya saja kau mau berada di sisiku, aku bisa menahan semua rasa sakit ini. Kenapa? Kenapa kau tidak mau menerimaku?”
Dia menangis. Kebencian Yumizuka satsuki tidak ditujukan kepadaku, Tohno Shiki. Tapi dia membenci dirinya sendir yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menerima nasibnya.
Yumizuka menatap tubuhku yang tidak bergerak dengan wajah terkejut. Dia seperti menyesal dengan apa yang dilakukannya.
“Sh…Shiki-kun. aku tidak bermaksud… tidak…”
Suaranya terdengar gemetaran. Dia berusaha mengendalikan diri, namun suaranya terdengar seperti akan menangis.
Tidak apa. Tidak perlu menyalahkan diri seperti itu. Meskipun jiwa dan ragamu berubah menjadi vampire, kau tetaplah hanya seorang korban. Yumizuka, kau mengatakan kalau kau kesakitan, kedinginan, dan kesepian. Hanya ada satu yang bisa kulakukan untuk menolongmu.
“… Kau boleh meminum darahku”
“Shiki-kun?”
“Kau boleh meminum darahku. Aku akan selalu bersamamu”
Setelah sempat ragu, dia akhirnya memelukku.
“Benarkah tidak apa-apa?” dia terdengar seperti antara ragu dan senang.
Ironis sekali. Dia memang telah menjadi vampire. Tapi bagian yang terpenting, hatinya, masih manusia. Karena masih memiliki hati manusia, Yumizuka Satsuki merasa sakit setiap kali menghisap darah. Selama hatinya seperti itu, dia akan terus merasa kesakitan.
Perlahan dian menancapkan taringnya ke leherku. Kemudian aku bisa merasakan suhu tubuhku yang semakin turun.
Sunyi.
Sebuah kematian yang sunyi.
Dengan ini, Tohno Shiki akan menghilang, dan semuanya akan selesai.
Tiba-tiba saja aku teringat wajah Akiha kecil yang menangis ketika aku meninggalkannya untuk tinggal bersama keluarga Arima.
Kakak akan.... pulang bukan?
Aku teringat kata Akiha beberapa saat yang lalu.
Akiha. Adiku yang kutinggalkan sendiri selama 8 tahun lamanya. Aku belum pernah melakukan apapun untuknya sebagai seorang kakak.
Selalu___
Selalu sendiri di dalam rumah yang besar itu.
“Aki__ha…”
Tidak. Aku tidak boleh seperti ini.
“Yumizuka-san… maafkan aku”
Aku menggerakkan pisauku, dan memotong garis yang ada di dadanya, seorang gadis yang pada saat-saat terakhir terus meminta pertolongan. Dan aku menusukkan pisauku ke dada gadis itu.
“Shiki…-kun…” perlahan Yumizuka menarik diri dariku.
“Maaf, aku tidak bisa menolongmu, Yumizuka-san”
Hanya inilah yang bisa kulakukan. Jika dia tidak bisa lepas dari rasa sakit, akan kuberikan sebuah kematian tanpa rasa sakit.
“Aku mengerti. Pada akhirnya, aku tidak bisa bersamamu, bukan?” suaranya terdengar sangat damai. Terdengar seperti suaranya dua hari yang lalu.
“Aku senang, meskipun hanya sesaat, kau memilihku Tohno-kun. Mungkin mati seperti ini tidaklah terlalu buruk. Semua rasa sakit menghilang seperti sihir.” Dia kembali memanggilku dengan ‘Tohno-kun’
Aku merasakan sesuatu yang menggelitik di kakiku. Aku melihat kaki Yumizuka telah menjadi abu dari lutut kebawah.
“Dan aku bisa merasakan kehangatan sekarang. He he he.. ini pasti kehangatanmu, Tohno-kun” katanya bahagia.
Ini adalah penyesalan paling murni yang kurasakan. Sebuah penyesalan yang membuatku ingin mati saja. Aku sudah mempersiapkan diri untuk mendengar kata-katanya yang penuh kebencian ketika aku memutuskan untuk mengkhianatinya.
Tapi kenapa? Kenapa kalimat seperti itu yang kau katakan? kenapa dengan suara yang terdengar bahagia? Kenapa kau tidak menyalahkan aku?
Mataku terasa pedih hingga aku menitikkan air mata.
“Tohno-kun, kau menangis. Kau benar-benar orang yang baik. Bahkan setelah aku melakukan hal-hal buruk padamu, kau tetap menangis untukku. Yah, mungkin karena itulah aku menyukaimu. Aku selalu memperhatikanmu, karena itulah aku tahu segala hal tentangmu yang tidak diketahui oleh orang lain.”
Dia terdengar sangat bangga. Dan aku bisa merasakan kalau bagian bawah tubuhnya telah menghilang ditiup angin.
“Aku ingin berbicara denganmu lebih sering. Sebagai teman sekelas. Lebih sering. Karena itu aku tidak ingin aku mati sekarang.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya terdiam. Dia kemudian menyandarkan kepalanya dibahuku.
“ini adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan untukku. Jadi jangan menangis, Tohno-kun. kau melakukan hal yang benar. Ah, sepertinya aku tidak akan bisa berbicara lagi, baiklah kalau begitu, Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun”
“Yu, Yumizuka__”
“Selamat tinggal, dan.. terima kasih”
Angin bertiup membawa abu yumizuka menghilang dari hadapanku. Tubunya menghilang seperti sihir. Yang tertinggal hanyalah penyesalan.
Aku membunuhnya.
Aku berjanji untuk menolongnya, tapi pada akhirnya aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.
Selamat tinggal, dan …Terima kasih
Kenapa dia berterima kasih padaku? Aku membunuhnya, dan dia berterima kasih padaku.
Dengan menyeret tubuhku yang penuh luka, aku berjalan pulang.
Pintu rumah terbuka dengan suara berderik. Dengan tertatih-tatih, aku berhasil membawa tubuhku yang penuh luka kembali ke rumah.
“__Ah” aku melihat Akiha di lobi. Apa dia terus menungguku selama ini?
“Kak, apa yang kakak lakukan selama ini? Jam berapa sekar__ Kak, kau..?” Akiha terlihat sangat terkejut.
Kenapa? Aku bahkan tidak tahu kenapa dia bisa terkejut sampai seperti itu.
“Tu, tunggu sebentar. Kakak kenapa? Kakak terluka dimana-mana dan… Kakak terlihat…”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab apapun. Aku bahkan tidak tahu apa yang dikatakan oleh Akiha barusan.
“Po, pokoknya saya akan merawat luka kakak terlebih dahulu. Kakak bisa berjalan?”
Aku mengangguk.
“Saya akan mengambil kotak P3K, kakak silahkan menunggu di ruang tengah” Akiha menghilang dengan langkah yang cepat.
********
Akiha merawatku sendiri. Dia mengelap tubuhku yang kotor dengan handuk, menyiapkan makanan, dan menemaniku sampai kamarku. Selama itu, aku tidak bisa berkata satu patah katapun.
“Baiklah, saya akan kembali ke kamar. Kakak beristirahatlah dengan tenang”
Sampai akhir dia tidak bertanya kenapa aku bisa sampai seperti ini.
Dia kemudian berbalik.
Dia hendak pergi meninggalkan kamarku.
Meninggalkanku.
Menghilang
Seperti gadis yang baru saja kubunuh.
Tanpa berpikir, aku langsung meraih lengan Akiha. Dan kemudian, aku memeluknya. Erat.
“K, kak?”
Aku tidak ingin sendiri. Aku tidak ingin kesepian. Aku akhirnya mengerti perasaan Yumizuka Satsuki.
Aku memeluk Akiha tanpa berpikir. Dan akiha hanya diam. Meskipun seharusnya dia menolakku, dia tetap bergeming.
Seperti ini. Aku ingin tetap seperti ini.
“Aku… benar-benar jahat” Aku mengakui dosaku. “Aku ingin menolongnya. Aku ingin menolongnya, tapi akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Seperti mencari pencerahan, aku memeluk Akiha lebih erat lagi.
Seakan tersadar, Akiha kemudian melepaskan pelukanku.
“Kak, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kupikir sebaiknya aku tidak menanyakannya padamu. Aku tidak bisa memberi jawaban. Kakak harus mencari jawabannya sendiri”
Kata-katanya tajam dan langsung mengena. Yang dikatakannya benar, dan akhirnya aku kembali tersadar.
“Maaf, lupakan saja yang barusan”
“…….” Terdiam sejenak, Akiha kemudian meninggalkan kamarku. Tapi sebelum keluar, dia berkata,”Saya tidak akan bertanya apa yang terjadi. Namun ketika Kakak pergi, saya merasa sangat ketakutan. Saya merasa jika kakak akan pergi lagi, dan tidak akan kembali, seperti 8 tahun yang lalu”
Dia kemudian terbatuk, yang menurutku seperti disengaja, dan melanjutkan,”Namun akhirnya Kakak kembali. Kakak tadi bilang kalau Kakak tidak berhasil menolong seseorang. Tapi paling tidak Kakak telah menyelamatkanku dari ketakutan. Jadi selamat datang kembali, Kak. Kembalinya kakak benar-benar membuatku…. senang”
Aku bisa melihat wajahnya yang sedikit memerah malu-malu ketika mengucapkan kalimat terakhir itu.
“Sa, saya akan mengatakan dengan lebih jelas lagi agar Kakakku yang bodoh dan lamban ini mengerti. To, tolong jangan tinggalkan adikmu yang manis ini sendiri lagi”
Mendengar kata-kata Akiha seperti menghilangkan bebanku. Sekarang aku merasa sangat ringan. “Aku mengerti. Tapi manis? Kau benar-benar bisa memuji dirimu sendiri, Akiha”
Akiha tersenyum melihatku yang sudah bisa tertawa. “Selamat tidur Kak, mimpi indah. Besok adalah hari yang baru untuk Kakak”
Dengan itu Akiha pergi. Dan aku membaringkan tubuhku diatas ranjang.
Apa yang terjadi pada Yumizuka akan selalu membekas dalam hatiku. Tapi aku tidak boleh terus bermuram. Aku tidak boleh menyesali tindakanku selama-lamanya. Aku harus percaya jika yang kulakukan adalah yang terbaik, meskipun aku tahu itu dosa. Dan aku siap untuk menerima hukumannya suatu saat nanti.
“Aku pulang, Akiha” gumamku, dan kemudian aku tertidur.
• Read More..
Hari terasa panas.
Langit biru yang luas yang dihiasi awan putih.
Suara-suara burung gereja terdengar.
Cip cip cip
Cip cip cip
Cip cip cip
Cip cip cip
Terdengar jelas, membuatku ingin mati saja.
Hari yang sangat panas
Dunia terasa seperti dalam penggorengan.
Uwaaaa, uh uh
U, waaaaa,
Suara Akiha yang sedang menangis.
Seorang anak tergeletak dibawah kakinya.
Bersimbah darah.
Terbunuh
Mayat seorang anak laki-laki seumurku.
Sura burung gereja tidak terdengar lagi.
Kedua tanganku
Berwarna merah
Darah dari anak yang tergeletak itu
“AKIHA!!!!”
Orang-orang dewasa berlari mendekat.
“Apa yang__!!!!”
Salah satu dari mereka mearik Akiha pergi.
Anak yang tergeletak itu mati.
Orang-orang dewasa berteriak.
“Apa kau membunuhnya?”
Mereka meneriakiku.
Menyebut namaku, dan mengatakan kalau aku telah membunuhnya.
Mereka terus berteriak seperti orang gila.
Mereka memanggilku SHIKI
****
“Shiki-sama, jika tidak bangun sekarang, nanti anda terlambat”
Mendengar namaku dipanggil, aku membuka mataku.
“Hisui?”
“Selamat pagi, Shiki-sama” Hisui menyapaku dengan membungkukkan badannya.
Sinar matahari masuk melalui jendela. Aku berada didalam kamarku.
“Hi, Hisui…?”
“Shiki-sama. Apakah anda merasa kurang enak badan?”
“Ah, tidak. Aku hanya…. bermimpi…. apa ya?” aku tidak bisa mengingat detil mimpiku.
Hisui sedikit memiringkan kepalanya kebingungan.
Sudahlah, tidak ada gunanya menceritakan ini semua ke Hisui. Mampi tadi___ apa-apaan? Sepert sesuatu…. SESUATU YANG SANGAT KUKENAL.
SHI…KI? orang-orang dewasa itu memangilku SHIKI
“Ada apa Shiki-sama?”
“Tidak. Tidak Apa. Maaf, aku akan segera ke ruang makan.”
Mengangguk, Hisui berjalan menuju pintu kamarku.
Tap tap tap
Suara langkahnya terdengar lebih mantap. Sampai di pintu, dia berbalik.
“Shiki-sama, kalau saya boleh tahu, jam berapa anda pulang tadi malam?”
“Ah, kemarin? Mmm… cukup larut”
“Shiki-sama, anda mengatakan kalau anda akan pulang jam 4 sore. Apakah ada perubahan jadwal?”
Ah, aku ingat. Kemarin aku mengatakan itu kepada Hisui. Mungkin dia menungguku jam 4 sore.
“Maaf. Banyak hal terjadi, dan aku tidak bisa pulang tepat waktu. Lain kali tidak akan terjadi. Jadi kuharap, kau mau memaafkanku untuk yang kemarin”
“Anda tidak perlu mengatakan hal tersebut, Shiki-sama. Tugas pelayan adalah menyesuaikan dengan jadwal tuan mereka. Namun, saya mohon, bila terjadi perubahan jadwal seperti kemarin, anda menelepon rumah terlebih dahulu. Apapun yang terjadi, saya yakin anda masih bisa menghubungi rumah.”
“Kau benar. Maaf. Lain kali, aku akan tepat waktu”
“Saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi.”
Tadi itu…. Sepertinya Hisui sedikit marah. Biasanya dia tidak pernah menunjukkan ekspresi, jadi mungin dia akan menjadi sangat mengerikan kalau marah.
“Ok, baiklah. Saatnya bangun” melempar selimut, aku bangun dari tempat tidurku. Dan tiba-tiba__
“AKH!”
Tubuhku terasa sangat sakit. Sakit ini, tidak berasal dari lukaku semalam. Sakit ini dari tempat yang lebih dalam, di dekat jantungku.
“Aaaa…gh…” mencengkram selimut, aku berusaha menahan sakit. Dan setelah itu, rasa sakit tiba-tiba menghilang.
“Luka… di dada?” aku menyentuh dadaku. Meskipun lukaku sudah sembuh, tapi kadang masih terasa sakit seperti barusan. Dokter mengatakan kalau lukaku sudah sembuh, tapi luka psikologisku membuatku terus-terusan mengingat rasa sakit yang pernah kualami.biasanya sakit ini muncul juka aku melihat sesuatu yang berwarna merah. Darah dan kematian, pasti membuatku mengingat kembali kejadian 8 tahun lalu.
“Mungkin gara-gara tadi malam”
Gang yang berwarna merah. Dan wajah Yumizuka yang tersenyum.
“UG___H!!”
Dadaku sakit.
Bayangan Yumizuka tidak mau meninggalkan pikiranku.
Tapi aku tidak tahu apa yang harus kkulakukan, apa yang bisa kulakukan.
“Si..al”
Menyeka keringat, aku bangun dari ranjang. Setelah mengganti piyamaku dengan seragam sekolah, aku menuju ruang makan.
Akiha dan Hisui berada disana. Kohaku mungkin ada di dapur menyiapkan sarapanku.
“Selamat pagi, Kak”
Akiha yang duduk di sofa menyapaku.
“Ah, selamat pagi. Maaf soal kejadian kemarin” Balas menyapa, aku duduk di salah satu kursi. Aku tidak punya banyak waktu untuk tinggal dan mengobrol dengan Akiha, dan saat ini aku memang sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.
“Kak, saya ingin berbicara sedikit dengan kakak. Bisakah?”
“Baiklah, tapi jangan lama-lama, soalnya aku harus berangkat ke sekolah”
“Baiklah, melanjutkan pembicaraan tadi malam, apa yang kakak lakukan kemarin?” Akiha bertanya dengan pandangan yang lurus dan menusuk.
“Tidak ada. Hanya…. Jalan-jalan. Maaf kalau aku pulang terlambat, tapi itu bukan masalah besar, kan?”
“HANYA berjalan-jalan di tengah malam itu masalah besar! Kakak masih SMA, jadi jangan keluyuran malam-malam. Selain itu banyak kejadian yang terjadi setiap malam akhir-akhir ini”
Ah___ kejadian, pembunuhan yang terjadi tiap malam. Kenapa aku tidak menyadarinya? Pembunuh itu membunuh orang dan menghisap darah mereka. Sangat pas dengan apa yang dilakukan oleh Yumizuka kemarin.
“…. Saya ingin Kakak sedikit meluangkan waktu untuk beristirahat. Jika Kakak pulang dengan seperti kemarin, saya akan cemas. Jika Kakak memiliki masalah, katakan padaku. Mungkin tidak banyak, tapi kalau saya bisa…”
Aku tidak ingin memikirkannya, tapi….. Yumizuka. Yumizuka mungkin saja pembunuh yang berkeliaran itu.
“Kak? Kau mendengarkan?”
“Eh?__Umm, ya. Aku mendengarkan” Aku mendengarkan Akiha, tapi dalam kepalaku, aku terus memikirkan Yumizuka kemarin malam.
“Jadi, Kakak tidak bisa menceritakan kejadian kemarin malam?”
“Ya. Lagipula, tidak ada hubungannya denganmu, Akiha” aku mengatakannya agar percakapan ini segera selesai.
“Baiklah, saya mengerti. Silahkan. Silahkan saja berbuat semau kakak. Saya jugan akan berbuat semau saya” Akiha kemudian keluar menuju lobi dengan kesal.
“Shiki-sama., benarkah ini tidak apa-apa?”
“Apanya, Hisui?”
“Saya percaya bahwa sebenarnya Akiha-sama sangat mencemaskan anda. Tapi mungkin sulit bagi Akiha-sama untuk mengutarakannya karena beliau jarang menunjukkan perasaannya.”
“Aku tahu itu, tapi sekarang… kepalaku penuh dengan … ah, sudahlah. Aku minta maaf”
“………” Hisui terdiam menanggapi reaksiku.
“Shiki-saaan, sarapaaaaan!” terdengar Suara Kohaku dari dapur.
*****
“Shiki-sama, jam berapa anda akan pulang nanti?”
“Karena ini hari sabtu, jadi aku pulang jam…. Sebentar… mungkin sore. Ada sesuatu yang harus kulakukan.”
“Saya mengerti. Jaga diri anda baik-baik” Hisui membungkuk dengan dalam.
Setelah Hisui mengantarku hingga gerbang, aku berangkat menuju sekolah.
*****
Tidak ada gunanya pergi ke sekolah. Yumizuka hanya dianggap murid yang absen, dan tidak ada seorang temanpun yang peduli padanya. Waktu berjalan dengan cepat. Mungkin Arihiko dan Ciel-senpai sempat menghampiriku, tapi aku tidak begitu ingat. Siang datang, dan sekolah usai.
Aku tidak tahu dimana, tapi aku harus menemukan Yumizuka. Aku berjalan mencarinya berkeliling kota. Tapi tidak juga aku menemukannya. Akhirnya matahari mulai terbenam. Hingga selama ini pun, aku belum juga melihat tanda-tanda Yumizuka dimanapun.
“Cih…” aku menggigit bibirku dengan kesal. Tapi bukan marah karena aku tidak bisa menemukannya, tapi karena dua hari yang lalu aku pernah berjanji padanya.
___ Jadi, kalau aku dalam bahaya, kau akan segera datang dan menyelamatkan aku bukan?
Dia pernah meminta seperti itu, dan aku menjawabnya Ya. Aku akan mencoba semampuku. Tapi sekarang, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Menatap matahari yang semakin tenggelam. Mungkin aku baru bisa menemukannya setelah malam tiba.
“Tapi aku berjanji akan pulang sore hari”
Baiklah, aku akan kembali ke rumah dulu, dan memikirkan tindakkanku selanjutnya di kamar.
****
“Selamat datang, Shiki-sama”
“Aku pulang, Hisui. Mana Akiha?”
“Akiha-sama masih ada kegiatan di sekolah. Karena beliau mungkin datang terlambat, bagaimana kalau anda makan dulu?”
Kegiatan ya? Mungkin saja banyak kegiatan disekolahnya. Karena sekolahnya adalah sekolah putri yang sangat prestisius.
“Aku akan di kamar hingga waktu makan malam dan akku akan turun kalau makanan sudah siap”
“Baiklah, selamat beristirahat”
Berbalik, aku meninggalkan Hisui menuju kamarku.
*****
Makan malam usai. Setelah itu, aku hanya duduk-duduk di kamarku saja. Jarum jam menunjukkan jam sembilan malam. Karena jam malam rumah ini adalah jam 8, aku sudah tidak bisa keluar lagi.
Tapi itu hanya peraturan. Kalau mau, aku bisa saja keluar kapanpun. Aku tidak mau meninggalkannya sendirian. Aku tahu kalau mencari Yumizuka sekarang itu bisa berbahaya. Karena apapun alasannya, dia sudah membunuh banyak orang.
Saat itu, ketika kami pulang bersama, aku tidak bisa melupakan kata-kata terakhirnya.
"Aku akan mencarinya"
Aku mengganti bajuku, dan menyelipkan pisau dalam kantungku. dengan mengendap-endap, aku menyusup keluar rumah agar tidak membangunkan Akiha atau yang lainnya.
Lampu lobi mati. Sangat gelap dan sepi. Sangat sempurna untuk menyusup keluar.
Crek, crek
Hanya suara deritan tangga kayu yang kuinjak yang terdengar. menuruni tangga, aku bergerak menuju pintu depan. dan kemudian....
"__Kak? kakak mau kemana malam-malam begini?"
Akiha berdiri di tengah lobi, bertanya dengan suara yang hampir berbisik
"A, Akiha? kau sudah pulang rupanya"
"Ya. beberapa saat yang lalu. Tapi kak, yang lebih penting__ apa yang kakak lakukan? kakak berganti pakaian, jadi kelihatannya kakak mau pergi keluar"
Tatapan Akiha dingin menusuk dadaku. Bukan tatapan marah, tapi dia menatapku tidak percaya.
"Kakak hendak pergi keluar, dan mencari perkara seperti kemarin, bukan begitu Kak?"
"....... Maaf, temanku sedang dalam masalah. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri"
"Begitu ya. Apakah kakak akan tetap pergi meskipun saya berusaha menghentikan kakak?"
"Ya. tapi percayalah. aku tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku hanya ingin.... memeriksanya saja. Maaf aku sudah bikin masalah, padahal kau baru saja pulang"
Setelah mengatakan itu, aku melangkah keluar.
"... Kak ...." suara yang lembut. Tidak terdengar nada bicara Akiha yang biasanya. Seperti suara Akiha kecil 8 tahun yang lalu, yang selalu dipenuhi ketidak berdayaan.
"Kakak akan.... pulang bukan?" Suara Akiha dan wajahnya yang rapuh. Wajah Akiha yang terlihat selalu siap menangis, seperti 8 tahun yang lalu.
"Tentu saja. aku akan pulang. jadi jangan melihatku dengan wajah seperti itu"
"Tapi...."
"Tenang saja. Aku pasti kembali. Maaf, aku selalu membuat masalah"
"Kkakak!"
Tidak mengacuhkan panggilan Akiha dibelakangku, aku berlari keluar.
__Diluar, bulan bersinar terang.
Mungkin gara-gara melihat wajah Akiha tadi, aku jadi merasa aku tidak akan pulang selamanya.
***
Akhirnya aku tiba di distrik perbelanjaan. Kemungkinan besar Yumizuka akan muncul disini. Karena semua korban pembunuhan ditemukan disekitar distrik ini.
"Sial! apa yang sedang kupikirkan?!"
Aku mengumpati logikaku sendiri. Tapi paling tidak kemungkinanku bertemu dengannya disini lebih besar dari pada ditempat lain.
Aku mulai mencari Yumizuka.
Dimana dia? Dimana dia? Dimana dia? Aku tidak bisa menemukannya. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
*hosh hosh hosh*
Aku berlari, berlari, dan berlari.
*hosh hosh hosh*
Berlari dan terus mencari.
*hosh hosh hosh*
Tubuhku terasa panas karena kelelahan.
Sekarang hampir tengah malam. Mungkin sudah tidak ada gunanya mencari. Tapi masih ada satu tempat yang belum kucari.
Meninggalkan distrik perbelanjaan yang terang, aku menuju taman yang gelap. Karena pembunuhan berantai akhir-akhir ini, tidak ada seorangpun yang berada disini. Aku sendiri tidak pernah berharap menemukan Yumizuka disini, tapi tempat inilah satu-satunya tempat yang belum kucari.
Sepi. Dibawah sinar bulan ini, aku tidak merasakan adanya kehidupan. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa bulu kudukku berdiri semua. Kepalaku terasa berat, dan tubuhku terasa sangat dingin. Aku ketakutan.
Aku berusaha mengatur nafasku dan mengumpulkan keberanian. Berbeda dengan tubuhku yang dingin, tenggorokanku terasa panas mencekat, kering kehausan. Kumasukkan tanganku kedalam kantong celana, untuk memastikan bahwa aku membawa pisauku.
Ada yang aneh. Taman ini memancarkan aura buruk. Tapi aku terus berjalan menuju pusat taman.
Disana, aku melihat seseorang. Berlutut, dan bernafas. Dengan kesulitan. Wajahnya pucat, dia mencengkram lehernya sendiri, tampak kesakitan.
Yumizuka Satsuki.
“Yumizuka?” Akhirnya aku menemukannya. Tanpa memikirkan kejadian kemarin malam, aku berlari kearahnya.
“Jangan!” Yumizuka menghenikanku hanya dengan kata-katanya.
“Jangan Shiki-kun. Aku senang kau datang, tapi saat ini aku tidak ingin kau berada di dekatku. Kumohon, jangan mendekat”
Suara nafasnya menunjukkan kalau dia sedang menahan sakit. Tubuhnya gemetaran ketika dia berbicara, dia terlihat siap pingsan kapan saja.
“Dasar bodoh! Kau sakit! Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri”
“Tidak. Aku baik-baik saja. Karena kau datang, sekarang aku baik-baik saja” memaksakan diri untung berdiri, dia tersenyum padaku.
“Ada apa Yumizuka-san? Kenapa kau tidak pulang? Dan apa-apan kemarin itu? Kenapa …. Kemarin…. kau ….mereka….”
“Ya? Kenapa dengan kemarin?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti”
“Benarkah? Kau melihat apa yang terjadi kemarin bukan? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku yang membunuh orang-orang itu?” katanya tanpa ragu.
Dia terlihat seperti menertawakan kebingunganku.
“Apakah pembunuhan berantai akhir-akhir ini….. kau yang melakukannya, Yumizuka?”
“Pembunuhan? Aku tidak suka dengan kata itu. Tapi kalau kau bertanya, Ya. Aku yang melakukannya”
“Apa maksudmu?”
“Seperti itulah. Aku yang membunuh mereka, dan aku akan terus melakukannya”
“Yumizuka___kau..”
“Ayolah, aku memanggilmu Shiki-kun. Kuharap kau juga memanggil nama kecilku. Kau tahu, aku merasa sangat bodoh. Aku tidak pernah bisa berbicara seperti ini denganmu. Aku selalu melihatmu dari kejauhan.
“Yumi…zuka?”
“Selalu. Bahkan sejak sebelum kejadian di gudang olahraga, aku selalu melihatmu. Aku benar-benar seorang pengecut. Aku selalu mengiyakan semua perkataan temanku bila nampaknya benar. Sekolah tidak pernah menjadi tempat yang menyenangkan, Shiki-kun, sampai kau berbicara padaku. Waktu itu, kelas dua SMP”
“Eh?”
“Sudahlah, kau pasti tidak mengingatnya. Waktu itu kau… bagaimana mengatakannya ya? ….. tampak natural. Tidak pernah menonjolkan diri. Kau mungkin tidak pernah memikirkan apa yang sudah kau lakukan waktu itu”
Apa yang bisa kukatakan. Yang dikatakan Yumizuka benar. Aku tidak pernah mengingat apa yang sudah kulakukan. Aku tidak tahu apa yang kukatakan padanya. Aku bahkan tidak ingat kalau aku pernah bicara padanya waktu itu.
“Tidak apa, Shiki-kun. Janganlah berwajah seperti itu. Kau hanya mau bergaul dengan Inui-kun, jadi tidak heran jika kau tidak mengacuhkan teman sekelas lainnya. Tapi, kau tahu, hanya dengan sekelas denganmu saja, aku sudah merasa senang. Aku hanya ingin bercakap-cakap denganmu, dan mendengarmu memanggil namaku. Benar-benar impian yang sangat kecil, bukan?”
Dia mengatakannya dengan menerawang. Terlihat bernostalgia dengan kenangannya. Hari-hari itu, dia mengingatnya seakan telah lama berlalu.
“Aku selalu melihatmu. Meskipun aku tahu, tidak mungkin kau memberiku perhatianmu, tapi aku terus melihatmu.”
Jujur saja, aku merasa senang ketika dia mengatakannya.
“Kau menyukaiku, Shiki-kun?”
Mendapat pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba, membuatku bingung untuk menjawab. Diam adalah jawabanku.
Aku tidak pernah memiliki perasaan khusus terhadap teman sekelasku yang bernama Yumizuka Satsuki. Aku mencarinya hanya karena apa yang terjadi dua hari yang lalu membuat sebuah impresi yang sangat kuat di dalam kepalaku.
“Sudah kuduga. Kau mungkin bahkan tidak menyadari keberadaanku. Tidak mungkin kau menyukaiku__ AGH!!!”
Tubuh Yumizuka kembali gemetaran. Nafasnya memburu, dan tiba-tiba saja terjatuh berlutut. Dengan suara tercekik, Yumizuka memuntahkan darah dari mulutnya.
“YUMIZUKA!!”
Kali ini aku berlari kearahnya.
“Kau tidak apa-apa? Yumizuka!!”
Aku berusaha membopongnya, namun saat itu juga, aku merasa semua bulu kudukku berdiri. Aku merasakan tubuhnya yang, sangat dingin.
“Shiki-kun”
Suaranya yang gemetar memanggil namaku.
“Tidak apa….. jika kau tidak menyukaiku.”
Yumizuka terbatuk.
“Jangan bicara dulu. Akan kubawa kau ke rumah sakit sekarang”
“Tapi aku mengerti sekarang. Siapa dirimu, dan apa yang kau inginkan. Sekarang aku mengerti semuanya tentang dirimu. Karena….. aku sekarang telah berubah menjadi sesuatu yang sama denganmu, Shiki-kun”
Setelah mengatakannya, Yumizuka menancapkan taringnya ke leherku.
“A~ah…..”
Kabur. Kesadaranku mulai mengabur. Aku merasakan taring Yumizuka di leherku. Darahku di hisap. Rasanya jiwaku juga ikut di hisapnya. Kekuatanku menghilang perlahan.
“Yumi….zuka….”
Kedua lenganku bergerak dan mendorong tubuhnya menjauh dengan paksa. Dia kemudian jatuh terduduk.
“Kau… apa yang kau….” Dengan sisa-sisa kekuatanku, aku mencoba berdiri. Namun gagal. Aku tidak punya cukup kekuatan. Bekas gigitan Yumizuka membekas di leherku. Dan di dalam kedua lubang itu, aku bisa merasakan ada sesuatu yang memasuki tubuhku. Menginvasi. Sesuatu yang menyiksaku. Tubuhku terasa terbakar.
Sakit sakit sakit sakit
Dalam kesakitan, aku mencakari tanah.
Sakit sakit sakit sakit.
Dalam kesakitan, aku menggelepar di lantai.
Yumizuka melihatku dengan senyumnya.
“Jangan cemas, Shiki-kun. Rasa sakit itu hanya sementara. Setelah darah kita bercampur, rasa sakit itu akan menghilang. Jangan cemas. Kali ini aku melakukannya dengan sempurna. Kau tidak akan menjadi mahluk gagal seperti kemarin malam. Sekarang, kau akan besamaku selamanya.” Yumizuka terlihat kegirangan
“A, apa yang kau katakan? Yumizuka?”
“Aku bilang, aku menjadikanmu sama denganku, Shiki-kun. Kau akan menghisap darah, abadi, dan tidak bisa berjalan dibawah sinar matahari. Kau akan menjadi mahluk yang berbeda”
Jangan bercanda. Itu sama saja dengan menjadi…..
“Kau akan menjadi seorang Vampire. Kau tahu, aku sendiri tidak tahu kenapa bisa menjadi seperti ini. Dua malam yang lalu, aku hanya berjalan-jalan di distrik perbelanjaan. Dan kemudian, tiba-tiba saja aku mendapati diriku terkapar di gang kemarin. Awalnya aku merasa dingin dan sakit. Kemudian, secara aneh, tubuhku berubah dan aku seperti mengerti semuanya. Tubuhku sakit karena hancur dengan sangat cepat. Dan sinar matahari yang menjadi katalisnya. Dan untuk menggantikan sel-sel tubuhku yang rusak, aku perlu memperoleh informasi genetik dari mahluk hidup yang sama jenisnya dengan diriku dulu. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku mulai menghisap darah manusia secara acak. Dan kau tahu apa? Rasanya nikmat sekali! Rasa sakitku menghilang, dan rasanya aku seperti bisa melakukan apapun yang kuinginkan. Aku tidak menyesal karena aku melakukannya untuk bertahan hidup. Aku membunuh bukan karena aku menyukainya. Aku menghisap darah seperti layaknya manusia memakan daging ayam. Karena itulah, aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Awalnya memang seperti itu, tapi akhir-akhir ini menghisap darah menjadi sebuah kegiatan yang menarik. Kau mengerti bukan, Shiki-kun? Pastinya. Karena kau adalah seorang pembunuh yang jauh lebih baik daripada aku”
”Ap___”
Apa yang kau katakan, Yumizuka?
“Sudah kubilang aku selalu melihatmu. Karena itu, aku tahu sisi lembut dan sisi mengerikan yang ada dalam dirimu. Aku dulu tidak berani berbicara padamu karena aku tidak mengerti sisi mengerikanmu. Tapi sekarang aku mengerti. Kau sama denganku. Tidak masalah apakah kau menyukai atau membenci seseorang. Kau bisa membunuh siapapun yang kau inginkan”
“Jangan bercanda.” Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk membunuh
“Aku tidak bercanda!” kata Yumizuka keras. “Aku dulu tidak mengerti aura rapuh yang terpancar dari dirimu. Tapi karena sekarang tubuhku sudah berubah, aku mengerti semuanya. Ada orang-orang yang terlahir sebagai pembunuh alami, dan diantara mereka, kaulah yang terbaik. Kau tahu, aku sangat gembira kemarin. Pertama kalinya aku merasa senang setelah tubuhku berubah menjadi seperti ini. Karena akhirnya aku bisa mengerti dirimu sepenuhnya.”
“Jangan bercanda! Aku tidak pernah…..” aku tidak pernah? Ya aku memang pernah merasakan keinginan yang sangat kuat untuk membunuh seseorang.
“Sebuah keinginan membunuh, tanpa pengaruh dari emosi. Sisi rapuhmu yang selalu ingin kuketahui. Ah, aku lupa mengatakan satu hal lagi. Kau tahu bahwa seseorang menjadi vampire setelah darahnya dihisap oleh vampire bukan? Itu benar. Lebih tepatnya orang yang dihisap darahnya akan mati. Kemudian vampire akan menitikkan setetes darah kepada tubuh korban agar mereka menjadi bangsanya. Dan aku telah memasukkan setes darahku kedalam tubuhmua melalui gigitan tadi” Yumizuka mengatakannya dengan penuh kepuasan.
“Jadi… ini … ulah darahmu?”
Rasanya sakit sekali. Cukup untuk membuatku jadi gila.
“Baiklah, kurasa sudah cukup. Berdirilah, Shiki-kun”
Aku mendengar perintah Yumizuka. Perlahan rasa sakit yang kuderita menghilang. Aku kemudian berdiri.
“Bagus. Mulai sekarang, kita akan terus bersama, Shiki-kun. Kemarilah. Genggam tanganku, dan buatlah aku menjadi nyaman.”
Yumizuka menjulukan tangannya.
Jantungku berdebar keras. Kakiku mulai melangkah. Tapi tidak melangkah kedepan. Kakiku melangkah mundur.
“Shiki…kun?” Suara Yumizuka terdengar bingung.
Dadaku berdebar kencang.
Tenggorokanku terasa kering.
Seluruh tubuhku mengenali mahluk yang berdiri didepanku sebagai musuh.
Nafasku mulai memburu.
Aku berusaha melawan pengaruh ‘racun’ yang dimasukkan Yumizuka kedalam tubuhku.
“Kenapa? Kenapa kau tidak mengikuti perintahku?”
Deg deg
Jantungku berdetak semakin keras
Deg deg
Inikah naluri yang dikatakan oleh Yumizuka barusan?
Deg deg.
Naluri membunuh.
Deg deg.
Detak jantungku semakin keras, menyuruhku untuk mebunuh, dan membunuh.
“Kenapa? Kenapa darahku tidak bereaksi?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku memang merasa seperti ada lumpur di dalam tubuhku.” Dan itu pastilah darah vampire Yumizuka.
“Sudahlah Yumizuka-san. Percuma kau melakukan semua ini. Kau sedang sakit. Kita sekarang akan pergi ke rumah sakit, dan mencari cara untuk mengembalikantubuhmu seperti semula.”
Aku tidak ingin melihatnya tersiksa. Tapi dia melihatku dengan tatapan amarah.
“Darahku sudah bercampur dengan darahmu. Kau seharusnya sudah menjadi bagian dari diriku! Jangan-jangan…. Kau sudah berada dalam pengaruh seseorang sekarang?”
“Aku tidak tahu.Yang aku tahu adalah____ kau mengatakan gelap, dingin, dan sepi. Yang aku ingat adalah wajahmu yang tersenyum, memintaku untuk membantu setiap kali kau dalam kesulitan.”
Sejujurnya, aku tidak tahu vampire itu mahluk yang seperti apa. Tapi jika kau harus membunuh dan menghisap darah untuk bertahan hidup, dan kau masih merasa kesakitan, berarti kau harus mencari cara untuk mengubah tubuhmu kembali.
“Apakah kau masih merasa sakit?”
“Ya” jawab Yumizuka. Kadang aku masih merasa sakit hingga sekarang. Nadiku masih serapuh dulu. Jadi, aliran darah saja terasa sangat sakit. Lembut dan lemah. Mudah pecah kapan saja. Tapi selama aku menghisap darah, rasa sakit itu akan menghilang”
“Apakah kau masih merasa sakit?”
“Ya.” Jawab Yumizuka. “Hatiku terasa sakit. Karena aku harus menghisap darah orang lain untuk bertahan hidup. Aku memang tidak menganggap itu salah, tapi tetap saja hatiku terasa sakit. Aku takut jika diriku yang dulu benar-benar akan menghilang. Tapi aku tidak akan setakut itu jika aku tidak sendirian.”
“Kau bilang kau kedinginan”
“Ya” jawab Yumizuka.”Rasanya dingin sekali hingga jariku seperti membeku. Tapi kuarasa hal itu tidaklah buruk. Aku hanya tidak lagi bisa merasakan kehangatan.”
“Pernahkah kau meminta tolong?”
“Ya.” Jawab Yumizuka. “Tapi aku sudah tidak bisa tertolong lagi.”
“Kenapa?”
“Kenapa? Aku juga ingin tahu. Ketika aku terbangun, tiba-tiba saja tubuhku sudah menjadi seperti ini. Mungkin akan lebih baik kalau aku mati saja.”
“Kau bicara apa?!” Tidak mampu menerima kenyataan, secara tidak sadar aku berteriak.
Yumizuka tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Dua hari yang lalu….” Kata Yumizuka. “Aku adalah mahluk sepertimu. Rasanya benar-benar seperti mimpi. Aku baru menyadari berharganya saat-saat itu setelah aku kehilangan. Ya__ benar-benar seperti mimpi. Aku bersedia memberikan apapun jika aku bisa kembali seperti dulu.”
“Kalau begitu___”
“Tapi tidak mungkin, Shiki. Aku sudah tidak bisa kembali lagi. Aku harus terus hidup seperti ini. Kedinginan, kesakitan, dan…. kesepian”
Yumizuka terlihat sedih. Tubuhnya yang dingin gemetar.
“Aku kedinginan dan selalu kesepian kemanapun aku pergi” suara yang terdengar samar-samar keluar dari mulutnya.
Aku teringat janji yang kuucapkan dua hari yang lalu.
“Aku akan menolongmu. Aku akan melakukan apapun untuk___”
“Ha ha ha ha” tawa yumizuka memotong kalimatku. “Apakah kau masih berpikiran untuk mengubahku menjadi seperti dulu, Shiki-kun? kau benar-benar baik. Benar-benar terlalu baik untuk seseorang yang suka membunuh sepertimu.”
Yumizuka tertawa gembira.
“Tapi ada satu cara jika kau benar-benar ingin menolongku” mengatakannya, Yumizuka melangkah maju.
Deg deg
Aku merasakan adanya bahaya.
Deg deg
“Caranya sangat mudah, Shiki-kun.”
Deg deg
“Kau cukup menjadi temanku saja”
Mata Yumizuka berubah merah dan menatap tajam seperti menembus jantungku. Aku sadar aku sedang menghadapi bahaya, tapi kakiku tidak mau kusuruh bergerak.
“Dengan begitu, aku tidak akan merasakan lagi kesakitan, kedinginan, dan kesepian. Bahkan jika aku bisa bersamamu, maka aku akan merasa jauh lebih bahagia daripada ketika aku masih menjadi manusia.”
Deg deg
Jantungku berdetak semakin keras.
Deg deg.
Yumizuka meraih leherku dengan tangannya.
Deg deg.
Dengan cepat aku segera menggerakkan kepalaku, dan menjatuhkan diri ke tanah.. Akhirnya kakiku mau juga kupaksa untuk bergerak.
Penyerang, dan yang diserang saling menatap, saling terkejut.
“Begitu ya” kata Yumizuka memecah keheningan. “Kukira akan mudah untuk membuatmu jadi milikku.” Matanya yang merah terlihat haus darah.
Setiap rambut di seluruh tubuhku berdiri karena ketakutan. Dan tanpa sadar, aku mengambil pisau dari saku celanaku. Aku kemudian menggerakkan pisauku dengan gerakan yang lebih cepat daripada suara terkejutku sendiri.
“Eh?” tiba-tiba saja aku menebas paha Yumizuka.
Suara Yumizuka berteriak kesakitan terdengar keras. Ketika kulihat pisau ditanganku, aku melihat darah, dan kemudian aku menyadari jika paha Yumizuka telah sobek.
Kesadaranku kembali. aku segera berlari menuju Yumizuka yang bergulingan kesakitan di tanah.
“Ke, kenapa aku__”
Aku tidak tahu.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menebasnya. Aku hanya teringat ketika aku merasa ketakutan, dan tiba-tiba saja paha Yumizuka telah tersobek.
Hosh hosh!
Darah Yumizuka menghiasi mata pisauku.
Hosh hosh!
Aku bernafas seperti telah berlari jarak jauh.
Hosh hosh!
Aku masih mengingat sensasi ketika aku memotong paha Yumizuka.
Mengingatnya membuat nafasku semakin memburu.
Aku merasa takut. Dan dalam ketakutan itu, aku merasakan adanya kesenangan yang luar biasa.
Yumizuka berusaha membunuhku. Dan tubuhku bereaksi dengan sendirinya.
Aku harus lari. Kalau aku terus disini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti.
Tapi untuk apa aku lari? Tentu saja. Jika tidak, mahluk itu akan membunuhku. Maku bisa merasakan mahluk itu mengejarku dari belakang.
Kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Aku masih ingat senyum lembut Yumizuka sore itu. Tapi kenapa dia bisa berubah menjadi mahluk haus darah seperti ini?
Tiba-tiba saja ada yang memukulku dari belakang, dan membuatku terjatuh. Tubuhku memang lecet-lecet karena terjatuh ketika berlari, tapi punggungku terasa jauh lebih sakit. Dengan sebuah hantaman sekeras itu, tidak heran kalau aku sempat tidak bisa menarik nafas.
Ketika aku menoleh kebelakang, aku melihat sesuatu yang menghantamku menggelinding.
Kepala manusia.
Darah mengalir dari leher orang itu. Memerahkan aspal, dan menodai bajuku.
“Kena kau” suara gembira terdengar dari kejauhan. Dan semakin mendekat dengan cepat. Suara Yumizuka Satsuki.
“Sakitkah? Maaf, aku hanya ingin membuatmu terkejut dengan melempar ini” dia meminta maaf sambil menendang kepala orang itu ke sisi jalan.
“Di, dia….” Aku menunjuk kearah kepal itu.
“Oh, hanya orang yang kebetulan lewat” kata Yumizuka santai. “Aku sempat mencicipi darahnya, tapi darah pemabuk itu benar-benar menjijikkan. Shiki-kun. kalau kau nanti menjadi vampire, kau harus memilih korban yang berbadan sehat, tidak yang seperti ini”
Tersenyum tanpa rasa bersalah, Yumizuka berjalan mendekat. Bye-bye, katanya. Benar-benar berbeda dengan gadis yang kukenal dulu.
Percuma___
Ini percuma___
Yumizuka Satsuki, sudah tak tertolong lagi.
Perlahan, aku berdiri dengan menggenggam erat pisau ditanganku. Aku tidak pernah berencana untuk menjadi vampire dan menghisap darah orang. Jadi, hanya ada satu jalan untuk mengakhiri semua ini.
“Yumizuka-san, aku sudah tidak bisa menolongmu lagi”
“Oh, itu tidak benar. Kau akan menolongku jika kau mau bersamaku.”
Aku melepas kacamataku. Rasa sakit menyerang otakku. Ini adalah pertama kalinya aku melepas kacamata dengan niatan untuk membunuh.
“Aku senang kau bersemangat seperti ini, Shiki-kun. tapi sayangnya sudah terlambat. Pemenangnya sudah ditentukan sejak awal.”
Tiba-tiba saja Yumizuka menghilang, dan sesaat kemudian aku merasakan sesuatu yang menghantamku dari samping.
“Gaaakh!!” aku terlempar dengan punggung membentur dinding toko. Tapi aku masih bisa berdiri.
“Oh, kau masih bisa bergerak? Untuk seseorang yang sakit-sakitan, ternyata tubuhmu kuat juga, Shiki-kun”
Aku membuat sedikit kesalahan. Aku memang bisa melihat garis, tapi tetap saja aku ini manusia biasa. Lawanku ratusan kali lebih cepat dariku. Meskipun aku bisa melihat garis, percuma saja kalau aku tidak bisa menyentuhnya.
Yumizuka mencengkeram tanganku, dan kemudian melemparku dengan mudahnya. Sekali lagi, punggungku menghantam dinding sebuah toko.
Pandanganku menjadi gelap. Tubuhku sakit, dan aku kehilangan pengelihatanku.
“Belum saatnya tidur, Shiki-kun”
Mendengar suara Yumizuka, kesadaranku kembali dan aku langsung menggulingkan badan kesamping. Tepat di tempat sebelum aku berguling, Yumizuka menghantamkan tangannya. Saura aspal yang pecah mencapai telingaku.
Aku memaksa tubuhku yang masih sedikit mati rasa untuk bergerak menjauh. Perlahan, pengelihatanku kembali normal.
“Kau….!” Aku mengacungkan pisau kearah Yumizuka.
“Sudah kubilang percuma. Sebaiknya kau menyerah saja, Shiki-kun”
Dia mendekat dan berusaha meraihku. Tapi kali ini, aku berhasil menghindar. Aku mendengar suara tidak percaya Yumizuka. Sekarang aku berdiri tepat dibelakangnya.
“Kubilang,…. JANGAN BERGERAK!!!”
Teriakan Yumizuka membahana. Aku mengayunkan pisauku seperti orang gila. Dan salah satunya mengenai Yumizuka. Sesaat aku merasa menyesal, tapi kenapa aku harus menyesal terhadap orang yang berusaha membunuhku?
“Pembohong!!” Yumizuka menekanku mundur hingga membentur tembok gang buntu. Yumizuka kemudian memukul. Aku secara reflex memejamkan mata, bersiap menerima pukulan.
“Eh?”
Dinding dibelakangku bergetar. Ternyata pukulan Yumizuka mengarah ke dinding.
“Pembohong!” teriak Yumizuka. “Kau bilang kau akan menolongku jika aku berada dalam kesulitan”
Wajah Yumizuka terlihat sangat emosional.
“Kenapa?! Apa karena aku telah menjadi mahluk seperti ini? Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa!! Aku menjadi seperti ini bukan karena aku ingin…..”
Seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk, Yumizuka terus-terusan memukuli tembok dibelakangku.
“Rasanya sakit! Sakit sekali! Tapi kenapa kau tidak menolongku?! Kau berjanji akan menolongku, tapi kenapa….”
Perlahan ketakutanku menghilang.
“Seandainya saja kau mau berada di sisiku, aku bisa menahan semua rasa sakit ini. Kenapa? Kenapa kau tidak mau menerimaku?”
Dia menangis. Kebencian Yumizuka satsuki tidak ditujukan kepadaku, Tohno Shiki. Tapi dia membenci dirinya sendir yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menerima nasibnya.
Yumizuka menatap tubuhku yang tidak bergerak dengan wajah terkejut. Dia seperti menyesal dengan apa yang dilakukannya.
“Sh…Shiki-kun. aku tidak bermaksud… tidak…”
Suaranya terdengar gemetaran. Dia berusaha mengendalikan diri, namun suaranya terdengar seperti akan menangis.
Tidak apa. Tidak perlu menyalahkan diri seperti itu. Meskipun jiwa dan ragamu berubah menjadi vampire, kau tetaplah hanya seorang korban. Yumizuka, kau mengatakan kalau kau kesakitan, kedinginan, dan kesepian. Hanya ada satu yang bisa kulakukan untuk menolongmu.
“… Kau boleh meminum darahku”
“Shiki-kun?”
“Kau boleh meminum darahku. Aku akan selalu bersamamu”
Setelah sempat ragu, dia akhirnya memelukku.
“Benarkah tidak apa-apa?” dia terdengar seperti antara ragu dan senang.
Ironis sekali. Dia memang telah menjadi vampire. Tapi bagian yang terpenting, hatinya, masih manusia. Karena masih memiliki hati manusia, Yumizuka Satsuki merasa sakit setiap kali menghisap darah. Selama hatinya seperti itu, dia akan terus merasa kesakitan.
Perlahan dian menancapkan taringnya ke leherku. Kemudian aku bisa merasakan suhu tubuhku yang semakin turun.
Sunyi.
Sebuah kematian yang sunyi.
Dengan ini, Tohno Shiki akan menghilang, dan semuanya akan selesai.
Tiba-tiba saja aku teringat wajah Akiha kecil yang menangis ketika aku meninggalkannya untuk tinggal bersama keluarga Arima.
Kakak akan.... pulang bukan?
Aku teringat kata Akiha beberapa saat yang lalu.
Akiha. Adiku yang kutinggalkan sendiri selama 8 tahun lamanya. Aku belum pernah melakukan apapun untuknya sebagai seorang kakak.
Selalu___
Selalu sendiri di dalam rumah yang besar itu.
“Aki__ha…”
Tidak. Aku tidak boleh seperti ini.
“Yumizuka-san… maafkan aku”
Aku menggerakkan pisauku, dan memotong garis yang ada di dadanya, seorang gadis yang pada saat-saat terakhir terus meminta pertolongan. Dan aku menusukkan pisauku ke dada gadis itu.
“Shiki…-kun…” perlahan Yumizuka menarik diri dariku.
“Maaf, aku tidak bisa menolongmu, Yumizuka-san”
Hanya inilah yang bisa kulakukan. Jika dia tidak bisa lepas dari rasa sakit, akan kuberikan sebuah kematian tanpa rasa sakit.
“Aku mengerti. Pada akhirnya, aku tidak bisa bersamamu, bukan?” suaranya terdengar sangat damai. Terdengar seperti suaranya dua hari yang lalu.
“Aku senang, meskipun hanya sesaat, kau memilihku Tohno-kun. Mungkin mati seperti ini tidaklah terlalu buruk. Semua rasa sakit menghilang seperti sihir.” Dia kembali memanggilku dengan ‘Tohno-kun’
Aku merasakan sesuatu yang menggelitik di kakiku. Aku melihat kaki Yumizuka telah menjadi abu dari lutut kebawah.
“Dan aku bisa merasakan kehangatan sekarang. He he he.. ini pasti kehangatanmu, Tohno-kun” katanya bahagia.
Ini adalah penyesalan paling murni yang kurasakan. Sebuah penyesalan yang membuatku ingin mati saja. Aku sudah mempersiapkan diri untuk mendengar kata-katanya yang penuh kebencian ketika aku memutuskan untuk mengkhianatinya.
Tapi kenapa? Kenapa kalimat seperti itu yang kau katakan? kenapa dengan suara yang terdengar bahagia? Kenapa kau tidak menyalahkan aku?
Mataku terasa pedih hingga aku menitikkan air mata.
“Tohno-kun, kau menangis. Kau benar-benar orang yang baik. Bahkan setelah aku melakukan hal-hal buruk padamu, kau tetap menangis untukku. Yah, mungkin karena itulah aku menyukaimu. Aku selalu memperhatikanmu, karena itulah aku tahu segala hal tentangmu yang tidak diketahui oleh orang lain.”
Dia terdengar sangat bangga. Dan aku bisa merasakan kalau bagian bawah tubuhnya telah menghilang ditiup angin.
“Aku ingin berbicara denganmu lebih sering. Sebagai teman sekelas. Lebih sering. Karena itu aku tidak ingin aku mati sekarang.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya terdiam. Dia kemudian menyandarkan kepalanya dibahuku.
“ini adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan untukku. Jadi jangan menangis, Tohno-kun. kau melakukan hal yang benar. Ah, sepertinya aku tidak akan bisa berbicara lagi, baiklah kalau begitu, Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun”
“Yu, Yumizuka__”
“Selamat tinggal, dan.. terima kasih”
Angin bertiup membawa abu yumizuka menghilang dari hadapanku. Tubunya menghilang seperti sihir. Yang tertinggal hanyalah penyesalan.
Aku membunuhnya.
Aku berjanji untuk menolongnya, tapi pada akhirnya aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.
Selamat tinggal, dan …Terima kasih
Kenapa dia berterima kasih padaku? Aku membunuhnya, dan dia berterima kasih padaku.
Dengan menyeret tubuhku yang penuh luka, aku berjalan pulang.
Pintu rumah terbuka dengan suara berderik. Dengan tertatih-tatih, aku berhasil membawa tubuhku yang penuh luka kembali ke rumah.
“__Ah” aku melihat Akiha di lobi. Apa dia terus menungguku selama ini?
“Kak, apa yang kakak lakukan selama ini? Jam berapa sekar__ Kak, kau..?” Akiha terlihat sangat terkejut.
Kenapa? Aku bahkan tidak tahu kenapa dia bisa terkejut sampai seperti itu.
“Tu, tunggu sebentar. Kakak kenapa? Kakak terluka dimana-mana dan… Kakak terlihat…”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab apapun. Aku bahkan tidak tahu apa yang dikatakan oleh Akiha barusan.
“Po, pokoknya saya akan merawat luka kakak terlebih dahulu. Kakak bisa berjalan?”
Aku mengangguk.
“Saya akan mengambil kotak P3K, kakak silahkan menunggu di ruang tengah” Akiha menghilang dengan langkah yang cepat.
********
Akiha merawatku sendiri. Dia mengelap tubuhku yang kotor dengan handuk, menyiapkan makanan, dan menemaniku sampai kamarku. Selama itu, aku tidak bisa berkata satu patah katapun.
“Baiklah, saya akan kembali ke kamar. Kakak beristirahatlah dengan tenang”
Sampai akhir dia tidak bertanya kenapa aku bisa sampai seperti ini.
Dia kemudian berbalik.
Dia hendak pergi meninggalkan kamarku.
Meninggalkanku.
Menghilang
Seperti gadis yang baru saja kubunuh.
Tanpa berpikir, aku langsung meraih lengan Akiha. Dan kemudian, aku memeluknya. Erat.
“K, kak?”
Aku tidak ingin sendiri. Aku tidak ingin kesepian. Aku akhirnya mengerti perasaan Yumizuka Satsuki.
Aku memeluk Akiha tanpa berpikir. Dan akiha hanya diam. Meskipun seharusnya dia menolakku, dia tetap bergeming.
Seperti ini. Aku ingin tetap seperti ini.
“Aku… benar-benar jahat” Aku mengakui dosaku. “Aku ingin menolongnya. Aku ingin menolongnya, tapi akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Seperti mencari pencerahan, aku memeluk Akiha lebih erat lagi.
Seakan tersadar, Akiha kemudian melepaskan pelukanku.
“Kak, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kupikir sebaiknya aku tidak menanyakannya padamu. Aku tidak bisa memberi jawaban. Kakak harus mencari jawabannya sendiri”
Kata-katanya tajam dan langsung mengena. Yang dikatakannya benar, dan akhirnya aku kembali tersadar.
“Maaf, lupakan saja yang barusan”
“…….” Terdiam sejenak, Akiha kemudian meninggalkan kamarku. Tapi sebelum keluar, dia berkata,”Saya tidak akan bertanya apa yang terjadi. Namun ketika Kakak pergi, saya merasa sangat ketakutan. Saya merasa jika kakak akan pergi lagi, dan tidak akan kembali, seperti 8 tahun yang lalu”
Dia kemudian terbatuk, yang menurutku seperti disengaja, dan melanjutkan,”Namun akhirnya Kakak kembali. Kakak tadi bilang kalau Kakak tidak berhasil menolong seseorang. Tapi paling tidak Kakak telah menyelamatkanku dari ketakutan. Jadi selamat datang kembali, Kak. Kembalinya kakak benar-benar membuatku…. senang”
Aku bisa melihat wajahnya yang sedikit memerah malu-malu ketika mengucapkan kalimat terakhir itu.
“Sa, saya akan mengatakan dengan lebih jelas lagi agar Kakakku yang bodoh dan lamban ini mengerti. To, tolong jangan tinggalkan adikmu yang manis ini sendiri lagi”
Mendengar kata-kata Akiha seperti menghilangkan bebanku. Sekarang aku merasa sangat ringan. “Aku mengerti. Tapi manis? Kau benar-benar bisa memuji dirimu sendiri, Akiha”
Akiha tersenyum melihatku yang sudah bisa tertawa. “Selamat tidur Kak, mimpi indah. Besok adalah hari yang baru untuk Kakak”
Dengan itu Akiha pergi. Dan aku membaringkan tubuhku diatas ranjang.
Apa yang terjadi pada Yumizuka akan selalu membekas dalam hatiku. Tapi aku tidak boleh terus bermuram. Aku tidak boleh menyesali tindakanku selama-lamanya. Aku harus percaya jika yang kulakukan adalah yang terbaik, meskipun aku tahu itu dosa. Dan aku siap untuk menerima hukumannya suatu saat nanti.
“Aku pulang, Akiha” gumamku, dan kemudian aku tertidur.
• Read More..
Labels:
Tsukihime: Akiha Ending
Monday, August 16, 2010
CHAPTER 2: Inversion Impulse #2
Dulu, halaman rumah terlihat seperti taman bermain yang luar biasa besar. Kebunnya terlihat seperti hutan. Rumahnya sendiri terlihat seperti kastil. Waktu itu Aku berpikir untuk menjelajahi seluruh rumah saja mungkin memerlukan waktu berhari-hari.
Dulu setiap hari terasa menyenangkan. Tidak ada yang berpikir untuk cepat menjadi dewasa. Kami percaya, bahwa setiap hari akan selalu sama.
Dulu, kami hanya anak-anak yang senang bermain. Kami sangat akrab. Setiap kali Aku menoleh kebelakang, Akiha selalu disana bersembunyi sambil melambaikan tangannya dengan malu-malu.
Dulu, halaman rumah terlihat seperti taman bermain yang luar biasa besar. Kebunnya terlihat seperti hutan. Rumahnya sendiri terlihat seperti kastil. Waktu itu Aku berpikir untuk menjelajahi seluruh rumah saja mungkin memerlukan waktu berhari-hari.
Dulu setiap hari terasa menyenangkan. Tidak ada yang berpikir untuk cepat menjadi dewasa. Kami percaya, bahwa setiap hari akan selalu sama.
Dulu, kami hanya anak-anak yang senang bermain. Kami sangat akrab
“Selamat pagi”
Aku mendengar suara yang terdengar asing ditelingaku
“Sudah pagi, sudah saatnya Anda bangun, Shiki-sama”
Aku membuka mataku. Aku melihat Hisui berdiri jauh dari tempat tidur, berdiri seperti patung.
“........”
Aku dimana ya?
“Selamat pagi, Shiki-sama” kata gadis berpakaian maid itu sambil membungkukkan badannya.
“Ah ya, aku sudah kembali ke rumahku. Benar....”
Aku memaksa diriku sendiri untuk melihat sekeliling.
“Selamat pagi, Hisui. Terima kasih telah mau membangunkanku”
“Tidak perlu berterima kasih, Shiki-sama. Adalah tugasku untuk membangunkan Anda.”
Hisui memberi jawaban yang datar dan tanpa ekspesi. Meski begitu, aku melihat bahwa sebenarnya Hisui sangat cantik. Akan sangat menyenangkan bila seorang gadis seperti ini membangunkanku setiap pagi dengan senyuman. Namun tampaknya tidak bisa untuk Hisui. Sayang sekali. Seandainya saja Hisui memiliki setengah dari keceriaan Kohaku, dia pasti tampak sangat manis.
“Anda memerlukan sesuatu?”
Menyadari aku menatapnya, Hisui balas menatapku.
“Tidak, tidak usah. Melihatmu ketika aku bangun pagi meyadarkanku bahwa sekarang aku berada dikediaman Tohno.”
Kemudian aku bangun dan sedikit meregangkan tubuhku.
“Shiki-sama, kalau tidak cepat, anda akan terlambat. Jarak dari sini menuju sekolah anda memerlukan waktu tempuh 30 menit. Artinya anda hanya punya waktu 20 menit untuk sarapan”
“Eh?” aku melihat jam dinding. “AAAAAH!! Sudah jam 7!!”
“Seragam Anda telah saya lipat dan saya letakkan di meja. Harap segera turun bila Anda telah selesai berganti pakaian.”
Setelah selesai berganti baju, aku segera turun.
Dibawah, Akiha dan Kohaku terlihat berada di ruang tengah. Akiha mengenakan seragam sekolah putri Akagami. Sebuah sekolah putri yang sangat terkenal. Mereka sedang minum teh bersama. Seolah-olah waktu sarapan telah usai. Aku kemudian menyapa Akiha.
“Selamat pagi Akiha,”
“Selamat pagi Kak” balas Akiha dengan tenang.
“Selamat pagi Shiki-san. Sarapan sudah tersedia di meja makan. Silahkan” Kata Kohaku dengan senyuman hangatnya, sangatberbeda dengan Akiha yang dingin.
“Ah, tentu saja. Sepertinya kalian sudah selesai sarapan ya?”
“Tentu saja. Saya tidak tahu jam berapa biasanya kakak bangun, tapi biasakanlah untuk sarapan tepat waktu. Sarapan setelah jam 7 menunjukkan kemalasan kakak”
“Sarapan jam 7 itu normal bagiku. Memangnya jam berapoa kau bangun pagi, Akiha?”
“Jam 5. Kenapa?” tanya Akiha judes
Wow pagi sekali.
“Selain itu Kak, bukankah sekolah kakak berjarak hanya 30 menit jalan kaki dari sini. Jangan sampai terlambat. Itu akan sangat memalukan.”
Kata-kata Akiha benar-benar ‘berduri’. Tapi karena dia benar, aku tidak bisa melawan.
“Akiha-sama, sudah saatnya untuk berangkat”
“Iya iya, aku tahu. Ck, jangan terlalu mencemaskan hal-hal kecil” seperti mengeluh, Akiha berdiri. “Baiklah, saya berangkat sekarang” setelah mengatakannya, Akiha berjalan meninggalkan ruang tengah dan KOhaku mengikutinya dari belakang.
“Baiklah, aku juga harus bergegas”
Setelah aku menghabiskan makanan yang dibuatkan oleh Kohaku, aku menuju lobi. Disana, Hisui telah menungguku dengan membawakan tas sekolahku.
“Apakah anda tidak akan terlambat?” tanya Hisui.
“Jika aku lari, dari sini ke sekolah tidak sampai 20 menit. Sekarang jam 7.30. Kurasa aku tidak akan terlambat.”
Mendengar penjelasanku, Hisui mengangguk
“Baiklah, saya akan mengantar anda sampai kepintu gerbang.”
Sebenarnya agak sedikit malu aku memiliki pelayan pribadi.
“Shiki-san! Tunggu”
Dengan sedikit tergesa-gesa, Kohaku menuruni tangga dari lantai dua.
“........”
Hisui sedikit mundur begitu Kakaknya muncul.
“Bukankah tadi kamu bersama Akiha?” aku bertanya
“Akiha-sama, berangkat kesekolah dengan mobil. Karena saya harus menyerahkan sesuatu pada Anda, saya tetap tinggal di dalam.”
“Memberiku apa?”
“Ini. Ini dari keluarga Arima.”
Kohaku tersenyum.
“Huh? Tapi sepertinya semua barang-barangku sudah sampai disini, kok. Semua yang kugunakan ketika aku masih disana adalah milik keluarga Arima. Jadi sebenarnya barang-barangku hanya berupa baju saja.”
“Benarkah? Tapi benda ini juga dikirim kemari”
Kohaku menyerahkan sebuah kotak kayu tipis. Mungkin panjangnya sekitar 20 cm, dan tidak berat
“Kohaku, aku belum pernah melihat benda ini sebelumnya.”
“Mungkin dari almarhum tuan Mikihisa?”
“Dari Ayah?”
Aku malah merasa heran. Benarkah Ayah yang mengusirku selama 8 tahun itu meninggalkan sesuatu untukku?
“Baiklah kalau begitu, Kohaku, tolong kamu letakkan benda ini dikamarku”
“___________”
Kohaku terus memandangi kotak kayu itu. Dia terlihat seperti anak kecil yang menginginkan mainan baru.
Teruuuus memandang.
Dia mungkin benar-benar anak kecil.
“Baiklah, kamu ingin tahu apa yang ada didalamnya kan?”
“Oh, tidak kok. Aku hanya bertanya-tanya kira-kira apa yang ada didalamnya.” Jawab Kohaku tersipu.
Itu sama saja Kohaku. Aku tersenyum.
“Baiklah, kita buka. Satu.... dua... tigaaaaa!!”
Terdengar suara ketika kotak kayu itu dibuka. Didalamnya terdapat batangan besi tipis berukuran 10 Cm.
“Apa ini?”
Bentuknya sudah tidak karuan dan ada banyak bekas jari diatasnya.
Mungkin ayah benar-benar membenciku karena meninggalkan sebuah sampah seperti ini.
“Shiki-san, ini sebuah pisau”
Ah, benar juga. Aku baru sadar.
“Tua, tapi tampaknya sangat kuat.” Aku mengambil pisau itu.
“Ah, di gagangnya tertulis tahun dan era pembuatannya.” Kata Kohaku
Memang ada tulisan digagang pisau ini. Tulisan ‘tujuh’ dan ‘malam’
“Kakak. Tidak ada nama era yang seperti itu. Disitu hanya tertulis Nanaya (tujuh-malam)”
“!!!”
Aku sedikit terkejut. Hisui yang sedari tadi diam ternyata melihat pisau ini dari balik bahuku.
“K, kau membuatku kaget, Hisui. kamu tidak perlu melihat dari balik bahuku seperti itu, kau tahu. Jika kamu ingin melihat, akan kutunjukkan padamu.”
“Ah____” Tiba-tiba saja pipi Hisui sedikit memerah. “Ma, maafkan saya. Pisaunya sangat bagus sehingga saya, .....” kata Hisui terbata
“Bagus? Kau pikir ini bagus? Hanya sebuah pisau tua menurutku,”
“Anda salah. Pisau ini ditempa dengan sangat baik. Saya rasa pisau ini memiliki sejarah yang panjang.”
“Benarkah?”
Karena Hisui terlihat sangat yakin, aku mulai berpikiran sama. Kalau begitu, ini warisan yang tidak terlalu buruk.
“Nanaya? Apa mungkin nama pisau ini ya?” tanya Kohaku.
“Mungkin juga” Aku memandangi pisau yang ada didepanku. Tidak salah lagi, pisau ini adalah barang antik.
“Baiklah, pisau ini aku ambil” Aku memasukkan pisau itu kedalam kantong celanaku.
“Shiki-sama, apakah Anda tidak terlambat?” Tanya Hisui tiba-tiba.
“Ahh! Aku akan terlambat. Aku pergi sekarang. Kohaku terima kasih telah menyampaikan pisau ini”
“Sama-sama” Kohaku tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Aku segera keluar dari rumah melewati kebun menuju gerbang depan. Hisui mengikutiku dari belakang.
“….. kau mengantarku, Hisui?”
Hisui menjawabnya dengan anggukan.
“Shiki-sama, kira-kira jam berapa anda akan pulang?”
Sepertinya Hisui masih akan terus menggunakan ‘-Sama’ sampai kapanpun. Kalau aku tidak bergegas aku akan terlambat. Sebaiknya aku membahas masalah ini lain kali saja.
“Shiki-sama?”
“Ah, iya. Sekitar jam 4 mungkin. Soalnya aku tidak ikut klub apapun”
“Saya mengerti. Hati-hatilah dijalan”
“Tentu saja. Terimakasih”
Melambaikan tangan kearah Hisui, aku berjalan meninggalkan pintu gerbang.
Aku berjalan melalui jalan yang tidak biasa kulewati. Bisanya aku berangkat dari rumah keluarga Arima. Jadi ini pertama kalinya aku beangkat melalui jalan ini. Yang baru memang hanya rute jalannya. Namun aku merasa akan pergi kesekolah yang baru.
“Tidak banyak murid sekolahku yang lewat sini”
Jarang sekali ada orang yang tinggal didaerah ini. Jam 7.30 pagi. Aku tidak melihat murid sekolahku yang berangkat melaui jalan ini sama sekali.
Memasuki daerah perkantoran, suasana semakin ramai. Banyak terlihat orang-orang bersiap untuk bekerja. Aku merasa atmosfer disini sedikit berbeda. Rasanya sedikit berat. Mungkin disebabkan karena pembunuhan berantai itu. Pagi ini, jumlah orang yang berada dijalanan lebih sedikit dari biasanya.
“Yumizuka… tidak ada. Yah, aku tidak mungkin selalu beruntung bisa berpapasan dengannya” aku tersenyum mengingat wajah manis teman sekelasku itu.
Teringat Yumizuka, aku mempercepat langkahku. Aku ingin segera sampai sekolah.
Akhirnya aku sampai. Beberapa menit sebelum jam pertama dimulai, kelas sudah ramai. Sambil menunggu bel, semua teman teman dikelasku sedang megobrol dengan yang lainnya. Sangat ramai seperti ada festival yang diadakan disini. Tapi ada yang aneh dengan suasana kelas pagi ini.
Aku berjalan menuju kursiku yang letaknya dekat jendela, dimana Arihiko menungguku dengan wajah cemberut.
“Hei, Arihiko, kelihatannya ada yang aneh pagi ini. Kau tahu sesuatu?”
“Entahlah. Katanya sih, ada murid kelas ini yang kabur dari rumah”
“Benarkah?” aku duduk di kursiku sambil menghela nafas. “Siapa?”
“Mana aku tahu? Kita akan tahu setelah homeroom. Kursi siapa yang kosong, dia yang kabur dari rumah”
Dia benar, tapi aku merasa Arihiko sedikit keterlaluan. Salah satu teman sekelas kami ada yang menghilang, tapi dia tidak menghiraukannya seakan mengatakan ‘bukan urusanku’
“Kau tidak cemas, Arihiko?”
“Aku? Kenapa? Kamu ini terlalu pencemas. Yang kabur kan bukan aku atau kamu, jadi cuek aja”
Aku lupa. Orang satu ini sangat dingin terhadap orang lain selain temannya sendiri.
“Tapi sebenarnya aku cemas juga, sih. Kau tahu dia kabur saat seperti ini. Entah dia berani atau….”
“Saat seerti ini? Maksudmu?”
“Kemarin aku sudah cerita, Shiki. Tentang pembunuh berantai. Bukan salah siapa-siapa kalau secara kebetulan dia bertemu dengan pembunuh itu”
“Ah, itu tidak mungkin terjadi”
“Kau harus lebih sering nonton TV, Shiki. Korban kedelapan telah ditemukan. Malam hari, kota ini sekarang sangat sepi. Hanya ada pemabuk danpolisi yang berkeliaran.” Kata Arihiko serius.
Mendengarnya, aku juga mulai merasa tidak nyaman.
“Ah itu Kunifuji-sensei datang. Homeroom akan dimulai” Arihiko kemudian meninggalkanku dan berjalan menuju kursinya.
Homeroom dimulai, dan semua murid duduk di kursi masing-masing. Hanya ada satu kursi yang kosong. Tidak salah lagi. Tidak ada yang duduk di kursi milik Yumizuka Satsuki.
-“Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun”-
Itu adalah kata-kata Yumizuka sebelum kami berpisah kemarin. Aku tidak tahu apa yang terjadi dirumahnya, tapi tidak mungkin seseorang mengembangkan senyum seperti itu sebelum kabur dari rumah.
“Ah, Yumizuka absen rupanya” kata Kunifuji-sensei ketika mengabsen. Yumizuka hanya dianggap absen saja. Seakan tidak terjadi apa-apa, homeroom berjalan seperti biasanya. Aku ingin bertanya mengenai Yumizuka, tapi tampaknya Sensei tidak akan menjawabnya. Jika dia kabur dari rumah, itu urusannya sendiri.
Toh gosip itu belum tentu benar. Mungkin saja Yumizuka hanya terlambat.
*******
Aku masih merasa tidak bersemangat meskipun waktu makan siang tiba. Meskipun gosip mengenai Yumizuka yang kabur dari rumah cukup mengejutkan, tapi itu bukan topik yang ramai dibicarakan. Semua tampak biasa-biasa saja. Mungkin hanya aku yang mencemaskan teman sekelasku yang absen itu.
“Shiki, ayo makan” ajak Arihiko.
“Tidak dulu deh, lagi malas makan”
“Jangan terlalu memikirkan masalah orang lain”
Masalah orang lain heh? Kata-kata Arihiko benar juga.
“Kau tidak ikut makan hari ini?”
Aku dikejutkan sosok berkacamata yang tiba –tiba muncul.
“Senpai? Apa yang kau lakukan di kelas kami?”
“Rencananya sih, makan siang bersama kalian. Tohno-kun, kau tidak ikut makan?” duduk diatas meja, Senpai memandangku curiga.
“lagi tidak nafsu, Senpai”
“Sakit?”
“Tidak juga. Silahkan Kalau mau makan, kalian bisa ke kantin sekarang.”
“Kau terlihat…. Tidak bersemangat. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kalau kau tidak makan, kau malah akan sakit beneran.”
“Iya sih, tapi……”
Aku tidak lapar.
“Baiklah kalau begitu. Kuajak kau ke tempat spesial. Sebenarnya tempat ini rahasia, tapi khusus untukmu saja, Tohno-kun”
Kemudian Senpai menarik tanganku dengan paksa, menyuruhku mengikutinya.
Ciel Senpai membawaku ke sebuah ruang kelas yang kosong di ujung gedung sekolah.
“Disini?”
“Benar. Karena disini sanagt tenang.”
“Tapi bukankah kelas ini dikunci, Senpai?”
“Hanya digunakan oleh anggota klub upacara minum teh”
Senpai mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.
“Oh, jadi Senpai anggota klub itu?”
“Benar. Dan satu-satunya” tertawa, Senpai memasuki ruang kelas yang disulap menjadi bergaya jepang klasik.
Suasana didalamnya membuatku lupa kalau sebenarnya ruangan ini masih didalam gedung sekolah.
Lembutnya tatami dan sinar matahari yang masuk melalui jendela membuatku merasa rileks.
“Seperti yang kukatakan tadi, aku satu-satunya anggota klub ini. Jadi aku bisa bebas menggunakan ruangan ini selama istirahat siang dan sepulang sekolah. Ini silahkan”
Senpai menyerahkan bantal duduk padaku.
“Aku akan membuat teh sekarang. Silahkan duduk, Tohno-kun”
Tidak ada salahnya menuruti Senpai. Jai aku patuh saja dan duduk mematuhi perintahnya.
Inilah sihir ruangan yang bergaya jepang klasik. Semua hal yang membuatku resah perlahan menghilang. Sekarang aku bisa memikirkan apa yang terjadi dengan Yumizuka dengan kepala dingin.
“Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu, Tohno-kun. Jadi sekalian makan siang saja” kata Senpai sambil menyuguhkan teh.
“Apa?” Aku meminum teh yang suguhkan. Karena berada dalam ruangan bergaya jepang, secara otomatis aku menegakkan punggungku.
Aku melakukannya secara tidak sadar. Keluarga Arima tempatku dulu tinggal membuka kursus upacara minum teh. Mungkin gara-gara aku dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, aku jadi lebih menyukai kamar bergaya jepang daripada bergaya barat.
“Kalau kau tidak keberatan, aku ingin tahu tentang keluargamu”
“Bukannya keberatan, tapi kurasa cerita tentang keluargaku kurang menarik”
“Tidak masalah, aku cuma pingin dengar. Kemarin kau bilang kau ‘pindah ke rumahmu’. Aku masih belum begitu jelas maksudmu” Senpai bertanya dengar wajah yang dipenuhi rasa ingin tahu.
“Menjelaskannya bagaimana ya? Bisa dibilang seperti ini, aku ini anak yang dibuang. Dulu aku pernah mengalami kecelakaan parah ketika masih berum,ur 9 tahun. Aku sembuh, namun setelah itu, aku sering mengalami anemia dan mudah muntah-muntah. Karena itu aku dititipkan kepada keluarga Arima”
“Jadi keluarga Arima menjadi orang tuamu sejak kau berumur 9 tahun?”
“Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya ayah kurang menyukaiku. Dan setelah aku dititipkan, aku tidak akan pernah mau kembali kerumah. Dulu aku mengira akan tinggal bersama keluarga Arima selamanya. Namun setelah ayah meninggal, aku diminta pulang kembali kerumahku”
Ceritaku selesai sampai disitu. Senpai terlihat mengangguk-angguk kecil.
“Boleh tanya lagi?”
“Silahkan Senpai”
“Apa kau tidak menyukai keluargamu dulu?”
Keluargaku dulu, keluarga Arima. Mereka yang membesarkanku seperti anaknya sendiri. Ayah dan ibu yang tidak berhubungan darah denganku.
“Aku menyukai mereka. Mereka sangat baik padaku meskipun aku bukan anak kandung mereka”
Aku sangat menyukai keluarga itu. Suatu saat, aku akan benar-benar menjadi anggota keluarga mereka. Itu yang kupikirkan sejak kecil.
“Aku bahagia bersama mereka. Aku menganggap keluarga Arima adalah keluarga yang paling ideal menurutku”
“Ada ‘tapi’nya bukan?” Tanya senpai setelah menatap wajahku lekat.
“……… Ya. Meskipun aku sangat menyukai mereka, tapi tetap saja ada sebuah garis yang memisahkan kami. Garis yang bernama ‘ikatan darah’. Aku tahu seharusnya aku tidak mengacuhkannya, tapi tetap saja….. “ aku tidak berani melanjutkan kalimatku.
Senpai menghindari tatapanku. Bahunya gemetar dan wajahnya seakan mengatakan ‘Maafkan aku’.
“Membosankan bukan? Mendengar cerita tentang keluargaku hanya buang-buang waktu”
“Tidak juga, Tohno-kun. Ceritamu tadi bisa dibilang sangat….. berarti” setelah mengatakan demikian, Senpai mulai menggigit rotinya.
Aku juga segera mengikutinya, memakan roti yang sudah kubawa. Aku harus berterima kasih kepada Senpai, karena gara-gara dia memintaku bercerita tentang keluarga Arima, nafsu makanku kembali. Meskipun demikian, tetapsaja aku menyisakan setengah dari roti yang kumakan tadi.
“Jadi gara-gara itu Tohno-kun terlihat tidak nafsu makan?”
“he? Tidak juga sih, bukan masalah besar menurutku”
“Kalau begitu kau tidak makan karena alasan kesehatan, mungkin?”
“Aku baik-baik saja, senpai. Ngomong-ngomong tentang pembunuhan berantai, apa pendapat Senpai?”
Sebenarnya aku merasa enggan menanyakannya, tapi Yumizuka yang menghilang membuatku sedikit merasa cemas.
“Tentang vampire itu?”
“Benar. Sudah 8 korban kalau aku tidak salah.”
“Aku tidak tahu banyak, tapi kata ‘vampire’ itu membuatku bergidik”
Dinamai vampire karena darah korban habis seperti dihisap. Aneh sekali, bukan?
“Tapi kenapa dinamai ‘vampire’?”
“Karena darah korban yang dihisap habis itu. Tidak aneh kalau si pembunuh dijuluki ‘vampire’”
“Kau tahu apa yang terjadi pada korban yang darahnya dihisap vampire? Menurut legenda, Tohno-kun?” tersenyum, senpai menanyakan sebuah pertanyaan yang aneh.
“Kalau ada orang yang darahnya dihisap, maka orang itu juga jadi vampire, kalau aku tidak salah”
“Benar. Jadi seharusnya tubuh korban tidak ditemukan, bukan? Kalau benar yang melakukannya vampire seharusnya kita tidak akan tahu adanya korban”
“Ah, aku mengerti. Tapi, Senpai, itu cuma julukan saja. Jangan-jangan Senpai benar-benar percaya adanya vampire?”
“Sama sekali tidak. Tapi karena tubuh korban ditemukan, berarti yang melakukannya bukan vampire” senpai tersenyum ketika mengatakan kesimpulannya.
“Tapi Tohno-kun, bisa saja kejadiannya seperti ini. Bagaimana jika tubuh korban yang ditemukan itu adalah korban yang gagal menjadi vampire? Jadi ada dua kemungkinan, jika korban menjadi vampire, maka tubuhnya tidak akan ditemukan, karena mereka masih hidup sebenarnya. Sedangkan yang tidak bisa menjadi vampire, mati. Karena itu tubuhnya ditemukan”
“Ya… itu sih….”
Senpai tetap tersenyum ketika mengatakannya. Aku tahu kalau dia hanya bercanda, tapi candaan seperti ini tidak bisa membuatku tertawa.
“Akan terlihat seperti cerita horror jika hal tersebut benar-benar terjadi. Dan karena aku tidak suka cerita-cerita menakutkan seprti itu, maka kita hentikan saja pembicaraan ini”
“Tapi Senpai, kau terlihat bersemangat ketika bercerita tadi”
“Ha ha, aku memang tidak suka cerita seram, tapi aku senang membuatmu ketakutan”
Senang membuatku takut?….. Apa aku telah melakukan sesuatu sehingga membuatnya dendam kepadaku?
“Lupakan lelucon tadi. Tapi memang benar, kalau malam hari akihr-akihr ini menjadi sangat berbahaya. Kau tidak boleh terlalu banyak main sampai malam, Tohno-kun”
Senpai member nasehat dengan gaya bercanda. Aku tidak bisa menebak kapan Senpai serius dan kapan tidak.
**********
Makan siang berakhir. Pelajaran Sejarah klasik seakan masuk telinga kiri dan kemudian keluar dari telinga kanan.
__ Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun__
Adalah kata-kata yang diucapkan Yumizuka padaku kemarin. Tidak mungkin ada seseorang yang setelah mengatakan kata-kata itu, terus kabur dari rumah. Perasaanku tidak enak. Ada pembunuh yang berkeliaran malam hari. Pergi keluar malam sangat berbahaya.
“……!!!!!”
Mungkin karena cahaya senja yang merah ketika kami berpisah kemarin, bayangan Yumizuka dalam kepalaku menjadi bersimbah darah.
Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur. Keseimbanganku juga kacau. Mataku berkunang-kunang dan kepalaku terasa berat.
“Sial!”
Aku tahu apa yang terjadi. Anemia. Aku merasa pandanganku mulai gelap.
Ini buruk. Aku selama ini tidak pernah pingsan di dalam kelas. Aku berusaha menggunakan meja untuk menjaga keseimbanganku. Namun sia-sia. Karena tanganku terasa lemas. Aku hampir terjatuh.
Bayangan Yumizuka yang bersimbah darah masih berada dalam kepalaku. Aku seakan bisa menyentuhnya.
___ Aku selalu percaya bahwa Tohno-kun akan datang dan menolongku setiap kali aku mengalami kesulitan ___
Sudah kubilang, aku tidak bisa selalu membantumu. Setinggi apapun kau menilaiku, aku bukanlah seorang superman.
********
“Maaf merepotkan, Arihiko”
“Untungnya aku sudah terbiasa melihatmu yang mendadak pingsan karena anemia. Tapi yang benar saja, kau bisa tidur di UKS sampai selama itu?”
“Kau seharusnya membangunkanku. Tidak ada untungnya menungguiku tidur sampai gerbang sekolah dikunci”
“Diamlah, memangnya aku tega membangunkan orang sakit? Sudahlah, ayo cepat pulang, ini sudah hampir jam 7”
Setelah aku pingsan karena anemia, Arihiko membawaku ke ruang UKS. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 ketika aku terbangun.
“Baiklah, kau bisa pulang sendiri dari sini. Sampai ketemu besok” kata Arihiko setelah kami sampai gerbang depan.
“Baiklah, dan maaf merepotkan”
“Sudahlah, besok-besok, kau harus membayarnya dua kali lipat”
Tersenyum kering aku membawa kakiku menuju rumah.
******
Aku tiba di perempatan tempatku berpapasan dengan Yumizuka secara tidak sengaja kemarin. Baru pukul 7, namun suasana sudah sangat sepi. Mungkin gara-gara pembunuh itu, orang-orang jadi takut keluar malam. Satu-satunya orang yang kulihat hanyalah sosok seorang wanita yang tampak dari kejauhan.
“Pirang?”
Wanita itu mungkin orang asing. Aku bisa melihat rambut emasnya bergoyang setiap kali dia melangkah. Meskipun aku hanya bisa melihat punggungnya, aku bisa menebak kalau dia pasti sanagt cantik.
DEG!
Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang.
Tenggorokanku terasa kering
Aku berkeringat, deras.
Kepalaku sakit.
Bukan anemia.
Karena kesadaranku tidak memudar, namun malah tampak menajam.
*hah hah*
Aku berusaha mengatur nafasku.
Punggung itu___
Melihat punggung wanita itu___
Wanita ber rambut emas itu____
Kepalaku semakin sakit.
*hosh hosh*
Aku ingin mengikuti wanita itu___
Setelah itu___
Apa?___
Apa yang ingin kulakukan setelahnya?
Wanita itu berjalan dan menghilang di distrik perbelanjaan yang ramai.
“Aku…ikuti…dia….”
Langkah kakiku berjalan mengikutinya. Namun sebelum aku berjalan terlalu jauh…. aku melihat banyangan Yumizuka, disudut mataku.
“Yumizuka-san?” Sakit kepalaku mendadak menghilang.
Hanya sekilas, tapi aku yakin kalau itu adalah sosok Yumizuka. Apa dia menuju pusat kota?
“Apa yang dia lakukan jam segini?”
Aku merasa marah. Aku tidak peduli apakah dia kabur dari rumah atau tidak. Sangat berbahaya untuk seorang gadis berjalan sendirian pada malam hari.
Yumizuka berjalan di antara keramaian kota.
Sebenarnya aku tidak yakin apakah dia Yumizuka, tapi aku memutuskan untuk mengikutinya.
“Yumizuka-san!! Tunggu!” aku berteriak sambil mengejarnya.
Yumizuka berbalik seakan mendengar suara panggilanku.
Wajah itu, aku yakin dia Yumizuka. Gadis yang berada didepan itu pasti Yumizuka Satsuki. Tapi entah kenapa, aku merasa bulu kudukku berdiri ketika memandangnya
Detak jantungku menggila
Kepalaku bagian belakang terasa berat.
Tenggorokanku terasa kering.
Sakit kepala kembali menyerang seperti ketika aku melihat gadis pirang tadi.
“Ke… kenapa aku…..?”
Tubuhku terasa membara.
Pusing.
Sekan-akan aku sedang mengalami demam tinggi.
Yumizuka kembali berjalan.
“Yumizuka-san, tunggu….!”
Memanggil namanya, aku berlari. Yumizuka terus berjalan tanpa sekalipun mnengok kebelakang. Kupaksakan tubuhku untuk berlari, namun tetap saja aku tidak bisa mengejarnya.
Secepat apapun aku berlari, aku tidak bisa mengejarnya yang hanya berjalan.
Aneh.
Ada yang aneh.
Aku tahu ada yang aneh, tapi aku tidak tahu apa.
Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mengejar Yumizuka Satsuki.
Kemudian aku kehilangan dia. Mataku tidak bisa menemukan Yumizuka yang kukejar.
“Cih, kemana dia?” aku berusaha mengatur nafas. Dadaku naik turun. Mungkin tanpa kusadari, aku sudah berlari cukup lama.
“Jam berapa ini?” Aku melihat jam dari kaca etalase sebuah took. Sudah tengah malam.
“Aku sudah berlari selama itu?” sulit dipercaya, tapi kurasa jam tidak akan berbohong. Sebagian besar toko di distrik perbelanjaan ini memang sudah tutup.
“Aku harus pulang” meskipun aku mencemaskan Yumizuka, tapi kurasa aku tidak akan bisa menemukannya malam mini. Aku mengejarnya hapir selama empat jam sambil memanggilnya. Tapi tidak ada respon sedikit pun. Apa sih, yang dipikirkannya?
Menghela nafas, aku berbalik dan berjalan menuju rumah.
Sepi sekali. Memang masih ada beberapa orang di distrik perbelanjaan, tapi disekitar rumah pasti sudah sanagt sepi. Bayangan pembunuh berantai menghantui kepalaku.
Tengah malam, berjalan sendiri. Aku bisa saja jadi sasaran empuk pembunuh itu.
Bruk!
“?” ada suara. Dibalik gedung itu, ada suara seperti orang yang terjatuh.
“Didalam gang itu?” suara itu hanya terdengar sekali. Keheningan yang mencekam membuatku sedikit bergidik. Aku mendapat firasat buruk.
Sesorang terjatuh didalam gang itu, atau hanya angin yang bertiup hingga menjatuhkan sesuatu?
Apapun itu, sebaiknya ku tidak melibatkan diri. Tapi, mungkin karena aku baru saja mencari Yumizuka, aku merasa dia ada disana.
“Apa yang harus kulakukan?”
Secara tidak sadar, aku merogoh saku, dan menemukan pisau yang diberikan oleh Kohaku pagi tadi.
Aku tidak bisa tidak mengacuhkan firasatku. Dengan adanya pembunuh yang menghantui kota pada malam hari, aku seharusnya tidak mempedulikan apapun yang terjadi dibalik gang itu. Tapi aku teringat senyum Yumizuka kemarin.
Tidak ada alasan bagi Yumizuka untuk berada disana. Tapi kalau dia berada disana, mungkin dia membutuhkan bantuan. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau membiarkan hal buruk terjadi padanya.
“Baiklah” jika pembunuh itu menyerang, aku juga masih memiliki ‘mata’ ini. Dulu Sensei pernah bilang, agar tidak menggunakan kemampuan mata ini seenaknya. Tapi kalau lawannya seorang pembunuh, kukira dia tidak akan keberatan.
“Baiklah….” Meneguhkan hati, aku kemudian melangkah menuju sumber suara.
Deg deg
Jantungku berdegup kencang
Gang ini sangat sepi.
Suara berasal dari ujung sana.
Deg deg
Bagian belakang kepalaku terasa sakit.
Deg deg
Kenapa?
Aku tak tahu.
Tapi instingku berkata….
Deg deg
Jangan
Jangan kesana
Kalau aku kesana, aku tidak akan bisa kembali lagi.
Deg deg
Tapi semuanya sudah terlambat.
Langkahku membawaku semakin mendekati sumber suara.
“eh…..?” adalah kata pertama yang kuucapkan.
Setelah melihat dinding gang seperti di cat dengan warna merah.
Potongan daging berserakan diantara tumpukan-tumpukan sampah.
Bukan potongan daging ayam, bebek, maupun kambing.
Manusia.
Potongan-potongan tubuh manusia.
Lantai dan dinding gang berwarna merah.
Merah.
Bau amis menusuk hidungku.
Darah.
Bau darah.
Kepala
Berguling-guling.
Menunjukkan ekspresi yang mengerikan.
Kepala yang terbelah dua.
Kepala yang saking rusaknya, aku tidak bisa membedakan apakah dia wanita atau laki-laki.
Tak bisa bersuara, aku hanya bisa memandangi pemandangan horror didepanku dalam diam.
Mereka sudah tidak bisa lagi disebut manusia.
Bahkan patung yang dibuat oleh seorang amatir terlihat jauh lebih baik daripada mereka.
Apa ini?
Apa ini?
Apa ini?
Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?
Didepanku, aku melihat warna yang sangat kubenci.
Tapi aku masih sanggup berdiri, tanpa merasa takut.
Sebuah mayat bergerak-gerak.
Bukan. Bukan mayat.
Dia masih hidup.
Manusia dengan tubuh yang masih utuh.
Melihat seseorang yang masih hidup saat ini terasa sangat mengejutkan. Tapi dia masih hidup. Dan aku harus menolongnya. Aku berlari kearahnya. Menariknya dari lautan daging, aku melihat wajahnya.
“HIIIII…….!!!” Secara reflex, aku berteriak dan melompat mundur.
Tengkorak.
Tengkorak tanpa wajah.
Aku berusaha menjauh, namun dia lebih cepat mengejarku.
Mengeluarkan suara seperti ‘hyuuu! hyuuuu!” dia melompat kearahku.
Tangan itu.
Tangannya yang kering itu berusaha menggapaiku.
“HYAAAAA!!!!” aku berusaha melepaskan genggamannya. Tapi dia memegang lenganku dengan sangat erat. Jari-jarinya yang putih menancap di lenganku.
Sakit.
Jari-jarinya setajam jarum.
Begitu hebatnya rasa sakit yang kurasakan, sehingga aku tidak bisa bersuara.
Dengan suara bergemeretak, rahangnya terbuka.
Cukup lebar, sehingga dia bisa menelan kepalaku dalam sekali gigitan. Ketika dia mendekat, aku seakan mendengar dia berkata, ‘aku tidak ingin mati. Tolong aku! Tolong aku!’
Mahluk yang hanya terbuat dari tulang dan kulit yang berusaha menelan kepalaku itu, tiba-tiba roboh.
Perlahan, dia berubah menjadi debu, dan menghilang tertiup angin.
“A, apa itu tadi?”
Rasa sakit masih menjalari tubuhku.
Artinya aku tidak sedang bermimpi.
“Tohno-kun, berbahaya kalau kau disini sendirian”
“!!!!” Aku menoleh kearah suara yang memanggilku dari belakang. Aku melihat Yumizuka Satsuki berdiri.
“Yu…mizuka?”
“Selamat malam. Tempat yang aneh untuk bertemu ya?” selayaknya bertemu di mall, dia menyapaku dengan suaranya yang ringan.
“Yumizuka-san? Kau…. Apayang kau lakukan? Disini?”
“Jalan-jalan. Tapi… wah, apa yang kau lakukan disini, Tohno-kun? membunuh orang sebanyak itu tidak baik, kau tahu?” kata Yumizuka sambil tersenyum.
“Membunuh? Eh?” aku kembali menoleh dan melihat pemandangan horror dibelakangku.
Tohno Shiki sedang berdiri ditengah lautan darah.
“Bukan aku”
“Bagaimana bisa bukan? Semua mati, hanya Tohno-kun yang masih hidup. Ini artinya, kau yang membunuh mereka semua.”
Aku menelan ludah, sedangkan Yumizuka tertawa terkikik.
“Bukan…aku…” lidahku kelu. Aku ingin mengatakan banyak hal, tapi aku seperti lupa dengan semua pelajaran bahasa yang pernah kupelajari.
Ada banyak yang ingin kutanyakan, seperti apa yang dilakukan Yumizuka disini setelah kabur dari rumah.
Ada banyak yang ingin kutanyakan, seperti kenapa Yumizuka masih bisa tersenyum setelah melihat pemandangan horror dibelakangku.
“I…ini…”
“Sudahlah, Tohno-kun. aku mengerti. Kau hanya mengganggu makan malam seseorang secara tidak sengaja.” Yumizuka masih tertawa
Caranya tawanya sangat tidak sesuai dengan situasi saat ini. Aku merasa merinding. Yumizuka berdiri di ujung gang. Tangannya berada dibelakang seperti menyembunyikan sesuatu. Dan kalau diperhatikan lebih detil, ada beberapa noda merah menempel di seragamnya.
“Yumizuka… kau…”
“Ya? Ada apa Tohno-kun?” dia masih tertawa.
Tidak.
Gadis ini pasti bukan Yumizuka Satsuki.
“Kenapa kau menyembunyikan tanganmu, Yumizuka?”
“Ha ha ha…. Sepertinya ketahuan ya? Kau terlalu jeli untuk melewatkan hal kecil seperti ini. Karena itu aku menyukaimu, Shiki.”
Setelah memanggilku dengan nama ‘Shiki’, dia menunjukkan tangannya. Kedua tangannya berwarna merah. Merah darah. Belum kering. Aku masih bisa warna merah itu menetes dari tangannya. Dan dengan bangganya, Yumizuka tersenyum.
“Ya. Aku yang membunuh mereka semua”
“A, apa?”
“Tapi tidak masalah, aku membunuh mereka bukan karena benci. Aku hanya membutuhkan darah mereka untuk tetap hidup.”
Apa ini? Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Yumizuka.
“Kau membunuh mereka?”
“Kau tidak akan percaya kalau aku bilang ‘bohong’ bukan? Atau kau pikir mustahil bagi seorang gadis sepertiku melakukan ini semua?”
Tawanya terdengar lembut.
Tidak mungkin.
Aku tidak percaya ini.
Tapi dia tidak berbohong.
Semua ini….
Dilakukan oleh Yumizuka Satsuki.
“Kenapa….?”
“Kenapa? Sudah kubilang, aku harus melakukannya untuk bertahan hidup, Shiki”
“Tapi membunuh itu SALAH!!”
“Aku tidak salah. Tapi memang aku tadi sedikit melakukan kesalahan. Ketika menghisap darah salah satu dari mereka, secara tidak sengaja, darahku masuk kedalam tubuhnya. Dan, dialah yang menyerangmu tadi, Shiki. Tapi untunglah, dia sudah hancur sebelum berubah sempurna.”
“A, apa maksudmu?”
“Tidak apa kalau kau tidak mengerti. Aku sendiri tidak begitu mengerti, jadi aku tidak bisa menjelaskan dengan baik.”
Yumizuka tersenyum. Dia kemudian melanjutkan,”awalnya aku takut. Tapi setelah itu, aku merasa bisa menjadi seperti Shiki. Menjadi sepertimu, aku merasa hebat. Jadi tunggu aku, oke? Aku akan menjadi vampire yang hebat, dan kemudian kembali menemuimu”
Yumizuka berbalik, dan kemudian melompat. Tinggi sekali.
“Tunggu, Yumizuka!”
Yumizuka telah menghilang. Aku tak mungkin bisa mengejarnya. Kecepatannya seperti kecepatan seekor binatang. Bukan kecepatan yang bisa dicapai oleh tubuh manusia.
“Apa yang terjadi padamu, Yumizuka….”
Luka di lenganku kembali terasa perih. Aku memukul dinding gang karena kesal.
*********
Gerbang rumah. Aku tidak melihat adanya cahaya dari dalam. Entah kenapa, aku tidak sadar kalau malam sudah selarut ini. Aku bakal dimarahi akiha habis-habisan kali ini.
Membuka pintu sepelan mungkkin agar tidak menimbulkan suara, aku disambut oleh ruang lobi yang kosong.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku harus segera merawat lukaku, tapi tidak mungkin aku membangunkan kohaku sekarang.
“…Kak?”
“Akiha..?”
Aku menoleh kearah suara itu. Aku melihat Akiha berdiri diatas tangga.
“Kak, pulang larut malam, apa sih yang ada dalam pikiran kakak?” katanya marah sambil menghampiriku.
Setelah menapak anak tangga terakhir, mata Akiha membelalak melihat konsisiku sekarang.
“Kak! Kenapa kakak bisa…”
Sial. Aku ingin menyembunyikan luka ini, tapi sudah tidak mungkin lagi.
“I, ini hanya….”
“Diam dulu. apa lukanya hanya di bahu saja?”
“Ya, ini….”
“Alasannya nanti saja. Sekarang kita harus merawat luka Kakak. Maaf sebentar…”
Perlahan, Akiha menyentuh bahuku.
“__Akh!”
Tubuhku berjengit hanya karena sentuhan ringan Akiha. Luka ini tampaknya lebih dalam dari perkiraanku.
“Ah, maaf. Sakit ya Kak…?”
“Aku ingin bilang kalau aku baik-baik saja, tapi tampaknya tidak mungkin. Sentuhanmu tadi saja terasa sangat sakit”
“Tampaknya dalam. Baiklah, saya akan merawat luka itu sekarang. Jadi, Kak, silahkan ke ruang tengah” kata Akiha sambil bergerak menuju lantai dua dengan sedikit tergesa.
Aku menyalakan lampu di ruang tengah, dan duduk di sofa. Luka di bahuku terasa sangat sakit tak tertahankan.
“Maaf membuat Kakak menunggu.” Akiha datang membawa kotak P3K. “Saya tidak tahu apakah ini akan banyak membantu, tapi paling tidak, luka itu harus diberi disinfektan.”
Akiha mulai merawat lukaku. Seragamku yang berlumuran darah dipotong menggunakan gunting agar lebih mudah mengoleskan disinfektan ke lukaku.
“GUUH!!” aku menggeretakkan gigi dan mengepalkan tangan setelah tiba-tiba rasa sakit menjalar seperti listrik karena obat yang dioleskan Akiha. Namun setelah itu, perlahan rasa sakit menghilang. Akiha mungkin pandai merawat atau mungkin saja sebenarnya lukaku tidak separah dugaanku.
“Baiklah, selesai. Luka seperti ini akan sembuh besok pagi.” Akiha mengemasi kotak P3K.
Sebenarnya aku sedikit terkejut. Karena akuk mengira Akiha akan menanyakan dimana aku mendapatkan luka ini. Dan tentu saja memarahiku karena pulang pagi.
“…. Kau tidak bertanya, Akiha…?”
“Bertanya tentang…. apa?”
“Yah, kau tahu, karena aku pulang pagi, atau kenapa aku terluka?”
Aku mengatakannya seperti memprotes. Mungkin juga aku sebenarnya hanya ingin diperhatikan. Atau mungkin aku sudah terlalu lelah. Kelelahan membuatku bicara ngawur.
“Kak, … saya tahu prioritas. Sekarang yang paling penting adalah merawat lukamu terlebih dahulu.”
“Begitu ya? Oke, aku mengerti”
“Sebenarnya Kakak menganggap saya orang seperti apa? Tidak mungkin saya mengomeli orang yang terluka”
“Ah iya, maaf.”
“Tapi saya tetap ingin mendengar alasan kakak setelah luka kakak sembuh. Istirahatlah sekarang”
“________”
Aku mengalihkan pandanganku dari akiha. Aku bersyukur Akiha mau pengertian. Tapi meskipun sudah sembuh juga, aku tidak mungkin bisa mengatakan yang sebenarnya.”
“Akiha, Aku___”
“Sudahlah, kak. Jangan menatapku dengan wajah seperti itu. Sekarang kakak harus kembali kekamar dan segera tidur. Dan juga, paling kakak tidak akan menceritakannya padaku meskipun sudah sembuh”
Membaca pikiranku dengan sempurna, Akiha berbalik dan berjalan meninggalkan lobi. Menaiki tangga, menuju kamarnya.Aku hanya duduk disofa melihatnya pergi.
Tiba-tiba saja aku kepikiran sesuatu. Apakah Akiha dengan sengaja menunggu kedatanganku? Bagaimana mungkin dia muncul di lobi tiba-tiba seperti tadi?
“___Akiha”
“Ya Kak?”
“Terima kasih sudah mau merawatku. Maaf, aku selalu membuatmu cemas”
“Ah___” Akiha berhenti didepan pintu kamarnya.. Dan kemudian dia berbalik kearahku. “Sa, saya tidak mencemaskan kakak. Jika kakak memiliki tenaga untuk memuji, sebaiknya gunakan saja untuk menjaga diri kakak sendiri!”
Dengan keras, dia membanting pintu kamarnya.
“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya” Tapi aku tahu kalau dia mencemaskanku.
Tadi itu…. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Potongan-potongan tubuh berserakan di gang. Kemudian, sosok Yumizuka yang tangannya berlumuran darah. Membayangkannya saja, membuat bulu kudukku berdiri semua.
Aku berdiri dan kemudian menuju kamarku. Mengganti baju, aku kemudian melempar tubuhku keatas kasur. Setiap kali aku menutup mataku, bayangan pemandangan horror di gang berseliweran dikepalaku.
___ Ya. Aku yang membunuh mereka semua.
Kata Yumizuka waktu itu. Tanpa rasa bersalah.
___ Aku hanya membutuhkan darah mereka untuk tetap hidup.
Dan dia membunuh mereka. Seperti vampire…. Seperti lelucon yang sangat buruk.
___ Jadi tunggu aku, oke? Aku akan menjadi vampire yang hebat.
Dan aku tidak bisa mengingat apa kata Yumizuka selanjutnya.
Perlahan rasa kantuk menyerang. Dengan masih membayangkan wajah Yumizuka, aku menutup mataku pelan.
Hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik. Yumizuka mengatakan yang sebenarnya, dan dia yang membantai orang-orang itu.
• Read More..
Dulu setiap hari terasa menyenangkan. Tidak ada yang berpikir untuk cepat menjadi dewasa. Kami percaya, bahwa setiap hari akan selalu sama.
Dulu, kami hanya anak-anak yang senang bermain. Kami sangat akrab. Setiap kali Aku menoleh kebelakang, Akiha selalu disana bersembunyi sambil melambaikan tangannya dengan malu-malu.
Dulu, halaman rumah terlihat seperti taman bermain yang luar biasa besar. Kebunnya terlihat seperti hutan. Rumahnya sendiri terlihat seperti kastil. Waktu itu Aku berpikir untuk menjelajahi seluruh rumah saja mungkin memerlukan waktu berhari-hari.
Dulu setiap hari terasa menyenangkan. Tidak ada yang berpikir untuk cepat menjadi dewasa. Kami percaya, bahwa setiap hari akan selalu sama.
Dulu, kami hanya anak-anak yang senang bermain. Kami sangat akrab
“Selamat pagi”
Aku mendengar suara yang terdengar asing ditelingaku
“Sudah pagi, sudah saatnya Anda bangun, Shiki-sama”
Aku membuka mataku. Aku melihat Hisui berdiri jauh dari tempat tidur, berdiri seperti patung.
“........”
Aku dimana ya?
“Selamat pagi, Shiki-sama” kata gadis berpakaian maid itu sambil membungkukkan badannya.
“Ah ya, aku sudah kembali ke rumahku. Benar....”
Aku memaksa diriku sendiri untuk melihat sekeliling.
“Selamat pagi, Hisui. Terima kasih telah mau membangunkanku”
“Tidak perlu berterima kasih, Shiki-sama. Adalah tugasku untuk membangunkan Anda.”
Hisui memberi jawaban yang datar dan tanpa ekspesi. Meski begitu, aku melihat bahwa sebenarnya Hisui sangat cantik. Akan sangat menyenangkan bila seorang gadis seperti ini membangunkanku setiap pagi dengan senyuman. Namun tampaknya tidak bisa untuk Hisui. Sayang sekali. Seandainya saja Hisui memiliki setengah dari keceriaan Kohaku, dia pasti tampak sangat manis.
“Anda memerlukan sesuatu?”
Menyadari aku menatapnya, Hisui balas menatapku.
“Tidak, tidak usah. Melihatmu ketika aku bangun pagi meyadarkanku bahwa sekarang aku berada dikediaman Tohno.”
Kemudian aku bangun dan sedikit meregangkan tubuhku.
“Shiki-sama, kalau tidak cepat, anda akan terlambat. Jarak dari sini menuju sekolah anda memerlukan waktu tempuh 30 menit. Artinya anda hanya punya waktu 20 menit untuk sarapan”
“Eh?” aku melihat jam dinding. “AAAAAH!! Sudah jam 7!!”
“Seragam Anda telah saya lipat dan saya letakkan di meja. Harap segera turun bila Anda telah selesai berganti pakaian.”
Setelah selesai berganti baju, aku segera turun.
Dibawah, Akiha dan Kohaku terlihat berada di ruang tengah. Akiha mengenakan seragam sekolah putri Akagami. Sebuah sekolah putri yang sangat terkenal. Mereka sedang minum teh bersama. Seolah-olah waktu sarapan telah usai. Aku kemudian menyapa Akiha.
“Selamat pagi Akiha,”
“Selamat pagi Kak” balas Akiha dengan tenang.
“Selamat pagi Shiki-san. Sarapan sudah tersedia di meja makan. Silahkan” Kata Kohaku dengan senyuman hangatnya, sangatberbeda dengan Akiha yang dingin.
“Ah, tentu saja. Sepertinya kalian sudah selesai sarapan ya?”
“Tentu saja. Saya tidak tahu jam berapa biasanya kakak bangun, tapi biasakanlah untuk sarapan tepat waktu. Sarapan setelah jam 7 menunjukkan kemalasan kakak”
“Sarapan jam 7 itu normal bagiku. Memangnya jam berapoa kau bangun pagi, Akiha?”
“Jam 5. Kenapa?” tanya Akiha judes
Wow pagi sekali.
“Selain itu Kak, bukankah sekolah kakak berjarak hanya 30 menit jalan kaki dari sini. Jangan sampai terlambat. Itu akan sangat memalukan.”
Kata-kata Akiha benar-benar ‘berduri’. Tapi karena dia benar, aku tidak bisa melawan.
“Akiha-sama, sudah saatnya untuk berangkat”
“Iya iya, aku tahu. Ck, jangan terlalu mencemaskan hal-hal kecil” seperti mengeluh, Akiha berdiri. “Baiklah, saya berangkat sekarang” setelah mengatakannya, Akiha berjalan meninggalkan ruang tengah dan KOhaku mengikutinya dari belakang.
“Baiklah, aku juga harus bergegas”
Setelah aku menghabiskan makanan yang dibuatkan oleh Kohaku, aku menuju lobi. Disana, Hisui telah menungguku dengan membawakan tas sekolahku.
“Apakah anda tidak akan terlambat?” tanya Hisui.
“Jika aku lari, dari sini ke sekolah tidak sampai 20 menit. Sekarang jam 7.30. Kurasa aku tidak akan terlambat.”
Mendengar penjelasanku, Hisui mengangguk
“Baiklah, saya akan mengantar anda sampai kepintu gerbang.”
Sebenarnya agak sedikit malu aku memiliki pelayan pribadi.
“Shiki-san! Tunggu”
Dengan sedikit tergesa-gesa, Kohaku menuruni tangga dari lantai dua.
“........”
Hisui sedikit mundur begitu Kakaknya muncul.
“Bukankah tadi kamu bersama Akiha?” aku bertanya
“Akiha-sama, berangkat kesekolah dengan mobil. Karena saya harus menyerahkan sesuatu pada Anda, saya tetap tinggal di dalam.”
“Memberiku apa?”
“Ini. Ini dari keluarga Arima.”
Kohaku tersenyum.
“Huh? Tapi sepertinya semua barang-barangku sudah sampai disini, kok. Semua yang kugunakan ketika aku masih disana adalah milik keluarga Arima. Jadi sebenarnya barang-barangku hanya berupa baju saja.”
“Benarkah? Tapi benda ini juga dikirim kemari”
Kohaku menyerahkan sebuah kotak kayu tipis. Mungkin panjangnya sekitar 20 cm, dan tidak berat
“Kohaku, aku belum pernah melihat benda ini sebelumnya.”
“Mungkin dari almarhum tuan Mikihisa?”
“Dari Ayah?”
Aku malah merasa heran. Benarkah Ayah yang mengusirku selama 8 tahun itu meninggalkan sesuatu untukku?
“Baiklah kalau begitu, Kohaku, tolong kamu letakkan benda ini dikamarku”
“___________”
Kohaku terus memandangi kotak kayu itu. Dia terlihat seperti anak kecil yang menginginkan mainan baru.
Teruuuus memandang.
Dia mungkin benar-benar anak kecil.
“Baiklah, kamu ingin tahu apa yang ada didalamnya kan?”
“Oh, tidak kok. Aku hanya bertanya-tanya kira-kira apa yang ada didalamnya.” Jawab Kohaku tersipu.
Itu sama saja Kohaku. Aku tersenyum.
“Baiklah, kita buka. Satu.... dua... tigaaaaa!!”
Terdengar suara ketika kotak kayu itu dibuka. Didalamnya terdapat batangan besi tipis berukuran 10 Cm.
“Apa ini?”
Bentuknya sudah tidak karuan dan ada banyak bekas jari diatasnya.
Mungkin ayah benar-benar membenciku karena meninggalkan sebuah sampah seperti ini.
“Shiki-san, ini sebuah pisau”
Ah, benar juga. Aku baru sadar.
“Tua, tapi tampaknya sangat kuat.” Aku mengambil pisau itu.
“Ah, di gagangnya tertulis tahun dan era pembuatannya.” Kata Kohaku
Memang ada tulisan digagang pisau ini. Tulisan ‘tujuh’ dan ‘malam’
“Kakak. Tidak ada nama era yang seperti itu. Disitu hanya tertulis Nanaya (tujuh-malam)”
“!!!”
Aku sedikit terkejut. Hisui yang sedari tadi diam ternyata melihat pisau ini dari balik bahuku.
“K, kau membuatku kaget, Hisui. kamu tidak perlu melihat dari balik bahuku seperti itu, kau tahu. Jika kamu ingin melihat, akan kutunjukkan padamu.”
“Ah____” Tiba-tiba saja pipi Hisui sedikit memerah. “Ma, maafkan saya. Pisaunya sangat bagus sehingga saya, .....” kata Hisui terbata
“Bagus? Kau pikir ini bagus? Hanya sebuah pisau tua menurutku,”
“Anda salah. Pisau ini ditempa dengan sangat baik. Saya rasa pisau ini memiliki sejarah yang panjang.”
“Benarkah?”
Karena Hisui terlihat sangat yakin, aku mulai berpikiran sama. Kalau begitu, ini warisan yang tidak terlalu buruk.
“Nanaya? Apa mungkin nama pisau ini ya?” tanya Kohaku.
“Mungkin juga” Aku memandangi pisau yang ada didepanku. Tidak salah lagi, pisau ini adalah barang antik.
“Baiklah, pisau ini aku ambil” Aku memasukkan pisau itu kedalam kantong celanaku.
“Shiki-sama, apakah Anda tidak terlambat?” Tanya Hisui tiba-tiba.
“Ahh! Aku akan terlambat. Aku pergi sekarang. Kohaku terima kasih telah menyampaikan pisau ini”
“Sama-sama” Kohaku tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Aku segera keluar dari rumah melewati kebun menuju gerbang depan. Hisui mengikutiku dari belakang.
“….. kau mengantarku, Hisui?”
Hisui menjawabnya dengan anggukan.
“Shiki-sama, kira-kira jam berapa anda akan pulang?”
Sepertinya Hisui masih akan terus menggunakan ‘-Sama’ sampai kapanpun. Kalau aku tidak bergegas aku akan terlambat. Sebaiknya aku membahas masalah ini lain kali saja.
“Shiki-sama?”
“Ah, iya. Sekitar jam 4 mungkin. Soalnya aku tidak ikut klub apapun”
“Saya mengerti. Hati-hatilah dijalan”
“Tentu saja. Terimakasih”
Melambaikan tangan kearah Hisui, aku berjalan meninggalkan pintu gerbang.
Aku berjalan melalui jalan yang tidak biasa kulewati. Bisanya aku berangkat dari rumah keluarga Arima. Jadi ini pertama kalinya aku beangkat melalui jalan ini. Yang baru memang hanya rute jalannya. Namun aku merasa akan pergi kesekolah yang baru.
“Tidak banyak murid sekolahku yang lewat sini”
Jarang sekali ada orang yang tinggal didaerah ini. Jam 7.30 pagi. Aku tidak melihat murid sekolahku yang berangkat melaui jalan ini sama sekali.
Memasuki daerah perkantoran, suasana semakin ramai. Banyak terlihat orang-orang bersiap untuk bekerja. Aku merasa atmosfer disini sedikit berbeda. Rasanya sedikit berat. Mungkin disebabkan karena pembunuhan berantai itu. Pagi ini, jumlah orang yang berada dijalanan lebih sedikit dari biasanya.
“Yumizuka… tidak ada. Yah, aku tidak mungkin selalu beruntung bisa berpapasan dengannya” aku tersenyum mengingat wajah manis teman sekelasku itu.
Teringat Yumizuka, aku mempercepat langkahku. Aku ingin segera sampai sekolah.
Akhirnya aku sampai. Beberapa menit sebelum jam pertama dimulai, kelas sudah ramai. Sambil menunggu bel, semua teman teman dikelasku sedang megobrol dengan yang lainnya. Sangat ramai seperti ada festival yang diadakan disini. Tapi ada yang aneh dengan suasana kelas pagi ini.
Aku berjalan menuju kursiku yang letaknya dekat jendela, dimana Arihiko menungguku dengan wajah cemberut.
“Hei, Arihiko, kelihatannya ada yang aneh pagi ini. Kau tahu sesuatu?”
“Entahlah. Katanya sih, ada murid kelas ini yang kabur dari rumah”
“Benarkah?” aku duduk di kursiku sambil menghela nafas. “Siapa?”
“Mana aku tahu? Kita akan tahu setelah homeroom. Kursi siapa yang kosong, dia yang kabur dari rumah”
Dia benar, tapi aku merasa Arihiko sedikit keterlaluan. Salah satu teman sekelas kami ada yang menghilang, tapi dia tidak menghiraukannya seakan mengatakan ‘bukan urusanku’
“Kau tidak cemas, Arihiko?”
“Aku? Kenapa? Kamu ini terlalu pencemas. Yang kabur kan bukan aku atau kamu, jadi cuek aja”
Aku lupa. Orang satu ini sangat dingin terhadap orang lain selain temannya sendiri.
“Tapi sebenarnya aku cemas juga, sih. Kau tahu dia kabur saat seperti ini. Entah dia berani atau….”
“Saat seerti ini? Maksudmu?”
“Kemarin aku sudah cerita, Shiki. Tentang pembunuh berantai. Bukan salah siapa-siapa kalau secara kebetulan dia bertemu dengan pembunuh itu”
“Ah, itu tidak mungkin terjadi”
“Kau harus lebih sering nonton TV, Shiki. Korban kedelapan telah ditemukan. Malam hari, kota ini sekarang sangat sepi. Hanya ada pemabuk danpolisi yang berkeliaran.” Kata Arihiko serius.
Mendengarnya, aku juga mulai merasa tidak nyaman.
“Ah itu Kunifuji-sensei datang. Homeroom akan dimulai” Arihiko kemudian meninggalkanku dan berjalan menuju kursinya.
Homeroom dimulai, dan semua murid duduk di kursi masing-masing. Hanya ada satu kursi yang kosong. Tidak salah lagi. Tidak ada yang duduk di kursi milik Yumizuka Satsuki.
-“Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun”-
Itu adalah kata-kata Yumizuka sebelum kami berpisah kemarin. Aku tidak tahu apa yang terjadi dirumahnya, tapi tidak mungkin seseorang mengembangkan senyum seperti itu sebelum kabur dari rumah.
“Ah, Yumizuka absen rupanya” kata Kunifuji-sensei ketika mengabsen. Yumizuka hanya dianggap absen saja. Seakan tidak terjadi apa-apa, homeroom berjalan seperti biasanya. Aku ingin bertanya mengenai Yumizuka, tapi tampaknya Sensei tidak akan menjawabnya. Jika dia kabur dari rumah, itu urusannya sendiri.
Toh gosip itu belum tentu benar. Mungkin saja Yumizuka hanya terlambat.
*******
Aku masih merasa tidak bersemangat meskipun waktu makan siang tiba. Meskipun gosip mengenai Yumizuka yang kabur dari rumah cukup mengejutkan, tapi itu bukan topik yang ramai dibicarakan. Semua tampak biasa-biasa saja. Mungkin hanya aku yang mencemaskan teman sekelasku yang absen itu.
“Shiki, ayo makan” ajak Arihiko.
“Tidak dulu deh, lagi malas makan”
“Jangan terlalu memikirkan masalah orang lain”
Masalah orang lain heh? Kata-kata Arihiko benar juga.
“Kau tidak ikut makan hari ini?”
Aku dikejutkan sosok berkacamata yang tiba –tiba muncul.
“Senpai? Apa yang kau lakukan di kelas kami?”
“Rencananya sih, makan siang bersama kalian. Tohno-kun, kau tidak ikut makan?” duduk diatas meja, Senpai memandangku curiga.
“lagi tidak nafsu, Senpai”
“Sakit?”
“Tidak juga. Silahkan Kalau mau makan, kalian bisa ke kantin sekarang.”
“Kau terlihat…. Tidak bersemangat. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kalau kau tidak makan, kau malah akan sakit beneran.”
“Iya sih, tapi……”
Aku tidak lapar.
“Baiklah kalau begitu. Kuajak kau ke tempat spesial. Sebenarnya tempat ini rahasia, tapi khusus untukmu saja, Tohno-kun”
Kemudian Senpai menarik tanganku dengan paksa, menyuruhku mengikutinya.
Ciel Senpai membawaku ke sebuah ruang kelas yang kosong di ujung gedung sekolah.
“Disini?”
“Benar. Karena disini sanagt tenang.”
“Tapi bukankah kelas ini dikunci, Senpai?”
“Hanya digunakan oleh anggota klub upacara minum teh”
Senpai mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.
“Oh, jadi Senpai anggota klub itu?”
“Benar. Dan satu-satunya” tertawa, Senpai memasuki ruang kelas yang disulap menjadi bergaya jepang klasik.
Suasana didalamnya membuatku lupa kalau sebenarnya ruangan ini masih didalam gedung sekolah.
Lembutnya tatami dan sinar matahari yang masuk melalui jendela membuatku merasa rileks.
“Seperti yang kukatakan tadi, aku satu-satunya anggota klub ini. Jadi aku bisa bebas menggunakan ruangan ini selama istirahat siang dan sepulang sekolah. Ini silahkan”
Senpai menyerahkan bantal duduk padaku.
“Aku akan membuat teh sekarang. Silahkan duduk, Tohno-kun”
Tidak ada salahnya menuruti Senpai. Jai aku patuh saja dan duduk mematuhi perintahnya.
Inilah sihir ruangan yang bergaya jepang klasik. Semua hal yang membuatku resah perlahan menghilang. Sekarang aku bisa memikirkan apa yang terjadi dengan Yumizuka dengan kepala dingin.
“Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu, Tohno-kun. Jadi sekalian makan siang saja” kata Senpai sambil menyuguhkan teh.
“Apa?” Aku meminum teh yang suguhkan. Karena berada dalam ruangan bergaya jepang, secara otomatis aku menegakkan punggungku.
Aku melakukannya secara tidak sadar. Keluarga Arima tempatku dulu tinggal membuka kursus upacara minum teh. Mungkin gara-gara aku dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, aku jadi lebih menyukai kamar bergaya jepang daripada bergaya barat.
“Kalau kau tidak keberatan, aku ingin tahu tentang keluargamu”
“Bukannya keberatan, tapi kurasa cerita tentang keluargaku kurang menarik”
“Tidak masalah, aku cuma pingin dengar. Kemarin kau bilang kau ‘pindah ke rumahmu’. Aku masih belum begitu jelas maksudmu” Senpai bertanya dengar wajah yang dipenuhi rasa ingin tahu.
“Menjelaskannya bagaimana ya? Bisa dibilang seperti ini, aku ini anak yang dibuang. Dulu aku pernah mengalami kecelakaan parah ketika masih berum,ur 9 tahun. Aku sembuh, namun setelah itu, aku sering mengalami anemia dan mudah muntah-muntah. Karena itu aku dititipkan kepada keluarga Arima”
“Jadi keluarga Arima menjadi orang tuamu sejak kau berumur 9 tahun?”
“Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya ayah kurang menyukaiku. Dan setelah aku dititipkan, aku tidak akan pernah mau kembali kerumah. Dulu aku mengira akan tinggal bersama keluarga Arima selamanya. Namun setelah ayah meninggal, aku diminta pulang kembali kerumahku”
Ceritaku selesai sampai disitu. Senpai terlihat mengangguk-angguk kecil.
“Boleh tanya lagi?”
“Silahkan Senpai”
“Apa kau tidak menyukai keluargamu dulu?”
Keluargaku dulu, keluarga Arima. Mereka yang membesarkanku seperti anaknya sendiri. Ayah dan ibu yang tidak berhubungan darah denganku.
“Aku menyukai mereka. Mereka sangat baik padaku meskipun aku bukan anak kandung mereka”
Aku sangat menyukai keluarga itu. Suatu saat, aku akan benar-benar menjadi anggota keluarga mereka. Itu yang kupikirkan sejak kecil.
“Aku bahagia bersama mereka. Aku menganggap keluarga Arima adalah keluarga yang paling ideal menurutku”
“Ada ‘tapi’nya bukan?” Tanya senpai setelah menatap wajahku lekat.
“……… Ya. Meskipun aku sangat menyukai mereka, tapi tetap saja ada sebuah garis yang memisahkan kami. Garis yang bernama ‘ikatan darah’. Aku tahu seharusnya aku tidak mengacuhkannya, tapi tetap saja….. “ aku tidak berani melanjutkan kalimatku.
Senpai menghindari tatapanku. Bahunya gemetar dan wajahnya seakan mengatakan ‘Maafkan aku’.
“Membosankan bukan? Mendengar cerita tentang keluargaku hanya buang-buang waktu”
“Tidak juga, Tohno-kun. Ceritamu tadi bisa dibilang sangat….. berarti” setelah mengatakan demikian, Senpai mulai menggigit rotinya.
Aku juga segera mengikutinya, memakan roti yang sudah kubawa. Aku harus berterima kasih kepada Senpai, karena gara-gara dia memintaku bercerita tentang keluarga Arima, nafsu makanku kembali. Meskipun demikian, tetapsaja aku menyisakan setengah dari roti yang kumakan tadi.
“Jadi gara-gara itu Tohno-kun terlihat tidak nafsu makan?”
“he? Tidak juga sih, bukan masalah besar menurutku”
“Kalau begitu kau tidak makan karena alasan kesehatan, mungkin?”
“Aku baik-baik saja, senpai. Ngomong-ngomong tentang pembunuhan berantai, apa pendapat Senpai?”
Sebenarnya aku merasa enggan menanyakannya, tapi Yumizuka yang menghilang membuatku sedikit merasa cemas.
“Tentang vampire itu?”
“Benar. Sudah 8 korban kalau aku tidak salah.”
“Aku tidak tahu banyak, tapi kata ‘vampire’ itu membuatku bergidik”
Dinamai vampire karena darah korban habis seperti dihisap. Aneh sekali, bukan?
“Tapi kenapa dinamai ‘vampire’?”
“Karena darah korban yang dihisap habis itu. Tidak aneh kalau si pembunuh dijuluki ‘vampire’”
“Kau tahu apa yang terjadi pada korban yang darahnya dihisap vampire? Menurut legenda, Tohno-kun?” tersenyum, senpai menanyakan sebuah pertanyaan yang aneh.
“Kalau ada orang yang darahnya dihisap, maka orang itu juga jadi vampire, kalau aku tidak salah”
“Benar. Jadi seharusnya tubuh korban tidak ditemukan, bukan? Kalau benar yang melakukannya vampire seharusnya kita tidak akan tahu adanya korban”
“Ah, aku mengerti. Tapi, Senpai, itu cuma julukan saja. Jangan-jangan Senpai benar-benar percaya adanya vampire?”
“Sama sekali tidak. Tapi karena tubuh korban ditemukan, berarti yang melakukannya bukan vampire” senpai tersenyum ketika mengatakan kesimpulannya.
“Tapi Tohno-kun, bisa saja kejadiannya seperti ini. Bagaimana jika tubuh korban yang ditemukan itu adalah korban yang gagal menjadi vampire? Jadi ada dua kemungkinan, jika korban menjadi vampire, maka tubuhnya tidak akan ditemukan, karena mereka masih hidup sebenarnya. Sedangkan yang tidak bisa menjadi vampire, mati. Karena itu tubuhnya ditemukan”
“Ya… itu sih….”
Senpai tetap tersenyum ketika mengatakannya. Aku tahu kalau dia hanya bercanda, tapi candaan seperti ini tidak bisa membuatku tertawa.
“Akan terlihat seperti cerita horror jika hal tersebut benar-benar terjadi. Dan karena aku tidak suka cerita-cerita menakutkan seprti itu, maka kita hentikan saja pembicaraan ini”
“Tapi Senpai, kau terlihat bersemangat ketika bercerita tadi”
“Ha ha, aku memang tidak suka cerita seram, tapi aku senang membuatmu ketakutan”
Senang membuatku takut?….. Apa aku telah melakukan sesuatu sehingga membuatnya dendam kepadaku?
“Lupakan lelucon tadi. Tapi memang benar, kalau malam hari akihr-akihr ini menjadi sangat berbahaya. Kau tidak boleh terlalu banyak main sampai malam, Tohno-kun”
Senpai member nasehat dengan gaya bercanda. Aku tidak bisa menebak kapan Senpai serius dan kapan tidak.
**********
Makan siang berakhir. Pelajaran Sejarah klasik seakan masuk telinga kiri dan kemudian keluar dari telinga kanan.
__ Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun__
Adalah kata-kata yang diucapkan Yumizuka padaku kemarin. Tidak mungkin ada seseorang yang setelah mengatakan kata-kata itu, terus kabur dari rumah. Perasaanku tidak enak. Ada pembunuh yang berkeliaran malam hari. Pergi keluar malam sangat berbahaya.
“……!!!!!”
Mungkin karena cahaya senja yang merah ketika kami berpisah kemarin, bayangan Yumizuka dalam kepalaku menjadi bersimbah darah.
Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur. Keseimbanganku juga kacau. Mataku berkunang-kunang dan kepalaku terasa berat.
“Sial!”
Aku tahu apa yang terjadi. Anemia. Aku merasa pandanganku mulai gelap.
Ini buruk. Aku selama ini tidak pernah pingsan di dalam kelas. Aku berusaha menggunakan meja untuk menjaga keseimbanganku. Namun sia-sia. Karena tanganku terasa lemas. Aku hampir terjatuh.
Bayangan Yumizuka yang bersimbah darah masih berada dalam kepalaku. Aku seakan bisa menyentuhnya.
___ Aku selalu percaya bahwa Tohno-kun akan datang dan menolongku setiap kali aku mengalami kesulitan ___
Sudah kubilang, aku tidak bisa selalu membantumu. Setinggi apapun kau menilaiku, aku bukanlah seorang superman.
********
“Maaf merepotkan, Arihiko”
“Untungnya aku sudah terbiasa melihatmu yang mendadak pingsan karena anemia. Tapi yang benar saja, kau bisa tidur di UKS sampai selama itu?”
“Kau seharusnya membangunkanku. Tidak ada untungnya menungguiku tidur sampai gerbang sekolah dikunci”
“Diamlah, memangnya aku tega membangunkan orang sakit? Sudahlah, ayo cepat pulang, ini sudah hampir jam 7”
Setelah aku pingsan karena anemia, Arihiko membawaku ke ruang UKS. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 ketika aku terbangun.
“Baiklah, kau bisa pulang sendiri dari sini. Sampai ketemu besok” kata Arihiko setelah kami sampai gerbang depan.
“Baiklah, dan maaf merepotkan”
“Sudahlah, besok-besok, kau harus membayarnya dua kali lipat”
Tersenyum kering aku membawa kakiku menuju rumah.
******
Aku tiba di perempatan tempatku berpapasan dengan Yumizuka secara tidak sengaja kemarin. Baru pukul 7, namun suasana sudah sangat sepi. Mungkin gara-gara pembunuh itu, orang-orang jadi takut keluar malam. Satu-satunya orang yang kulihat hanyalah sosok seorang wanita yang tampak dari kejauhan.
“Pirang?”
Wanita itu mungkin orang asing. Aku bisa melihat rambut emasnya bergoyang setiap kali dia melangkah. Meskipun aku hanya bisa melihat punggungnya, aku bisa menebak kalau dia pasti sanagt cantik.
DEG!
Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang.
Tenggorokanku terasa kering
Aku berkeringat, deras.
Kepalaku sakit.
Bukan anemia.
Karena kesadaranku tidak memudar, namun malah tampak menajam.
*hah hah*
Aku berusaha mengatur nafasku.
Punggung itu___
Melihat punggung wanita itu___
Wanita ber rambut emas itu____
Kepalaku semakin sakit.
*hosh hosh*
Aku ingin mengikuti wanita itu___
Setelah itu___
Apa?___
Apa yang ingin kulakukan setelahnya?
Wanita itu berjalan dan menghilang di distrik perbelanjaan yang ramai.
“Aku…ikuti…dia….”
Langkah kakiku berjalan mengikutinya. Namun sebelum aku berjalan terlalu jauh…. aku melihat banyangan Yumizuka, disudut mataku.
“Yumizuka-san?” Sakit kepalaku mendadak menghilang.
Hanya sekilas, tapi aku yakin kalau itu adalah sosok Yumizuka. Apa dia menuju pusat kota?
“Apa yang dia lakukan jam segini?”
Aku merasa marah. Aku tidak peduli apakah dia kabur dari rumah atau tidak. Sangat berbahaya untuk seorang gadis berjalan sendirian pada malam hari.
Yumizuka berjalan di antara keramaian kota.
Sebenarnya aku tidak yakin apakah dia Yumizuka, tapi aku memutuskan untuk mengikutinya.
“Yumizuka-san!! Tunggu!” aku berteriak sambil mengejarnya.
Yumizuka berbalik seakan mendengar suara panggilanku.
Wajah itu, aku yakin dia Yumizuka. Gadis yang berada didepan itu pasti Yumizuka Satsuki. Tapi entah kenapa, aku merasa bulu kudukku berdiri ketika memandangnya
Detak jantungku menggila
Kepalaku bagian belakang terasa berat.
Tenggorokanku terasa kering.
Sakit kepala kembali menyerang seperti ketika aku melihat gadis pirang tadi.
“Ke… kenapa aku…..?”
Tubuhku terasa membara.
Pusing.
Sekan-akan aku sedang mengalami demam tinggi.
Yumizuka kembali berjalan.
“Yumizuka-san, tunggu….!”
Memanggil namanya, aku berlari. Yumizuka terus berjalan tanpa sekalipun mnengok kebelakang. Kupaksakan tubuhku untuk berlari, namun tetap saja aku tidak bisa mengejarnya.
Secepat apapun aku berlari, aku tidak bisa mengejarnya yang hanya berjalan.
Aneh.
Ada yang aneh.
Aku tahu ada yang aneh, tapi aku tidak tahu apa.
Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mengejar Yumizuka Satsuki.
Kemudian aku kehilangan dia. Mataku tidak bisa menemukan Yumizuka yang kukejar.
“Cih, kemana dia?” aku berusaha mengatur nafas. Dadaku naik turun. Mungkin tanpa kusadari, aku sudah berlari cukup lama.
“Jam berapa ini?” Aku melihat jam dari kaca etalase sebuah took. Sudah tengah malam.
“Aku sudah berlari selama itu?” sulit dipercaya, tapi kurasa jam tidak akan berbohong. Sebagian besar toko di distrik perbelanjaan ini memang sudah tutup.
“Aku harus pulang” meskipun aku mencemaskan Yumizuka, tapi kurasa aku tidak akan bisa menemukannya malam mini. Aku mengejarnya hapir selama empat jam sambil memanggilnya. Tapi tidak ada respon sedikit pun. Apa sih, yang dipikirkannya?
Menghela nafas, aku berbalik dan berjalan menuju rumah.
Sepi sekali. Memang masih ada beberapa orang di distrik perbelanjaan, tapi disekitar rumah pasti sudah sanagt sepi. Bayangan pembunuh berantai menghantui kepalaku.
Tengah malam, berjalan sendiri. Aku bisa saja jadi sasaran empuk pembunuh itu.
Bruk!
“?” ada suara. Dibalik gedung itu, ada suara seperti orang yang terjatuh.
“Didalam gang itu?” suara itu hanya terdengar sekali. Keheningan yang mencekam membuatku sedikit bergidik. Aku mendapat firasat buruk.
Sesorang terjatuh didalam gang itu, atau hanya angin yang bertiup hingga menjatuhkan sesuatu?
Apapun itu, sebaiknya ku tidak melibatkan diri. Tapi, mungkin karena aku baru saja mencari Yumizuka, aku merasa dia ada disana.
“Apa yang harus kulakukan?”
Secara tidak sadar, aku merogoh saku, dan menemukan pisau yang diberikan oleh Kohaku pagi tadi.
Aku tidak bisa tidak mengacuhkan firasatku. Dengan adanya pembunuh yang menghantui kota pada malam hari, aku seharusnya tidak mempedulikan apapun yang terjadi dibalik gang itu. Tapi aku teringat senyum Yumizuka kemarin.
Tidak ada alasan bagi Yumizuka untuk berada disana. Tapi kalau dia berada disana, mungkin dia membutuhkan bantuan. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau membiarkan hal buruk terjadi padanya.
“Baiklah” jika pembunuh itu menyerang, aku juga masih memiliki ‘mata’ ini. Dulu Sensei pernah bilang, agar tidak menggunakan kemampuan mata ini seenaknya. Tapi kalau lawannya seorang pembunuh, kukira dia tidak akan keberatan.
“Baiklah….” Meneguhkan hati, aku kemudian melangkah menuju sumber suara.
Deg deg
Jantungku berdegup kencang
Gang ini sangat sepi.
Suara berasal dari ujung sana.
Deg deg
Bagian belakang kepalaku terasa sakit.
Deg deg
Kenapa?
Aku tak tahu.
Tapi instingku berkata….
Deg deg
Jangan
Jangan kesana
Kalau aku kesana, aku tidak akan bisa kembali lagi.
Deg deg
Tapi semuanya sudah terlambat.
Langkahku membawaku semakin mendekati sumber suara.
“eh…..?” adalah kata pertama yang kuucapkan.
Setelah melihat dinding gang seperti di cat dengan warna merah.
Potongan daging berserakan diantara tumpukan-tumpukan sampah.
Bukan potongan daging ayam, bebek, maupun kambing.
Manusia.
Potongan-potongan tubuh manusia.
Lantai dan dinding gang berwarna merah.
Merah.
Bau amis menusuk hidungku.
Darah.
Bau darah.
Kepala
Berguling-guling.
Menunjukkan ekspresi yang mengerikan.
Kepala yang terbelah dua.
Kepala yang saking rusaknya, aku tidak bisa membedakan apakah dia wanita atau laki-laki.
Tak bisa bersuara, aku hanya bisa memandangi pemandangan horror didepanku dalam diam.
Mereka sudah tidak bisa lagi disebut manusia.
Bahkan patung yang dibuat oleh seorang amatir terlihat jauh lebih baik daripada mereka.
Apa ini?
Apa ini?
Apa ini?
Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?
Didepanku, aku melihat warna yang sangat kubenci.
Tapi aku masih sanggup berdiri, tanpa merasa takut.
Sebuah mayat bergerak-gerak.
Bukan. Bukan mayat.
Dia masih hidup.
Manusia dengan tubuh yang masih utuh.
Melihat seseorang yang masih hidup saat ini terasa sangat mengejutkan. Tapi dia masih hidup. Dan aku harus menolongnya. Aku berlari kearahnya. Menariknya dari lautan daging, aku melihat wajahnya.
“HIIIII…….!!!” Secara reflex, aku berteriak dan melompat mundur.
Tengkorak.
Tengkorak tanpa wajah.
Aku berusaha menjauh, namun dia lebih cepat mengejarku.
Mengeluarkan suara seperti ‘hyuuu! hyuuuu!” dia melompat kearahku.
Tangan itu.
Tangannya yang kering itu berusaha menggapaiku.
“HYAAAAA!!!!” aku berusaha melepaskan genggamannya. Tapi dia memegang lenganku dengan sangat erat. Jari-jarinya yang putih menancap di lenganku.
Sakit.
Jari-jarinya setajam jarum.
Begitu hebatnya rasa sakit yang kurasakan, sehingga aku tidak bisa bersuara.
Dengan suara bergemeretak, rahangnya terbuka.
Cukup lebar, sehingga dia bisa menelan kepalaku dalam sekali gigitan. Ketika dia mendekat, aku seakan mendengar dia berkata, ‘aku tidak ingin mati. Tolong aku! Tolong aku!’
Mahluk yang hanya terbuat dari tulang dan kulit yang berusaha menelan kepalaku itu, tiba-tiba roboh.
Perlahan, dia berubah menjadi debu, dan menghilang tertiup angin.
“A, apa itu tadi?”
Rasa sakit masih menjalari tubuhku.
Artinya aku tidak sedang bermimpi.
“Tohno-kun, berbahaya kalau kau disini sendirian”
“!!!!” Aku menoleh kearah suara yang memanggilku dari belakang. Aku melihat Yumizuka Satsuki berdiri.
“Yu…mizuka?”
“Selamat malam. Tempat yang aneh untuk bertemu ya?” selayaknya bertemu di mall, dia menyapaku dengan suaranya yang ringan.
“Yumizuka-san? Kau…. Apayang kau lakukan? Disini?”
“Jalan-jalan. Tapi… wah, apa yang kau lakukan disini, Tohno-kun? membunuh orang sebanyak itu tidak baik, kau tahu?” kata Yumizuka sambil tersenyum.
“Membunuh? Eh?” aku kembali menoleh dan melihat pemandangan horror dibelakangku.
Tohno Shiki sedang berdiri ditengah lautan darah.
“Bukan aku”
“Bagaimana bisa bukan? Semua mati, hanya Tohno-kun yang masih hidup. Ini artinya, kau yang membunuh mereka semua.”
Aku menelan ludah, sedangkan Yumizuka tertawa terkikik.
“Bukan…aku…” lidahku kelu. Aku ingin mengatakan banyak hal, tapi aku seperti lupa dengan semua pelajaran bahasa yang pernah kupelajari.
Ada banyak yang ingin kutanyakan, seperti apa yang dilakukan Yumizuka disini setelah kabur dari rumah.
Ada banyak yang ingin kutanyakan, seperti kenapa Yumizuka masih bisa tersenyum setelah melihat pemandangan horror dibelakangku.
“I…ini…”
“Sudahlah, Tohno-kun. aku mengerti. Kau hanya mengganggu makan malam seseorang secara tidak sengaja.” Yumizuka masih tertawa
Caranya tawanya sangat tidak sesuai dengan situasi saat ini. Aku merasa merinding. Yumizuka berdiri di ujung gang. Tangannya berada dibelakang seperti menyembunyikan sesuatu. Dan kalau diperhatikan lebih detil, ada beberapa noda merah menempel di seragamnya.
“Yumizuka… kau…”
“Ya? Ada apa Tohno-kun?” dia masih tertawa.
Tidak.
Gadis ini pasti bukan Yumizuka Satsuki.
“Kenapa kau menyembunyikan tanganmu, Yumizuka?”
“Ha ha ha…. Sepertinya ketahuan ya? Kau terlalu jeli untuk melewatkan hal kecil seperti ini. Karena itu aku menyukaimu, Shiki.”
Setelah memanggilku dengan nama ‘Shiki’, dia menunjukkan tangannya. Kedua tangannya berwarna merah. Merah darah. Belum kering. Aku masih bisa warna merah itu menetes dari tangannya. Dan dengan bangganya, Yumizuka tersenyum.
“Ya. Aku yang membunuh mereka semua”
“A, apa?”
“Tapi tidak masalah, aku membunuh mereka bukan karena benci. Aku hanya membutuhkan darah mereka untuk tetap hidup.”
Apa ini? Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Yumizuka.
“Kau membunuh mereka?”
“Kau tidak akan percaya kalau aku bilang ‘bohong’ bukan? Atau kau pikir mustahil bagi seorang gadis sepertiku melakukan ini semua?”
Tawanya terdengar lembut.
Tidak mungkin.
Aku tidak percaya ini.
Tapi dia tidak berbohong.
Semua ini….
Dilakukan oleh Yumizuka Satsuki.
“Kenapa….?”
“Kenapa? Sudah kubilang, aku harus melakukannya untuk bertahan hidup, Shiki”
“Tapi membunuh itu SALAH!!”
“Aku tidak salah. Tapi memang aku tadi sedikit melakukan kesalahan. Ketika menghisap darah salah satu dari mereka, secara tidak sengaja, darahku masuk kedalam tubuhnya. Dan, dialah yang menyerangmu tadi, Shiki. Tapi untunglah, dia sudah hancur sebelum berubah sempurna.”
“A, apa maksudmu?”
“Tidak apa kalau kau tidak mengerti. Aku sendiri tidak begitu mengerti, jadi aku tidak bisa menjelaskan dengan baik.”
Yumizuka tersenyum. Dia kemudian melanjutkan,”awalnya aku takut. Tapi setelah itu, aku merasa bisa menjadi seperti Shiki. Menjadi sepertimu, aku merasa hebat. Jadi tunggu aku, oke? Aku akan menjadi vampire yang hebat, dan kemudian kembali menemuimu”
Yumizuka berbalik, dan kemudian melompat. Tinggi sekali.
“Tunggu, Yumizuka!”
Yumizuka telah menghilang. Aku tak mungkin bisa mengejarnya. Kecepatannya seperti kecepatan seekor binatang. Bukan kecepatan yang bisa dicapai oleh tubuh manusia.
“Apa yang terjadi padamu, Yumizuka….”
Luka di lenganku kembali terasa perih. Aku memukul dinding gang karena kesal.
*********
Gerbang rumah. Aku tidak melihat adanya cahaya dari dalam. Entah kenapa, aku tidak sadar kalau malam sudah selarut ini. Aku bakal dimarahi akiha habis-habisan kali ini.
Membuka pintu sepelan mungkkin agar tidak menimbulkan suara, aku disambut oleh ruang lobi yang kosong.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku harus segera merawat lukaku, tapi tidak mungkin aku membangunkan kohaku sekarang.
“…Kak?”
“Akiha..?”
Aku menoleh kearah suara itu. Aku melihat Akiha berdiri diatas tangga.
“Kak, pulang larut malam, apa sih yang ada dalam pikiran kakak?” katanya marah sambil menghampiriku.
Setelah menapak anak tangga terakhir, mata Akiha membelalak melihat konsisiku sekarang.
“Kak! Kenapa kakak bisa…”
Sial. Aku ingin menyembunyikan luka ini, tapi sudah tidak mungkin lagi.
“I, ini hanya….”
“Diam dulu. apa lukanya hanya di bahu saja?”
“Ya, ini….”
“Alasannya nanti saja. Sekarang kita harus merawat luka Kakak. Maaf sebentar…”
Perlahan, Akiha menyentuh bahuku.
“__Akh!”
Tubuhku berjengit hanya karena sentuhan ringan Akiha. Luka ini tampaknya lebih dalam dari perkiraanku.
“Ah, maaf. Sakit ya Kak…?”
“Aku ingin bilang kalau aku baik-baik saja, tapi tampaknya tidak mungkin. Sentuhanmu tadi saja terasa sangat sakit”
“Tampaknya dalam. Baiklah, saya akan merawat luka itu sekarang. Jadi, Kak, silahkan ke ruang tengah” kata Akiha sambil bergerak menuju lantai dua dengan sedikit tergesa.
Aku menyalakan lampu di ruang tengah, dan duduk di sofa. Luka di bahuku terasa sangat sakit tak tertahankan.
“Maaf membuat Kakak menunggu.” Akiha datang membawa kotak P3K. “Saya tidak tahu apakah ini akan banyak membantu, tapi paling tidak, luka itu harus diberi disinfektan.”
Akiha mulai merawat lukaku. Seragamku yang berlumuran darah dipotong menggunakan gunting agar lebih mudah mengoleskan disinfektan ke lukaku.
“GUUH!!” aku menggeretakkan gigi dan mengepalkan tangan setelah tiba-tiba rasa sakit menjalar seperti listrik karena obat yang dioleskan Akiha. Namun setelah itu, perlahan rasa sakit menghilang. Akiha mungkin pandai merawat atau mungkin saja sebenarnya lukaku tidak separah dugaanku.
“Baiklah, selesai. Luka seperti ini akan sembuh besok pagi.” Akiha mengemasi kotak P3K.
Sebenarnya aku sedikit terkejut. Karena akuk mengira Akiha akan menanyakan dimana aku mendapatkan luka ini. Dan tentu saja memarahiku karena pulang pagi.
“…. Kau tidak bertanya, Akiha…?”
“Bertanya tentang…. apa?”
“Yah, kau tahu, karena aku pulang pagi, atau kenapa aku terluka?”
Aku mengatakannya seperti memprotes. Mungkin juga aku sebenarnya hanya ingin diperhatikan. Atau mungkin aku sudah terlalu lelah. Kelelahan membuatku bicara ngawur.
“Kak, … saya tahu prioritas. Sekarang yang paling penting adalah merawat lukamu terlebih dahulu.”
“Begitu ya? Oke, aku mengerti”
“Sebenarnya Kakak menganggap saya orang seperti apa? Tidak mungkin saya mengomeli orang yang terluka”
“Ah iya, maaf.”
“Tapi saya tetap ingin mendengar alasan kakak setelah luka kakak sembuh. Istirahatlah sekarang”
“________”
Aku mengalihkan pandanganku dari akiha. Aku bersyukur Akiha mau pengertian. Tapi meskipun sudah sembuh juga, aku tidak mungkin bisa mengatakan yang sebenarnya.”
“Akiha, Aku___”
“Sudahlah, kak. Jangan menatapku dengan wajah seperti itu. Sekarang kakak harus kembali kekamar dan segera tidur. Dan juga, paling kakak tidak akan menceritakannya padaku meskipun sudah sembuh”
Membaca pikiranku dengan sempurna, Akiha berbalik dan berjalan meninggalkan lobi. Menaiki tangga, menuju kamarnya.Aku hanya duduk disofa melihatnya pergi.
Tiba-tiba saja aku kepikiran sesuatu. Apakah Akiha dengan sengaja menunggu kedatanganku? Bagaimana mungkin dia muncul di lobi tiba-tiba seperti tadi?
“___Akiha”
“Ya Kak?”
“Terima kasih sudah mau merawatku. Maaf, aku selalu membuatmu cemas”
“Ah___” Akiha berhenti didepan pintu kamarnya.. Dan kemudian dia berbalik kearahku. “Sa, saya tidak mencemaskan kakak. Jika kakak memiliki tenaga untuk memuji, sebaiknya gunakan saja untuk menjaga diri kakak sendiri!”
Dengan keras, dia membanting pintu kamarnya.
“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya” Tapi aku tahu kalau dia mencemaskanku.
Tadi itu…. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Potongan-potongan tubuh berserakan di gang. Kemudian, sosok Yumizuka yang tangannya berlumuran darah. Membayangkannya saja, membuat bulu kudukku berdiri semua.
Aku berdiri dan kemudian menuju kamarku. Mengganti baju, aku kemudian melempar tubuhku keatas kasur. Setiap kali aku menutup mataku, bayangan pemandangan horror di gang berseliweran dikepalaku.
___ Ya. Aku yang membunuh mereka semua.
Kata Yumizuka waktu itu. Tanpa rasa bersalah.
___ Aku hanya membutuhkan darah mereka untuk tetap hidup.
Dan dia membunuh mereka. Seperti vampire…. Seperti lelucon yang sangat buruk.
___ Jadi tunggu aku, oke? Aku akan menjadi vampire yang hebat.
Dan aku tidak bisa mengingat apa kata Yumizuka selanjutnya.
Perlahan rasa kantuk menyerang. Dengan masih membayangkan wajah Yumizuka, aku menutup mataku pelan.
Hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik. Yumizuka mengatakan yang sebenarnya, dan dia yang membantai orang-orang itu.
• Read More..
Labels:
Tsukihime: Akiha Ending
Subscribe to:
Posts (Atom)