Akhirnyaaa....
selesai juga terjemahan tidak resmi Tsukihime ini. :)
Sebenarnya saya merasa bingung, apakah yang saya lakukan dengan menerjemahkan game ini, dan kemudian mempostingnya kedalam blog adalah sesuatu yang melanggar hukum atau tidak?
saya tidak tahu. sampai sekarang, saya masih belum tahu.
Tsukihime Arcueid Ending, salah satu dari total 9 ending dalam game Tsukihime, sebenarnya bukanlah ending favorit saya. saya merasa Akiha dan Kohaku Ending terasa lebih menyentuh daripada Arcueid Ending. saat ini saya sedang menerjemahkan ending yang lain, yaitu Tsukihime Akiha Ending. tidak tahu bisa kapan selesainya, tapi saya harap bisa secepatnya. :)
Bagi teman-teman yang sudah membaca terjemahan ini, saya ucapkan terima kasih
CLOVER•
Read More..
Wednesday, December 24, 2008
EPILOG: Tsukihime
“Shiki-sama, selamat pagi.”
Aku mendengar suara yang sudah familiar ditelingaku.
“Shiki-sama, cepat bangun, kalau terlambat, anda akan melanggar janji anda dengan Akiha-sama.”
Suaranya terdengar kadang keras, kadang lembut.
“Shiki-sama, anda yakin tidak mau bangun? Akiha-sama mungkin akan memarahi anda lagi”
Tunggu dulu! Kalau yang itu aku tidak mau.
“..... Aku sudah bangun...... tapi tunggu sebentar”
Masih dibawah selimut, perlahan aku membuka mataku.
“Selamat pagi, Shiki-sama.” Sapa Hisui.
“....Pagi....” Aku menjawab salamnya sambil menguap. Setelah itu aku memakai kacamataku.
Sudah jam 7 lebih sekarang. Hisui datang tepat waktu dan membangunkanku seperti biasanya.
“Saya akan menyiapkan sarapan untuk anda. Setelah berganti baju, silahkan menuju ruang makan”
Setelah membungkukkan badan, Hisui meninggalkan kamarku.
Aku menguap, menggeliat, kemudian bangun. Aku memakai seragam sekolahku sambil melirik sesuatu yang berada diatas meja. Aku melihat pisau yang tidak akan kugunakan lagi.
Korden melambai tertip angin pagi. Hisui mungkin yang membuka jendelanya. Aku melihat langit pagi yang cerah. Tapi udaranya sedikit terasa dingin.
Aku kemudian berjalan menuju jendela kamarku.
Setelah kejadian dengan Roa, Senpai membawaku kembali pulang. Untungnya tidak ada seorangpun dirumah yang tahu kalau aku pergi diam-diam. Kejadian itu terjadi seminggu yang lalu.
Kehidupan Tohno Shiki tidak berubah sama sekali. Kadang-kadang aku measa tidak enak dengan Akiha, tapi tidak akan ada masalah. Karena kami berdua adalah kakak beradik.
Selain lorong penghubung yang ambrol, sekolah tidak berubah sama sekali. Sebenarnya ada satu yang berubah, tidak ada lagi Senpai yang bernama Ciel, dan tidak seorangpun yang mengingatnya.
Pembunuhan berantai tidak terjadi lagi sejak malam itu. Tapi karena pelakunya tidak pernah tertangkap, mungkin jalan-jalan dikota masih relatif sepi setiap malam. Tapi aku yakin semuanya akan berubah normal setelah beberapa bulan.
Kemudian aku. Aku terus membawa perasaan yang sangat berat setiap waktu. Tapi aku terus melanjutkan hidupku. Atau lebih tepatnya, aku bertahan. Kadang, aku tenggelam dalam kenanganku. Tapi aku tidak akan menjadi gila karenanya.
Suatu hari nanti, apakah aku akan menjadi gila, atau aku menerima semua kenyataan dan hidup normal, tidak ada yang tahu. Tapi sampai saat ini aku terus menepati janjiku padanya.
“Sebentar lagi musim semi ya?”
Langit biru yang indah membuatku terbuai. Menghirup udara pagi, aku kemudian menutup jendela.
****
Sekolah telah usai. Kelas sudah kosong dan sepi. Tapi aku tidak akan pergi sampai matahari benar-benar tenggelam.
Kelas memerah tertimpa sinar matahari sore. Sinar matahari yang menyala masuk melalui jendela.
Aku akan terus menunggu disini. Aku teringat janjiku padanya. Aku akan terus menunggunya disini.
Ada satu janji yang belum sempat kutepati.
Setelah semuanya selesai, bisakah kita melakukan hal yang sia-sia seperti ini lagi?
Dulu, dia merasa bingung.
Bagaimana jadinya seandainya kita bertemu kembali tanpa alasan apapun
Ketika aku mengatakan ini, aku hanya memikirkannya.
___jika kau terlalu sibuk, tidak apa. Aku juga baru kepikiran sekarang
Seandainya.
Tidak sebagai dua orang yang bekerja sama.
Hanya dua orang yang berteman akrab, tanpa melakukan sesuatu yang penting.
Seandainya kami berdua bisa membuat kenangan seperti itu.
Aku yakin dia akan bahagia.
Baiklah! Kalau semuanya sudah selesai, kita akan kesini lagi, Shiki! Mungkin memang sia-sia, tapi sepertinya akan menyenangkan!
Katanya waktu itu sambil mengangguk.
Didalam ruang kelas yang bermandikan cahaya matahari sore, kami mengucapkan janj itu.
Aklu masih ingat janji itu.
Aku masih ingat senyum itu.
Aku masih ingat semuanya.
Aku tidak mungkin lupa.
Aku tidak akan lupa.
Aku akan selalu ingat.
“...........”
Matahari mulai tenggelam.
Sebentar lagi warna merah ini akan menghilang.
Tapi, dunia yang rapuh ini masih terus ada.
Mungkin aku sudah mulai gila.
Meskipun aku menunggu seseorang yang tidak mungkin datang, hatiku masih berdebar-debar.
Krak!
Suara sesuatu yang menyentuh meja.
Aku melihat kearah suara tadi berasal.
Jendela terbuka
Aku melihatnya.
Seseorang yang selalu kutunggu
Aku melihatnya berdiri didekat jendela.
Dia tidak bergerak, tapi dia disana.
Dia tepat didepanku
Bukan sebuah ilusi atau bayangan saja.
Tapi aku merasakan adanya jarak yang memisahkan kami, yang tidak mungkin kuperpendek.
Aku terus memandanginya. Aku merasa tenang sekarang.
“Kau tahu Shiki, aku berencana untuk segera pergi. Tapi kau terus menungguku seperti ini. Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini terus, jadi aku datang menemuimu.” Dia terenyum tersipu.
“.....Aku sudah pernah bilang kalau aku tidak akan melanggar janjiku lagi”
“Benar. dan terima kasih telah menepatinya.” Kata Arcueid. “Tapi tampknya, kali ini akulah yang tidak bisa menepati janji.” tambahnya.
“Kenapa?” Aku merasa terkejut dengan ucapanku sendiri. Aku bisa bertanya dengan suara yang lembut, tanpa kemarahan.
“Ya. Aku tidak pernah mengatakan padamu kenapa aku memburu Roa. Sebenarnya dulu, aku pernah meminum darah manusia. Kemudian, orang itu mencuri kekuatanku, dan menjadi Dead Apostles yang sangat kuat.” Kata Arcueid
“Kemudian, dia membuatku membunuh semua True Ancestor yang lain.”
....artinya.....
“___Maksudmu Roa?”
“Saat itu, aku masih belum tahu mengenai naluri alami. Dan True Ancestor yang lain juga percaya bahwa aku tidak memilikinya. Saat itu aku bahkan tidak tahu kalau aku adalah seorang vampire. Jadi aku tidak tahu kalau aku tidak boleh melakukannya.”
Dia tidak pernah diberi tahu apapun. Dia bahkan tidak tahu kalau dirinya sama dengan yang diburunya.
“Karena satu kesalahnku itu, aku menghancurkan semuanya. ..... jadi, aku tidak akan meminum darah manusia lagi. Tapi, True Ancestor yang sudah pernah meminumnya, tidak akan tetap waras kalau tidak melakukannya lagi.”
“_______”
“Sekarang, aku bisa berada disini karena kau telah ‘benar-benar’ membunuh Roa. Aku memang telah membunuhnya berulang kali, tapi hanya tubuhnya. Bukan jiwanya.” Arcueid melihat kearahku dengan tatapan yang lembut.
“Tapi kau telah membunuh jiwanya Shiki. Sehingga kekuatan yang dicurinya kembali kepadaku, dan aku bisa terselamatkan.”
“___ Itu ____ bukan___”
“Tapi hanya itu saja yang bisa kulakukan. Aku tidak akan mempu menahan naluri alamiku lebih lama lagi. Jadi____”
“___Itu___ tidak masalah.” Kataku terbata-bata. Karena aku tahu apa yang kan dia katakan selanjutnya.
“....... Shiki, aku tidak bisa melihatmu lagi. Maaf, aku telah melanggar janjiku.”
Bagiku..... tidak masalah kau bisa menahan nalurimu atau tidak. Yang kuinginkan hanyalah kau berada disisiku selalu.
“Kau, bisa memenuhi janjimu, Arcueid”
“Shiki?”
“Kau bisa meminum darahku. Jika kau melakukannya___ kau bisa menepati janjimu.”
Detik demi detik berganti. Tapi kami tetap terdiam membisu. Setelah keheningan ini,
“__Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa, Shiki”
“Kenapa? Apa alasannya?”
Dia mengangguk, dan berkata “Karena aku menyukaimu, jadi aku tidak bisa melakukannya” jawabnya sambil tersenyum.
Dia tersenyum seperti bunga yang mekar di padang rumput yang gersang.
Aku kembali terdiam berusaha menahan perasaan ini.
Aku ingin menahannya.
Aku ingin menahannya.
Aku ingin menahannya.
Aku ingin menahannya.
Meskipun aku harus membunuhnya, aku ingin menghentikannya. Aku tidak ingin dia menjauh dariku.
Tapi aku kalah oleh senyum itu. Aku tidak bisa dengan egoisnya menghancurkan senyuman itu.
“__Selamat tinggal. Terima kasih untuk semuanya, Shiki”
Tenggorokanku terasa kerig. Tidak satu katapun yang terucap. Tapi, aku harus tetap mengucapkan selamat tinggal.
“....Aku mungkin seorang pembohong” kataku lirih
“Kenapa? Kau sudah menepati janjimu, Shiki”
“Aku pernah mengatakan akan membuatmu bahagia.’
Ya. Aku pernah bersumpah seperti itu.
“Tidak. Aku akan terus tertidur, tapi aku akan terus melihatmu dalam mimpiku. Aku sangat menikmati saat-saat kita bersama. Aku akan terus memimpikannya.”
“_______”
“Mungkin hanya sia-sia saja, tapi aku rasa akan sangat menyenangkan. Jadi, Shiki, kau sudah membuatku bahagia. Kau benar-benar membuatku bahagia.”
“Kh........hh!”
Aku tidak ingin.... seperti itu.
“Kau benar-benar orang yang baik, Shiki. Aku tahu kalau aku datang kemari akan ada hal bagus terjadi. Aku mencintaimu, Shiki. Kejujuranmu, bagaimana kau melamun, bagaimana kau memarahiku, bagaimana kau yang selalu melihat kedepan, aku menyukai semua hal yang ada pada dirimu. Jadi, tetaplah hidup seperti itu, Oke?”
Sekejab, Arcueid tampak tersenyum sedih. Melambaikan tangannya, perlahan tubuhnya menghilang. Dia menghilang tepat didepan mataku.
Aku menggertakkan gigiku berusaha menahan semuanya. Dia tetap tersenyum sampai akhir, jadi aku tidak ingin menangis.
Ruang kelas yang sepi.
“.....Begitu ya. Kau benar-benar menepati janjimu, Arcueid.”
Didalam kelas ini. Kami berjanji untuk bertemu lagi didalam kelas ini saat matahari terbenam. Dan dia sudah memenuhinya.
Aku merasa kehilangan sesuatu. Tapi aku tahu semuanya telah berakhir. Tirai waktu kami telah tertutup, waktu yang kulalui bersamanya.
Aku tahu ada saatnya mengucapkan selamat tinggal. Tapi dalam kasus ini, ‘selamat tinggal’ kami terlalu cepat.
Kalau kupikir-pikir lagi, tadi itu ucapan selamat tinggal yang bagus. Dia masih hidup, dan dia....mengatakan kalau.....dia ......bahagia.
“tapi buakan ini yang kuinginkan......”
Benar. aku ingin bersamanya lebih lama.
Aku ingin berberbicara dengannya.
Aku ingin merasakan kehangatan tubuhnya.
Aku ingin melihat senyumnya lebih lama.
Selalu.
Tidak seperti ini
Aku ingin selalu membuatnya bahagia
Tapi dia,......
Tersenyum sampai akhir
Pergi
Dan menyuruhku melanjutkan hidupku.
“......Dasar bodoh......”
Itulah yang diinginkannya.
Dengan senyumnya, dia mengatakan padaku
Sekeras apapun
Meskipun aku harus menipu diriku sendiri
Sampai aku bisa menganggapnya sebagai sebuah kenangan saja.
Dia ingin aku terus hidup, dan menatap masa depan.
“Ck......!’
Itu tidak mungkin.
Aku tidak punya kepercayaan diri untuk menjalani hidup seperti itu.
Tapi,
Sampai akhirnya dia melihat mimpi indah,
Aku akan mengabulkan keinginannya.
Aku akhirnya tersadar. Matahari sudah lama tenggelam. Langit yang berwarna merah telah berubah menjadi biru gelap.
Langit malam yang gelap.
Awan yang bergumpal.
Bulan yang berwarna putih.
Yang tersisa hanyalah sebuah kenangan yang indah.
Mungkin dia sudah tidak berada disini sekarang, tapi aku harus mengucapkan sesuatu yang tidak sempat kuucapkan tadi.
“Selamat tinggal......... aku merasa senang bisa bersamamu meskipun hanya sebentar”
Kalimat yang terlambat itu menggema diseluruh ruangan.
Hanya bulan yang seperti kaca yang menggantung di langit malam. Bulan yang terlihat sangat rapuh, dan bisa pecah kalau kusentuh.
Aku terus melihat bulan yang berpendar keperakan dilangit. Aku terus menikmatinya, hingga fajar menyingsing, di dalam ruang kelas yang sepi.
TAMAT• Read More..
Aku mendengar suara yang sudah familiar ditelingaku.
“Shiki-sama, cepat bangun, kalau terlambat, anda akan melanggar janji anda dengan Akiha-sama.”
Suaranya terdengar kadang keras, kadang lembut.
“Shiki-sama, anda yakin tidak mau bangun? Akiha-sama mungkin akan memarahi anda lagi”
Tunggu dulu! Kalau yang itu aku tidak mau.
“..... Aku sudah bangun...... tapi tunggu sebentar”
Masih dibawah selimut, perlahan aku membuka mataku.
“Selamat pagi, Shiki-sama.” Sapa Hisui.
“....Pagi....” Aku menjawab salamnya sambil menguap. Setelah itu aku memakai kacamataku.
Sudah jam 7 lebih sekarang. Hisui datang tepat waktu dan membangunkanku seperti biasanya.
“Saya akan menyiapkan sarapan untuk anda. Setelah berganti baju, silahkan menuju ruang makan”
Setelah membungkukkan badan, Hisui meninggalkan kamarku.
Aku menguap, menggeliat, kemudian bangun. Aku memakai seragam sekolahku sambil melirik sesuatu yang berada diatas meja. Aku melihat pisau yang tidak akan kugunakan lagi.
Korden melambai tertip angin pagi. Hisui mungkin yang membuka jendelanya. Aku melihat langit pagi yang cerah. Tapi udaranya sedikit terasa dingin.
Aku kemudian berjalan menuju jendela kamarku.
Setelah kejadian dengan Roa, Senpai membawaku kembali pulang. Untungnya tidak ada seorangpun dirumah yang tahu kalau aku pergi diam-diam. Kejadian itu terjadi seminggu yang lalu.
Kehidupan Tohno Shiki tidak berubah sama sekali. Kadang-kadang aku measa tidak enak dengan Akiha, tapi tidak akan ada masalah. Karena kami berdua adalah kakak beradik.
Selain lorong penghubung yang ambrol, sekolah tidak berubah sama sekali. Sebenarnya ada satu yang berubah, tidak ada lagi Senpai yang bernama Ciel, dan tidak seorangpun yang mengingatnya.
Pembunuhan berantai tidak terjadi lagi sejak malam itu. Tapi karena pelakunya tidak pernah tertangkap, mungkin jalan-jalan dikota masih relatif sepi setiap malam. Tapi aku yakin semuanya akan berubah normal setelah beberapa bulan.
Kemudian aku. Aku terus membawa perasaan yang sangat berat setiap waktu. Tapi aku terus melanjutkan hidupku. Atau lebih tepatnya, aku bertahan. Kadang, aku tenggelam dalam kenanganku. Tapi aku tidak akan menjadi gila karenanya.
Suatu hari nanti, apakah aku akan menjadi gila, atau aku menerima semua kenyataan dan hidup normal, tidak ada yang tahu. Tapi sampai saat ini aku terus menepati janjiku padanya.
“Sebentar lagi musim semi ya?”
Langit biru yang indah membuatku terbuai. Menghirup udara pagi, aku kemudian menutup jendela.
****
Sekolah telah usai. Kelas sudah kosong dan sepi. Tapi aku tidak akan pergi sampai matahari benar-benar tenggelam.
Kelas memerah tertimpa sinar matahari sore. Sinar matahari yang menyala masuk melalui jendela.
Aku akan terus menunggu disini. Aku teringat janjiku padanya. Aku akan terus menunggunya disini.
Ada satu janji yang belum sempat kutepati.
Setelah semuanya selesai, bisakah kita melakukan hal yang sia-sia seperti ini lagi?
Dulu, dia merasa bingung.
Bagaimana jadinya seandainya kita bertemu kembali tanpa alasan apapun
Ketika aku mengatakan ini, aku hanya memikirkannya.
___jika kau terlalu sibuk, tidak apa. Aku juga baru kepikiran sekarang
Seandainya.
Tidak sebagai dua orang yang bekerja sama.
Hanya dua orang yang berteman akrab, tanpa melakukan sesuatu yang penting.
Seandainya kami berdua bisa membuat kenangan seperti itu.
Aku yakin dia akan bahagia.
Baiklah! Kalau semuanya sudah selesai, kita akan kesini lagi, Shiki! Mungkin memang sia-sia, tapi sepertinya akan menyenangkan!
Katanya waktu itu sambil mengangguk.
Didalam ruang kelas yang bermandikan cahaya matahari sore, kami mengucapkan janj itu.
Aklu masih ingat janji itu.
Aku masih ingat senyum itu.
Aku masih ingat semuanya.
Aku tidak mungkin lupa.
Aku tidak akan lupa.
Aku akan selalu ingat.
“...........”
Matahari mulai tenggelam.
Sebentar lagi warna merah ini akan menghilang.
Tapi, dunia yang rapuh ini masih terus ada.
Mungkin aku sudah mulai gila.
Meskipun aku menunggu seseorang yang tidak mungkin datang, hatiku masih berdebar-debar.
Krak!
Suara sesuatu yang menyentuh meja.
Aku melihat kearah suara tadi berasal.
Jendela terbuka
Aku melihatnya.
Seseorang yang selalu kutunggu
Aku melihatnya berdiri didekat jendela.
Dia tidak bergerak, tapi dia disana.
Dia tepat didepanku
Bukan sebuah ilusi atau bayangan saja.
Tapi aku merasakan adanya jarak yang memisahkan kami, yang tidak mungkin kuperpendek.
Aku terus memandanginya. Aku merasa tenang sekarang.
“Kau tahu Shiki, aku berencana untuk segera pergi. Tapi kau terus menungguku seperti ini. Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini terus, jadi aku datang menemuimu.” Dia terenyum tersipu.
“.....Aku sudah pernah bilang kalau aku tidak akan melanggar janjiku lagi”
“Benar. dan terima kasih telah menepatinya.” Kata Arcueid. “Tapi tampknya, kali ini akulah yang tidak bisa menepati janji.” tambahnya.
“Kenapa?” Aku merasa terkejut dengan ucapanku sendiri. Aku bisa bertanya dengan suara yang lembut, tanpa kemarahan.
“Ya. Aku tidak pernah mengatakan padamu kenapa aku memburu Roa. Sebenarnya dulu, aku pernah meminum darah manusia. Kemudian, orang itu mencuri kekuatanku, dan menjadi Dead Apostles yang sangat kuat.” Kata Arcueid
“Kemudian, dia membuatku membunuh semua True Ancestor yang lain.”
....artinya.....
“___Maksudmu Roa?”
“Saat itu, aku masih belum tahu mengenai naluri alami. Dan True Ancestor yang lain juga percaya bahwa aku tidak memilikinya. Saat itu aku bahkan tidak tahu kalau aku adalah seorang vampire. Jadi aku tidak tahu kalau aku tidak boleh melakukannya.”
Dia tidak pernah diberi tahu apapun. Dia bahkan tidak tahu kalau dirinya sama dengan yang diburunya.
“Karena satu kesalahnku itu, aku menghancurkan semuanya. ..... jadi, aku tidak akan meminum darah manusia lagi. Tapi, True Ancestor yang sudah pernah meminumnya, tidak akan tetap waras kalau tidak melakukannya lagi.”
“_______”
“Sekarang, aku bisa berada disini karena kau telah ‘benar-benar’ membunuh Roa. Aku memang telah membunuhnya berulang kali, tapi hanya tubuhnya. Bukan jiwanya.” Arcueid melihat kearahku dengan tatapan yang lembut.
“Tapi kau telah membunuh jiwanya Shiki. Sehingga kekuatan yang dicurinya kembali kepadaku, dan aku bisa terselamatkan.”
“___ Itu ____ bukan___”
“Tapi hanya itu saja yang bisa kulakukan. Aku tidak akan mempu menahan naluri alamiku lebih lama lagi. Jadi____”
“___Itu___ tidak masalah.” Kataku terbata-bata. Karena aku tahu apa yang kan dia katakan selanjutnya.
“....... Shiki, aku tidak bisa melihatmu lagi. Maaf, aku telah melanggar janjiku.”
Bagiku..... tidak masalah kau bisa menahan nalurimu atau tidak. Yang kuinginkan hanyalah kau berada disisiku selalu.
“Kau, bisa memenuhi janjimu, Arcueid”
“Shiki?”
“Kau bisa meminum darahku. Jika kau melakukannya___ kau bisa menepati janjimu.”
Detik demi detik berganti. Tapi kami tetap terdiam membisu. Setelah keheningan ini,
“__Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa, Shiki”
“Kenapa? Apa alasannya?”
Dia mengangguk, dan berkata “Karena aku menyukaimu, jadi aku tidak bisa melakukannya” jawabnya sambil tersenyum.
Dia tersenyum seperti bunga yang mekar di padang rumput yang gersang.
Aku kembali terdiam berusaha menahan perasaan ini.
Aku ingin menahannya.
Aku ingin menahannya.
Aku ingin menahannya.
Aku ingin menahannya.
Meskipun aku harus membunuhnya, aku ingin menghentikannya. Aku tidak ingin dia menjauh dariku.
Tapi aku kalah oleh senyum itu. Aku tidak bisa dengan egoisnya menghancurkan senyuman itu.
“__Selamat tinggal. Terima kasih untuk semuanya, Shiki”
Tenggorokanku terasa kerig. Tidak satu katapun yang terucap. Tapi, aku harus tetap mengucapkan selamat tinggal.
“....Aku mungkin seorang pembohong” kataku lirih
“Kenapa? Kau sudah menepati janjimu, Shiki”
“Aku pernah mengatakan akan membuatmu bahagia.’
Ya. Aku pernah bersumpah seperti itu.
“Tidak. Aku akan terus tertidur, tapi aku akan terus melihatmu dalam mimpiku. Aku sangat menikmati saat-saat kita bersama. Aku akan terus memimpikannya.”
“_______”
“Mungkin hanya sia-sia saja, tapi aku rasa akan sangat menyenangkan. Jadi, Shiki, kau sudah membuatku bahagia. Kau benar-benar membuatku bahagia.”
“Kh........hh!”
Aku tidak ingin.... seperti itu.
“Kau benar-benar orang yang baik, Shiki. Aku tahu kalau aku datang kemari akan ada hal bagus terjadi. Aku mencintaimu, Shiki. Kejujuranmu, bagaimana kau melamun, bagaimana kau memarahiku, bagaimana kau yang selalu melihat kedepan, aku menyukai semua hal yang ada pada dirimu. Jadi, tetaplah hidup seperti itu, Oke?”
Sekejab, Arcueid tampak tersenyum sedih. Melambaikan tangannya, perlahan tubuhnya menghilang. Dia menghilang tepat didepan mataku.
Aku menggertakkan gigiku berusaha menahan semuanya. Dia tetap tersenyum sampai akhir, jadi aku tidak ingin menangis.
Ruang kelas yang sepi.
“.....Begitu ya. Kau benar-benar menepati janjimu, Arcueid.”
Didalam kelas ini. Kami berjanji untuk bertemu lagi didalam kelas ini saat matahari terbenam. Dan dia sudah memenuhinya.
Aku merasa kehilangan sesuatu. Tapi aku tahu semuanya telah berakhir. Tirai waktu kami telah tertutup, waktu yang kulalui bersamanya.
Aku tahu ada saatnya mengucapkan selamat tinggal. Tapi dalam kasus ini, ‘selamat tinggal’ kami terlalu cepat.
Kalau kupikir-pikir lagi, tadi itu ucapan selamat tinggal yang bagus. Dia masih hidup, dan dia....mengatakan kalau.....dia ......bahagia.
“tapi buakan ini yang kuinginkan......”
Benar. aku ingin bersamanya lebih lama.
Aku ingin berberbicara dengannya.
Aku ingin merasakan kehangatan tubuhnya.
Aku ingin melihat senyumnya lebih lama.
Selalu.
Tidak seperti ini
Aku ingin selalu membuatnya bahagia
Tapi dia,......
Tersenyum sampai akhir
Pergi
Dan menyuruhku melanjutkan hidupku.
“......Dasar bodoh......”
Itulah yang diinginkannya.
Dengan senyumnya, dia mengatakan padaku
Sekeras apapun
Meskipun aku harus menipu diriku sendiri
Sampai aku bisa menganggapnya sebagai sebuah kenangan saja.
Dia ingin aku terus hidup, dan menatap masa depan.
“Ck......!’
Itu tidak mungkin.
Aku tidak punya kepercayaan diri untuk menjalani hidup seperti itu.
Tapi,
Sampai akhirnya dia melihat mimpi indah,
Aku akan mengabulkan keinginannya.
Aku akhirnya tersadar. Matahari sudah lama tenggelam. Langit yang berwarna merah telah berubah menjadi biru gelap.
Langit malam yang gelap.
Awan yang bergumpal.
Bulan yang berwarna putih.
Yang tersisa hanyalah sebuah kenangan yang indah.
Mungkin dia sudah tidak berada disini sekarang, tapi aku harus mengucapkan sesuatu yang tidak sempat kuucapkan tadi.
“Selamat tinggal......... aku merasa senang bisa bersamamu meskipun hanya sebentar”
Kalimat yang terlambat itu menggema diseluruh ruangan.
Hanya bulan yang seperti kaca yang menggantung di langit malam. Bulan yang terlihat sangat rapuh, dan bisa pecah kalau kusentuh.
Aku terus melihat bulan yang berpendar keperakan dilangit. Aku terus menikmatinya, hingga fajar menyingsing, di dalam ruang kelas yang sepi.
TAMAT• Read More..
Labels:
Tsukihime: Arcueid Ending
Tuesday, December 23, 2008
CHAPTER 12: The World of The Moon
Masih memegangi tubuhku, Senpai berlari menuju rumahku. Aku tidak tahu apa yang direncanakannya, tapi ini bisa jadi gawat. Dengan pisau yang masih tertanam didadaku, hidupku tidak akan lama lagi. Apa jadinya kalau Akiha sampai tahu.
“_________”
Sial! Aku tidak bisa bicara! Aku ingin menyuruhnya berhenti, tapi aku tidak bisa.
“Diamlah sebentar Tohno-kon. Aku yakin adikmu bisa menyelamatkanmu.”
“..............”
Menyelamatkanku? Itu tidak mungkin Senpai. Aku tertusuk didada, dan aku tidak mampu bergerak. Tidak ada yang bisa menyelamatkan orang yang sekarat seperti ini.
“Dengar! Kalau adikmu tidak menyelamatkanmu 8 tahun lalu, kau pasti sudah mati sejak dulu. Karena itu, aku tahu kita masih punya kesempatan”
“..............”
Senpai, apa yang kau,........
“Tck! Bisa diam bentar nggak sih?! Simpan tenagamu!”
Dia melihatku dengan wajah yang sangat marah. Aku akhirnya memutuskan menutup mataku.
Aku mulai ….
Sulit….
Menjaga kesadaran………..
“_____________________________________________________________”
___Aku selalu menjadi orang asing di keluargaku. Sejak kecil, aku selalu berpikir demikian.
Sejak aku diadopsi oleh keluarga Arima, aku selalu berpikir demikian.
Tidak, mungkin sebelum saat itupun aku sudah berpikir demikian.
Aku tidak pernah bertanya kenapa. Aku sadar kalau aku selalu sendirian. Ada orang yang bertindak sebagai orang tuaku, jadi aku bertindak sebagai anak mereka. Kupikir rumah pertamaku memiliki tatami yang sangat luas. Dari sana, setelah ada beberapa kejadian, aku pindah kerumah besar bergaya barat itu.
Ada kakak beradik dirumah itu yang seumuran denganku, dan kami menjadi sangat akrab. Tapi selalu ada semacam tembok diantara ayah mereka denganku. Tapi kami mencoba untuk terlihat seperti keluarga. Meskipun kami tidak berhubungan darah, kami mencoba untuk percaya bahwa kami adalah keluarga.
Semua tiba-tiba berubah. Setelah terjadi kecelakaan, aku dikirim kerumah sakit. Tidak ada seorangpun yang menjengukku, dan mataku menjadi aneh. Sampai saat itu aku selalu sendiri. Dan pada akhirnya, aku tetap sendiri.
Aku sempat berpikir untuk menghilang. Sampai aku bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai penyihir.
.....................................................................................................................................................................
mimpi yang membangkitkan kenangan.
“Aku..... masih hidup?” Aku meracau
Aku masih belum mampu menggerakkan satu jaripun, tapi aku sudah bisa bicara. Pikiranku cukup jernih untuk menyadari bahwa sekarang aku berada dikamarku.
“.....Kak? Kakak sudah bangun?” Akiha melihatku dengan sedih.
“Akiha....? Kau disana?” Akiha berdiri disamping tempat tidurku. Mungkin dia sedang merawatku.
“Akiha... kau?” Aku melihat Akiha tanpa tahu apa yang terjadi. Dia mengalihkan pandangannya dengan tidak nyaman.
“Lukaku.......”
Aku tidak bisa mengatakan kalau dia, -SHIKI- , yang membuatku jadi seperti ini. Lagi pula bagaimana reaksinya ketika melihatku pulang terluka seperti ini?
“Akiha,....Ummmm....”
“Tidak apa-apa kak. Saya sudah mendengar sebagian besar ceritanya dari orang yang mengantar kakak kemari.”
“Ah, maksudmu Senpai?”
Masih menunduk, Akiha menganggukkan kepalanya.
Aku ingin tahu apa yang sudah diceritakan Senpai kepada Akiha. Tanpa tahu apa yang dikatakan Senpai, aku tidak bisa seenaknya bicara.
“Senpai mana....?”
“Kalau dia, sekarang sedang istirahat di kamar tamu. Biasanya saya tidak akan mengijinkan orang seperti dia untuk menginap di rumah ini, tapi dia sudah menolong Kakak. Jadi saya harus melayaninya sebaik-baiknya” kata Akiha.
“Kak, yang melukai kakak itu SHIKI bukan?”
Akiha bertanya langsung tanpa alih-alih.
“K,kau.......” Aku sangat terkejut. Aku tidak menyangka kalau Akiha sudah tahu itu.
“Saya tahu sebagian besar kejadiannya dari orang itu. Meskipun sebenarnya saya juga bisa menebaknya dari luka kakak”
Aku menelan ludah. Akiha berkata seolah-olah dia sudah tahu mengenai SHIKI sejak dulu.
“Akiha, kau...... tentang SHIKI.....”
“Ya, saya tahu. Sejak awal saya sudah mengetahuinya. Saya memanggil kakak kembali kerumah karena khawatir kalau hal seperti ini terjadi.”
Mendengar kata-kata Akiha, aku merasa kepalaku seperti dipukul dengan palu yang sangat besar.
“Tu, tunggu dulu____ apa maksudmu kau sudah tahu sejak awal? Aku sendiri belum begitu yakin apa yang terjadi. Waktu kecil, aku merasa ada anak sebaya kita yang juga ikut bermain bersama. Tapi ketika kutanyakan, kau menjawab,_____”
Kau bilang tidak ada anak yang lain.
“.......Maaf, saya telah membohongi kakak. Meskipun aku tahu hal seperti ini akan terjadi, tapi.............”
“Bohong? Jadi benar ada anak yang lain? Terus kenapa dia menghilang?”
Aku tidak bisa mengingat dengan jelas. Aku hanya ingat kalau aku pernah bermain bertiga. Ketika Ayah sedang pergi, biasanya Akiha menyelinap keluar dan bermain bersama kami.
Tapi kenapa aku bisa lupa? Kenapa dia menghilang? Kenapa namanya SHIKI sama seperti aku.?
Aku teringat akan mimpiku. Mimpi masa kecilku. Ada Akiha, ada aku, dan ada seorang anak yang bersimbah darah tergeletak ditanah.
“___AH!”
Tadi SHIKI mengatakan ‘Ini balasannya karena kau sudah membunuhku’. Jadi artinya, _____
“Artinya Aku_____”
Aku membunuhnya? Karena itukah dia tiba-tiba menghilang, dan aku lupa semuanya tentang dia?
“Akiha. Aku membunuh_____”
“Tidak! Bukan begitu!” kata Akiha memotong
“Kakak tidak membunuh siapapun!”
“....Akiha. Tadi kau bilang kau mencemaskan hal seperti ini terjadi, dan memanggilku pulang. Apa maksudmu? Kau sudah tahu tentang SHIKI, tentang kejadian 8 tahun yang lalu, dan tentang semuanya bukan?”
“......Ya. Aku tidak ingin kakak mengingat tentang SHIKI. Aku ingin kakak melupakannya selamanya. Tapi semuanya sudah berakhir. Sejak awal memang mustahil meyembunyikan hal ini.” Kata Akhia lemah sambil menghindari tatapan mataku.
Dia melirikku sambil tersenyum, kemudian melanjutkan,
“Kak, orang itu mengatakan kepada kakak mengenai kemampuan khusus keluarga Tohno bukan? Mungkin kakak tidak percaya, tapi ada sesuatu yang bukan-manusia yang mengalir dalam darah keluarga Tohno. Itu yang dikatakan oleh Ayah sejak aku kecil. Tentu saja mulanya Aku tidak percaya, tapi, ada sesuatu kejadian yang membuatku percaya. “
Akiha terdiam sejenak.
“.....Yaitu ketika kakak dibunuh oleh SHIKI 8 tahun yang lalu.”
“....Dibunuh? ...... Aku? .... oleh SHIKI?”
Akiha mengangguk.
Tapi, aku melihat tubuh SHIKI tergeletak bersimbah darah dalam mimpiku. Dan lagi dia tadi berkata ‘ini balasannya karena kau sudah membunuhku’ ?!
“Semakin dewasa, sesuatu yang bukan-manusia dalam diri kami bertambah besar. Aku sempat berpikir darah keluarga Tohno meningkatkan insting membunuh seseorang. Bisa saja insting ini mengambil alih akal sehat kita.”
“............., Akiha............?”
“Aku tahu, aku tahu kakak tidak percaya. Tapi tolong dengarkan dulu”
____Tidak. Aku tahu seseorang yang seperti itu. Sekarang, kalau saja aku bisa bebas bergerak dan menghindari SHIKI, aku akan langsung pergi mencarinya.
“Sifat yang dibawa oleh darah keluarga Tohno berbeda dalam setiap orang. Ada yang tidak berubah meskipun sifat itu bangkit, tapi ada juga yang berubah drastis dan menggila ketika sifat itu bangkit. Dan SHIKI adalah jenis yang terakhir tadi.”
“Jadi, dia berubah drastis?”
“Benar. tapi entah mengapa, dia berubah ketika dia masih sangat kecil. Setelah dia berubah, dia membunuhmu, kak”
“SHIKI....membunuhku?”
Jleb!
Tiba-tiba saja luka didadaku menjadi terasa sakit.
“Terjadi di halaman belakang. Shiki menusuk kakak, dan kakak sudah sekarat ketika ayah datang dan menghentikan SHIKI. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan membunuhnya. Itulah tugas kepala keluarga Tohno untuk mengatasi anggota keluarga yang menggila. Jadi anak yang tergeletak berlumuran darah yang kakak lihat adalah tubuh SHIKI yang sudah dihajar oleh Ayah.”
.....Aku tidak ingat. Tapi memang sepertinya ada sesuatu yang penting terjadi waktu itu. Tapi aku tidak bisa mengingatnya.
“Ajaibnya, kakak sembuh. Kakak dirawat dirumah sakit dan dilaporkan sebagai korban kecelakaan”
“..............” Aku terdiam tidak percaya.
“Karena itulah, Aku yang dibesarkan sebagai pewaris keluarga Tohno meskipun aku hanya anak kedua. Karena SHIKI sudah berubah, maka aku yang ditunjuk sebagai pewaris selanjutnya.”
Begitu ya? Karena itu Akiha mengambil tanggung jawab sebagai pewaris keluarga Tohno. ........ huh?
“Tunggu Akiha. Kau bilang tadi SHIKI berubahkan? Kalau begitu, kenapa aku tidak?”
“Wah, tidak bisa kupercaya. Kak bisa percaya dengan semua yang kuceritakan?” tanya Akiha heran
“Hey, ini bukan waktunya bercanda. Lagi pula aku sudah terbiasa dengan topik seperti ini. Le, lebih pentingnya, Aku merasa semua ini ada yang aneh”
“Aku tidak tahu. Tapi yang saya ceritakan tadi tidak ada yang salah. Jadi, bisa kita hentikan pembicaraan ini?”
“Tidak! Akiha! Mencari tahu tentang SHIKI sangat penting bagiku....! Dia itu musuh bagi kami. Aku dan dia. Jadi___Aku harus tahu semuanya. Kenapa dia masih hidup padahal Ayah sudah membunuhnya? Dan aku seperti melupakan sesuatu yang penting! Tolong jawab aku Akiha”
“Sebenarnya saya ingin semuanya tetap begini.”
“Akiha!!”
“Kak, sebenarnya kakak bukan anggota keluarga Tohno. Ayah mengadopsi kakak hanya karena kakak memiliki nama yang sama dengan salah satu anaknya, SHIKI”
____________ Eh?
“Kakak, saya, dan SHIKI. Kita bertiga dibesarkan sebagai saudara. Kakak dan SHIKI sangat akrab, sampai-sampai saya merasa cemburu. Tapi setelah apa yang terjadi dengan SHIKI, semuanya menjadi terbalik. SHIKI, anak pertama keluarga Tohno, tidak boleh mati. Karena untuk menjaga status sosial keluarga ini. Mereka tidak bisa mengatakan SHIKI menghilang begitu saja.”
“Ayah mendapat ide. Ayah menukar identitas Kakak dan SHIKI. Kakak menjadi Tohno Shiki, dan SHIKI menjadi anak yang diadopsi, yang meninggal karena kecelakaan. Jadi yang dibunuh tetap hidup, dan yang membunuh, mati. Itulah hubungan Kakak dengan SHIKI.
_____ ha_______ha_____
“Jadi? Aku bukan kakakmu? Aku bukan anggota keluarga Tohno?”
Tentu saja aku juga bukan anggota keluarga Arima. Jadi aku ini sebenarnya siapa?
“Maaf kak, tidak ada yang bisa menjawabnya. Shiki sudah meninggal. Bukan orangnya, tapi masa lalunya, keberadaannya, dan juga ingatannya. Kakak bertukar tempat dengan SHIKI 8 tahun yang lalu, jadi ayah sudah membuang data-data mengenai kakak” kata Akiha menyesal.
“Karena itu, kakak tidak bisa menjadi pewaris keluarga Tohno. Menjadikan kelemahan tubuh kakak sebagai alasan, Ayah memberikan kakak kepada keluarga Arima, dan menyuruhku untuk tidak pernah mengijinkan kakak kembali menginjak rumah ini.”
Suara Akiha terdengar gemetar. Aku tahu kalau dia merasa sangat bersalah sekarang. aku tidak pernah berniat menyalahkannya. Dan aku masih punya pertanyaan yang lebih penting lagi.
“Aku masih ingin memastikan dua hal, Akiha”
“Kak?”
“Pertama, aku bukan anggota keluarga Tohno. Dan tadi kau bilang setiap anggota keluarga Tohno memiliki sifat istimewa dalam tubuh mereka. Tapi, kenapa aku juga memilikinya?”
“Saya tidak tahu. Mungkin hanya ayah yang bisa menjawabnya. Dan aku yakin kakak diadopsi bukan hanya karena persamaan nama.”
“Begitu ya? Jadi sudah tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku. Kemudian, um, aku selalu merasa sangat beruntung bisa hidup sampai saat ini. Lukaku yang dulu cukup fatal kan? Jadi mungkin aku benar-benar beruntung”
Ya. Aku benar-benar orang yang beruntung.
“Dan pertanyaan kedua, kenapa SHIKI masih hidup?”
Aku mempelototi Akiha ketika bertanya secara tidak sadar.
“....Kak.....itu.....”
“Aneh kan? SHIKI menggila. Dan Ayah membunuhnya. Jadi seharusnya dia sudah mati”
“....Itu......” Akiha terlihat ragu-ragu
“Hanya ada satu kemungkinan. Kalau aku bisa sembuh, maka dia juga bisa. Atau mungkin ayah tidak benar-benar membunuhnya. Apapun yang terjadi, SHIKI tetap anak kandungnya.”
Akiha diam tidak menjawab.
“....Aku mengerti. Mungkin ayah bermaksud mengembalikannya ke kedudukan semula jika SHIKI sudah kembali waras.”
“Bu, bukan begitu kak.......”
Benarkah? Tapi kau tidak melanjutkan penjelasanmu. Akiha hanya terdiam sambil melihat kebawah.
“Sudahlah. Ini bukan salahmu, Ayah, maupun SHIKI. Ini mungkin yang disebut takdir. Dan kebetulan ada orang asing yang gila merasuki tubuh SHIKI.”
Akiha tetap terdiam.
Aku merasa lelah. Jujur saja, aku sendiri tidak terlalu berminat mencari tahu masa laluku. Yang lebh penting, aku harus mencari dimana Arcueid sekarang.
“Akiha, aku merasa lelah. Aku ingin istirahat”
“Baiklah kalau begitu”
Akiha berdiri, dan melangkah menuju pintu.
“Akiha___”
Sebelum Akiha keluar, Aku memanggilnya. Sebelum Akiha pergi, Aku masih ingin memastikan satu hal.
“Ya kak?”
“kenapa kau memanggilku kembali? Aku bahkan bukan kakak kandungmu”
“Kak tolong jangan bicara seperti itu” kata Akiha dengan nada sedih. Sejak dulu hingga sekarang, meskipun Kakak lupa, bagiku, Tohno Akiha, kau satu-satunya kakakku”
Terdengar suara ‘klik’ ketika Akiha menutup pintu.
“.................”
Setelah dia pergi, Aku merenungkan situasi saat ini. Sekarang jam 10. 3 jam setelah SHIKI______bukan, Roa menyerangku.disekolah. Dan aku masih belum mampu bergerak bebas.
*haaaah*
Menarik nafas panjang, aku mencoba menenangkan diri. Aku mulai mencoba menggerakkan bagian tubuhku yang kecil, seperti jari tangan kananku. Aku harus mengerahkan seluruh tanagaku untuk menggerakkan jariku. Setelah beberapa menit, jariku berhasil kegerakkan, meskipun hanya sedikit.
Setelah itu, aku mencoba menggerakkan telapak tangan, siku, lengan, dan bahu. Nafasku terengah-engah. Semakin aku bergerak, semakin terasa sakit badanku.
“Akh......!”
Keringat mengalir membasahi dahiku. Aku merasakan sakit diseluruh tubuhku seperti disayat-sayat pisau. Tapi kalau aku tidak mencoba, aku tidak bisa pergi dari kamar ini. aku tidak bisa pergi ke kota, kesekolah, aku tidak akan bisa pergi mencari Arcueid.
“Ag.....HHH!!”
Menahan sakit, aku berusaha menggerakkan tubuh bagian atas. Akan sangat sulit memaksa berjalan dalam kondisi seperti ini, tapi aku tidak peduli. Lagi pula sudah merupakan keajaiban Aku masih bisa hidup setelah Roa menusuk dadaku. Jadi Aku tidak boleh mengeluh.
Aku melihat luka tusuk didadaku. Tapi anehnya, aku tidak melihat titik kematian disana. Tapi karena itu, aku masih bisa hidup. Kalau Roa menusuk tepat dititik kematianku, aku tidak akan berada disini sekarang.
“.....Mungkin Roa melihat titik yang berbeda?”
Ketika aku masih berusaha menggerakkan tubuhku, aku mendengar pintu diketuk, dan Senpai masuk kekamarku.
“____To,Tohno-kun?! Kau seharusnya istirahat. Kau belum boleh bangun sekarang.....!” katanya sambil bergegas mendekatiku.
“.....................”
Aku hanya bisa terdiam melihat wajahnya yang penuh kecemasan.
“......? Ada apa?”
“Tidak, hanya kakak tidak memakai kacamata kakak”
“Sayang sekali ya, padahal kalau aku pakai, mungkin kita bisa cocok. Sama-sama memakai kacamata” kata Senpai terenyum.
Ha ha, senpai akan terus menjadi senpai. Meskipun dia memakai jubah pendeta yang aneh, dan mampu bertarung seimbang dengan Roa, dia tetaplah Senpai yang kukenal.
“Terima kasih. Senpai menolongku lagi”
“Ya. Dengan ini sudah 3 kali kau berhutang padaku. Aku tidak bisa terus membantumu, jadi behati-hatilah”
“Tentu saja, lain kali aku akan menghajarnya, sebelum dia sempat menghajarku”
Mendengar ucapanku, senpai menatapku lurus.
“Jangan katakan kau belum belajar dari ini”
“Ayolah, aku korban disini. Aku harus belajar apa? Dia yang menyerangku. Aku tidak bisa apa-apa”
“Benar, tapi kau berniat menyelesaikan ini semua kan, Tohno-kun?”
“.........................”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu apakah aku berniat menyelesaikan semua ini atau tidak. Hanya saja, aku tidak bisa diam tanpa melakukan apapun sekarang.
“Boleh bertanya sesuatu senpai?”
“Tidak.” Jawab senpai tegas “Tapi biar aku bilang seperti itu juga, kau tidak akan berhenti sampai disitu saja kan? Baiklah, kalau begitu silahkan bertanya. Tapi kau harus tenang dulu”
Senpai kemudian duduk dikursi tempat Akiha duduk sebelumnya. Kukira Senpai akan menghentikanku dengan paksa, tapi kau tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
“Yang barusan itu Roa bukan?”
“Ya. Dengan tubuhnya yang baru. Tohno SHIKI yang sama dengan yang menusukmu 8 tahun yang lalu. Kau sudah mendengarnya dari Akiha-san bukan?”
“Ya begitulah. Apa Senpai berteman dengan Akiha? Tapi dia tampak membenci senpai”
“Bisa dibilang begitu. Dia memandang rendah pekerjaanku. Dan tampaknya secara pribadi dia memang tidak menyukaiku” Senpai mengatakannya sambil tersenyum. Luar biasa.
“Kembali ke Roa. Apa dia membangun sarangnya disekolah?”
“.....Aku tidak yakin, tapi tampaknya memang begitu. Dia bergerak sendiri karena Arcueid sudah membunuh hampir semua Zombie-nya”
Dengan kata lain, Arcueid belum menemukannya. Jadi aku masih ada kesempatan untuk menemukan Arcueid terlebih dulu.
“Tohno-kun?”
“Ah tidak. Tapi kenapa di sekolah?” Aku sempat tenggelam dalam pikiranku. “dan lagi, kenapa dia lebih terlihat seperti SHIKI dari pada Roa? Dia tidak terlihat seperti vampire sama sekali”
“Tentu saja, karena kepribadian utamanya adalah SHIKI. Karena itu, dia tidak bertindak seperti vampire.”
“Tunggu dulu. SHIKI hanya induk semang, bukan? Jadi seharusnya kepribadiannya tetap Roa”
“Begini Tohno-kun. Sebelum induk semangnya dewasa, Roa tidak akan bangkit. Jadi kepribadian Roa tidak akan muncul. Jadi, kepribadiannya tetap mengikuti kepribadian induk semangnya.”
“Jadi, yang tadi itu SHIKI? Bukan Roa?”
“Sepertinya begitu. Masalahnya, dia sudah memiliki keinginan, sejarah, dan ilmu pengetahuan yang selama ini dimiliki oleh Roa. Apa yang diinginkan oleh SHIKI dan apa yang diinginkan oleh Roa sangat berbeda.”
“Keinginan.......SHIKI..........?”
“Ya. Mungkin keinginan SHIKI untuk membunuhmu lebih kuat daripada keinginan Roa”
Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Senpai.
“Kenapa dia mau membunuhku?”
“Sulit dijelaskan, tapi mungkin dia merasa kau telah membunuhnya.”
“Apa maksudmu!?” Aku merasa marah “Aku yang dibunuhnya. Dia membalikkan semua fakta”
“Tapi kau masih hidup bukan? Dan kau menjadi Tohno Shiki sekarang. Setelah seharusnya SHIKI mati, ternyata dia dapat pulih secara ajaib seperti halnya kau dulu. Tapi, dia sudah tidak memiliki rumah tempat untuk pulang. Karena ada orang lain yang menjadi Tohno Shiki, dan hidup bersama adiknya, Akiha-san.”
“Jadi bisa dikatakan kau membunuh Tohno SHIKI. Kau mengambil tempatnya ketika Tohno Makihisa mengasingkannya. Bisakah kau bayangkan bagaimana perasaannya?”
“....Jadi menurutnya, aku hanya penipu yang memakai nama Tohno Shiki?”
“Ya. Karena itu SHIKI sngat membencimu”
Tapi, Aku melakukannya bukan karena ingin. Tapi mungkin SHIKI tidak peduli akan hal itu. Baginya, aku hanyalah penipu yang mengambil segalanya dari dirinya. Orang yang mengambil rumahnya, namanya, dan keluarganya. Tentu saja dia ingin membunuhku.
“Tapi tetap saja Aku yang dibunuhnya, Senpai”
“Tohno-kun?”
Ya. Bukan hanya dia saja. Ada yang mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku juga. 8 tahun yang lalu umurku baru 9 tahun. Aku yang masih hidup sampai sekarang kehilangan semuanya. Aku tidak bisa mengingat masa laluku. Aku tidak bisa mengingat kedua orang tua kandungku. Aku tidak bisa menemukan aku yang sebelum berumur 9 tahun. Shiki kecil yang itu, sudah tidak mungkin bisa ditemukan lagi.
“Kau tidak bisa bertarung jika diliputi rasa marah, Tohno-kun”
Seperti menyadari kemarahan dalam ucapanku, Senpai memperingatkanku. Aku mengatakan kepadanya jangan bercanda sambil menggelengkan kepala.
“Aku tetap akan mengahdapi Roa. Tapi dengan alasan yang berbeda”
“Kau tidak membencinya?”
“Aku bohong kalau bilang tidak. Tapi bukan itu masalahnya. Aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Kalau tuan putri yang satu itu dibiarkan sendiri, Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku harus membantunya. Aku berjanji akan membantunya sampai semua ini selesai.”
Benar. Aku tidak boleh terus disini. Arcueid selalu menderita. Meskipun dia selalu terlihat riang didepanku.
“.....Aku tidak habis pikir, kenapa kau mati-matian membela Arcueid? Dia itu vampire, kau tahu?”
“Aku tidak peduli. Yang Aku tahu hanyalah aku mencintainya. Karena itu aku akan membantunya” kataku sambil menatap mata senpai.
Senpai meletakkan tangannnya didepan mulutnya yang menganga. Wajahnya memerah.
“Begitu kah?”
“Ya. Aku tidak boleh membuang waktu lagi. Kalau Roa ada disekolah, Aku harus segera kesana”
Kalau tidak, Arcueid akan menemukan Roa dan bertarung melawannya. Kalau itu terjadi, kemungkinan Arcueid menang sangat kecil. Aku akan membantunya. Aku tidak tahu seberguna apa aku nanti, tapi lebih baik daripada membiarkan Arcueid sendiri.
“Percuma Tohno-kun. Meskipun kau membantunya, dengan keadaan sekarang, Arcueid tidak bisa mengalahkan Roa.”
“Tidak bisa mengalahkan Roa..... kenapa Senpai bisa yakin?”
“Mudah saja, sejak Arcueid terbunuh, dia sudah mengerahkan tenaganya untuk menekan naluri alaminya. Karena tenaganya banyak berkurang, Arcueid yang sekarang tidak akan bisa melawan Roa. Sedangkan kamu, kekuatanmu tidak sampai setengahnya dari Roa. Meskipun kalian bekerja sama, kalian tidak akan menang” kata Senpai dingin.
“Sejak awal, Arcueid sudah hampir mati. Tenaganya menjadi sangat lemah. Dan dia menggunakan sisa tenaganya untuk menekan naluri alaminya. Kalau diumpamakan, dia seperti kita yang memaksakan diri untuk bergerak setelah ulu hatinya dipukul keras.”
“Ap____?”
Apa maksudmu hampir mati? Arcueid memang terlihat kesakitan, tapi dia tidak terlihat hamnpir mati.
“Ini dikarenakan dia tetap menolak untuk meminum darah. Semuanya akan lebih mudah kalau dia memilih meminum darah manusia. Tapi kurasa dia tidak akan melakukannya. Selama dia masih memburu Roa dengan keadaan seperti ini, dia sama saja sedang berlomba dengan kematian”
“Kau.....kau bohong!”
Aku berdiri. Dan aku langsung terjatuh kelantai karena tubuhku masih belum cukup kuat. Aku terjatuh seperti sampah, menghantam karpet lantai kamarku.
“Akh____!!!” Aku kesakitan
Lemah. Sekarang aku sangat lemah. Aku bahkan tidak bisa berjalan.
“Jangan memaksakan diri Tohno-kun.” Kata Senpai tanpa beranjak dari tempat duduknya.
“Meskipun kau tidak terluka-pun, tenagamu banyak terkuras. Mungkin karena kemampuan SHIKI. Mungkin setelah menusukmu, dia mengambil sedikit ‘nyawamu’. “
“Nyawaku?”
“Katakanlah sumber energi kehidupanmu tidak terbatas. Tapi tetap saja bisa berkurang. Energi kehidupan terus diproduksi selama seseorang itu masih hidup, tapi jumlah yang di produksi sangat bervariasi tergantung orangnya. Jadi energi yang digunakan tetap terbatas. Sebelum kita menggunakan energi tersebut sampai habis, kita akan mengambil energi tambahan dari sumber yang tidak terbatas itu” kata Senpai menjelaskan. “Jadi kalau ada yang bisa mencuri sumber energi tadi, maka orang yang energinya diambil, tidak akan mampu memenuhi kebutuhan minimal energi untuk digunakan.”
“Jadi maksud senpai dengan kehidupan itu........?
“Benar. kalau diumpamakan seperti mobil yang tidak bisa berjalan karena kehabisan bensin.”
Senpai berdiri, membantku bangun dan kembali membaringkanku diatas tempat tidur.
“Sudahlah Senpai, kau tahu kan, kalau aku tidak akan tiduran terus?”
“Memangnya kau bisa apa? Kau bahkan tidak bisa berdiri sendiri. Kalau kau tidak mau berbaring, kau boleh tetap dilantai seperti tadi”
Dia memaksaku kebali ketempat tidur.
Aku memaksakan diri untuk duduk. Hanya dengan berusaha duduk saja, Aku sudah kehabisan nafas.
“Si__al!”
Dengan kondisi seperti ini, aku tidak mungkin pergi kesekolah. Meskipun aku menemukan Arcueid, Aku hanya kan menjadi beban saja.
“Kau tidak perlu bertarung lagi, Tohno-kun. Semuanya akan selesai dalam beberapa hari ini.”
“____ Maksud Senpai?”
“Karena aku telah menemukan tubuh Roa yang baru, maksudku,... Vatikan telah menjawab permintaanku. Dalam 7 hari, Burial Agency yang bergerak dibawah perintah langsung Paus, akan tiba dan menghabisi Roa. Memang akhirnya Roa hanya akan terus berreinkarnasi lagi, tapi paling tidak satu masalah sudah selesai.”
7 hari ya.
7 hari.........?
“Aku tidak bisa menunggu selama itu. Sekarang mungkin Arcueid akan menemukan Roa dan menghadapinya. Kalau selama itu, semua akan sia-sia”
Aku memfokuskan tenaga ke kakiku. Tanpa mengindahkan rasa sakit, Aku berdiri dari tempat tidurku.
“....Senpai, pisauku. Dimana pisauku?”
“Aku membawanya. Tapi kau pikir aku mau menyerahkannya padamu?”
“Tidak sih, tapi kau tidak boleh membawa barang milik orang lain tanpa ijin, Senpai”
Mendengar ucapanku, Senpai hanya menghela nafas dan merogoh sakunya. Dia mengeluarkan pisauku.
“Karena ini milikmu, aku akan mengembalikannya. Tapi apa kau berniat kembali kesekolah, Tohno-kun?”
“____Ya. Sebelum Arcueid menemukan Roa, aku harus_____”
Membunuhnya. Kalau SHIKI memang menginginkanku, maka mau tidak mau aku harus menghadapinya juga. Jadi untuk melindungi Arcueid, aku harus membunuh Roa terlebih dahulu.
“Dengan kondisimu yang seperti ini? Kenapa sih kamu? Katakan alasanmu. Kalau kau katakan, aku tidak akan menghentikanmu”
Pertanyaan yang sama dengan yang sebelumnya. Wajahnya sangat tenang dan lembut. Senpai benar-benar ingin tahu.
“____ Aku____”
Kenapa kau ingin membantunya? Karena aku menyukainya? Karena kalau bersamanya terasa menyenangkan? Ya. Semua itu memang penting, tapi ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Ada sesuatu yang membuatku tidak bisa melepaskannya.
“.... Karena dia selalu sendiri. Karena itu aku tidak bisa meninggalkannya.”
“Bohong” kata senpai. Dia terlihat marah. “Kau tidak mungkin mempertaruhkan nyawamu hanya untuk itu saja. Jawab yang jujur Tohno-kun. Aku tidak bisa menerima alasan seperti itu.”
“Tidak. aku mengatakan yang sejujurnya. Sampai saat ini, dia tidak pernah tahu rasanya bersenang-senang. Selama ini dia selalu, selau terisolasi dan kesepian. Aku tidak bisa membiarkannya seperti itu. Jadi____”
Aku hanya ingin dia tahu. Ada banyak hal yang bisa dilakukan didunia ini. Meskipun semua tampak sia-sia, merasakan kesenangan adalah bagian dari hidup. Bahkan anak kecil saja tahu tentang hal itu.
“Aku hanya ingin mengatakan kepadanya. Meskipun dia selalu tersenyum seakan menikmati semuanya, Aku ingin memperlihatkan kepadanya bahwa semua orang bisa merasakannya. Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa dunia ini memiliki lebih___ sesuatu yang lebih menyenangkan yang bisa membuat segala kesusahan terlihat tidak ada artinya. Merasakan sesuatu yang biasa dirasakan orang lain, Aku hanya ingin membuatnya bahagia.”
Jadi dia dapat sungguh-sungguh tersenyum dari dalam hatinya. Karena aku menyukai senyuman Arcueid.
“Aku ingin membuatnya merasa lebih bahagia.”
Sangat sederhana. Hanya dengan berbicara dengan seseorang dan melakukan apa yang kau inginkan.
“Tapi Tohno-kun, kalau hanya itu, semua orang juga bisa melakukannya.”
Aku tahu. Aku tahu itu. Tapi____
“____Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan orang lain yang melakukannya. Aku tidak bisa berpisah dengannya seperti ini. Bagiku, tidak ada orang lain selain dia”
Karena hanya Arcueid seorang didunia ini yang ingin kubuat bahagia.
“Aku mencintainya”
Aku mencintai Arcueid sebagai seorang laki-laki. Aku menyukai semua hal yang ada pada dirinya.
“Aku ingin membuatnya bahagia dengan tanganku sendiri. Untuk itu aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak mau dia mati. Hanya itu alasanku, Senpai”
Ya. Hanya itu. Bagiku, da lebih penting daripada hidupku sendiri.
“....Jangan bicara seperti itu, Tohno-kun. Kau berkata seolah-olah hanya kau yang boleh melakukannya.” Kata senpai sambil memegangi sikunya.
Setelah itu, Senpai menghela nafas. Tampak dia sedikit kecewa.
“____ Senpai?”
“Kau tahu, kau membuatku sedikit marah. Sampai saat ini, dia cukup bahagia, kau tahu?”
Seakan menyerah, Senpai berkata dengan suara yang lembut.
Tiba-tiba aku mendengar suara bergersak dari luar jendela.
“?!”
“Jangan terkejut. Dia baru saja pergi. Aku memang merasakan sesuatu dari tadi, jadi itu memang dia” kata senpai sambil melihat kearah jendela.
“Tidak seperti biasanya. Dia menempatkanmu sebagai prioritas diatas Roa. Yah, kalau saja dia masih memberi Roa prioritas utama setelah mendengar ucapanmu tadi, akan kuhukum dia”
“Eh.....?”
Jadi, sedari tadi, Arcueid berada diluar?
“Ke, kenapa dia.......? senpai......?”
“Mungkin dia cemas setelah tahu roa menyerangmu. Mungkin dia telah mendengar semuanya dan sekarang pergi mencari Roa.”
Dengan kata lain, dia...............
“Kenapa?...... Dia pergi. Kenapa?”
“Tidak heran, setelah mendengar semua yan kau katakan, aku juga mungkiin akan melakukan hal yang sama. Yah, mungkin aku jadi sedikit merasa kasihan padanya”
“...Tapi...tapi....?!”
“Kau ingin membantunya, tapi dia tidak ingin kau terlibat dalam pertempurannya. Jadi artinya hanya ada satu kan?”
Senpai berkata dengan sangat tenang. Seakan dia tahu hal seperti ini akan terjadi.
“Sekarang kau bisa menyerah Tohno-kun. Sekeras apapun kau mencoba, kau tidak mungkin mengejarnya. Serahkan sisanya padaku, dan istirahatlah.”
“Bajingan!!!!”
Aku mencengkeram kerah Senpai. Melakukannya membuatku semakin pusing, tapi aku tidak peduli.
“Kau tetap bertanya meskipun tahu hal seperti ini akan terjadi, huh, Senpai___?!” kataku marah.
“.....Tidak. Aku tidak tahu kau melihat Acueid sampai seperti itu. Ini bisa dibilang kesalahanku.”
Ekspresi wajahnya tidak berubah ketika Senpai mengatakannya. Tetap dingin.
“_________”
Marah-marah tidak akan menyelesaikan apapun. Arcueid sudah pergi. Yang harus kulakukan bukanlah menyalahkan senpai.
“___Aku akan mengejarnya. Bawa aku kesana” perintahku.
“Kau pikir aku akan mematuhi perintah orang yang kondisinya seperti kamu?”
Tentu saja tidak.
“Kalau kau tidak melakukannya, akan kuperkosa kau”
Ekspresi wajah senpai berubah. Dia seakan melihat langsung kedalam hatiku. Tapi aku tidak bisa mundur sekarang.
“__________”
Kemudian senpai sekali lagi menghela nafas.
“Baiklah. Sebagian adalah salahku. Lagipula aku sudah terlanjur campur tangan sampai sejauh ini. Aku akan menemanimu sampai akhir.”
Melepaskan tanganku yang mencengakeram kerahnya, dia berdiri disampingku.
“Aku akan membawamu kesana, jadi diam dulu.”
Mengatakan ‘yoisho’ Senpai membopongku.
“Kalau Akiha-san melihat ini, dia akan menghentikan kita. Jadi kita akan keluar dengan cara yang dilakkan Arcueid tadi”
“Eh__?”
Dengan langkah yang ringan, senpai membawaku melompat keluar melalui jendela.
****
Kami akhirnya tiba di sekolah. Meskipun sambil membawaku, nafas Senpai tidak terengah-engah. Dan dia bisa berlari seakan tidak membawa beban sama seklali.
“Kau bisa berjalan Tohno-kun? Tanya senpai sambil berlari.
“Mungkin. Kita akan menyerang Roa. Jadi kita tidak bisa masuk dengan seperti ini.”
“Kau benar. Mulai dari sini, kau harus berjalan sendiri”
Berhenti, Senpai menurunkanku.
Suasana sekolah dimalam hari luar biasa sepi. Kesannya malah jadi mengerikan. Setelah masuk, yang tersisia hanya tinggal bertarung sampai mati.
Setelah perlahan menghisap nafas, Aku melepaskan kacamataku. Garis-gars maut terlihat diseluruh gedung sekolah. Kepalaku mualai terasa berdenyut.
“Ini buruk” kata senpai sambil melihat keatas.
Bulan purnama. Sinarnya menerangi halaman sekolah.
“Apanya yang buruk?”
“True ancestor mendapatkan kekuatan dari bulan. Begitu pula Roa. Dia mungkin akan sulit dibunuh sekarang. Dia bisa dibilang abadi. Dengan perlengkapan yang kubawa, mungkin akan sulit untuk membunuhnya sekarang”
Senpai menggeretakkan giginya.
Abadi huh? Keabadian tidak ada artinya didepan mataku. Kalau aku bisa mendekatinya, Aku bisa memotong titik kematiannya.
“....Terlalu terang. Kita akan sulit untuk bersembunyi. Aku biasanya sangat menyukai bulan purnama, tapi tidak untuk kali ini” keluh Senpai.
Cahaya bulan purnama yang pucat, dan udara malam yang dingin. Aku bisa melihat garis maut lebih jelas.
“Benarkah? Sejak dulu aku tidak suka malam bulan purnama”
“Tohno-kun?”
“Dibandingkan siang hari, aku bisa melihat hal-hal yang tidak menyenangkan di malam seperti ini. Aku lebih suka matahari yang bersinar terang, atau gelap tanpa cahaya sama sekali.”
Aku kembali memakai kacamataku. Menggenggam erat pisauku, aku berjalan menuju gedung sekolah.
Aku masuk melalui pintu depan. Bahkan berjalan normal terasa sangat sulit bagiku. Jarak didalam sekolah terasa sangat jauh.
“Kita berpisah disini Tohno-kun.” Kata Senpai tiba-tiba. “Dari sini pergilah sendiri. Aku harus melakukan sesuatu yang lain”
“Yang lain? Apa?”
“Dengar, tampaknya Roa kali ini sangat kuat. Aku tidak akan menghadapinya secara langsung. Ketika kau dan Arcueid terbunuh oleh roa, aku akan menggunakan kesempatan itu untuk membunuhnya.” Katanya jujur dengan wajah serius.
“Kau..... tampak sangat serius, Senpai”
“Ya. Ini terakhir kalinya aku membiarkan urusan pribadi orang lain mencampuri pekerjaanku. Kau bertarung untuk Arcueid bukan, Tohno-kun? Aku juga punya alasan tersendiri untuk membunuh Roa. Jadi mulai sekarang, Aku tidak akan membantumu.”
“Baiklah. Terima kasih senpai.karena mungkin ini terkahir kalinya kita kan bertemu, aku ingin mengatakan kalau aku menyukai Senpai. Sangat menyenangkan bersama Senpai dan Arihiko mengobrol tentang hal-hal yang bodoh.”
“___ Ya. Bagiku, saat-saat itu terasa seperti mimpi, Tohno-kun.” Senpai tersenyum
Senpai kemudaian menghilang seperti bayangan.
“Baiklah, saatnya beraksi”
Memaksakan tubuhku yang terasa sakit setiap kali aku bergerak, aku berlari menuju gedung sekolah.
Dinding-dinding sekolah dipenuhi retakan dan goresan. Sepertinya pertarungan antara Ro dan Arcueid sudah dimulai.
“....Diatas ya?”
Aku berlari menuju lantai atasku.
Berhenti sebentar untuk mengambil nafas, akhirnya aku sampai dilantai 4. Retakan dan goresan terus berlanjut sampai lorong yang menghubungkan kedua gedung sekolahku.
“Sial!”
Entah bagaimana caranya, Aku bisa menggerakkan kakiku dan berlari menuju lorong itu. Akhirnya aku sampai diujung lorong penghubung.
Ditengah-tengah lorong, Aku melihat dua orang yang saling menatap dari kejauhan. SHIKI berada diujung lorong satunya. Dan ditengah lorong, Aku melihat Arcueid berlutut. Nafasnya terlihat berat.
“Arcueid__!!”
Aku berlari mendekatinya. Tapi sebeelum aku sampai, Arcueid yang masih berlutut, melihat kearahku.
“...........?!”
Aku tidak bisa bergerak. Setelah melihat matanya, Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Tubuhku seakan menjadi batu.
“Ah, keterlaluan sekali kau Arcueid. Mengikat tubuh temanmu sendiri dengan menggunakan mata mistismu seperti itu. Bukankah lebih baik kalau kau membiarkannya mati bersamamu?”
SHIKI, bukan, Roa, tertawa puas.
“Kenapa?”
Kenapa Arcueid melakukan ini padaku. Padahal aku sudah sampai sini.
“Kenapa? Kenapa Arcueid?!”
Arcueid melepaskan pandangannya dariku dan melihat Roa. Dia hanya diam. Dia tidak mengatakan apapun padaku. Dia hanya melihat kearah musuhnya sambil bernafas terengah-engah.
“___Kenapa___Kenapa___?”
Aku bahkan tidak bisa berteriak. Bukan karena mata mistisnya, tapi karena setelah aku sampai disini, tubuhku yang sedari tadi kupaksakan, mula kehilangan tenaganya.
Tawa Roa semakin keras melihat situasi kami berdua.
“__Akhirnya. Kau sudah siap, Putri?” kata Roa sambil mendekati Arcueid.
Arcueid tetap berlutut tidak begerak.
“Ck ck ck. Usahamu cukup bagus, Shiki. Sepertinya Tuan Putri ini masih akan tetap bertarung untuk menolongmu. Kalau saja dia masih seperti yang dulu, dia akan membiarkanmu. Tapi, sekarang dia hanya seperti vampire biasa. Dia bahkan sudah tidak memiliki kekuatan seorang True Tncestor lagi. Kau tahu Arcueid, akan lebih baik kalau kau membiarkan dirimu dikuasai oleh naluri alamimu.”
“Diam!!” suara Arcueid menggema diseluruh gedung.
Apa ini? Kalau ini bukan halusinasi, semua disekitar Arcueid mulai bergelombang. Tubuhnya berpendar.
“Ap____?” Roa menghentikan langkahnya.
“Noble Phantasm? Kau masih bisa menggunakannya?”
Ketakutan, Roa melompat mundur.
“Tapi kau tidak akan menang! karena aku memiliki sesuatu yang tidak kau miliki!”
Arcueid menahan nafasnya. Dia menghentikan semua gerakan untuk menghimpun kekuatan.
“Dan kau tahu itu. Pengalaman mati. Aku tahu rasanya mati. Tapi kau tidak. Selama kau masih hidup, kau tidak akan pernah mengalami mati. Yang bisa mengalaminya hanyalah reinkarnator seperti aku.”
Gelombang yang dikeluarkan Arcueid semakin kuat.
“Secara insting, manusia takut terhadap hal-hal yang belum diketahuinya. Dan kau juga sama saja. Selama apapun hidupmu, kau tidak akan pernah merasakan pengalaman mati. Kau mengumpulkan begitu banyak kekuatan untuk mencegah kematian. tapi pada saat yang sama, kau mengumpulkan semua kelemahanmu. Kau melarikan diri dari kematian, sedangkan Aku menerimanya. Itulah perbedaan antara kau, Arcueid Brunestud, dan aku, Michael Roa Valdamjong.
Prak!!
Kaca jendela disekitar kami mulai retak.
“Aku tahu mengenai kematian, kegelapan, kehampaan yang telah kutempuh sepanjang waktu! Bagiku, yang namanya kematian, hanyalah sebuah ritual umum. Meskipun kau bunuh tubuh ini, Aku masih akan tetap ada. Kenapa kau tidak sadar juga kalau melawanku itu percuma?”Roa mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Arcueid tidak menjawab.
“___Baiklah, kalau kau masih terus menantangku, akan kuladeni. Akan kuberi kau hadiah atas kekeras kepalaanmu.”
Menurunkan lengannya, Roa menunduk.
Semua yang ada disekitar Arcueid siap meledak.
“A_____”
Aku tidak bisa bicara saat ini. Ini buruk. Didalam kepala, aku terus berteriak. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku tidak tahu kenapa, tapi sebagai seseorang yang bisa melhat kematian, Aku tahu antara Roa dan Arcueid, siapa yang lebih dekat kepada kematian.
“Henti___kan__”
Aku berusaha menghentikan Arcueid. Tapi suaraku tidak mau keluar.
Blas!!
Suara udara yang tercabik. Membungkus Arcueid dan seluruh lorong.
Seluruh gedung bergetar. Kaca jendela, dinding, lorong, dan seluruh gedung. Semuanya berputar-putar didalam gelombang tersebut. Tertelan.
Dalam sekejab, tubuh Roa menghilang.terhempas, terpotong terlumat. Yang tersisa hanya engkelnya.
Semua tiba-tiba berhenti. Mungkin kejadian itu hanya terjadi beberapa saat. Lorong ini tetap seperti sebelumnya.
Tapi ini tidak berkhir begitu saja. Engkel itu bergerak-gerak, dan seakan berlari menuju Arcueid. Bukan hanya itu saja, kaki, pinggang, perut, dan bgian-bagian lain seakan hidup kembali.
Masih berlutut, Arcueid tidak bergerak. Didepannya leher dan kepala Roa mulai bersatu kembali.
“Ar_____”
Aku tidak bisa memperingatkannya. Roa yang bangkit kembali memotong perut Arcueid. Seperti memotong garis maut, tidak ada darah, tidak ada daging yang tersayat.
“Nyaris saja. Untung sekarang bulan purnama. Kalau tidak, Aku tidak akan bisa kembali pulih hanya dari engkel saja.” Kata Roa
“Dan kau, Putri. Kau tidak akan mungkin bisa sembuh dari luka itu. Cakarku memiliki kemampuan yang sama dengan manusia yang berdiri dibelakangmu itu.”
Bruk!
Arcueid terkapar dilantai.
“Inilah kekuatan yang kudapat setelah berkali-kali mengalami kematian. Lucunya, Aku sendiri belum tahu bagaimana menggunakannya. Tapi dia sudah mengajariku.”
Roa menendang tubuh Arcueid kearahku.
“Arcueid....!” Aku bisa bergerak kembali.
___ini karena kekuatan mata mistisnya sudah menghilang. Artinya, dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi.
“____Sial!” Gemetar, Aku memeluk tubuhnya.
Perasaan takut menyelimutiku ketika aku memeluk tubuhnya. Tubuhnya benar-benar dingin. Roa tetap berdiri didepan kami. Tapi Aku tidak peduli. Saat ini, Aku hanya ingin memeluk Arcueid.
“Arcueid........” Aku memanggil namanya.
Matanya yang tertutup terbuka dengan cepat. Seperti terbangun dari tidur.
“Ahahaha____ memalukan ya?” Seperti biasanya, Arcueid memaksakan diri untuk tersenyum.
“Dasar bodoh..... apa yang kau lakukan?”
Suaraku tidak jelas. Aku ingin mengatakan sesuatu yang lebih baik, tapi pikiranku saat ini sedang kacau. Suhu tubuhnya mengatakan kalau semuanya sudah terlambat. Kalau saja aku membuka kacamataku, Aku akan melihat sesuatu yang sudah tidak tertolong lagi.
“Kenapa___kenapa, kenapa___?”
Hanya itu yang bisa kuucapkan. Marah pada diriku sendiri, Aku memeluk erat tubuhnya. Dia tidak membalas pelukanku. Dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Yang dia lakukan hanyalah tersenyum bahagia.
“Jangan____!” Ini tidak mungkin terjadi. “Kenapa_____kau___kenapa kau selalu melakukan semua seorang diri?! Kita rekan! Kita berjanji akan saling membantu sampai akhir!”
“Ah,.....benar juga...... sepertinya......aku sedikit lupa.......” kata Arcueid lemah. Dia masih tetap tersenyum
“Bisa-bisanya kau lupa! Aku bilang Aku akan membantumu! Tapi____tapi sekarang.......!!”
“Tidak Shiki........ kau..... sudah membantuku lebih dari cukup.....*Uhuk*” Arcueid terbatuk. Batuk berdarah. Dia terus tersenyum menahan rasa sakit.
“Aku.....ingin berterimakasih. Aku senang.......... Aku masih mampu........ melindungimu dari Roa.”
Aku terhenyak mendengar kata-katanya.
Mata Arcueid kosong.
“Ah,___ ya___ sama-sama” Aku tidak bisa. Aku tidak bisa berbohong dengan baik.
Cahaya matanya meredup. Suhu tubuhnya mendekati nol.
Aku akan kehilangan dia. Apa aku akan kehilangan dia seperti ini?
“Ar....cueid.....”
“____ Y, ya?”
”...... Minum darahku. Kalau kau melakukannya, kekuatanmu akan kembali....” Aku mengatakannya tanpa berpikir panjang.
Dia tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?! Jangan katakan kau masih takut! Kau pernah betanya seandainya burung dan ikan memiliki kecerdasan, apakah aku akan tetap memakannya? Ya. Akan kumakan. Kalau aku harus melakukannya demi hidup, aku akan melakukannya. Bukankah mengambil hidup mahluk lain untuk mempertahankan hidup adalah hukum alam?!”
Bukankah itu yang dikatakannya dulu? Terus kenapa sekarang dia hanya menggeleng?
“Aku.... tidak suka ‘seandainya’” jawab Arcueid lemah
Itu adalah kata-kataku. Tapi dulu dia mengatakan kalau dia suka ‘seandainya’?
“___Benarkah, Arcueid? Tapi aku suka ‘seandainya’. Meskipun hanya sedikit, tapi___ tapi aku merasa masih ada harapan” Tenggorokanku terasa kering. Aku tidak bisa bicara leluasa.
“..... Benar...... Tapi sekarang...... aku menginginkan sesuatu yang lebih......”
Dengan sesenggukan, aku bertanya apa itu
“.... Aku ingin kau menciumku, Shiki.....”
Apa? Hanya itu?
Aku menempelkan bibrku kepada bibirnya. Tidak manis ataupun lembut seperti sebelumnya. Aku mencium bibirnya yang dingin, tanpa kehangatan.
Setelah itu, dia tersenyum. Dia tersenyum bahagia.
“Aku.... selalu .....ingin melakukan itu.......”
“.....Oh? kau menyukai hal-hal yang aneh, Arcueid”
“..... Ya. Tapi aku bahagia. Aku sudah hidup sangat lama, tapi baru kali ini aku merasa bahagia seperti ini.”
___Jadi
“Aku mulai merasa...mungkin.... menghilang seperti ini bagus juga.”
Setelah bergumam, kehangatan tubuhnya lenyap sama sekali.
“Ar.....cueid?”
Tidak ada jawaban.
Meskipun Aku masih memeluk tubuhnya.
Meskipun Aku masih merasakan kelembutannya.
Meskipun Aku masih mengingat suaranya ditelingaku.
____Tidak akan lagi.
Aku tidak akan merasakannya lagi.
“A________!”
Apa yang telah kulakukan? Aku ingin membuatnya bahagia.
Aku ingin mengajarinya banyak hal.
Aku ingin mengajaknya mengunjungi banyak tempat.
Aku ingin bersamanya selamanya
Tpi tidak akan lagi terjadi.
Dia sudah tidak ada. Bagaimanapun kau melihatnya, dia sudah tidak ada. Sebelum aku mengatakan perasaanku, dia, dengan seenaknya, meninggal.
Aku ingin melupakan semua ini.
Kematian ini
Ketenangan yang membuatku gila ini.
Tapi tidak mungkin aku melupakannya.
Tap tap!
Aku mendengar langkah kaki orang yang membuat semua ini terjadi padaku.
“Sudah selesai, Shiki?” katanya
“Ya, sudah selesai” jawabku.
Aku melihat kearahnya. Kami saling berhadapan didalam sinar bulan yang masuk melalui jendela. Roa tidak bergerak. Mungkin dia tahu kalau dia saat ini berada dalam posisi yang dominan.
“Tidak kusangka kau masih hidup” kata Roa seakan tidak terjadi apapun.
Aku memelepas kacamataku, dan memainkan pisauku.
“Kelihatannya, orang yang bisa melihat kematian, juga bisa menghindari kematian. Ini bukan masalah kuat lemahnya energi kehidupan yang dimiliki” kata Roa.
“Kau yang bicara begitu. Kau, dan aku. Kita yang pernah sama-sama mengalami kematian”
“Benar!” kata roa tersenyum sinis. “Orang yang bisa kembali dari kematian, dapat mengerti apa arti kematian itu. Kau dan aku adalah contoh dari kejadian khusus tersebut. Aku sudah mengalami 17 kali kematian, tapi kau hanya mengalaminya sekali. Jujur saja, pasti ada perbedaan dalam kemampuan laten kita. Aku penasaran, kemampuan apa yang akan kumiliki kalau aku berreinkarnasi kedalam tubuhmu.”
Suaranya terdengar sombong dan memuakkan. Mendengarnmya saja memuatku saklit kepala.
“Aku punya dua hal untuk kutanyakan, dan satu hal untuk kuberitahukan padamu.” Aku mengatakannya sambil menahan sakit kepalaku.
“__Oh? Ok, silahkan” Karena mungkin terlalu percaya diri akan posisinya yang lebih menguntungkan, Roa menjawab sambil tertawa kecil.
“Pertama, kenapa kau membunuh Arcueid?”
“Kenapa? Dia selalu membunuhku. Jadi tidak aneh kalau aku membunuhnya. Sebenarnya yang kuinginkan bukanlah putri lemah seperti ini. Diriku yang dulu, tidak pernah bisa mengalahkan tuan putri ketika dia masih hidup. Tapi tidak ada gunanya menghabisi True Ancestor yang tidak berbeda dengan vampire biasa. Karena dia sudah tidak berharga lagi, kuputuskan untuk segera menyelesaikannya”
Memainkan lidahnya, Roa tertawa.
Mendengar jawabannya, Aku ingin menghabisinya secepat mungkin.
“Terus apa lagi? Jangan bilang kau mau melawanku dengan kondisi seperti itu, Shiki”
Aku tahu itu! Aku tahu aku bahkan masih belum mampu untuk berdiri dengan benar. Tapi Aku terus melihatnya dengan penuh kebencian.
“Sudahlah, meskipun kau bisa melihat titik kematianku, kalau kau tidak bisa menyentuhnya, percuma saja. Kau tahu, aku mungkin terlalu menganggapmu tinggi. Tapi sekarang, karena kepribadian SHIKI sudah mulai menghilang, Aku lebih Roa daripada SHIKI.”
Roa melangkah maju.
“Tidakkah kau bangga Shiki? Mungkin didunia ini hanya kita yang mempunyai mata mistis yang dapat melihat kematian. selain itu, kita bisa saling mengerti lebih daripada orang lain. Mungkin orang yang bisa memahami aku hanyalah kau.”
“...Kau mau mengajakku bergabung?”
“Aku tidak mengajakmu. Aku hanya membiarkanmu bergabung. Aku sendiri tidak peduli apa yang ingin kau lakukan. Tenang saja setelah kuminum darahmu, akan kuubah kau menjadi mahluk yang tidak ragu menggunakan kemampuanmu itu”
Aku meggeretakkan gigiku.
“Terserah kamu. Sekarang pertanyaan kedua. Yang bisa kau lihat garis, atau titik? Lebih jelasnya, kau bisa melihat kematian pada mahluk hidup bukan? Apa kau juga bisa melihat kematian benda yang lain?”
“Huh? Bicara apa kamu? Benda mati tidak punya kehidupan. Hanya mahluk hidup yang memliki kematian.”
Aku mengangguk mendengar jawabannya.
“Begitu ya? Aku sudah mengerti semuanya Vampire”
Aku mengacungkan pisauku. Rasa sakit menyerang kepalaku. Dan saat ini, aku hanya bisa melihat satu hal.
“Sudah cukup bicaranya. Aku masih harus menghabisi wanita gereja itu. Kau beruntung, Shiki. Setelah aku membuatmu menjadi vampire, lawan pertamamu adalah wanita yang sangat kau percayai itu.” Roa kembali berjalan mendekat.
Mataku yang masih berkunang-kungang, masih belum bisa terfokus pada sosoknya.
“____Yang kulihat, dan yang kau lihat, sangat berbeda, SHIKI! Yang kau lihat adalah hidup. Dan kau tidak mengerti sama sekali mengenai kematian. karena itu kau tidak bisa membunuhku. Yang bisa kau bunuh hanyalah wanita yang sudah lemah!”
Kepalaku serasa terbakar. Sangat panas. Aku tersenyum. Tersenyum sadis.
“kau ngomong apa?”
“Kalau kau memang bisa melihat kematian, kau tidak mungkin bisa mempertahankan kewarasanmu sampai saat ini. Apa yang kau lihat adalah sesuatu yang membuat menjaga sesuatu tetap hidup. Kalau kau benar-benar bisa melihat kematian, saat ini, aku tidak mungkin mampu berdiri.”
Sebagai contoh, semua yang kulihat seperti tanah gersang. Aku melihat lautan kematian. semua akan menghilang begitu kusentuh.
“apa maksudmu___?” Aku melihat sedikit rasa takut dari suara Roa
“Melihat kematian, artinya kau dipaksa melihat bagaimana rapuhnya dunia ini. Tanah ini seakan tidak ada. Dan langit seakan siap runtuh kapan saja.”
“kau___kau ngomong apa?!” Suara Roa bergetar.
Tentu saja karena dia tidak mungkin mengerti satupun yang kuucapkan. Artinya, mata kami mungkin tampak sama. Tapi, sebenarnya jauh berbeda.
“___Hentikan____jangan melihatku dengan mata itu____”
Takut. Roa ketakutan. Dia sendiri mengatakan bahwa manusia takut akan sesuatu yang tidak diketahuinya.
“___Kau tidak pernah melihat ilusi hancurnya dunia ini dalam sekejab, Roa. Itulah yang namanya melihat kematian. Mata ini. Kemampuanku ini bukanlah kemampuan yang bisa seenaknya kau umbar seperti itu”
Ya. Dulu, aku bahkan takut untuk berjalan. Seandainya aku tidak bertemu dengan orang itu, mungkin sudah sejak dulu aku menjadi gila.
“Kau berbuat kesalahan, Vampire. Kau tidak tahu bahwa hidup dan mati seperti uang logam. Selalu bersama, tapi tidak pernah saling berhadapan.”
“Kuperingatkan kau! Jangan melihatku seperti itu.....!”
Roa berlari. Dia takut. Dia menghindariku.
“Percuma.” Kataku.
“Akan kautunjukkan perbedaan kita. Inilah yang disebut melihat kematian”
Aku mendekati titik kematian dilantai, dan memotongnya. Dan dalam sekejab, lorong yang menghubungkan dua gedung sekolah, tempat kami berada, retak.
“____Ahh!!” Suara teriakan Roa tertelan suara lorong yang runtuh.
Lorong ini sudah mati. Batu bata yang menyokongnya pecah dan rubuh. Bagi roa, ini seperti serangan mendadak yang sangat mengejutkan. Roa terjatuh bersamaan dengan rubuhnya bangunan.
Lorong itu rubuh didepan mataku. Menahan sakit dikepala, aku berlari menuju tangga. Melewati tubuh Arcueid, aku menuju halaman.
Dibawah sinar bulan purnama, halaman sekolah terlihat seperti lautan garis maut. Dan ditengahnya, ada sesuatu yang bergerak-gerak.
Rupanya roa juga kikuk bila menghadapi kematian yang sebenarnya. Memaksa tubuhku yang hampir pingsan, aku berlari menuju kearahnya.
Roa benar-benar hebat. Setengah dari tubuhnya sudah tidak ada. Tapi setengah tubuhnya bagian atas masih bisa bergerak. Jumlah energi kehidupan yang dimilikinya ini sesuatu yang patut dihargai.
“___Apa, itu tadi?” Teriak roa.
Berlari melewati reruntuhan, Aku melesat kearahnya.
“___Shiki” Roa berpaling kearahku. Matanya dipenuhi kebencian.
“___Dasar monster!” Suaranya dipenuhi ketakutan dan kebencian.
“Siapa yang monster?” kataku tepat didepannya.
Titik kematian Roa berda sedikit di kanan jantungnya. Perlahan kutusukkan pisauku. Aku merasakan seperti memotong-motong kertas. Peasaan ketika aku memottong kematian.
“Ah…” Roa berteriak sedikit.
Dia pernah mengalami kematian, jadi dia seharusnya tahu tentang perasaan ini dengan sangat baik.
“....Kau tidak takut dengan ini ya? Ya. Mungkin karena kau sudah terbiasa. Tapi kau merasakan ada yang berbeda bukan?” tanyaku sambil tersenyum. “Kali ini, kau tidak bisa berreinkarnasi lagi”
Setelah mencabut pisauku, aku berjalan meninggalkannya. Roa masih belum mati. Seperti Arcueid, seseorang yang telah hidup lama, memiliki energi kehidupan yang lebih besar..
Nafasku melemah.
Pikiranku kabur.
Ini artinya aku sudah mencapai batasku.
Arcueid pernah mengatakan jangan memaksakan diri untuk melihat kematan sebuah benda. Kalau aku melakukannya, mungkin pembuluh darah diotakku bisa pecah.
Tapi aku sudah tidak peduli lagi........
Bruk!
Aku terjatuh ditanah. Aku menoleh kebelakang. Aku melihat setengah dari tubuh roa mendekatiku.
“K, kau,kau____”
Dia mendekatiku.
“Meng, hilang___Aku,__menghilang___”
Tangannya yang berlumuran darah mencoba mencekikku.
“Kenapa,__kenapa aku menghilang? BagaimanA, Kau, MEMbunUH, Ku,Ku,ku,kU,kUUuuuUUUuU____?”
Membuka mulutnya yang seperti gergaji, dia bergerak ingin mengigitku.
“Aku, TidaK AKan MenHilANG. Kau dAn Aku SalinG BerHubUngaN, Kau TaHu?”
Giginya menancap dileherku. Tiba-tiba,
“Ah__?”
Dia menghilang. Tubuhnya hancur berantakan.
“__OK, dengan ini, Aku yang membunhnya”
Senpai tiba-tiba muncul dengan pedang ditangannya. Dia tertawa riang.
“Eh?”
Aku tidak begitu mengerti.
“Kubilang, aku yang membunuh Roa. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh membunuh manusia. Kau bukanlah orang yang harus masuk kedalam duniaku. Jadi aku yang membunuhnya.” Kata senpai sambil berkacak pinggang.
“....Senpai, kau bercanda bukan? Kau berusaha agar aku tidak membunuh?”
“Mungkin juga sih. Tapi tidak apa-apa kan? Tapi yang lebih penting lagi, kau tidak apa-apa, Tohno-kun?”
Senpai bergegas memeriksa lukaku.
Lelah. Aku sudah tidak mau bergerak lagi. Aku ingin istirahat.
“...... –kun.......Shiki......hey”
Suara Senpai terdengar jauh. Mataku masih terbuka. Aku melihat ketas. Bulan purnama yang bundar. Perlahan semuanya menjadi gelap. • Read More..
“_________”
Sial! Aku tidak bisa bicara! Aku ingin menyuruhnya berhenti, tapi aku tidak bisa.
“Diamlah sebentar Tohno-kon. Aku yakin adikmu bisa menyelamatkanmu.”
“..............”
Menyelamatkanku? Itu tidak mungkin Senpai. Aku tertusuk didada, dan aku tidak mampu bergerak. Tidak ada yang bisa menyelamatkan orang yang sekarat seperti ini.
“Dengar! Kalau adikmu tidak menyelamatkanmu 8 tahun lalu, kau pasti sudah mati sejak dulu. Karena itu, aku tahu kita masih punya kesempatan”
“..............”
Senpai, apa yang kau,........
“Tck! Bisa diam bentar nggak sih?! Simpan tenagamu!”
Dia melihatku dengan wajah yang sangat marah. Aku akhirnya memutuskan menutup mataku.
Aku mulai ….
Sulit….
Menjaga kesadaran………..
“_____________________________________________________________”
___Aku selalu menjadi orang asing di keluargaku. Sejak kecil, aku selalu berpikir demikian.
Sejak aku diadopsi oleh keluarga Arima, aku selalu berpikir demikian.
Tidak, mungkin sebelum saat itupun aku sudah berpikir demikian.
Aku tidak pernah bertanya kenapa. Aku sadar kalau aku selalu sendirian. Ada orang yang bertindak sebagai orang tuaku, jadi aku bertindak sebagai anak mereka. Kupikir rumah pertamaku memiliki tatami yang sangat luas. Dari sana, setelah ada beberapa kejadian, aku pindah kerumah besar bergaya barat itu.
Ada kakak beradik dirumah itu yang seumuran denganku, dan kami menjadi sangat akrab. Tapi selalu ada semacam tembok diantara ayah mereka denganku. Tapi kami mencoba untuk terlihat seperti keluarga. Meskipun kami tidak berhubungan darah, kami mencoba untuk percaya bahwa kami adalah keluarga.
Semua tiba-tiba berubah. Setelah terjadi kecelakaan, aku dikirim kerumah sakit. Tidak ada seorangpun yang menjengukku, dan mataku menjadi aneh. Sampai saat itu aku selalu sendiri. Dan pada akhirnya, aku tetap sendiri.
Aku sempat berpikir untuk menghilang. Sampai aku bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai penyihir.
.....................................................................................................................................................................
mimpi yang membangkitkan kenangan.
“Aku..... masih hidup?” Aku meracau
Aku masih belum mampu menggerakkan satu jaripun, tapi aku sudah bisa bicara. Pikiranku cukup jernih untuk menyadari bahwa sekarang aku berada dikamarku.
“.....Kak? Kakak sudah bangun?” Akiha melihatku dengan sedih.
“Akiha....? Kau disana?” Akiha berdiri disamping tempat tidurku. Mungkin dia sedang merawatku.
“Akiha... kau?” Aku melihat Akiha tanpa tahu apa yang terjadi. Dia mengalihkan pandangannya dengan tidak nyaman.
“Lukaku.......”
Aku tidak bisa mengatakan kalau dia, -SHIKI- , yang membuatku jadi seperti ini. Lagi pula bagaimana reaksinya ketika melihatku pulang terluka seperti ini?
“Akiha,....Ummmm....”
“Tidak apa-apa kak. Saya sudah mendengar sebagian besar ceritanya dari orang yang mengantar kakak kemari.”
“Ah, maksudmu Senpai?”
Masih menunduk, Akiha menganggukkan kepalanya.
Aku ingin tahu apa yang sudah diceritakan Senpai kepada Akiha. Tanpa tahu apa yang dikatakan Senpai, aku tidak bisa seenaknya bicara.
“Senpai mana....?”
“Kalau dia, sekarang sedang istirahat di kamar tamu. Biasanya saya tidak akan mengijinkan orang seperti dia untuk menginap di rumah ini, tapi dia sudah menolong Kakak. Jadi saya harus melayaninya sebaik-baiknya” kata Akiha.
“Kak, yang melukai kakak itu SHIKI bukan?”
Akiha bertanya langsung tanpa alih-alih.
“K,kau.......” Aku sangat terkejut. Aku tidak menyangka kalau Akiha sudah tahu itu.
“Saya tahu sebagian besar kejadiannya dari orang itu. Meskipun sebenarnya saya juga bisa menebaknya dari luka kakak”
Aku menelan ludah. Akiha berkata seolah-olah dia sudah tahu mengenai SHIKI sejak dulu.
“Akiha, kau...... tentang SHIKI.....”
“Ya, saya tahu. Sejak awal saya sudah mengetahuinya. Saya memanggil kakak kembali kerumah karena khawatir kalau hal seperti ini terjadi.”
Mendengar kata-kata Akiha, aku merasa kepalaku seperti dipukul dengan palu yang sangat besar.
“Tu, tunggu dulu____ apa maksudmu kau sudah tahu sejak awal? Aku sendiri belum begitu yakin apa yang terjadi. Waktu kecil, aku merasa ada anak sebaya kita yang juga ikut bermain bersama. Tapi ketika kutanyakan, kau menjawab,_____”
Kau bilang tidak ada anak yang lain.
“.......Maaf, saya telah membohongi kakak. Meskipun aku tahu hal seperti ini akan terjadi, tapi.............”
“Bohong? Jadi benar ada anak yang lain? Terus kenapa dia menghilang?”
Aku tidak bisa mengingat dengan jelas. Aku hanya ingat kalau aku pernah bermain bertiga. Ketika Ayah sedang pergi, biasanya Akiha menyelinap keluar dan bermain bersama kami.
Tapi kenapa aku bisa lupa? Kenapa dia menghilang? Kenapa namanya SHIKI sama seperti aku.?
Aku teringat akan mimpiku. Mimpi masa kecilku. Ada Akiha, ada aku, dan ada seorang anak yang bersimbah darah tergeletak ditanah.
“___AH!”
Tadi SHIKI mengatakan ‘Ini balasannya karena kau sudah membunuhku’. Jadi artinya, _____
“Artinya Aku_____”
Aku membunuhnya? Karena itukah dia tiba-tiba menghilang, dan aku lupa semuanya tentang dia?
“Akiha. Aku membunuh_____”
“Tidak! Bukan begitu!” kata Akiha memotong
“Kakak tidak membunuh siapapun!”
“....Akiha. Tadi kau bilang kau mencemaskan hal seperti ini terjadi, dan memanggilku pulang. Apa maksudmu? Kau sudah tahu tentang SHIKI, tentang kejadian 8 tahun yang lalu, dan tentang semuanya bukan?”
“......Ya. Aku tidak ingin kakak mengingat tentang SHIKI. Aku ingin kakak melupakannya selamanya. Tapi semuanya sudah berakhir. Sejak awal memang mustahil meyembunyikan hal ini.” Kata Akhia lemah sambil menghindari tatapan mataku.
Dia melirikku sambil tersenyum, kemudian melanjutkan,
“Kak, orang itu mengatakan kepada kakak mengenai kemampuan khusus keluarga Tohno bukan? Mungkin kakak tidak percaya, tapi ada sesuatu yang bukan-manusia yang mengalir dalam darah keluarga Tohno. Itu yang dikatakan oleh Ayah sejak aku kecil. Tentu saja mulanya Aku tidak percaya, tapi, ada sesuatu kejadian yang membuatku percaya. “
Akiha terdiam sejenak.
“.....Yaitu ketika kakak dibunuh oleh SHIKI 8 tahun yang lalu.”
“....Dibunuh? ...... Aku? .... oleh SHIKI?”
Akiha mengangguk.
Tapi, aku melihat tubuh SHIKI tergeletak bersimbah darah dalam mimpiku. Dan lagi dia tadi berkata ‘ini balasannya karena kau sudah membunuhku’ ?!
“Semakin dewasa, sesuatu yang bukan-manusia dalam diri kami bertambah besar. Aku sempat berpikir darah keluarga Tohno meningkatkan insting membunuh seseorang. Bisa saja insting ini mengambil alih akal sehat kita.”
“............., Akiha............?”
“Aku tahu, aku tahu kakak tidak percaya. Tapi tolong dengarkan dulu”
____Tidak. Aku tahu seseorang yang seperti itu. Sekarang, kalau saja aku bisa bebas bergerak dan menghindari SHIKI, aku akan langsung pergi mencarinya.
“Sifat yang dibawa oleh darah keluarga Tohno berbeda dalam setiap orang. Ada yang tidak berubah meskipun sifat itu bangkit, tapi ada juga yang berubah drastis dan menggila ketika sifat itu bangkit. Dan SHIKI adalah jenis yang terakhir tadi.”
“Jadi, dia berubah drastis?”
“Benar. tapi entah mengapa, dia berubah ketika dia masih sangat kecil. Setelah dia berubah, dia membunuhmu, kak”
“SHIKI....membunuhku?”
Jleb!
Tiba-tiba saja luka didadaku menjadi terasa sakit.
“Terjadi di halaman belakang. Shiki menusuk kakak, dan kakak sudah sekarat ketika ayah datang dan menghentikan SHIKI. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan membunuhnya. Itulah tugas kepala keluarga Tohno untuk mengatasi anggota keluarga yang menggila. Jadi anak yang tergeletak berlumuran darah yang kakak lihat adalah tubuh SHIKI yang sudah dihajar oleh Ayah.”
.....Aku tidak ingat. Tapi memang sepertinya ada sesuatu yang penting terjadi waktu itu. Tapi aku tidak bisa mengingatnya.
“Ajaibnya, kakak sembuh. Kakak dirawat dirumah sakit dan dilaporkan sebagai korban kecelakaan”
“..............” Aku terdiam tidak percaya.
“Karena itulah, Aku yang dibesarkan sebagai pewaris keluarga Tohno meskipun aku hanya anak kedua. Karena SHIKI sudah berubah, maka aku yang ditunjuk sebagai pewaris selanjutnya.”
Begitu ya? Karena itu Akiha mengambil tanggung jawab sebagai pewaris keluarga Tohno. ........ huh?
“Tunggu Akiha. Kau bilang tadi SHIKI berubahkan? Kalau begitu, kenapa aku tidak?”
“Wah, tidak bisa kupercaya. Kak bisa percaya dengan semua yang kuceritakan?” tanya Akiha heran
“Hey, ini bukan waktunya bercanda. Lagi pula aku sudah terbiasa dengan topik seperti ini. Le, lebih pentingnya, Aku merasa semua ini ada yang aneh”
“Aku tidak tahu. Tapi yang saya ceritakan tadi tidak ada yang salah. Jadi, bisa kita hentikan pembicaraan ini?”
“Tidak! Akiha! Mencari tahu tentang SHIKI sangat penting bagiku....! Dia itu musuh bagi kami. Aku dan dia. Jadi___Aku harus tahu semuanya. Kenapa dia masih hidup padahal Ayah sudah membunuhnya? Dan aku seperti melupakan sesuatu yang penting! Tolong jawab aku Akiha”
“Sebenarnya saya ingin semuanya tetap begini.”
“Akiha!!”
“Kak, sebenarnya kakak bukan anggota keluarga Tohno. Ayah mengadopsi kakak hanya karena kakak memiliki nama yang sama dengan salah satu anaknya, SHIKI”
____________ Eh?
“Kakak, saya, dan SHIKI. Kita bertiga dibesarkan sebagai saudara. Kakak dan SHIKI sangat akrab, sampai-sampai saya merasa cemburu. Tapi setelah apa yang terjadi dengan SHIKI, semuanya menjadi terbalik. SHIKI, anak pertama keluarga Tohno, tidak boleh mati. Karena untuk menjaga status sosial keluarga ini. Mereka tidak bisa mengatakan SHIKI menghilang begitu saja.”
“Ayah mendapat ide. Ayah menukar identitas Kakak dan SHIKI. Kakak menjadi Tohno Shiki, dan SHIKI menjadi anak yang diadopsi, yang meninggal karena kecelakaan. Jadi yang dibunuh tetap hidup, dan yang membunuh, mati. Itulah hubungan Kakak dengan SHIKI.
_____ ha_______ha_____
“Jadi? Aku bukan kakakmu? Aku bukan anggota keluarga Tohno?”
Tentu saja aku juga bukan anggota keluarga Arima. Jadi aku ini sebenarnya siapa?
“Maaf kak, tidak ada yang bisa menjawabnya. Shiki sudah meninggal. Bukan orangnya, tapi masa lalunya, keberadaannya, dan juga ingatannya. Kakak bertukar tempat dengan SHIKI 8 tahun yang lalu, jadi ayah sudah membuang data-data mengenai kakak” kata Akiha menyesal.
“Karena itu, kakak tidak bisa menjadi pewaris keluarga Tohno. Menjadikan kelemahan tubuh kakak sebagai alasan, Ayah memberikan kakak kepada keluarga Arima, dan menyuruhku untuk tidak pernah mengijinkan kakak kembali menginjak rumah ini.”
Suara Akiha terdengar gemetar. Aku tahu kalau dia merasa sangat bersalah sekarang. aku tidak pernah berniat menyalahkannya. Dan aku masih punya pertanyaan yang lebih penting lagi.
“Aku masih ingin memastikan dua hal, Akiha”
“Kak?”
“Pertama, aku bukan anggota keluarga Tohno. Dan tadi kau bilang setiap anggota keluarga Tohno memiliki sifat istimewa dalam tubuh mereka. Tapi, kenapa aku juga memilikinya?”
“Saya tidak tahu. Mungkin hanya ayah yang bisa menjawabnya. Dan aku yakin kakak diadopsi bukan hanya karena persamaan nama.”
“Begitu ya? Jadi sudah tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku. Kemudian, um, aku selalu merasa sangat beruntung bisa hidup sampai saat ini. Lukaku yang dulu cukup fatal kan? Jadi mungkin aku benar-benar beruntung”
Ya. Aku benar-benar orang yang beruntung.
“Dan pertanyaan kedua, kenapa SHIKI masih hidup?”
Aku mempelototi Akiha ketika bertanya secara tidak sadar.
“....Kak.....itu.....”
“Aneh kan? SHIKI menggila. Dan Ayah membunuhnya. Jadi seharusnya dia sudah mati”
“....Itu......” Akiha terlihat ragu-ragu
“Hanya ada satu kemungkinan. Kalau aku bisa sembuh, maka dia juga bisa. Atau mungkin ayah tidak benar-benar membunuhnya. Apapun yang terjadi, SHIKI tetap anak kandungnya.”
Akiha diam tidak menjawab.
“....Aku mengerti. Mungkin ayah bermaksud mengembalikannya ke kedudukan semula jika SHIKI sudah kembali waras.”
“Bu, bukan begitu kak.......”
Benarkah? Tapi kau tidak melanjutkan penjelasanmu. Akiha hanya terdiam sambil melihat kebawah.
“Sudahlah. Ini bukan salahmu, Ayah, maupun SHIKI. Ini mungkin yang disebut takdir. Dan kebetulan ada orang asing yang gila merasuki tubuh SHIKI.”
Akiha tetap terdiam.
Aku merasa lelah. Jujur saja, aku sendiri tidak terlalu berminat mencari tahu masa laluku. Yang lebh penting, aku harus mencari dimana Arcueid sekarang.
“Akiha, aku merasa lelah. Aku ingin istirahat”
“Baiklah kalau begitu”
Akiha berdiri, dan melangkah menuju pintu.
“Akiha___”
Sebelum Akiha keluar, Aku memanggilnya. Sebelum Akiha pergi, Aku masih ingin memastikan satu hal.
“Ya kak?”
“kenapa kau memanggilku kembali? Aku bahkan bukan kakak kandungmu”
“Kak tolong jangan bicara seperti itu” kata Akiha dengan nada sedih. Sejak dulu hingga sekarang, meskipun Kakak lupa, bagiku, Tohno Akiha, kau satu-satunya kakakku”
Terdengar suara ‘klik’ ketika Akiha menutup pintu.
“.................”
Setelah dia pergi, Aku merenungkan situasi saat ini. Sekarang jam 10. 3 jam setelah SHIKI______bukan, Roa menyerangku.disekolah. Dan aku masih belum mampu bergerak bebas.
*haaaah*
Menarik nafas panjang, aku mencoba menenangkan diri. Aku mulai mencoba menggerakkan bagian tubuhku yang kecil, seperti jari tangan kananku. Aku harus mengerahkan seluruh tanagaku untuk menggerakkan jariku. Setelah beberapa menit, jariku berhasil kegerakkan, meskipun hanya sedikit.
Setelah itu, aku mencoba menggerakkan telapak tangan, siku, lengan, dan bahu. Nafasku terengah-engah. Semakin aku bergerak, semakin terasa sakit badanku.
“Akh......!”
Keringat mengalir membasahi dahiku. Aku merasakan sakit diseluruh tubuhku seperti disayat-sayat pisau. Tapi kalau aku tidak mencoba, aku tidak bisa pergi dari kamar ini. aku tidak bisa pergi ke kota, kesekolah, aku tidak akan bisa pergi mencari Arcueid.
“Ag.....HHH!!”
Menahan sakit, aku berusaha menggerakkan tubuh bagian atas. Akan sangat sulit memaksa berjalan dalam kondisi seperti ini, tapi aku tidak peduli. Lagi pula sudah merupakan keajaiban Aku masih bisa hidup setelah Roa menusuk dadaku. Jadi Aku tidak boleh mengeluh.
Aku melihat luka tusuk didadaku. Tapi anehnya, aku tidak melihat titik kematian disana. Tapi karena itu, aku masih bisa hidup. Kalau Roa menusuk tepat dititik kematianku, aku tidak akan berada disini sekarang.
“.....Mungkin Roa melihat titik yang berbeda?”
Ketika aku masih berusaha menggerakkan tubuhku, aku mendengar pintu diketuk, dan Senpai masuk kekamarku.
“____To,Tohno-kun?! Kau seharusnya istirahat. Kau belum boleh bangun sekarang.....!” katanya sambil bergegas mendekatiku.
“.....................”
Aku hanya bisa terdiam melihat wajahnya yang penuh kecemasan.
“......? Ada apa?”
“Tidak, hanya kakak tidak memakai kacamata kakak”
“Sayang sekali ya, padahal kalau aku pakai, mungkin kita bisa cocok. Sama-sama memakai kacamata” kata Senpai terenyum.
Ha ha, senpai akan terus menjadi senpai. Meskipun dia memakai jubah pendeta yang aneh, dan mampu bertarung seimbang dengan Roa, dia tetaplah Senpai yang kukenal.
“Terima kasih. Senpai menolongku lagi”
“Ya. Dengan ini sudah 3 kali kau berhutang padaku. Aku tidak bisa terus membantumu, jadi behati-hatilah”
“Tentu saja, lain kali aku akan menghajarnya, sebelum dia sempat menghajarku”
Mendengar ucapanku, senpai menatapku lurus.
“Jangan katakan kau belum belajar dari ini”
“Ayolah, aku korban disini. Aku harus belajar apa? Dia yang menyerangku. Aku tidak bisa apa-apa”
“Benar, tapi kau berniat menyelesaikan ini semua kan, Tohno-kun?”
“.........................”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu apakah aku berniat menyelesaikan semua ini atau tidak. Hanya saja, aku tidak bisa diam tanpa melakukan apapun sekarang.
“Boleh bertanya sesuatu senpai?”
“Tidak.” Jawab senpai tegas “Tapi biar aku bilang seperti itu juga, kau tidak akan berhenti sampai disitu saja kan? Baiklah, kalau begitu silahkan bertanya. Tapi kau harus tenang dulu”
Senpai kemudian duduk dikursi tempat Akiha duduk sebelumnya. Kukira Senpai akan menghentikanku dengan paksa, tapi kau tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
“Yang barusan itu Roa bukan?”
“Ya. Dengan tubuhnya yang baru. Tohno SHIKI yang sama dengan yang menusukmu 8 tahun yang lalu. Kau sudah mendengarnya dari Akiha-san bukan?”
“Ya begitulah. Apa Senpai berteman dengan Akiha? Tapi dia tampak membenci senpai”
“Bisa dibilang begitu. Dia memandang rendah pekerjaanku. Dan tampaknya secara pribadi dia memang tidak menyukaiku” Senpai mengatakannya sambil tersenyum. Luar biasa.
“Kembali ke Roa. Apa dia membangun sarangnya disekolah?”
“.....Aku tidak yakin, tapi tampaknya memang begitu. Dia bergerak sendiri karena Arcueid sudah membunuh hampir semua Zombie-nya”
Dengan kata lain, Arcueid belum menemukannya. Jadi aku masih ada kesempatan untuk menemukan Arcueid terlebih dulu.
“Tohno-kun?”
“Ah tidak. Tapi kenapa di sekolah?” Aku sempat tenggelam dalam pikiranku. “dan lagi, kenapa dia lebih terlihat seperti SHIKI dari pada Roa? Dia tidak terlihat seperti vampire sama sekali”
“Tentu saja, karena kepribadian utamanya adalah SHIKI. Karena itu, dia tidak bertindak seperti vampire.”
“Tunggu dulu. SHIKI hanya induk semang, bukan? Jadi seharusnya kepribadiannya tetap Roa”
“Begini Tohno-kun. Sebelum induk semangnya dewasa, Roa tidak akan bangkit. Jadi kepribadian Roa tidak akan muncul. Jadi, kepribadiannya tetap mengikuti kepribadian induk semangnya.”
“Jadi, yang tadi itu SHIKI? Bukan Roa?”
“Sepertinya begitu. Masalahnya, dia sudah memiliki keinginan, sejarah, dan ilmu pengetahuan yang selama ini dimiliki oleh Roa. Apa yang diinginkan oleh SHIKI dan apa yang diinginkan oleh Roa sangat berbeda.”
“Keinginan.......SHIKI..........?”
“Ya. Mungkin keinginan SHIKI untuk membunuhmu lebih kuat daripada keinginan Roa”
Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Senpai.
“Kenapa dia mau membunuhku?”
“Sulit dijelaskan, tapi mungkin dia merasa kau telah membunuhnya.”
“Apa maksudmu!?” Aku merasa marah “Aku yang dibunuhnya. Dia membalikkan semua fakta”
“Tapi kau masih hidup bukan? Dan kau menjadi Tohno Shiki sekarang. Setelah seharusnya SHIKI mati, ternyata dia dapat pulih secara ajaib seperti halnya kau dulu. Tapi, dia sudah tidak memiliki rumah tempat untuk pulang. Karena ada orang lain yang menjadi Tohno Shiki, dan hidup bersama adiknya, Akiha-san.”
“Jadi bisa dikatakan kau membunuh Tohno SHIKI. Kau mengambil tempatnya ketika Tohno Makihisa mengasingkannya. Bisakah kau bayangkan bagaimana perasaannya?”
“....Jadi menurutnya, aku hanya penipu yang memakai nama Tohno Shiki?”
“Ya. Karena itu SHIKI sngat membencimu”
Tapi, Aku melakukannya bukan karena ingin. Tapi mungkin SHIKI tidak peduli akan hal itu. Baginya, aku hanyalah penipu yang mengambil segalanya dari dirinya. Orang yang mengambil rumahnya, namanya, dan keluarganya. Tentu saja dia ingin membunuhku.
“Tapi tetap saja Aku yang dibunuhnya, Senpai”
“Tohno-kun?”
Ya. Bukan hanya dia saja. Ada yang mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku juga. 8 tahun yang lalu umurku baru 9 tahun. Aku yang masih hidup sampai sekarang kehilangan semuanya. Aku tidak bisa mengingat masa laluku. Aku tidak bisa mengingat kedua orang tua kandungku. Aku tidak bisa menemukan aku yang sebelum berumur 9 tahun. Shiki kecil yang itu, sudah tidak mungkin bisa ditemukan lagi.
“Kau tidak bisa bertarung jika diliputi rasa marah, Tohno-kun”
Seperti menyadari kemarahan dalam ucapanku, Senpai memperingatkanku. Aku mengatakan kepadanya jangan bercanda sambil menggelengkan kepala.
“Aku tetap akan mengahdapi Roa. Tapi dengan alasan yang berbeda”
“Kau tidak membencinya?”
“Aku bohong kalau bilang tidak. Tapi bukan itu masalahnya. Aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Kalau tuan putri yang satu itu dibiarkan sendiri, Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku harus membantunya. Aku berjanji akan membantunya sampai semua ini selesai.”
Benar. Aku tidak boleh terus disini. Arcueid selalu menderita. Meskipun dia selalu terlihat riang didepanku.
“.....Aku tidak habis pikir, kenapa kau mati-matian membela Arcueid? Dia itu vampire, kau tahu?”
“Aku tidak peduli. Yang Aku tahu hanyalah aku mencintainya. Karena itu aku akan membantunya” kataku sambil menatap mata senpai.
Senpai meletakkan tangannnya didepan mulutnya yang menganga. Wajahnya memerah.
“Begitu kah?”
“Ya. Aku tidak boleh membuang waktu lagi. Kalau Roa ada disekolah, Aku harus segera kesana”
Kalau tidak, Arcueid akan menemukan Roa dan bertarung melawannya. Kalau itu terjadi, kemungkinan Arcueid menang sangat kecil. Aku akan membantunya. Aku tidak tahu seberguna apa aku nanti, tapi lebih baik daripada membiarkan Arcueid sendiri.
“Percuma Tohno-kun. Meskipun kau membantunya, dengan keadaan sekarang, Arcueid tidak bisa mengalahkan Roa.”
“Tidak bisa mengalahkan Roa..... kenapa Senpai bisa yakin?”
“Mudah saja, sejak Arcueid terbunuh, dia sudah mengerahkan tenaganya untuk menekan naluri alaminya. Karena tenaganya banyak berkurang, Arcueid yang sekarang tidak akan bisa melawan Roa. Sedangkan kamu, kekuatanmu tidak sampai setengahnya dari Roa. Meskipun kalian bekerja sama, kalian tidak akan menang” kata Senpai dingin.
“Sejak awal, Arcueid sudah hampir mati. Tenaganya menjadi sangat lemah. Dan dia menggunakan sisa tenaganya untuk menekan naluri alaminya. Kalau diumpamakan, dia seperti kita yang memaksakan diri untuk bergerak setelah ulu hatinya dipukul keras.”
“Ap____?”
Apa maksudmu hampir mati? Arcueid memang terlihat kesakitan, tapi dia tidak terlihat hamnpir mati.
“Ini dikarenakan dia tetap menolak untuk meminum darah. Semuanya akan lebih mudah kalau dia memilih meminum darah manusia. Tapi kurasa dia tidak akan melakukannya. Selama dia masih memburu Roa dengan keadaan seperti ini, dia sama saja sedang berlomba dengan kematian”
“Kau.....kau bohong!”
Aku berdiri. Dan aku langsung terjatuh kelantai karena tubuhku masih belum cukup kuat. Aku terjatuh seperti sampah, menghantam karpet lantai kamarku.
“Akh____!!!” Aku kesakitan
Lemah. Sekarang aku sangat lemah. Aku bahkan tidak bisa berjalan.
“Jangan memaksakan diri Tohno-kun.” Kata Senpai tanpa beranjak dari tempat duduknya.
“Meskipun kau tidak terluka-pun, tenagamu banyak terkuras. Mungkin karena kemampuan SHIKI. Mungkin setelah menusukmu, dia mengambil sedikit ‘nyawamu’. “
“Nyawaku?”
“Katakanlah sumber energi kehidupanmu tidak terbatas. Tapi tetap saja bisa berkurang. Energi kehidupan terus diproduksi selama seseorang itu masih hidup, tapi jumlah yang di produksi sangat bervariasi tergantung orangnya. Jadi energi yang digunakan tetap terbatas. Sebelum kita menggunakan energi tersebut sampai habis, kita akan mengambil energi tambahan dari sumber yang tidak terbatas itu” kata Senpai menjelaskan. “Jadi kalau ada yang bisa mencuri sumber energi tadi, maka orang yang energinya diambil, tidak akan mampu memenuhi kebutuhan minimal energi untuk digunakan.”
“Jadi maksud senpai dengan kehidupan itu........?
“Benar. kalau diumpamakan seperti mobil yang tidak bisa berjalan karena kehabisan bensin.”
Senpai berdiri, membantku bangun dan kembali membaringkanku diatas tempat tidur.
“Sudahlah Senpai, kau tahu kan, kalau aku tidak akan tiduran terus?”
“Memangnya kau bisa apa? Kau bahkan tidak bisa berdiri sendiri. Kalau kau tidak mau berbaring, kau boleh tetap dilantai seperti tadi”
Dia memaksaku kebali ketempat tidur.
Aku memaksakan diri untuk duduk. Hanya dengan berusaha duduk saja, Aku sudah kehabisan nafas.
“Si__al!”
Dengan kondisi seperti ini, aku tidak mungkin pergi kesekolah. Meskipun aku menemukan Arcueid, Aku hanya kan menjadi beban saja.
“Kau tidak perlu bertarung lagi, Tohno-kun. Semuanya akan selesai dalam beberapa hari ini.”
“____ Maksud Senpai?”
“Karena aku telah menemukan tubuh Roa yang baru, maksudku,... Vatikan telah menjawab permintaanku. Dalam 7 hari, Burial Agency yang bergerak dibawah perintah langsung Paus, akan tiba dan menghabisi Roa. Memang akhirnya Roa hanya akan terus berreinkarnasi lagi, tapi paling tidak satu masalah sudah selesai.”
7 hari ya.
7 hari.........?
“Aku tidak bisa menunggu selama itu. Sekarang mungkin Arcueid akan menemukan Roa dan menghadapinya. Kalau selama itu, semua akan sia-sia”
Aku memfokuskan tenaga ke kakiku. Tanpa mengindahkan rasa sakit, Aku berdiri dari tempat tidurku.
“....Senpai, pisauku. Dimana pisauku?”
“Aku membawanya. Tapi kau pikir aku mau menyerahkannya padamu?”
“Tidak sih, tapi kau tidak boleh membawa barang milik orang lain tanpa ijin, Senpai”
Mendengar ucapanku, Senpai hanya menghela nafas dan merogoh sakunya. Dia mengeluarkan pisauku.
“Karena ini milikmu, aku akan mengembalikannya. Tapi apa kau berniat kembali kesekolah, Tohno-kun?”
“____Ya. Sebelum Arcueid menemukan Roa, aku harus_____”
Membunuhnya. Kalau SHIKI memang menginginkanku, maka mau tidak mau aku harus menghadapinya juga. Jadi untuk melindungi Arcueid, aku harus membunuh Roa terlebih dahulu.
“Dengan kondisimu yang seperti ini? Kenapa sih kamu? Katakan alasanmu. Kalau kau katakan, aku tidak akan menghentikanmu”
Pertanyaan yang sama dengan yang sebelumnya. Wajahnya sangat tenang dan lembut. Senpai benar-benar ingin tahu.
“____ Aku____”
Kenapa kau ingin membantunya? Karena aku menyukainya? Karena kalau bersamanya terasa menyenangkan? Ya. Semua itu memang penting, tapi ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Ada sesuatu yang membuatku tidak bisa melepaskannya.
“.... Karena dia selalu sendiri. Karena itu aku tidak bisa meninggalkannya.”
“Bohong” kata senpai. Dia terlihat marah. “Kau tidak mungkin mempertaruhkan nyawamu hanya untuk itu saja. Jawab yang jujur Tohno-kun. Aku tidak bisa menerima alasan seperti itu.”
“Tidak. aku mengatakan yang sejujurnya. Sampai saat ini, dia tidak pernah tahu rasanya bersenang-senang. Selama ini dia selalu, selau terisolasi dan kesepian. Aku tidak bisa membiarkannya seperti itu. Jadi____”
Aku hanya ingin dia tahu. Ada banyak hal yang bisa dilakukan didunia ini. Meskipun semua tampak sia-sia, merasakan kesenangan adalah bagian dari hidup. Bahkan anak kecil saja tahu tentang hal itu.
“Aku hanya ingin mengatakan kepadanya. Meskipun dia selalu tersenyum seakan menikmati semuanya, Aku ingin memperlihatkan kepadanya bahwa semua orang bisa merasakannya. Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa dunia ini memiliki lebih___ sesuatu yang lebih menyenangkan yang bisa membuat segala kesusahan terlihat tidak ada artinya. Merasakan sesuatu yang biasa dirasakan orang lain, Aku hanya ingin membuatnya bahagia.”
Jadi dia dapat sungguh-sungguh tersenyum dari dalam hatinya. Karena aku menyukai senyuman Arcueid.
“Aku ingin membuatnya merasa lebih bahagia.”
Sangat sederhana. Hanya dengan berbicara dengan seseorang dan melakukan apa yang kau inginkan.
“Tapi Tohno-kun, kalau hanya itu, semua orang juga bisa melakukannya.”
Aku tahu. Aku tahu itu. Tapi____
“____Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan orang lain yang melakukannya. Aku tidak bisa berpisah dengannya seperti ini. Bagiku, tidak ada orang lain selain dia”
Karena hanya Arcueid seorang didunia ini yang ingin kubuat bahagia.
“Aku mencintainya”
Aku mencintai Arcueid sebagai seorang laki-laki. Aku menyukai semua hal yang ada pada dirinya.
“Aku ingin membuatnya bahagia dengan tanganku sendiri. Untuk itu aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak mau dia mati. Hanya itu alasanku, Senpai”
Ya. Hanya itu. Bagiku, da lebih penting daripada hidupku sendiri.
“....Jangan bicara seperti itu, Tohno-kun. Kau berkata seolah-olah hanya kau yang boleh melakukannya.” Kata senpai sambil memegangi sikunya.
Setelah itu, Senpai menghela nafas. Tampak dia sedikit kecewa.
“____ Senpai?”
“Kau tahu, kau membuatku sedikit marah. Sampai saat ini, dia cukup bahagia, kau tahu?”
Seakan menyerah, Senpai berkata dengan suara yang lembut.
Tiba-tiba aku mendengar suara bergersak dari luar jendela.
“?!”
“Jangan terkejut. Dia baru saja pergi. Aku memang merasakan sesuatu dari tadi, jadi itu memang dia” kata senpai sambil melihat kearah jendela.
“Tidak seperti biasanya. Dia menempatkanmu sebagai prioritas diatas Roa. Yah, kalau saja dia masih memberi Roa prioritas utama setelah mendengar ucapanmu tadi, akan kuhukum dia”
“Eh.....?”
Jadi, sedari tadi, Arcueid berada diluar?
“Ke, kenapa dia.......? senpai......?”
“Mungkin dia cemas setelah tahu roa menyerangmu. Mungkin dia telah mendengar semuanya dan sekarang pergi mencari Roa.”
Dengan kata lain, dia...............
“Kenapa?...... Dia pergi. Kenapa?”
“Tidak heran, setelah mendengar semua yan kau katakan, aku juga mungkiin akan melakukan hal yang sama. Yah, mungkin aku jadi sedikit merasa kasihan padanya”
“...Tapi...tapi....?!”
“Kau ingin membantunya, tapi dia tidak ingin kau terlibat dalam pertempurannya. Jadi artinya hanya ada satu kan?”
Senpai berkata dengan sangat tenang. Seakan dia tahu hal seperti ini akan terjadi.
“Sekarang kau bisa menyerah Tohno-kun. Sekeras apapun kau mencoba, kau tidak mungkin mengejarnya. Serahkan sisanya padaku, dan istirahatlah.”
“Bajingan!!!!”
Aku mencengkeram kerah Senpai. Melakukannya membuatku semakin pusing, tapi aku tidak peduli.
“Kau tetap bertanya meskipun tahu hal seperti ini akan terjadi, huh, Senpai___?!” kataku marah.
“.....Tidak. Aku tidak tahu kau melihat Acueid sampai seperti itu. Ini bisa dibilang kesalahanku.”
Ekspresi wajahnya tidak berubah ketika Senpai mengatakannya. Tetap dingin.
“_________”
Marah-marah tidak akan menyelesaikan apapun. Arcueid sudah pergi. Yang harus kulakukan bukanlah menyalahkan senpai.
“___Aku akan mengejarnya. Bawa aku kesana” perintahku.
“Kau pikir aku akan mematuhi perintah orang yang kondisinya seperti kamu?”
Tentu saja tidak.
“Kalau kau tidak melakukannya, akan kuperkosa kau”
Ekspresi wajah senpai berubah. Dia seakan melihat langsung kedalam hatiku. Tapi aku tidak bisa mundur sekarang.
“__________”
Kemudian senpai sekali lagi menghela nafas.
“Baiklah. Sebagian adalah salahku. Lagipula aku sudah terlanjur campur tangan sampai sejauh ini. Aku akan menemanimu sampai akhir.”
Melepaskan tanganku yang mencengakeram kerahnya, dia berdiri disampingku.
“Aku akan membawamu kesana, jadi diam dulu.”
Mengatakan ‘yoisho’ Senpai membopongku.
“Kalau Akiha-san melihat ini, dia akan menghentikan kita. Jadi kita akan keluar dengan cara yang dilakkan Arcueid tadi”
“Eh__?”
Dengan langkah yang ringan, senpai membawaku melompat keluar melalui jendela.
****
Kami akhirnya tiba di sekolah. Meskipun sambil membawaku, nafas Senpai tidak terengah-engah. Dan dia bisa berlari seakan tidak membawa beban sama seklali.
“Kau bisa berjalan Tohno-kun? Tanya senpai sambil berlari.
“Mungkin. Kita akan menyerang Roa. Jadi kita tidak bisa masuk dengan seperti ini.”
“Kau benar. Mulai dari sini, kau harus berjalan sendiri”
Berhenti, Senpai menurunkanku.
Suasana sekolah dimalam hari luar biasa sepi. Kesannya malah jadi mengerikan. Setelah masuk, yang tersisia hanya tinggal bertarung sampai mati.
Setelah perlahan menghisap nafas, Aku melepaskan kacamataku. Garis-gars maut terlihat diseluruh gedung sekolah. Kepalaku mualai terasa berdenyut.
“Ini buruk” kata senpai sambil melihat keatas.
Bulan purnama. Sinarnya menerangi halaman sekolah.
“Apanya yang buruk?”
“True ancestor mendapatkan kekuatan dari bulan. Begitu pula Roa. Dia mungkin akan sulit dibunuh sekarang. Dia bisa dibilang abadi. Dengan perlengkapan yang kubawa, mungkin akan sulit untuk membunuhnya sekarang”
Senpai menggeretakkan giginya.
Abadi huh? Keabadian tidak ada artinya didepan mataku. Kalau aku bisa mendekatinya, Aku bisa memotong titik kematiannya.
“....Terlalu terang. Kita akan sulit untuk bersembunyi. Aku biasanya sangat menyukai bulan purnama, tapi tidak untuk kali ini” keluh Senpai.
Cahaya bulan purnama yang pucat, dan udara malam yang dingin. Aku bisa melihat garis maut lebih jelas.
“Benarkah? Sejak dulu aku tidak suka malam bulan purnama”
“Tohno-kun?”
“Dibandingkan siang hari, aku bisa melihat hal-hal yang tidak menyenangkan di malam seperti ini. Aku lebih suka matahari yang bersinar terang, atau gelap tanpa cahaya sama sekali.”
Aku kembali memakai kacamataku. Menggenggam erat pisauku, aku berjalan menuju gedung sekolah.
Aku masuk melalui pintu depan. Bahkan berjalan normal terasa sangat sulit bagiku. Jarak didalam sekolah terasa sangat jauh.
“Kita berpisah disini Tohno-kun.” Kata Senpai tiba-tiba. “Dari sini pergilah sendiri. Aku harus melakukan sesuatu yang lain”
“Yang lain? Apa?”
“Dengar, tampaknya Roa kali ini sangat kuat. Aku tidak akan menghadapinya secara langsung. Ketika kau dan Arcueid terbunuh oleh roa, aku akan menggunakan kesempatan itu untuk membunuhnya.” Katanya jujur dengan wajah serius.
“Kau..... tampak sangat serius, Senpai”
“Ya. Ini terakhir kalinya aku membiarkan urusan pribadi orang lain mencampuri pekerjaanku. Kau bertarung untuk Arcueid bukan, Tohno-kun? Aku juga punya alasan tersendiri untuk membunuh Roa. Jadi mulai sekarang, Aku tidak akan membantumu.”
“Baiklah. Terima kasih senpai.karena mungkin ini terkahir kalinya kita kan bertemu, aku ingin mengatakan kalau aku menyukai Senpai. Sangat menyenangkan bersama Senpai dan Arihiko mengobrol tentang hal-hal yang bodoh.”
“___ Ya. Bagiku, saat-saat itu terasa seperti mimpi, Tohno-kun.” Senpai tersenyum
Senpai kemudaian menghilang seperti bayangan.
“Baiklah, saatnya beraksi”
Memaksakan tubuhku yang terasa sakit setiap kali aku bergerak, aku berlari menuju gedung sekolah.
Dinding-dinding sekolah dipenuhi retakan dan goresan. Sepertinya pertarungan antara Ro dan Arcueid sudah dimulai.
“....Diatas ya?”
Aku berlari menuju lantai atasku.
Berhenti sebentar untuk mengambil nafas, akhirnya aku sampai dilantai 4. Retakan dan goresan terus berlanjut sampai lorong yang menghubungkan kedua gedung sekolahku.
“Sial!”
Entah bagaimana caranya, Aku bisa menggerakkan kakiku dan berlari menuju lorong itu. Akhirnya aku sampai diujung lorong penghubung.
Ditengah-tengah lorong, Aku melihat dua orang yang saling menatap dari kejauhan. SHIKI berada diujung lorong satunya. Dan ditengah lorong, Aku melihat Arcueid berlutut. Nafasnya terlihat berat.
“Arcueid__!!”
Aku berlari mendekatinya. Tapi sebeelum aku sampai, Arcueid yang masih berlutut, melihat kearahku.
“...........?!”
Aku tidak bisa bergerak. Setelah melihat matanya, Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Tubuhku seakan menjadi batu.
“Ah, keterlaluan sekali kau Arcueid. Mengikat tubuh temanmu sendiri dengan menggunakan mata mistismu seperti itu. Bukankah lebih baik kalau kau membiarkannya mati bersamamu?”
SHIKI, bukan, Roa, tertawa puas.
“Kenapa?”
Kenapa Arcueid melakukan ini padaku. Padahal aku sudah sampai sini.
“Kenapa? Kenapa Arcueid?!”
Arcueid melepaskan pandangannya dariku dan melihat Roa. Dia hanya diam. Dia tidak mengatakan apapun padaku. Dia hanya melihat kearah musuhnya sambil bernafas terengah-engah.
“___Kenapa___Kenapa___?”
Aku bahkan tidak bisa berteriak. Bukan karena mata mistisnya, tapi karena setelah aku sampai disini, tubuhku yang sedari tadi kupaksakan, mula kehilangan tenaganya.
Tawa Roa semakin keras melihat situasi kami berdua.
“__Akhirnya. Kau sudah siap, Putri?” kata Roa sambil mendekati Arcueid.
Arcueid tetap berlutut tidak begerak.
“Ck ck ck. Usahamu cukup bagus, Shiki. Sepertinya Tuan Putri ini masih akan tetap bertarung untuk menolongmu. Kalau saja dia masih seperti yang dulu, dia akan membiarkanmu. Tapi, sekarang dia hanya seperti vampire biasa. Dia bahkan sudah tidak memiliki kekuatan seorang True Tncestor lagi. Kau tahu Arcueid, akan lebih baik kalau kau membiarkan dirimu dikuasai oleh naluri alamimu.”
“Diam!!” suara Arcueid menggema diseluruh gedung.
Apa ini? Kalau ini bukan halusinasi, semua disekitar Arcueid mulai bergelombang. Tubuhnya berpendar.
“Ap____?” Roa menghentikan langkahnya.
“Noble Phantasm? Kau masih bisa menggunakannya?”
Ketakutan, Roa melompat mundur.
“Tapi kau tidak akan menang! karena aku memiliki sesuatu yang tidak kau miliki!”
Arcueid menahan nafasnya. Dia menghentikan semua gerakan untuk menghimpun kekuatan.
“Dan kau tahu itu. Pengalaman mati. Aku tahu rasanya mati. Tapi kau tidak. Selama kau masih hidup, kau tidak akan pernah mengalami mati. Yang bisa mengalaminya hanyalah reinkarnator seperti aku.”
Gelombang yang dikeluarkan Arcueid semakin kuat.
“Secara insting, manusia takut terhadap hal-hal yang belum diketahuinya. Dan kau juga sama saja. Selama apapun hidupmu, kau tidak akan pernah merasakan pengalaman mati. Kau mengumpulkan begitu banyak kekuatan untuk mencegah kematian. tapi pada saat yang sama, kau mengumpulkan semua kelemahanmu. Kau melarikan diri dari kematian, sedangkan Aku menerimanya. Itulah perbedaan antara kau, Arcueid Brunestud, dan aku, Michael Roa Valdamjong.
Prak!!
Kaca jendela disekitar kami mulai retak.
“Aku tahu mengenai kematian, kegelapan, kehampaan yang telah kutempuh sepanjang waktu! Bagiku, yang namanya kematian, hanyalah sebuah ritual umum. Meskipun kau bunuh tubuh ini, Aku masih akan tetap ada. Kenapa kau tidak sadar juga kalau melawanku itu percuma?”Roa mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Arcueid tidak menjawab.
“___Baiklah, kalau kau masih terus menantangku, akan kuladeni. Akan kuberi kau hadiah atas kekeras kepalaanmu.”
Menurunkan lengannya, Roa menunduk.
Semua yang ada disekitar Arcueid siap meledak.
“A_____”
Aku tidak bisa bicara saat ini. Ini buruk. Didalam kepala, aku terus berteriak. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku tidak tahu kenapa, tapi sebagai seseorang yang bisa melhat kematian, Aku tahu antara Roa dan Arcueid, siapa yang lebih dekat kepada kematian.
“Henti___kan__”
Aku berusaha menghentikan Arcueid. Tapi suaraku tidak mau keluar.
Blas!!
Suara udara yang tercabik. Membungkus Arcueid dan seluruh lorong.
Seluruh gedung bergetar. Kaca jendela, dinding, lorong, dan seluruh gedung. Semuanya berputar-putar didalam gelombang tersebut. Tertelan.
Dalam sekejab, tubuh Roa menghilang.terhempas, terpotong terlumat. Yang tersisa hanya engkelnya.
Semua tiba-tiba berhenti. Mungkin kejadian itu hanya terjadi beberapa saat. Lorong ini tetap seperti sebelumnya.
Tapi ini tidak berkhir begitu saja. Engkel itu bergerak-gerak, dan seakan berlari menuju Arcueid. Bukan hanya itu saja, kaki, pinggang, perut, dan bgian-bagian lain seakan hidup kembali.
Masih berlutut, Arcueid tidak bergerak. Didepannya leher dan kepala Roa mulai bersatu kembali.
“Ar_____”
Aku tidak bisa memperingatkannya. Roa yang bangkit kembali memotong perut Arcueid. Seperti memotong garis maut, tidak ada darah, tidak ada daging yang tersayat.
“Nyaris saja. Untung sekarang bulan purnama. Kalau tidak, Aku tidak akan bisa kembali pulih hanya dari engkel saja.” Kata Roa
“Dan kau, Putri. Kau tidak akan mungkin bisa sembuh dari luka itu. Cakarku memiliki kemampuan yang sama dengan manusia yang berdiri dibelakangmu itu.”
Bruk!
Arcueid terkapar dilantai.
“Inilah kekuatan yang kudapat setelah berkali-kali mengalami kematian. Lucunya, Aku sendiri belum tahu bagaimana menggunakannya. Tapi dia sudah mengajariku.”
Roa menendang tubuh Arcueid kearahku.
“Arcueid....!” Aku bisa bergerak kembali.
___ini karena kekuatan mata mistisnya sudah menghilang. Artinya, dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi.
“____Sial!” Gemetar, Aku memeluk tubuhnya.
Perasaan takut menyelimutiku ketika aku memeluk tubuhnya. Tubuhnya benar-benar dingin. Roa tetap berdiri didepan kami. Tapi Aku tidak peduli. Saat ini, Aku hanya ingin memeluk Arcueid.
“Arcueid........” Aku memanggil namanya.
Matanya yang tertutup terbuka dengan cepat. Seperti terbangun dari tidur.
“Ahahaha____ memalukan ya?” Seperti biasanya, Arcueid memaksakan diri untuk tersenyum.
“Dasar bodoh..... apa yang kau lakukan?”
Suaraku tidak jelas. Aku ingin mengatakan sesuatu yang lebih baik, tapi pikiranku saat ini sedang kacau. Suhu tubuhnya mengatakan kalau semuanya sudah terlambat. Kalau saja aku membuka kacamataku, Aku akan melihat sesuatu yang sudah tidak tertolong lagi.
“Kenapa___kenapa, kenapa___?”
Hanya itu yang bisa kuucapkan. Marah pada diriku sendiri, Aku memeluk erat tubuhnya. Dia tidak membalas pelukanku. Dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Yang dia lakukan hanyalah tersenyum bahagia.
“Jangan____!” Ini tidak mungkin terjadi. “Kenapa_____kau___kenapa kau selalu melakukan semua seorang diri?! Kita rekan! Kita berjanji akan saling membantu sampai akhir!”
“Ah,.....benar juga...... sepertinya......aku sedikit lupa.......” kata Arcueid lemah. Dia masih tetap tersenyum
“Bisa-bisanya kau lupa! Aku bilang Aku akan membantumu! Tapi____tapi sekarang.......!!”
“Tidak Shiki........ kau..... sudah membantuku lebih dari cukup.....*Uhuk*” Arcueid terbatuk. Batuk berdarah. Dia terus tersenyum menahan rasa sakit.
“Aku.....ingin berterimakasih. Aku senang.......... Aku masih mampu........ melindungimu dari Roa.”
Aku terhenyak mendengar kata-katanya.
Mata Arcueid kosong.
“Ah,___ ya___ sama-sama” Aku tidak bisa. Aku tidak bisa berbohong dengan baik.
Cahaya matanya meredup. Suhu tubuhnya mendekati nol.
Aku akan kehilangan dia. Apa aku akan kehilangan dia seperti ini?
“Ar....cueid.....”
“____ Y, ya?”
”...... Minum darahku. Kalau kau melakukannya, kekuatanmu akan kembali....” Aku mengatakannya tanpa berpikir panjang.
Dia tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?! Jangan katakan kau masih takut! Kau pernah betanya seandainya burung dan ikan memiliki kecerdasan, apakah aku akan tetap memakannya? Ya. Akan kumakan. Kalau aku harus melakukannya demi hidup, aku akan melakukannya. Bukankah mengambil hidup mahluk lain untuk mempertahankan hidup adalah hukum alam?!”
Bukankah itu yang dikatakannya dulu? Terus kenapa sekarang dia hanya menggeleng?
“Aku.... tidak suka ‘seandainya’” jawab Arcueid lemah
Itu adalah kata-kataku. Tapi dulu dia mengatakan kalau dia suka ‘seandainya’?
“___Benarkah, Arcueid? Tapi aku suka ‘seandainya’. Meskipun hanya sedikit, tapi___ tapi aku merasa masih ada harapan” Tenggorokanku terasa kering. Aku tidak bisa bicara leluasa.
“..... Benar...... Tapi sekarang...... aku menginginkan sesuatu yang lebih......”
Dengan sesenggukan, aku bertanya apa itu
“.... Aku ingin kau menciumku, Shiki.....”
Apa? Hanya itu?
Aku menempelkan bibrku kepada bibirnya. Tidak manis ataupun lembut seperti sebelumnya. Aku mencium bibirnya yang dingin, tanpa kehangatan.
Setelah itu, dia tersenyum. Dia tersenyum bahagia.
“Aku.... selalu .....ingin melakukan itu.......”
“.....Oh? kau menyukai hal-hal yang aneh, Arcueid”
“..... Ya. Tapi aku bahagia. Aku sudah hidup sangat lama, tapi baru kali ini aku merasa bahagia seperti ini.”
___Jadi
“Aku mulai merasa...mungkin.... menghilang seperti ini bagus juga.”
Setelah bergumam, kehangatan tubuhnya lenyap sama sekali.
“Ar.....cueid?”
Tidak ada jawaban.
Meskipun Aku masih memeluk tubuhnya.
Meskipun Aku masih merasakan kelembutannya.
Meskipun Aku masih mengingat suaranya ditelingaku.
____Tidak akan lagi.
Aku tidak akan merasakannya lagi.
“A________!”
Apa yang telah kulakukan? Aku ingin membuatnya bahagia.
Aku ingin mengajarinya banyak hal.
Aku ingin mengajaknya mengunjungi banyak tempat.
Aku ingin bersamanya selamanya
Tpi tidak akan lagi terjadi.
Dia sudah tidak ada. Bagaimanapun kau melihatnya, dia sudah tidak ada. Sebelum aku mengatakan perasaanku, dia, dengan seenaknya, meninggal.
Aku ingin melupakan semua ini.
Kematian ini
Ketenangan yang membuatku gila ini.
Tapi tidak mungkin aku melupakannya.
Tap tap!
Aku mendengar langkah kaki orang yang membuat semua ini terjadi padaku.
“Sudah selesai, Shiki?” katanya
“Ya, sudah selesai” jawabku.
Aku melihat kearahnya. Kami saling berhadapan didalam sinar bulan yang masuk melalui jendela. Roa tidak bergerak. Mungkin dia tahu kalau dia saat ini berada dalam posisi yang dominan.
“Tidak kusangka kau masih hidup” kata Roa seakan tidak terjadi apapun.
Aku memelepas kacamataku, dan memainkan pisauku.
“Kelihatannya, orang yang bisa melihat kematian, juga bisa menghindari kematian. Ini bukan masalah kuat lemahnya energi kehidupan yang dimiliki” kata Roa.
“Kau yang bicara begitu. Kau, dan aku. Kita yang pernah sama-sama mengalami kematian”
“Benar!” kata roa tersenyum sinis. “Orang yang bisa kembali dari kematian, dapat mengerti apa arti kematian itu. Kau dan aku adalah contoh dari kejadian khusus tersebut. Aku sudah mengalami 17 kali kematian, tapi kau hanya mengalaminya sekali. Jujur saja, pasti ada perbedaan dalam kemampuan laten kita. Aku penasaran, kemampuan apa yang akan kumiliki kalau aku berreinkarnasi kedalam tubuhmu.”
Suaranya terdengar sombong dan memuakkan. Mendengarnmya saja memuatku saklit kepala.
“Aku punya dua hal untuk kutanyakan, dan satu hal untuk kuberitahukan padamu.” Aku mengatakannya sambil menahan sakit kepalaku.
“__Oh? Ok, silahkan” Karena mungkin terlalu percaya diri akan posisinya yang lebih menguntungkan, Roa menjawab sambil tertawa kecil.
“Pertama, kenapa kau membunuh Arcueid?”
“Kenapa? Dia selalu membunuhku. Jadi tidak aneh kalau aku membunuhnya. Sebenarnya yang kuinginkan bukanlah putri lemah seperti ini. Diriku yang dulu, tidak pernah bisa mengalahkan tuan putri ketika dia masih hidup. Tapi tidak ada gunanya menghabisi True Ancestor yang tidak berbeda dengan vampire biasa. Karena dia sudah tidak berharga lagi, kuputuskan untuk segera menyelesaikannya”
Memainkan lidahnya, Roa tertawa.
Mendengar jawabannya, Aku ingin menghabisinya secepat mungkin.
“Terus apa lagi? Jangan bilang kau mau melawanku dengan kondisi seperti itu, Shiki”
Aku tahu itu! Aku tahu aku bahkan masih belum mampu untuk berdiri dengan benar. Tapi Aku terus melihatnya dengan penuh kebencian.
“Sudahlah, meskipun kau bisa melihat titik kematianku, kalau kau tidak bisa menyentuhnya, percuma saja. Kau tahu, aku mungkin terlalu menganggapmu tinggi. Tapi sekarang, karena kepribadian SHIKI sudah mulai menghilang, Aku lebih Roa daripada SHIKI.”
Roa melangkah maju.
“Tidakkah kau bangga Shiki? Mungkin didunia ini hanya kita yang mempunyai mata mistis yang dapat melihat kematian. selain itu, kita bisa saling mengerti lebih daripada orang lain. Mungkin orang yang bisa memahami aku hanyalah kau.”
“...Kau mau mengajakku bergabung?”
“Aku tidak mengajakmu. Aku hanya membiarkanmu bergabung. Aku sendiri tidak peduli apa yang ingin kau lakukan. Tenang saja setelah kuminum darahmu, akan kuubah kau menjadi mahluk yang tidak ragu menggunakan kemampuanmu itu”
Aku meggeretakkan gigiku.
“Terserah kamu. Sekarang pertanyaan kedua. Yang bisa kau lihat garis, atau titik? Lebih jelasnya, kau bisa melihat kematian pada mahluk hidup bukan? Apa kau juga bisa melihat kematian benda yang lain?”
“Huh? Bicara apa kamu? Benda mati tidak punya kehidupan. Hanya mahluk hidup yang memliki kematian.”
Aku mengangguk mendengar jawabannya.
“Begitu ya? Aku sudah mengerti semuanya Vampire”
Aku mengacungkan pisauku. Rasa sakit menyerang kepalaku. Dan saat ini, aku hanya bisa melihat satu hal.
“Sudah cukup bicaranya. Aku masih harus menghabisi wanita gereja itu. Kau beruntung, Shiki. Setelah aku membuatmu menjadi vampire, lawan pertamamu adalah wanita yang sangat kau percayai itu.” Roa kembali berjalan mendekat.
Mataku yang masih berkunang-kungang, masih belum bisa terfokus pada sosoknya.
“____Yang kulihat, dan yang kau lihat, sangat berbeda, SHIKI! Yang kau lihat adalah hidup. Dan kau tidak mengerti sama sekali mengenai kematian. karena itu kau tidak bisa membunuhku. Yang bisa kau bunuh hanyalah wanita yang sudah lemah!”
Kepalaku serasa terbakar. Sangat panas. Aku tersenyum. Tersenyum sadis.
“kau ngomong apa?”
“Kalau kau memang bisa melihat kematian, kau tidak mungkin bisa mempertahankan kewarasanmu sampai saat ini. Apa yang kau lihat adalah sesuatu yang membuat menjaga sesuatu tetap hidup. Kalau kau benar-benar bisa melihat kematian, saat ini, aku tidak mungkin mampu berdiri.”
Sebagai contoh, semua yang kulihat seperti tanah gersang. Aku melihat lautan kematian. semua akan menghilang begitu kusentuh.
“apa maksudmu___?” Aku melihat sedikit rasa takut dari suara Roa
“Melihat kematian, artinya kau dipaksa melihat bagaimana rapuhnya dunia ini. Tanah ini seakan tidak ada. Dan langit seakan siap runtuh kapan saja.”
“kau___kau ngomong apa?!” Suara Roa bergetar.
Tentu saja karena dia tidak mungkin mengerti satupun yang kuucapkan. Artinya, mata kami mungkin tampak sama. Tapi, sebenarnya jauh berbeda.
“___Hentikan____jangan melihatku dengan mata itu____”
Takut. Roa ketakutan. Dia sendiri mengatakan bahwa manusia takut akan sesuatu yang tidak diketahuinya.
“___Kau tidak pernah melihat ilusi hancurnya dunia ini dalam sekejab, Roa. Itulah yang namanya melihat kematian. Mata ini. Kemampuanku ini bukanlah kemampuan yang bisa seenaknya kau umbar seperti itu”
Ya. Dulu, aku bahkan takut untuk berjalan. Seandainya aku tidak bertemu dengan orang itu, mungkin sudah sejak dulu aku menjadi gila.
“Kau berbuat kesalahan, Vampire. Kau tidak tahu bahwa hidup dan mati seperti uang logam. Selalu bersama, tapi tidak pernah saling berhadapan.”
“Kuperingatkan kau! Jangan melihatku seperti itu.....!”
Roa berlari. Dia takut. Dia menghindariku.
“Percuma.” Kataku.
“Akan kautunjukkan perbedaan kita. Inilah yang disebut melihat kematian”
Aku mendekati titik kematian dilantai, dan memotongnya. Dan dalam sekejab, lorong yang menghubungkan dua gedung sekolah, tempat kami berada, retak.
“____Ahh!!” Suara teriakan Roa tertelan suara lorong yang runtuh.
Lorong ini sudah mati. Batu bata yang menyokongnya pecah dan rubuh. Bagi roa, ini seperti serangan mendadak yang sangat mengejutkan. Roa terjatuh bersamaan dengan rubuhnya bangunan.
Lorong itu rubuh didepan mataku. Menahan sakit dikepala, aku berlari menuju tangga. Melewati tubuh Arcueid, aku menuju halaman.
Dibawah sinar bulan purnama, halaman sekolah terlihat seperti lautan garis maut. Dan ditengahnya, ada sesuatu yang bergerak-gerak.
Rupanya roa juga kikuk bila menghadapi kematian yang sebenarnya. Memaksa tubuhku yang hampir pingsan, aku berlari menuju kearahnya.
Roa benar-benar hebat. Setengah dari tubuhnya sudah tidak ada. Tapi setengah tubuhnya bagian atas masih bisa bergerak. Jumlah energi kehidupan yang dimilikinya ini sesuatu yang patut dihargai.
“___Apa, itu tadi?” Teriak roa.
Berlari melewati reruntuhan, Aku melesat kearahnya.
“___Shiki” Roa berpaling kearahku. Matanya dipenuhi kebencian.
“___Dasar monster!” Suaranya dipenuhi ketakutan dan kebencian.
“Siapa yang monster?” kataku tepat didepannya.
Titik kematian Roa berda sedikit di kanan jantungnya. Perlahan kutusukkan pisauku. Aku merasakan seperti memotong-motong kertas. Peasaan ketika aku memottong kematian.
“Ah…” Roa berteriak sedikit.
Dia pernah mengalami kematian, jadi dia seharusnya tahu tentang perasaan ini dengan sangat baik.
“....Kau tidak takut dengan ini ya? Ya. Mungkin karena kau sudah terbiasa. Tapi kau merasakan ada yang berbeda bukan?” tanyaku sambil tersenyum. “Kali ini, kau tidak bisa berreinkarnasi lagi”
Setelah mencabut pisauku, aku berjalan meninggalkannya. Roa masih belum mati. Seperti Arcueid, seseorang yang telah hidup lama, memiliki energi kehidupan yang lebih besar..
Nafasku melemah.
Pikiranku kabur.
Ini artinya aku sudah mencapai batasku.
Arcueid pernah mengatakan jangan memaksakan diri untuk melihat kematan sebuah benda. Kalau aku melakukannya, mungkin pembuluh darah diotakku bisa pecah.
Tapi aku sudah tidak peduli lagi........
Bruk!
Aku terjatuh ditanah. Aku menoleh kebelakang. Aku melihat setengah dari tubuh roa mendekatiku.
“K, kau,kau____”
Dia mendekatiku.
“Meng, hilang___Aku,__menghilang___”
Tangannya yang berlumuran darah mencoba mencekikku.
“Kenapa,__kenapa aku menghilang? BagaimanA, Kau, MEMbunUH, Ku,Ku,ku,kU,kUUuuuUUUuU____?”
Membuka mulutnya yang seperti gergaji, dia bergerak ingin mengigitku.
“Aku, TidaK AKan MenHilANG. Kau dAn Aku SalinG BerHubUngaN, Kau TaHu?”
Giginya menancap dileherku. Tiba-tiba,
“Ah__?”
Dia menghilang. Tubuhnya hancur berantakan.
“__OK, dengan ini, Aku yang membunhnya”
Senpai tiba-tiba muncul dengan pedang ditangannya. Dia tertawa riang.
“Eh?”
Aku tidak begitu mengerti.
“Kubilang, aku yang membunuh Roa. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh membunuh manusia. Kau bukanlah orang yang harus masuk kedalam duniaku. Jadi aku yang membunuhnya.” Kata senpai sambil berkacak pinggang.
“....Senpai, kau bercanda bukan? Kau berusaha agar aku tidak membunuh?”
“Mungkin juga sih. Tapi tidak apa-apa kan? Tapi yang lebih penting lagi, kau tidak apa-apa, Tohno-kun?”
Senpai bergegas memeriksa lukaku.
Lelah. Aku sudah tidak mau bergerak lagi. Aku ingin istirahat.
“...... –kun.......Shiki......hey”
Suara Senpai terdengar jauh. Mataku masih terbuka. Aku melihat ketas. Bulan purnama yang bundar. Perlahan semuanya menjadi gelap. • Read More..
Labels:
Tsukihime: Arcueid Ending
Wednesday, December 17, 2008
CHAPTER 11: Savage Night
Aku terbangun. Suara Hisui membangunkanku.
“Shiki-sama, Anda baik-baik saja?”
“Ya. Aku baik-baik saja.” Menjawab pertanyaan Hisui, Aku duduk diatas tempat tidurku.
Aku merasa terkejut. Meskipun hati ini merasa hampa, tubuhku tetap bergerak sendiri seperti yang kulakukan rutin setiap pagi.
“Aku akan segera turun”
“Baiklah kalau begitu. Saya akan menunggu anda dibawah.”
Terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu, Hisui meninggalkan kamarku.
Aku memakai seragamku, dan turun menuju ruang tengah. Aku melihat Akiha dan Kohaku disana.
“Pagi”
Menyapa mereka seperti biasa, Aku menuju ruang makan untuk sarapan. Setelah selesai, aku kembali keruang tengah. Aku duduk disofa dan terus melihat jam.
“....Kak? Um, Kakak sekolahkan, hari ini?”
“Hm____? Ah benar juga. Aku harus skolah.”
Aku lupa. Aku merasa tidak ingin melakukan apapun sekarang. Hidupku seperti tenggelam dalam kehampaan.
“Aku masih bisa hidup sebagai Tohno Shiki. Pergi ke sekolah tidak akan membuatku sakit”
“Kak......?” Akiha melihatku dengan cemas.
Tanpa bicara, Aku meninggalkan rumah. Waktu begitu cepat berlalu. Disekolah, aku sama sekali tidak bisa fokus. Aku hanya termenung. Suara gesekan kapur dengan papan tulis menggema diseluruh ruangan. Aku mencatat semua yang ada di papan tulis dalam buku catatanku
Aku melihat halaman sekolah melalui jendela. Aku tidak melihat siapapun disana.
Apa yang kulakukan?
Mengikuti pelajaran seperti ini?
Tidak berusaha mencarinya dan kembali kekehidupanku yang biasa?
“_______”
Tapi aku tidak mungkin bisa menemukan Arcueid. Karena dia memutuskan untuk pergi, aku tidak mungkin dapat menemukannya.
Aku telah kehilangan dia.
*krak*
Aku mendengar suara.
Ah, rupanya pensilku patah karena Aku menggenggamnya terlalu keras.
Kriiiiing!
Bel tanda sekolah telah usai berbunyi. Diantara hiruk pikuk kelas, aku tetap duduk dengan tenang.
“Tohno-san, bisa kemari sebentar?”
Guru matematikaku memanggil.
“Ya? Ada apa pak?” Aku berjalan dan mendekatinya.
“Tohno-san, aku mendengar kalau kau sering keluar malam sekarang. Ada apa?”
“Ya, beberapa hari ini, saya ada perlu dikota malam hari”
“Begitu?”
Guru matematika yang sekaligus wali kelasku melihatku dengan sedih.
“Aku tahu kau bukan murid yang nakal, tapi komite disiplin sekolah sudah mulai membicarakanya. Tampaknya BP akan segera memanggilmu. Karena itu, setelah ini, tolong kau pergi keruang BP segera. Anggap saja kau kurang beruntung dan bertahanlah.”
Mengucapkan selamat tinggal, dia meninggalkan kelas.
Setelah itu, Aku pergi menuju ruang BP, tapi aku tidak melihat ada seorang guru pun disana. Aku ingat kalau guru BP juga menjadi penasihat klub senam, jadi mungkin ruangan ini akan tetap kosong sampai latihan klub selesai.
Aku duduk dan terus menunggu. Aku melihat keluar. Cahaya matahari senja mewarnai langit menjadi jingga. Diluar, terdengar suara-suara murid yang mengikuti berbagai kegiatan klub. Di bandingkan diluar, suasana ruang ini sangat sepi.
Aku marah.
Kenapa aku disini?
Aku tidak bisa melakukan apa-apa
Aku marah atas kelemahanku
Aku hanya bisa menerima semuanya
“Apa yang kulakukan?”
Tidak ada yang menjawab. Aku hanya duduk dan mendengar suara-suara dari luar. Aku terus duduk hingga jam menunjukkan pukul 7 malam. Gerbang ditutup jam 6 sore. Jadi sudah tidak ada seorangpun disekolah ini.
“Kurasa mereka melupakan aku”
Aku bangkit dari kursi tempat aku duduk. Setelah termenung lama, kepalaku terasa lebih jernih sekarang. Selama ini aku terus berpikir. Apa yang harus kulakukan setelah ini. Aku memutuskan untuk tetap mencari Arcueid. Meskipun peluangnya sangat kecil, tapi aku akan tetap melakukanya. Aku akan terus mencarinya sampai ketemu. Aku tidak akan membiarkannya sendiri.
“Baiklah!”
Aku sudah memutuskan. Aku tidak boleh berlama-lama disini. Meskipun seperti mencari jarum diantara tumpukan jerami, Aku harus menemukan Arcueid.
Aku menuju lorong utama yang sepi. Cahaya bulan yang kebiruan masuk menembus melalui jendela.
“_______”
Melihat bulan purnama dari balik jendela.
“........”
Sesaat aku seperti terhanyut.
Bulan purnama yang keperakan.
Cantik dan terlihat rapuh.
Seakan mudah pecah bila tanganku mampu menggapainya.
Bulan itu
Aku pernah melihatnya
Ketika aku masih kecil.
Deg deg!
“Argh___!”
Luka didadaku terasa panas.
Deg deg!
Jantungku berdetak sangat kencang.
Deg deg!
Darahku mengalir sangat cepat, dan nafasku memburu.
Deg deg!
Ketika tanganku menyentuh dada, Aku sadar kalau seragamku berlumuran darah.
Luka lamaku terbuka kembali.
Deg deg!
Bulu kudukku berdiri.
Deg deg!
Deg deg!
Deg deg!
Deg deg!
Tap tap!
Diantara suara detak jantungku, aku mendengar suara yang lain.
“Ah?”
Ada yang datang
Dari ujung sana, datang mendekatiku.
Tap tap!
Suara langkah kaki.
Ada sesuatu yang tidak beres disini.
Ini tidak seperti detak jantung ketika aku menghadapi bahaya.
Aku merasakan bahawa aku, Tohno Shiki, tidak boleh bertemu orang itu
Nafasku memburu.
Tanpa bisa bernafas normal, Aku melepas kacamataku
Aku mengambil pisauku dari saku
Semakin mendekat.
Seorang laki-laki
Aku melihat titik kematian dijantungnya
Tubuhnya terdapat banyak garis maut seeprti kabel yang melilit
“______________”
Aku menahan nafas
Ada yang salah dengan kepalaku
Aku tidak kenal siapa dia, tapi dia mengingatkanku pada seseorang
Tap tap!
Semakin mendekat
Sebentar lagi aku bisa melihat wajahnya
“_____________”
Siapa?
Siapa?
Siapa?
Siapa?
Seseorang yang kulupakan?
Perlahan figurnya mulai terlihat.
Dia memiliki mata yang dingin dan haus darah
Tatapan matanya seakan membuat udara disekitarku membeku
Dia....bukan manusia
Pria berbalut perban.
Dia semakin mendekat
Dia menatap langsung kearahku
Dia tersenyum
Aku mengacungkan pisauku kearahnya
Tapi dia terus berjalan mendekatiku
Tidak ada waktu untuk berpikir dan ragu
Aku mengambil kuda-kuda.
Dia semakin dekat.
Perlahan, dia mendekat.
Menyentuh ujung pisauku.
Dia merebutnya
“Ah___!”
Aku____ tidak bisa____ bergerak.
“......Shiki, melihat garis maut bukan hanya keahlianmu” Sambil mengatakannya, dia menggerakkan lengannya.
Jleb!
Aku merasa sakit.
Aku tidak bisa berpikir
Tubuhku merasakan rasa sakit yang sama dengan 8 tahun yang lalu.
Suara daging yang terkoyak.
Pisau yang direbutnya dariku tadi, kini menancap didadaku.
Aku jatuh.
Semua tenagaku seperti terhisap habis begitu tubuhku menyentuh lantai.
Tapi sesaat sebelum jatuh, aku menarik perban yang membalut tubuhnya.
“Kau ingin melihat wajahku, Shiki?” katanya sambil melepas perban yang membalut seluruh tubuhnya.
“________”
Wajah itu.
Aku tahu wajah itu.
Dalam mimpiku.
Wajah itu mengingatkanku pada anak kecil yang bersimbah darah dalam mimpiku.
Aku masih bisa merasakan pisau yang menancap didadaku.
Anehnya, tidak ada darah. Rasa sakitnya juga hilang.
Aku hanya merasa kedinginan
Kesadaranku perlahan menipis.
Aku sudah tidak bisa menggerakkan tubuhku.
“Ini balasannya karena kau sudah membunuhku” katanya sambil melihatku.
Wajah yang kukenal itu.
Tentu saja aku mengenalnya.
Kenapa aku bisa lupa.
Ketika aku masih kecil, aku dan Akiha bermain bersama dengan satu orang anak yang lain. Kami selalu bermain bersama. Aku ingat namanya.
“SHI__KI” (SHIKI dengan Shiki ditulis dengan kanji yang berbeda namun pengucapannya sama)
“Ya, Shiki, sudah lama kita tidak bertemu”
Dia, SHIKI, tersenyum puas.
SHIKI, Shiki, Akiha, SHIKI, SHIKI, Akiha, Shiki.
Coretan-coretan nama di tembok rumah itu,........
“Ini_____ tidak mungkin”
“Maaf Shiki, aku ingin kau mendengar keluhanku sebelum mati. Jadi aku sengaja meleset menusuk titik kematianmu. Karena tidak begitu fatal, kau tetap akan sadar. Jangan mati semudah itu.”
Dia tertawa. Aku merasa seperti berhadapan dengan Nero. Dalam keadaan seperti itu, Aku menyadari sesuatu. Dia adalah musuh yang dicari Arcueid.
“Haruskah ku ambil pisaunya dulu, orang yang mau mati tidak butuh pisau kan?”
Dia menggenggam gagang pisau. Aku tahu begitu dia mencabut pisau itu dari dadaku, artinya Aku mati. Tapi aku masih tidak bisa bergerak. Menutup mata saja aku tidak mampu.
TRANG!!!
“Gah__!!”
SHIKI tiba-tiba melompat mundur. Bersamaan dengan itu, seseorang dengan jubah hitam muncul. Ini dilantai tiga, tapi dia masuk dengan cara melompat menerobos jendela.
“Ughhh!!”
Setelah terlempar beberapa meter, SHIKI melihat kearahku dan Ciel-Senpai yang melindungiku.
“Dasar pelacur! Beraninya mengangguku lagi!”
“.................”
Senpai hanya diam. Dia terus menatap tajam kearah SHIKI.
SHIKI merendahkan kuda-kudanya bersiap meyerang Senpai. Tapi seakan menyadari sesuatu, SHIKI mulai tertawa.
“Huhu, hahaha, ahahahahahaha!!!!”
“Begitu rupanya. Aku tidak percaya ini, tapi begitu rupanya. Menarik! Ini pertama kalinya terjadi dalam 800 tahun ini. Kalau begini, sesuatu yang baru berarti sudah menungguku.”
SHIKI terus tertawa sepenuh hati.
Senpai tetap menatap vampire yang ada didepannya.
“Apa? Kau mau membunuhku? Apakah cangkang yang sudah dibuang ini bisa melakukannya?”
“________” Senpai tidak menjawab. Mengalihkan pandangannya, Senpai mengangkat tubuhku.
“Oh? Si penipu itu lebih berharga dari apa yang menyebabkanmu begini? Percuma, dia sudah mendapat ganjarannya karena menjadi Tohno Shiki selama ini. Tidak ada yang bisa menyembuhkan seseorang yang titik kematiannya sudah dipotong. Bahkan tuan putri itu memerlukan tenaga yang sudah disimpannya selama 800 tahun untuk memulihkan tubuhnya kembali. Manusia seperti dia, tidak akan bisa bertahan”
Tawanya semakin keras.
Tidak mempedulikan ucapan SHIKI, Senpai memeluk tubuhku erat, dan melompat keluar melalui jendela yang pecah.
Dia terus melompat seakan tidak terpengaruh gravitasi. Dengan langkah yang ringan, dia menginjak tanah dan berlari keluar area sekolah tanpa menoleh kebelakang.
Aku hanya bisa memandangi gedung sekolah dengan tatapan mata yang kosong.• Read More..
“Shiki-sama, Anda baik-baik saja?”
“Ya. Aku baik-baik saja.” Menjawab pertanyaan Hisui, Aku duduk diatas tempat tidurku.
Aku merasa terkejut. Meskipun hati ini merasa hampa, tubuhku tetap bergerak sendiri seperti yang kulakukan rutin setiap pagi.
“Aku akan segera turun”
“Baiklah kalau begitu. Saya akan menunggu anda dibawah.”
Terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu, Hisui meninggalkan kamarku.
Aku memakai seragamku, dan turun menuju ruang tengah. Aku melihat Akiha dan Kohaku disana.
“Pagi”
Menyapa mereka seperti biasa, Aku menuju ruang makan untuk sarapan. Setelah selesai, aku kembali keruang tengah. Aku duduk disofa dan terus melihat jam.
“....Kak? Um, Kakak sekolahkan, hari ini?”
“Hm____? Ah benar juga. Aku harus skolah.”
Aku lupa. Aku merasa tidak ingin melakukan apapun sekarang. Hidupku seperti tenggelam dalam kehampaan.
“Aku masih bisa hidup sebagai Tohno Shiki. Pergi ke sekolah tidak akan membuatku sakit”
“Kak......?” Akiha melihatku dengan cemas.
Tanpa bicara, Aku meninggalkan rumah. Waktu begitu cepat berlalu. Disekolah, aku sama sekali tidak bisa fokus. Aku hanya termenung. Suara gesekan kapur dengan papan tulis menggema diseluruh ruangan. Aku mencatat semua yang ada di papan tulis dalam buku catatanku
Aku melihat halaman sekolah melalui jendela. Aku tidak melihat siapapun disana.
Apa yang kulakukan?
Mengikuti pelajaran seperti ini?
Tidak berusaha mencarinya dan kembali kekehidupanku yang biasa?
“_______”
Tapi aku tidak mungkin bisa menemukan Arcueid. Karena dia memutuskan untuk pergi, aku tidak mungkin dapat menemukannya.
Aku telah kehilangan dia.
*krak*
Aku mendengar suara.
Ah, rupanya pensilku patah karena Aku menggenggamnya terlalu keras.
Kriiiiing!
Bel tanda sekolah telah usai berbunyi. Diantara hiruk pikuk kelas, aku tetap duduk dengan tenang.
“Tohno-san, bisa kemari sebentar?”
Guru matematikaku memanggil.
“Ya? Ada apa pak?” Aku berjalan dan mendekatinya.
“Tohno-san, aku mendengar kalau kau sering keluar malam sekarang. Ada apa?”
“Ya, beberapa hari ini, saya ada perlu dikota malam hari”
“Begitu?”
Guru matematika yang sekaligus wali kelasku melihatku dengan sedih.
“Aku tahu kau bukan murid yang nakal, tapi komite disiplin sekolah sudah mulai membicarakanya. Tampaknya BP akan segera memanggilmu. Karena itu, setelah ini, tolong kau pergi keruang BP segera. Anggap saja kau kurang beruntung dan bertahanlah.”
Mengucapkan selamat tinggal, dia meninggalkan kelas.
Setelah itu, Aku pergi menuju ruang BP, tapi aku tidak melihat ada seorang guru pun disana. Aku ingat kalau guru BP juga menjadi penasihat klub senam, jadi mungkin ruangan ini akan tetap kosong sampai latihan klub selesai.
Aku duduk dan terus menunggu. Aku melihat keluar. Cahaya matahari senja mewarnai langit menjadi jingga. Diluar, terdengar suara-suara murid yang mengikuti berbagai kegiatan klub. Di bandingkan diluar, suasana ruang ini sangat sepi.
Aku marah.
Kenapa aku disini?
Aku tidak bisa melakukan apa-apa
Aku marah atas kelemahanku
Aku hanya bisa menerima semuanya
“Apa yang kulakukan?”
Tidak ada yang menjawab. Aku hanya duduk dan mendengar suara-suara dari luar. Aku terus duduk hingga jam menunjukkan pukul 7 malam. Gerbang ditutup jam 6 sore. Jadi sudah tidak ada seorangpun disekolah ini.
“Kurasa mereka melupakan aku”
Aku bangkit dari kursi tempat aku duduk. Setelah termenung lama, kepalaku terasa lebih jernih sekarang. Selama ini aku terus berpikir. Apa yang harus kulakukan setelah ini. Aku memutuskan untuk tetap mencari Arcueid. Meskipun peluangnya sangat kecil, tapi aku akan tetap melakukanya. Aku akan terus mencarinya sampai ketemu. Aku tidak akan membiarkannya sendiri.
“Baiklah!”
Aku sudah memutuskan. Aku tidak boleh berlama-lama disini. Meskipun seperti mencari jarum diantara tumpukan jerami, Aku harus menemukan Arcueid.
Aku menuju lorong utama yang sepi. Cahaya bulan yang kebiruan masuk menembus melalui jendela.
“_______”
Melihat bulan purnama dari balik jendela.
“........”
Sesaat aku seperti terhanyut.
Bulan purnama yang keperakan.
Cantik dan terlihat rapuh.
Seakan mudah pecah bila tanganku mampu menggapainya.
Bulan itu
Aku pernah melihatnya
Ketika aku masih kecil.
Deg deg!
“Argh___!”
Luka didadaku terasa panas.
Deg deg!
Jantungku berdetak sangat kencang.
Deg deg!
Darahku mengalir sangat cepat, dan nafasku memburu.
Deg deg!
Ketika tanganku menyentuh dada, Aku sadar kalau seragamku berlumuran darah.
Luka lamaku terbuka kembali.
Deg deg!
Bulu kudukku berdiri.
Deg deg!
Deg deg!
Deg deg!
Deg deg!
Tap tap!
Diantara suara detak jantungku, aku mendengar suara yang lain.
“Ah?”
Ada yang datang
Dari ujung sana, datang mendekatiku.
Tap tap!
Suara langkah kaki.
Ada sesuatu yang tidak beres disini.
Ini tidak seperti detak jantung ketika aku menghadapi bahaya.
Aku merasakan bahawa aku, Tohno Shiki, tidak boleh bertemu orang itu
Nafasku memburu.
Tanpa bisa bernafas normal, Aku melepas kacamataku
Aku mengambil pisauku dari saku
Semakin mendekat.
Seorang laki-laki
Aku melihat titik kematian dijantungnya
Tubuhnya terdapat banyak garis maut seeprti kabel yang melilit
“______________”
Aku menahan nafas
Ada yang salah dengan kepalaku
Aku tidak kenal siapa dia, tapi dia mengingatkanku pada seseorang
Tap tap!
Semakin mendekat
Sebentar lagi aku bisa melihat wajahnya
“_____________”
Siapa?
Siapa?
Siapa?
Siapa?
Seseorang yang kulupakan?
Perlahan figurnya mulai terlihat.
Dia memiliki mata yang dingin dan haus darah
Tatapan matanya seakan membuat udara disekitarku membeku
Dia....bukan manusia
Pria berbalut perban.
Dia semakin mendekat
Dia menatap langsung kearahku
Dia tersenyum
Aku mengacungkan pisauku kearahnya
Tapi dia terus berjalan mendekatiku
Tidak ada waktu untuk berpikir dan ragu
Aku mengambil kuda-kuda.
Dia semakin dekat.
Perlahan, dia mendekat.
Menyentuh ujung pisauku.
Dia merebutnya
“Ah___!”
Aku____ tidak bisa____ bergerak.
“......Shiki, melihat garis maut bukan hanya keahlianmu” Sambil mengatakannya, dia menggerakkan lengannya.
Jleb!
Aku merasa sakit.
Aku tidak bisa berpikir
Tubuhku merasakan rasa sakit yang sama dengan 8 tahun yang lalu.
Suara daging yang terkoyak.
Pisau yang direbutnya dariku tadi, kini menancap didadaku.
Aku jatuh.
Semua tenagaku seperti terhisap habis begitu tubuhku menyentuh lantai.
Tapi sesaat sebelum jatuh, aku menarik perban yang membalut tubuhnya.
“Kau ingin melihat wajahku, Shiki?” katanya sambil melepas perban yang membalut seluruh tubuhnya.
“________”
Wajah itu.
Aku tahu wajah itu.
Dalam mimpiku.
Wajah itu mengingatkanku pada anak kecil yang bersimbah darah dalam mimpiku.
Aku masih bisa merasakan pisau yang menancap didadaku.
Anehnya, tidak ada darah. Rasa sakitnya juga hilang.
Aku hanya merasa kedinginan
Kesadaranku perlahan menipis.
Aku sudah tidak bisa menggerakkan tubuhku.
“Ini balasannya karena kau sudah membunuhku” katanya sambil melihatku.
Wajah yang kukenal itu.
Tentu saja aku mengenalnya.
Kenapa aku bisa lupa.
Ketika aku masih kecil, aku dan Akiha bermain bersama dengan satu orang anak yang lain. Kami selalu bermain bersama. Aku ingat namanya.
“SHI__KI” (SHIKI dengan Shiki ditulis dengan kanji yang berbeda namun pengucapannya sama)
“Ya, Shiki, sudah lama kita tidak bertemu”
Dia, SHIKI, tersenyum puas.
SHIKI, Shiki, Akiha, SHIKI, SHIKI, Akiha, Shiki.
Coretan-coretan nama di tembok rumah itu,........
“Ini_____ tidak mungkin”
“Maaf Shiki, aku ingin kau mendengar keluhanku sebelum mati. Jadi aku sengaja meleset menusuk titik kematianmu. Karena tidak begitu fatal, kau tetap akan sadar. Jangan mati semudah itu.”
Dia tertawa. Aku merasa seperti berhadapan dengan Nero. Dalam keadaan seperti itu, Aku menyadari sesuatu. Dia adalah musuh yang dicari Arcueid.
“Haruskah ku ambil pisaunya dulu, orang yang mau mati tidak butuh pisau kan?”
Dia menggenggam gagang pisau. Aku tahu begitu dia mencabut pisau itu dari dadaku, artinya Aku mati. Tapi aku masih tidak bisa bergerak. Menutup mata saja aku tidak mampu.
TRANG!!!
“Gah__!!”
SHIKI tiba-tiba melompat mundur. Bersamaan dengan itu, seseorang dengan jubah hitam muncul. Ini dilantai tiga, tapi dia masuk dengan cara melompat menerobos jendela.
“Ughhh!!”
Setelah terlempar beberapa meter, SHIKI melihat kearahku dan Ciel-Senpai yang melindungiku.
“Dasar pelacur! Beraninya mengangguku lagi!”
“.................”
Senpai hanya diam. Dia terus menatap tajam kearah SHIKI.
SHIKI merendahkan kuda-kudanya bersiap meyerang Senpai. Tapi seakan menyadari sesuatu, SHIKI mulai tertawa.
“Huhu, hahaha, ahahahahahaha!!!!”
“Begitu rupanya. Aku tidak percaya ini, tapi begitu rupanya. Menarik! Ini pertama kalinya terjadi dalam 800 tahun ini. Kalau begini, sesuatu yang baru berarti sudah menungguku.”
SHIKI terus tertawa sepenuh hati.
Senpai tetap menatap vampire yang ada didepannya.
“Apa? Kau mau membunuhku? Apakah cangkang yang sudah dibuang ini bisa melakukannya?”
“________” Senpai tidak menjawab. Mengalihkan pandangannya, Senpai mengangkat tubuhku.
“Oh? Si penipu itu lebih berharga dari apa yang menyebabkanmu begini? Percuma, dia sudah mendapat ganjarannya karena menjadi Tohno Shiki selama ini. Tidak ada yang bisa menyembuhkan seseorang yang titik kematiannya sudah dipotong. Bahkan tuan putri itu memerlukan tenaga yang sudah disimpannya selama 800 tahun untuk memulihkan tubuhnya kembali. Manusia seperti dia, tidak akan bisa bertahan”
Tawanya semakin keras.
Tidak mempedulikan ucapan SHIKI, Senpai memeluk tubuhku erat, dan melompat keluar melalui jendela yang pecah.
Dia terus melompat seakan tidak terpengaruh gravitasi. Dengan langkah yang ringan, dia menginjak tanah dan berlari keluar area sekolah tanpa menoleh kebelakang.
Aku hanya bisa memandangi gedung sekolah dengan tatapan mata yang kosong.• Read More..
Labels:
Tsukihime: Arcueid Ending
Tuesday, December 9, 2008
CHAPTER 10: Vermillion Crimson Moon #2
Pagi hari. Setelah membuka paksa mataku yang masih mengantuk, aku mencari dan memakai kacamataku. Aku melihat keluar melalui jendela dan mendapati langit biru cerah dengan sedikit awan yang menggantung padanya. Meskipun pagi yang sempurna menyapaku, aku tetap merasa sedih. Tidak perlu bertanya mengapa. Kejadian dengan Arcueid semalam, masih membekas diingatanku. Dan rasa bersalah yang menyertainya masih menggangguku.
“Lupakan katanya, tapi bagaimana bisa?”
Aku melihat jari-jariku. Aku masih tidak bisa melupakan sensasi ketika aku menyentuh tubuh Arcueid. Arcueid ingin aku melupakannya. Tapi rasa sesalku membuatku tidak mungkin untuk melakukannya.
Yang kusesalkan bukanlah karena aku tidak bisa mengendalikan diri, tapi seandainya waktu itu aku tidak menyentuhnya seperti binatang, seandainya aku menyentuhnya sebagai manusia, mungkin saja______
Aku tahu, ini bukan karena aku melihat mata emasnya. Aku tidak sadar, tapi aku sudah tertarik padanya sejak lama.
Pagi yang sama setiap hari. Hisui datang dan membangunkanku. Akiha dan Kohaku duduk diruang duduk, dan kami saling menyapa sebelum berangkat kesekolah. Selalu sama.
Aku merasa sangat kosong. Aku tidak bisa merespon ketika diajak bicara. Aku meninggalkan rumah dengan perasaan hampa.
Di sekolah, aku melihat murid-murid lain saling menyapa dengan gembira.
“Ah, sekarang hari sabtu ya?”
Aku kehilangan orientasi waktu sejak Arcueid memasuki kehidupanku. Aku bertemu dengannya pertama kali ketika hari jumat. Seminggu yang lalu pada pagi hari, dia menungguku diperempatan dekat sekolah.
Waktu itu dia sedang tersenyum. Meskipun dia sedang menunggu seseorang yang membunuhnya, aku bisa melihat rasa senang yang terpancar dari matanya.
Mungkin saja dia tidak akan datang malam ini. Pikiran bahwa kemarin malam adalah terakhir kalinya kami bertemu terus berputar-putar dikepalaku. Hatiku merasa berat, dan mendadak semuanya terasa hampa. Mungkin aku tidak bisa melihatnya lagi. Perasaan itu terus menggantung dihatiku.
Aku duduk dikursiku 5 menit sebelum jam pertama dimulai. Aku melihat keluar tanpa semangat.
“Yo, tukang bolos. Kemarin kau bolos lagi. Ngapain saja kamu Shiki?”
“.........”
Aku hanya menghela nafas. Biasanya aku membalas, tapi hari ini aku merasa enggan berbicara dengan Arihiko.
“Kenapa kamu? Wajahmu kusut. Kemarin bolos, dan sekarang seperti ini. Kalau kau begini terus, sekolah jadi membosankan”
Aku menengok kearah Arihiko.
“Maaf Arihiko, sekarang aku lagi pingin sendiri. Kalau aku tidak masuk, kau bisa bicara denngan Senpai. Bukanya kau lebih senang begitu?”
“Ha? Senpai? Senpai yang mana?”
“Ngomong apa kamu? Ciel-senpai yang kelas tiga itu? Ya memang kadang aku berpikir kalau dia lebih muda, tapi Senpai tetap Senpai”
“Shiel-senpai? Siapa? Memang ada murid asing disekolah kita?”
Arihiko terlihat benar-benar bingung.
“Ngomong apa kamu? Senpai itu.....”
Tunggu dulu. Senpai itu.......
“Ada apa Shiki? Kau sakit ya?”
Aku tidak mendengar pertanyaan Arihiko. Pikiranku asih terfokus pada Senpai.
“Ah,.....”
Kenapa aku tidak menyadari keanehan ini. Ciel bukan nama orang Jepang, dan
aku bahkan tidak tahu nama lengkapnya. Aku juga tidak tahu dia dikelas tiga berapa.
Tapi, kenapa aku merasa sudah mengenalnya?
Menyadari sesuatu, aku langsung berdiri dan secara tidak sengaja menjatuhkan kursi tempat aku duduk.
“Kenapa Shiki? Sikapmu aneh”
“Aku mau ke kantor dulu. Kalau absen, katakan aku ada”
Dengan menyimpan beribu pertanyaan, aku berlari keluar ruangan.
Aku mencari semua data anak kelas tiga yang bernama Ciel. Tapi seperti yang sudah kuduga, aku tidak menemukan satu pun. Bahkan ketika aku menanyakannya kepada guru, mereka mengatakan tidak mengenal anak yang bernama Ciel.
****
Bel tanda sekolah usai berbunyi. Semua murid keluar dari sekolah.
Sekarang hari sabtu. Tapi aku seperti tidak mau melakukkan apa-apa. Seperti mayat hidup, Aku berjalan menuju rumah tanpa semangat.
“Selama tdatang Shiki-sama” Hisui menyambutku sesampainya aku dirumah.
Aku tahu kalau dia telah menungguku cukup lama, tapi aku tidak bisa menjawab salamnya dan langsung menuju kamar.
****
Makan malam selesai. Dan sekarang sudah hampir jam 10. Waktu perjanjian dengan Arcueid.
“Pergi tidak ya?”
Aku tidak tahu dia akan datang atau tidak, tapi aku pernah bersumpah tidak akan melanggar janji lagi.
Aku tiba di taman jam 10 kurang. Tidak ada seorangpun disini. Aku duduk dibangku dan terus melihat jam menunggu Arcueid datang. Aku akan terus menunggunya.
Sekarang jam sebelas, dan Arcueid masih belum datang taman benar benar sepi dan terasa sangat dingin. udara seakan berhenti bergerak. Dan aku memutuskan terus menunggunya, meskipun sampai sekarang Arcueid belum datang.
Hampir jam dua belas, dan belum ada tanda-tanda kedatangan Arcueid. Sudah dua jam dari waktu perjanjian.
Aku mengeluh.
“Dia tidak datang mungkin”
Aku tidak tahu. Tapi aku tidak merasa ingin pulang sekarang.
“Akan kutunggu sampai pagi”
Aku tiduran diatas bangku taman yang panjang dengan perasaan frustasi, kemudian....
“Hah?”
Kurasa aku tadi melihat sesuatu berwarna putih berkelebat di belakang semak. Dan bergerak sesaat setelah aku menyadarinya.
“_____”
Berdiri dari bangku, aku langsung menuju kearah bayangan putih tadi. Seakan tahu tidak mungkin bersembunyi, bayangan putih itu menunjukkan dirinya.
“Ahahaha, aku ketahuan ya?” Arcueid muncul dengan senyumnya yang ceria.
“Arcueid kamu,____”
“Ya? Apa?”
“Kenapa kamu datang?” Aku mengatakannya karena aku serasa masih belum percaya.
“Kenapa? Aku kan sudah berjanji. Aku sudah sampai sini 10 menit sebelum kau datang” jawabnya sambil membuang muka
“10 menit sebelum Aku?” Aku datang sebelum jam 10, dan dia datang lebih awal dari aku?
“Kalau begitu, kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah datang?”
“Mmmm, Aku ingin melihatmu sambil bersembunyi.”
“________”
Ah, meski sekarang sikapnya seperti biasa, dia pasti juga masih memikirkan kejadian kemarin. Karena itu dia bersembunyi karena tidak berani berhadapan langsung denganku.
“Maaf ya, tentang itu.........”
“Ya. Kau tidak pernah sadar kalau aku sudah disini. Aku menunggumu menyadariku. Aku berencana bertemu denganmu dengan cara yang sedikit berbeda, tapi kau mengacaukan rencanaku dengan terus melamun”
“Eh?” Aku terkejut.
“Kau bersembunyi karena itu?”
“Kenapa? Aku merasa sedikit bosan, jadi aku mau main-main sedikit” Dia mengatakannya dengan sangat santai tanpa tahu betapa frustasinya aku menunggu.
“__Bermain-main? Kau___?!” Rasa senangku karena bertemu dengannya tiba-tiba lenyap. Dia selalu bertindak seenaknya tanpa mau tahu perasaanku.
Aku beusaha menenengkan diri dengan menghirup udara malam sebanyak-banyaknya. Mungkin aku merasa marah. Mungkin juga aku malah merasa lega karena melihatnya bersikap biasa saja. Lebih tepatnya, biasa untuknya.
“Baiklah, kau menang Arcueid”
“Benarkah? Tapi aku barusan ketahuan kan?”
“Ini bukan masalah petak umpet” Sudahlah, percuma menjelaskannya.
“Aku senang kau datang. Jujur saja, aku sempat berpikir mungkin kita tidak akan bertemu lagi.”
“Eh? Kau berpikir begitu hanya karena menunggu selama dua jam?” kata Arcueid terkejut
“Bukan karena itu. Tapi kemarin malam. Aku mengira kau tidak mau datang lagi.”
Mendengar kata-kataku, air muka Arcueid mendadak berubah menjadi sedih
“Bukankah aku sudah bilang lupakan saja?” katanya dengan suara lemah
“Ah___!”
Dasar bodoh. Aku benar-benar bodoh, dengan seenaknya berpikir kalau dia bersikap seperti biasanya. Dia bersikap seperti ini agar aku tidak merasa bersalah.
“...Maaf, Arcueid”
“Tidak apa. Yang seharusnya disalahkan itu aku. Tolong kejadian kemarin dilupakan saja. Bukankah kalau begitu akan lebih baik bagi kita berdua?”
Arcueid berusaha memaksakan diri mengatakannya dengan ceria. Tapi menyuruhku melupakannya, bagaimana Aku bisa?
“Bukan begitu, Aku tidak meminta maaf untuk kejadian kemarin, tapi karena aku tidak bisa melupakan sesuatu yang harusnya kulupakan”
“.....Shiki?”
“Sejak pagi, aku hanya memikirkan dirimu. Aku hanya memikirkan bagaimana aku harus meminta maaf, dan apa yang harus kukatakan setelah kita bertemu. Jadi, aku belum bisa benar-benar melupakannya”
“______”
Arcueid menghindari tatapan mataku. Dan aku juga tidak bisa menatapnya. Aku tidak berani untuk melihat matanya. Dia tidak menjawab, dan aku tidak bicara apa-apa lagi. Kesunyian panjang diantara kami dimulai
Aku sudah tidak tahu lagi berapa lama kami berdiri disini, kesunyian ini berakhir setelah Arcueid menganggukkan kepalanya.
“Jujur saja, aku sendiri masih belum bisa melupakan kejadian kemarin, Shiki” tersipu, Arcueid berkata dengan malu-malu.
“Arcueid .....”
Wajahnya terlihat manis sekali.
Tapi tiba-tiba, Arcueid berputar melihat sekeliling kami. Entah sejak kapan, kami dikepung oleh beberpa orang.
“Apa___?” Karena begitu mendadak, aku tidak bisa berpikir tenang.
“Kita dikepung. Bersiaplah Shiki, kalau kau tidak melawan, kau bisa mati”
“Melawan mereka?”
“Kau akan paham kalau membuka kacamatamu”
Dengan cepat, Aku mencabut pisauku dan membuka kacamataku. Seperti yang dikatakan oleh Arcueid, ke-5 orang yang mengepung kami adalah Zombie.
“Ada apa ini? Bukannya kau sudah membunuh mereka semua kemarin?”
“Ya, mereka sudah kubunuh kemarin” Mata Arcurid menyipit penuh kebencian.
“Apa kemarin mereka hanya pura-pura mati?”
“Tidak. Aku benar-benar telah membunuh mereka. Kesalahanku adalah, aku tidak memastikan mereka hancur menjadi abu.”
Perlahan mereka mendekati kami. Aku menggenggam erat pisau dengan tanganku yang sedikit gemetar. Tapi aku tidak begitu merasa takut pada mereka. Aku pernah merasakan tekanan yang lebih besar ketika aku menghadapi Nero.
Tapi mereka berlima. Bisakah aku menghadapinya?
“Kalau kau ragu, kau bisa mati Shiki” Aku mendengar suara Arcueid dari belakang. Tampaknya dia melindungiku punggungku.
“Mereka datang!”
Kelima Zombie itu melompat dan menyerang bersamaan dengan kedua tangannya. Aku menghindar kesamping. Kemudian aku merasakan bahaya mendekat dari belakang.
“Khh__!!”
Aku berputar menghindari pukulan Zombie yang membokongku.
Aku melihat banyak sekali garis ditubuh Zombie. Aku bisa menghancurkan mereka dengan mudah. Gerakan mereka tidak secepat binatang-binatang yang keluar dari tubuh Nero.
Salah satu Zombie mengejarku. Menghindari ayunan tangannya, aku menyerang bagian bawah tubuhnya. Tapi gagal. Tanganku tidak bisa menggapai sasaran. Tapi aku sempat memotong salah satu lengannya.
Zombie yang telah kehilangan satu tangan itu tidak berhenti menyerang. Zombie yang lain juga tidak menunjukkan rasa gentar.
Zombie bertangan satu menyerangku. Aku menghindar. Ketika aku menghindari serangannya, Zombie yang lain melompat menyerangku dari belakang.
“AKH__!!”
Leherku tergigit. Dia tidak berusaha menghisap darahku, tapi lebih seperti berusaha membunuh seperti binatang yang menyerang leher mangsanya. Tidak begitu sakit. Tapi terasa menjijikkan.
Zombie bertangan satu mendekatiku. Aku harus membunuh Zombie yang menggigitku, kalau tidak, aku bisa mati.
Kupotong garis diwajahnya ketika dia masih terus menggigitku.
“_____”
Tanganku berhenti. Mereka bukan manusia. Mereka tidak hidup. Tapi aku tidak bisa membunuh mereka yang dulunya manusia.
“Shiki!!!”
Aku mendengar suara Arcueid yang masih bertarung melawan Zombie yang lain. Melupakan Zombie bertangan satu yang mendekatiku, Aku melihat kearah Arcueid.
Aku melihat pemandangan yang sulit dipercaya. Arcueid terluka. Meskipun gerakan Zombie lambat, mereka berhasil mendesak Arcueid. Nafas Arcueid tersenggal-senggal. Langkah kakinya tidak stabil. Dia terlihat kesulitan menghindari serangan yang seharusnya bisa dihindari.
Salah satu Zombie menyerang lengannya. Arcueid membalas. Dia membelah Zombie itu menjadi dua. Namun pada saat itu juga, Zombie yang lain menyerangnya dengan pukulan yang mematikan.
“AH___”
Tidak bisa menghindar, Arcueid terjatuh dengan lutut menyentuh tanah. Dari jauh, aku bisa melihatnya kesulitan bernafas. Zombie yang lain menendang Arcueid yang berlutut hingga jatuh tergeletak.
Kemudian salah satu dari mereka duduk menindih perutnya, dan yang lain memegangi kedua tangannya.
“Hentikan bangsat!!!”
Kupotong wajah Zombie yang menggigitku, dan kupotong perut Zombie bertangan satu yang didepanku. Setelah itu, kuhancurkan Zombie tanpa wajah yang tadi menggigitku.
Aku berlari menuju Arcueid. Zombie yang mengeroyoknya menyadari kehadiranku dan berdiri. Mereka menyerangku.
Tidak ada masalah. Kupotong garis-garis ditubuh mereka yang menyerangku, dan semua berakhir.
“Hah....hah....” Aku berusaha mengatur nafasku.
Kelima Zombie tadi perlahan menjadi abu.
Rasanya sakit juga. Tapi ini lebih baik daripada mereka melukai Arcueid. Untuk pertama kalinya, aku, Tohno Shiki, menggunakan kekuatanku dengan keinginanku sendiri menolong orang lain
“Arcueid....”
Aku melihatnya masih berlutut menahan sakit.
“Kau tidak apa-apa?!” Aku berlari kearahnya.
Tubuhnya melingkar seperti menahan dingin.
“Ada apa? Kau berkeringat. Apa lukamu terbuka lagi?” Aku berlutut berusaha melihat wajahnya.
“Shi___ki” Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Yang bisa kulihat hanyalah mata merahnya yang terlihat haus darah.
Ini aneh. Caranya bernafas tidak normal. Dia bernafas seperti orang kelaparan.
Matanya yang haus darah. Rambutnya yang bergoyang tertiup angin.
“Ar___c....”
Merinding aku dibuatnya. Merasakan adanya bahaya, aku melompat mundur.
Tapi dengan gerakan yang lebih cepat, giginya menempel dileherku siap untuk menghisap darahku. Tangannya memeluk tubuhku dan membuatku tidak bisa kabur.
“Arc____” Nafasku seakan tertahan ketika Aku berusaha memanggil namanya.
Matanya yang haus darah. Gigi taringnya yang setajam pisau. Mendapat tekanan seperti ini, Aku tidak bisa bergerak. Orang yang berusaha menancapkan taringnya ini bukanlah wanita yang kukenal.
Aku tidak bisa apa-apa. Aku bahkan tidak mampu menggerakkan jariku. Aku akan dimakan. Taring menempel di leherku. Pikiranku dikuasai oleh rasa takut.
Tapi sebelum semuanya terjadi,
Buuumm!
Sebuah ledakan membuat tubuh kami terlempar kearah yang berlainan. Seakan tertabrak mobil, tubuh Arcueid terlempar beberapa meter. Tapi Arcueid mampu berdiri seakan tidak terjadi apa-apa.
“A...Aku...” Arcueid berdiri disana mematung.
“Kau mau menghisap darahnya?” Terdengar suara yang dingin dan menyalahkan. “Muncul juga sifat aslimu, Arcueid Brunestud” Suara itu berasal dari atas.
Ketika aku melihat keatas, berdiri diatas lampu jalan seseorang berjubah yang membantuku tempo hari.
“Senpai,___” Kali ini Aku tidak salah. Dilihat dari sisi manapun, dia adalah Ciel-senpai.
Senpai tidak melihat kearahku. Dia terus menatap Arcueid yang terlihat menderita.
“Meskipun kau membunuh sesamamu, tidak mengubah fakta bahwa kau adalah vampire. Aku tidak tahu alasanmu mendekatinya, tapi apa kau tidak berpikir kalau semua mungkin akan berakhir seperti ini?”
Nada bicaranya sama sekali lain dengan nada bicaranya ketika disekolah. Tidak keras maupun lembut. Tanpa emosi. Nada bicara yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia.
Tanpa suara, Senpai turun dari lampu jalan tempat dia berdiri.
“Biasanya aku tidak mau ikut campur, tapi aku tidak bisa melihatmu membunuh manusia biasa. Sebenarnya aku tidak berencana menghadapimu seperti ini, tapi kalau memang harus, akan kita selesakan masalah diantara kita sekarang”
“Jangan bercanda! Aku tidak ada urusan denganmu, dan___” Arcueid memandang senpai dengan penuh kebencian.
“Aku tidak pernah berniat membunuhnya” tambah Arcueid
“Tidak meyakinkan. Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan? Dan apa kau tahu bagaimana dia menjerit ketika melihatmu?”
“____” Arcueid terdiam
“Aku tidak peduli kalau kau membenciku. Tapi kau sedang tidak waras dan berusaha menyerangnya. Apa kita perlu menanyakan perasaannya?”
Berpaling dari Arcueid, Senpai melihat kearahku untuk pertama kalinya.
“____”
Arcueid melakukan hal yang sama dengan wajah sedih.
Keheningan menyelimuti seluruh taman.
Terdengar suara langkah kaki. Senpai mendekatiku perlahan.
“Pergi dari sini vampire! Sejak awal kau tidak berhak berada disisinya.”
“Ap___?”
Salah! Aku tidak tahu siapa senpai sebenarnya dan apa yang terjadi pada Arcueid barusan, tapi aku harus mengatakan ini. Karena, aku sendiri ingin berada disisinya.
“Kau salah! Apa-apan kamu? Tiba-tiba muncul, pakai baju aneh, dan bicara seakan-akan kau tahu semuanya?! Arcueid memang vampire, tapi dia belum pernah menghisap darah sekalipun. Yang tadi barusan mungkin hanya bercanda, dan kau tidak punya hak untuk___”
“Tolong diam sebentar Tohno-kun. Dia belum pernah meminum darah satu kalipun? Ya. Tidak ada catatan korban serangannya selama 800 tahun terakhir ini. Tapi___”
“Diam! Aku tidak mau mendengar cerita aneh yang kau katakan...! dengar, kalau kau macam-macam dengannya, aku tidak akan memaafkanmu. Aku membantunya karena aku memang ingin. Bukan urusanmu untuk ikut campur”
“Tohno-kun, kau__” Sesaat, suaranya terdengar seperti saat senpai disekolah. “__Baiklah. Kalau kau bilang begitu, aku tidak akan melakukan apa-apa, tapi___”
Senpai mengalihkan pendangannya kearah Arcueid. Arcueid menghindari tatapannya.
“Seperti yang dia katakan, Arcueid Brunestud. Apakah setelah ini kau masih ingin berada disisinya?”
Arcueid tidak menjawab. Sesaat dia melirik kearahku, dan setelah itu, dia berlari meninggalkan kami.
“A, Arcueid!!”
Aku berusaha mengejarnya. Tapi kakiku tidak mau bergerak.
“Aku tidak akan biarkan kau mengejarnya. Aku tidak bisa membiarkanmu terbunuh, Tohno-kun”
Tangannya memegang beberapa pedang tipis sepanjang tongkat. Dan salah satu pedang itu menancap dan memaku bayanganku di tanah.
“Selama pedang ini tidak dicabut, kau tidak bisa kemana-mana.”
“Berhenti bercanda! Aku bisa kehilangan dia!”
Kupegang pedang itu, dan berusaha mencabutnya. Tapi sekeras apapun Aku berusaha, pedang itu tidak bergerak sedikitpun.
“Percuma. Hanya aku yang bisa mencabutnya.”
Sambil mengatakan hal itu, dia berjalan, dan berhenti tepat didepanku.
Aku memandangnya dengan kesal. Dia membalas pandanganku dan mengeluh.
“Kenapa sih, kau mau mengejarnya sejauh itu, Tohno-kun?” Nada bicaranya kembali menjadi seperti Senpai yang kukenal.
“Eh? Um... Senpai?”
“Aku tahu. Sebenarnya aku juga tidak membencinya, tapi ini demi kebaikan kalian berdua. Aku tidak akan melepaskanmu, jadi tenanglah dan dengarkan apa yang akan kukatakan”
Entah mengapa meskipun aku belum begitu paham situasinya, aku merasa sedikit lebih tenang.
“Mungkin setelah aku mencereitakan ini padamu kau kan membenciku. Tapi kau harus tahu tentang ini. Sebelumnya, aku mau minta maaf telah mengikat bayanganmu” Senpai membungkukkan badannya meminta maaf.
Pakaiannya memang aneh, tapi Senpai tetaplah Senpai.
“Baiklah, aku tidak akan marah. Senpai telah menolongku sekali, dan lagi aku juga ingin bertanya tentang sesuatu”
“Tanya apa?”
“Mmm Senpai sebenarnya siapa? Berpakaian seperti itu, bisa memukul mundur Arcueid, dan yang paling aneh, kenapa hanya aku yang masih mengingat senpai di sekolah?”
Menghela nafas panjang, Senpai balik bertanya, “Kalau boleh tanya, apa pendapatmu tentang aku, Tohno-kun?”
“Aku pernah dengar dari Arcueid tentang gereja dan sebagainya.”
“Benar. Lebih tepatnya, aku seorang Excorcist utusan gereja. Dan tugasku adalah memburu vampire. Aku masih belum bisa menjelaskan lebih lanjut, tapi kurasa penjelasanku tadi sudah cukup untukmu, Tohno-kun”
“Terus, kenapa kesekolahku? Kalau ingin memburu vampire, bukankah lebih baik senpai mencarinya di seluruh kota seperti Arcueid?”
“Ya ada alasannya sih, tapi karena berhubungan dengan apa yang mau kuceritakan, aku mau tanya dulu sesuatu”
“Apa?”
“Tohno-kun, kau bekerja sama dengan Arcueid Brunestud, apa kau tahu apa yang dia kejar?”
“Ya. Dia bilang dia mengejar vampire yang berusaha memperluas kekuasaannya dikota ini”
“Begitu ya, tampaknya kau juga sudah tahu kalau vampire itu ada dua jenis. Apa kau juga tahu tentang keabadian tidak sempurna?”
“Ya. Ada jenis vampire yang harus menghisap darah untuk mempertahankan tubuhnya. Selama dia meminum darah, dia tidak akan menjadi tua. Aku benarkan?”
“Benar. Karena itu mereka tidak bisa disebut abadi sempurna. Kadang-kadang mereka gagal mempertahankan tubuh mereka hanya dengan menghisap darah. Dan kadang-kadang mereka mati karena kami buru. Mereka masih bisa mati, karena itu keabadian mereka disebut tidak sempurna.”
Aku masih belum mengerti apa yang mau senpai bicarakan.
“Apa ini berhubungan dengan alasan senpai masuk ke sekolahku?”
“Ya tentu saja. Bersabarlah Tohno-kun, sampai aku selesai bercerita.”
“Baiklah, tapi kalau senpai bisa menceritakannya dalam versi yang lebih pendek, aku akan sangat menghargainya”
“Kalau begitu akan kuusahakan sebisaku” Senpai terlihat sedikit kecewa.
“Penjelasan sederhananya, bagaimana ya? Pokoknya keabadian vampire jenis Dead Apostles sangat tidak stabil. Sebenarnya lebih cocok disebut jangka hidup yang lama dari pada abadi”
“Aku mau tanya senpai. Apa ada hubungannya kekuatan mareka yang tidak masuk akal itu?”
“Tidak juga. Sebenarnya kekuatan mereka sama dengan ketika mereka masih manusia. Tapi kekuatan mereka terasah melalui waktu yang ratusan tahun lamanya. Tujuan utama Dead Apostles berbeda-beda. Ada beberapa Dead Apostles yang meneliti tentang keabadian.”
“Huh? Kenapa? Padahal dia sudah abadi kan?”
“Ada beberapa Dead Apostles yang tidak puas dengan keabadian mereka. Mereka mencari cara untuk menyempurnakan keabadiannya.” Senpai terlihat sangat serius.
“Ada hidup, ada mati. Tidak ada yang bisa melawan kuasa waktu. Sesuatu yang lahir, akan diikuti kematian. Walapun tubuhnya tidak bisa tua, selama masih punya bentuk, mereka tidak bisa melarikan diri dari kematian. Cara untuk melarikan diri dari kematian adalah dengan mati itu sendiri. Kontradiksi inilah yang selama ini belum bisa mereka pecahkan.”
“Senpai benar. semua yang hidup memiliki kematian. Jadi bila ada seseorang yang tidak memiliki kematian, mungkin___”
Mungkin mereka memang tidak pernah ada sejak awal. Bahkan Arcueid bisa mati disiang hari. Tidak ada yang tidak bisa mati didunia ini.
“Tapi, bila ada orang yang bisa membentuk hidupnya setelah kematian, maka dia bisa disebut abadi. Memang tidak ada dalam doktrin agama kami, tapi kau pasti tahu kan dengan reinkarnasi? Setelah mati, kau memindahkan jiwamu sebagai manusia baru.”
“Reikarnasi? Maksud Senpai, terlahir kembali sebagai bayi?”
“Ya. Sebelum mati, dia menentukan dulu siapa yang akan menjadi tubuh barunya. Setelah itu, dia akan memindahkan semua informasi tentang dirinya yang lama kedalam tubuh baru itu. Ingatan tentang dirinya yang lama tidak akan bangkit sebelum bayi itu menjadi dewasa. Tapi kadang ada juga yang dapat bangkit sebelum dewasa. Begitu tubuh barunya dirasa mampu untuk menampung semua informasi tentang dirinya dimasa lalu, tubuh barunya akan menjadi vampire”
“Jangan katakan kalau dia melakukan semacam operasi sebelum si ibu melahirkan anak yang akan menjadi induk semangnya”
“Tidak dengan cara medis. Setelah tubuh lamanya mati, dia akan otomatis bereinkarnasi ketubuh barunya. Tadi aku meyebut informasi, tapi mungkin akan lebih tepat kalau disebut memindahkan jiwa.”
“Begitu ya? Tapi hubungannya dengan sekolahku?”
“Tentu saja berhubungan, karena vampire yang bereinkarnasi itu berada disekolahmu Tohno-kun”
“Huh?”
“Aku dan Arcueid mengejar vampire yang sama. Meskipun dia hanya menyebutnya sebagai musuh”
Aku mengangguk. Dia memang memanggilnya musuh, tapi dia sendiri tidak pernah menceritakan sesuatu tentang musuhnya itu
“Dulu tugas Arcueid adalah membunuh vampire. Tapi sejak ‘dia’ muncul, Arcueid hanya memburunya. Dia telah berreinkarnasi sebanyak 17 kali. Dan sebanyak itu pula Arcueid menghancurkannya.”
“Tapi Senpai, jika dia mati, dia akan kembali terlahirkan? Bukankah itu sia-sia?”
“Benar, setelah dibunuh, dia akan terlahir kembali. Dibunuh lagi, lahir lagi. Dan akan terus begitu. Seandainya Arcueid mempunyai kekuatan untuk menghancurkan jiwanya, bukan badannya saja, mungkin perputaran ini tidak akan terjadi.”
Senpai telihat sedih. Dia menggeretakkan giginya ketika berbicara. Aku tidak tahu kenapa, tapi tampaknya Senpai juga memiliki dendam terhadap musuh yang diburu oleh Arcueid.
“Senpai, vampire jenis apa musuh ini?”
“Awalnya dia adalah pria. Tapi bisa berubah menjadi wanita tergantung tubuh baru yang dirasukinya. Dia sulit dicari karena dia terlahir kembali sebagai bayi dan memiliki orang tua. Dia akan berubah menjadi vampire setelah memasuki usia tertentu. Sampai saat itu tiba, tidak ada tanda-tanda kalau dia sebenarnya adalah vampire. Tapi begitu bangkit, dia akan menggunakan semua hal yang telah dibangunnya sampai saat itu, untuk membaur dengan masyarakat. Kudengar gereja baru bisa mendeteksi keberadaannya setelah seluruh kota dikuasainya”
“Tunggu dulu. Jadi si induk semang ini tidak tahu tahu dirinya adalah vampire sampai kekuatannya bangkit?”
“Ya. Setelah mati, dia akan bereinkarnasi ke tubuh yang baru. Setelah kesadaran tubuh barunya cukup baik, dia akan menyerap informasi tentang dirinya yang terdahulu dan berubah menjadi vampire.”
Hanya dengan mendengar ceritanya saja Aku sudah bergidik ketakutan.
“I, ini aneh sekali. Bukankah yang namanya vampire itu tidak mungkin mendadak menjadi vampire? Jadi biarpun jiwanya bangkit, tapi tubuhnya tetap manusiakan?”
“Tidak. Yang namanya reinkarnasi, itu tidak hanya memindahkan kepribadian, tapi memindahkan jiwa. Sekali seseorang meminum darah True Ancestor, bukan hanya tubuhnya, jiwanya juga akan terkontaminasi. Begitu dia memindahkan jiwanya ketubuh yang baru, ketika bangkit, tubuhnya menjadi vampire, tapi___”
“Tapi apa?”
“Seperti yang kukatakan tadi, dia harus memilih induk semang ketika masih hidup. Keluarga yang akan melahirkannya harus memenuhi 2 persyaratan. Pertama, harus dari keluarga yang kaya. Memiliki keluarga dengan tingkat kedudukan sosial yang tinggi dan banyak uang, akan memudahkan mengubah seluruh kota menjadi daerah kekuasaannya. Dan syarat yang kedua adalah, kau tahu kalau beberapa diantara manusia biasa ada yang memiliki kekuatan lebih. Bukan kekuatan sihir yang bisa dipelajari, tapi kekuatan khusus yang didapat sejak lahir. Orang-orang yang biasanya disebut cenayang. Kekuatan cenayang diturunkan secara genetis, jadi pemilik kekuatan cenayang mendapatkan kekuatannya melalui hubungan keluarga. Dan dia akan memilih keluarga yang memiliki garis keturunan seperti itu”.
SEnpai terdiam sesaat, kemudian melanjutkan, “Sebuah keluarga yang terpandang, dan memiliki kekuatan cenayang, adalah dua syarat yang dibutuhkan untuk memlih induk semangnya, Tohno-kun”
Ada yang aneh dengan cerita tadi. Kenapa Senpai menceritakan cerita ini kepadaku?
“Namanya?” Aku bertanya
“Ya? Kau mengatakan sesuatu, Tohno-kun?”
“Kau terus memanggilnya dia dan musuh, bagaimana aku bisa mengerti? Aku mau tahu namanya!!” Aku meneriaki senpai tanpa sadar. Tapi senpai tidak marah. Dia malah memandangku dengan tatapan penuh simpati.
“Diantara Dead Apostles, dia dikenal sebagai Serpent of Akasha yang melambangkan keabadian. Dan di dalam gereja, dia disebut Reinkarnator tanpa batas. Nama manusianya adalah Michael Roa Valdamjong, dan biasa dipanggil ‘Roa’ saja”
“Ro, a____”
Aku tidak pernah dengar. Tentu saja, ketemu saja belum pernah.
“Dan senpai menyusup kesekolahku karena tahu kalau Roa ada disana?”
“Ya. Hanya intuisi sih, tapi aku yakin. Aku lebih baik dalam mencari Roa daripada Arcueid. Karena itu aku lebih cepat sampai kemari daripada Arcueid, dan aku sudah menemukan induk semangnya yang baru”
Sekali lagi Senpai melihatku dengan tatapan simpati seperti sebelumnya.
“Aku sudah menjelaskan tentang persyaratan keluarga yang dipilih Roa bukan? Jadi aku tinggal menyelidiki keluarga dikota ini yang memenuhi peryaratan tersebut. Hanya ada satu keluarga yang memenuhi kedua persyaratan tersebut di kota ini. Aku tidak perlu mengatakan lebih lanjut kan, Tohno Shiki-kun?”
Karena inilah, Aku merasa cerita barusan sangat aneh.
“Ha”
“Ha”
“Hahahaha, ha”
Aku tertawa kering.
“Senpai bicara apa? Ini tidak mungkin kan?”
Senpai terdiam. Meskipun diam, dia seakan mengatakan kalau aku adalah titisan Roa saat ini.
“Tidak perlu diragukan kalau keluarga Tohno memiliki garis keturunan cenayang. Sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Roa. Kekuatan yang kau gunakan untuk mengalahkan Zombie barusan sangat luar biasa. Jadi, kurasa aku tidak salah, Tohno Shiki-kun”
Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang dia bicarakan.
“Kenapa senpai begitu yakin?”
“Karena aku yang memutuskannya”
Sekali lagi dia mengatakan hal tidak Aku mengerti.
“Apa....?”
“Tapi ada sedikit masalah. Kau yang dibunuh, tapi kau yang berhasil bertahan hidup. Yang terbunuh masih hidup, dan yang membunuh malah mati. Kurasa semua kekacauan dimulai dari sana.” Sambil mengatakannya, Senpai mencabut pedang yang memaku bayanganku. “Hanya itu yang ingin kukatakan. Selanjutnya terserah padamu Tohno-kun”
“Terserah aku? Tapi menurut ceritamu aku....”
“Sejujurnya, aku sendiri tidak yakin. Kau benar-benar orang biasa. Seperti murid-murid SMA lainnya. Mungkin intuisiku salah. Karena, kau adalah seseorang yang tidak seharusnya berada didunia yang sama denganku.”
Dengan tersenyum sedih, Senpai melompat membuat jarak yang cukup jauh dariku. Seakan mengatakan bahwa dirinya adalah seseorang yang lain dari yang aku kenal. Seseorang yang tidak terjangkau, seseorang yang jauh, tak tersentuh.
Aku teringat Arcueid. Kalau tidak kukejar sekarang, aku akan kehilangan dia.
“Kau ingin mengejarnya, Tohno-kun?” Suara Senpai kembali seperti ketika dia mengusir Arcueid. Suara yang dingin tanpa emosi.
“Ya. Senpai adalah orang dari gereja yang artinya senpai menganggap Arcueid sebagai musuh. Tapi banyak yang telah terjadi, dan aku memutuskan untuk membantunya. Aku harus mencarinya sekarang. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya kalau aku meninggalkannya sendirian.”
Tertawa seakan mengatakan sebuah lelucon, aku mengatakan ‘sampai ketemu’ dan berbalik mencari Arcueid
“Tunggu! Kalau kau mengejarnya, kau akan terbunuh. Kau tidak boleh menemui Arcueid lagi!”
“Terbunuh? Yah, mungkin Senpai tidak akan percaya, tapi dia benar-benar tidak menghisap darah. Menurutku dia itu orang yang baik”
“Aku tahu kalau dia tidak menghisap darah, tapi sekali True Ancestor jatuh kedalam naluri alaminya sebagai vampire, dia hanya akan terus terbawa arus!” Langkahku terhenti mendengar peringatan Ciel-senpai.
“Maksud Senpai?” Aku berbalik dan bertanya.
“Dead Apostles memerlukan darah untuk mempertahankan tubuhnya. Tapi karena mereka awalnya adalah manusia, kita masih bisa menganggapnya sebagai manusia. Sedangkan orang yang terlahir sebagai vampire, apa kita bisa menganggapnya sebagai manusia?”
“Ap, apa yang senpai katakan? Aku bertanya tentang Arcueid”
“Ini semua tentang dia. Takkan kuijinkan kau berkata kau tidak akan menggubrisnya. Arcueid adalah anggota keluarga bangsawan Vampire Brunestud”
“Terus? Apa hubungannya denganku?”
“Tentu saja ada. Mereka memiliki dorongan untuk meminum darah lebih besar daripada Dead Apostles.”
Mata Ciel-senpai tidak menunjukkan emosi sama sekali. Seperti cermin, wajahku yang yang gelisah terpantul dimatanya.
“Memang True Ancestor dapat hidup tanpa meminum darah manusia, tapi ada kalanya mereka benar-benar ingin memnum darah. Bagi manusia yang telah tersentuh oleh True Ancestor, mereka hanya kan menjadi boneka saja. Masalahnya adalah tidak ada alasan khusus yang membangkitkan naluri alaminya sebagai vampire. Tidak ada alasan pula bagi mereka untuk berhenti. Sebenarnya mereka bisa menahan dorongan untuk meminum darah dengan kekuatan mereka, tapi kalau karena suatu alasan mereka kehilangan kekuatan untuk menekan dorongan tersebut, coba pikir apa yang akan terjadi”
Alasan yang menyebabkan mereka kehilangan kekuatan? Mungkin seperti terluka yang membutuhkan tenaga besar untuk menyembuhkannnya, atau menggunakan kekuatannya untuk meregenerasi tubuhnya stelah terbunuh?
Katakanlah dia memiliki 10 unit tenaga. Dia menggunakan 7 unit untuk menekan keinginan meminum darah. Kalau tiba-tiba dia kehilangan 5 unit tenaganya, itu berarti meskipun menggunakan seluruh tenaga yang tersisa, dia hanya bisa menggunakan 5 unit tenaga tersisa untuk menekan balik.
“Dan apa yang akan terjadi kalau True Ancestor gagal menekan keinginannya untuk meminum darah?”
“Tentu saja mereka akan meminum darah. Tapi sekali mereka meminum darah, kudengar akan menjadi lebih sulit untuk menekan keinginan itu. Akhirnya, mereka akan terus minum dan minum hingga menjadi Demon Lord. Sebenarnya True Ancestor adalah ras yang superior. Tapi mereka tidak bisa menggunakan seluruh kekuatannya karena harus mengikat naluri alaminya.”
Aku teringat keadaan Arcueid tadi. Matanya yang haus darah, nafasnya yang memburu, dan taringnya yang menyentuh leherku.
“Ini bohongkan?” Ya pasti bohong. Dia pernah mengatakan kalau dia takut darah.
“Ah” Tentu saja dia takut. Karena sekali dia mencicipi rasa darah, dia tidak akan bisa berhenti.
“Salah satu cara untuk menekan naluri alaminya adalah dengan membuat Dead Apostles. Mereka dibuat dari manusia untuk meringankan rasa sakit True Ancestor.” Ciel-senpai menambahkan.
“Tapi Arcueid tidak punya Dead Apostles satupun kan? Dia tidak memerlukannya karena dia istimewa. Dia bisa menekan naluri alaminya dengan keinginannya sendiri. Begitu lukanya sembuh dan tubuhnya pulih, dia akan dapat menekan naluri alaminya”
“Secara teknis memang begitu. Tapi satu yang perlu diingat Tohno-kun, naluri alami tidak akan pernah bisa hilang. Semakin lama ditekan, dorongan itu akan semakin menumpuk. Dan ketika sudah sampai pada batasnya, dia akan ......”
“Tapi Arcueid akan baik-baik saja. Saat ini dia memang lemah gara-gara aku, tapi beberapa hari kemudian dia akan___”
“Mungkin bisa. Tapi dia sudah pada batasnya saat ini. Sebentar lagi dia akan dikuasai oleh naluri alaminya. Dia, Arcueid, sudah tidak bisa diselamatkan”
Untuk pertama kalinya, bukan karena anemia tetapi karena ucapan seseorang, aku merasa pusing, dan pandanganku kabur.
Kenapa? Meskipun Arcueid tahu bahwa dia sudah sampai pada batasnya, kenapa dia terus memburu vampire disini? Aneh. Dipikir berapa kalipun ini tetap aneh.
“Kalau begitu senpai, kalau Arcueid tahu bahwa dia sudah sampai pada batasnya, kenapa dia masih memburu vampir untuk manusia?”
“Dia memburu vampire bukan untuk manusia. Tapi untuk tujuannya sendiri.”
“Tujuan apa?”
“Mungkin tujuan yang tetapkan oleh True Ancestor lain. Arcueid lahir pada abad ke-12, dimana saat itu banyak sekali True Ancestor yang bertumbangan. Para True Ancestor saat itu tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa jumlah mereka semakin sedikit, dan jumlah Dead Apostles semakin banyak. Karena itu mereka membuat sesuatu yang bertujuan hanya untuk membunuh. Kemudian mereka menciptakan seorang True Ancestor yang paling murni. True Ancestor yang dipanggil Arcueid Brunestud. Dia seperti sebuah roket nuklir. Sekali dia terbangun, maka sasaran pasti akan dihancurkan.”
Sekali lagi kepalaku serasa berputar. Arcueid itu mahluk hidup. Cara Senpai yang berbicara seakan Arcueid itu sebuah senjata, membuatku marah.
“Mungkin dulu dia memang seperti senjata, tapi sekarang lain. Ini pertama kalinya aku melihat dia berbicara seperti tadi” tambah Ciel-senpai
Huh? Tidak pernah bicara?
“Dulu dia hanya melakukan tugasnya dan tidak melakukan hal yang lainnya. Sejak dia dilahirkan, dia selalu begitu.”
Jantungku berdetak kencang setelah mendengar penjelasan Senpai.
Apa ini? Aku tiba-tiba saja melihat sebuah pemandangan yang asing, sebuah kenangan yang tidak pernah kujalani. Sesuatu memasuki kepalaku. Memasuki otaku tanpa bisa kucegah.
Aku melihat halaman instana yang sangat luas. Padang rumput yang laus menghiasi istana yang terpencil itu. Seorang gadis berkulit putih bersih menerawang kelangit.
“Dia tidak memiliki tujuan dan kebebasan lain selain menjalankan tugasnya. Dia hanya akan terbangun setelah target ditentukan. Dia hanya diajari bagaimana cara menghancurkan musuh”
Tidak ada seorangpun disana. Tidak ada seorangpun yang bisa diajak bicara. Tidak ada wajah-wajah lain yang bisa dikenali. Dia hanya sendiri
“Setelah tugasnya selesai, dia akan kembali tertidur. Dia tidak tahu hal yang lain kecuali membunuh vampire”
Hampa. Kesenangan ketika berbincang dengan orang lain, saat-saat berharga ketika bertemu dan menyapa teman, dia tidak pernah mengalami semua itu.
“Kekuatannya cukup kuat untuk mengalahkan True Ancestor. Tapi ironisnya, karena terlalu kuat, dia dihindari oleh True Ancestor yang lain. Meskipun mereka memberinya gelar ‘putri’, tapi tidak ada satupun yang berani mendekatinya. Meskipun mereka membuatkan istana untuknya, tapi dunianya hanyalah ruang bawah tanah yang gelap. Tidak ada satupun yang mengajarinya tentang perasaan.”
Cukup sudah. Ini namanya parodi hidup.
“Dia tidak pernah berbicara. Dan dia tidak pernah punya waktu untuk dirinya sendiri. True Ancestor yang lain hanya menganggapnya sebagai senjata hidup. Sebuah senjata yang tidak perlu diajari bagaimana membuat roti atu mencuci baju.”
-Aku diajari untuk tidak melakukan hal yang sia-sia-
Ya. Dulu dia pernah berkata seperti itu. Selama ini dia selalu memutuskan semuanya sendiri, dengan matanya yang hampa itu. Karena itu, dia tidak pernah membutuhkan orang lain. Atau dia memang tidak pernah tahu tentang hal yang lain.
“Yang diinginkan oleh para True Ancestor adalah agar dia menjadi mesin pembunuh yang superior. Karena itu di tidak perlu tahu apapun,. Apapun tentang kebahagiaan hidup.”
Dia selalu ceria. Bahkan hal-hal kecil membuatnya sangat gembira. Jadi kupikir dia memang selalu begitu sejak dulu. Tapi aku salah. Dia menikmati hal-hal kecil. Dia pasti sangat menikmati hal-hal kecil. Karena dia merasa hal hal seperti itu sangatlah menyenangkan. Aku tidak pernah memikirkannya. Seperti ketika dia tidak tahu tentang perasaannya ketika kami berada di kelasku yang dihiasi cahaya matahari terbenam, ketika dia bertanya berbagai macam hal dengan suaranya yang sedih.
“Meskipun Arcueid telah hidup lama, dia tidak pernah tahu bagaimana menjalani hidup. Jika kau menghitung berapa lama dia diberi kebebasan, maka hasilnya adalah luar biasa pendek. Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam keadaan tidur. Tidur yang pulas dalam ruang yang gelap”
-Benarkah? Hanya dengan mengobrol, aku sudah merasa senang kok,-
“Karena sebuah kecelakaan kecil, dia menghabisi semua True Ancestor di istana Brunestud. Sejak saat itu, dia tidak pernah meninggalkan istananya.”
Mungkin karena dia ditugaskan untuk membunuh vampire, maka dia benar-benar melaksanakan tugasnya sampai akhir. Dan akhirnya, dia sekarang hanya sendirian.
“Setelah dia membunuh semua True Ancestor, dia mengurung dirinya sendiri di ruang bawah tanah, yang disegel dengan ribuan rantai. Begitu Roa bangkit, dia akan terbangun dan menghabisinya dalam waktu singkat.”
Didalam dunianya yang sempit itu, dia tidak pernah berbicara.
“Dia adalah seorang pembunuh alami. Meskipun True Ancestor yang mengikatnya sudah tidak ada, dia tetap melaksanakan tugasnya sebagai pembunuh vampire. Mungkin hanya itulah satu-satunya kesenangan yang dia tahu”
Ini bohong. Apanya yang bisa membuatnya senang?!
Pemandangan yang masuk kedalam kepalaku tadi tiba-tiba menghilang.
“Ini____”
Kata-katanya, dan wajah bahagianya. Seandainya aku lebih memperhatikannya, aku pasti sudah tahu. Aku tidak pernah sadar betapa kesepian dia. Semua yang kurasakan, seperti mengobrol dengan teman, melakukan hal yang sia-sia tapi menyenangkan sehingga melupakan waktu, dan akhirnya tidur dengan nyenyak, baginya, hal-hal seperti itu tidak pernah ada.
Menyedihkan. Apakah dia sadar betapa menyedihkan hidup yang dijalaninya selama ini?
“Ini bohong........”
Aku tidak perah sadar bagaimana dia sangat menikmati melakukan hal-hal kecil. Seandainya saja aku memberi tahu bahwa hal-hal seperti itu bisa dia nikmati selalu, mungkin dia akan___
“Tohno-kun?”
Suara Senpai membuatku tersadar kembali.
“Ada apa? Kau tiba-tiba saja seperti melamun. Apa kau mendengarkan aku?”
“Maaf, aku mendengar senpai, tapi seakan ada orang lain yang berbicara”
Senpai mengangguk dengan ragu.
“Jadi sebenarnya dia,___”
“Tidak apa senpai” Aku memotong kalimat senpai.
“Aku tidak peduli dia apa yang telah dia lakukan dan bagaimana dia dulu. Sekarang, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Aku harus pergi mengejarnya”
Berbalik, Aku mulai berlari menuju pusat kota.
“Tohno-kun, kalau True Ancestor dikuasai oleh naluri alaminya, tidak ada harapan baginya untuk pulih. Kalau itu terjadi, darahmu akan dihisapnya” kata senpai memperingatkan
Aku tahu yang dikatakan senpai adalah kebenaran, tapi kebenaran-nya berbeda dengan kebenaranku.
“Dia belum meminum darah manusia kan?”
“Saat ini belum, tapi kalau aku tidak mencegahnya, dia sudah meminum darahmu”
“Senpai salah. Sesaat, Arcueid tadi berhenti. Jadi meskipun tadi senpai tidak menghentikannya, hasilnya akan sama saja” kataku sambil berlari.
“Jadi kau tetap akan membelanya, Tohno-kun?”
“Ya. Maaf senpai”
Senpai terdiam. Tapi aku merasa mendengarnya menghela nafas.
“Mungkin kita akan saling berhadapan Tohno-kun”
“Mungkin. Tapi aku tidak akan meminta maaf kalau saat itu tiba”
Tanpa berbalik lagi, Aku langsung menuju pusat kota. Tidak ada seorangpun dijalan utama.
*****
“Sial!”
Sama saja dengan malam kemarin. Aku tidak punya petunjuk sama sekali tentang keberadaannya meskipun sekarang aku sangat ingin bertemu dengannya.
__Dia. Meskipun dia selalu kesakitan, aku tidak pernah bisa membantunya.
Aku terus berlari mencarinya keseluruh pelosok kota hingga aku merasa lelah. Aku masih belum bisa menemukannya. Tubuhku terasa panas, dan aku tidak bisa bernafas dengan benar. luka didadaku terasa sangat sakit.
Nafasku memburu. Aku tidak bisa menemukannya. Aku tidak akan menemukannya kalau terus berlari tanpa tujuan seperti ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ketaman dan mencarinya disana. Kami berjanji untuk bertemu disana. Malam ini, kami masih belum menepati janji untuk bertemu, dan berkeliling kota bersama. Jadi kalau aku tidak mau melanggar janji, dan Arcueid menganggap janji itu sangat penting, maka seharusnya dia kembali ketaman. Aku hanya bisa percaya dan menunggunya disana.
Waktu terus bergulir. Detik jam terus bergerak merekam waktu demi waktu.
Aku merasa kesal. Tubuhku seperti tidak mau diam. Aku ingin kembali berlari mencarinya keseuruh penjuru kota. Tapi aku harus tenang. Aku harus terus menunggunya disini.
Suasana taman saat ini benar-benar sepi. Tidak ada suara. Malam seakan membekukan semuanya. Dua jam lagi, matahari terbit. Setelah itu, mungkin aku dan Arcueid tidak akan pernah bertemu lagi.
Tiba-tiba aku melihat sesorang berbaju putih. Seperti kelinci yang berjalan diatas salju, dia mendekatiku.
Arcueid.
Tapi dia hanya terdiam.wajahnya menunduk sedih. Dia menghentikan langkahnya. Jarak antara kami berdua tidak begitu jauh, tapi juga tidak dekat.
“__Arcueid”
Aku memanggil namanya. Dia tidak menjawab ataupun melihat kearahku.
Aku tidak tahu harus bicara apa. Aku tidak tahu bagaimana membuatnya tersenyum lagi. Aku merasa setiap kata yang akan kuucapkan, hanya akan menambah kesedihannya.
...........
........... ...........
........... ........... ...........
Waktu seakan berhenti. Arcueid mengadahkan wajahnya seakan sedang melihat mimpi.
“Sudah kuduga kau tidak akan pulang Shiki. Jadi aku kembali kemari karena aku tidak bisa membiarkanmu sendiri. Padahal aku sempat berpikir untuk pulang kembali ke apartemenku.” Katanya dengan sikap ceria yang biasanya.
“Tentu saja aku tidak akan pulang. Aku pernah bilang kalau aku tidak akan melanggar janjiku lagi”
“___Sudah cukup. Kau tidak perlu melakukannya lagi.”
“Cukup? Apanya yang cukup, Arcueid?!”
“Apa aku harus mengatakanya lebih jelas, Shiki? Aku vampire sedangkan kau manusia biasa. Sejak awal aku tidak punya hak menerima bantuanmu. Dulu aku tidak mengerti, tapi kalau kita terus begini, Aku bisa menghancurkan hidupmu. Karena itu____”
Perlahan suaranya menghilang hingga tak terdengar.
Apa yang kau katakan? Aku sudah siap menanggung semuanya ketika aku setuju untuk membantumu. Aku sangat mengerti. Mungkin aku bahkan lebih mengerti dari kamu bahwa kau adalah vampire. Dan Aku tetap membantumu meskipun aku tahu itu.
“Arcueid, kau tidak perlu mencemaskan kejadian tadi. Saat ini kau lelah dan lemah. Aku begitu bodohnya hingga tidak menyadari bahwa selama ini kau sudah memaksakan diri. Kau menderita bukan karena lukamu bukan? Tapi karena naluri alamimu. Senpai sudah bercerita banyak tentang itu”
“Perempuan itu, sejak kapan agen dari Burial Agency menjadi cerewat?” kata Arcueid sinis.
“Aku sudah mendengarnya dari Senpai, jadi aku akan jujur padamu Arcueid. Aku tidak peduli sama sekali. Saat ini kau menderita, tapi semuanya akan baik-baik saja dalam beberapa hari ini. Jadi kau tidak perlu cemas. Dan tadi kau sudah berusaha menahan diri kan? Jadi tidak apa. Kita lanjutkan saja seperti selama ini”
Arcueid tersenyum lemah. “Kau tidak mengerti Shiki. Sekarangpun, Aku masih ingin menghisap darahmu.”
“Tapi itu karena kau memikirkannya. Kau bisa melawan dorongan itu. Bukankah selama ini kau telah berhasil?”
“Kau benar, sampai saat ini aku masih bisa melakukannya, tapi kurasa tidak akan lama.” Kata Arcueid “Kau tahu, sebenarnya tujuanku hanyalah memburu vampire, tapi hari ini, aku banyak melakukan hal yang sia-sia. seandainya aku tidak tahu apapun, aku tidak akan menginginkan apapun. Seandainya saja aku memburu musuhku sendiri tanpa mengandalkan bantuanmu, mungkin hasilnya akan lebih baik.”
Kau bilang lebih baik kalau sendiri? Apa kau serius? Dengan wajahmu yang tertunduk seperti itu? Dengan suaramu yang sedih itu? Dengan penampilanmu yang siap jatuh kapan saja seperti itu?
“__Kau membuatku marah, bodoh! Jangan bicara seperti itu!” bentakku
“Apa....?” Arcueid terkejut karena nada bicaraku yang tiba-tiba meninggi.
“Jangan bercanda! Apa maksudmu akan lebih baik kalau sendiri? Kau meminta bantuanku karena kau menyadari ada hal-hal yang tidak bisa kau lakukan sendiri kan? Jadi tidak apa kalau kau mau bergantung padaku sampai semua ini selesai! Aku akan membantumu apapun yang terjadi, jadi____”
Arcueid, tolong jangan melihatku dengan mata sedih seperti itu. Kalau kau begitu, aku___
Jika akhirnya kau menyadari bahwa hidup itu menyenangkan, tolong jangan menyerah dan melepaskan kebahagiaan itu.
“Shiki, kau menangis?”
“Siapa yang menangis! Buat apa aku menangis untukmu!” Aku mengatakannya dengan suara sesenggukan. Aku bisa merasakan air mata yang membasahi pipiku.
Ini gara-gara kau yang terus mengatakan hal-hal bodoh. Kata-katamu membuatku marah. Perasanku campur adauk didadaku.
“Pokoknya, kita kalahkan si Roa ini dulu. Setelah itu, aku bisa istirahat, dan semua selesai!” kataku sambil mengusap air mata.
Tersenyum, dengan matanya yang damai, Acueid memberiku sebuah anggukan.
“Tapi mungkin semuanya sudah terlambat, Shiki. Saat itu aku berhenti karena aku merasakan ketakutamu. Banyak orang yang takut dan menganggapku monster sampai saat ini, jadi aku sudah terbiasa dibenci atau ditakuti.” Kata Arcueid. “Tapi anehnya, aku tidak mau kau menganggapku sebagai monster. Tapi kenyataanya adalah, aku memang monster.” Tambahnya sambil memainkan lidah.
Dia kemudian memaksakan untuk tertawa. Tapi suara tawanya terdengar kering.
“Waktu itu, aku hanya terkejut”
Aku berbohong. Aku tidak punya pilihan lain selain berbohong.
Dengan sedih, Arcueid membuang muka.
Dulu Sensei pernah mengatakan bahwa sebuah kebohongan hanya akan menyakiti jika kebohongan itu tidak bisa menipu dirimu sendiri.
“Sesaat tadi aku berhenti. Aku takut. Aku takut dengan caramu melihatku. Aku takut kau akan melihatku seperti itu untuk selamanya. Karena itu, aku tidak mau melhatmu lagi.” Kata Arcueid.
“Apa__?”
“Kita berpisah disini, Shiki.” Katanya sambil berbalik. Dia menghindari pandanganku.
“Mungkin hubungan kita sudah terlalu dekat. Kita tidak bisa meneruskan ini lagi” tambahnya.
Mungkin dia benar. bagi kami, seandainya kami tidak saling mengenal, mungkin akhirnya tidak akan seperti ini. Aku akan tetap menjalani kehidupan normalku, dan dia akan tetap sendiri.
“Kau benar. kita terlalu dekat. Tapi menurutku tidak ada masalah. Karena tidakkah kau pikir bahwa kau merasa kesepian bila hanya sendirian saja?”
“_____”
Arcueid tidak menjawab. Meskipun Aku hanya bisa melihat punggungnya, Aku tahu kalau dia gelisah. Aku ingin memeluknya dan terus mendukungnya.
“Dan sejujurnya, aku sangat menikmati saat-saat kita bersama. Aku memang hampir mati, tapi kurasa tidak akan lebih buruk dari itu. Jadi ijinkan aku membantumu hingga selesai. Aku tidak akan bisa tidur tenang kalau membiarkanmu terus sendiri.”
“Tidak perlu mencemasakanku. Aku akan membunuh Roa bagaimanapun caranya. Aku akan menghancurkannya meski nayawaku taruhannya. Kau sudah cukup banyak membantuku, Shiki. Sebentar lagi, kota ini akan kembali normal. Jadi, jangan cemas.”
Aku tidak mendengar keceriaan seperti biasanya dari suaranya. Sudah cukup. Aku sudah tidak tahan lagi.
“Bodoh! Bukan itu yang Aku cemaskan” Aku berjalan mendekatinya.
“Ah__”
Arcueid berusaha menghindar. Tapi kupegangi tangannya, dan kupaksa dia berbalik melihatku.
“Karena kau tidak akan pernah mengerti kalau tidak kukatakan langsung, maka aku akan mengatakannya. Dengar! Aku membantumu bukan karena ingin menghentikan vampire dikota ini. Aku bukan orang idealis yang ingin melindungi kota.”
Benar. selama ini, aku berusaha membohongi diriku sendiri. Alasanku sebenarnya tidak semulia itu.
“Aku hanya menyukaimu, jadi aku setuju untuk membantumu. Sekarang, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.”
Aku mengatakan perasaanku sejujur-jujurnya. Kemudian kupeluk Arcueid seerat mungkin.
“Ah___”
Deg deg!
Arcueid terkejut. Tapi dia tidak melawan. Dia tetap berdiri menerima pelukanku.
Deg deg!
“Tidak ada salahnya kalau kau ingin meminum darahku.”
Deg deg!
“Shiki__sakit. Lenganku___”
Deg deg!
“Aku selalu menginginkanmu, Arcueid. Hanya dengan mendengar detak jantungmu, Aku___”
Deg deg!
“Tidak, Shiki. Ini hanya___”
Deg deg!
Aku ingin memeluknya. Terus memeluknya sampai mati.
“Saat ini, kalau aku mengatakan aku menyukaimu, Aku berkata jujur. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Atau jangan-jangan kau membenciku?”
Deg deg!
Detak jantung Arcueid semakin cepat.
“.....Bukan begitu, aku___”
Perlahan tangan Arcueid balas memelukku. Sangat lembut pada mulanya. Tapi kemudian semakin erat, seperti menjawab pertanyaanku dengan pelukannya. Tubuh kami semakin melekat erat.
Namun pelukan itu hanya sekejap saja. Aku tidak tahu siapa yang melepaskan pelukannya petama kali, tapi seperti telah direncanakan, kami berdua melepaskan pelukan kami.
Tersipu, Arcueid melihat kebawah.
Sekitar satu jam lagi, matahari terbit. Ketika malam telah berganti pagi, saat itu pula waktu bebas bagi Arcueid harus berhenti. Tapi aku tidak bisa berpisah darinya lagi.
“___Apartemenku.” Kata Arcueid berbisik.
“Eh?”
“Mmm, kita bisa pergi keapartemenku. Kalau kau bilang ingin melindungiku aku tidak ingin kau pergi.”
Suaranya tertahan. Tapi aku tahu apa maksudnya. Mengangguk, aku mengikuti Arcueid menuju apartemennya.
Aku masuk kedalam kamarnya sebelum Arcueid. Arcueid tepat berada dibelakangku. Kalau aku berbalik melihatnya sekarang, perasaan ini tidak akan terkendali. Tapi saat ini aku masih bisa berpikir jernih.
Aku sendiri tidak mengerti. Mungkin kotradiksi kegilaan dan kewarasan ini muncul karena Aku mencintai seseorang.
“Arcueid__”
Aku mencoba berbalik, tapi tiba-tiba aku merasakan tangannya yang bersandar dipunggungku.
“Jangan berbalik.... tetaplah seperti ini…. sebantar saja.” Suaranya terdengar sangat tenang. Tangannya tidak bergerak, seakan ingin memastikan sesuatu.
“Hey Shiki, kau ingat ketika pertama kali aku menunggumu?”
“Ya. Orang yang kubunuh menungguku sambil tersenyum. Bagaimana aku bisa lupa?”
“Ya. Dulu, aku sangat membencimu.” Suaranya terdengar sangat lembut.
“Arcueid__?”
“Aku tahu kalau aku tidak bisa menahan naluri alamiku lebih lama lagi. Karena itu aku mengejar Roa untuk terakhir kalinya. Tapi, tiba-tiba ada seseorang yang tak kukenal membunuhku dan mengacaukan semuanya. Karena itu, aku dulu sangat membencimu. Aku akhirnya menemukan siapa yang membunuhku. Aku duduk menunggumu di pembatas jalan lama sekali. Aku ingin kau segera muncul. Cepat muncul dan datang kemari. Setelah melihatmu, aku ingin membuatmu menderita seperti apa yang kurasakan. Aku membencimu. aku saat itu sangat membencimu sehingga seakan perasaan itu melompat keluar dari dadaku ketika aku menunggumu.”
Tangannya menekan punggungku lebih keras.
“Ar....Cueid....?”
“Tidak ada yang pernah membunuhku sampai seperti itu. Aku sedikit penasaran seperti apa dirimu. Aku belum pernah memikirkan seseorang sampai sedalam itu. Awalnya, yang ada hanyalah kebencian. Tapi semua berubah ketika aku mulai bertanya-tanya orang macam apa kamu ini. Kemudian aku ingin bertemu denganmu agar aku lebih mengerti tentang dirimu. Orang yang membunuhku, orang yang membuatku setengah gila, orang yang membuatku sangat penasaran.”
Aku merasakan desahan nafasnya menerpa punggungku.
“Shiki, kau bilang kesendirian menimbulkan kesepian, tapi itu salah. Ketika aku menunggumu, orang yang benar-benar membuatku penasaran, aku merasa bahagia. Aku ingin segera bertemu denganmu. Aku terus membayangkan kau itu seperti apa”
Arcueid melepaskan tangannya dari punggungku.
“Kalau kupikir-pikir lagi, saat itu aku mulai berpikir bahwa aku memerlukan orang lain. Aku merasa lelah terus berada dalam kesendirian. Kau bilang kalau kau menyukaiku, tapi kurasa aku sudah menyukaimu sejak sebelum kita bertemu”
Kata-katanya sangat lembut. Suaranya terdengar sangat manis. Tanpa ragu, Aku berbalik dan memeluknya.
“___N___”
Bibir kami bertemu. Aku tidak tahu siapa yang memulai. Mungkin kami berdua secara bersamaan. Kami melakukannya dengan sangat lembut. Ciuman ini membuatku lebih mengerti betapa pentingnya dia bagiku.
Menahan nafas, Aku menyalurkan semua perasaanku. Bibirnya yang tipis, bibirnya yang belum pernah tersentuh, sekarang menyentuhku. Hanya dengan memikirkannya saja membuatku bergairah. Tubuhnya sangat hangat dan menentramkan.
Tubuhnya sedikit gemetar. Tapi Arcueid tidak terlihat takut. Wajahnya yang memerah, terlihat sangat indah.
Aku masih belum benar-benar percaya. Yang berada didepanku adalah Arcueid yang sangat kucintai. Melakukan ini membuatku lebih mencintainya.
Bibir kami berpisah. Masih saling memeluk, mata kami melirik dengan malu-malu.
“Itu.....tadi...... ciuman ya?” kata Arcued tersipu. Matanya yang merah seakan menyelidikiku. Rambut emasnya melambai didepan mataku.
“___Kau menyukainya, Arcueid?”
“Ahahaha, jantungku berdebar kencang sekarang”
Ya. Aku bisa mendengar detak jantungnya. Atau yang kudengar ini detak jantungku sendiri? Dia melihat lurus mataku
“Tapi benarkah ini tidak apa-apa?” Aku bertanya
“Apanya yang tidak apa-apa?” Arcueid balas bertanya.
“Soalnya aku belum pernah mendengar ada vampire yang berciuman”
Tersipu, Arcueid tersenyum malu. Pertanyaanku rupanya mengena. Melepas kacamataku, kami merebahkan tubuh kami diatas tempat tidur.
*****
Kami tiduran didalam ruang yang gelap dan sepi.
“Aku.....lelah.....”
Aku melihat Arcueid yang tertidur pulas disampingku. Aku menjadi sedikit malu mengingat apa yang kami lakukan barusan. Tapi kau tidak menyesal bercinta dengannya. Ya mungkin sedikit menyesal sih. Seandainya aku melakukannya dengan sedikit lebih tenang, aku mungkin akan bisa lebih menikmatinya.
“Yah, pelan-pelan sajalah”
Aku sama sekali tidak ingat bagaimana kami melakukannya. Tapi aku masih ingat sensasi luar biasa yang kurasakan. Begitu lelahnya, mungkin aku tidak akan sanggup berjalan untuk sementara waktu.
“Hwaaaaaaah____!”
Menguap, aku melihat wajah tidur Arcueid. Aku benar-benar mencintainya. Dan dia menjawab cinta yang egois ini. Mungkin berbeda dengan caraku mencintainya, tapi Arcueid juga membutuhkanku.
Hanya dengan itu. Hanya dengan itu saja, Aku sudah merasa bahagia. Untuknya yang selalu sendiri, untuknya yang akhirnya membutuhkan orang lain, membuatku bahagia.
“Dan kau tahu, Arcueid, kau tidak akan sendiri lagi mulai saat ini”
Aku mulai merasa mengantuk. Memeluk tubuh Arcueid, Aku perlahan tertidur.
Dalam mimpi, Aku melihat Arcueid terbangun dan melakukan sesuatu. Dia sedang berbicara sendiri. Terus aku bertanya sedang apa kamu?
“Sudah bangun ya, Shiki?”
Tidak juga. Aku masih merasa mengantuk. Aku berterima kasih padamu telah membuat tubuhku lemas seperti ini.
“Benarkah? Ahahaha kau membuatku malu”
Arcueid tersenyum seperti anak kecil. Aneh sekali bisa melihatnya padahal mataku sedang tertutup. Tapi karena dia tampak bahagia, Aku tidak mempedulikan hal kecil seperti itu.
“Hey, Shiki?”
Apa? Kau lelah? Kau harus tidur sampai malam nanti.
“Bagaimana jika seandainya aku benar-benar menjadi vampire sejati? Apa yang akan kau lakukan?”
Pertanyaan yang aneh. Tapi itu tidak akan terjadi. Karena kau takut minum darah kan?
“Aku kan bilang ‘seandainya’. Mempertahankan hidup dengan mengambil hidup mahluk lain itu wajar bukan?”
Kita hentikan saja percakapan seperti ini. Aku tidak suka kata ‘seandainya’. Sepertinya Aku sudah pernah bilang begitu
“Benarkah? Aku suka ‘seandainya’. Tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi masih bisa berharap hingga saat-saat terakhir”
Ah, aku ingat, Arcueid pernah mengatakan hal yang sama sebelumnya.
“Aku juga sempat bertanya-tanya apa yang akan kulakukan kalau kau ternyata orang yang jahat”
Arcueid.........?
“Aku mencintaimu Shiki. Kau membuatku bisa merasakan semua ini, dan bisa membuatku berkata jujur. Kau terlalu baik.”
Kenapa? Kenapa kau menangis?
“Aku akan pergi sebelum kau bangun Shiki. Aku tidak akan sanggup mengucapkan selamat tinggal secara langsung. Jadi biarlah aku melakukannya dengan cara seperti ini”
Aku mendengar suara pintu. Meskipun Aku masih tertidur, Aku bisa mendengar suara pintu ditutup.
“______Mmmm”
Aku terbangun. Cahaya matahari masuk melalui jendela. Melihat jam, Aku sadar sekarang sudah hampir siang.
“AH, lupa! Sekolah!”
Aku bangun dengan tergesa-gesa.
Tunggu dulu. Sekarang hari minggu kan? Jadi tidak perlu pergi kesekolah. Kalau ada yang harus dicemaskan, itu karena aku menginap ditempat Arcueid tanpa bilang ke orang rumah.
Barusan sepertinya Aku mempi aneh. Aku bermimpi berbicara dengan Arcueid dan kemudian dia menciumku pada akhirnya.
Haha bermimpi ketika Arcueid tidur disampingku mungkin menunjukkan betapa bahagianya aku sekarang.
“Hey, Arc_____”
Aku melihat kesamping, dan suaraku tertahan.
“Ar.....cueid....?”
Tidak ada seorangpun disana. Arcueid tidak ada.
-Aku akan pergi sekarang-
Itu adalah kata-kata Arcueid dalam mimpiku.
“Tunggu dulu!”
Aku mencarinya diseluruh ruangan, tapi tidak ada. Yang kutemukan hanya secarik kertas diatas meja.
“Apa___?”
Aku tidak tahu ini hanya bercanda atau bukan. Tapi dalam kertas itu tertulis kata ‘selamat tinggal’.
“Kenapa?”
Aku tidak ingn percaya. Tapi Aku bisa mengerti kenapa Arcueid melakukan ini.
“Kenapa?”
Kau bercanda kan, Arcueid? ‘Selamat tinggal’. Kami berjanji. Kami berjanji untuk tetap bersama. Aku mengatakan akan membantunya sampai semuanya selesai.
Jadi kenapa?____ kenapa dia pergi sendiri lagi?
“Kenapa Arcueid____!!?”
Aku berteriak sekeras mungkin dan meremas kertas yang kupegang.
Setelah itu, Aku keluar kamar dan mencari Arcueid. Tapi kemanapun aku mencari, aku tidak bisa menemukannya. aku tahu. Sebenarnya aku sudah tahu kalau kami tidak akan bisa bertemu lagi. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan temukan dia, dan mengatakan betapa bodohnya dia.
Dia akan menyelesaikan urusannya dengan Roa. Mungkin dia malah sudah membereskan Roa dan meninggalkan kota ini.
Cip cip cip
Aku mendengar suara burung gereja.
Mataku menemukan sarang burung yang terlantar ditanah.
Aku lega karena tidak menemukan apapun didalamnya.
Aku menangis.
Air mataku bercucuran
Jadi inikah yang disebut patah hati?
Aku mulai berjalan.
Aku berjalan menuju rumah
Naluriku mengatakan Aku harus pulang sebelum Aku menjadi gila.• Read More..
“Lupakan katanya, tapi bagaimana bisa?”
Aku melihat jari-jariku. Aku masih tidak bisa melupakan sensasi ketika aku menyentuh tubuh Arcueid. Arcueid ingin aku melupakannya. Tapi rasa sesalku membuatku tidak mungkin untuk melakukannya.
Yang kusesalkan bukanlah karena aku tidak bisa mengendalikan diri, tapi seandainya waktu itu aku tidak menyentuhnya seperti binatang, seandainya aku menyentuhnya sebagai manusia, mungkin saja______
Aku tahu, ini bukan karena aku melihat mata emasnya. Aku tidak sadar, tapi aku sudah tertarik padanya sejak lama.
Pagi yang sama setiap hari. Hisui datang dan membangunkanku. Akiha dan Kohaku duduk diruang duduk, dan kami saling menyapa sebelum berangkat kesekolah. Selalu sama.
Aku merasa sangat kosong. Aku tidak bisa merespon ketika diajak bicara. Aku meninggalkan rumah dengan perasaan hampa.
Di sekolah, aku melihat murid-murid lain saling menyapa dengan gembira.
“Ah, sekarang hari sabtu ya?”
Aku kehilangan orientasi waktu sejak Arcueid memasuki kehidupanku. Aku bertemu dengannya pertama kali ketika hari jumat. Seminggu yang lalu pada pagi hari, dia menungguku diperempatan dekat sekolah.
Waktu itu dia sedang tersenyum. Meskipun dia sedang menunggu seseorang yang membunuhnya, aku bisa melihat rasa senang yang terpancar dari matanya.
Mungkin saja dia tidak akan datang malam ini. Pikiran bahwa kemarin malam adalah terakhir kalinya kami bertemu terus berputar-putar dikepalaku. Hatiku merasa berat, dan mendadak semuanya terasa hampa. Mungkin aku tidak bisa melihatnya lagi. Perasaan itu terus menggantung dihatiku.
Aku duduk dikursiku 5 menit sebelum jam pertama dimulai. Aku melihat keluar tanpa semangat.
“Yo, tukang bolos. Kemarin kau bolos lagi. Ngapain saja kamu Shiki?”
“.........”
Aku hanya menghela nafas. Biasanya aku membalas, tapi hari ini aku merasa enggan berbicara dengan Arihiko.
“Kenapa kamu? Wajahmu kusut. Kemarin bolos, dan sekarang seperti ini. Kalau kau begini terus, sekolah jadi membosankan”
Aku menengok kearah Arihiko.
“Maaf Arihiko, sekarang aku lagi pingin sendiri. Kalau aku tidak masuk, kau bisa bicara denngan Senpai. Bukanya kau lebih senang begitu?”
“Ha? Senpai? Senpai yang mana?”
“Ngomong apa kamu? Ciel-senpai yang kelas tiga itu? Ya memang kadang aku berpikir kalau dia lebih muda, tapi Senpai tetap Senpai”
“Shiel-senpai? Siapa? Memang ada murid asing disekolah kita?”
Arihiko terlihat benar-benar bingung.
“Ngomong apa kamu? Senpai itu.....”
Tunggu dulu. Senpai itu.......
“Ada apa Shiki? Kau sakit ya?”
Aku tidak mendengar pertanyaan Arihiko. Pikiranku asih terfokus pada Senpai.
“Ah,.....”
Kenapa aku tidak menyadari keanehan ini. Ciel bukan nama orang Jepang, dan
aku bahkan tidak tahu nama lengkapnya. Aku juga tidak tahu dia dikelas tiga berapa.
Tapi, kenapa aku merasa sudah mengenalnya?
Menyadari sesuatu, aku langsung berdiri dan secara tidak sengaja menjatuhkan kursi tempat aku duduk.
“Kenapa Shiki? Sikapmu aneh”
“Aku mau ke kantor dulu. Kalau absen, katakan aku ada”
Dengan menyimpan beribu pertanyaan, aku berlari keluar ruangan.
Aku mencari semua data anak kelas tiga yang bernama Ciel. Tapi seperti yang sudah kuduga, aku tidak menemukan satu pun. Bahkan ketika aku menanyakannya kepada guru, mereka mengatakan tidak mengenal anak yang bernama Ciel.
****
Bel tanda sekolah usai berbunyi. Semua murid keluar dari sekolah.
Sekarang hari sabtu. Tapi aku seperti tidak mau melakukkan apa-apa. Seperti mayat hidup, Aku berjalan menuju rumah tanpa semangat.
“Selama tdatang Shiki-sama” Hisui menyambutku sesampainya aku dirumah.
Aku tahu kalau dia telah menungguku cukup lama, tapi aku tidak bisa menjawab salamnya dan langsung menuju kamar.
****
Makan malam selesai. Dan sekarang sudah hampir jam 10. Waktu perjanjian dengan Arcueid.
“Pergi tidak ya?”
Aku tidak tahu dia akan datang atau tidak, tapi aku pernah bersumpah tidak akan melanggar janji lagi.
Aku tiba di taman jam 10 kurang. Tidak ada seorangpun disini. Aku duduk dibangku dan terus melihat jam menunggu Arcueid datang. Aku akan terus menunggunya.
Sekarang jam sebelas, dan Arcueid masih belum datang taman benar benar sepi dan terasa sangat dingin. udara seakan berhenti bergerak. Dan aku memutuskan terus menunggunya, meskipun sampai sekarang Arcueid belum datang.
Hampir jam dua belas, dan belum ada tanda-tanda kedatangan Arcueid. Sudah dua jam dari waktu perjanjian.
Aku mengeluh.
“Dia tidak datang mungkin”
Aku tidak tahu. Tapi aku tidak merasa ingin pulang sekarang.
“Akan kutunggu sampai pagi”
Aku tiduran diatas bangku taman yang panjang dengan perasaan frustasi, kemudian....
“Hah?”
Kurasa aku tadi melihat sesuatu berwarna putih berkelebat di belakang semak. Dan bergerak sesaat setelah aku menyadarinya.
“_____”
Berdiri dari bangku, aku langsung menuju kearah bayangan putih tadi. Seakan tahu tidak mungkin bersembunyi, bayangan putih itu menunjukkan dirinya.
“Ahahaha, aku ketahuan ya?” Arcueid muncul dengan senyumnya yang ceria.
“Arcueid kamu,____”
“Ya? Apa?”
“Kenapa kamu datang?” Aku mengatakannya karena aku serasa masih belum percaya.
“Kenapa? Aku kan sudah berjanji. Aku sudah sampai sini 10 menit sebelum kau datang” jawabnya sambil membuang muka
“10 menit sebelum Aku?” Aku datang sebelum jam 10, dan dia datang lebih awal dari aku?
“Kalau begitu, kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah datang?”
“Mmmm, Aku ingin melihatmu sambil bersembunyi.”
“________”
Ah, meski sekarang sikapnya seperti biasa, dia pasti juga masih memikirkan kejadian kemarin. Karena itu dia bersembunyi karena tidak berani berhadapan langsung denganku.
“Maaf ya, tentang itu.........”
“Ya. Kau tidak pernah sadar kalau aku sudah disini. Aku menunggumu menyadariku. Aku berencana bertemu denganmu dengan cara yang sedikit berbeda, tapi kau mengacaukan rencanaku dengan terus melamun”
“Eh?” Aku terkejut.
“Kau bersembunyi karena itu?”
“Kenapa? Aku merasa sedikit bosan, jadi aku mau main-main sedikit” Dia mengatakannya dengan sangat santai tanpa tahu betapa frustasinya aku menunggu.
“__Bermain-main? Kau___?!” Rasa senangku karena bertemu dengannya tiba-tiba lenyap. Dia selalu bertindak seenaknya tanpa mau tahu perasaanku.
Aku beusaha menenengkan diri dengan menghirup udara malam sebanyak-banyaknya. Mungkin aku merasa marah. Mungkin juga aku malah merasa lega karena melihatnya bersikap biasa saja. Lebih tepatnya, biasa untuknya.
“Baiklah, kau menang Arcueid”
“Benarkah? Tapi aku barusan ketahuan kan?”
“Ini bukan masalah petak umpet” Sudahlah, percuma menjelaskannya.
“Aku senang kau datang. Jujur saja, aku sempat berpikir mungkin kita tidak akan bertemu lagi.”
“Eh? Kau berpikir begitu hanya karena menunggu selama dua jam?” kata Arcueid terkejut
“Bukan karena itu. Tapi kemarin malam. Aku mengira kau tidak mau datang lagi.”
Mendengar kata-kataku, air muka Arcueid mendadak berubah menjadi sedih
“Bukankah aku sudah bilang lupakan saja?” katanya dengan suara lemah
“Ah___!”
Dasar bodoh. Aku benar-benar bodoh, dengan seenaknya berpikir kalau dia bersikap seperti biasanya. Dia bersikap seperti ini agar aku tidak merasa bersalah.
“...Maaf, Arcueid”
“Tidak apa. Yang seharusnya disalahkan itu aku. Tolong kejadian kemarin dilupakan saja. Bukankah kalau begitu akan lebih baik bagi kita berdua?”
Arcueid berusaha memaksakan diri mengatakannya dengan ceria. Tapi menyuruhku melupakannya, bagaimana Aku bisa?
“Bukan begitu, Aku tidak meminta maaf untuk kejadian kemarin, tapi karena aku tidak bisa melupakan sesuatu yang harusnya kulupakan”
“.....Shiki?”
“Sejak pagi, aku hanya memikirkan dirimu. Aku hanya memikirkan bagaimana aku harus meminta maaf, dan apa yang harus kukatakan setelah kita bertemu. Jadi, aku belum bisa benar-benar melupakannya”
“______”
Arcueid menghindari tatapan mataku. Dan aku juga tidak bisa menatapnya. Aku tidak berani untuk melihat matanya. Dia tidak menjawab, dan aku tidak bicara apa-apa lagi. Kesunyian panjang diantara kami dimulai
Aku sudah tidak tahu lagi berapa lama kami berdiri disini, kesunyian ini berakhir setelah Arcueid menganggukkan kepalanya.
“Jujur saja, aku sendiri masih belum bisa melupakan kejadian kemarin, Shiki” tersipu, Arcueid berkata dengan malu-malu.
“Arcueid .....”
Wajahnya terlihat manis sekali.
Tapi tiba-tiba, Arcueid berputar melihat sekeliling kami. Entah sejak kapan, kami dikepung oleh beberpa orang.
“Apa___?” Karena begitu mendadak, aku tidak bisa berpikir tenang.
“Kita dikepung. Bersiaplah Shiki, kalau kau tidak melawan, kau bisa mati”
“Melawan mereka?”
“Kau akan paham kalau membuka kacamatamu”
Dengan cepat, Aku mencabut pisauku dan membuka kacamataku. Seperti yang dikatakan oleh Arcueid, ke-5 orang yang mengepung kami adalah Zombie.
“Ada apa ini? Bukannya kau sudah membunuh mereka semua kemarin?”
“Ya, mereka sudah kubunuh kemarin” Mata Arcurid menyipit penuh kebencian.
“Apa kemarin mereka hanya pura-pura mati?”
“Tidak. Aku benar-benar telah membunuh mereka. Kesalahanku adalah, aku tidak memastikan mereka hancur menjadi abu.”
Perlahan mereka mendekati kami. Aku menggenggam erat pisau dengan tanganku yang sedikit gemetar. Tapi aku tidak begitu merasa takut pada mereka. Aku pernah merasakan tekanan yang lebih besar ketika aku menghadapi Nero.
Tapi mereka berlima. Bisakah aku menghadapinya?
“Kalau kau ragu, kau bisa mati Shiki” Aku mendengar suara Arcueid dari belakang. Tampaknya dia melindungiku punggungku.
“Mereka datang!”
Kelima Zombie itu melompat dan menyerang bersamaan dengan kedua tangannya. Aku menghindar kesamping. Kemudian aku merasakan bahaya mendekat dari belakang.
“Khh__!!”
Aku berputar menghindari pukulan Zombie yang membokongku.
Aku melihat banyak sekali garis ditubuh Zombie. Aku bisa menghancurkan mereka dengan mudah. Gerakan mereka tidak secepat binatang-binatang yang keluar dari tubuh Nero.
Salah satu Zombie mengejarku. Menghindari ayunan tangannya, aku menyerang bagian bawah tubuhnya. Tapi gagal. Tanganku tidak bisa menggapai sasaran. Tapi aku sempat memotong salah satu lengannya.
Zombie yang telah kehilangan satu tangan itu tidak berhenti menyerang. Zombie yang lain juga tidak menunjukkan rasa gentar.
Zombie bertangan satu menyerangku. Aku menghindar. Ketika aku menghindari serangannya, Zombie yang lain melompat menyerangku dari belakang.
“AKH__!!”
Leherku tergigit. Dia tidak berusaha menghisap darahku, tapi lebih seperti berusaha membunuh seperti binatang yang menyerang leher mangsanya. Tidak begitu sakit. Tapi terasa menjijikkan.
Zombie bertangan satu mendekatiku. Aku harus membunuh Zombie yang menggigitku, kalau tidak, aku bisa mati.
Kupotong garis diwajahnya ketika dia masih terus menggigitku.
“_____”
Tanganku berhenti. Mereka bukan manusia. Mereka tidak hidup. Tapi aku tidak bisa membunuh mereka yang dulunya manusia.
“Shiki!!!”
Aku mendengar suara Arcueid yang masih bertarung melawan Zombie yang lain. Melupakan Zombie bertangan satu yang mendekatiku, Aku melihat kearah Arcueid.
Aku melihat pemandangan yang sulit dipercaya. Arcueid terluka. Meskipun gerakan Zombie lambat, mereka berhasil mendesak Arcueid. Nafas Arcueid tersenggal-senggal. Langkah kakinya tidak stabil. Dia terlihat kesulitan menghindari serangan yang seharusnya bisa dihindari.
Salah satu Zombie menyerang lengannya. Arcueid membalas. Dia membelah Zombie itu menjadi dua. Namun pada saat itu juga, Zombie yang lain menyerangnya dengan pukulan yang mematikan.
“AH___”
Tidak bisa menghindar, Arcueid terjatuh dengan lutut menyentuh tanah. Dari jauh, aku bisa melihatnya kesulitan bernafas. Zombie yang lain menendang Arcueid yang berlutut hingga jatuh tergeletak.
Kemudian salah satu dari mereka duduk menindih perutnya, dan yang lain memegangi kedua tangannya.
“Hentikan bangsat!!!”
Kupotong wajah Zombie yang menggigitku, dan kupotong perut Zombie bertangan satu yang didepanku. Setelah itu, kuhancurkan Zombie tanpa wajah yang tadi menggigitku.
Aku berlari menuju Arcueid. Zombie yang mengeroyoknya menyadari kehadiranku dan berdiri. Mereka menyerangku.
Tidak ada masalah. Kupotong garis-garis ditubuh mereka yang menyerangku, dan semua berakhir.
“Hah....hah....” Aku berusaha mengatur nafasku.
Kelima Zombie tadi perlahan menjadi abu.
Rasanya sakit juga. Tapi ini lebih baik daripada mereka melukai Arcueid. Untuk pertama kalinya, aku, Tohno Shiki, menggunakan kekuatanku dengan keinginanku sendiri menolong orang lain
“Arcueid....”
Aku melihatnya masih berlutut menahan sakit.
“Kau tidak apa-apa?!” Aku berlari kearahnya.
Tubuhnya melingkar seperti menahan dingin.
“Ada apa? Kau berkeringat. Apa lukamu terbuka lagi?” Aku berlutut berusaha melihat wajahnya.
“Shi___ki” Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Yang bisa kulihat hanyalah mata merahnya yang terlihat haus darah.
Ini aneh. Caranya bernafas tidak normal. Dia bernafas seperti orang kelaparan.
Matanya yang haus darah. Rambutnya yang bergoyang tertiup angin.
“Ar___c....”
Merinding aku dibuatnya. Merasakan adanya bahaya, aku melompat mundur.
Tapi dengan gerakan yang lebih cepat, giginya menempel dileherku siap untuk menghisap darahku. Tangannya memeluk tubuhku dan membuatku tidak bisa kabur.
“Arc____” Nafasku seakan tertahan ketika Aku berusaha memanggil namanya.
Matanya yang haus darah. Gigi taringnya yang setajam pisau. Mendapat tekanan seperti ini, Aku tidak bisa bergerak. Orang yang berusaha menancapkan taringnya ini bukanlah wanita yang kukenal.
Aku tidak bisa apa-apa. Aku bahkan tidak mampu menggerakkan jariku. Aku akan dimakan. Taring menempel di leherku. Pikiranku dikuasai oleh rasa takut.
Tapi sebelum semuanya terjadi,
Buuumm!
Sebuah ledakan membuat tubuh kami terlempar kearah yang berlainan. Seakan tertabrak mobil, tubuh Arcueid terlempar beberapa meter. Tapi Arcueid mampu berdiri seakan tidak terjadi apa-apa.
“A...Aku...” Arcueid berdiri disana mematung.
“Kau mau menghisap darahnya?” Terdengar suara yang dingin dan menyalahkan. “Muncul juga sifat aslimu, Arcueid Brunestud” Suara itu berasal dari atas.
Ketika aku melihat keatas, berdiri diatas lampu jalan seseorang berjubah yang membantuku tempo hari.
“Senpai,___” Kali ini Aku tidak salah. Dilihat dari sisi manapun, dia adalah Ciel-senpai.
Senpai tidak melihat kearahku. Dia terus menatap Arcueid yang terlihat menderita.
“Meskipun kau membunuh sesamamu, tidak mengubah fakta bahwa kau adalah vampire. Aku tidak tahu alasanmu mendekatinya, tapi apa kau tidak berpikir kalau semua mungkin akan berakhir seperti ini?”
Nada bicaranya sama sekali lain dengan nada bicaranya ketika disekolah. Tidak keras maupun lembut. Tanpa emosi. Nada bicara yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia.
Tanpa suara, Senpai turun dari lampu jalan tempat dia berdiri.
“Biasanya aku tidak mau ikut campur, tapi aku tidak bisa melihatmu membunuh manusia biasa. Sebenarnya aku tidak berencana menghadapimu seperti ini, tapi kalau memang harus, akan kita selesakan masalah diantara kita sekarang”
“Jangan bercanda! Aku tidak ada urusan denganmu, dan___” Arcueid memandang senpai dengan penuh kebencian.
“Aku tidak pernah berniat membunuhnya” tambah Arcueid
“Tidak meyakinkan. Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan? Dan apa kau tahu bagaimana dia menjerit ketika melihatmu?”
“____” Arcueid terdiam
“Aku tidak peduli kalau kau membenciku. Tapi kau sedang tidak waras dan berusaha menyerangnya. Apa kita perlu menanyakan perasaannya?”
Berpaling dari Arcueid, Senpai melihat kearahku untuk pertama kalinya.
“____”
Arcueid melakukan hal yang sama dengan wajah sedih.
Keheningan menyelimuti seluruh taman.
Terdengar suara langkah kaki. Senpai mendekatiku perlahan.
“Pergi dari sini vampire! Sejak awal kau tidak berhak berada disisinya.”
“Ap___?”
Salah! Aku tidak tahu siapa senpai sebenarnya dan apa yang terjadi pada Arcueid barusan, tapi aku harus mengatakan ini. Karena, aku sendiri ingin berada disisinya.
“Kau salah! Apa-apan kamu? Tiba-tiba muncul, pakai baju aneh, dan bicara seakan-akan kau tahu semuanya?! Arcueid memang vampire, tapi dia belum pernah menghisap darah sekalipun. Yang tadi barusan mungkin hanya bercanda, dan kau tidak punya hak untuk___”
“Tolong diam sebentar Tohno-kun. Dia belum pernah meminum darah satu kalipun? Ya. Tidak ada catatan korban serangannya selama 800 tahun terakhir ini. Tapi___”
“Diam! Aku tidak mau mendengar cerita aneh yang kau katakan...! dengar, kalau kau macam-macam dengannya, aku tidak akan memaafkanmu. Aku membantunya karena aku memang ingin. Bukan urusanmu untuk ikut campur”
“Tohno-kun, kau__” Sesaat, suaranya terdengar seperti saat senpai disekolah. “__Baiklah. Kalau kau bilang begitu, aku tidak akan melakukan apa-apa, tapi___”
Senpai mengalihkan pendangannya kearah Arcueid. Arcueid menghindari tatapannya.
“Seperti yang dia katakan, Arcueid Brunestud. Apakah setelah ini kau masih ingin berada disisinya?”
Arcueid tidak menjawab. Sesaat dia melirik kearahku, dan setelah itu, dia berlari meninggalkan kami.
“A, Arcueid!!”
Aku berusaha mengejarnya. Tapi kakiku tidak mau bergerak.
“Aku tidak akan biarkan kau mengejarnya. Aku tidak bisa membiarkanmu terbunuh, Tohno-kun”
Tangannya memegang beberapa pedang tipis sepanjang tongkat. Dan salah satu pedang itu menancap dan memaku bayanganku di tanah.
“Selama pedang ini tidak dicabut, kau tidak bisa kemana-mana.”
“Berhenti bercanda! Aku bisa kehilangan dia!”
Kupegang pedang itu, dan berusaha mencabutnya. Tapi sekeras apapun Aku berusaha, pedang itu tidak bergerak sedikitpun.
“Percuma. Hanya aku yang bisa mencabutnya.”
Sambil mengatakan hal itu, dia berjalan, dan berhenti tepat didepanku.
Aku memandangnya dengan kesal. Dia membalas pandanganku dan mengeluh.
“Kenapa sih, kau mau mengejarnya sejauh itu, Tohno-kun?” Nada bicaranya kembali menjadi seperti Senpai yang kukenal.
“Eh? Um... Senpai?”
“Aku tahu. Sebenarnya aku juga tidak membencinya, tapi ini demi kebaikan kalian berdua. Aku tidak akan melepaskanmu, jadi tenanglah dan dengarkan apa yang akan kukatakan”
Entah mengapa meskipun aku belum begitu paham situasinya, aku merasa sedikit lebih tenang.
“Mungkin setelah aku mencereitakan ini padamu kau kan membenciku. Tapi kau harus tahu tentang ini. Sebelumnya, aku mau minta maaf telah mengikat bayanganmu” Senpai membungkukkan badannya meminta maaf.
Pakaiannya memang aneh, tapi Senpai tetaplah Senpai.
“Baiklah, aku tidak akan marah. Senpai telah menolongku sekali, dan lagi aku juga ingin bertanya tentang sesuatu”
“Tanya apa?”
“Mmm Senpai sebenarnya siapa? Berpakaian seperti itu, bisa memukul mundur Arcueid, dan yang paling aneh, kenapa hanya aku yang masih mengingat senpai di sekolah?”
Menghela nafas panjang, Senpai balik bertanya, “Kalau boleh tanya, apa pendapatmu tentang aku, Tohno-kun?”
“Aku pernah dengar dari Arcueid tentang gereja dan sebagainya.”
“Benar. Lebih tepatnya, aku seorang Excorcist utusan gereja. Dan tugasku adalah memburu vampire. Aku masih belum bisa menjelaskan lebih lanjut, tapi kurasa penjelasanku tadi sudah cukup untukmu, Tohno-kun”
“Terus, kenapa kesekolahku? Kalau ingin memburu vampire, bukankah lebih baik senpai mencarinya di seluruh kota seperti Arcueid?”
“Ya ada alasannya sih, tapi karena berhubungan dengan apa yang mau kuceritakan, aku mau tanya dulu sesuatu”
“Apa?”
“Tohno-kun, kau bekerja sama dengan Arcueid Brunestud, apa kau tahu apa yang dia kejar?”
“Ya. Dia bilang dia mengejar vampire yang berusaha memperluas kekuasaannya dikota ini”
“Begitu ya, tampaknya kau juga sudah tahu kalau vampire itu ada dua jenis. Apa kau juga tahu tentang keabadian tidak sempurna?”
“Ya. Ada jenis vampire yang harus menghisap darah untuk mempertahankan tubuhnya. Selama dia meminum darah, dia tidak akan menjadi tua. Aku benarkan?”
“Benar. Karena itu mereka tidak bisa disebut abadi sempurna. Kadang-kadang mereka gagal mempertahankan tubuh mereka hanya dengan menghisap darah. Dan kadang-kadang mereka mati karena kami buru. Mereka masih bisa mati, karena itu keabadian mereka disebut tidak sempurna.”
Aku masih belum mengerti apa yang mau senpai bicarakan.
“Apa ini berhubungan dengan alasan senpai masuk ke sekolahku?”
“Ya tentu saja. Bersabarlah Tohno-kun, sampai aku selesai bercerita.”
“Baiklah, tapi kalau senpai bisa menceritakannya dalam versi yang lebih pendek, aku akan sangat menghargainya”
“Kalau begitu akan kuusahakan sebisaku” Senpai terlihat sedikit kecewa.
“Penjelasan sederhananya, bagaimana ya? Pokoknya keabadian vampire jenis Dead Apostles sangat tidak stabil. Sebenarnya lebih cocok disebut jangka hidup yang lama dari pada abadi”
“Aku mau tanya senpai. Apa ada hubungannya kekuatan mareka yang tidak masuk akal itu?”
“Tidak juga. Sebenarnya kekuatan mereka sama dengan ketika mereka masih manusia. Tapi kekuatan mereka terasah melalui waktu yang ratusan tahun lamanya. Tujuan utama Dead Apostles berbeda-beda. Ada beberapa Dead Apostles yang meneliti tentang keabadian.”
“Huh? Kenapa? Padahal dia sudah abadi kan?”
“Ada beberapa Dead Apostles yang tidak puas dengan keabadian mereka. Mereka mencari cara untuk menyempurnakan keabadiannya.” Senpai terlihat sangat serius.
“Ada hidup, ada mati. Tidak ada yang bisa melawan kuasa waktu. Sesuatu yang lahir, akan diikuti kematian. Walapun tubuhnya tidak bisa tua, selama masih punya bentuk, mereka tidak bisa melarikan diri dari kematian. Cara untuk melarikan diri dari kematian adalah dengan mati itu sendiri. Kontradiksi inilah yang selama ini belum bisa mereka pecahkan.”
“Senpai benar. semua yang hidup memiliki kematian. Jadi bila ada seseorang yang tidak memiliki kematian, mungkin___”
Mungkin mereka memang tidak pernah ada sejak awal. Bahkan Arcueid bisa mati disiang hari. Tidak ada yang tidak bisa mati didunia ini.
“Tapi, bila ada orang yang bisa membentuk hidupnya setelah kematian, maka dia bisa disebut abadi. Memang tidak ada dalam doktrin agama kami, tapi kau pasti tahu kan dengan reinkarnasi? Setelah mati, kau memindahkan jiwamu sebagai manusia baru.”
“Reikarnasi? Maksud Senpai, terlahir kembali sebagai bayi?”
“Ya. Sebelum mati, dia menentukan dulu siapa yang akan menjadi tubuh barunya. Setelah itu, dia akan memindahkan semua informasi tentang dirinya yang lama kedalam tubuh baru itu. Ingatan tentang dirinya yang lama tidak akan bangkit sebelum bayi itu menjadi dewasa. Tapi kadang ada juga yang dapat bangkit sebelum dewasa. Begitu tubuh barunya dirasa mampu untuk menampung semua informasi tentang dirinya dimasa lalu, tubuh barunya akan menjadi vampire”
“Jangan katakan kalau dia melakukan semacam operasi sebelum si ibu melahirkan anak yang akan menjadi induk semangnya”
“Tidak dengan cara medis. Setelah tubuh lamanya mati, dia akan otomatis bereinkarnasi ketubuh barunya. Tadi aku meyebut informasi, tapi mungkin akan lebih tepat kalau disebut memindahkan jiwa.”
“Begitu ya? Tapi hubungannya dengan sekolahku?”
“Tentu saja berhubungan, karena vampire yang bereinkarnasi itu berada disekolahmu Tohno-kun”
“Huh?”
“Aku dan Arcueid mengejar vampire yang sama. Meskipun dia hanya menyebutnya sebagai musuh”
Aku mengangguk. Dia memang memanggilnya musuh, tapi dia sendiri tidak pernah menceritakan sesuatu tentang musuhnya itu
“Dulu tugas Arcueid adalah membunuh vampire. Tapi sejak ‘dia’ muncul, Arcueid hanya memburunya. Dia telah berreinkarnasi sebanyak 17 kali. Dan sebanyak itu pula Arcueid menghancurkannya.”
“Tapi Senpai, jika dia mati, dia akan kembali terlahirkan? Bukankah itu sia-sia?”
“Benar, setelah dibunuh, dia akan terlahir kembali. Dibunuh lagi, lahir lagi. Dan akan terus begitu. Seandainya Arcueid mempunyai kekuatan untuk menghancurkan jiwanya, bukan badannya saja, mungkin perputaran ini tidak akan terjadi.”
Senpai telihat sedih. Dia menggeretakkan giginya ketika berbicara. Aku tidak tahu kenapa, tapi tampaknya Senpai juga memiliki dendam terhadap musuh yang diburu oleh Arcueid.
“Senpai, vampire jenis apa musuh ini?”
“Awalnya dia adalah pria. Tapi bisa berubah menjadi wanita tergantung tubuh baru yang dirasukinya. Dia sulit dicari karena dia terlahir kembali sebagai bayi dan memiliki orang tua. Dia akan berubah menjadi vampire setelah memasuki usia tertentu. Sampai saat itu tiba, tidak ada tanda-tanda kalau dia sebenarnya adalah vampire. Tapi begitu bangkit, dia akan menggunakan semua hal yang telah dibangunnya sampai saat itu, untuk membaur dengan masyarakat. Kudengar gereja baru bisa mendeteksi keberadaannya setelah seluruh kota dikuasainya”
“Tunggu dulu. Jadi si induk semang ini tidak tahu tahu dirinya adalah vampire sampai kekuatannya bangkit?”
“Ya. Setelah mati, dia akan bereinkarnasi ke tubuh yang baru. Setelah kesadaran tubuh barunya cukup baik, dia akan menyerap informasi tentang dirinya yang terdahulu dan berubah menjadi vampire.”
Hanya dengan mendengar ceritanya saja Aku sudah bergidik ketakutan.
“I, ini aneh sekali. Bukankah yang namanya vampire itu tidak mungkin mendadak menjadi vampire? Jadi biarpun jiwanya bangkit, tapi tubuhnya tetap manusiakan?”
“Tidak. Yang namanya reinkarnasi, itu tidak hanya memindahkan kepribadian, tapi memindahkan jiwa. Sekali seseorang meminum darah True Ancestor, bukan hanya tubuhnya, jiwanya juga akan terkontaminasi. Begitu dia memindahkan jiwanya ketubuh yang baru, ketika bangkit, tubuhnya menjadi vampire, tapi___”
“Tapi apa?”
“Seperti yang kukatakan tadi, dia harus memilih induk semang ketika masih hidup. Keluarga yang akan melahirkannya harus memenuhi 2 persyaratan. Pertama, harus dari keluarga yang kaya. Memiliki keluarga dengan tingkat kedudukan sosial yang tinggi dan banyak uang, akan memudahkan mengubah seluruh kota menjadi daerah kekuasaannya. Dan syarat yang kedua adalah, kau tahu kalau beberapa diantara manusia biasa ada yang memiliki kekuatan lebih. Bukan kekuatan sihir yang bisa dipelajari, tapi kekuatan khusus yang didapat sejak lahir. Orang-orang yang biasanya disebut cenayang. Kekuatan cenayang diturunkan secara genetis, jadi pemilik kekuatan cenayang mendapatkan kekuatannya melalui hubungan keluarga. Dan dia akan memilih keluarga yang memiliki garis keturunan seperti itu”.
SEnpai terdiam sesaat, kemudian melanjutkan, “Sebuah keluarga yang terpandang, dan memiliki kekuatan cenayang, adalah dua syarat yang dibutuhkan untuk memlih induk semangnya, Tohno-kun”
Ada yang aneh dengan cerita tadi. Kenapa Senpai menceritakan cerita ini kepadaku?
“Namanya?” Aku bertanya
“Ya? Kau mengatakan sesuatu, Tohno-kun?”
“Kau terus memanggilnya dia dan musuh, bagaimana aku bisa mengerti? Aku mau tahu namanya!!” Aku meneriaki senpai tanpa sadar. Tapi senpai tidak marah. Dia malah memandangku dengan tatapan penuh simpati.
“Diantara Dead Apostles, dia dikenal sebagai Serpent of Akasha yang melambangkan keabadian. Dan di dalam gereja, dia disebut Reinkarnator tanpa batas. Nama manusianya adalah Michael Roa Valdamjong, dan biasa dipanggil ‘Roa’ saja”
“Ro, a____”
Aku tidak pernah dengar. Tentu saja, ketemu saja belum pernah.
“Dan senpai menyusup kesekolahku karena tahu kalau Roa ada disana?”
“Ya. Hanya intuisi sih, tapi aku yakin. Aku lebih baik dalam mencari Roa daripada Arcueid. Karena itu aku lebih cepat sampai kemari daripada Arcueid, dan aku sudah menemukan induk semangnya yang baru”
Sekali lagi Senpai melihatku dengan tatapan simpati seperti sebelumnya.
“Aku sudah menjelaskan tentang persyaratan keluarga yang dipilih Roa bukan? Jadi aku tinggal menyelidiki keluarga dikota ini yang memenuhi peryaratan tersebut. Hanya ada satu keluarga yang memenuhi kedua persyaratan tersebut di kota ini. Aku tidak perlu mengatakan lebih lanjut kan, Tohno Shiki-kun?”
Karena inilah, Aku merasa cerita barusan sangat aneh.
“Ha”
“Ha”
“Hahahaha, ha”
Aku tertawa kering.
“Senpai bicara apa? Ini tidak mungkin kan?”
Senpai terdiam. Meskipun diam, dia seakan mengatakan kalau aku adalah titisan Roa saat ini.
“Tidak perlu diragukan kalau keluarga Tohno memiliki garis keturunan cenayang. Sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Roa. Kekuatan yang kau gunakan untuk mengalahkan Zombie barusan sangat luar biasa. Jadi, kurasa aku tidak salah, Tohno Shiki-kun”
Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang dia bicarakan.
“Kenapa senpai begitu yakin?”
“Karena aku yang memutuskannya”
Sekali lagi dia mengatakan hal tidak Aku mengerti.
“Apa....?”
“Tapi ada sedikit masalah. Kau yang dibunuh, tapi kau yang berhasil bertahan hidup. Yang terbunuh masih hidup, dan yang membunuh malah mati. Kurasa semua kekacauan dimulai dari sana.” Sambil mengatakannya, Senpai mencabut pedang yang memaku bayanganku. “Hanya itu yang ingin kukatakan. Selanjutnya terserah padamu Tohno-kun”
“Terserah aku? Tapi menurut ceritamu aku....”
“Sejujurnya, aku sendiri tidak yakin. Kau benar-benar orang biasa. Seperti murid-murid SMA lainnya. Mungkin intuisiku salah. Karena, kau adalah seseorang yang tidak seharusnya berada didunia yang sama denganku.”
Dengan tersenyum sedih, Senpai melompat membuat jarak yang cukup jauh dariku. Seakan mengatakan bahwa dirinya adalah seseorang yang lain dari yang aku kenal. Seseorang yang tidak terjangkau, seseorang yang jauh, tak tersentuh.
Aku teringat Arcueid. Kalau tidak kukejar sekarang, aku akan kehilangan dia.
“Kau ingin mengejarnya, Tohno-kun?” Suara Senpai kembali seperti ketika dia mengusir Arcueid. Suara yang dingin tanpa emosi.
“Ya. Senpai adalah orang dari gereja yang artinya senpai menganggap Arcueid sebagai musuh. Tapi banyak yang telah terjadi, dan aku memutuskan untuk membantunya. Aku harus mencarinya sekarang. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya kalau aku meninggalkannya sendirian.”
Tertawa seakan mengatakan sebuah lelucon, aku mengatakan ‘sampai ketemu’ dan berbalik mencari Arcueid
“Tunggu! Kalau kau mengejarnya, kau akan terbunuh. Kau tidak boleh menemui Arcueid lagi!”
“Terbunuh? Yah, mungkin Senpai tidak akan percaya, tapi dia benar-benar tidak menghisap darah. Menurutku dia itu orang yang baik”
“Aku tahu kalau dia tidak menghisap darah, tapi sekali True Ancestor jatuh kedalam naluri alaminya sebagai vampire, dia hanya akan terus terbawa arus!” Langkahku terhenti mendengar peringatan Ciel-senpai.
“Maksud Senpai?” Aku berbalik dan bertanya.
“Dead Apostles memerlukan darah untuk mempertahankan tubuhnya. Tapi karena mereka awalnya adalah manusia, kita masih bisa menganggapnya sebagai manusia. Sedangkan orang yang terlahir sebagai vampire, apa kita bisa menganggapnya sebagai manusia?”
“Ap, apa yang senpai katakan? Aku bertanya tentang Arcueid”
“Ini semua tentang dia. Takkan kuijinkan kau berkata kau tidak akan menggubrisnya. Arcueid adalah anggota keluarga bangsawan Vampire Brunestud”
“Terus? Apa hubungannya denganku?”
“Tentu saja ada. Mereka memiliki dorongan untuk meminum darah lebih besar daripada Dead Apostles.”
Mata Ciel-senpai tidak menunjukkan emosi sama sekali. Seperti cermin, wajahku yang yang gelisah terpantul dimatanya.
“Memang True Ancestor dapat hidup tanpa meminum darah manusia, tapi ada kalanya mereka benar-benar ingin memnum darah. Bagi manusia yang telah tersentuh oleh True Ancestor, mereka hanya kan menjadi boneka saja. Masalahnya adalah tidak ada alasan khusus yang membangkitkan naluri alaminya sebagai vampire. Tidak ada alasan pula bagi mereka untuk berhenti. Sebenarnya mereka bisa menahan dorongan untuk meminum darah dengan kekuatan mereka, tapi kalau karena suatu alasan mereka kehilangan kekuatan untuk menekan dorongan tersebut, coba pikir apa yang akan terjadi”
Alasan yang menyebabkan mereka kehilangan kekuatan? Mungkin seperti terluka yang membutuhkan tenaga besar untuk menyembuhkannnya, atau menggunakan kekuatannya untuk meregenerasi tubuhnya stelah terbunuh?
Katakanlah dia memiliki 10 unit tenaga. Dia menggunakan 7 unit untuk menekan keinginan meminum darah. Kalau tiba-tiba dia kehilangan 5 unit tenaganya, itu berarti meskipun menggunakan seluruh tenaga yang tersisa, dia hanya bisa menggunakan 5 unit tenaga tersisa untuk menekan balik.
“Dan apa yang akan terjadi kalau True Ancestor gagal menekan keinginannya untuk meminum darah?”
“Tentu saja mereka akan meminum darah. Tapi sekali mereka meminum darah, kudengar akan menjadi lebih sulit untuk menekan keinginan itu. Akhirnya, mereka akan terus minum dan minum hingga menjadi Demon Lord. Sebenarnya True Ancestor adalah ras yang superior. Tapi mereka tidak bisa menggunakan seluruh kekuatannya karena harus mengikat naluri alaminya.”
Aku teringat keadaan Arcueid tadi. Matanya yang haus darah, nafasnya yang memburu, dan taringnya yang menyentuh leherku.
“Ini bohongkan?” Ya pasti bohong. Dia pernah mengatakan kalau dia takut darah.
“Ah” Tentu saja dia takut. Karena sekali dia mencicipi rasa darah, dia tidak akan bisa berhenti.
“Salah satu cara untuk menekan naluri alaminya adalah dengan membuat Dead Apostles. Mereka dibuat dari manusia untuk meringankan rasa sakit True Ancestor.” Ciel-senpai menambahkan.
“Tapi Arcueid tidak punya Dead Apostles satupun kan? Dia tidak memerlukannya karena dia istimewa. Dia bisa menekan naluri alaminya dengan keinginannya sendiri. Begitu lukanya sembuh dan tubuhnya pulih, dia akan dapat menekan naluri alaminya”
“Secara teknis memang begitu. Tapi satu yang perlu diingat Tohno-kun, naluri alami tidak akan pernah bisa hilang. Semakin lama ditekan, dorongan itu akan semakin menumpuk. Dan ketika sudah sampai pada batasnya, dia akan ......”
“Tapi Arcueid akan baik-baik saja. Saat ini dia memang lemah gara-gara aku, tapi beberapa hari kemudian dia akan___”
“Mungkin bisa. Tapi dia sudah pada batasnya saat ini. Sebentar lagi dia akan dikuasai oleh naluri alaminya. Dia, Arcueid, sudah tidak bisa diselamatkan”
Untuk pertama kalinya, bukan karena anemia tetapi karena ucapan seseorang, aku merasa pusing, dan pandanganku kabur.
Kenapa? Meskipun Arcueid tahu bahwa dia sudah sampai pada batasnya, kenapa dia terus memburu vampire disini? Aneh. Dipikir berapa kalipun ini tetap aneh.
“Kalau begitu senpai, kalau Arcueid tahu bahwa dia sudah sampai pada batasnya, kenapa dia masih memburu vampir untuk manusia?”
“Dia memburu vampire bukan untuk manusia. Tapi untuk tujuannya sendiri.”
“Tujuan apa?”
“Mungkin tujuan yang tetapkan oleh True Ancestor lain. Arcueid lahir pada abad ke-12, dimana saat itu banyak sekali True Ancestor yang bertumbangan. Para True Ancestor saat itu tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa jumlah mereka semakin sedikit, dan jumlah Dead Apostles semakin banyak. Karena itu mereka membuat sesuatu yang bertujuan hanya untuk membunuh. Kemudian mereka menciptakan seorang True Ancestor yang paling murni. True Ancestor yang dipanggil Arcueid Brunestud. Dia seperti sebuah roket nuklir. Sekali dia terbangun, maka sasaran pasti akan dihancurkan.”
Sekali lagi kepalaku serasa berputar. Arcueid itu mahluk hidup. Cara Senpai yang berbicara seakan Arcueid itu sebuah senjata, membuatku marah.
“Mungkin dulu dia memang seperti senjata, tapi sekarang lain. Ini pertama kalinya aku melihat dia berbicara seperti tadi” tambah Ciel-senpai
Huh? Tidak pernah bicara?
“Dulu dia hanya melakukan tugasnya dan tidak melakukan hal yang lainnya. Sejak dia dilahirkan, dia selalu begitu.”
Jantungku berdetak kencang setelah mendengar penjelasan Senpai.
Apa ini? Aku tiba-tiba saja melihat sebuah pemandangan yang asing, sebuah kenangan yang tidak pernah kujalani. Sesuatu memasuki kepalaku. Memasuki otaku tanpa bisa kucegah.
Aku melihat halaman instana yang sangat luas. Padang rumput yang laus menghiasi istana yang terpencil itu. Seorang gadis berkulit putih bersih menerawang kelangit.
“Dia tidak memiliki tujuan dan kebebasan lain selain menjalankan tugasnya. Dia hanya akan terbangun setelah target ditentukan. Dia hanya diajari bagaimana cara menghancurkan musuh”
Tidak ada seorangpun disana. Tidak ada seorangpun yang bisa diajak bicara. Tidak ada wajah-wajah lain yang bisa dikenali. Dia hanya sendiri
“Setelah tugasnya selesai, dia akan kembali tertidur. Dia tidak tahu hal yang lain kecuali membunuh vampire”
Hampa. Kesenangan ketika berbincang dengan orang lain, saat-saat berharga ketika bertemu dan menyapa teman, dia tidak pernah mengalami semua itu.
“Kekuatannya cukup kuat untuk mengalahkan True Ancestor. Tapi ironisnya, karena terlalu kuat, dia dihindari oleh True Ancestor yang lain. Meskipun mereka memberinya gelar ‘putri’, tapi tidak ada satupun yang berani mendekatinya. Meskipun mereka membuatkan istana untuknya, tapi dunianya hanyalah ruang bawah tanah yang gelap. Tidak ada satupun yang mengajarinya tentang perasaan.”
Cukup sudah. Ini namanya parodi hidup.
“Dia tidak pernah berbicara. Dan dia tidak pernah punya waktu untuk dirinya sendiri. True Ancestor yang lain hanya menganggapnya sebagai senjata hidup. Sebuah senjata yang tidak perlu diajari bagaimana membuat roti atu mencuci baju.”
-Aku diajari untuk tidak melakukan hal yang sia-sia-
Ya. Dulu dia pernah berkata seperti itu. Selama ini dia selalu memutuskan semuanya sendiri, dengan matanya yang hampa itu. Karena itu, dia tidak pernah membutuhkan orang lain. Atau dia memang tidak pernah tahu tentang hal yang lain.
“Yang diinginkan oleh para True Ancestor adalah agar dia menjadi mesin pembunuh yang superior. Karena itu di tidak perlu tahu apapun,. Apapun tentang kebahagiaan hidup.”
Dia selalu ceria. Bahkan hal-hal kecil membuatnya sangat gembira. Jadi kupikir dia memang selalu begitu sejak dulu. Tapi aku salah. Dia menikmati hal-hal kecil. Dia pasti sangat menikmati hal-hal kecil. Karena dia merasa hal hal seperti itu sangatlah menyenangkan. Aku tidak pernah memikirkannya. Seperti ketika dia tidak tahu tentang perasaannya ketika kami berada di kelasku yang dihiasi cahaya matahari terbenam, ketika dia bertanya berbagai macam hal dengan suaranya yang sedih.
“Meskipun Arcueid telah hidup lama, dia tidak pernah tahu bagaimana menjalani hidup. Jika kau menghitung berapa lama dia diberi kebebasan, maka hasilnya adalah luar biasa pendek. Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam keadaan tidur. Tidur yang pulas dalam ruang yang gelap”
-Benarkah? Hanya dengan mengobrol, aku sudah merasa senang kok,-
“Karena sebuah kecelakaan kecil, dia menghabisi semua True Ancestor di istana Brunestud. Sejak saat itu, dia tidak pernah meninggalkan istananya.”
Mungkin karena dia ditugaskan untuk membunuh vampire, maka dia benar-benar melaksanakan tugasnya sampai akhir. Dan akhirnya, dia sekarang hanya sendirian.
“Setelah dia membunuh semua True Ancestor, dia mengurung dirinya sendiri di ruang bawah tanah, yang disegel dengan ribuan rantai. Begitu Roa bangkit, dia akan terbangun dan menghabisinya dalam waktu singkat.”
Didalam dunianya yang sempit itu, dia tidak pernah berbicara.
“Dia adalah seorang pembunuh alami. Meskipun True Ancestor yang mengikatnya sudah tidak ada, dia tetap melaksanakan tugasnya sebagai pembunuh vampire. Mungkin hanya itulah satu-satunya kesenangan yang dia tahu”
Ini bohong. Apanya yang bisa membuatnya senang?!
Pemandangan yang masuk kedalam kepalaku tadi tiba-tiba menghilang.
“Ini____”
Kata-katanya, dan wajah bahagianya. Seandainya aku lebih memperhatikannya, aku pasti sudah tahu. Aku tidak pernah sadar betapa kesepian dia. Semua yang kurasakan, seperti mengobrol dengan teman, melakukan hal yang sia-sia tapi menyenangkan sehingga melupakan waktu, dan akhirnya tidur dengan nyenyak, baginya, hal-hal seperti itu tidak pernah ada.
Menyedihkan. Apakah dia sadar betapa menyedihkan hidup yang dijalaninya selama ini?
“Ini bohong........”
Aku tidak perah sadar bagaimana dia sangat menikmati melakukan hal-hal kecil. Seandainya saja aku memberi tahu bahwa hal-hal seperti itu bisa dia nikmati selalu, mungkin dia akan___
“Tohno-kun?”
Suara Senpai membuatku tersadar kembali.
“Ada apa? Kau tiba-tiba saja seperti melamun. Apa kau mendengarkan aku?”
“Maaf, aku mendengar senpai, tapi seakan ada orang lain yang berbicara”
Senpai mengangguk dengan ragu.
“Jadi sebenarnya dia,___”
“Tidak apa senpai” Aku memotong kalimat senpai.
“Aku tidak peduli dia apa yang telah dia lakukan dan bagaimana dia dulu. Sekarang, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Aku harus pergi mengejarnya”
Berbalik, Aku mulai berlari menuju pusat kota.
“Tohno-kun, kalau True Ancestor dikuasai oleh naluri alaminya, tidak ada harapan baginya untuk pulih. Kalau itu terjadi, darahmu akan dihisapnya” kata senpai memperingatkan
Aku tahu yang dikatakan senpai adalah kebenaran, tapi kebenaran-nya berbeda dengan kebenaranku.
“Dia belum meminum darah manusia kan?”
“Saat ini belum, tapi kalau aku tidak mencegahnya, dia sudah meminum darahmu”
“Senpai salah. Sesaat, Arcueid tadi berhenti. Jadi meskipun tadi senpai tidak menghentikannya, hasilnya akan sama saja” kataku sambil berlari.
“Jadi kau tetap akan membelanya, Tohno-kun?”
“Ya. Maaf senpai”
Senpai terdiam. Tapi aku merasa mendengarnya menghela nafas.
“Mungkin kita akan saling berhadapan Tohno-kun”
“Mungkin. Tapi aku tidak akan meminta maaf kalau saat itu tiba”
Tanpa berbalik lagi, Aku langsung menuju pusat kota. Tidak ada seorangpun dijalan utama.
*****
“Sial!”
Sama saja dengan malam kemarin. Aku tidak punya petunjuk sama sekali tentang keberadaannya meskipun sekarang aku sangat ingin bertemu dengannya.
__Dia. Meskipun dia selalu kesakitan, aku tidak pernah bisa membantunya.
Aku terus berlari mencarinya keseluruh pelosok kota hingga aku merasa lelah. Aku masih belum bisa menemukannya. Tubuhku terasa panas, dan aku tidak bisa bernafas dengan benar. luka didadaku terasa sangat sakit.
Nafasku memburu. Aku tidak bisa menemukannya. Aku tidak akan menemukannya kalau terus berlari tanpa tujuan seperti ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ketaman dan mencarinya disana. Kami berjanji untuk bertemu disana. Malam ini, kami masih belum menepati janji untuk bertemu, dan berkeliling kota bersama. Jadi kalau aku tidak mau melanggar janji, dan Arcueid menganggap janji itu sangat penting, maka seharusnya dia kembali ketaman. Aku hanya bisa percaya dan menunggunya disana.
Waktu terus bergulir. Detik jam terus bergerak merekam waktu demi waktu.
Aku merasa kesal. Tubuhku seperti tidak mau diam. Aku ingin kembali berlari mencarinya keseuruh penjuru kota. Tapi aku harus tenang. Aku harus terus menunggunya disini.
Suasana taman saat ini benar-benar sepi. Tidak ada suara. Malam seakan membekukan semuanya. Dua jam lagi, matahari terbit. Setelah itu, mungkin aku dan Arcueid tidak akan pernah bertemu lagi.
Tiba-tiba aku melihat sesorang berbaju putih. Seperti kelinci yang berjalan diatas salju, dia mendekatiku.
Arcueid.
Tapi dia hanya terdiam.wajahnya menunduk sedih. Dia menghentikan langkahnya. Jarak antara kami berdua tidak begitu jauh, tapi juga tidak dekat.
“__Arcueid”
Aku memanggil namanya. Dia tidak menjawab ataupun melihat kearahku.
Aku tidak tahu harus bicara apa. Aku tidak tahu bagaimana membuatnya tersenyum lagi. Aku merasa setiap kata yang akan kuucapkan, hanya akan menambah kesedihannya.
...........
........... ...........
........... ........... ...........
Waktu seakan berhenti. Arcueid mengadahkan wajahnya seakan sedang melihat mimpi.
“Sudah kuduga kau tidak akan pulang Shiki. Jadi aku kembali kemari karena aku tidak bisa membiarkanmu sendiri. Padahal aku sempat berpikir untuk pulang kembali ke apartemenku.” Katanya dengan sikap ceria yang biasanya.
“Tentu saja aku tidak akan pulang. Aku pernah bilang kalau aku tidak akan melanggar janjiku lagi”
“___Sudah cukup. Kau tidak perlu melakukannya lagi.”
“Cukup? Apanya yang cukup, Arcueid?!”
“Apa aku harus mengatakanya lebih jelas, Shiki? Aku vampire sedangkan kau manusia biasa. Sejak awal aku tidak punya hak menerima bantuanmu. Dulu aku tidak mengerti, tapi kalau kita terus begini, Aku bisa menghancurkan hidupmu. Karena itu____”
Perlahan suaranya menghilang hingga tak terdengar.
Apa yang kau katakan? Aku sudah siap menanggung semuanya ketika aku setuju untuk membantumu. Aku sangat mengerti. Mungkin aku bahkan lebih mengerti dari kamu bahwa kau adalah vampire. Dan Aku tetap membantumu meskipun aku tahu itu.
“Arcueid, kau tidak perlu mencemaskan kejadian tadi. Saat ini kau lelah dan lemah. Aku begitu bodohnya hingga tidak menyadari bahwa selama ini kau sudah memaksakan diri. Kau menderita bukan karena lukamu bukan? Tapi karena naluri alamimu. Senpai sudah bercerita banyak tentang itu”
“Perempuan itu, sejak kapan agen dari Burial Agency menjadi cerewat?” kata Arcueid sinis.
“Aku sudah mendengarnya dari Senpai, jadi aku akan jujur padamu Arcueid. Aku tidak peduli sama sekali. Saat ini kau menderita, tapi semuanya akan baik-baik saja dalam beberapa hari ini. Jadi kau tidak perlu cemas. Dan tadi kau sudah berusaha menahan diri kan? Jadi tidak apa. Kita lanjutkan saja seperti selama ini”
Arcueid tersenyum lemah. “Kau tidak mengerti Shiki. Sekarangpun, Aku masih ingin menghisap darahmu.”
“Tapi itu karena kau memikirkannya. Kau bisa melawan dorongan itu. Bukankah selama ini kau telah berhasil?”
“Kau benar, sampai saat ini aku masih bisa melakukannya, tapi kurasa tidak akan lama.” Kata Arcueid “Kau tahu, sebenarnya tujuanku hanyalah memburu vampire, tapi hari ini, aku banyak melakukan hal yang sia-sia. seandainya aku tidak tahu apapun, aku tidak akan menginginkan apapun. Seandainya saja aku memburu musuhku sendiri tanpa mengandalkan bantuanmu, mungkin hasilnya akan lebih baik.”
Kau bilang lebih baik kalau sendiri? Apa kau serius? Dengan wajahmu yang tertunduk seperti itu? Dengan suaramu yang sedih itu? Dengan penampilanmu yang siap jatuh kapan saja seperti itu?
“__Kau membuatku marah, bodoh! Jangan bicara seperti itu!” bentakku
“Apa....?” Arcueid terkejut karena nada bicaraku yang tiba-tiba meninggi.
“Jangan bercanda! Apa maksudmu akan lebih baik kalau sendiri? Kau meminta bantuanku karena kau menyadari ada hal-hal yang tidak bisa kau lakukan sendiri kan? Jadi tidak apa kalau kau mau bergantung padaku sampai semua ini selesai! Aku akan membantumu apapun yang terjadi, jadi____”
Arcueid, tolong jangan melihatku dengan mata sedih seperti itu. Kalau kau begitu, aku___
Jika akhirnya kau menyadari bahwa hidup itu menyenangkan, tolong jangan menyerah dan melepaskan kebahagiaan itu.
“Shiki, kau menangis?”
“Siapa yang menangis! Buat apa aku menangis untukmu!” Aku mengatakannya dengan suara sesenggukan. Aku bisa merasakan air mata yang membasahi pipiku.
Ini gara-gara kau yang terus mengatakan hal-hal bodoh. Kata-katamu membuatku marah. Perasanku campur adauk didadaku.
“Pokoknya, kita kalahkan si Roa ini dulu. Setelah itu, aku bisa istirahat, dan semua selesai!” kataku sambil mengusap air mata.
Tersenyum, dengan matanya yang damai, Acueid memberiku sebuah anggukan.
“Tapi mungkin semuanya sudah terlambat, Shiki. Saat itu aku berhenti karena aku merasakan ketakutamu. Banyak orang yang takut dan menganggapku monster sampai saat ini, jadi aku sudah terbiasa dibenci atau ditakuti.” Kata Arcueid. “Tapi anehnya, aku tidak mau kau menganggapku sebagai monster. Tapi kenyataanya adalah, aku memang monster.” Tambahnya sambil memainkan lidah.
Dia kemudian memaksakan untuk tertawa. Tapi suara tawanya terdengar kering.
“Waktu itu, aku hanya terkejut”
Aku berbohong. Aku tidak punya pilihan lain selain berbohong.
Dengan sedih, Arcueid membuang muka.
Dulu Sensei pernah mengatakan bahwa sebuah kebohongan hanya akan menyakiti jika kebohongan itu tidak bisa menipu dirimu sendiri.
“Sesaat tadi aku berhenti. Aku takut. Aku takut dengan caramu melihatku. Aku takut kau akan melihatku seperti itu untuk selamanya. Karena itu, aku tidak mau melhatmu lagi.” Kata Arcueid.
“Apa__?”
“Kita berpisah disini, Shiki.” Katanya sambil berbalik. Dia menghindari pandanganku.
“Mungkin hubungan kita sudah terlalu dekat. Kita tidak bisa meneruskan ini lagi” tambahnya.
Mungkin dia benar. bagi kami, seandainya kami tidak saling mengenal, mungkin akhirnya tidak akan seperti ini. Aku akan tetap menjalani kehidupan normalku, dan dia akan tetap sendiri.
“Kau benar. kita terlalu dekat. Tapi menurutku tidak ada masalah. Karena tidakkah kau pikir bahwa kau merasa kesepian bila hanya sendirian saja?”
“_____”
Arcueid tidak menjawab. Meskipun Aku hanya bisa melihat punggungnya, Aku tahu kalau dia gelisah. Aku ingin memeluknya dan terus mendukungnya.
“Dan sejujurnya, aku sangat menikmati saat-saat kita bersama. Aku memang hampir mati, tapi kurasa tidak akan lebih buruk dari itu. Jadi ijinkan aku membantumu hingga selesai. Aku tidak akan bisa tidur tenang kalau membiarkanmu terus sendiri.”
“Tidak perlu mencemasakanku. Aku akan membunuh Roa bagaimanapun caranya. Aku akan menghancurkannya meski nayawaku taruhannya. Kau sudah cukup banyak membantuku, Shiki. Sebentar lagi, kota ini akan kembali normal. Jadi, jangan cemas.”
Aku tidak mendengar keceriaan seperti biasanya dari suaranya. Sudah cukup. Aku sudah tidak tahan lagi.
“Bodoh! Bukan itu yang Aku cemaskan” Aku berjalan mendekatinya.
“Ah__”
Arcueid berusaha menghindar. Tapi kupegangi tangannya, dan kupaksa dia berbalik melihatku.
“Karena kau tidak akan pernah mengerti kalau tidak kukatakan langsung, maka aku akan mengatakannya. Dengar! Aku membantumu bukan karena ingin menghentikan vampire dikota ini. Aku bukan orang idealis yang ingin melindungi kota.”
Benar. selama ini, aku berusaha membohongi diriku sendiri. Alasanku sebenarnya tidak semulia itu.
“Aku hanya menyukaimu, jadi aku setuju untuk membantumu. Sekarang, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.”
Aku mengatakan perasaanku sejujur-jujurnya. Kemudian kupeluk Arcueid seerat mungkin.
“Ah___”
Deg deg!
Arcueid terkejut. Tapi dia tidak melawan. Dia tetap berdiri menerima pelukanku.
Deg deg!
“Tidak ada salahnya kalau kau ingin meminum darahku.”
Deg deg!
“Shiki__sakit. Lenganku___”
Deg deg!
“Aku selalu menginginkanmu, Arcueid. Hanya dengan mendengar detak jantungmu, Aku___”
Deg deg!
“Tidak, Shiki. Ini hanya___”
Deg deg!
Aku ingin memeluknya. Terus memeluknya sampai mati.
“Saat ini, kalau aku mengatakan aku menyukaimu, Aku berkata jujur. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Atau jangan-jangan kau membenciku?”
Deg deg!
Detak jantung Arcueid semakin cepat.
“.....Bukan begitu, aku___”
Perlahan tangan Arcueid balas memelukku. Sangat lembut pada mulanya. Tapi kemudian semakin erat, seperti menjawab pertanyaanku dengan pelukannya. Tubuh kami semakin melekat erat.
Namun pelukan itu hanya sekejap saja. Aku tidak tahu siapa yang melepaskan pelukannya petama kali, tapi seperti telah direncanakan, kami berdua melepaskan pelukan kami.
Tersipu, Arcueid melihat kebawah.
Sekitar satu jam lagi, matahari terbit. Ketika malam telah berganti pagi, saat itu pula waktu bebas bagi Arcueid harus berhenti. Tapi aku tidak bisa berpisah darinya lagi.
“___Apartemenku.” Kata Arcueid berbisik.
“Eh?”
“Mmm, kita bisa pergi keapartemenku. Kalau kau bilang ingin melindungiku aku tidak ingin kau pergi.”
Suaranya tertahan. Tapi aku tahu apa maksudnya. Mengangguk, aku mengikuti Arcueid menuju apartemennya.
Aku masuk kedalam kamarnya sebelum Arcueid. Arcueid tepat berada dibelakangku. Kalau aku berbalik melihatnya sekarang, perasaan ini tidak akan terkendali. Tapi saat ini aku masih bisa berpikir jernih.
Aku sendiri tidak mengerti. Mungkin kotradiksi kegilaan dan kewarasan ini muncul karena Aku mencintai seseorang.
“Arcueid__”
Aku mencoba berbalik, tapi tiba-tiba aku merasakan tangannya yang bersandar dipunggungku.
“Jangan berbalik.... tetaplah seperti ini…. sebantar saja.” Suaranya terdengar sangat tenang. Tangannya tidak bergerak, seakan ingin memastikan sesuatu.
“Hey Shiki, kau ingat ketika pertama kali aku menunggumu?”
“Ya. Orang yang kubunuh menungguku sambil tersenyum. Bagaimana aku bisa lupa?”
“Ya. Dulu, aku sangat membencimu.” Suaranya terdengar sangat lembut.
“Arcueid__?”
“Aku tahu kalau aku tidak bisa menahan naluri alamiku lebih lama lagi. Karena itu aku mengejar Roa untuk terakhir kalinya. Tapi, tiba-tiba ada seseorang yang tak kukenal membunuhku dan mengacaukan semuanya. Karena itu, aku dulu sangat membencimu. Aku akhirnya menemukan siapa yang membunuhku. Aku duduk menunggumu di pembatas jalan lama sekali. Aku ingin kau segera muncul. Cepat muncul dan datang kemari. Setelah melihatmu, aku ingin membuatmu menderita seperti apa yang kurasakan. Aku membencimu. aku saat itu sangat membencimu sehingga seakan perasaan itu melompat keluar dari dadaku ketika aku menunggumu.”
Tangannya menekan punggungku lebih keras.
“Ar....Cueid....?”
“Tidak ada yang pernah membunuhku sampai seperti itu. Aku sedikit penasaran seperti apa dirimu. Aku belum pernah memikirkan seseorang sampai sedalam itu. Awalnya, yang ada hanyalah kebencian. Tapi semua berubah ketika aku mulai bertanya-tanya orang macam apa kamu ini. Kemudian aku ingin bertemu denganmu agar aku lebih mengerti tentang dirimu. Orang yang membunuhku, orang yang membuatku setengah gila, orang yang membuatku sangat penasaran.”
Aku merasakan desahan nafasnya menerpa punggungku.
“Shiki, kau bilang kesendirian menimbulkan kesepian, tapi itu salah. Ketika aku menunggumu, orang yang benar-benar membuatku penasaran, aku merasa bahagia. Aku ingin segera bertemu denganmu. Aku terus membayangkan kau itu seperti apa”
Arcueid melepaskan tangannya dari punggungku.
“Kalau kupikir-pikir lagi, saat itu aku mulai berpikir bahwa aku memerlukan orang lain. Aku merasa lelah terus berada dalam kesendirian. Kau bilang kalau kau menyukaiku, tapi kurasa aku sudah menyukaimu sejak sebelum kita bertemu”
Kata-katanya sangat lembut. Suaranya terdengar sangat manis. Tanpa ragu, Aku berbalik dan memeluknya.
“___N___”
Bibir kami bertemu. Aku tidak tahu siapa yang memulai. Mungkin kami berdua secara bersamaan. Kami melakukannya dengan sangat lembut. Ciuman ini membuatku lebih mengerti betapa pentingnya dia bagiku.
Menahan nafas, Aku menyalurkan semua perasaanku. Bibirnya yang tipis, bibirnya yang belum pernah tersentuh, sekarang menyentuhku. Hanya dengan memikirkannya saja membuatku bergairah. Tubuhnya sangat hangat dan menentramkan.
Tubuhnya sedikit gemetar. Tapi Arcueid tidak terlihat takut. Wajahnya yang memerah, terlihat sangat indah.
Aku masih belum benar-benar percaya. Yang berada didepanku adalah Arcueid yang sangat kucintai. Melakukan ini membuatku lebih mencintainya.
Bibir kami berpisah. Masih saling memeluk, mata kami melirik dengan malu-malu.
“Itu.....tadi...... ciuman ya?” kata Arcued tersipu. Matanya yang merah seakan menyelidikiku. Rambut emasnya melambai didepan mataku.
“___Kau menyukainya, Arcueid?”
“Ahahaha, jantungku berdebar kencang sekarang”
Ya. Aku bisa mendengar detak jantungnya. Atau yang kudengar ini detak jantungku sendiri? Dia melihat lurus mataku
“Tapi benarkah ini tidak apa-apa?” Aku bertanya
“Apanya yang tidak apa-apa?” Arcueid balas bertanya.
“Soalnya aku belum pernah mendengar ada vampire yang berciuman”
Tersipu, Arcueid tersenyum malu. Pertanyaanku rupanya mengena. Melepas kacamataku, kami merebahkan tubuh kami diatas tempat tidur.
*****
Kami tiduran didalam ruang yang gelap dan sepi.
“Aku.....lelah.....”
Aku melihat Arcueid yang tertidur pulas disampingku. Aku menjadi sedikit malu mengingat apa yang kami lakukan barusan. Tapi kau tidak menyesal bercinta dengannya. Ya mungkin sedikit menyesal sih. Seandainya aku melakukannya dengan sedikit lebih tenang, aku mungkin akan bisa lebih menikmatinya.
“Yah, pelan-pelan sajalah”
Aku sama sekali tidak ingat bagaimana kami melakukannya. Tapi aku masih ingat sensasi luar biasa yang kurasakan. Begitu lelahnya, mungkin aku tidak akan sanggup berjalan untuk sementara waktu.
“Hwaaaaaaah____!”
Menguap, aku melihat wajah tidur Arcueid. Aku benar-benar mencintainya. Dan dia menjawab cinta yang egois ini. Mungkin berbeda dengan caraku mencintainya, tapi Arcueid juga membutuhkanku.
Hanya dengan itu. Hanya dengan itu saja, Aku sudah merasa bahagia. Untuknya yang selalu sendiri, untuknya yang akhirnya membutuhkan orang lain, membuatku bahagia.
“Dan kau tahu, Arcueid, kau tidak akan sendiri lagi mulai saat ini”
Aku mulai merasa mengantuk. Memeluk tubuh Arcueid, Aku perlahan tertidur.
Dalam mimpi, Aku melihat Arcueid terbangun dan melakukan sesuatu. Dia sedang berbicara sendiri. Terus aku bertanya sedang apa kamu?
“Sudah bangun ya, Shiki?”
Tidak juga. Aku masih merasa mengantuk. Aku berterima kasih padamu telah membuat tubuhku lemas seperti ini.
“Benarkah? Ahahaha kau membuatku malu”
Arcueid tersenyum seperti anak kecil. Aneh sekali bisa melihatnya padahal mataku sedang tertutup. Tapi karena dia tampak bahagia, Aku tidak mempedulikan hal kecil seperti itu.
“Hey, Shiki?”
Apa? Kau lelah? Kau harus tidur sampai malam nanti.
“Bagaimana jika seandainya aku benar-benar menjadi vampire sejati? Apa yang akan kau lakukan?”
Pertanyaan yang aneh. Tapi itu tidak akan terjadi. Karena kau takut minum darah kan?
“Aku kan bilang ‘seandainya’. Mempertahankan hidup dengan mengambil hidup mahluk lain itu wajar bukan?”
Kita hentikan saja percakapan seperti ini. Aku tidak suka kata ‘seandainya’. Sepertinya Aku sudah pernah bilang begitu
“Benarkah? Aku suka ‘seandainya’. Tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi masih bisa berharap hingga saat-saat terakhir”
Ah, aku ingat, Arcueid pernah mengatakan hal yang sama sebelumnya.
“Aku juga sempat bertanya-tanya apa yang akan kulakukan kalau kau ternyata orang yang jahat”
Arcueid.........?
“Aku mencintaimu Shiki. Kau membuatku bisa merasakan semua ini, dan bisa membuatku berkata jujur. Kau terlalu baik.”
Kenapa? Kenapa kau menangis?
“Aku akan pergi sebelum kau bangun Shiki. Aku tidak akan sanggup mengucapkan selamat tinggal secara langsung. Jadi biarlah aku melakukannya dengan cara seperti ini”
Aku mendengar suara pintu. Meskipun Aku masih tertidur, Aku bisa mendengar suara pintu ditutup.
“______Mmmm”
Aku terbangun. Cahaya matahari masuk melalui jendela. Melihat jam, Aku sadar sekarang sudah hampir siang.
“AH, lupa! Sekolah!”
Aku bangun dengan tergesa-gesa.
Tunggu dulu. Sekarang hari minggu kan? Jadi tidak perlu pergi kesekolah. Kalau ada yang harus dicemaskan, itu karena aku menginap ditempat Arcueid tanpa bilang ke orang rumah.
Barusan sepertinya Aku mempi aneh. Aku bermimpi berbicara dengan Arcueid dan kemudian dia menciumku pada akhirnya.
Haha bermimpi ketika Arcueid tidur disampingku mungkin menunjukkan betapa bahagianya aku sekarang.
“Hey, Arc_____”
Aku melihat kesamping, dan suaraku tertahan.
“Ar.....cueid....?”
Tidak ada seorangpun disana. Arcueid tidak ada.
-Aku akan pergi sekarang-
Itu adalah kata-kata Arcueid dalam mimpiku.
“Tunggu dulu!”
Aku mencarinya diseluruh ruangan, tapi tidak ada. Yang kutemukan hanya secarik kertas diatas meja.
“Apa___?”
Aku tidak tahu ini hanya bercanda atau bukan. Tapi dalam kertas itu tertulis kata ‘selamat tinggal’.
“Kenapa?”
Aku tidak ingn percaya. Tapi Aku bisa mengerti kenapa Arcueid melakukan ini.
“Kenapa?”
Kau bercanda kan, Arcueid? ‘Selamat tinggal’. Kami berjanji. Kami berjanji untuk tetap bersama. Aku mengatakan akan membantunya sampai semuanya selesai.
Jadi kenapa?____ kenapa dia pergi sendiri lagi?
“Kenapa Arcueid____!!?”
Aku berteriak sekeras mungkin dan meremas kertas yang kupegang.
Setelah itu, Aku keluar kamar dan mencari Arcueid. Tapi kemanapun aku mencari, aku tidak bisa menemukannya. aku tahu. Sebenarnya aku sudah tahu kalau kami tidak akan bisa bertemu lagi. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan temukan dia, dan mengatakan betapa bodohnya dia.
Dia akan menyelesaikan urusannya dengan Roa. Mungkin dia malah sudah membereskan Roa dan meninggalkan kota ini.
Cip cip cip
Aku mendengar suara burung gereja.
Mataku menemukan sarang burung yang terlantar ditanah.
Aku lega karena tidak menemukan apapun didalamnya.
Aku menangis.
Air mataku bercucuran
Jadi inikah yang disebut patah hati?
Aku mulai berjalan.
Aku berjalan menuju rumah
Naluriku mengatakan Aku harus pulang sebelum Aku menjadi gila.• Read More..
Labels:
Tsukihime: Arcueid Ending
Subscribe to:
Posts (Atom)