Musim semi
Bekas-bekas musim panas telah menghilang di pertengahan bulan Oktober ini. Hari ini adalah hari dimana aku, Tohno Shiki, kembali kerumah keluargaku, di kediaman Tohno. Setelah delapan tahun sejak kepergianku dari rumah itu
“Shiki… Cepatlah! Nanti kamu terlambat kesekolah!”
Aku mendengar suara Keiko-san memanggilku dari dapur.
“Baik, aku segera turun”
Aku memandangi kamarku yang selama ini kutempati sejak aku tinggal di kediaman keluarga Arima hingga sekarang. Aku kemudian segera turun menemui Keiko-san.
“Aku pergi sekarang. Terima kasih telah merawatku selama delapan tahun ini”
Aku membungkukkan badanku.
Aku berjalan melalui pintu masuk rumah keluarga Arima, dan kemudian berbalik karena mendengar suara Keiko-san memanggilku.
“Shiki,.....”
Aku hanya tesenyum.
“Sampai jumpa, Ibu”.
Aku jarang memanggil Keiko-san dengan sebutan ‘ibu’. Biasanya aku hanya memanggil dengan namanya saja.
Aku berjalan melewati pagar rumah kediaman Arima. Aku tidak akan kembali lagi kesini. Tidak akan kembali lagi kesini, sebagai anggoa keluarga Arima.
Delapan tahun. Mata dari seseorang yang telah menjadi ibuku selama delapan tahun terlihat begitu sedih. Aku belum pernah melihat Keiko-san seperti ini.
“Tinggal di rumah kediaman Tohno sangatlah sulit. Jaga dirimu baik-baik, Shiki. Jangan memaksakan diri, karena badanmu lemah”
Kata-kata Keiko-san menghentikan langkahku. Aku berbalik dan menjawab.
“Tidak apa-apa. Setelah delapan tahun ini, tubuhku semakin sehat. Sesehat orang biasa”
“Mungkin kamu benar, tapi, tinggal di kediaman Tohno sangat ‘berbeda’.”
Aku mengerti maksud Keiko-san. Kediaman Tohno sangatlah besar. Sesuatu yang sangat jarang ditemui zaman ini. Bukan hanya rumahnya yang besar. Namun keluarga Tohno sendiri juga sangat berpengaruh di negeri ini. Katanya, keluarga Tohno menanamkan modalnya ke berbagai perusahaan di seluruh penjuru negeri. Sebenarnya, disitulah aku seharusnya tinggal. Keluarga Arima selama ini hanya merawatku saja.
“Baiklah, aku pergi sekarang. Terima kasih telah merawatku selama ini”
Aku mengulang kata-kata itu sekali lagi, kemudian membelakangi rumah keluarga Arima, dan melangkah pergi.
Aku meninggalkan rumah keluarga Arima menuju sekolah dengan hati yang berat. Delapan tahun yang lalu, aku sembuh dari luka akibat kecelakaan yang bisa mengakibatkan kematian. Kemudian aku diserahkan kepada keluarga Arima, yang merupakan keluarga cabang dari keluarga Tohno. Aku tinggal di rumah keluarga Tohno hanya sampai umurku sembilan tahun. Setelah itu aku tinggal dirumah keluarga Arima hingga sekarang. Aku menjalani hidup yang normal sebagai anak angkat.
Sejak bertemu dengan Sensei yang memberiku kacamata yang kupakai hingga sekarang, hidup seorang Tohno Shiki sangatlah normal. Hingga kepala keluarga Tohno mengirimkan surat yang menyuruhku untuk kembali kesana, ketempat keluarga yang sempat membuangku
Jujur saja, bahkan sejak sebelum terjadinya kecelakaan, aku sendiri tidak pernah bisa merasa nyaman tinggal di rumah kediaman Tohno. Mungkin karena peraturan disana terlalu keras. Mungkin karena itu pula aku tidak menolak ketika ayah mengirimku ketempat keluarga Arima. Aku bahkan menganggap keluarga Arima sebagai keluargaku sendiri. Aku tidak pernah menyesal tinggal disana.
Kecuali satu hal. Adik perempuanku, tetap tinggal di kediaman keluarga Tohno.
“Mungkin Akiha membenciku sekarang.”
Itu wajar saja, karena Akiha, adikku, selama ini terus hidup dibawah pengawasan Ayah yang keras. Mungkin saja Akiha menganggapku melarikan diri.
“Yah, mau bagaimana lagi? Apa yang akan terjadi, terjadilah” pikirku.
Sepulang sekolah, aku akan pulang kerumah keluarga Tohno. Hanya tuhan yang tahu apa yang akan terjadi. Aku lihat saja perkembangannya nanti. Sekarang aku memiliki masalah yang lebih penting. Jam ditanganku menunjukkan pukul 7.45. itu artinya sebentar lagi aku terlambat, karena pelajaran dimulai pukul 8 tepat. Aku menggenggam erat tasku, dan mulai berlari.
“Hosh*….hosh*….”
Tidak terlambat. Untung aku tahu jalan pintas melalui gerbang belakang sekolah. Kalau kupikir-pikir lagi, hari ini adalah hari terakhir aku masuk sekolah melalui gerbang belakang. Karena mulai besok, aku berangkat dari kediaman keluarga Tohno, yang letaknya, meskipun jauh, berada didepan sekolah.
“Fiuuu…” sampai tepat waktu, aku segera menuju tempat dudukku yang berada disamping jendela.
“Selamat pagi, Tohno-kun”
Suara yang terdengar asing menyapaku. Berbalik badan, aku melihat seorang gadis berdiri disampingku.
“Tohno-kun, Pak Guru mencarimu. Katanya ada dia ingin bicara mengenai rumahmu”
“Rumahku? Ah, pasti mengenai pindahan itu” Aku merasa sudah mengisi semua form yang diperlukan untuk mengurus pergantian alamat. Mungkin ada yang terlewat.
Gadis itu termenung berdiri disampingku. Terus-terusan menatap kearahku.
“Uh… selamat pagi, Yumizuka-san”
“Ya, selamat pagi Tohno-kun. Baguslah, ternyata kau mengingat namaku” Terlihat lega, Yumizuka memberiku senyuman mungilnya.
“Hei, aku mengingat semua nama teman sekelasku, tahu. Hanya saja, kita jarang saling bertegur sapa seperti ini”
“Kau benar. Sejujurnya, aku sendiri sedikit merasa gugup ketika menyapamu tadi” Yumizuka kembali tersenyum. Dia terlihat gembira.
“…………….” Yumizuka kembali menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu.
Sejujurnya, aku tidak begitu mengenal Yumizuka. Meskipun kami berada dalam satu kelas, namun kami jarang saling berbicara.
Aku mengenal Yumizuka karena dia sering menjadi bahan obrolan diantara teman-teman cowokku. Dan tidak ada isu-isu jelek yang beredar mengenainya diantara teman-teman cewek. Pendek kata, dia seperti idola di kelas ini.
Biasanya dia selalu dikelilingi teman-temannya. Benar-benar kebalikan dari penyendiri seperti aku. Banyak sekali alasan bagiku untuk mengingat nama ‘Yumizuka Satsuki’, namun aku tidak menemukan satu alasan pun baginya untuk mengingat nama ‘Tohno Shiki’
“Tohno-kun, mmm… boleh aku bertanya?”
“Silahkan, kalau aku bisa jawab, akan kujawab.”
“Mungkin ini sedikit pribadi… tapi, kau tadi bilang mau pindah rumah….” suaranya terdengar sedikit gemetar, seakan-akan sulit baginya untuk menanyakan hal tersebut. Dia menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada untuk lebih membuatnya tenang. “Apa kau akan pindah sekolah?”
“Ah tidak kok, aku hanya pindah rumah saja, tapi aku tidak akan pindah sekolah. Rumah baruku masih di kota ini, bukan sesuatu yang besar””
“Begitu ya?” katanya lega.
Aneh sekali. Kenapa hal kecil seperti kepindahanku membuatnya bereaksi seperti itu?
“Berarti kau akan meninggalkan keluarga Arima?”
“Benar. Aku suka tinggal disana, tapi aku tidak bisa terus-terusan membebani mereka.”
Tunggu dulu? Yumizuka tahu kalau aku tinggal bersama keluarga Arima? Tidak ada yang tahu kalau aku tinggal bersama mereka kecuali satu orang.
“Yo…Shiki!”
Dan orang itu tiba-tiba muncul dari pintu kelas. Orang yang telah menjadi temanku sejak aku masih SMP.
“Hei, Yumizuka. Tumben kau mau ngobrol sama Shiki”
“Selamat pagi, Inui-kun”
Yumizuka memalingkan muka tanpa antusias. Kurasa Yumizuka jenis orang yang sulit berkomunikasi dengan cowok macam dia.
“Ooooo…. Ada apa ini? Shiki godain cewek? kirain kamu homo” goda Arihiko dengan suara keras.
“Bangsat. Jangan menyebar gosip yang tidak benar. Aku normal, tahu!”
“Benarkah? Baguslah, sobat. Cewek jaman sekarang melihat orang homo sebagai sesuatu yang menyengangkan. Tapi cuma sampai situ saja” tawa cerianya menggema di ruangan kelas pagi ini.
Menghela nafas, aku kemudian bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku kenal dengan orang macam ini?
Rambutnya dicat oranye. Telinganya ditindik, tatapan matanya seolah-olah menantang semua orang yang dilihatnya.
Namanya Inui Arihiko. Mungkin dia satu-satunya berandalan disekolah ini.
“Pagi-pagi begini, apa kau harus bicara sekeras itu? Aku sedang susah, jadi menyingkirlah dariku untuk hari ini saja, Oke?” aku mengayunkan tanganku menyuruhhya pergi.
“Susah? Kenapa? Ini belum tanggal tua, kan?”
“Tunggu dulu. kutarik kata-kataku tadi. Daripada hanya hari ini saja, aku lebih suka kau tidak mendekatiku sampai akhir hidupku. Aku akan tambah depresi kalau kau ada disekitarku”
“Hei hei, kau tidak boleh bicara begitu, Shiki. Sikapmu bisa membuat orang lain sakit hati, kau tahu itu?”
“Oh, mati saja kamu”
“Wow,wow, pagi ini kau lebih jahat dari biasanya”
“Aku sedang susah, kau tahu? Aku tidak bersikap seperti ini pada orang lain. khusus padamu saja”
“Kenapa kamu jahat sekali padaku, Shiki? kamu nggak kaya gini sama orang lain”
“Kamu baru sadar sekarang?”
“Tidak Adil!” protes Arihiko
“Hidup memang tidak adil, bung” aku menyahut
Begitulah hubunganku dengan Arihiko. Kami berteman baik, namun kami selalu melontarkan ejekan-ejekan setiap kali kami bertemu.
“Ngomong-ngomong Arihiko, ada angin apa gerangan yang membuatmu bisa datang tepat waktu? Biasanya kamukan nongol setelah jam kedua selesai”
“Kenapa? Ya setelah ada kejadian ‘itu’ aku tidak pernah keluar malam lagi. Jadi aku bisa bangun pagi” jawabnya “Kamu tahu tentang pembunuhan berantai itu kan?” tambah Arihiko
“Pembunuhan berantai? Ya aku pernah dengar. orang-orang memanggil pelakunya dengan sebutan ‘Vampire Maniak’ kan?”
Kami jadi mengobrol tentang pembunuh berantai yang selalu melakukan aksinya di malam hari. Karena itulah Arihiko tidak pernah keluar malam lagi. Terlalu beresiko.
“Kamu tahu ga? Semua korbannya adalah perempuan. Korban kedelapan ditemukan dua hari yang lalu” kata Arihiko serius. “Lebih anehnya, semua korban meninggal dengan luka berbentuk salib di leher” tambahnya
“Tidak seperti itu Inui-kun, semua korbannya meninggal karena kehabisan darah. Seakan-akan dihisap oleh vampire” kata Yumizuka membenarkan
“Wow, kamu tahu banyak tentang hal ini, eh? Yumizuka-san”
“Tidak juga” jawab gadis yang bernama Yumizuka itu. “Sebenarnya, karena terjadinya di daerah sekitar sini, jadi mau tidak mau, aku jadi tahu”
Begitu ya, kukira dulunya pembunuhan itu terjadi di kota sebelah. Rupanya pembunuh itu melebarkan wilayahnya sampai sini.
“Yah, pokoknya karena itulah aku tidak mau lagi main sampai malam” kata Arihiko menegaskan.
Aku duduk disebelah Arihiko. Dan tanpa sengaja, tangannya menyentuh tanganku.
“Hey bung, tanganmu dingin sekali. kamu anemia lagi ya?” Arihiko bertanya.
“Wah, terima kasih sudah begitu perhatian. Kalau aku anemia 24 jam sehari, aku pasti sudah mati.”
“Ok, kalau kamunya bilang begitu, artinya kamu baik-baik saja”
KRIIIIING!!
Pembicaraan kami terputus karena mendengar suara bel berbunyi.
“Pelajaran segera dimulai. Sana, kembali ke kursimu”
Arihiko kemudian berjalan menuju tempat duduknya.
Aku sebenarnya merasa sedikit heran. Kenapa Yumizuka melibatkan diri dalam pembicaraan kami tadi. Memang dia teman sekelasku, Namun aku sebenarnya jarang sekali mengobrol dengannya.
Jam kedua selesai. Wali kelasku yang juga guru matematika memanggilku. “ada beberapa dokumen yang belum kau isi” begitu katanya.
Kalau hanya mengisi dokumen saja kurasa tidak akan lama. Sebaiknya aku segera ke kantor guru sebelum jam ketiga dimulai. Kantor ada di lantai satu, sedangkan kelasku ada di lantai dua. Kalau aku lari, aku masih sempat kembali ke kelas sebelum jam ketiga dimulai.
Tap tap tap!
Aku berlari.
Tap tap tap!
Aku berlari menuruni tangga.
Tap tap tap
Dan… BRAAAK!!
Sebuah tumbukan membuatku terlempar dan jatuh kelantai. Kepalaku membentur sesuatu, dan untuk sesaat, dunia terlihat berputar-putar.
“Ow…owowowow…”
Aku mendengar suara seseorang didekatku. Suara seorang gadis. Sepertinya aku tadi menabraknya ketika berlari.
“Maaf. Kau tidak apa-apa?” mataku masih berkunang-kunang, tapi aku tetap meminta maaf kepada orang yang kutabrak.
“I, iya. Aku tidak apa-apa. Kau juga baik-baik saja?” tidak terdengar nada menyalahkan dari suara yang lembut itu. Aku tidak mengenalnya, tapi tampaknya dia mencemaskanku.
“Tidak apa. Aku baik-baik saja” jawabku sambil mengejap-ngejapkan mata. Sebentar kemudian, pengelihatanku kembali normal.
“Kau tidak apa-apa?” kata gadis itu. “dahimu sedikit bengkak”
“Eh?” aku meraba dahiku dan merasa sedikit sakit.
“Maaf, aku tadi sedikit melamun. Dahimu pasti sakit, ya?” kata pelajar putri itu memandangku dengan tatapan menyesal.
Dari cara bicaranya, aku mengira dia masih kelas satu. Namun setelah kulihat warna dasi pitanya, aku baru menyadari kalau dia adalah kakak kelasku.
“Ti, tidak apa. Aku yang salah. Maaf telah menabrakmu, Senpai” aku membungkukkan badan meminta maaf.
“Ah, benar juga” katanya tersadar. “Kau tidak boleh lari-lari di lorong, kau tahu itu? Ada beberapa orang yang senang melamun sambil melihat halaman sekolah seperti aku.” Nada bicarannya berubah menjadi seperti menggurui.
“I, iya. Saya minta maaf. Senpai tidak apa-apa?”
“Hanya jatuh. Ini karena kau melempar dirimu sendiri ketembok untuk menghindari tabrakan, Tohno-kun”
“Benarkah? Yah, tidak heran kalau aku sempat melihat bintang-bintang berputar dikepalaku. Saya minta maaf, tapi melamun di lorong juga berbahaya, Senpai”
”Ya. Aku akan lebih hati-hati” Senpai mengangguk sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang tulus.
“Ka, kalau begitu, aku pergi dulu” menghilangkan debu dari celanaku dengan menepuknya, aku kemudian berjalan menuju kantor. Namun senpai tadi tetap memandangku melalui kacamatanya.
Tunggu dulu. Tadi siapa ya? Aku tidak begitu memperhatikannya, tapi kalau dipikir-pikir, dia cantik juga. Kalau dia secantik itu, seharusnya ada rumor tentang ‘gadis kelas tiga berkacamata yang cantik’
“Mmm… aku pergi sekarang. Sebaiknya Senpai segera kembali kekelas senpai. Namaku Tohno, kelas 2-3”
Dia mengangguk. Meskipun dia lebih tua dariku, tapi aku merasa seperti berbicara dengan orang yang lebih muda.
“Aku mengerti. Nanti makan siang aku akan ke kelasmu. Ingat Shiki-kun, kau tidak boleh lari di lorong seperti tadi.”
“Tentu saja, dan senpai juga sebaiknya tidak melamun di lorong” dengan itu, aku melambaikan tangan dan____
Tunggu…. Shiki-kun? Aku belum pernah memberi tahu nama kecilku. Dan seperttinya dia juga menyebut namaku seperti itu sebelumnya.
“Apa kita pernah bertemu, Senpai?”
“HEEEH?!” teriak Senpai terkejut. “Jahatnya… kau lupa padaku, Tohno Shiki-kun?”
Lupa? Tidak mungkin, ah? Kalau aku dengan gadis secantik dia, mana mungkin aku bisa lupa.
Dia memandangku seperti memaksaku untuk mengingat-ingat lagi. Mata itu…. Aku yakin aku pernah melihatnya. Kurasa kami pernah beberapa kali bertukar sapa.
“Ciel-Senpai, kalau tidak salah?” tebakku ragu.
“Syukurlah kau masih ingat.kau jenis orang yang suka melamun dan pelupa, ya? Tohno-kun”
Suka melamun, tidak. Tapi kalau pelupa, yah, harus kuakui itu benar.
“Baiklah kalau begitu, sampai ketemu makan siang nanti ya” Ciel-senpai membungkukan badannya kemudian berjalan berlawanan arah dengan kantor guru.
******************
Waktu makan siang tiba. Kelas menjadi lebih hidup. Beberapa murid laki-laki langsung berlari menuju kantin, beberapa gadis membentuk kelompok untuk makan siang bersama, dan beberapa lagi keluar dengan tenangnya sambil membawa kotak makan siang mereka.
Aku mengamati mereka sambil mengeluarkan kotak susu dan roti yang kubawa.
“Lagi tidak nafasu makan? Shiki?”
Cowok berambut oranye yang berdiri didepanku mengatakan sesuatu yang seperti sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Dan aku lagi malas untuk meladeninya.
“Tapi… apa-apan ini? Hanya kita berdua. Apa artinya makan siang tanpa ditemani bunga yang bermekaran?”
“Kalau kau mau ditemani ‘bunga bermekaran’-mu, kenapa kau tidak bergabung dengan kelompok yang disana? Aku tidak akan melarangmu”
“Bodoh! Kalau aku bilang ‘bunga bermekaran’, itu artinya seorang gadis. Cewek-cewek yang berkelompok itu tidak bagus. Mereka lebih cocok disebut beracun dari pada cantik”
Komentar Arihiko mungkin bisa menghasilkan lemparan batu kearah kepalanya kalau kelompok cewek itu mendengar. Untungnya hal itu tidak terjadi.
“Cukup kasar, Arihiko. Aku tahu kau anak nakal, tapi tidakkah kau sedikit keterlaluan akhir-akhir ini? Kau hampir melebihi kata ‘nakal’ dan mulai menuju ‘jahat’”
“Mau gimana lagi? Ketika menemukan ada cewek cakep di sekolah ini. Mataku menjadi semakin kritis”
“Hah…begitu? Jadi, siapa cewek cakep itu?”
“Rahasia. Aku tidak mau menambah saingan” Arihiko tertawa dengan sebuah senyuman ambisius menghiasi wajahnya. Karena aku tidak memilikinya, aku sedikit merasa kagum dengan kemampuannya mengekspresikan diri dengan vulgar.
Dan kemudian, gadis yang kutabrak tadi pagi muncul dari daun pintu. Membawa kotak makan siang, aku tidak mungkin salah mengenali.
“Halo, Tohno-kun. apa aku mengganggu?”
“Ah, tentu saja tidak”
Tersenyum, Ciel Senpai mengambil kursi dan duduk dengan santainya.
“Senpai, yang tadi pagi masih sakit?”
“Tidak kok”
Senyumannya benar-benar bisa membuatku salah tingkah.
“Tadi kau menyuruhku untuk kemari saat makan siang, jadi kuarasa tidak sopan kalau aku tidak memenuhi undanganmu”
“Aku memang bilang begitu, tapi….”
Maksudku kalau senpai terluka dan minta pertanggung jawaban.
“SENPAIIII!!!” Arihiko menggebrak meja dan berdiri dengan tiba-tiba.
“Ah, Inui-kun. apa kau teman Tohno-kun?”
“Yeah! Lebih dari sekedar teman. Aku dan dia sudah kenal bersahabat sejak kecil! Benar bukan? Shiki? Dia bisa kubilang teman terbaikku!”
“_____” aku tidak bisa bilang setuju atau tidak setuju dengan pernyataan Arihiko.
Pada akhirnya, Arihiko berhasil memaksa senpai untuk makan siang bersama. Sejak awal Senpai memang sudah membawa bekal makan siangnya, jadi mungkin sejak awal dia memang sudah berniat untuk makan bersama.
****
“Jadi, Inui-kun tinggal sendiri?”
“Bareng adik perempuanku kok. Orang tua kami pergi dan mempercayakan tanggung jawab rumah pada kami, jadi kami harus bisa memasak sendiri”
Arihiko tampak sangat akrab dengan Senpai. Dia lebih banyak bicara daripada aku.
“Ngomong-ngomong senpai, tadi kau bilang dipanggil Shiki kemari. Memangnya ada apa?”
“Ah, tadi pagi kami bertabrakan. Tidak sakit sih, tapi sepertinya kepala Tohno-kun terbentur tembok”
“Jadi kau kemari karena cemas?”
“Yah, bisa dibilang begitu”
Cara bicara senpai sangat cepat, namun jelas terdengar. Karena mendengarkan suaranya lebih menyenangkan, aku memutuskan untuk tetap diam saja. Tapi tiba-tiba Arihiko bertanya padaku, “Kenapa Shiki, sampai menabrak orang? Anemiamu lagi?”
“Tidak kok, tadi aku buru-buru karena ada satu-dua hal yang harus kulakukan mengenai masalah pindah rumahku”
“Benarkah? Kalau begitu itu salahmu, Shiki” kata Arihiko melipat lengannya sambil mengangguk
“Pindah? Kau mau pindah sekolah, Tohno-kun?” tiba-tiba saja Senpai memotong pembicaraan kami dengan sedikit histeris.
“Cuma pindah tempat tinggal kok. Aku harus mengurus beberapa dokumen untuk mengganti alamat rumahku”
“Oh, jadi kau sekarang tinggal sendiri?”
“Tidak, Cuma aku akan kembali kerumahku yang sebenarnya. Sebuah rumah besar diatas bukit. Aku sendiri masih belum percaya kalau itu rumahku”
“Ah, rumah itu?” Tanya Senpai sedikit tidak percaya
Rumah besar ala barat yang tidak lazim ditemukan di Jepang, mungkin terlihat aneh bagi penduduk sekitar. aku memang sudah 8 tahun tidak kesana, tapi dalam ingatanku rumah itu memang benar-benar besar.
“Benar. Itu rumahku. Aku sempat berpikir kalau tempat itu tidak cocok untukku, tapi semua sudah terlambat. Hari ini aku akan pulang kesana”
“Kau tidak… terlihat senang, Shiki” kata Arihiko.
“Tidak tahu. Aku sendiri tidak tahu apakah aku senang atau tidak”
“Meskipun itu rumahmu, kau sudah tidak tinggal disana selama 8 tahun. Aku mengerti kalau kau merasa rumah itu seperti asing bagimu”
“Tapi aku masih bisa sedikit rileks, karena kalau ada apa-apa, aku akan mengungsi kerumahmu”
“Hei dengar, aku tidak suka idemu yang kabur kerumahku kalau sesuatu yang buruk terjadi” protes Arihiko. Dia memukul meja dengan keras.
“Tohno-kun sering menginap dirumahmu?” tanya senpai kepada Arihiko.
“Yup. Keparat ini selalu main kerumahku setiap kali liburan panjang. Karena dia anak baik, adik perempuanku jadi suka padanya. Dan dia dengan pede-nya menginap dirumahku tanpa membayar satu sen-pun!!”
Aku membuang muka mendengar kata-kata Arihiko. Dan secara tidak sengaja, mataku menemukanYumizuka. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi sepertinya dia segan memotong obrolan kami bertiga.
Aku kemudian berdiri dan meninggalkan Arihiko dan Ciel-Senpai.
“Ada apa Yumizuka-san?”
“Ah? A, aku ingin bicara sebentar, tapi mungkin saatnya kurang tepat”
“Tidak apa. Bicaralah”
“Tapi…..” mata Yumizuka melirik kearah Arihiko. Mungkin Yumizuka kurang nyaman berada didekat temanku yang satu itu.
“Kalau dilorong bagaimana?” Yumizuka menawarkan.
“Baiklah,” aku menoleh kearah Arihiko. “Arihiko, aku keluar sebentar”
Arihiko membalas dengan lambaian tangan, setelah itu aku dan Yumizuka berjalan keluar kelas.
“Jadi?” tanyaku
“Mungkin aku salah, tapi apa Tohno-kun akhir-akhir ini sering ke daerah perkantoran pada malam hari?”
Hah? Daerah perkantoran? Siang saja aku jarang kesana. Pertanyaan yang tidak pernah kuduga.
“Malam? Jam berapa?”
“Tengah malam”
“Kalau begitu itu bukan aku. Di rumah ada jam malamnya. Jam 7 malam aku sudah tidak boleh keluar. Kalau sampai pulang kemalaman, terpaksa aku harus berkemah di halaman”
Dia terlihat gembira dengan jawabanku.
“Ah, benar juga. Keluarga Arima terkenal tradisional dan tegas. Pasti mereka juga keras padamu, Tohno-kun”
“Wow, kau tahu tentang itu, Yumizuka-san? Jangan-jangan kau ikut les upacara minum teh yang diselenggarakan keluargaku”
“Tidak” Yumizuka tersenyum. “Tapi aku punya teman yang ikut les itu. Dan katanya memang benar-benar ketat aturannya”
“Tapi, dari mana kau tahu kalau aku tinggal bersama keluarga Arima? Yang tahu tentang itu hanya beberapa orang saja”
“Aha ha ha, apa kau lupa kalau kita sekelas saat SMP?” kata Yumizuka terkikik.
“Eh?”
Satu kelas? Aku tidak begitu ingat, tapi kalau benar, tidak heran kalau dia tahu tentang hal itu.
“Tapi syukurlah, yang malam-malam itu bukan kamu, Tohno-kun. maaf mengganggu makan siangmu”
Yumizuka segera kembali ke kelas setelah mengatakannya.
“Sudah selesai ngobrolnya?” tiba-tiba saja kepala Arihiko menjulur keluar dari pintu kelas.
“Yah. Dia cuma salah mengenali orang. Ngomong-ngomong Arihiko…..”
“Benar kita dan Yumizuka sekelas sejak SMP. Kelas dua, kelas tiga, dan kelas satu SMA. Total selama tiga tahun kita bertiga sekelas” potong Arihiko seakan-akan tahu apa yang ingin kutanyakan.
“Kau tahu apa yang ingin kutanyakan?”
“Dari wajahmu aku tahu. Tapi brengsek benar kau ini. Kukira selama ini kau hanya tidak mengacuhkannya saja, tapi ternyata kau memang tidak pernah TAHU kalau dia ada. Dia pasti menderita selama ini” Arihiko menatapku dengan tatapan menyalahkan, sambil menurunkan bahunya.
“Ah, pacarnya Tohno-kun ya? Yang tadi itu?” Tiba-tiba senpai ikut muncul dari balik pintu kelas.
“A, apa yang kau katakan Senpai” jawabku gugup. “Mengobrol saja kami jarang”
“Tidak usah bohong. Semua yang lihat juga tahu kalau kalian sangat dekat. Aku jadi sedikit cemburu”
Tapi kau terlihat senang. Senpai terlihat sangat bersemangat…. Untuk menggodaku.
“Arihiko. Tolong jelaskan padanya”
“Jelaskan apa? Tadi pagi saja kalian bicara mesra begitu”
“Kyaa! Ketemu diam-diam di dalam kelas pagi-pagi buta” Senpai memegangi pipinya yang memerah. Dan tampaknya dia semakin senang menggodaku dengan bantuan Arihiko.
“…….” Sudahlah, aku tidak usah menggubris mereka.
“Tapi kau keterlaluan juga, Tohno-kun. dia tadi tampak sedikit sedih bukan? Seharusnya kau lebih perhatian. Jadi…”
“Senpai…..” potongku
“?”
“Jam makan siang sudah hampir habis”
“Aku tahu. Baiklah, sampai ketemu Tohno-kun, Inui-kun” tersenyum, Senpai meninggalkan kelas kami.
“Shiki” panggil Arihiko dengan wajah serius setelah senpai menjauh. “Jangan mengejar Yumizuka”
“Jangan? Kenapa?”
“Dengar. Meskipun Yumizuka tampak gaul, tapi sebenarnya dia sangat pemalu dan single-minded. Sama sekali tidak cocok dengan orang yang super cuek seperti kamu. Gadis itu berbahaya”
Setelah mengatakan itu, Arihiko kembali duduk dikursinya.
“Ngomong apa dia?” batinku.
**********
Sekolah telah usai. Tapi aku merasa tidak ingin segera pulang. Aku memandang halaman sekolah dengan tatapan kosong.
Ruang kelas bersemu oranye tertimpa cahaya matahari terbenam. Warnanya yang seperti cat air, menyakiti mataku.
Aku tidak suka warna merah. Ketika melihatnya aku merasa mau muntah. Tampaknya aku lemah terhadap hal-hal yang mengingatkanku pada darah. Bisa dibilang aku sendiri lemah terhadap darah. Mungkin karena disebabkan oleh kecelakaan 8 tahun lalu yang hampir merenggut nyawaku. Masih terdapat bekas kecelakaan itu didadaku. Sejak saat itu aku sering sekali pingsan karena anemia, dan sering merepotkan orang-orang disekitarku.
“Bekas luka di dada, huh?”
Bukan hanya bekas luka ini yang menjadi warisan kecelakaan tersebut. Mataku menjadi sangat aneh. Aku mampu melihat garis-garis maut disetiap benda. Aku sangat berterimakasih kepada Sensei karena memberiku kacamata ini. Bila tidak, mungkin sekarang aku sudah menjadi gila.
Keiko-san pernah mengatakan kalau kediaman Tohno tidak ‘normal’. Kurasa itu tidak masalah, toh aku sendiri bukan orang yang normal.
“..............”
Aku harus segera pulang. Aku tidak bisa terlalu lama disini.
Mengemasi buku-bukuku, aku segera meninggalkan sekolah. Kalau kupikir-pikir ini pertama kalinya aku pulang melalui gerbang depan.
“Mulai sekarang, gerbang ini akan kulewati setiap kali aku berangkat dan pulang sekolah”
Meninggalkan gerbang sekolah, aku berjalan menuju perempatan didekat daerah perumahan. Perempatan yang memisahkan daerah perumahan dan pusat kota. Selain itu___
“Tohno-kun” Seseorang memanggilku. Secara tidak sengaja aku berpapasan dengan Yumizuka.
“Ah, Yumizuka-san” aku balas menyapa.
Mungkin karena Ciel-senpai menggodaku tadi siang, aku menjadi sedikit tersipu ketika menyapanya. Yumizuka menatapku dengan sedikit aneh.
“A, ada apa, Yumizuka-san? Apa ada yang aneh dengan wajahku?”
“Tidak, Cuma heran saja. Apa yang kau lakukan disini, Tohno-kun? rumahmu kan disebelah sana?” Yumizuka menunjuk arah yang berlawanan dengan arahku berjalan.
“Ah itu… ya, seperti yang sudah kukatakan tadi, aku pindah rumah mulai hari ini. Aku akan tinggal di rumah di puncak bukit itu” Aku menunjuk arah depanku.
“Ah, iya. Tadi pagi kita sudah bicara tentang itu” Yumizuka menepukkan kedua telapak tangannya didepan dagunya. tanda mengerti.
…… Ok, dia terlihat sangat manis ketika melakukannya.
“Benar. Hari ini aku meninggalkan kediaman Arima, dan akan tinggal di rumahku yang sebenarnya.”
“Kediaman keluarga Tohno?”
“Yah, dan entah kenapa aku merasa aku bakal kurang cocok tinggal disana”
“Tapi ini artinya kau adalah pangeran yang tinggal di istana besar bukan?” dengan senyuman kecil, pandangan Yumizuka menerawang jauh ke kaki langit. “Apa kau akan baik-baik saja, Tohno-kun? meskipun rumahmu sendiri, tapi kau sudah meninggalkannya selama 8 tahun bukan? Merasa takut atau cemas mungkin?” tambahnya bertanya.
“Entahlah. sejak dulu, aku memang tidak begitu suka rumah itu. Tapi tetap saja___”
Aku tidak bisa meninggalkan adikku sendirian. Meskipun merasa tidak nyaman, aku harus tetap kembali ke rumah itu. “___aku harus kembali kesana. Ke rumahku yang sebenarnya”
“Aku mengerti. Kau sedang buru-buru bukan? Maaf aku jadi bikin lama” untuk suatu alasan, Yumizuka terus-terusan melihat kebawah, tanpa bicara.
“Ada apa Yumizuka-san? Kau sakit?” aku mencoba memecahkan keheningan ini, namun Yumizuka terus menatap tanah. Aku tidak bisa meninggalkannya seperti ini. Aku akhirnya memutuskan untuk tetap disana, memandanginya.
Sampai akhirnya,
“A..anu..”
“Ya?”
“Kita searah sampai bukit”
“Benarkah? Kalau begitu, ayo pulang bareng”
“Eh?” Yumizuka terkejut. Matanya melebar, dan tangannya menutupi mulutnya. “Ka, kau benar. Kita searah. Jadi tidak aneh kalau kita pulang bersama.” Katanya tiba-tiba dengan riang. Aku bisa melihat dia sedikit melompat ketika mengatakan kalimat terakhirnya.
Aku pulang bersama dengan Yumizuka. Sepanjang perjalanan, kami banyak mengobrol. Bersama dengan Yumizuka, menyenangkan juga bisa menikmati saat-saat seperti ini.
“Hi hi hi…” Ketika berjalan, tiba-tiba saja Yumizuka tertawa, seperti mengingat sesuatu yang lucu.
“Ada yang lucu?”
“Tidak. Hanya saja mulai besok, aku akan berangkat dan pulang sekolah dengan rute yang sama denganmu” jawabnya gembira.
Aku tidak pernah menyadarinya. Tapi aku merasa Yumizuka sangatlah manis. Aku akhirnya tahu bagaimana perasaan teman-teman cowokku yang sampai mau mati-matian melakukan PDKT terhadapnya.
Percakapan kami selesai. Aku hanya terus memandangi wajah tersenyum Yumizuka sambil berjalan. Tanpa bicara kami berdua berjalan beriringan menuju daerah perumahan dengan cahaya senja keemasan menyinari kami.
“Hei, kau ingat ketika liburan musim dingin kelas dua SMP?” tanya Yumizuka dengan suara lirih.
Liburan musim dingin kelas dua SMP. Ketika aku memutuskan untuk mengambil pelajaran tambahan di sekolah karena aku merasa tidak nyaman tinggal terus-terusan di rumah. Aku ingat hal itu, tapi aku tidak mengerti kenapa dia menanyakannya.
“Sudah kuduga. Tohno-kun pasti tidak mengingatnya” Kecewa, aku melihat Yumizuka menurunkan bahunya sambil mendesah. “Ada dua gudang olah raga di SMP saat itu, kau ingat? Yang baru digunakan untuk menyimpan peralatan klub yang memiliki banyak anggota, sedangkan yang lama untuk klub-klub kecil seperti Badminton. Ruang olah raga lama sedikit bermasalah pada grendel pintunya, sehingga kadang tidak bisa dibuka”
“Ah, iya. Aku tahu itu. Gudang itu akhirnya dibongkar setelah kejadian ada beberapa murid yang terkunci didalamnya”
“Ya. Murid-murid itu adalah anggota klub Badminton”
“Ah!!” Aku ingat sekarang.
************
Waktu itu cuaca sangat dingin. Beberapa hari setelah tahun baru. Aku mengikuti pelajaran tambahan disekolah hingga sekitar pukul lima sore. Langit semakin gelap, dan aku memutuskan untuk pulang setelah kulihat tidak ada seorangpun di dalam sekolah.
Musim dingin. Meskipun baru pukul lima, namun suasana sudah segelap malam. Menurut ramalan cuaca, salju akan turun malam ini, sehingga hawa dingin terasa sangat menusuk.
Dan ketika aku hendak meninggalkan sekolah, aku mendengar suara pintu yang digedor-gedor. Suaranya berasal dari arah gudang lama, dan aku memutuskan untuk mengeceknya.
Ada orang disana?
Aku bertanya, dan kemudian mendengar suara beberapa murid perempuan dari dalam gudang. Mereka telah terkunci selama dua jam lebih. Ketika mereka mengemasi perlengkapan klub, mareka menutup pintu gudang agar tidak kedinginan. Namun setelah itu, pintu gudang tidak lagi mau terbuka.
Mereka tidak dapat membuka pintu gudang dari dalam, dan memintaku untuk memanggil guru untuk menolong mereka keluar.
Tapi semua guru sudah pulang. Kalaupun aku memanggil mereka melalui telepon, akan butuh waktu sekitar satu jam untuk kembali kesekolah.
Hawa dingin menusuk tulang. Pertanda salju hendak turun. Akan sangat kejam kalau aku meninggalkan mereka yang terkunci didalam gudang, kedinginan, hanya memakai baju olah raga, untuk satu jam kedepan.
Setelah memastikan tidak ada orang disekitarku, aku melepaskan kacamataku, dan memotong ‘garis maut’ pintu gudang tersebut dengan batu.
Pintu terbuka. Lima orang murid perempuan, dengan mata merah karena manangis, berhamburan keluar.
********
“Ya. Aku ingat. Pernah ada kejadian seperi itu. Tapi kok kamu bisa tahu? Kapten klub saat itu mengatakan ‘Jangan beri tahu teman-teman yang lain, ini untuk kelangsungan klub kami’. Yah, terdengar seperti sebuah ancaman bagiku”
“Oh, Tohno-kun! apa kau tidak tertarik untuk mengetahui siapa saja yang terperangkap dalam gudang waktu itu? Dengar, aku adalah salah satu anggota klub Badminton yang terperangkap didalamnya” terdengar sedikit nada marah dari Yumizuka.
Eh? Itu artinya……
“Aku…” lanjut Yumizuka. “Masih ingat dengan jelas kejadian waktu itu. Dingin dan gelap. Kami semua sempat berpikir kalau kami akan mati membeku didalamnya. Selain itu aku juga merasa sangat lapar. Mungkin saja aku bisa pingsan karenanya”
“Berat juga ya?”
“Kemudian, ketika kami semua menggigil dan ketakutan, kau berteriak dari luar ‘Ada orang disana?’. Kemudian dengan marah, Kapten membalas, ‘Apa kau harus tanya?’ kau masih ingat bukan?”
“Yah, aku masih ingat ada suara berdebam ketika dia melempar bat bisbol kearah pintu. Aku masih ingat itu”
“Ya. Benar!” Kata Yumizuka, tertawa. “Namun ketika kau mengatakan kalau semua guru sudah pulang, harapan kami kembali hilang. Kami sudah tidak tahan berada didalam gudang itu, namun kami harus menghadapi resiko terperangkap hingga pagi. Ketika kami sudah pasrah dengan nasib kami, kau tiba-tiba berkata,’Aku mungkin bisa membukakan pintu ini, jika kau mau menjaga rahasia’”
“Kemudian salah satu dari kalian menjawab dengan marah, ‘kalau bisa semudah itu dibuka, kami tidak akan menderita seperti ini!’ sambil sekali lagi menggedor pintu dengan keras. Dia benar-benar marah waktu itu”
“Ha ha ha, Kapten merasa bertanggung jawab, jadi tidak ada waktu untuk bersabar. Tapi setelahnya, tiba-tiba saja pintu gudang terbuka. Semua orang gembira. Mereka pasti mengira pukulan kapten dengan bat bisbol berhasil membuka pintu gudang tersebut. Tapi, aku melihatmu. Kau yang berdiri terdiam disamping pintu gudang yang terbuka.”
Yumizuka memandangku. Tatapannya terasa hangat. Tapi masalahnya, bagiku hal itu adalah sesuatu yang biasa. Aku tidak pantas mendapatkan rasa terima kasih sebesar itu.
“Saat itu, aku menangis sekerasnya. Hingga mataku terasa pedih. Kau tahu apa yang kau katakan ketika melihatku seperti itu?”
“Wah, aku lupa. Memangnya aku bilang apa?” aku benar-benar lupa, jadi aku bertanya seakan-akan orang lain yang mengatakannya.
Yumizuka menatapku sambil tersenyum. Dia kemudian berkata, “Waktu itu kau meletakkan tanganmu dikepalaku dan mengelusnya. Kemudian kau berkata,’Cepat pulang dan makanlah Ozuni (makanan khas jepang ketika tahun baru)’. Aku benar-benar malu saat itu. Tubuhku masih menggigil kedinginan”
“Benarkah?”
“Kurasa waktu itu kau menyuruhku menghangatkan badan dengan memakan Ozuni”
“Ah, tentu saja. Waktu itu baru saja lepas tahun baru”
“Kemudian, sejak saat itu, aku mulai berpikir. Banyak sekali orang-orang yang dapat diandalkan, namun ketika aku dalam bahaya, yang akan datang menolong pastilah Tohno-kun”
“Ah, kau terlalu berlebihan. Hanya kebetulan saja kok”
Yumizuka menggeleng tanda tidak setuju dengan ucapanku.
“Aku selalu percaya bahwa Tohno-kun akan datang dan menolongku setiap kali aku mengalami kesulitan” Ekspresi wajah Yumizuka menunjukkan kepastian.
“Kau terlalu berlebihan memujiku. Aku tidak sampai segitunya”
“Tidak apa. Aku percaya, dan tolong biarkan aku mempercayainya” Yumizuka menatap lurus mataku. Membuatku merasa terlalu malu untuk balas menatapnya.
“Terserah kalau begitu”
“Jadi, kalau aku dalam bahaya, kau akan segera datang dan menyelamatkan aku bukan?”
Jujur saja, aku bukan tipe orang yang bisa diharapkan. Tapi melihat wajahnya, aku merasa tidak enak kalau harus menghancurkan harapannya.
“Ya. Aku akan mencoba semampuku” jawabku.
“Kau tahu, aku selalu ingin bisa mengobrol seperti ini bersamamu, Tohno-kun”
Mungkin karena pengaruh sinar matahari senja, tapi aku melihat wajah Yumizuka terlihat sedikit kesepian.
“Kenapa tidak? Kita bisa cerita-cerita seperti ini setiap hari”
Yumizuka menggeleng. “Inui-kun selalu berada didekatmu, selain itu, kita juga terlalu berbeda”
Mengatakan itu, Yumizuka berjalan menjauh.
“Rumahku kearah sini. Sampai jumpa di sekolah, Tohno-kun” tersenyum, Yumizuka melambaikan tangan dan berjalan menuju persimpangan.
Aku melanjutkan berjalan menuju kediaman Tohno. Perjalanan yang terasa sangat asing bagiku. Pemandangan sekitar memang tidak begitu asing, karena aku pernah tinggal disini hingga berumur 9 tahun. Ini bukan pertama kainya aku melalui jalan ini.
Aku meninggalkan rumah sejak aku berumur 9 tahun. Saat ini, adikku, Akiha, tinggal dirumah yang bergaya barat itu sendirian. Ayahku, Tohno Makihisa, meninggal beberapa hari yang lalu. Ibu meninggal setelah melahirkan Akiha. Ini artinya, keluarga inti Tohno hanya tinggal kami berdua. Menjadi anak laki-laki pertama belum tentu menjadikanku pewaris kekayaan keluarga Tohno. Menjadi pewaris berarti harus mengikuti aturan-aturan tertentu yang membuatku sering dimarahi oleh ayah. Mungkin setelah terjadi kecelakaan, Ayah menemukan alasan yang tepat untuk mengusirku dari rumah. ‘Seseorang yang bisa mati kapan saja tidak cocok menjadi pewaris’ mungkin itulah yang ada dibenak Ayah saat itu. Sayangnya harapan Ayah meleset. Aku sembuh. Meskipun begitu, Akiha terlanjur dijadikan pewaris utama keluarga Tohno. Dan kudengar selama ini Akiha dibesarkan dilingkungan yang super ketat dibawah pengawasan Ayah.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bermain bersama Akiha. Setelah kecelakaan, aku belum pernah melihatnya lagi. Sepertinya Akiha selalu mengunjungi rumah keluarga Arima. Namun sayangnya, kami tidak pernah bisa bertemu karena aku masih harus pergi kerumah sakit setiap hari. Dan akhirnya kami benar-benar putus kontak setelah Akiha disekolahkan keluar negeri. Berbeda dengan Akiha, aku dibesarkan jauh dari keluarga utama. Sehingga aku bisa hidup bebas seperti ini.
Sebenarnya aku tidak mau kembali kerumah itu meskipun Ayah telah meninggal. Namun Akiha ada disana. Ketika masih kecil, Akiha adalah seorang anak yang patuh, cengeng dan gampang sekali ketakutan. Dia selalu mengikuti aku kemanapun aku pergi. Tubuhnya yang kecil, dengan rambut panjangnya yang berwarna hitam membuatnya tampak seperti boneka Perancis. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian setelah Ayah meninggal. Selain itu, aku juga merasa bersalah. Aku seakan-akan memaksanya menerima semua tanggung jawab keluarga Tohno, sedangkan aku hidup dengan bebasnya diluar. Mungkin saja sebenarnya aku kembali kerumah karena rasa penyesalan dan sebagai bentuk permintaan maafku terhadap Akiha.
Akhirnya, aku sampai didepan pintu gerbang rumah kediaman keluarga Tohno. Rumah yang luar biasa besarnya tepat berada didepanku. Mungkin bahkan lebih besar daripada sekolahku. Rumah ini dikelilingi pagar besi yang sepertinya sangat mahal. Banyak sekali pohon yang tumbuh di taman. Bahkan bisa dibilang terlihat seperti hutan. Bangunan utama terletak ditengah-tengah dengan beberapa bangunan lain disebelahnya.
Aku kemudian membuka pagar yang tidak terkunci.
“Baiklah......” aku berusaha menekan keteganganku.
Aku masuk kehalaman menuju bangunan utama, berdiri didepan pintu, dan kemudian menekan bel.
DING DONG!
Terdengar suara bel yang kutekan diikuti dengan suara langkah kaki dari balik pintu.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka.
“Kami telah menunggu Anda.”
Aku melihat seorang gadis muda yang memakai apron dan yutaka membukakan pintu.
“Syukurlah. Anda sangat terlambat, sehingga saya sempat takut bila anda tersesat. Saya bahkan berencana untuk menjemput anda bila anda belum juga tiba hingga matahari terbenam.” Kata gadis yang memakai apron putih tadi tersenyum hangat.
“Ah, tidak, itu...”
Melihatnya menggunakan model pakaian yang sudah kuno membuatku tidak bisa merangkai kata.
Melihatku yang sedikit kebingungan, dia sedikit memiringkan kepalanya.
“Anda Shiki-Sama (Tuan Shiki), bukan?” dia bertanya dengan sopan
“Eh-ya, tapi tolong tanpa kata ‘sama’”
“Anda tidak apa-apa? Jangan membuat saya takut seperti itu.” Dia berkata dengan nada agak khawatir. “Saya sempat berpikir kalau saya telah melakukan sesuatu yang salah.”
Caranya berbicara seperti seorang ibu kepada anaknya. Dia berkata dengan lembut dan dengan seyuman hangat diwajahnya.
Dia memakai yutaka dibalik apron putih. Dia juga memanggilku dengan sebutan ‘sama’. Ini artinya......
“Kamu....salah satu pelayan disini, kan?”
Gadis itu menjawabnya dengan senyuman.
“Silahkan masuk, saya tahu anda pasti lelah. Akiha-sama menunggu anda di ruang utama”
Dengan cepat gadis itu menuntunku menuju ruang utama melalui lobi. Kemudian dia tiba-tiba berbalik kearahku seakan teringat sesuatu. Ia lalu membungkuk dengan senyuman lebar diwajahnya.
“Okaerinassai (Selamat datang kembali), Shiki-sama”
Dia mengucapkan salam dengan senyumnya yang secantik bunga. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa membalas membungkuk saja.
Dipandu oleh gadis itu, akhirnya aku sampai di ruang utama. Entah aku sudah lupa, atau rumah ini telah dirombak, aku tidak ingat ada ruangan seperti ini. Terasa seakan-akan rumah ini milik orang lain.
“Shiki-sama telah tiba, Nona.” Kata gadis itu
“Baiklah, sekarang kembalilah kedapur, Kohaku” kata seseorang yang ada disana
“Baik”
Tampaknya pelayan tadi bernama Kohaku. Kohaku membungkukkan badannya, kemudian meninggalkan ruang tengah.
Dengan perginya Kohaku, dalam ruangan ini, hanya tinggal Aku, dan dua orang gadis yang tidak kukenal.
“Lama tidak bertemu, Kakak” kata gadis yang berambut panjang berwarna hitam.
Semua pikiranku seakan-akan berhenti. Aku terlalu terkejut untuk membalas salamnya. Yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk, dan berkata”Ya”
Mau bagaimana lagi. Tampaknya gadis yang memanggilku ‘kakak’ ini sangat berbeda dengan delapan tahun yang lalu. Benar! Dia adalah Akiha.
Dia sudah sangat berubah. Sekarang, dia telah menjadi sepeti seorang putri yang anggun dari keluarga terhormat.
“Kak?” Akiha sedikit merasa heran dengan sikapku.
“Aa...um”
Sial! aku benar-benar kehabisan kata-kata. Kepalaku seperti berjungkir balik mencoba mengenali gadis yang ada didepanku ini sebagai Akiha. Namun tampaknya Akiha langsung mengenaliku sebagai kakaknya.
“Kakak tampak tidak sehat. Apakah Kakak ingin istirahat dulu sebelum kita berbicara?” Akiha bertanya dengan pandangan yang tajam.
Entah ini hanya perasaanku atau apa, namun tampaknya Akiha sedang dalam mood yang kurang baik.
“Tidak usah, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terkejut karena kamu telah banyak berubah, Akiha”
“Manusia akan berubah apalagi kita sudah tidak bertemu selama 8 tahun, Kak” kata Akiha dengan tenang. “Atau mungkin Kakak mengira kalau kita akan tetap seperti dulu selamamnya?”
Apa-apaan ini? Kata-kata Akiha sangat tajam dan menusuk.
“Tidak, hanya saja kamu telah banyak berubah. Sekarang kamu menjadi lebih cantik”
Aku tidak berusaha merayunya. Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya.
“Kakak benar. Namun sebaliknya, sepertinya Kakak tidak banyak berubah.” Akiha menjawab dengan dingin. Ia menutup matanya.
Sebenarnya aku sudah mengira kalau ini akan terjadi.
“Baiklah, kalau kakak merasa baik-baik saja, kita mulai pembicaraan kita sekarang saja. Kurasa Kakak belum tahu alasan mengapa Kakak dipanggil kembali, bukan?”
“Ya Kau benar. Aku hanya tahu aku dipanggil kembali setelah Ayah meninggal. Aku pun mengetahui berita meninggalnya Ayah melalui koran. Bukan dari saudaraku sendiri.”
Mungkin akan terdengar sinis. Namun begitulah kenyataannya.
“......Maaf. Adalah salahku Kakak tidak mendengar berita tentang kematian Ayah” Akiha tertunduk menyesal.
“Tidak apa-apa. Toh dia tidak akan hidup kembali bila kau memberitahuku tentang kematiannya. Jangan khawatir.”
“....Maaf. Namun saya lega setelah Kakak mengatakannya.”
Wajah Akiha menjadi serius. Namun aku tidak begitu suka dengan topik pembicaraan seperti ini.
“Memanggil kakak kembali kesini sebenarnya adalah ide saya. Adalah hal yang aneh bila putra pertama keluarga Tohno dititipkan kepada keluarga Arima selamanya. Setelah Ayah meninggal, keluarga inti Tohno hanya tinggal Kakak dan Saya. saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Ayah ketika Kakak dititipkan ke keluarga Arima. Namun setelah Ayah meninggal, Kakak tidak perlu lagi tinggal bersama mereka. Karena itu Kakak harus kembali”
“Mmm... tapi mengejutkan juga kamu bisa meyakinkan kerabat-kerabat kita yang lain. Bukankah mereka yang mengusulkan untuk menitipkan aku ke tempat keluarga Arima?”
“Tapi sekarang saya adalah kepala keluarga Tohno” jawab Akiha. “Saya menolak semua usulan yang mereka berikan” tambahnya
“Saya ingin Kakak tinggal disini. Namun perlu Kakak ketahui, disini masih berlaku peraturan-peraturan tertentu. Mungkin Kakak harus membuang gaya hidup yang kakak jalani selama ini.”
“Ha ha. Kuarasa itu tidak akan terjadi, Akiha. Sekarang ini tidak mungkin aku merubah sikapku menjadi layaknya seorang bangsawan.” aku berusaha menentang Akiha.
“Saya hanya ingin Kakak mencoba. Atau jangan-jangan Kakak merasa tidak mampu melakukan sesuatu yang telah berhasil kulakukan?”
Akiha memandangku dingin. Seakan-akan dia ingin menumpahkan semua kekesalannya yang dia pendam setelah kutinggalkan selama 8 tahun.
“Baiklah, aku mengerti. Akan kucoba semampuku”
Akiha menatapku tajam dengan tatapan yang solah mengatakan ‘Aku tak percaya’
“Saya hanya ingin melihat hasilnya.”
Kata-katanya tidak mengenal kasihan.
“Baiklah, kita kembali ketopik awal. yang akan tinggal disini adalah Kakak dan Saya. Karena saya tidak menyukai keramaian, saya mengusir semua kerabat yang dulu tinggal disini.”
“Eh !?”
Ok, yang ini baru mengejutkan.
“Tunggu dulu Akiha, kamu mengusir semuanya?” aku bertanya dengan nada tidak percaya.
“Saya yakin, Kakak tidak akan mau bertemu dengan mereka. saya juga telah memecat beberapa pelayan, namun jumlah yang tersisa cukup untuk melayani kita berdua.”
“Akiha, mungkin kamu akan diserang oleh kerabat-kerabat yang lain saat rapat keluarga bila kamu melakukan semua itu.” aku memperingatkan Akiha atas tindakan yang diambilnya.
“Diamlah Kak, daripada banyak orang disini, bukankah lebih baik bila hanya ada kita berdua saja?”
Akiha tampak kesal. Memang benar, dengan begini, aku akan merasa lebih nyaman. Tapi.....
“Kamu baru saja menjadi kepala keluarga, Akiha. Kalau kamu menggunakan kekuasaanmu seperti diktator, kerabat-kerabat yang lain tidak akan tinggal diam.”
“Benar sekali. Namun selama ini, saya sudah tidak menyukai mereka semua. saya sudah muak mendengar rengekan-rengekan mereka.”
“Tapi Akiha.......”
“Ahh, cukup Kak! Dengar, Kakak tidak perlu mengkhawatirkanku. Kahawatirkan saja bagaimana Kakak akan menjalani hidup mulai sekarang. Karena saya melihat Kakak akan menemui kesulitan” Akiha bersungut-sungut. Dia sedikit membuang muka.
“Sekarang bila ada sesuatu yang Kakak tidak mengerti, Kakak bisa bertanya padanya, Hisui.”
Dia menoleh kearah gadis yang berdiri disampingnya. Gadis yang bernama Hisui tadi membungkukkan badannya. Wajahnya dingin tidak menunjukkan ekspresi apapun.
“Dia bernama Hisui.” Akiha memperkenalkan kami berdua. “Mulai saat ini, dia akan menjadi pelayan pribadi Kakak. Kakak bisa menerimanya?”
___________Eh?
“Tunggu dulu... pelayan pribadi? Maksudmu?”
“Kakak tentunya sudah tahu maksudku”
Aku tidak percaya ini.
“Aku bukan anak kecil, Akiha. Aku tidak perlu pelayan. Aku bisa melakukan semuanya sendiri”
“Termasuk mencuci dan memasak?” tantang Akiha..
Sial. Kali ini dia benar.
“Apapun yang terjadi, karena Kakak sudah kembali, Kakak harus mengikuti semua peraturanku. Aku tidak tahu bagaimana keluarga Arima mendidik Kakak, tapi karena Kakak sekarang tinggal di kediaman Tohno, terima saja semuanya.”
Aku tidak bisa melawan Akiha. Aku kemudian melirik kearah Hisui. Wajahnya dingin seperti boneka.
“Baiklah, sekarang tolong bawa Kakak kekamarnya” Akiha memerintah Hisui. Dan Hisui langsung menjawab dengan patuh.
“Baik, Akiha-sama”
Hisui kemudian mendekatiku.
“Sebelah sini, Shiki-sama”
Hisui kemudian menuntunku ke lobi. Mau tidak mau, aku mengikutinya.
Kami sampai di lobi. Rumah ini terbagi menjadi dua bagian. Sebelah barat dan timur dengan lobi berada ditengah-tengah. Aku ingat bahwa rumah ini dibangun simetris. Sehingga bagian barat dan timur sangat mirip.
“Kamar anda disebelah sini, Shiki-sama”
Hisui menaiki tangga. Tampaknya, kamarku berada dilantai dua. Kamar pelayan berada di lantai satu. Mungkin kamar Hisui dan Kohaku berada disana.
Diluar, matahari telah terbenam. Gadis yang menggunakan baju maid model barat ini terus berjalan tanpa bersuara.
“Seperti di negeri impian”
Tanpa berpikir, aku mengutarakan apa yang ada dikepalaku.
“Anda mengatakan sesuatu, Shiki-sama?”
Hisui berhenti dan menoleh kearahku.
“Tidak, Cuma bicara sendiri kok. Jangan diperhatikan.”
Setelah menatapku sejenak, Hisui membungkukkan badan, dan kembali berjalan.
Akhirnya kami sampai dikamarku. Begitu masuk, aku kehilangan kata-kata. Kamarnya sangat luas. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh anak SMA.
“Ini kamarku?” aku sedikit tidak percaya.
“Ya, namun bila anda tidak berkenan, saya bisa menyiapkan kamar yang lain.” Katanya datar
“Tidak usah. Kamar ini sudah lebih dari cukup.”
“Sebenarnya kamar ini tidak pernah dipakai sejak 8 tahun yang lalu. Jadi saya tidak percaya anda akan menemukan sesuatu yang tidak memuaskan disini”
Ada sesuatu yang aneh ketika Hisui mengatakannya. Dia mengatakannya seolah-olah dulu ini adalah kamarku.
“Hey, mungkinkah dulu ini adalah kamarku?”
“Saya hanya diberi tahu seperti itu. Apa saya salah?”
Hisui mencondongkan kepalanya sedikit kesamping dengan sedikit kesal.
Entah kenapa aku menjadi lega. Ternyata Hisui juga dapat memperlihatkan emosi.
“Baiklah, sekarang kamar ini menjadi kamarku. Dulu kamarku hanya seukuran 3x3. sekarang aku akan tidur ditempat yang seperti kamar hotel ini.”
“Saya mengerti. saya juga berharap anda dapat segera membiasakan hidup disini. Apapun yang terjadi, anda adalah Tohno Shiki-sama” kata Hisui
Aku meletakkan tas dimeja, dan kemudian meregangkan punggungku..
“Shiki-sama, semua barang-barang anda sudah berada disini. Apakah anda merasa ada yang kurang?”
“Sepertinya tidak. Kenapa bertanya?”
“Karena saya merasa barang-barang anda yang dikirim kemari terlalu sedikit. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk meminta.” Kata Hisui masih dengan nada datar.
“Untuk saat ini, tidak perlu. Toh barang-barangku memang hanya sedikit. Hanya tas ini, kacamata, dan....”
Buku didalam tas dan sebuah pita berwarna putih yang entah milik siapa.
“Pokoknya, jangan khawatir dengan barang-barangku.”
“Saya mengerti. Kalau begitu, saya akan kembali satu jam lagi.” Kata Hisui
“Satu jam lagi? Untuk makan malam?”
“Benar.”
Seperti yang kuduga. Ketika berbicara, ekspresi wajah Hisui tetap dingin.
Aku ingin Istirahat. Tapi bagaimana bisa. Biasanya jam segini aku menonton TV. Tapi aku tidak yakin ada benda seperti itu dirumah ini.
“Hisui, mungkin aku menanyakan sesuatu yang aneh, tapi dirumah ini ada TV tidak?”
“TV?” Mata hisui sedikit menyipit
Mungkin sedkit aneh menanyakan keberadaan TV dirumah sebesar ini. Hisui memperlihatkan wajah bingung yang belum pernah kulihat.
“Tidak ada TV disini. Dulu pernah ada. Namun salah satu tamu membawanya pergi.”
“Tamu? Siapa?” aku bertanya
“Salah satu kerabat” jawab Hisui dingin. “Putra pertama dari Kugamine-sama, putri ketiga dari Touzaki-sama dan tunangannya, dan putra pertama dari Kishima-sama pernah tinggal disini selama 3 tahun” tambahnya
“3 tahun? Itu bukan tamu namanya, tapi orang numpang”
Hisui tidak menjawab
Ayah tidak menyukai benda-benda teknologi. Dia berpikir banda-benda seperti itu terlalu vulgar. Jadi mungkin benar-benar tidak ada TV disini. Akiha mungkin juga berpikiran sama.
“Ya sudahlah, toh, aku tidak akan mati kalau tidak ada TV”
Hisui terdiam. Dia bisa menjadi contoh pelayan yang baik. Dia tidak akan berkata apapun bila tidak ditanya secara langsung. Tapi tentu saja sikapnya itu membuatku susah. Aku ingin membuatnya tersenyum. Tapi tampaknya mustahil bila usahanya hanya setengah-setengah.
“Oh ya, dilantai pertama sayap bagian barat ada perpustakaan kan? Mungkin aku akan sesekali kesana untuk mengisi waktu luang.”
Hisui tetap diam. Berdiri didekat pintu, aku bahkan tidak tahu kemana dia memandang.
“Hisui?”
Dia diam, namun tiba-tiba dia menoleh dan memandang lurus kearahku.
“Sepertinya dikamar kakak ada satu”
“Huh? Ada ‘satu’ apa ?”
“TV” jawabnya. “Seingat saya, dikamar kakak ada satu.”
Hisui mengatakan seakan-akan mengingat kejadian yang telah bertahun-tahun terjadi.
“Tunggu dulu,... maksudnya Kakak? Jangan bilang kalau itu adalah Kohaku”
“Benar. Yang bekerja sebagai pelayan dirumah ini hanya Kakak dan Saya.”
Aku baru sadar bahwa sebenarnya wajah Kohaku dan Hisui sangat mirip. Hanya saja sulit dipercaya bahwa mereka kakak beradik. Kohaku selalu tersenyum hangat. Sedangkan Hisui terlihat sangat dingin.
“Aaa.. begitu ya, sepertinya Kohaku memang jenis orang yang selalu menonton acara-acara TV”
Tapi aku tidak mungkin pergi kekamar Kohaku dan mengatakan ’boleh menonton TV disini?’
“Ya sudahlah, tak usah dipikirkan lagi”
Hanya tuhan yang tahu komentar sinis seperti apa yang akan dikatakan Akiha bila aku membeli TV.
“Baiklah, aku akan berada dikamar sampai jam makan malam. Kalau sudah waktunya, tolong panggil aku nanti. kamu masih ada pekerjaan kan, Hisui?”
Hisui hanya mengangguk dan dengan tenang meninggalkan kamarku.
Waktu makan malam akhirnya tiba. Yang ada dimeja makan hanyalah aku dan Akiha. Tidaklah aneh, bila kohaku dan Hisui tidak makan bersama kami. Mereka berdiri dibelakang kami untuk menyediakan apapun yang kami perlukan.
Aku tidak begitu menyukai suasana seperti ini. Selain itu itu aku sudah lupa semua hal tentang table manner. Aku berusaha mengingat sedikit-sedikit, tapi sangatlah menyebalkan melihat Akiha selalu mengangkat alisnya dengan kesal setiap kali aku melakukan gerakan. Ketika aku berpikir bahwa aku akan makan seperti ini setiap hari, nafsu makanku langsung hilang.
Setelah makan malam, aku segera kembali kekamarku. Sekarang sekitar jam 8 malam. Masih terlalu dini untuk tidur. Aku bingung mau melakukan apa. Setelah melakukan sedikit peregangan, aku membanting tubuhku diatas kasur.
“Saat makan akan menjadi saat-saat yang berat” gumamku
Daripada bengong di kamar, aku memutuskan untuk turun ke ruang tengah, dimana Akiha menikmati saat-saat santainya sendirian. Tidak terlihat Kohaku maupun HIsui disana. Ada dua cangkir the diatas meja, dan Akiha menggunakan salah satunya.
“Ah? Kakak juga ingin minum teh?”
“Tidak. Aku Cuma mau bicara denganmu”
“Kalau begitu, silahkan duduk. Teh?”
“Boleh. Aku mau yang manis”
Sebenarnya aku lebih suka teh hijau, tapi sekali-kali teh merah tidak masalah.
Dengan anggun, Akiha menuangkan the dari teko putih kedalam cangikr yang lain.
“Terima kasih” aku duduk di sofa, dan kemudian menyeruput the merah yang masih panas itu.
Akiha yang dingin dan anggun duduk didepanku sehingga membuatku sedikit merasa tidak nyaman. Aku tadi bilang mau bicara, tapi jujur saja, aku tidak tahu mau bicara tentang apa.
“Kak? Kok diam? Bukankah ada sesuatu yang ingin Kakak bicarakan?’
Atmosfer disekitar Akiha tidak seperti seorang adik perempuan, tapi lebi seperti seorang lady. Dan aku sedikit merasa segan berbicara dengannya.
“Ya, aku hanya ingin tahu apa saja yang kau lakukan 8 tahun ini”
“Apa itu harus kakak tanyakan? Setelah kakak pergi selama ini?” Akiha menatap tajam mataku seolah ingin mengeluh. 8 tahun ini sepertinya menjadi topik pembicaraan yang tabu.
“Kalau kakak? Apa yang kakak lakukan selama ini? Aku mengirim banyak surat, namun kakak tidak pernah membalasnya sekalipun.”
“*Uhuk*” Aku pura-pura terbatuk.
Memang benar, Akiha mengirim banyak surat kepadaku. namun Aku tidak pernah membalasnya. Aku ini jenis orang tidak pandai berkorespondensi surat-menyurat. Aku sering binggung apa yang harus kutulis, jika disuruh menulis surat.
“Tapi sudahlah, meskipun kakak menulis surat balasan, saya yakin, Ayah tidak akan meyerahkannya kepadaku. Yang lebih penting, bagaimana perasaan kakak setelah meninggalkan rumah selama 8 tahun? Rumah masih belum banyak berubah bukan?”
Tidak banyak berubah ya? Tapi meskipun Akiha mengatakan demikian, aku tetap merasa rumah ini sangat asing bagiku.
“Kak?”
“Eh? Ya? Maaf, tadi aku sedikit melamun. Rumah ini mungkin tidak banyak berubah, tapi aku tetap merasa asing disini. Aku masih ingat ruangan ini dan lobi, tapi untuk koridor dan kamarku sendiri, aku sudah tidak ingat sama sekali”
“Benarkah? 8 tahun memang waktu yang sangat lama”
Benar. Sangat lama. Hampir separuh dari seluruh hidupku sampai saat ini.
“Tapi tenang saja. Aku pasti akan cepat terbiasa. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau sedikit toleransi dengan sikapku nanti”
“Jangan bercanda. Saya sudah cukup memberi toleransi ketika makan malam tadi”
Ketika makan malam, cara Akiha menatapku membuatku merinding hanya karena aku menggunakan pisau yang salah. itu yang namanya toleransi?
“Oh… ya…. Kau sudah cukup bertoleransi…. tadi”
“Ya. Saya sudah memberi cukup kelonggaran mengingat kakak selama ini diasuh oleh keluarga Arima. Bibi Keiko terlalu memanjakan kakak. Dan hasilnya dapat dilihat ketika makan malam tadi”
“Mau bagaimana lagi? Aku tidak pernah berpikir akan kembali ke rumah ini”
“Benarkah? Kakak terdengar seperti tidak mau tinggal disini”
“Bu, bukan begitu. Aku tidak mau meninggalkanmu sendiri, jadi…”
Ya. Itu alasan kenapa aku mau kembali. Kalau bukan karena Akiha, aku tidak akan mau.
“Setelah 8 tahun ini, aku ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Aku mencemaskanmu” aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa aku mau kembali tinggal di rumah ini.
“Be, begitukah?” Akiha terlihat sedikit tersipu. “Kalau begitu, terima__”
“Tapi sepertinya kecemasanku berlebihan. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang tegar. Lega memang, tapi aku juga sedikit kecewa”
Sedikit kecewa? Mungkin aku memilih kata yang salah. Selama ini dalam benakku, Akiha adalahs eorang anak kecil yang pemalu dan penakut. Akiha yang sekarang terlihat seperti orang lain.
“Maaf kalau aku mengecewakan kakak!” Mata Akiha menyipit dan menimbulkan rasa takut untukku yang menatapnya.
Sial! Sepertinya aku benar-benar salah memilih kata.
“Baiklah, sekarang saya ingin mendengar bagaimana Kakak bersama keluarga Arima” Akiha bertanya dengan memasang wajah yang mengancam. Aku merasa seperti diinterogasi meskipun yang bertanya adalah adikku sendiri.
“Kak? Kau dengar aku?”
“Ya, aku dengar. Tentang kehidupanku disana, bukan? Sangat normal. Tidak pernah ada masalah. Dan sepertinya aku lebih cocok tinggal disana”
“Bukan itu maksudku. Saya ingin menanyakan kesehatan kakak disana. Saya dnegar, kakak sering pingsan akibat anemia kronis”
”Hanya tahun pertama setelah keluar dari rumah sakit. Setelah itu, aku baik-baik saja. Kalau pingsan, paling sebulan sekali. Aku tidak separah itu sehingga harus membuatmu cemas.”
Akiha mengangguk dengan wajah serius.
“kakak juga menggunakan kacamata sekarang. Apakah pengelihatan kakak memburuk setelah keluar dari rumah sakit?”
Akiha tidak tahu alasan kenapa aku memakai kacamata ini. Aku tidak mungkin bercerita tentang garis-garis maut yang bisa kulihat kalau aku melepaskan kacamataku.
“Ya, mataku sedikit aneh setelah aku mengalami kecelakaan itu. Tapi bukan masalah besar kok”
“Kakak tahu, saya tadi merasa…. sedikit terkejut. Saya tidak tahu kalau kakak memakai kacamata sekarang”
“Benarkah? Tapi kau tadi terlihat sangat tenang”
“Tentu saja! Ini pertemuan pertama setelah 8 tahun. Saya tidak mungkin memperlihatkan sikap yang tidak pantas” Jawab Akiha galak.
“Akiha-sama” Tiba-tiba saja Kohaku muncul dari balik pintu. “Kamar mandi sudah siap”
“Benarkah Kohaku? Baiklah, saya akan segera kesana”
“Tapi apa tidak apa-apa? Sekarang anda masih berbincang dengan Shiki-sama. Kamar mandi masih bisa menunggu kok”
“Tidak apa. Kami hanya membicarakan sesuatu yang tidak penting”
Akiha berdiri, dan kemudian berjalan meninggalkan ruang tengah. Kohaku segera mengikutinya. Ditinggal sendiri, aku menghabiskan tehku.
Akiha dan Kohaku mungkin pergi ke kamar mandi. Sebaiknya, aku kembali kekamarku.
“…. Tapi mereka berdua tidak akan mandi bersama bukan?”
Mungkin saja. Apa Kohaku akan menggosokkan punggung Akiha? Kalau sesama perempuan, sih, tidak apa-apa. Tapi….
“Kak, aku bebas berpikir yang tidak-tidak. Tapi….”
“!!!!”
Akiha kembali keruang tengah pada saat yang kurang tepat.
“Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak pada Hisui. Berbeda dengan Kohaku, dia tidak bisa diajak bercanda!!”
Akiha menatapku dengan pandangan menuduh, seperti tahu apa yang sedang kupikirkan.
“Tu, tunggu dulu. bukankah tadi kau sedang ke kamar mandi bersama Kohaku?”
“Aku hanya ingin memberi tahu kalau kamar mandi besar yang sering kita gunakan bersama dulu sudah tidak digunakan lagi. Akan sanagt merepotkan bagi KOhaku dan Hisui untuk merawatnya, jadi aku menutup tempat itu.
“Kamar mandi besar?” berusaha mengingat, aku memasang wajah ragu.
“Kakak tidak ingat? Pokoknya kalau mau mandi gunakan kamar mandi didalam kamar kakak”
Setelah mengatakan itu, Akiha pergi.
Setelah Akiha pergi, tidak ada lagi artinya aku tetap tinggal di ruang ini. Aku akan kembali kekamar dan mandi.
*********
“Ah…!” aku melihat kamarku sudah dirapikan. Mungkin Hisui yang melakukannya ketika aku keluar tadi.
“Senang sih, tapi ini berlebihan buatku”
*tok tok*
“Anda didalam, Shiki-sama?”
Aku mendengar suara Hisui memanggilku.
“Masuklah”
Terdengar suara pintu terbuka, dan kemudian pelayan itu memasuki kamarku.
“Maaf menganggu” katanya sambil membungkukkan badan.
“Selamat malam. Terimakasih seudah merapikan kamarku, Hisui”
Hisui tidak menjawab. Mungkin akuk tidak akan pernah terbiasa dengan sikap dinginnya.
“Akiha sama meminta saya untuk membantu bila Shiki-sama ingin bertanya tentang rumah ini”
“Banyak sih, tapi aku akan tahu sendiri kalau aku tinggal disini. Tapi… benarkah jam malam dirumah ini pukul 7?”
“Eh? Ya benar. Gerbang akan ditutup pada pukul 7, dan semua pintu ditutup pukul 8. Selain itu ada peraturan yang melarang berjalan-jalan di dalam rumah setelah pukul 10.”
“Bahkan tidak boleh berjalan-jalan didalam rumah? Memang aku tidak bisa protes, tapi tidakkah peraturan itu terlalu keras? Aku dan Akiha bukan anak-anak lagi. Tidak perlu sampai sejauh itu.”
“Benar. Namun peraturan tetaplah peraturan. Selain itu, anda pasti tahu tentang kejadian setiap malam akhir-akhir ini bukan, Shiki-sama?”
...........
Aku teringat dengan vampire yang diceritakan oleh Yumizuka dan Arihiko tadi pagi. Dengan adanya kejadian seperti itu memang lebih baik mengutamakan keselamatan daripada menyesal nantinya.
“Apakah anda mempunyai pertanyaan yang lain?”
Sebenarnya aku punya banyak sekali pertanyaan tentang Hisui dan Kohaku.
“Boleh bertanya diluar topik yang tadi?”
“Silahkan, Shiki-sama”
“Kalau boleh aku ingin bertanya tentang pekerjaan yang kau dan Kohaku lakukan disini.”
“Saya disini untuk melayani Anda, dan Kakak melayani Akiha-sama. Kami juga melakukan pekerjaan rumah tangga rutin di sini.” Kata Hisui menjelaskan.
“Apakah anda memiliki pertanyaan yang lain?”
“Intinya tugas kalian melayani, kan?”
Mungkin wajar bagi Akiha dilayani seperti ini. Namun untukku yang selama ini dibesarkan sebagai anak normal, hal seperti ini terasa sangat aneh. Aku tidak ingin dilayani oleh seorang gadis yang seumuran denganku. Setidaknya untuk saat ini.
“Sebagai pelayan pribadi ya?”
“Benar. Dan bila anda ingin bertanya sesuatu, anda tidak perlu sungkan.”
“Ok, aku mengerti. Dari pada dimarahi Akiha, sebaiknya aku membiarkan kamu melayaniku”
Hisui memandangku dengan tatapan tanpa ekspresi seperti biasanya.
“Mungkin anda menginginkan sesuatu, Shiki-sama?”
“Tidak, tidak usah. Tapi bisakah kamu berhenti memanggilku ‘Shiki-sama’? jujur saja, aku tidak begitu suka dipanggil seperti itu,”
“Tapi Shiki-sama, anda adalah tuan saya”
“.......”
Aku terdiam sebentar
“Selama ini aku hidup sebagai anak biasa. Aku tidak ingin ada gadis yang seumuran denganku memangilku dengan imbuhan ‘-sama’”
“Saya mengerti.” Respon Hisui tanpa antusias.
“Panggil saja aku ‘Shiki’. Dan sebagai gantinya aku akan memanggimu ‘Hisui’. Kita hilangkan saja formalitas diantara kita. Menurutku begitu lebih baik”
Hisui menaikkan alisnya seakan-akan mengalami kesulitan
“Tapi, Shiki-sama adalah tuan saya” Ia kembali mengulang kata-katanya.
“Bukan begitu. Kamu hanya melakukan tugas-tugas yang tak bisa aku lakukan. Jadi bukannya aku adalah tuanmu atau yang lainnya.” aku berusaha menjelaskan.
“Saya mengerti”
Sebuah tanggapan tanpa antusias lagi
Meskipun begitu, tampaknya Hisui belum benar-benar mengerti.
“Pokoknya, jangan terlalu formal padaku. Dan aku akan sangat berterima kasih bila kamu menyampaikannya juga pada Kohaku.”
“Baiklah, akan saya sampaikan, Shiki-sama” Hisui membungkukkan badannya tanpa ekspresi.
Sekarang aku yakin kalau dia benar-benar tidak mengerti apa yang kukatakan tadi.
“Saya akan pergi sekarang. Silahkan beristirahat”
Hisui berjalan meninggalkan kamarku. Tiba-tiba aku ingat menanyakan sesuatu.
“Tunggu, Hisui”
Aku memegang pundak Hisui sebelum dia pergi.
PLAKK!
Tiba-tiba saja dengan cepat Hisui menampar tanganku yang menyentuh pundaknya.
“Eh?”
Kejadiannya begitu cepat terjadi. Hisui masih tetap tanpa ekspresi, namun aku tahu dia memandangku dengan sengit.
“Eh? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?”
“Ah? Ma..maaf”
Seakan tersadar, Hisui meminta maaf dengan terbata-bata.
“Sa...saya tidak terbiasa disentuh oleh orang lain. Mohon maafkan saya”
Hisui terlihat sedikit gemetar. Aku merasa aku baru saja melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan.
“Ah... Aku juga minta maaf”
Tanpa berpikir, aku juga meminta maaf. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa bersalah terhadap Hisui.
“_____”
Hisui hanya terdiam. Aku merasa dia sudah sedikit tenang.
“Anda tidak perlu meminta maaf, Shiki-sama. Sayalah yang bersalah”
“Ya.., anu..., mungkin aku hanya...”
Aku menggaruk kepalaku sendiri. Hisui tetap menatapku. Sesekali dia berkedip.
“Um... apa yang ingin anda tanyakan, Shiki-sama?”
Ah, aku kembali teringat. Aku menghentikan Hisui karena ingin menanyakan sesuatu.
“Oh, aku ingin bertanya mengenai Akiha. Bukankah dia bersekolah di luar negeri?”
“Benar, Shiki-sama. Namun hanya sampai SMP. Sekarang, Akiha-sama bersekolah di sini.”
“Maksudmu berangkat dari sini?”
“Benar, namun tidak biasanya beliau pulang petang hari seperti hari ini. Akiha sama memiliki kegiatan latihan hingga waktu makan malam. Jadi biasanya beliau pulang sebelum jam 7”
“Latihan? Latihan apa?”
“Hari ini adalah hari kamis. Jadi seharusnya beliau latihan biola. Bila anda ingin tahu lebih banyak tentang Akiha-sama, anda bisa bertanya pada Kakak”
Hisui kemudian membungkukkan badannya dan meninggalkan kamarku.
Akiha yang kuingat adalah Akiha yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Dulu ketika masih kecil, Akhiha sangat pendiam. Dia tidak pernah berani untuk meminta maupun menolak. Dia anak kecil yang rapuh, yang selalu takut dimarahi Ayah.
“Dia benar-benar berubah setelah 8 tahun ini.”
8 tahun adalah waktu yang sangat lama. Hampir separuh dari hidup kami. Aku menghilang dari rumah ini pada saat-saat vital seorang anak kecil menjadi dewasa.
“...Maaf, Akiha”
Aku berpikir mungkin seharusnya aku tetap disini selama 8 tahun itu.
Aku tiduran di kamarku sendirian. Rumah ini, dan para kerabat yang lain, aku merasa bahwa mereka sudah seperti orang asing bagiku.
“Setelah ini, apa yang akan terjadi padaku?”
Beranya pada diri sendiri, aku mulai mengantuk dan tertidur.
……
……….
…………..
Auuuuuuu!
Aku mendengar suara.
Auuuuuuu!
Ada sesuatu. Seperti suara anjing. Tapi suaranya lebih tajam dan tinggi
Auuuuuuu!
Suara itu terngiang dikepalaku.
Auuuuuuu!
Aku merasa terganggu. Suara binatang ini membuat kepalaku pening
Auuuuuuu!
Belum berhenti juga.
Auuuuuuu!
Auuuuuuu!
Auuuuuuuuuuuuuu!
“Seeesh, bisa diam nggak sih?!!”
Aku terbangun. Aku masih bisa mendengar lolongan itu dari balik jendela. Jam menunjukkan pukul 11 kurang.
“Bagaimana aku bisa tidur, kalau seperti ini?”
Menutup telinga dengan bantal, aku kembali berusaha untuk tidur. Aku berusaha membayangkan kalau suara anjing itu hanyalah suara mobil yang lalu lalang didepan rumah.
Hari ini benar-benar melelahkan. Aku merasa lelah secara mental gara-gara kejadian makan malam tadi, dan juga kata-kata Akiha padaku.
Aku menutup mata, dan perlahan kembali tertidur.
******
“___ngh?” aku mendengar suara aneh dari lantai bawah. Setengah bangun, aku melihat jam dinding. Jam dua lebih sedikit. Suara anjing telah berhenti. Suasana sangatlah hening. Aku bahkan sampai bisa mendengar detak jam dinding kamarku.
“……” aku mendengar suara itu lagi. Dari dalam rumah. Di lobi.
“Pencuri?” bisa saja. Semua isi rumah ini bernilai sanagt tinggi. Selain itu, rumah ini hanay dihuni oleh Kohaku, Hisui, Akiha, dan Aku. Tentusaja sangat tidak aman.
Bangkit dari tempat tidur, aku perlahan berjalan keluar kamar.
Kalau benar-benar pencuri, maka Akiha dan yang lainnya bisa dalam bahaya. Aku harus turun ke lobi, dan melihat apa yang terjadi.
Sesampainya di lobi, aku tidak melihat ada apa-apa disana. Aku sempat berpikir semuanya baik-baik saja asmpai aku mendengar suara….
Srak,
“…!!!” datang, orang itu datang!
Aku melihat sesosok manusia berjalan memasuki lobi dengan limbung. Langkahnya tampak tak beraturan, dan orang itu adalah___
“A, akiha? Apa yang dia lakukan disini?” dia berjalan dari arah sayap barat dimana disana terdapat kamar Kohaku dan kamar ayah. Yah, mungkin dia harus melakukan sesuatu, atau ada yang harus dia bicarakan dengan Kohaku.
“sudah ah, tidur saja” aku memutuskan untuk kembali kekamar. “Besok harus sekolah”
Meskipun aku berbaring diatas ranjang dengan menutup mata, pikiranku terus melayang, teringat sosok Akiha dengan mata sayunya di lobi tadi. Entah kenapa, aku merasa ada yang sangat salah waktu itu.
•
Tuesday, August 10, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment