____Putih.
Warna yang kulihat ketika aku terbangun.
Membangkitkan kenangan yang telah lama terpendam.
Musim panas.
Langit biru yang luas, dengan awan-awan yang menggantung.
Pemandangan yang menggerakkan hati.
Terdengar suara burung gereja sahut-menyahut mewarnai pagi.
Cip cip cip cip cip
Hari ini sangat panas.
Dunia terasa seperti berada dalam penggorengan.
Uwaaaa, uh uh
U, waaaaa,
Suara Akiha kecil yang sedang menangis.
Akiha kecil yang selalu mengikutiku sedang menangis.
Seorang anak laki-laki tergeletak dibawah kakinya.
Bersimbah darah.
Terbunuh
Mayat seorang anak laki-laki seumurku.
Suara burung Gereja tiba-tiba menghilang. Tidak terdengar lagi.
Kedua tanganku berwarna merah.
Darah dari anak yang tergeletak itu.
“AKIHA!!!!”
Orang-orang dewasa berlari mendekat.
Anak yang tergeletak itu mati.
Orang-orang dewasa berteriak-teriak
Mereka membawa Akiha pergi.
Aku melihat awan putih.
Aku ditinggalkan sendirian. Melihat awan yang menggantung dilangit.
“Kau membunuhnya!?”
Orang-orang dewasa menyalahkanku.
Mereka mengatakan aku yang membuhuh anak itu.
*******
Aku terbangun.
“Mimpi?”
Aku melihat mimpi yang terasa sangat akrab diingatanku. Aku membuka mataku dan menemukan diriku terbaring dikamar. Tampaknya setelah kejadian tadi malam, ada seseorang yang menemukanku dan membawaku kemari.
Aku masih teringat kejadian kemarin. Seorang pria yang tubuhnya dililit perban, dan bisa melihat garis maut sepertiku. Setelah ditusuk pedang, tubuhnya terbakar, dan dia melarikan diri. Setelah itu, aku melihat Ciel-senpai.
“Ah itu tidak mungkin”
Aku duduk ditempat tidurku sambil memakai kacamataku. Sekarang jam 7.30. biasanya Aku sudah berangkat kesekolah, tapi hari ini hari libur.
“Hisui?”
Aku tidak melihat Hisui. mungkin dia sudah kemari dan mencoba membangunkanku. Karena aku tidak bangun juga, dia mengerjakan tugas yang lainnya.
Setelah berpisah dengan Arcueid, aku mengalami kejadian yang tidak pernah kuperkirakan. Pria berbalut perban, dan orang yang menolongku, aku masih belum bisa mengerti.
“Sudahlah, nanti malam aku tanyakan saja pada Arcueid. Sekarang sarapan dulu”
Aku tidak bisa berbuat banyak dengan perut kosong. Bangun dari tempat tidur, aku menuju ruang tengah.
Dilantai dua sayap kiri, aku melihat seseorang.
“Hisui?” Aku melihat Hisui yang sedang keluar dari kamar Akiha.
“Hey, Hisui!” aku memanggilnya.
Menyadari kehadiranku, dia berjalan mendekat.
“Selamat pagi, Shiki-sama”
“Ya selamat pagi. Maaf aku bangun sesukaku hari ini.”
“Saya juga meminta maaf. Karena seharusnya saya berada disana ketika anda bangun. Mohon maafkan saya.” Hisui membungkukkan badannya.
Dimintai maaf seperti ini setelah semalaman keluar rumah dan pulang tanpa kabar, membuatku merasa menjadi orang yang terburuk didunia.
“Tidak perlu minta maaf. Aku yang tidak bisa bangun tepat waktu. Ini salahku. Kalau kau mau mengeluh, boleh kok,”
“....Saya? Mengeluh?”
“Ya. Seorang temanku selalu mengatakan aku ini seorang pemalas. Dan dia selalu memukul punggungku agar aku berubah”
“...........”
Hisui terdiam. Dia tampak sedang berpikir. Dia terus terdiam selama beberapa menit. Dia bahkan tidak berkedip. Hanya terus menatap mataku.
Tampaknya menyuruh Hisui melakukan sesuatu yang tidak biasa itu tidak mungkin ya?
“....Sudahlah, lupakan saja. Ngomong-ngomong, aku lapar nih. Sarapan sudah siap?”
“Kakak sedang keluar. Sarapan Anda sudah tersedia diruang makan”
“Baikalah, aku makan dulu. Maaf sudah mengganggu pekerjaanmu.”
Aku segera turun kebawah.
Setelah makan, aku menuju ruang tengah dan bertemu lagi dengan Hisui disana.
“Ah, makanannya enak. Terima kasih telah membuatkan sarapan setiap pagi”
“Menyiapkan makanan adalah tugas kakak. Jika anda ingin berterima kasih, bisa anda sampaikan langsung kepada kakak”
“Benar juga. Pekerjaan kalian berbeda ya? Karena aku ketiduran, kukira sarapan tadi kamu yang buat”
“Apakah Anda ingin mengatakan kalau sarapan hari ini tidak sesuai selera anda, Shiki-sama?”
“Eh?” Waduh, bukan begitu. Salah paham nih. Apa dia mengira aku ingin Hisui membuatkan sarapan karena sarapan hari ini tidak enak?
“Bukan begitu. Biar dingin juga, masakan Kohaku tetap enak. Tapi aku tetap lebih suka makanan yang hangat. Sekali-kali aku juga ingin mencicipi masakanmu”
“Tidak bisa, Shiki-sama. Saya menolak membuat masakan” Matanya tiba-tiba menjadi serius seperti mendapat tantangan.
“Oh. Ya, aku tidak mau memaksamu”
“......”
Hisui terdiam. Tapi matanya seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Kira-kira apa ya? Sesuatu yang sulit untuk dikatakan?
“Ada apa Hisui? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?”
Hisui hanya menggelengkan kepala. Dia tetap diam
“..Baiklah, kalau begitu aku kekamar. Kalau ada sesuatu, kau bisa memanggilku.”
Belum aku melangkah, Hisui memanggilku. “Shiki-Sama.”
“Hm?”
“Mungkin saya terdengar tidak sopan, tapi Saya ingin melakukan permintaan anda sebaik yang saya bisa”
“Huh?” Aku bingung mendengar apa yang dikatakan Hisui
“Pagi ini saya menyadari betapa lemahnya saya”
“Ha?” Aku masih bingung
“7 kali. Saya mencoba membangunkan anda 7 kali, tapi gagal. Apakah ini bisa diterima?”
“7 kali? Maksudmu?” aku benar-benar tidak mengerti
Dia berbalik. “Terus terang saja. Anda sangat bodoh, Shiki-sama” Dia kemudian meninggalkan aku menuju lobi dengan langkahnya yang ringan.
“Huh?” Dia meninggakan aku yang masih kebingungan. Setelah berpikir agak lama, aku akhirnya sadar apa yang ingin Hisui katakan.
Tadi aku mengatakan, ‘Tidak apa kalau kau mau mengeluh’. Hisui menungguku sejak tadi di ruang tengah untuk menyampaikan keluhan. Dia mengeluhkan tentang aku yang tidak bangun-bangun meskipun dia sudah berusaha membangunkanku sampai 7 kali.
“...Ya, keluhan sih tidak apa-apa....”
Tapi mengataiku bodoh bukankah itu sedikit kasar? Apa dia begitu bencinya padaku?
Karena tidak ada yang bisa kulakukan, Aku memutuskan mengelilingi rumah yang sudah 8 tahun tidak kuhuni.
Yang pertama, lobi. Aku ingat waktu masih kecil, aku sering dimarahi karena sering main disini. Dulu aku senang sekali berlari-lari disini.
Waktu kecil, lantai ini terasa sangat luas dan panjang. Dulu aku sering berjalan-jalan kemari sambil mencoret-coret menuliskan namaku didinding, lantai atau dipilar. Aku dan Akiha menganggapnya permainan. Siapa yang bisa menulis nama lebih banyak, dia yang menang.
“Ah masih ada”
Dipegangan tangga ada tulisan namaku, Shiki. Mungkin karena ini juga ayah melarangku bermain didalam rumah. Kalau diperhatikan baik-baik, diseluruh tempat tertulis namaku dan Akiha.
Aku pergi ketaman. Dulu kalau bermain diluar, kami selalu pergi ketaman. Tapi karena Akiha sangat patuh kepada ayah, dia hanya bisa bermain diluar selama 30 menit, berbeda dengan aku. Dulu dia hanya berjalan dibelakang kami. Hanya melihat dan mendengarkan. Tapi dia juga bisa berlari lincah mengikuti permainan yang kami mainkan.
“Mungkin kepribadianya terbentuk saat itu.”
Sekarang Akiha sudah sangat berubah. 8 tahun itu mungkin waktu yang lebih panjang dari yang kubayangkan.
Aku pergi kehalaman. Didinding gerbang, banyak sekali coretan-coretan nama.
SHIKI, Shiki, Akiha, SHIKI, Akiha, SHIKI, Akiha, Shiki, Shiki, SHIKI, Shiki.
Nama SHIKI lebih banyak dari Akiha. Mungkin karena dia anak perempuan sehingga tidak bisa menyaingi anak laki-laki.
“Mungkin waktu itu aku harusnya sedikit mengalah”
Kalau begini, mungkin saat itu Akiha marah. Dia itu tipe orang yang benci kekalahan.
“Apa dia mau membalasnya sekarang ya?”
Ah, tidak mungkin. Tapi kalau itu benar, manis sekali dia.
“Aku ini kakak yang bodoh ya?” Ya benar. Aku memang kakak yang bodoh.
Aku kemudian melanjutkan menyusuri taman. Dan melihat seseorang.
“Hisui?”
Aku melihat Hisui dari belakang. Dia tidak tahu aku disini.
Apa yang dia lakukan di pepohonan seperti itu?
Penasaran, aku mengikutinya. Dia kemudian sampai di sebuah daerah yang terbuka.
“Ha? Ada tempat seperti itu disini?”
Aku mencoba mengingat-ingat. Tapi ingatankau sedikit kabur.
“Kalau benar ada tempat seperti itu, mungkin dulu kami juga pernah bermain disitu”
Tapi aku benar-benar tidak ingat. Aku merasa belum pernah kesana. Aku berjalan menuju tempat itu.
“Hanya tempat kosong”
Dimana Hisui? Aku kehilangan dia.
Aku berjalan ketengah
Deg deg!
Suara burung gereja.
Panasnya matahari musim panas sedikit membuatku pusing.
Deg deg!
Huh? Matahari, musim panas___?
Deg deg!
“Ah!...hah...” Dadaku terasa sakit. Rasanya seperti ditusuk.
Rasanya/seperti/ditusuk/pisau/dapur.
Cip cip cip
Aku mendengar suara burung gereja entah dari mana.
Tapi ini musim gugur___
Musim panas. Aku melihat awan musim panas dilangit.
Aku melihat sarang burung gereja dibawah kakiku.
Ada seseorang yang membuangnya kemari.
Deg deg!
Luka didadaku terasa seperti terbuka lagi. Dadaku menjadi berwarna meah gelap. Warna itu juga membasahi tanganku.
Deg deg!
Aku melihat bayangan seseorang
Deg deg!
Dia mendekatiku
Deg deg!
Deg deg!
Kemudian aku melihat Akiha kecil sedang menangis. Tangannya berlumuran darah.
Cip cip cip
___ suara burung gereja seperti menghantam gendang telingaku.
Deg deg!
___Ah
Deg deg!
Dadaku
Deg deg!
Sakit
Deg deg!
Harusnya sudah sembuh, tapi rasanya sakit lagi.
Deg deg!
Lukanya terbuka
Deg deg!
Darah menyembur keluar.
Deg deg!
Sakit
Deg deg!
Takut
Deg deg!
Ini.....
Deg deg!
Mati...
Deg deg!
Kesadaranku menghilang. Tubuhku jatuh ketanah.
*******
“............”
“............”
“............”
Aku mendengar suara orang bertengkar.
“Akiha-sama, anda tidak akan memanggil dokter?”
“Jangan bodoh Hisui. mana bisa aku melakukannya. Luka kakak bukan luka sembarangan.”
....Suara Akiha dan Hisui.
Ini kamar SHIKI. Aku terbaring ditempat tidur. Aku ingin bangun dan bilang ‘Yo!’. Tapi tubuhku tidak bisa bergerak. Dadaku tidak sakit lagi, tapi tubuhku terasa berat. Yang bisa kulakukan hanya membuka mata dan mulut.
“Apa yang sudah kau lakukan, Hisui?! Sudah kubilang, kakak tidak boleh mendekati tempat itu?!” bentak Akiha
“....Maafkan....saya.....” kata Hisui menyesl
“Ini tidak bisa diselesaikan dengan minta maaf! Tugasmu melayani kakak agar hal seperti ini tidak terjadi. Sebenarnya apa yang kau lakukan?!”
Berbeda dengan sikap biasanya, kali ini Akiha benar-benar marah. Sedangkan Hisui menerima semua omelan Akiha sambil tertunduk. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya, tapi aku tidak bisa membiarkah Hisui dimarahi karena aku
“Jawab Hisui! Apa yang kamu lakukan dan kemana kau seharian ini?!”
Hisui tidak menjawab. Suasana menjadi tegang. Akiha mengambil langkah mendekati Hisui. Aku yang terbaring saja tahu kalau Akiha ingin menampar Hisui. Hisui tampaknya juga tahu, tapi dia diam saja. Hisui menutup matanya bersiap menerima tamparan.
“__Akiha, tunggu__” aku berusaha menghentikan Akiha
“Kakak? Kakak sudah bangun?”
“Ya. Suaramu terlalu kencang, jadi aku terbangun.”
“Ah,”
Merasa malu, Akiha memalingkan wajah. Sedangkan Hisui masih menunduk melihat kebawah, tidak berani melihatku.
“Kau tidak boleh menyalahkan Hisui. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya, tapi pasti berhubungan dengan acara pingsanku ini, benar? Bukan salahnya kok. Cuma aku saja yang mendadak pingsan”
Aku berusaha menegakkan bagian atas tubuhku. Tapi cuma sampai sebatas itu. Aku sudah tidak bisa bergerak lebih dari ini. Tapi karena Hisui tampak tertekan, aku harus berusaha terlihat baik-baik saja.
“Bertengkar gara-gara aku. Wah, biar terlihat dewasa, kamu ternyata masih tetap kekanakan, Akiha”
“Tapi kak, kakak pingsan hingga lebih dari 10 jam. Kalau kakak tidak bisa bangun, aku harus bagaimana?”
“Bodoh! Jangan bicara seperti itu. Ini hanya anemia saja....?” Aku tidak melanjutkan kata-kataku. Aku menyadari ada sesuatu yang aneh disini.
“Sudah 10 jam ya?” Aku bertanya
“Benar, Kakak pingsan sejak pagi” kata Akiha tertahan.
Aku tidak mencemaskan keadaan tubuhku, tapi janjiku dengan Arcueid.
“Oh! Aku harus pergi. Akiha, jangan kau ganggu Hisui.”
“Ja, jangan bicara seperti itu. Aku tidak akan bertanya kemana kakak pergi setiap malam. Tapi sebagai gantinya, malam ini istirahat saja dirumah.....”
“Ha ha. Ini sudah biasa. Waktu di SMP, Aku bisa pingsan dua kali sehari.”
“Karena itu saya cemas, ___ Kakak istirahat saja ya? Paling tidak hanya untuk malam ini.” Akiha melihatku dengan tatapan memohon.
Mau bagaimana lagi. Dia bisa menangis kalau aku memaksa pergi.
“Baiklah, Aku akan tidur saja hari ini” Setelah mengatakannya, Aku langsung kembali berbaring.
“Benarkah? Kakak tidak akan menyusup keluar?”
“Tidak akan. Jujur saja, tubuhku rasanya berat sekali. Berjalan saja mungkin sudah susah”
“Ah, baguslah___”
Akiha terlihat sangat lega.
“Hisui, beritahu Kohaku kalau kakak sudah bangun. Kakak mau makan malam?”
“Tidak. Aku sepertinya belum bisa makan sekarang. Aku hanya mau tidur saja.”
“Baiklah” Akiha kemudian melirik kearah Hisui.
Hisui yang masih tertunduk mengangguk dan kemudian keluar dari kamar.
Aku mulai merasa mengantuk. Tapi sebelum itu.....
“Akiha, Aku tidak tahu ada tempat seperti itu di halaman?”
“Ya, dulu kita sering bermain disana.”
“Ah? Kok aku tidak ingat ya?”
Aku benar-benar lupa.
“Satu lagi. Waktu kecil dulu, bukankah ada seorang anak yang bermain bersama kita?”
“Huh?” tampaknya Akiha tidak mengerti pertanyaanku.
Kurasa tidak ada. Tidak mungkin ada anak lain selain kami. Tapi kalaupun benar, aneh sekali? Kalau mimpiku dan bayangan yang kulihat tadi benar, seharusnya ada satu lagi. Anak yang terbunuh.
“Sudahlah, hanya mimpi saja kok”
“Kalau begitu, selamat tidur Kak”
“Ya, selamat tidur”
Setelah menjawab, Aku langsung tertidur pulas.•
Saturday, December 6, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment