Monday, August 16, 2010

CHAPTER 2: Inversion Impulse #2

Dulu, halaman rumah terlihat seperti taman bermain yang luar biasa besar. Kebunnya terlihat seperti hutan. Rumahnya sendiri terlihat seperti kastil. Waktu itu Aku berpikir untuk menjelajahi seluruh rumah saja mungkin memerlukan waktu berhari-hari.

Dulu setiap hari terasa menyenangkan. Tidak ada yang berpikir untuk cepat menjadi dewasa. Kami percaya, bahwa setiap hari akan selalu sama.

Dulu, kami hanya anak-anak yang senang bermain. Kami sangat akrab. Setiap kali Aku menoleh kebelakang, Akiha selalu disana bersembunyi sambil melambaikan tangannya dengan malu-malu.

Dulu, halaman rumah terlihat seperti taman bermain yang luar biasa besar. Kebunnya terlihat seperti hutan. Rumahnya sendiri terlihat seperti kastil. Waktu itu Aku berpikir untuk menjelajahi seluruh rumah saja mungkin memerlukan waktu berhari-hari.

Dulu setiap hari terasa menyenangkan. Tidak ada yang berpikir untuk cepat menjadi dewasa. Kami percaya, bahwa setiap hari akan selalu sama.

Dulu, kami hanya anak-anak yang senang bermain. Kami sangat akrab

“Selamat pagi”

Aku mendengar suara yang terdengar asing ditelingaku

“Sudah pagi, sudah saatnya Anda bangun, Shiki-sama”

Aku membuka mataku. Aku melihat Hisui berdiri jauh dari tempat tidur, berdiri seperti patung.

“........”

Aku dimana ya?

“Selamat pagi, Shiki-sama” kata gadis berpakaian maid itu sambil membungkukkan badannya.

“Ah ya, aku sudah kembali ke rumahku. Benar....”

Aku memaksa diriku sendiri untuk melihat sekeliling.
“Selamat pagi, Hisui. Terima kasih telah mau membangunkanku”

“Tidak perlu berterima kasih, Shiki-sama. Adalah tugasku untuk membangunkan Anda.”

Hisui memberi jawaban yang datar dan tanpa ekspesi. Meski begitu, aku melihat bahwa sebenarnya Hisui sangat cantik. Akan sangat menyenangkan bila seorang gadis seperti ini membangunkanku setiap pagi dengan senyuman. Namun tampaknya tidak bisa untuk Hisui. Sayang sekali. Seandainya saja Hisui memiliki setengah dari keceriaan Kohaku, dia pasti tampak sangat manis.

“Anda memerlukan sesuatu?”
Menyadari aku menatapnya, Hisui balas menatapku.

“Tidak, tidak usah. Melihatmu ketika aku bangun pagi meyadarkanku bahwa sekarang aku berada dikediaman Tohno.”

Kemudian aku bangun dan sedikit meregangkan tubuhku.

“Shiki-sama, kalau tidak cepat, anda akan terlambat. Jarak dari sini menuju sekolah anda memerlukan waktu tempuh 30 menit. Artinya anda hanya punya waktu 20 menit untuk sarapan”

“Eh?” aku melihat jam dinding. “AAAAAH!! Sudah jam 7!!”

“Seragam Anda telah saya lipat dan saya letakkan di meja. Harap segera turun bila Anda telah selesai berganti pakaian.”

Setelah selesai berganti baju, aku segera turun.

Dibawah, Akiha dan Kohaku terlihat berada di ruang tengah. Akiha mengenakan seragam sekolah putri Akagami. Sebuah sekolah putri yang sangat terkenal. Mereka sedang minum teh bersama. Seolah-olah waktu sarapan telah usai. Aku kemudian menyapa Akiha.

“Selamat pagi Akiha,”

“Selamat pagi Kak” balas Akiha dengan tenang.

“Selamat pagi Shiki-san. Sarapan sudah tersedia di meja makan. Silahkan” Kata Kohaku dengan senyuman hangatnya, sangatberbeda dengan Akiha yang dingin.

“Ah, tentu saja. Sepertinya kalian sudah selesai sarapan ya?”

“Tentu saja. Saya tidak tahu jam berapa biasanya kakak bangun, tapi biasakanlah untuk sarapan tepat waktu. Sarapan setelah jam 7 menunjukkan kemalasan kakak”

“Sarapan jam 7 itu normal bagiku. Memangnya jam berapoa kau bangun pagi, Akiha?”

“Jam 5. Kenapa?” tanya Akiha judes

Wow pagi sekali.

“Selain itu Kak, bukankah sekolah kakak berjarak hanya 30 menit jalan kaki dari sini. Jangan sampai terlambat. Itu akan sangat memalukan.”

Kata-kata Akiha benar-benar ‘berduri’. Tapi karena dia benar, aku tidak bisa melawan.

“Akiha-sama, sudah saatnya untuk berangkat”

“Iya iya, aku tahu. Ck, jangan terlalu mencemaskan hal-hal kecil” seperti mengeluh, Akiha berdiri. “Baiklah, saya berangkat sekarang” setelah mengatakannya, Akiha berjalan meninggalkan ruang tengah dan KOhaku mengikutinya dari belakang.

“Baiklah, aku juga harus bergegas”

Setelah aku menghabiskan makanan yang dibuatkan oleh Kohaku, aku menuju lobi. Disana, Hisui telah menungguku dengan membawakan tas sekolahku.

“Apakah anda tidak akan terlambat?” tanya Hisui.

“Jika aku lari, dari sini ke sekolah tidak sampai 20 menit. Sekarang jam 7.30. Kurasa aku tidak akan terlambat.”

Mendengar penjelasanku, Hisui mengangguk

“Baiklah, saya akan mengantar anda sampai kepintu gerbang.”

Sebenarnya agak sedikit malu aku memiliki pelayan pribadi.

“Shiki-san! Tunggu”

Dengan sedikit tergesa-gesa, Kohaku menuruni tangga dari lantai dua.

“........”

Hisui sedikit mundur begitu Kakaknya muncul.

“Bukankah tadi kamu bersama Akiha?” aku bertanya

“Akiha-sama, berangkat kesekolah dengan mobil. Karena saya harus menyerahkan sesuatu pada Anda, saya tetap tinggal di dalam.”

“Memberiku apa?”

“Ini. Ini dari keluarga Arima.”

Kohaku tersenyum.

“Huh? Tapi sepertinya semua barang-barangku sudah sampai disini, kok. Semua yang kugunakan ketika aku masih disana adalah milik keluarga Arima. Jadi sebenarnya barang-barangku hanya berupa baju saja.”

“Benarkah? Tapi benda ini juga dikirim kemari”

Kohaku menyerahkan sebuah kotak kayu tipis. Mungkin panjangnya sekitar 20 cm, dan tidak berat

“Kohaku, aku belum pernah melihat benda ini sebelumnya.”

“Mungkin dari almarhum tuan Mikihisa?”

“Dari Ayah?”

Aku malah merasa heran. Benarkah Ayah yang mengusirku selama 8 tahun itu meninggalkan sesuatu untukku?

“Baiklah kalau begitu, Kohaku, tolong kamu letakkan benda ini dikamarku”

“___________”

Kohaku terus memandangi kotak kayu itu. Dia terlihat seperti anak kecil yang menginginkan mainan baru.

Teruuuus memandang.

Dia mungkin benar-benar anak kecil.

“Baiklah, kamu ingin tahu apa yang ada didalamnya kan?”

“Oh, tidak kok. Aku hanya bertanya-tanya kira-kira apa yang ada didalamnya.” Jawab Kohaku tersipu.

Itu sama saja Kohaku. Aku tersenyum.

“Baiklah, kita buka. Satu.... dua... tigaaaaa!!”

Terdengar suara ketika kotak kayu itu dibuka. Didalamnya terdapat batangan besi tipis berukuran 10 Cm.

“Apa ini?”

Bentuknya sudah tidak karuan dan ada banyak bekas jari diatasnya.

Mungkin ayah benar-benar membenciku karena meninggalkan sebuah sampah seperti ini.

“Shiki-san, ini sebuah pisau”

Ah, benar juga. Aku baru sadar.

“Tua, tapi tampaknya sangat kuat.” Aku mengambil pisau itu.

“Ah, di gagangnya tertulis tahun dan era pembuatannya.” Kata Kohaku

Memang ada tulisan digagang pisau ini. Tulisan ‘tujuh’ dan ‘malam’

“Kakak. Tidak ada nama era yang seperti itu. Disitu hanya tertulis Nanaya (tujuh-malam)”

“!!!”

Aku sedikit terkejut. Hisui yang sedari tadi diam ternyata melihat pisau ini dari balik bahuku.

“K, kau membuatku kaget, Hisui. kamu tidak perlu melihat dari balik bahuku seperti itu, kau tahu. Jika kamu ingin melihat, akan kutunjukkan padamu.”

“Ah____” Tiba-tiba saja pipi Hisui sedikit memerah. “Ma, maafkan saya. Pisaunya sangat bagus sehingga saya, .....” kata Hisui terbata

“Bagus? Kau pikir ini bagus? Hanya sebuah pisau tua menurutku,”

“Anda salah. Pisau ini ditempa dengan sangat baik. Saya rasa pisau ini memiliki sejarah yang panjang.”

“Benarkah?”

Karena Hisui terlihat sangat yakin, aku mulai berpikiran sama. Kalau begitu, ini warisan yang tidak terlalu buruk.

“Nanaya? Apa mungkin nama pisau ini ya?” tanya Kohaku.

“Mungkin juga” Aku memandangi pisau yang ada didepanku. Tidak salah lagi, pisau ini adalah barang antik.

“Baiklah, pisau ini aku ambil” Aku memasukkan pisau itu kedalam kantong celanaku.

“Shiki-sama, apakah Anda tidak terlambat?” Tanya Hisui tiba-tiba.

“Ahh! Aku akan terlambat. Aku pergi sekarang. Kohaku terima kasih telah menyampaikan pisau ini”

“Sama-sama” Kohaku tersenyum sambil melambaikan tangannya.

Aku segera keluar dari rumah melewati kebun menuju gerbang depan. Hisui mengikutiku dari belakang.

“….. kau mengantarku, Hisui?”

Hisui menjawabnya dengan anggukan.

“Shiki-sama, kira-kira jam berapa anda akan pulang?”

Sepertinya Hisui masih akan terus menggunakan ‘-Sama’ sampai kapanpun. Kalau aku tidak bergegas aku akan terlambat. Sebaiknya aku membahas masalah ini lain kali saja.

“Shiki-sama?”

“Ah, iya. Sekitar jam 4 mungkin. Soalnya aku tidak ikut klub apapun”

“Saya mengerti. Hati-hatilah dijalan”

“Tentu saja. Terimakasih”

Melambaikan tangan kearah Hisui, aku berjalan meninggalkan pintu gerbang.

Aku berjalan melalui jalan yang tidak biasa kulewati. Bisanya aku berangkat dari rumah keluarga Arima. Jadi ini pertama kalinya aku beangkat melalui jalan ini. Yang baru memang hanya rute jalannya. Namun aku merasa akan pergi kesekolah yang baru.

“Tidak banyak murid sekolahku yang lewat sini”

Jarang sekali ada orang yang tinggal didaerah ini. Jam 7.30 pagi. Aku tidak melihat murid sekolahku yang berangkat melaui jalan ini sama sekali.

Memasuki daerah perkantoran, suasana semakin ramai. Banyak terlihat orang-orang bersiap untuk bekerja. Aku merasa atmosfer disini sedikit berbeda. Rasanya sedikit berat. Mungkin disebabkan karena pembunuhan berantai itu. Pagi ini, jumlah orang yang berada dijalanan lebih sedikit dari biasanya.

“Yumizuka… tidak ada. Yah, aku tidak mungkin selalu beruntung bisa berpapasan dengannya” aku tersenyum mengingat wajah manis teman sekelasku itu.

Teringat Yumizuka, aku mempercepat langkahku. Aku ingin segera sampai sekolah.

Akhirnya aku sampai. Beberapa menit sebelum jam pertama dimulai, kelas sudah ramai. Sambil menunggu bel, semua teman teman dikelasku sedang megobrol dengan yang lainnya. Sangat ramai seperti ada festival yang diadakan disini. Tapi ada yang aneh dengan suasana kelas pagi ini.

Aku berjalan menuju kursiku yang letaknya dekat jendela, dimana Arihiko menungguku dengan wajah cemberut.

“Hei, Arihiko, kelihatannya ada yang aneh pagi ini. Kau tahu sesuatu?”

“Entahlah. Katanya sih, ada murid kelas ini yang kabur dari rumah”

“Benarkah?” aku duduk di kursiku sambil menghela nafas. “Siapa?”

“Mana aku tahu? Kita akan tahu setelah homeroom. Kursi siapa yang kosong, dia yang kabur dari rumah”

Dia benar, tapi aku merasa Arihiko sedikit keterlaluan. Salah satu teman sekelas kami ada yang menghilang, tapi dia tidak menghiraukannya seakan mengatakan ‘bukan urusanku’

“Kau tidak cemas, Arihiko?”

“Aku? Kenapa? Kamu ini terlalu pencemas. Yang kabur kan bukan aku atau kamu, jadi cuek aja”

Aku lupa. Orang satu ini sangat dingin terhadap orang lain selain temannya sendiri.

“Tapi sebenarnya aku cemas juga, sih. Kau tahu dia kabur saat seperti ini. Entah dia berani atau….”

“Saat seerti ini? Maksudmu?”

“Kemarin aku sudah cerita, Shiki. Tentang pembunuh berantai. Bukan salah siapa-siapa kalau secara kebetulan dia bertemu dengan pembunuh itu”

“Ah, itu tidak mungkin terjadi”

“Kau harus lebih sering nonton TV, Shiki. Korban kedelapan telah ditemukan. Malam hari, kota ini sekarang sangat sepi. Hanya ada pemabuk danpolisi yang berkeliaran.” Kata Arihiko serius.

Mendengarnya, aku juga mulai merasa tidak nyaman.

“Ah itu Kunifuji-sensei datang. Homeroom akan dimulai” Arihiko kemudian meninggalkanku dan berjalan menuju kursinya.

Homeroom dimulai, dan semua murid duduk di kursi masing-masing. Hanya ada satu kursi yang kosong. Tidak salah lagi. Tidak ada yang duduk di kursi milik Yumizuka Satsuki.

-“Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun”-

Itu adalah kata-kata Yumizuka sebelum kami berpisah kemarin. Aku tidak tahu apa yang terjadi dirumahnya, tapi tidak mungkin seseorang mengembangkan senyum seperti itu sebelum kabur dari rumah.

“Ah, Yumizuka absen rupanya” kata Kunifuji-sensei ketika mengabsen. Yumizuka hanya dianggap absen saja. Seakan tidak terjadi apa-apa, homeroom berjalan seperti biasanya. Aku ingin bertanya mengenai Yumizuka, tapi tampaknya Sensei tidak akan menjawabnya. Jika dia kabur dari rumah, itu urusannya sendiri.

Toh gosip itu belum tentu benar. Mungkin saja Yumizuka hanya terlambat.

*******

Aku masih merasa tidak bersemangat meskipun waktu makan siang tiba. Meskipun gosip mengenai Yumizuka yang kabur dari rumah cukup mengejutkan, tapi itu bukan topik yang ramai dibicarakan. Semua tampak biasa-biasa saja. Mungkin hanya aku yang mencemaskan teman sekelasku yang absen itu.

“Shiki, ayo makan” ajak Arihiko.

“Tidak dulu deh, lagi malas makan”

“Jangan terlalu memikirkan masalah orang lain”

Masalah orang lain heh? Kata-kata Arihiko benar juga.

“Kau tidak ikut makan hari ini?”

Aku dikejutkan sosok berkacamata yang tiba –tiba muncul.

“Senpai? Apa yang kau lakukan di kelas kami?”

“Rencananya sih, makan siang bersama kalian. Tohno-kun, kau tidak ikut makan?” duduk diatas meja, Senpai memandangku curiga.

“lagi tidak nafsu, Senpai”

“Sakit?”

“Tidak juga. Silahkan Kalau mau makan, kalian bisa ke kantin sekarang.”

“Kau terlihat…. Tidak bersemangat. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kalau kau tidak makan, kau malah akan sakit beneran.”

“Iya sih, tapi……”

Aku tidak lapar.

“Baiklah kalau begitu. Kuajak kau ke tempat spesial. Sebenarnya tempat ini rahasia, tapi khusus untukmu saja, Tohno-kun”

Kemudian Senpai menarik tanganku dengan paksa, menyuruhku mengikutinya.

Ciel Senpai membawaku ke sebuah ruang kelas yang kosong di ujung gedung sekolah.

“Disini?”

“Benar. Karena disini sanagt tenang.”

“Tapi bukankah kelas ini dikunci, Senpai?”

“Hanya digunakan oleh anggota klub upacara minum teh”

Senpai mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.

“Oh, jadi Senpai anggota klub itu?”

“Benar. Dan satu-satunya” tertawa, Senpai memasuki ruang kelas yang disulap menjadi bergaya jepang klasik.

Suasana didalamnya membuatku lupa kalau sebenarnya ruangan ini masih didalam gedung sekolah.

Lembutnya tatami dan sinar matahari yang masuk melalui jendela membuatku merasa rileks.

“Seperti yang kukatakan tadi, aku satu-satunya anggota klub ini. Jadi aku bisa bebas menggunakan ruangan ini selama istirahat siang dan sepulang sekolah. Ini silahkan”

Senpai menyerahkan bantal duduk padaku.

“Aku akan membuat teh sekarang. Silahkan duduk, Tohno-kun”
Tidak ada salahnya menuruti Senpai. Jai aku patuh saja dan duduk mematuhi perintahnya.

Inilah sihir ruangan yang bergaya jepang klasik. Semua hal yang membuatku resah perlahan menghilang. Sekarang aku bisa memikirkan apa yang terjadi dengan Yumizuka dengan kepala dingin.

“Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu, Tohno-kun. Jadi sekalian makan siang saja” kata Senpai sambil menyuguhkan teh.

“Apa?” Aku meminum teh yang suguhkan. Karena berada dalam ruangan bergaya jepang, secara otomatis aku menegakkan punggungku.

Aku melakukannya secara tidak sadar. Keluarga Arima tempatku dulu tinggal membuka kursus upacara minum teh. Mungkin gara-gara aku dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, aku jadi lebih menyukai kamar bergaya jepang daripada bergaya barat.

“Kalau kau tidak keberatan, aku ingin tahu tentang keluargamu”

“Bukannya keberatan, tapi kurasa cerita tentang keluargaku kurang menarik”

“Tidak masalah, aku cuma pingin dengar. Kemarin kau bilang kau ‘pindah ke rumahmu’. Aku masih belum begitu jelas maksudmu” Senpai bertanya dengar wajah yang dipenuhi rasa ingin tahu.

“Menjelaskannya bagaimana ya? Bisa dibilang seperti ini, aku ini anak yang dibuang. Dulu aku pernah mengalami kecelakaan parah ketika masih berum,ur 9 tahun. Aku sembuh, namun setelah itu, aku sering mengalami anemia dan mudah muntah-muntah. Karena itu aku dititipkan kepada keluarga Arima”

“Jadi keluarga Arima menjadi orang tuamu sejak kau berumur 9 tahun?”

“Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya ayah kurang menyukaiku. Dan setelah aku dititipkan, aku tidak akan pernah mau kembali kerumah. Dulu aku mengira akan tinggal bersama keluarga Arima selamanya. Namun setelah ayah meninggal, aku diminta pulang kembali kerumahku”

Ceritaku selesai sampai disitu. Senpai terlihat mengangguk-angguk kecil.

“Boleh tanya lagi?”

“Silahkan Senpai”

“Apa kau tidak menyukai keluargamu dulu?”

Keluargaku dulu, keluarga Arima. Mereka yang membesarkanku seperti anaknya sendiri. Ayah dan ibu yang tidak berhubungan darah denganku.

“Aku menyukai mereka. Mereka sangat baik padaku meskipun aku bukan anak kandung mereka”

Aku sangat menyukai keluarga itu. Suatu saat, aku akan benar-benar menjadi anggota keluarga mereka. Itu yang kupikirkan sejak kecil.

“Aku bahagia bersama mereka. Aku menganggap keluarga Arima adalah keluarga yang paling ideal menurutku”

“Ada ‘tapi’nya bukan?” Tanya senpai setelah menatap wajahku lekat.

“……… Ya. Meskipun aku sangat menyukai mereka, tapi tetap saja ada sebuah garis yang memisahkan kami. Garis yang bernama ‘ikatan darah’. Aku tahu seharusnya aku tidak mengacuhkannya, tapi tetap saja….. “ aku tidak berani melanjutkan kalimatku.

Senpai menghindari tatapanku. Bahunya gemetar dan wajahnya seakan mengatakan ‘Maafkan aku’.

“Membosankan bukan? Mendengar cerita tentang keluargaku hanya buang-buang waktu”

“Tidak juga, Tohno-kun. Ceritamu tadi bisa dibilang sangat….. berarti” setelah mengatakan demikian, Senpai mulai menggigit rotinya.

Aku juga segera mengikutinya, memakan roti yang sudah kubawa. Aku harus berterima kasih kepada Senpai, karena gara-gara dia memintaku bercerita tentang keluarga Arima, nafsu makanku kembali. Meskipun demikian, tetapsaja aku menyisakan setengah dari roti yang kumakan tadi.

“Jadi gara-gara itu Tohno-kun terlihat tidak nafsu makan?”

“he? Tidak juga sih, bukan masalah besar menurutku”

“Kalau begitu kau tidak makan karena alasan kesehatan, mungkin?”

“Aku baik-baik saja, senpai. Ngomong-ngomong tentang pembunuhan berantai, apa pendapat Senpai?”

Sebenarnya aku merasa enggan menanyakannya, tapi Yumizuka yang menghilang membuatku sedikit merasa cemas.

“Tentang vampire itu?”

“Benar. Sudah 8 korban kalau aku tidak salah.”

“Aku tidak tahu banyak, tapi kata ‘vampire’ itu membuatku bergidik”

Dinamai vampire karena darah korban habis seperti dihisap. Aneh sekali, bukan?

“Tapi kenapa dinamai ‘vampire’?”

“Karena darah korban yang dihisap habis itu. Tidak aneh kalau si pembunuh dijuluki ‘vampire’”

“Kau tahu apa yang terjadi pada korban yang darahnya dihisap vampire? Menurut legenda, Tohno-kun?” tersenyum, senpai menanyakan sebuah pertanyaan yang aneh.

“Kalau ada orang yang darahnya dihisap, maka orang itu juga jadi vampire, kalau aku tidak salah”

“Benar. Jadi seharusnya tubuh korban tidak ditemukan, bukan? Kalau benar yang melakukannya vampire seharusnya kita tidak akan tahu adanya korban”

“Ah, aku mengerti. Tapi, Senpai, itu cuma julukan saja. Jangan-jangan Senpai benar-benar percaya adanya vampire?”

“Sama sekali tidak. Tapi karena tubuh korban ditemukan, berarti yang melakukannya bukan vampire” senpai tersenyum ketika mengatakan kesimpulannya.

“Tapi Tohno-kun, bisa saja kejadiannya seperti ini. Bagaimana jika tubuh korban yang ditemukan itu adalah korban yang gagal menjadi vampire? Jadi ada dua kemungkinan, jika korban menjadi vampire, maka tubuhnya tidak akan ditemukan, karena mereka masih hidup sebenarnya. Sedangkan yang tidak bisa menjadi vampire, mati. Karena itu tubuhnya ditemukan”

“Ya… itu sih….”

Senpai tetap tersenyum ketika mengatakannya. Aku tahu kalau dia hanya bercanda, tapi candaan seperti ini tidak bisa membuatku tertawa.

“Akan terlihat seperti cerita horror jika hal tersebut benar-benar terjadi. Dan karena aku tidak suka cerita-cerita menakutkan seprti itu, maka kita hentikan saja pembicaraan ini”

“Tapi Senpai, kau terlihat bersemangat ketika bercerita tadi”

“Ha ha, aku memang tidak suka cerita seram, tapi aku senang membuatmu ketakutan”

Senang membuatku takut?….. Apa aku telah melakukan sesuatu sehingga membuatnya dendam kepadaku?

“Lupakan lelucon tadi. Tapi memang benar, kalau malam hari akihr-akihr ini menjadi sangat berbahaya. Kau tidak boleh terlalu banyak main sampai malam, Tohno-kun”

Senpai member nasehat dengan gaya bercanda. Aku tidak bisa menebak kapan Senpai serius dan kapan tidak.

**********

Makan siang berakhir. Pelajaran Sejarah klasik seakan masuk telinga kiri dan kemudian keluar dari telinga kanan.

__ Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun__

Adalah kata-kata yang diucapkan Yumizuka padaku kemarin. Tidak mungkin ada seseorang yang setelah mengatakan kata-kata itu, terus kabur dari rumah. Perasaanku tidak enak. Ada pembunuh yang berkeliaran malam hari. Pergi keluar malam sangat berbahaya.

“……!!!!!”

Mungkin karena cahaya senja yang merah ketika kami berpisah kemarin, bayangan Yumizuka dalam kepalaku menjadi bersimbah darah.

Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur. Keseimbanganku juga kacau. Mataku berkunang-kunang dan kepalaku terasa berat.

“Sial!”

Aku tahu apa yang terjadi. Anemia. Aku merasa pandanganku mulai gelap.

Ini buruk. Aku selama ini tidak pernah pingsan di dalam kelas. Aku berusaha menggunakan meja untuk menjaga keseimbanganku. Namun sia-sia. Karena tanganku terasa lemas. Aku hampir terjatuh.

Bayangan Yumizuka yang bersimbah darah masih berada dalam kepalaku. Aku seakan bisa menyentuhnya.

___ Aku selalu percaya bahwa Tohno-kun akan datang dan menolongku setiap kali aku mengalami kesulitan ___

Sudah kubilang, aku tidak bisa selalu membantumu. Setinggi apapun kau menilaiku, aku bukanlah seorang superman.


********

“Maaf merepotkan, Arihiko”

“Untungnya aku sudah terbiasa melihatmu yang mendadak pingsan karena anemia. Tapi yang benar saja, kau bisa tidur di UKS sampai selama itu?”

“Kau seharusnya membangunkanku. Tidak ada untungnya menungguiku tidur sampai gerbang sekolah dikunci”

“Diamlah, memangnya aku tega membangunkan orang sakit? Sudahlah, ayo cepat pulang, ini sudah hampir jam 7”

Setelah aku pingsan karena anemia, Arihiko membawaku ke ruang UKS. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 ketika aku terbangun.

“Baiklah, kau bisa pulang sendiri dari sini. Sampai ketemu besok” kata Arihiko setelah kami sampai gerbang depan.

“Baiklah, dan maaf merepotkan”

“Sudahlah, besok-besok, kau harus membayarnya dua kali lipat”

Tersenyum kering aku membawa kakiku menuju rumah.

******

Aku tiba di perempatan tempatku berpapasan dengan Yumizuka secara tidak sengaja kemarin. Baru pukul 7, namun suasana sudah sangat sepi. Mungkin gara-gara pembunuh itu, orang-orang jadi takut keluar malam. Satu-satunya orang yang kulihat hanyalah sosok seorang wanita yang tampak dari kejauhan.

“Pirang?”

Wanita itu mungkin orang asing. Aku bisa melihat rambut emasnya bergoyang setiap kali dia melangkah. Meskipun aku hanya bisa melihat punggungnya, aku bisa menebak kalau dia pasti sanagt cantik.

DEG!

Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang.
Tenggorokanku terasa kering
Aku berkeringat, deras.
Kepalaku sakit.
Bukan anemia.
Karena kesadaranku tidak memudar, namun malah tampak menajam.

*hah hah*

Aku berusaha mengatur nafasku.
Punggung itu___
Melihat punggung wanita itu___
Wanita ber rambut emas itu____

Kepalaku semakin sakit.

*hosh hosh*

Aku ingin mengikuti wanita itu___
Setelah itu___
Apa?___

Apa yang ingin kulakukan setelahnya?

Wanita itu berjalan dan menghilang di distrik perbelanjaan yang ramai.

“Aku…ikuti…dia….”

Langkah kakiku berjalan mengikutinya. Namun sebelum aku berjalan terlalu jauh…. aku melihat banyangan Yumizuka, disudut mataku.

“Yumizuka-san?” Sakit kepalaku mendadak menghilang.

Hanya sekilas, tapi aku yakin kalau itu adalah sosok Yumizuka. Apa dia menuju pusat kota?

“Apa yang dia lakukan jam segini?”

Aku merasa marah. Aku tidak peduli apakah dia kabur dari rumah atau tidak. Sangat berbahaya untuk seorang gadis berjalan sendirian pada malam hari.

Yumizuka berjalan di antara keramaian kota.

Sebenarnya aku tidak yakin apakah dia Yumizuka, tapi aku memutuskan untuk mengikutinya.

“Yumizuka-san!! Tunggu!” aku berteriak sambil mengejarnya.

Yumizuka berbalik seakan mendengar suara panggilanku.

Wajah itu, aku yakin dia Yumizuka. Gadis yang berada didepan itu pasti Yumizuka Satsuki. Tapi entah kenapa, aku merasa bulu kudukku berdiri ketika memandangnya

Detak jantungku menggila
Kepalaku bagian belakang terasa berat.
Tenggorokanku terasa kering.
Sakit kepala kembali menyerang seperti ketika aku melihat gadis pirang tadi.

“Ke… kenapa aku…..?”

Tubuhku terasa membara.
Pusing.
Sekan-akan aku sedang mengalami demam tinggi.

Yumizuka kembali berjalan.

“Yumizuka-san, tunggu….!”

Memanggil namanya, aku berlari. Yumizuka terus berjalan tanpa sekalipun mnengok kebelakang. Kupaksakan tubuhku untuk berlari, namun tetap saja aku tidak bisa mengejarnya.

Secepat apapun aku berlari, aku tidak bisa mengejarnya yang hanya berjalan.

Aneh.
Ada yang aneh.
Aku tahu ada yang aneh, tapi aku tidak tahu apa.
Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mengejar Yumizuka Satsuki.

Kemudian aku kehilangan dia. Mataku tidak bisa menemukan Yumizuka yang kukejar.

“Cih, kemana dia?” aku berusaha mengatur nafas. Dadaku naik turun. Mungkin tanpa kusadari, aku sudah berlari cukup lama.

“Jam berapa ini?” Aku melihat jam dari kaca etalase sebuah took. Sudah tengah malam.

“Aku sudah berlari selama itu?” sulit dipercaya, tapi kurasa jam tidak akan berbohong. Sebagian besar toko di distrik perbelanjaan ini memang sudah tutup.

“Aku harus pulang” meskipun aku mencemaskan Yumizuka, tapi kurasa aku tidak akan bisa menemukannya malam mini. Aku mengejarnya hapir selama empat jam sambil memanggilnya. Tapi tidak ada respon sedikit pun. Apa sih, yang dipikirkannya?

Menghela nafas, aku berbalik dan berjalan menuju rumah.

Sepi sekali. Memang masih ada beberapa orang di distrik perbelanjaan, tapi disekitar rumah pasti sudah sanagt sepi. Bayangan pembunuh berantai menghantui kepalaku.

Tengah malam, berjalan sendiri. Aku bisa saja jadi sasaran empuk pembunuh itu.

Bruk!

“?” ada suara. Dibalik gedung itu, ada suara seperti orang yang terjatuh.

“Didalam gang itu?” suara itu hanya terdengar sekali. Keheningan yang mencekam membuatku sedikit bergidik. Aku mendapat firasat buruk.

Sesorang terjatuh didalam gang itu, atau hanya angin yang bertiup hingga menjatuhkan sesuatu?

Apapun itu, sebaiknya ku tidak melibatkan diri. Tapi, mungkin karena aku baru saja mencari Yumizuka, aku merasa dia ada disana.

“Apa yang harus kulakukan?”

Secara tidak sadar, aku merogoh saku, dan menemukan pisau yang diberikan oleh Kohaku pagi tadi.

Aku tidak bisa tidak mengacuhkan firasatku. Dengan adanya pembunuh yang menghantui kota pada malam hari, aku seharusnya tidak mempedulikan apapun yang terjadi dibalik gang itu. Tapi aku teringat senyum Yumizuka kemarin.

Tidak ada alasan bagi Yumizuka untuk berada disana. Tapi kalau dia berada disana, mungkin dia membutuhkan bantuan. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau membiarkan hal buruk terjadi padanya.

“Baiklah” jika pembunuh itu menyerang, aku juga masih memiliki ‘mata’ ini. Dulu Sensei pernah bilang, agar tidak menggunakan kemampuan mata ini seenaknya. Tapi kalau lawannya seorang pembunuh, kukira dia tidak akan keberatan.

“Baiklah….” Meneguhkan hati, aku kemudian melangkah menuju sumber suara.

Deg deg

Jantungku berdegup kencang
Gang ini sangat sepi.
Suara berasal dari ujung sana.

Deg deg

Bagian belakang kepalaku terasa sakit.

Deg deg

Kenapa?
Aku tak tahu.
Tapi instingku berkata….

Deg deg

Jangan
Jangan kesana
Kalau aku kesana, aku tidak akan bisa kembali lagi.

Deg deg

Tapi semuanya sudah terlambat.
Langkahku membawaku semakin mendekati sumber suara.

“eh…..?” adalah kata pertama yang kuucapkan.
Setelah melihat dinding gang seperti di cat dengan warna merah.
Potongan daging berserakan diantara tumpukan-tumpukan sampah.
Bukan potongan daging ayam, bebek, maupun kambing.

Manusia.

Potongan-potongan tubuh manusia.
Lantai dan dinding gang berwarna merah.
Merah.

Bau amis menusuk hidungku.
Darah.
Bau darah.

Kepala
Berguling-guling.
Menunjukkan ekspresi yang mengerikan.

Kepala yang terbelah dua.
Kepala yang saking rusaknya, aku tidak bisa membedakan apakah dia wanita atau laki-laki.

Tak bisa bersuara, aku hanya bisa memandangi pemandangan horror didepanku dalam diam.

Mereka sudah tidak bisa lagi disebut manusia.
Bahkan patung yang dibuat oleh seorang amatir terlihat jauh lebih baik daripada mereka.

Apa ini?
Apa ini?
Apa ini?
Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?Apa ini?

Didepanku, aku melihat warna yang sangat kubenci.
Tapi aku masih sanggup berdiri, tanpa merasa takut.

Sebuah mayat bergerak-gerak.
Bukan. Bukan mayat.
Dia masih hidup.
Manusia dengan tubuh yang masih utuh.

Melihat seseorang yang masih hidup saat ini terasa sangat mengejutkan. Tapi dia masih hidup. Dan aku harus menolongnya. Aku berlari kearahnya. Menariknya dari lautan daging, aku melihat wajahnya.

“HIIIII…….!!!” Secara reflex, aku berteriak dan melompat mundur.

Tengkorak.
Tengkorak tanpa wajah.

Aku berusaha menjauh, namun dia lebih cepat mengejarku.
Mengeluarkan suara seperti ‘hyuuu! hyuuuu!” dia melompat kearahku.

Tangan itu.
Tangannya yang kering itu berusaha menggapaiku.

“HYAAAAA!!!!” aku berusaha melepaskan genggamannya. Tapi dia memegang lenganku dengan sangat erat. Jari-jarinya yang putih menancap di lenganku.

Sakit.
Jari-jarinya setajam jarum.
Begitu hebatnya rasa sakit yang kurasakan, sehingga aku tidak bisa bersuara.

Dengan suara bergemeretak, rahangnya terbuka.
Cukup lebar, sehingga dia bisa menelan kepalaku dalam sekali gigitan. Ketika dia mendekat, aku seakan mendengar dia berkata, ‘aku tidak ingin mati. Tolong aku! Tolong aku!’

Mahluk yang hanya terbuat dari tulang dan kulit yang berusaha menelan kepalaku itu, tiba-tiba roboh.

Perlahan, dia berubah menjadi debu, dan menghilang tertiup angin.

“A, apa itu tadi?”

Rasa sakit masih menjalari tubuhku.
Artinya aku tidak sedang bermimpi.

“Tohno-kun, berbahaya kalau kau disini sendirian”

“!!!!” Aku menoleh kearah suara yang memanggilku dari belakang. Aku melihat Yumizuka Satsuki berdiri.

“Yu…mizuka?”

“Selamat malam. Tempat yang aneh untuk bertemu ya?” selayaknya bertemu di mall, dia menyapaku dengan suaranya yang ringan.

“Yumizuka-san? Kau…. Apayang kau lakukan? Disini?”

“Jalan-jalan. Tapi… wah, apa yang kau lakukan disini, Tohno-kun? membunuh orang sebanyak itu tidak baik, kau tahu?” kata Yumizuka sambil tersenyum.

“Membunuh? Eh?” aku kembali menoleh dan melihat pemandangan horror dibelakangku.

Tohno Shiki sedang berdiri ditengah lautan darah.

“Bukan aku”

“Bagaimana bisa bukan? Semua mati, hanya Tohno-kun yang masih hidup. Ini artinya, kau yang membunuh mereka semua.”

Aku menelan ludah, sedangkan Yumizuka tertawa terkikik.

“Bukan…aku…” lidahku kelu. Aku ingin mengatakan banyak hal, tapi aku seperti lupa dengan semua pelajaran bahasa yang pernah kupelajari.

Ada banyak yang ingin kutanyakan, seperti apa yang dilakukan Yumizuka disini setelah kabur dari rumah.

Ada banyak yang ingin kutanyakan, seperti kenapa Yumizuka masih bisa tersenyum setelah melihat pemandangan horror dibelakangku.

“I…ini…”

“Sudahlah, Tohno-kun. aku mengerti. Kau hanya mengganggu makan malam seseorang secara tidak sengaja.” Yumizuka masih tertawa

Caranya tawanya sangat tidak sesuai dengan situasi saat ini. Aku merasa merinding. Yumizuka berdiri di ujung gang. Tangannya berada dibelakang seperti menyembunyikan sesuatu. Dan kalau diperhatikan lebih detil, ada beberapa noda merah menempel di seragamnya.

“Yumizuka… kau…”
“Ya? Ada apa Tohno-kun?” dia masih tertawa.

Tidak.
Gadis ini pasti bukan Yumizuka Satsuki.

“Kenapa kau menyembunyikan tanganmu, Yumizuka?”
“Ha ha ha…. Sepertinya ketahuan ya? Kau terlalu jeli untuk melewatkan hal kecil seperti ini. Karena itu aku menyukaimu, Shiki.”

Setelah memanggilku dengan nama ‘Shiki’, dia menunjukkan tangannya. Kedua tangannya berwarna merah. Merah darah. Belum kering. Aku masih bisa warna merah itu menetes dari tangannya. Dan dengan bangganya, Yumizuka tersenyum.

“Ya. Aku yang membunuh mereka semua”

“A, apa?”

“Tapi tidak masalah, aku membunuh mereka bukan karena benci. Aku hanya membutuhkan darah mereka untuk tetap hidup.”

Apa ini? Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Yumizuka.

“Kau membunuh mereka?”

“Kau tidak akan percaya kalau aku bilang ‘bohong’ bukan? Atau kau pikir mustahil bagi seorang gadis sepertiku melakukan ini semua?”

Tawanya terdengar lembut.

Tidak mungkin.
Aku tidak percaya ini.
Tapi dia tidak berbohong.

Semua ini….
Dilakukan oleh Yumizuka Satsuki.

“Kenapa….?”

“Kenapa? Sudah kubilang, aku harus melakukannya untuk bertahan hidup, Shiki”

“Tapi membunuh itu SALAH!!”

“Aku tidak salah. Tapi memang aku tadi sedikit melakukan kesalahan. Ketika menghisap darah salah satu dari mereka, secara tidak sengaja, darahku masuk kedalam tubuhnya. Dan, dialah yang menyerangmu tadi, Shiki. Tapi untunglah, dia sudah hancur sebelum berubah sempurna.”

“A, apa maksudmu?”

“Tidak apa kalau kau tidak mengerti. Aku sendiri tidak begitu mengerti, jadi aku tidak bisa menjelaskan dengan baik.”

Yumizuka tersenyum. Dia kemudian melanjutkan,”awalnya aku takut. Tapi setelah itu, aku merasa bisa menjadi seperti Shiki. Menjadi sepertimu, aku merasa hebat. Jadi tunggu aku, oke? Aku akan menjadi vampire yang hebat, dan kemudian kembali menemuimu”

Yumizuka berbalik, dan kemudian melompat. Tinggi sekali.

“Tunggu, Yumizuka!”

Yumizuka telah menghilang. Aku tak mungkin bisa mengejarnya. Kecepatannya seperti kecepatan seekor binatang. Bukan kecepatan yang bisa dicapai oleh tubuh manusia.

“Apa yang terjadi padamu, Yumizuka….”

Luka di lenganku kembali terasa perih. Aku memukul dinding gang karena kesal.

*********

Gerbang rumah. Aku tidak melihat adanya cahaya dari dalam. Entah kenapa, aku tidak sadar kalau malam sudah selarut ini. Aku bakal dimarahi akiha habis-habisan kali ini.

Membuka pintu sepelan mungkkin agar tidak menimbulkan suara, aku disambut oleh ruang lobi yang kosong.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku harus segera merawat lukaku, tapi tidak mungkin aku membangunkan kohaku sekarang.

“…Kak?”
“Akiha..?”

Aku menoleh kearah suara itu. Aku melihat Akiha berdiri diatas tangga.

“Kak, pulang larut malam, apa sih yang ada dalam pikiran kakak?” katanya marah sambil menghampiriku.

Setelah menapak anak tangga terakhir, mata Akiha membelalak melihat konsisiku sekarang.

“Kak! Kenapa kakak bisa…”

Sial. Aku ingin menyembunyikan luka ini, tapi sudah tidak mungkin lagi.


“I, ini hanya….”
“Diam dulu. apa lukanya hanya di bahu saja?”
“Ya, ini….”
“Alasannya nanti saja. Sekarang kita harus merawat luka Kakak. Maaf sebentar…”

Perlahan, Akiha menyentuh bahuku.

“__Akh!”

Tubuhku berjengit hanya karena sentuhan ringan Akiha. Luka ini tampaknya lebih dalam dari perkiraanku.

“Ah, maaf. Sakit ya Kak…?”

“Aku ingin bilang kalau aku baik-baik saja, tapi tampaknya tidak mungkin. Sentuhanmu tadi saja terasa sangat sakit”

“Tampaknya dalam. Baiklah, saya akan merawat luka itu sekarang. Jadi, Kak, silahkan ke ruang tengah” kata Akiha sambil bergerak menuju lantai dua dengan sedikit tergesa.

Aku menyalakan lampu di ruang tengah, dan duduk di sofa. Luka di bahuku terasa sangat sakit tak tertahankan.

“Maaf membuat Kakak menunggu.” Akiha datang membawa kotak P3K. “Saya tidak tahu apakah ini akan banyak membantu, tapi paling tidak, luka itu harus diberi disinfektan.”

Akiha mulai merawat lukaku. Seragamku yang berlumuran darah dipotong menggunakan gunting agar lebih mudah mengoleskan disinfektan ke lukaku.

“GUUH!!” aku menggeretakkan gigi dan mengepalkan tangan setelah tiba-tiba rasa sakit menjalar seperti listrik karena obat yang dioleskan Akiha. Namun setelah itu, perlahan rasa sakit menghilang. Akiha mungkin pandai merawat atau mungkin saja sebenarnya lukaku tidak separah dugaanku.

“Baiklah, selesai. Luka seperti ini akan sembuh besok pagi.” Akiha mengemasi kotak P3K.

Sebenarnya aku sedikit terkejut. Karena akuk mengira Akiha akan menanyakan dimana aku mendapatkan luka ini. Dan tentu saja memarahiku karena pulang pagi.

“…. Kau tidak bertanya, Akiha…?”

“Bertanya tentang…. apa?”
“Yah, kau tahu, karena aku pulang pagi, atau kenapa aku terluka?”

Aku mengatakannya seperti memprotes. Mungkin juga aku sebenarnya hanya ingin diperhatikan. Atau mungkin aku sudah terlalu lelah. Kelelahan membuatku bicara ngawur.

“Kak, … saya tahu prioritas. Sekarang yang paling penting adalah merawat lukamu terlebih dahulu.”

“Begitu ya? Oke, aku mengerti”

“Sebenarnya Kakak menganggap saya orang seperti apa? Tidak mungkin saya mengomeli orang yang terluka”

“Ah iya, maaf.”

“Tapi saya tetap ingin mendengar alasan kakak setelah luka kakak sembuh. Istirahatlah sekarang”

“________”

Aku mengalihkan pandanganku dari akiha. Aku bersyukur Akiha mau pengertian. Tapi meskipun sudah sembuh juga, aku tidak mungkin bisa mengatakan yang sebenarnya.”

“Akiha, Aku___”

“Sudahlah, kak. Jangan menatapku dengan wajah seperti itu. Sekarang kakak harus kembali kekamar dan segera tidur. Dan juga, paling kakak tidak akan menceritakannya padaku meskipun sudah sembuh”

Membaca pikiranku dengan sempurna, Akiha berbalik dan berjalan meninggalkan lobi. Menaiki tangga, menuju kamarnya.Aku hanya duduk disofa melihatnya pergi.

Tiba-tiba saja aku kepikiran sesuatu. Apakah Akiha dengan sengaja menunggu kedatanganku? Bagaimana mungkin dia muncul di lobi tiba-tiba seperti tadi?

“___Akiha”

“Ya Kak?”

“Terima kasih sudah mau merawatku. Maaf, aku selalu membuatmu cemas”

“Ah___” Akiha berhenti didepan pintu kamarnya.. Dan kemudian dia berbalik kearahku. “Sa, saya tidak mencemaskan kakak. Jika kakak memiliki tenaga untuk memuji, sebaiknya gunakan saja untuk menjaga diri kakak sendiri!”

Dengan keras, dia membanting pintu kamarnya.

“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya” Tapi aku tahu kalau dia mencemaskanku.

Tadi itu…. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Potongan-potongan tubuh berserakan di gang. Kemudian, sosok Yumizuka yang tangannya berlumuran darah. Membayangkannya saja, membuat bulu kudukku berdiri semua.

Aku berdiri dan kemudian menuju kamarku. Mengganti baju, aku kemudian melempar tubuhku keatas kasur. Setiap kali aku menutup mataku, bayangan pemandangan horror di gang berseliweran dikepalaku.

___ Ya. Aku yang membunuh mereka semua.

Kata Yumizuka waktu itu. Tanpa rasa bersalah.

___ Aku hanya membutuhkan darah mereka untuk tetap hidup.

Dan dia membunuh mereka. Seperti vampire…. Seperti lelucon yang sangat buruk.

___ Jadi tunggu aku, oke? Aku akan menjadi vampire yang hebat.

Dan aku tidak bisa mengingat apa kata Yumizuka selanjutnya.

Perlahan rasa kantuk menyerang. Dengan masih membayangkan wajah Yumizuka, aku menutup mataku pelan.

Hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik. Yumizuka mengatakan yang sebenarnya, dan dia yang membantai orang-orang itu.


No comments: