Musim panas.
Hari terasa panas.
Langit biru yang luas yang dihiasi awan putih.
Suara-suara burung gereja terdengar.
Cip cip cip
Cip cip cip
Cip cip cip
Cip cip cip
Terdengar jelas, membuatku ingin mati saja.
Hari yang sangat panas
Dunia terasa seperti dalam penggorengan.
Uwaaaa, uh uh
U, waaaaa,
Suara Akiha yang sedang menangis.
Seorang anak tergeletak dibawah kakinya.
Bersimbah darah.
Terbunuh
Mayat seorang anak laki-laki seumurku.
Sura burung gereja tidak terdengar lagi.
Kedua tanganku
Berwarna merah
Darah dari anak yang tergeletak itu
“AKIHA!!!!”
Orang-orang dewasa berlari mendekat.
“Apa yang__!!!!”
Salah satu dari mereka mearik Akiha pergi.
Anak yang tergeletak itu mati.
Orang-orang dewasa berteriak.
“Apa kau membunuhnya?”
Mereka meneriakiku.
Menyebut namaku, dan mengatakan kalau aku telah membunuhnya.
Mereka terus berteriak seperti orang gila.
Mereka memanggilku SHIKI
****
“Shiki-sama, jika tidak bangun sekarang, nanti anda terlambat”
Mendengar namaku dipanggil, aku membuka mataku.
“Hisui?”
“Selamat pagi, Shiki-sama” Hisui menyapaku dengan membungkukkan badannya.
Sinar matahari masuk melalui jendela. Aku berada didalam kamarku.
“Hi, Hisui…?”
“Shiki-sama. Apakah anda merasa kurang enak badan?”
“Ah, tidak. Aku hanya…. bermimpi…. apa ya?” aku tidak bisa mengingat detil mimpiku.
Hisui sedikit memiringkan kepalanya kebingungan.
Sudahlah, tidak ada gunanya menceritakan ini semua ke Hisui. Mampi tadi___ apa-apaan? Sepert sesuatu…. SESUATU YANG SANGAT KUKENAL.
SHI…KI? orang-orang dewasa itu memangilku SHIKI
“Ada apa Shiki-sama?”
“Tidak. Tidak Apa. Maaf, aku akan segera ke ruang makan.”
Mengangguk, Hisui berjalan menuju pintu kamarku.
Tap tap tap
Suara langkahnya terdengar lebih mantap. Sampai di pintu, dia berbalik.
“Shiki-sama, kalau saya boleh tahu, jam berapa anda pulang tadi malam?”
“Ah, kemarin? Mmm… cukup larut”
“Shiki-sama, anda mengatakan kalau anda akan pulang jam 4 sore. Apakah ada perubahan jadwal?”
Ah, aku ingat. Kemarin aku mengatakan itu kepada Hisui. Mungkin dia menungguku jam 4 sore.
“Maaf. Banyak hal terjadi, dan aku tidak bisa pulang tepat waktu. Lain kali tidak akan terjadi. Jadi kuharap, kau mau memaafkanku untuk yang kemarin”
“Anda tidak perlu mengatakan hal tersebut, Shiki-sama. Tugas pelayan adalah menyesuaikan dengan jadwal tuan mereka. Namun, saya mohon, bila terjadi perubahan jadwal seperti kemarin, anda menelepon rumah terlebih dahulu. Apapun yang terjadi, saya yakin anda masih bisa menghubungi rumah.”
“Kau benar. Maaf. Lain kali, aku akan tepat waktu”
“Saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi.”
Tadi itu…. Sepertinya Hisui sedikit marah. Biasanya dia tidak pernah menunjukkan ekspresi, jadi mungin dia akan menjadi sangat mengerikan kalau marah.
“Ok, baiklah. Saatnya bangun” melempar selimut, aku bangun dari tempat tidurku. Dan tiba-tiba__
“AKH!”
Tubuhku terasa sangat sakit. Sakit ini, tidak berasal dari lukaku semalam. Sakit ini dari tempat yang lebih dalam, di dekat jantungku.
“Aaaa…gh…” mencengkram selimut, aku berusaha menahan sakit. Dan setelah itu, rasa sakit tiba-tiba menghilang.
“Luka… di dada?” aku menyentuh dadaku. Meskipun lukaku sudah sembuh, tapi kadang masih terasa sakit seperti barusan. Dokter mengatakan kalau lukaku sudah sembuh, tapi luka psikologisku membuatku terus-terusan mengingat rasa sakit yang pernah kualami.biasanya sakit ini muncul juka aku melihat sesuatu yang berwarna merah. Darah dan kematian, pasti membuatku mengingat kembali kejadian 8 tahun lalu.
“Mungkin gara-gara tadi malam”
Gang yang berwarna merah. Dan wajah Yumizuka yang tersenyum.
“UG___H!!”
Dadaku sakit.
Bayangan Yumizuka tidak mau meninggalkan pikiranku.
Tapi aku tidak tahu apa yang harus kkulakukan, apa yang bisa kulakukan.
“Si..al”
Menyeka keringat, aku bangun dari ranjang. Setelah mengganti piyamaku dengan seragam sekolah, aku menuju ruang makan.
Akiha dan Hisui berada disana. Kohaku mungkin ada di dapur menyiapkan sarapanku.
“Selamat pagi, Kak”
Akiha yang duduk di sofa menyapaku.
“Ah, selamat pagi. Maaf soal kejadian kemarin” Balas menyapa, aku duduk di salah satu kursi. Aku tidak punya banyak waktu untuk tinggal dan mengobrol dengan Akiha, dan saat ini aku memang sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.
“Kak, saya ingin berbicara sedikit dengan kakak. Bisakah?”
“Baiklah, tapi jangan lama-lama, soalnya aku harus berangkat ke sekolah”
“Baiklah, melanjutkan pembicaraan tadi malam, apa yang kakak lakukan kemarin?” Akiha bertanya dengan pandangan yang lurus dan menusuk.
“Tidak ada. Hanya…. Jalan-jalan. Maaf kalau aku pulang terlambat, tapi itu bukan masalah besar, kan?”
“HANYA berjalan-jalan di tengah malam itu masalah besar! Kakak masih SMA, jadi jangan keluyuran malam-malam. Selain itu banyak kejadian yang terjadi setiap malam akhir-akhir ini”
Ah___ kejadian, pembunuhan yang terjadi tiap malam. Kenapa aku tidak menyadarinya? Pembunuh itu membunuh orang dan menghisap darah mereka. Sangat pas dengan apa yang dilakukan oleh Yumizuka kemarin.
“…. Saya ingin Kakak sedikit meluangkan waktu untuk beristirahat. Jika Kakak pulang dengan seperti kemarin, saya akan cemas. Jika Kakak memiliki masalah, katakan padaku. Mungkin tidak banyak, tapi kalau saya bisa…”
Aku tidak ingin memikirkannya, tapi….. Yumizuka. Yumizuka mungkin saja pembunuh yang berkeliaran itu.
“Kak? Kau mendengarkan?”
“Eh?__Umm, ya. Aku mendengarkan” Aku mendengarkan Akiha, tapi dalam kepalaku, aku terus memikirkan Yumizuka kemarin malam.
“Jadi, Kakak tidak bisa menceritakan kejadian kemarin malam?”
“Ya. Lagipula, tidak ada hubungannya denganmu, Akiha” aku mengatakannya agar percakapan ini segera selesai.
“Baiklah, saya mengerti. Silahkan. Silahkan saja berbuat semau kakak. Saya jugan akan berbuat semau saya” Akiha kemudian keluar menuju lobi dengan kesal.
“Shiki-sama., benarkah ini tidak apa-apa?”
“Apanya, Hisui?”
“Saya percaya bahwa sebenarnya Akiha-sama sangat mencemaskan anda. Tapi mungkin sulit bagi Akiha-sama untuk mengutarakannya karena beliau jarang menunjukkan perasaannya.”
“Aku tahu itu, tapi sekarang… kepalaku penuh dengan … ah, sudahlah. Aku minta maaf”
“………” Hisui terdiam menanggapi reaksiku.
“Shiki-saaan, sarapaaaaan!” terdengar Suara Kohaku dari dapur.
*****
“Shiki-sama, jam berapa anda akan pulang nanti?”
“Karena ini hari sabtu, jadi aku pulang jam…. Sebentar… mungkin sore. Ada sesuatu yang harus kulakukan.”
“Saya mengerti. Jaga diri anda baik-baik” Hisui membungkuk dengan dalam.
Setelah Hisui mengantarku hingga gerbang, aku berangkat menuju sekolah.
*****
Tidak ada gunanya pergi ke sekolah. Yumizuka hanya dianggap murid yang absen, dan tidak ada seorang temanpun yang peduli padanya. Waktu berjalan dengan cepat. Mungkin Arihiko dan Ciel-senpai sempat menghampiriku, tapi aku tidak begitu ingat. Siang datang, dan sekolah usai.
Aku tidak tahu dimana, tapi aku harus menemukan Yumizuka. Aku berjalan mencarinya berkeliling kota. Tapi tidak juga aku menemukannya. Akhirnya matahari mulai terbenam. Hingga selama ini pun, aku belum juga melihat tanda-tanda Yumizuka dimanapun.
“Cih…” aku menggigit bibirku dengan kesal. Tapi bukan marah karena aku tidak bisa menemukannya, tapi karena dua hari yang lalu aku pernah berjanji padanya.
___ Jadi, kalau aku dalam bahaya, kau akan segera datang dan menyelamatkan aku bukan?
Dia pernah meminta seperti itu, dan aku menjawabnya Ya. Aku akan mencoba semampuku. Tapi sekarang, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Menatap matahari yang semakin tenggelam. Mungkin aku baru bisa menemukannya setelah malam tiba.
“Tapi aku berjanji akan pulang sore hari”
Baiklah, aku akan kembali ke rumah dulu, dan memikirkan tindakkanku selanjutnya di kamar.
****
“Selamat datang, Shiki-sama”
“Aku pulang, Hisui. Mana Akiha?”
“Akiha-sama masih ada kegiatan di sekolah. Karena beliau mungkin datang terlambat, bagaimana kalau anda makan dulu?”
Kegiatan ya? Mungkin saja banyak kegiatan disekolahnya. Karena sekolahnya adalah sekolah putri yang sangat prestisius.
“Aku akan di kamar hingga waktu makan malam dan akku akan turun kalau makanan sudah siap”
“Baiklah, selamat beristirahat”
Berbalik, aku meninggalkan Hisui menuju kamarku.
*****
Makan malam usai. Setelah itu, aku hanya duduk-duduk di kamarku saja. Jarum jam menunjukkan jam sembilan malam. Karena jam malam rumah ini adalah jam 8, aku sudah tidak bisa keluar lagi.
Tapi itu hanya peraturan. Kalau mau, aku bisa saja keluar kapanpun. Aku tidak mau meninggalkannya sendirian. Aku tahu kalau mencari Yumizuka sekarang itu bisa berbahaya. Karena apapun alasannya, dia sudah membunuh banyak orang.
Saat itu, ketika kami pulang bersama, aku tidak bisa melupakan kata-kata terakhirnya.
"Aku akan mencarinya"
Aku mengganti bajuku, dan menyelipkan pisau dalam kantungku. dengan mengendap-endap, aku menyusup keluar rumah agar tidak membangunkan Akiha atau yang lainnya.
Lampu lobi mati. Sangat gelap dan sepi. Sangat sempurna untuk menyusup keluar.
Crek, crek
Hanya suara deritan tangga kayu yang kuinjak yang terdengar. menuruni tangga, aku bergerak menuju pintu depan. dan kemudian....
"__Kak? kakak mau kemana malam-malam begini?"
Akiha berdiri di tengah lobi, bertanya dengan suara yang hampir berbisik
"A, Akiha? kau sudah pulang rupanya"
"Ya. beberapa saat yang lalu. Tapi kak, yang lebih penting__ apa yang kakak lakukan? kakak berganti pakaian, jadi kelihatannya kakak mau pergi keluar"
Tatapan Akiha dingin menusuk dadaku. Bukan tatapan marah, tapi dia menatapku tidak percaya.
"Kakak hendak pergi keluar, dan mencari perkara seperti kemarin, bukan begitu Kak?"
"....... Maaf, temanku sedang dalam masalah. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri"
"Begitu ya. Apakah kakak akan tetap pergi meskipun saya berusaha menghentikan kakak?"
"Ya. tapi percayalah. aku tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku hanya ingin.... memeriksanya saja. Maaf aku sudah bikin masalah, padahal kau baru saja pulang"
Setelah mengatakan itu, aku melangkah keluar.
"... Kak ...." suara yang lembut. Tidak terdengar nada bicara Akiha yang biasanya. Seperti suara Akiha kecil 8 tahun yang lalu, yang selalu dipenuhi ketidak berdayaan.
"Kakak akan.... pulang bukan?" Suara Akiha dan wajahnya yang rapuh. Wajah Akiha yang terlihat selalu siap menangis, seperti 8 tahun yang lalu.
"Tentu saja. aku akan pulang. jadi jangan melihatku dengan wajah seperti itu"
"Tapi...."
"Tenang saja. Aku pasti kembali. Maaf, aku selalu membuat masalah"
"Kkakak!"
Tidak mengacuhkan panggilan Akiha dibelakangku, aku berlari keluar.
__Diluar, bulan bersinar terang.
Mungkin gara-gara melihat wajah Akiha tadi, aku jadi merasa aku tidak akan pulang selamanya.
***
Akhirnya aku tiba di distrik perbelanjaan. Kemungkinan besar Yumizuka akan muncul disini. Karena semua korban pembunuhan ditemukan disekitar distrik ini.
"Sial! apa yang sedang kupikirkan?!"
Aku mengumpati logikaku sendiri. Tapi paling tidak kemungkinanku bertemu dengannya disini lebih besar dari pada ditempat lain.
Aku mulai mencari Yumizuka.
Dimana dia? Dimana dia? Dimana dia? Aku tidak bisa menemukannya. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
*hosh hosh hosh*
Aku berlari, berlari, dan berlari.
*hosh hosh hosh*
Berlari dan terus mencari.
*hosh hosh hosh*
Tubuhku terasa panas karena kelelahan.
Sekarang hampir tengah malam. Mungkin sudah tidak ada gunanya mencari. Tapi masih ada satu tempat yang belum kucari.
Meninggalkan distrik perbelanjaan yang terang, aku menuju taman yang gelap. Karena pembunuhan berantai akhir-akhir ini, tidak ada seorangpun yang berada disini. Aku sendiri tidak pernah berharap menemukan Yumizuka disini, tapi tempat inilah satu-satunya tempat yang belum kucari.
Sepi. Dibawah sinar bulan ini, aku tidak merasakan adanya kehidupan. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa bulu kudukku berdiri semua. Kepalaku terasa berat, dan tubuhku terasa sangat dingin. Aku ketakutan.
Aku berusaha mengatur nafasku dan mengumpulkan keberanian. Berbeda dengan tubuhku yang dingin, tenggorokanku terasa panas mencekat, kering kehausan. Kumasukkan tanganku kedalam kantong celana, untuk memastikan bahwa aku membawa pisauku.
Ada yang aneh. Taman ini memancarkan aura buruk. Tapi aku terus berjalan menuju pusat taman.
Disana, aku melihat seseorang. Berlutut, dan bernafas. Dengan kesulitan. Wajahnya pucat, dia mencengkram lehernya sendiri, tampak kesakitan.
Yumizuka Satsuki.
“Yumizuka?” Akhirnya aku menemukannya. Tanpa memikirkan kejadian kemarin malam, aku berlari kearahnya.
“Jangan!” Yumizuka menghenikanku hanya dengan kata-katanya.
“Jangan Shiki-kun. Aku senang kau datang, tapi saat ini aku tidak ingin kau berada di dekatku. Kumohon, jangan mendekat”
Suara nafasnya menunjukkan kalau dia sedang menahan sakit. Tubuhnya gemetaran ketika dia berbicara, dia terlihat siap pingsan kapan saja.
“Dasar bodoh! Kau sakit! Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri”
“Tidak. Aku baik-baik saja. Karena kau datang, sekarang aku baik-baik saja” memaksakan diri untung berdiri, dia tersenyum padaku.
“Ada apa Yumizuka-san? Kenapa kau tidak pulang? Dan apa-apan kemarin itu? Kenapa …. Kemarin…. kau ….mereka….”
“Ya? Kenapa dengan kemarin?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti”
“Benarkah? Kau melihat apa yang terjadi kemarin bukan? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku yang membunuh orang-orang itu?” katanya tanpa ragu.
Dia terlihat seperti menertawakan kebingunganku.
“Apakah pembunuhan berantai akhir-akhir ini….. kau yang melakukannya, Yumizuka?”
“Pembunuhan? Aku tidak suka dengan kata itu. Tapi kalau kau bertanya, Ya. Aku yang melakukannya”
“Apa maksudmu?”
“Seperti itulah. Aku yang membunuh mereka, dan aku akan terus melakukannya”
“Yumizuka___kau..”
“Ayolah, aku memanggilmu Shiki-kun. Kuharap kau juga memanggil nama kecilku. Kau tahu, aku merasa sangat bodoh. Aku tidak pernah bisa berbicara seperti ini denganmu. Aku selalu melihatmu dari kejauhan.
“Yumi…zuka?”
“Selalu. Bahkan sejak sebelum kejadian di gudang olahraga, aku selalu melihatmu. Aku benar-benar seorang pengecut. Aku selalu mengiyakan semua perkataan temanku bila nampaknya benar. Sekolah tidak pernah menjadi tempat yang menyenangkan, Shiki-kun, sampai kau berbicara padaku. Waktu itu, kelas dua SMP”
“Eh?”
“Sudahlah, kau pasti tidak mengingatnya. Waktu itu kau… bagaimana mengatakannya ya? ….. tampak natural. Tidak pernah menonjolkan diri. Kau mungkin tidak pernah memikirkan apa yang sudah kau lakukan waktu itu”
Apa yang bisa kukatakan. Yang dikatakan Yumizuka benar. Aku tidak pernah mengingat apa yang sudah kulakukan. Aku tidak tahu apa yang kukatakan padanya. Aku bahkan tidak ingat kalau aku pernah bicara padanya waktu itu.
“Tidak apa, Shiki-kun. Janganlah berwajah seperti itu. Kau hanya mau bergaul dengan Inui-kun, jadi tidak heran jika kau tidak mengacuhkan teman sekelas lainnya. Tapi, kau tahu, hanya dengan sekelas denganmu saja, aku sudah merasa senang. Aku hanya ingin bercakap-cakap denganmu, dan mendengarmu memanggil namaku. Benar-benar impian yang sangat kecil, bukan?”
Dia mengatakannya dengan menerawang. Terlihat bernostalgia dengan kenangannya. Hari-hari itu, dia mengingatnya seakan telah lama berlalu.
“Aku selalu melihatmu. Meskipun aku tahu, tidak mungkin kau memberiku perhatianmu, tapi aku terus melihatmu.”
Jujur saja, aku merasa senang ketika dia mengatakannya.
“Kau menyukaiku, Shiki-kun?”
Mendapat pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba, membuatku bingung untuk menjawab. Diam adalah jawabanku.
Aku tidak pernah memiliki perasaan khusus terhadap teman sekelasku yang bernama Yumizuka Satsuki. Aku mencarinya hanya karena apa yang terjadi dua hari yang lalu membuat sebuah impresi yang sangat kuat di dalam kepalaku.
“Sudah kuduga. Kau mungkin bahkan tidak menyadari keberadaanku. Tidak mungkin kau menyukaiku__ AGH!!!”
Tubuh Yumizuka kembali gemetaran. Nafasnya memburu, dan tiba-tiba saja terjatuh berlutut. Dengan suara tercekik, Yumizuka memuntahkan darah dari mulutnya.
“YUMIZUKA!!”
Kali ini aku berlari kearahnya.
“Kau tidak apa-apa? Yumizuka!!”
Aku berusaha membopongnya, namun saat itu juga, aku merasa semua bulu kudukku berdiri. Aku merasakan tubuhnya yang, sangat dingin.
“Shiki-kun”
Suaranya yang gemetar memanggil namaku.
“Tidak apa….. jika kau tidak menyukaiku.”
Yumizuka terbatuk.
“Jangan bicara dulu. Akan kubawa kau ke rumah sakit sekarang”
“Tapi aku mengerti sekarang. Siapa dirimu, dan apa yang kau inginkan. Sekarang aku mengerti semuanya tentang dirimu. Karena….. aku sekarang telah berubah menjadi sesuatu yang sama denganmu, Shiki-kun”
Setelah mengatakannya, Yumizuka menancapkan taringnya ke leherku.
“A~ah…..”
Kabur. Kesadaranku mulai mengabur. Aku merasakan taring Yumizuka di leherku. Darahku di hisap. Rasanya jiwaku juga ikut di hisapnya. Kekuatanku menghilang perlahan.
“Yumi….zuka….”
Kedua lenganku bergerak dan mendorong tubuhnya menjauh dengan paksa. Dia kemudian jatuh terduduk.
“Kau… apa yang kau….” Dengan sisa-sisa kekuatanku, aku mencoba berdiri. Namun gagal. Aku tidak punya cukup kekuatan. Bekas gigitan Yumizuka membekas di leherku. Dan di dalam kedua lubang itu, aku bisa merasakan ada sesuatu yang memasuki tubuhku. Menginvasi. Sesuatu yang menyiksaku. Tubuhku terasa terbakar.
Sakit sakit sakit sakit
Dalam kesakitan, aku mencakari tanah.
Sakit sakit sakit sakit.
Dalam kesakitan, aku menggelepar di lantai.
Yumizuka melihatku dengan senyumnya.
“Jangan cemas, Shiki-kun. Rasa sakit itu hanya sementara. Setelah darah kita bercampur, rasa sakit itu akan menghilang. Jangan cemas. Kali ini aku melakukannya dengan sempurna. Kau tidak akan menjadi mahluk gagal seperti kemarin malam. Sekarang, kau akan besamaku selamanya.” Yumizuka terlihat kegirangan
“A, apa yang kau katakan? Yumizuka?”
“Aku bilang, aku menjadikanmu sama denganku, Shiki-kun. Kau akan menghisap darah, abadi, dan tidak bisa berjalan dibawah sinar matahari. Kau akan menjadi mahluk yang berbeda”
Jangan bercanda. Itu sama saja dengan menjadi…..
“Kau akan menjadi seorang Vampire. Kau tahu, aku sendiri tidak tahu kenapa bisa menjadi seperti ini. Dua malam yang lalu, aku hanya berjalan-jalan di distrik perbelanjaan. Dan kemudian, tiba-tiba saja aku mendapati diriku terkapar di gang kemarin. Awalnya aku merasa dingin dan sakit. Kemudian, secara aneh, tubuhku berubah dan aku seperti mengerti semuanya. Tubuhku sakit karena hancur dengan sangat cepat. Dan sinar matahari yang menjadi katalisnya. Dan untuk menggantikan sel-sel tubuhku yang rusak, aku perlu memperoleh informasi genetik dari mahluk hidup yang sama jenisnya dengan diriku dulu. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku mulai menghisap darah manusia secara acak. Dan kau tahu apa? Rasanya nikmat sekali! Rasa sakitku menghilang, dan rasanya aku seperti bisa melakukan apapun yang kuinginkan. Aku tidak menyesal karena aku melakukannya untuk bertahan hidup. Aku membunuh bukan karena aku menyukainya. Aku menghisap darah seperti layaknya manusia memakan daging ayam. Karena itulah, aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Awalnya memang seperti itu, tapi akhir-akhir ini menghisap darah menjadi sebuah kegiatan yang menarik. Kau mengerti bukan, Shiki-kun? Pastinya. Karena kau adalah seorang pembunuh yang jauh lebih baik daripada aku”
”Ap___”
Apa yang kau katakan, Yumizuka?
“Sudah kubilang aku selalu melihatmu. Karena itu, aku tahu sisi lembut dan sisi mengerikan yang ada dalam dirimu. Aku dulu tidak berani berbicara padamu karena aku tidak mengerti sisi mengerikanmu. Tapi sekarang aku mengerti. Kau sama denganku. Tidak masalah apakah kau menyukai atau membenci seseorang. Kau bisa membunuh siapapun yang kau inginkan”
“Jangan bercanda.” Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk membunuh
“Aku tidak bercanda!” kata Yumizuka keras. “Aku dulu tidak mengerti aura rapuh yang terpancar dari dirimu. Tapi karena sekarang tubuhku sudah berubah, aku mengerti semuanya. Ada orang-orang yang terlahir sebagai pembunuh alami, dan diantara mereka, kaulah yang terbaik. Kau tahu, aku sangat gembira kemarin. Pertama kalinya aku merasa senang setelah tubuhku berubah menjadi seperti ini. Karena akhirnya aku bisa mengerti dirimu sepenuhnya.”
“Jangan bercanda! Aku tidak pernah…..” aku tidak pernah? Ya aku memang pernah merasakan keinginan yang sangat kuat untuk membunuh seseorang.
“Sebuah keinginan membunuh, tanpa pengaruh dari emosi. Sisi rapuhmu yang selalu ingin kuketahui. Ah, aku lupa mengatakan satu hal lagi. Kau tahu bahwa seseorang menjadi vampire setelah darahnya dihisap oleh vampire bukan? Itu benar. Lebih tepatnya orang yang dihisap darahnya akan mati. Kemudian vampire akan menitikkan setetes darah kepada tubuh korban agar mereka menjadi bangsanya. Dan aku telah memasukkan setes darahku kedalam tubuhmua melalui gigitan tadi” Yumizuka mengatakannya dengan penuh kepuasan.
“Jadi… ini … ulah darahmu?”
Rasanya sakit sekali. Cukup untuk membuatku jadi gila.
“Baiklah, kurasa sudah cukup. Berdirilah, Shiki-kun”
Aku mendengar perintah Yumizuka. Perlahan rasa sakit yang kuderita menghilang. Aku kemudian berdiri.
“Bagus. Mulai sekarang, kita akan terus bersama, Shiki-kun. Kemarilah. Genggam tanganku, dan buatlah aku menjadi nyaman.”
Yumizuka menjulukan tangannya.
Jantungku berdebar keras. Kakiku mulai melangkah. Tapi tidak melangkah kedepan. Kakiku melangkah mundur.
“Shiki…kun?” Suara Yumizuka terdengar bingung.
Dadaku berdebar kencang.
Tenggorokanku terasa kering.
Seluruh tubuhku mengenali mahluk yang berdiri didepanku sebagai musuh.
Nafasku mulai memburu.
Aku berusaha melawan pengaruh ‘racun’ yang dimasukkan Yumizuka kedalam tubuhku.
“Kenapa? Kenapa kau tidak mengikuti perintahku?”
Deg deg
Jantungku berdetak semakin keras
Deg deg
Inikah naluri yang dikatakan oleh Yumizuka barusan?
Deg deg.
Naluri membunuh.
Deg deg.
Detak jantungku semakin keras, menyuruhku untuk mebunuh, dan membunuh.
“Kenapa? Kenapa darahku tidak bereaksi?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku memang merasa seperti ada lumpur di dalam tubuhku.” Dan itu pastilah darah vampire Yumizuka.
“Sudahlah Yumizuka-san. Percuma kau melakukan semua ini. Kau sedang sakit. Kita sekarang akan pergi ke rumah sakit, dan mencari cara untuk mengembalikantubuhmu seperti semula.”
Aku tidak ingin melihatnya tersiksa. Tapi dia melihatku dengan tatapan amarah.
“Darahku sudah bercampur dengan darahmu. Kau seharusnya sudah menjadi bagian dari diriku! Jangan-jangan…. Kau sudah berada dalam pengaruh seseorang sekarang?”
“Aku tidak tahu.Yang aku tahu adalah____ kau mengatakan gelap, dingin, dan sepi. Yang aku ingat adalah wajahmu yang tersenyum, memintaku untuk membantu setiap kali kau dalam kesulitan.”
Sejujurnya, aku tidak tahu vampire itu mahluk yang seperti apa. Tapi jika kau harus membunuh dan menghisap darah untuk bertahan hidup, dan kau masih merasa kesakitan, berarti kau harus mencari cara untuk mengubah tubuhmu kembali.
“Apakah kau masih merasa sakit?”
“Ya” jawab Yumizuka. Kadang aku masih merasa sakit hingga sekarang. Nadiku masih serapuh dulu. Jadi, aliran darah saja terasa sangat sakit. Lembut dan lemah. Mudah pecah kapan saja. Tapi selama aku menghisap darah, rasa sakit itu akan menghilang”
“Apakah kau masih merasa sakit?”
“Ya.” Jawab Yumizuka. “Hatiku terasa sakit. Karena aku harus menghisap darah orang lain untuk bertahan hidup. Aku memang tidak menganggap itu salah, tapi tetap saja hatiku terasa sakit. Aku takut jika diriku yang dulu benar-benar akan menghilang. Tapi aku tidak akan setakut itu jika aku tidak sendirian.”
“Kau bilang kau kedinginan”
“Ya” jawab Yumizuka.”Rasanya dingin sekali hingga jariku seperti membeku. Tapi kuarasa hal itu tidaklah buruk. Aku hanya tidak lagi bisa merasakan kehangatan.”
“Pernahkah kau meminta tolong?”
“Ya.” Jawab Yumizuka. “Tapi aku sudah tidak bisa tertolong lagi.”
“Kenapa?”
“Kenapa? Aku juga ingin tahu. Ketika aku terbangun, tiba-tiba saja tubuhku sudah menjadi seperti ini. Mungkin akan lebih baik kalau aku mati saja.”
“Kau bicara apa?!” Tidak mampu menerima kenyataan, secara tidak sadar aku berteriak.
Yumizuka tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Dua hari yang lalu….” Kata Yumizuka. “Aku adalah mahluk sepertimu. Rasanya benar-benar seperti mimpi. Aku baru menyadari berharganya saat-saat itu setelah aku kehilangan. Ya__ benar-benar seperti mimpi. Aku bersedia memberikan apapun jika aku bisa kembali seperti dulu.”
“Kalau begitu___”
“Tapi tidak mungkin, Shiki. Aku sudah tidak bisa kembali lagi. Aku harus terus hidup seperti ini. Kedinginan, kesakitan, dan…. kesepian”
Yumizuka terlihat sedih. Tubuhnya yang dingin gemetar.
“Aku kedinginan dan selalu kesepian kemanapun aku pergi” suara yang terdengar samar-samar keluar dari mulutnya.
Aku teringat janji yang kuucapkan dua hari yang lalu.
“Aku akan menolongmu. Aku akan melakukan apapun untuk___”
“Ha ha ha ha” tawa yumizuka memotong kalimatku. “Apakah kau masih berpikiran untuk mengubahku menjadi seperti dulu, Shiki-kun? kau benar-benar baik. Benar-benar terlalu baik untuk seseorang yang suka membunuh sepertimu.”
Yumizuka tertawa gembira.
“Tapi ada satu cara jika kau benar-benar ingin menolongku” mengatakannya, Yumizuka melangkah maju.
Deg deg
Aku merasakan adanya bahaya.
Deg deg
“Caranya sangat mudah, Shiki-kun.”
Deg deg
“Kau cukup menjadi temanku saja”
Mata Yumizuka berubah merah dan menatap tajam seperti menembus jantungku. Aku sadar aku sedang menghadapi bahaya, tapi kakiku tidak mau kusuruh bergerak.
“Dengan begitu, aku tidak akan merasakan lagi kesakitan, kedinginan, dan kesepian. Bahkan jika aku bisa bersamamu, maka aku akan merasa jauh lebih bahagia daripada ketika aku masih menjadi manusia.”
Deg deg
Jantungku berdetak semakin keras.
Deg deg.
Yumizuka meraih leherku dengan tangannya.
Deg deg.
Dengan cepat aku segera menggerakkan kepalaku, dan menjatuhkan diri ke tanah.. Akhirnya kakiku mau juga kupaksa untuk bergerak.
Penyerang, dan yang diserang saling menatap, saling terkejut.
“Begitu ya” kata Yumizuka memecah keheningan. “Kukira akan mudah untuk membuatmu jadi milikku.” Matanya yang merah terlihat haus darah.
Setiap rambut di seluruh tubuhku berdiri karena ketakutan. Dan tanpa sadar, aku mengambil pisau dari saku celanaku. Aku kemudian menggerakkan pisauku dengan gerakan yang lebih cepat daripada suara terkejutku sendiri.
“Eh?” tiba-tiba saja aku menebas paha Yumizuka.
Suara Yumizuka berteriak kesakitan terdengar keras. Ketika kulihat pisau ditanganku, aku melihat darah, dan kemudian aku menyadari jika paha Yumizuka telah sobek.
Kesadaranku kembali. aku segera berlari menuju Yumizuka yang bergulingan kesakitan di tanah.
“Ke, kenapa aku__”
Aku tidak tahu.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menebasnya. Aku hanya teringat ketika aku merasa ketakutan, dan tiba-tiba saja paha Yumizuka telah tersobek.
Hosh hosh!
Darah Yumizuka menghiasi mata pisauku.
Hosh hosh!
Aku bernafas seperti telah berlari jarak jauh.
Hosh hosh!
Aku masih mengingat sensasi ketika aku memotong paha Yumizuka.
Mengingatnya membuat nafasku semakin memburu.
Aku merasa takut. Dan dalam ketakutan itu, aku merasakan adanya kesenangan yang luar biasa.
Yumizuka berusaha membunuhku. Dan tubuhku bereaksi dengan sendirinya.
Aku harus lari. Kalau aku terus disini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti.
Tapi untuk apa aku lari? Tentu saja. Jika tidak, mahluk itu akan membunuhku. Maku bisa merasakan mahluk itu mengejarku dari belakang.
Kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Aku masih ingat senyum lembut Yumizuka sore itu. Tapi kenapa dia bisa berubah menjadi mahluk haus darah seperti ini?
Tiba-tiba saja ada yang memukulku dari belakang, dan membuatku terjatuh. Tubuhku memang lecet-lecet karena terjatuh ketika berlari, tapi punggungku terasa jauh lebih sakit. Dengan sebuah hantaman sekeras itu, tidak heran kalau aku sempat tidak bisa menarik nafas.
Ketika aku menoleh kebelakang, aku melihat sesuatu yang menghantamku menggelinding.
Kepala manusia.
Darah mengalir dari leher orang itu. Memerahkan aspal, dan menodai bajuku.
“Kena kau” suara gembira terdengar dari kejauhan. Dan semakin mendekat dengan cepat. Suara Yumizuka Satsuki.
“Sakitkah? Maaf, aku hanya ingin membuatmu terkejut dengan melempar ini” dia meminta maaf sambil menendang kepala orang itu ke sisi jalan.
“Di, dia….” Aku menunjuk kearah kepal itu.
“Oh, hanya orang yang kebetulan lewat” kata Yumizuka santai. “Aku sempat mencicipi darahnya, tapi darah pemabuk itu benar-benar menjijikkan. Shiki-kun. kalau kau nanti menjadi vampire, kau harus memilih korban yang berbadan sehat, tidak yang seperti ini”
Tersenyum tanpa rasa bersalah, Yumizuka berjalan mendekat. Bye-bye, katanya. Benar-benar berbeda dengan gadis yang kukenal dulu.
Percuma___
Ini percuma___
Yumizuka Satsuki, sudah tak tertolong lagi.
Perlahan, aku berdiri dengan menggenggam erat pisau ditanganku. Aku tidak pernah berencana untuk menjadi vampire dan menghisap darah orang. Jadi, hanya ada satu jalan untuk mengakhiri semua ini.
“Yumizuka-san, aku sudah tidak bisa menolongmu lagi”
“Oh, itu tidak benar. Kau akan menolongku jika kau mau bersamaku.”
Aku melepas kacamataku. Rasa sakit menyerang otakku. Ini adalah pertama kalinya aku melepas kacamata dengan niatan untuk membunuh.
“Aku senang kau bersemangat seperti ini, Shiki-kun. tapi sayangnya sudah terlambat. Pemenangnya sudah ditentukan sejak awal.”
Tiba-tiba saja Yumizuka menghilang, dan sesaat kemudian aku merasakan sesuatu yang menghantamku dari samping.
“Gaaakh!!” aku terlempar dengan punggung membentur dinding toko. Tapi aku masih bisa berdiri.
“Oh, kau masih bisa bergerak? Untuk seseorang yang sakit-sakitan, ternyata tubuhmu kuat juga, Shiki-kun”
Aku membuat sedikit kesalahan. Aku memang bisa melihat garis, tapi tetap saja aku ini manusia biasa. Lawanku ratusan kali lebih cepat dariku. Meskipun aku bisa melihat garis, percuma saja kalau aku tidak bisa menyentuhnya.
Yumizuka mencengkeram tanganku, dan kemudian melemparku dengan mudahnya. Sekali lagi, punggungku menghantam dinding sebuah toko.
Pandanganku menjadi gelap. Tubuhku sakit, dan aku kehilangan pengelihatanku.
“Belum saatnya tidur, Shiki-kun”
Mendengar suara Yumizuka, kesadaranku kembali dan aku langsung menggulingkan badan kesamping. Tepat di tempat sebelum aku berguling, Yumizuka menghantamkan tangannya. Saura aspal yang pecah mencapai telingaku.
Aku memaksa tubuhku yang masih sedikit mati rasa untuk bergerak menjauh. Perlahan, pengelihatanku kembali normal.
“Kau….!” Aku mengacungkan pisau kearah Yumizuka.
“Sudah kubilang percuma. Sebaiknya kau menyerah saja, Shiki-kun”
Dia mendekat dan berusaha meraihku. Tapi kali ini, aku berhasil menghindar. Aku mendengar suara tidak percaya Yumizuka. Sekarang aku berdiri tepat dibelakangnya.
“Kubilang,…. JANGAN BERGERAK!!!”
Teriakan Yumizuka membahana. Aku mengayunkan pisauku seperti orang gila. Dan salah satunya mengenai Yumizuka. Sesaat aku merasa menyesal, tapi kenapa aku harus menyesal terhadap orang yang berusaha membunuhku?
“Pembohong!!” Yumizuka menekanku mundur hingga membentur tembok gang buntu. Yumizuka kemudian memukul. Aku secara reflex memejamkan mata, bersiap menerima pukulan.
“Eh?”
Dinding dibelakangku bergetar. Ternyata pukulan Yumizuka mengarah ke dinding.
“Pembohong!” teriak Yumizuka. “Kau bilang kau akan menolongku jika aku berada dalam kesulitan”
Wajah Yumizuka terlihat sangat emosional.
“Kenapa?! Apa karena aku telah menjadi mahluk seperti ini? Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa!! Aku menjadi seperti ini bukan karena aku ingin…..”
Seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk, Yumizuka terus-terusan memukuli tembok dibelakangku.
“Rasanya sakit! Sakit sekali! Tapi kenapa kau tidak menolongku?! Kau berjanji akan menolongku, tapi kenapa….”
Perlahan ketakutanku menghilang.
“Seandainya saja kau mau berada di sisiku, aku bisa menahan semua rasa sakit ini. Kenapa? Kenapa kau tidak mau menerimaku?”
Dia menangis. Kebencian Yumizuka satsuki tidak ditujukan kepadaku, Tohno Shiki. Tapi dia membenci dirinya sendir yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menerima nasibnya.
Yumizuka menatap tubuhku yang tidak bergerak dengan wajah terkejut. Dia seperti menyesal dengan apa yang dilakukannya.
“Sh…Shiki-kun. aku tidak bermaksud… tidak…”
Suaranya terdengar gemetaran. Dia berusaha mengendalikan diri, namun suaranya terdengar seperti akan menangis.
Tidak apa. Tidak perlu menyalahkan diri seperti itu. Meskipun jiwa dan ragamu berubah menjadi vampire, kau tetaplah hanya seorang korban. Yumizuka, kau mengatakan kalau kau kesakitan, kedinginan, dan kesepian. Hanya ada satu yang bisa kulakukan untuk menolongmu.
“… Kau boleh meminum darahku”
“Shiki-kun?”
“Kau boleh meminum darahku. Aku akan selalu bersamamu”
Setelah sempat ragu, dia akhirnya memelukku.
“Benarkah tidak apa-apa?” dia terdengar seperti antara ragu dan senang.
Ironis sekali. Dia memang telah menjadi vampire. Tapi bagian yang terpenting, hatinya, masih manusia. Karena masih memiliki hati manusia, Yumizuka Satsuki merasa sakit setiap kali menghisap darah. Selama hatinya seperti itu, dia akan terus merasa kesakitan.
Perlahan dian menancapkan taringnya ke leherku. Kemudian aku bisa merasakan suhu tubuhku yang semakin turun.
Sunyi.
Sebuah kematian yang sunyi.
Dengan ini, Tohno Shiki akan menghilang, dan semuanya akan selesai.
Tiba-tiba saja aku teringat wajah Akiha kecil yang menangis ketika aku meninggalkannya untuk tinggal bersama keluarga Arima.
Kakak akan.... pulang bukan?
Aku teringat kata Akiha beberapa saat yang lalu.
Akiha. Adiku yang kutinggalkan sendiri selama 8 tahun lamanya. Aku belum pernah melakukan apapun untuknya sebagai seorang kakak.
Selalu___
Selalu sendiri di dalam rumah yang besar itu.
“Aki__ha…”
Tidak. Aku tidak boleh seperti ini.
“Yumizuka-san… maafkan aku”
Aku menggerakkan pisauku, dan memotong garis yang ada di dadanya, seorang gadis yang pada saat-saat terakhir terus meminta pertolongan. Dan aku menusukkan pisauku ke dada gadis itu.
“Shiki…-kun…” perlahan Yumizuka menarik diri dariku.
“Maaf, aku tidak bisa menolongmu, Yumizuka-san”
Hanya inilah yang bisa kulakukan. Jika dia tidak bisa lepas dari rasa sakit, akan kuberikan sebuah kematian tanpa rasa sakit.
“Aku mengerti. Pada akhirnya, aku tidak bisa bersamamu, bukan?” suaranya terdengar sangat damai. Terdengar seperti suaranya dua hari yang lalu.
“Aku senang, meskipun hanya sesaat, kau memilihku Tohno-kun. Mungkin mati seperti ini tidaklah terlalu buruk. Semua rasa sakit menghilang seperti sihir.” Dia kembali memanggilku dengan ‘Tohno-kun’
Aku merasakan sesuatu yang menggelitik di kakiku. Aku melihat kaki Yumizuka telah menjadi abu dari lutut kebawah.
“Dan aku bisa merasakan kehangatan sekarang. He he he.. ini pasti kehangatanmu, Tohno-kun” katanya bahagia.
Ini adalah penyesalan paling murni yang kurasakan. Sebuah penyesalan yang membuatku ingin mati saja. Aku sudah mempersiapkan diri untuk mendengar kata-katanya yang penuh kebencian ketika aku memutuskan untuk mengkhianatinya.
Tapi kenapa? Kenapa kalimat seperti itu yang kau katakan? kenapa dengan suara yang terdengar bahagia? Kenapa kau tidak menyalahkan aku?
Mataku terasa pedih hingga aku menitikkan air mata.
“Tohno-kun, kau menangis. Kau benar-benar orang yang baik. Bahkan setelah aku melakukan hal-hal buruk padamu, kau tetap menangis untukku. Yah, mungkin karena itulah aku menyukaimu. Aku selalu memperhatikanmu, karena itulah aku tahu segala hal tentangmu yang tidak diketahui oleh orang lain.”
Dia terdengar sangat bangga. Dan aku bisa merasakan kalau bagian bawah tubuhnya telah menghilang ditiup angin.
“Aku ingin berbicara denganmu lebih sering. Sebagai teman sekelas. Lebih sering. Karena itu aku tidak ingin aku mati sekarang.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya terdiam. Dia kemudian menyandarkan kepalanya dibahuku.
“ini adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan untukku. Jadi jangan menangis, Tohno-kun. kau melakukan hal yang benar. Ah, sepertinya aku tidak akan bisa berbicara lagi, baiklah kalau begitu, Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun”
“Yu, Yumizuka__”
“Selamat tinggal, dan.. terima kasih”
Angin bertiup membawa abu yumizuka menghilang dari hadapanku. Tubunya menghilang seperti sihir. Yang tertinggal hanyalah penyesalan.
Aku membunuhnya.
Aku berjanji untuk menolongnya, tapi pada akhirnya aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.
Selamat tinggal, dan …Terima kasih
Kenapa dia berterima kasih padaku? Aku membunuhnya, dan dia berterima kasih padaku.
Dengan menyeret tubuhku yang penuh luka, aku berjalan pulang.
Pintu rumah terbuka dengan suara berderik. Dengan tertatih-tatih, aku berhasil membawa tubuhku yang penuh luka kembali ke rumah.
“__Ah” aku melihat Akiha di lobi. Apa dia terus menungguku selama ini?
“Kak, apa yang kakak lakukan selama ini? Jam berapa sekar__ Kak, kau..?” Akiha terlihat sangat terkejut.
Kenapa? Aku bahkan tidak tahu kenapa dia bisa terkejut sampai seperti itu.
“Tu, tunggu sebentar. Kakak kenapa? Kakak terluka dimana-mana dan… Kakak terlihat…”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab apapun. Aku bahkan tidak tahu apa yang dikatakan oleh Akiha barusan.
“Po, pokoknya saya akan merawat luka kakak terlebih dahulu. Kakak bisa berjalan?”
Aku mengangguk.
“Saya akan mengambil kotak P3K, kakak silahkan menunggu di ruang tengah” Akiha menghilang dengan langkah yang cepat.
********
Akiha merawatku sendiri. Dia mengelap tubuhku yang kotor dengan handuk, menyiapkan makanan, dan menemaniku sampai kamarku. Selama itu, aku tidak bisa berkata satu patah katapun.
“Baiklah, saya akan kembali ke kamar. Kakak beristirahatlah dengan tenang”
Sampai akhir dia tidak bertanya kenapa aku bisa sampai seperti ini.
Dia kemudian berbalik.
Dia hendak pergi meninggalkan kamarku.
Meninggalkanku.
Menghilang
Seperti gadis yang baru saja kubunuh.
Tanpa berpikir, aku langsung meraih lengan Akiha. Dan kemudian, aku memeluknya. Erat.
“K, kak?”
Aku tidak ingin sendiri. Aku tidak ingin kesepian. Aku akhirnya mengerti perasaan Yumizuka Satsuki.
Aku memeluk Akiha tanpa berpikir. Dan akiha hanya diam. Meskipun seharusnya dia menolakku, dia tetap bergeming.
Seperti ini. Aku ingin tetap seperti ini.
“Aku… benar-benar jahat” Aku mengakui dosaku. “Aku ingin menolongnya. Aku ingin menolongnya, tapi akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Seperti mencari pencerahan, aku memeluk Akiha lebih erat lagi.
Seakan tersadar, Akiha kemudian melepaskan pelukanku.
“Kak, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kupikir sebaiknya aku tidak menanyakannya padamu. Aku tidak bisa memberi jawaban. Kakak harus mencari jawabannya sendiri”
Kata-katanya tajam dan langsung mengena. Yang dikatakannya benar, dan akhirnya aku kembali tersadar.
“Maaf, lupakan saja yang barusan”
“…….” Terdiam sejenak, Akiha kemudian meninggalkan kamarku. Tapi sebelum keluar, dia berkata,”Saya tidak akan bertanya apa yang terjadi. Namun ketika Kakak pergi, saya merasa sangat ketakutan. Saya merasa jika kakak akan pergi lagi, dan tidak akan kembali, seperti 8 tahun yang lalu”
Dia kemudian terbatuk, yang menurutku seperti disengaja, dan melanjutkan,”Namun akhirnya Kakak kembali. Kakak tadi bilang kalau Kakak tidak berhasil menolong seseorang. Tapi paling tidak Kakak telah menyelamatkanku dari ketakutan. Jadi selamat datang kembali, Kak. Kembalinya kakak benar-benar membuatku…. senang”
Aku bisa melihat wajahnya yang sedikit memerah malu-malu ketika mengucapkan kalimat terakhir itu.
“Sa, saya akan mengatakan dengan lebih jelas lagi agar Kakakku yang bodoh dan lamban ini mengerti. To, tolong jangan tinggalkan adikmu yang manis ini sendiri lagi”
Mendengar kata-kata Akiha seperti menghilangkan bebanku. Sekarang aku merasa sangat ringan. “Aku mengerti. Tapi manis? Kau benar-benar bisa memuji dirimu sendiri, Akiha”
Akiha tersenyum melihatku yang sudah bisa tertawa. “Selamat tidur Kak, mimpi indah. Besok adalah hari yang baru untuk Kakak”
Dengan itu Akiha pergi. Dan aku membaringkan tubuhku diatas ranjang.
Apa yang terjadi pada Yumizuka akan selalu membekas dalam hatiku. Tapi aku tidak boleh terus bermuram. Aku tidak boleh menyesali tindakanku selama-lamanya. Aku harus percaya jika yang kulakukan adalah yang terbaik, meskipun aku tahu itu dosa. Dan aku siap untuk menerima hukumannya suatu saat nanti.
“Aku pulang, Akiha” gumamku, dan kemudian aku tertidur.
•
Tuesday, August 17, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment