Cip cip cip....
Apa jendelanya terbuka? Aku bisa mendengar suara burung di taman. Angin dingin menerpa wajahku. Aku bisa merasakan sinar matahari yang menerpa kulitku. Suasana yang sangat tenang dan menyenangkan.
Pagi? Aku berusaha menggerakkan tubuhku, tapi masih terasa berat. Paling tidak sudah lebih baik dari kemarin. Aku membuka mataku dan bangun. Kemudian,......
“Ah, bajingan kecil ini bangun juga akhirnya.”
Aku melihat wajah Arcueid tepat didepan hidungku. Sesaat otakku seperti berhenti bekerja. Mulutku terbuka dan tertutup, tapi tidak ada suara yang keluar.
Apa-apaan ini? Kenapa Arcueid ada disini? Sekarang jam 9 pagi. Dia disini. Diatas tempat tidurku. Dan masih memakai sepatu.
“K-k-k-kau?”
“Dasar pembohong! Kau berjanji akan bertemu lagi di taman kemarin!”
Tampknya dia sedang marah. Kecantikan matanya tidak keluar seperti biasanya pagi ini. Mmmmm, tidak semua sih. Melihatnya dari dekat, Aku malah bisa melihat kecantikannya lebih jelas.
Arcueid terus menatapku yang sedang terbaring ditempat tidur.
“Tu, tunggu. Kenapa kau disini?”
Aku mau berteriak, tapi aku segera menutup mulutku. Kalau aku berteriak, Hisui pasti akan langsung kemari. Meski semua terlihat kacau, paling tidak otakku masih bekerja normal.
“Po-pokoknya, minggir dulu. Masuk kamar tanpa permisi, mengancam orang yang sedang tidur, itu tidak sopan tahu?”
“Apa-apan kamu? Aku kesini karena kau melanggar janjimu. Tidur ketika membuat orang lain menunggu, siapa yang tidak sopan?” dia melihatku marah.
Aku sekarang sudah merasa agak tenang. Benar, aku melanggar janjiku untuk bertemu Arcueid kemarin malam.
“Hmmmm...” aku sudah agak mengerti masalahnya.
Arcueid marah, aku mengerti alasannya. Tapi masuk kekamar orang dengan masih memakai sepatu, maunya apa sih? Melihat jendela kamar yang terbuka, mungkin dia masuk lewat sana.
“Ok, karena melanggar janji, aku mengaku salah. Tapi menyusup masuk rumah orang juga tidak benar tahu?”
“Ini bukan rumahmu Shiki. Tapi milik adikmu” jawabnya cepat. “Kau tahu Shiki, Aku benar-benar marah. Aku menunggu berjam-jam sebelum akhirnya sadar kau tidak akan datang. Sampai-sampai aku ingin merobek-robek lehermu kalau hal seperti ini terjadi lagi”. Dia masih terlihat marah.
“Kau mengerti Shiki? Aku tahu aku harus tenang, tapi semakin kupikir, aku semakin marah” tambahnya. Matanya terlihat menyalahkanku.
“Ya, maaf....” Untung leherku masih tersambung.
“Aku memutuskan menyelinap kemari. Karena kau masih tidur, Aku memutuskan untuk menunggu. Paling tidak aku ingin mendengar alasanmu. Dan selama menunggu, aku melihat wajah tidurmu. Ya, wajahmu ketika tidur sangat tenang. Bahkan saking tenangnya, aku jadi takut sendiri. Kau tidur seperti orang mati. Aku malah akhirnya jadi cemas kalau kau malah tidak akan bangun untuk selamanya”
Huh? Cemas? “Kalau begitu, seharusnya kau membangunkanku. Aku yang malah cemas kalau kau disini”
“Kau tahu, aku tidak tahu bagaimana aku tidur. Tapi akan sangat baik kalau tidurku bisa seperti kamu. Aku bertanya-tanya, kenapa tidurmu bisa sedamai itu? Ketika sedang melihatmu tidur, marahku perlahan hilang, dan kau bangun.”
“Jadi.... kau sudah disini sejak tadi? Sejak kemarin malam sampai sekarang?”
“Ya. Orang-orang dirumah ini beberapa kali kemari. Tapi aku bisa bersembunyi jadi tidak masalah. Seorang gadis berusaha membangunkanmu. Tapi karena aku tidak suka, kuusir dia” Arcueid tersenyum jahat.
“Mengusirnya? Bagaimana?” Aku takut melihat senyum Arcueid
“Aku pernah bilang kalau bangsa vampir juga memiliki mata magis. Aku memberinya sugesti kalau kau sudah berangkat kesekolah, kemudian aku menghilangkan ingatannya tentang aku.”
“Menghilangkan ingatan? Kau.....” Aaaah! Orang ini benar-benar merepotkan. Tapi meskipun merepotkan, paling tidak dia berusaha untuk tidak ketahuan.
Aku menutupi wajahku sambil mengeluh sendiri. “Baiklah, aku mengaku salah kemarin. Aku akan berusaha untuk tidak melanggar janjiku lagi” Aku megatakannya sambil menatap matanya.
“Yakin?”
“Yakin. Karena sekarang aku sadar. Kau akan sangat menakutkan kalau balas dendam” Masih dalam keadaan berbaring, aku mengangkat tanganku tanda menyerah.
Tiba-tiba saja mood-nya yang jelek menghilang. Arcueid mengangguk dan mengatakan, “Baiklah” Arcueid akhirnya menyingkir dari atas tubuhku.
“Naik kekasur orang seperti itu, apa kamu tidak berpikir susahnya menghilangkan noda kalau jejak sepatumu menempel?” sambil mengeluh, Aku bangun dari tempat tidurku.
Arcueid bediri ditengah kamar sambil melihatku.
“Kenapa masih disini?” Aku bertanya
“Kenapa? Aku hanya menunggumu ganti baju. Kau tidak akan pergi keluar dengan piyama kan?”
“Ya. Tidak ada orang yang keluar dengan.....Tunggu dulu!”
“Ha ha, Aku berpikir mungkin hari ini kita bisa keluar bersama, Shiki. Kau mau menebus kesalahanmu kan?”
Dia mengatakannya dengan biasa. Seolah-olah hal paling umum didunia.
“Hari ini? sepanjang hari? Aku harus sekolah!”
“Hey, kau lebih memilih sekolahmu daripada aku?” tatapan matanya seperti mata kucing yang sedang marah.
“Uuuh...” Aku merasa serba salah. Aku melirik kearah jam. Sekarang jam 9 lebih. Kalau Aku pergi kesekolah sekarang, Aku tetap terlambat. Dan lagi, sepertinya jalan-jalan sama Arcueid jauh lebih menyenangkan.
“Baiklah, ayo pergi. Tapi kalau siang hari, tidak ada Zombie, kan?”
“Tidak apa. Sekarang aku hanya ingin jalan-jalan saja. Aku bahkan tidak peduli akan hal itu.”
“Bukannnya kita pergi mencari vampire?”
“Kalau kita mencari vampire siang dan malam, akan sangat berat untukmu. Jadi siangnya kita santai-santai saja.”
“Baiklah. Tapi jalan-jalan berdua saja itu seperti.......” Disini disebut kencan. Mungkin niatan Arcueid hanya mau bersenang-senang saja, tapi ..... Aku juga harus menyiapkan mental, dan.....
“Kenapa Shiki? Wajahmu kok memerah?”
Aku memalingkan muka sambil menutupi wajahku. Kami sering berjalan bersama. Tapi hanya karena keadaan yang memaksa dan darurat. Karena itu, meski aku tahu dia sangat cantik, Aku berusaha tidak mempedulikannya. Tapi kalau jalan-jalan tanpa tujuan seperti ini, mungkin bisa membuatku.......
“Shiki? Kau berubah pikiran?”
“Tidak. Aku akan menemanimu jalan-jalan. Aku tidak tahu niatmu apa, tapi sepertinya tidak ada masalah”
“Baiklah, kita berangkat!” Arcueid melangkah menuju jendela tempat dia masuk tadi.
“Tunggu dulu. Aku mau ganti baju. Jadi kau keluar dulu.”
“Apa? Kau memanggilku?”
“Eh, ya....... Tidak! Kau keluar saja dulu. Nanti aku menyusul.”
“Baik. Aku akan menunggu. Aku sudah banyak menunggu hari ini. Jadi, jangan buat aku menunggu terlalu lama”
Dia melompat keluar melalui jendela dengan sangat ringan. Keseimbangannya seperti seekor kucing. Aku mendengar suara daun diluar. Dia tidak langsung melompat ketanah, tapi melalui dahan-dahan pohon.
Dengan kemampuan seperti itu, jelas mudah baginya untuk masuk tanpa ketahuan.
“Bukan saatnya terkesima. Aku juga harus menyusup keluar tanpa ketahuan.”
Setelah berganti baju, Aku mengintip keluar kamar untuk memastikan tidak ada seorangpun dilorong. Kemudian perlahan aku mengendap-endap keluar.
Aku berhasil keluar tanpa ketahuan. Aku melihat Arcueid yang sedang menggerutu sendirian.
“Maaf membuatmu menunggu. Ayo pergi sekarang. Kalau kelamaan disini, bisa ketahuan Kohaku”
“Ah? Ya. Sekarang” Berbeda dengan yang tadi, sekarang kata-katanya terdengar kosong.
“Kenapa? Apa yang terjadi?”
“....Tidak. tidak ada apa-apa” katanya tidak jelas.
Dia sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Aku malah merasa ngeri sekarang. “Apa kau sakit? Sekarang kan siang hari, tidak perlu memaksa untuk keluar. Kalau kau tidak sehat, kita batalkan saja”
“Aku baik-baik saja kok. Hanya saja, melihat tembok gerbang ini mengingatkanku pada kejadian semalam”
“Waktu kau menungguku ditaman?”
“Ya!” kali ini Acueid mengangguk tegas “Kemarin aku lari sekuat tenaga kemari dan menyusup masuk kekamarmu. Sekarang aku menyadari ada keanehan. Kenapa waktu itu aku marah sekali ya? Toh hanya sebuah janji kecil” Arcued menggaruk kepalanya sendiri karena merasa bingung.
“Kamu mengerti tidak, Shiki? Kaukan selalu memanggilku bodoh, jadi mungkin kau malah mengerti.?’
“Hey....” Kalau dia saja tidak mengerti dirinya sendiri, bagaimana Aku bisa? Tapi kalau aku harus menjawab......
“Karena kau membenciku mungkin? Aku tidak menepati janji dan aku telah melakukan suatu hal yang buruk padamu” Mencoba mengesampingkan perasaanku pada Arcueid. Aku mencoba menganalisa dengan tenang.
“Benarkah? ini pertama kalinya Aku merasakan sebuah emosi terhadap seseorang. Jadi Aku sendiri kurang mengerti.”
Setelah diam beberapa saat, Arcueid menegakkan kepalanya. “....Um, Shiki, kau membenciku?” Arcueid tiba-tiba bertanya
“A, Aku...? Ah, aku.....”
Arcueid terus menatapku.
“A___Aku tidak membencimu. Karena itu aku mau membantumu” Aku mengatakan yang sebenarnya.
“Mungkin aku juga begitu” Arcueid mengangguk. Aku tidak tahu apakah dia mengerti atau tidak.
“Sudah mengerti? Sekarang kita mau pergi kemana?”
“Aku tidak tahu. Kau saja yang putuskan.”
Pertama, Arcueid yang memaksaku menemaninya, dan sekarang dia menyuruhku menentukan tempatnya? Aku tidak tahu tempat yang dia suka. Jadi sebaiknya dia kubawa kegedung Bioskop. Pilihan yang paling aman. Selama film yang ditonton bagus, tidak mungkin membosankan.
“Tempat ini selalu hidup, tapi Aku tidak tahu ada apa didalamnya.” Arcueid berjalan disampingku. Sejak tadi sampai sekarang, orang-orang terus melihat kearah kami. Mungkin karena Arcueid berjalan bersamaku. Aku merasa tidak nyaman dengan cara orang-orang itu melihat kami.
Arcueid bersikap biasa saja. Tapi karena terpukau kecantikannya, kami malah tidak bisa mengobrol nyaman.
“Kau dengar aku Shiki? Kita mau kemana?”
“Ah__um, kita pergi ke bioskop.” Aku menunjuk gedung bioskop didepan kami.
“Bioskop? Mmm.... jadi nonton film ya?”
Tuan putri yang satu ini tampak tidak begitu tertarik. Tapi sudah terlanjur kemari, ya mau apa lagi? Aku juga tidak tahu tempat-tempat kesukaan untuk vampire. Aku harus mempersiapkan diri mendengar keluhannya.
“Sudahlah, masuk dulu. Kalau tidak puas, kita bisa pergi”
“Aku tidak.......bilang tidak puas” Arcueid terus mengikutiku dengan tidak bersemangat. Bahunya turun seperti sedang mengatakan ‘dasar cowok tidak berguna’
“Baiklah, aku mau beli tiket dulu. Kau mau nonton yang mana? Ada film tentang cinta, cinta, dan…… cinta? Apa tidak ada yang lain ya? Bioskop ini tidak bagus” gerutuku setelah melihat jenis film yang diputar.
“Apapun boleh. Toh kelihatannya sama saja” kata Arcueid
“Yah, pokoknya beli tiket dulu.” Aku mencari antrian terpendek, dan membeli 2 tiket.
“Nih pegang satu. Tunjukkan tiket ini ketika mau masuk. Mereka akan menyobeknya jadi dua, dan mengembalikannya separuh. Peraturannya memang begitu, jadi kamu jangan marah.”
“Hey, kalau sebatas itu, aku juga tahu. Kau berpikir kalau aku tidak tahu apa-apa ya, Shiki?”
“Tidak. Kupikir kau kurang tahu tentang kehidupan manusia biasa”
“Aku tahu banyak tentang itu. Kalau cuma bioskop, aku juga tahu” Mendengaus kesal, dia masuk ke gedung bioskop mendahului aku.
Film yang kami tonton tidak bagus, tapi juga tidak membosankan. Setelah keluar dari gedung bioskop, Arcueid berjalan tanpa bicara.
..... Mungkin akan lebih baik kalau filmnya action atau horor.
“Arcueid.....”
“Yah, filmnya bagus juga ya, Shiki?”
Ap___? “Bagus?”
“Ternyata mendengar dari orang lain dan menonton sendiri rasanya beda” Arcueid tersenyum gembira.
“Menonton dikegelapan boleh juga. Terus suaranya keras tapi tidak berisik. Karena nonton bersama kamu, jadinya lebih menyenangkan. Apalagi temanya juga bagus. Padahal hanya rekaan, aku benar-benar tersentuh”
“...Ah...ya...benarkah?”
“Huh? Menurutmu yang tadi itu membosankan?”
“Tidak membosankan, tapi biasa saja. Aku pernah melihat film yang lebih bagus dari yang tadi”
“Masa? Yang berusan tadi sangat bagus kan?” Arcueid terlihat terkejut.
“Ya, menurutku masih banyak yang lebih bagus dari film tadi. Yang kita lihat barusan kualitasnya rendah”
“...Aku tidak menyangka...” Arcueid tertegun
“Aku tahu. Raut wajahmu mudah dibaca”
Tidak hanya terkejut, tapi Arcueid juga terlihat kagum.kukira tadi dia akan mengeluh, tapi sekarang dia seperti anak kecil yang kegirangan.
“Sayang sekali, padahal kemarin ada film yang lebih bagus. Kalau tahu kau senang, Aku akan mengajakmu nonton bareng”
“Oh..... tidak beruntng ya?” Arcueid terlihat kecewa.
“Ya, kita tidak beruntung”
Aku juga merasa kecewa. Akan lebih menyenangkan kalau bisa melihat wajah gembiranya sedikit lebih lama.
Sekarang jam dua lebih. Karena lapar, aku mengajaknya kerestoran cepat saji. Aku tidak tahu apa dia suka makanan seperti ini. Melihat menu cukup lama, Arcueid akhirnya memesan makanan yang sama denganku. Setelah kami duduk, Arcueid segera memakan kentang gorengnya.
“Wah, kau sepertinya sudah terbiasa makan makanan ini ya? Kukira ini pertama kalinya”
“Ini pertama kalinya kok. Aku tahu cara makannya dari sumber informasiku”
“Hanya dari sumber informasi? Kau sering melihat berita ya? Mungkin kau juga membaca beberapa majalah ya kan?”
“Aku perlu pengetahuan umum saat ini ketika aku terbangun. Aku mempelajarinya dulu, baru aku bergerak keluar. Karena biasanya tugasku selesai hanya dalam beberapa hari saja, pengetahuan seperti biasamya jadi tidak berguna”
“?”
Entah kenapa dia selalu mengatakan hal yang sulit dipahami setiap waktu.
“Kenapa tidak berguna”
“Setelah tugasku selesai, aku tidur lagi. Entah berapa tahun lagi aku akan bangun. Jadi bagaimana bisa berguna? aku tahu bagaimana orang-orang jaman ini berkumpul seperti ini, tapi belum pernah mengalaminya sandiri”
“Tapi barusan kau memesan makanan dengan sangat biasa.”
“Karena aku belajar. Tapi teori dan praktek memang berbeda ya? Meskipun aku tahu triliunan hal, kalau tidak digunakan, percuma bukan?”
“Ya. Beberapa orang mengatakan teori dibuat untuk menutupi pengalaman yang kurang”
“Kau benar. Aku baru saja kepikiran itu” Arcueid terlihat tidak bersemangat. Aku tidak suka kalau dia seperti ini.
“Tapi aku berpikir, ada orang yang berteori untuk menutupi pengalamannya yang kurang, dan ada orang yang menggunakan pengalamannya untuk membuat teori. Ada banyak orang didunia ini, jadi tidak semua orang sama”
“Wah, kau bisa serius ya, Shiki?”
“Hey hey, kau yang mulai mengajak bicara serius. Aku cuma terbawa saja”
“Ha ha, aku tahu. Kau selalu mendengarkan kalau aku bicara. Kau selalu marah-marah, tapi kau mendengarkan kalau aku bicara serius” Arcueid tertawa riang.
Jadi begitu cara dia memandangku. Memang, senyumnya yang seperti ini yang paling cocok dengannya.
“Tapi aku masih ingat kata-katamu. Aku ini berpikiran sempit. Aku tidak mau melihat kiri-kanan kalau sudah memutuskan sesuatu. Aku tidak perlu orang lain, dan aku selalu benar. Padahal ada banyak sekali manusia diluar sana. Dan ada banyak juga manusia yang bisa melakukan sesuatu yang tak bisa kulakukan.”
Suaranya terdengar sangat lembut ketika dia instropeksi diri.
“Ah, tapi meski aku bilang begitu, aku tidak mau berubah. Aku suka aku yang sekarang, dan kupikir ini adalah sesuatu yang sudah benar” dia tersenyum penuh percaya diri. Arcueid melihat sekelilingnya, dan mulai menggigit burgernya.
Nyam nyam nyam
Arcueid melahap burgernya. Dia tidak terlihat seperti vampire kalau begini.
“.........”
Bagaimana bisa? Tidak mungkin makan burger dengan sopan, tapi Arcueid melakukkannya dengan sangat anggun
“....Apa? Melihatku begitu? Cara makanku salah?”
Arcueid langsung meletakkan burgernya kembali ke piring. Setelah itu, dia mengelap mulutnya dengan tisu. Semua gerakannya terlihat sangat elegan.
“Tidak, cuma cara makanmu tidak sesuai dengan sifatmu”
Aku mulai memakan burgerku.
“Apa maksudmu tidak sesuai?”
“Hanya tidak sesuai dengan image-mu. Mulutmu yang kecil, tidak cocok untuk akan makanan cepat saji. Nih, kukasih kentang gorengku. Makan ini saja”
“Tidak mau. Kalau hanya ini, tidak terasa makan.” Arcueid kembali memakan burgernya dengan kesal.
Ha ha, vampire pemakan burger? Semua mahluk hidup perlu makan. Arcueid pernah mengatakan kalau dia tidak minum darah manusia. Apa untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya dia makan makanan normal seperti manusia?
“Hey, Arcueid?”
“Apa, orang jahat?” Arcueid masih tampak kesal.
“Aku tidak mau mengkritik, cuma mau tanya saja”
“Apa?”
“Kamu vampire kan? Makananmu apa selain darah?”
Mata Arcueid membelalak. Pertanyaaku mungkin terdengar kasar. Melihat raut wajah Arcueid, mungkin dia jadi marah......atau tidak?
“Shiki, biasanya kami tidak makan makanan seperti kalian. Bagi kami makan dan menghisap nutrisi itu hal yang berbeda. Makan bagi kami hanyalah semacam nafsu. Bila tidak makan, mungkin kami merasa sedikit lapar, tapi dorongan untuk makan jarang sekali terjadi”
“Begitu ya?”
Syukurlah, Arcueid bukan tipe vampire yang membunuh manusia untuk makan. Kalau saja sejak awal Arcueid mengatakan ‘Aku bukan vampire yang menghisap darah manusia untuk makan’, mungkin Aku mau membantunya sejak........ ketemu......... ?
“Tunggu dulu! Kalau begitu, kau bukan vampire dong?!”
“Untuk True Ancestor seperti aku, darah adalah sesuatu yang paling bisa memenuhi nafsu kami. Jadi untuk ‘hidup’ dan memenuhi ‘nafsu’, kami bisa mengganti darah dengan sesuatu yang lain. Tapi beda dengan Dead Apostles. Untuk mempertahankan tubuhnya, mereka perlu darah. “
“Jadi untuk bisa menghilangkan lapar, kau perlu darah? Bukannya kau pernah bilang kau takut darah? Maksudmu seperti orang lain yang tidak suka suatu makanan tertentu, kau tidak suka rasa darah?”
“Tidak tahu. Aku sendiri tidak tahu rasanya darah itu seperti apa.”
“Heh?”
“Kan sudah kubilang. Aku ini vampire yang tidak sempurna. Rasa darah saja aku tidak tahu” Arcueid terlihat sangat sedih.
“Hey Shiki, kalau ikan juga memiliki kecerdasan yang setingkat dengan manusia, apa kamu juga bisa memakannya? Tanpa mempedulikan tingkat kecerdasannya, apakah kau masih bisa menganggapnya sebagai makanan, dan memakan mereka?” suara Arcueid terdengar suram
“Itu___” Aku tidak tahu. Mungkin aku mencoba mencari makanan dari mereka yang tidak punya kecerdasan.
“Seperti itu. Karena seperti itulah aku tidak bisa meminum darah. Seandainya manusia tidak memiliki kecerdasan, aku berani meminum darahnya. Mengambil nyawa mahluk lain untuk memperthankan hidup itu boleh kan?”
Arcueid meminta persetujuanku. Tapi aku tidak bisa berkomentar.
“Kita hentikan saja percakapan seperti ini. Aku tidak suka kata ‘seandainya’”
“Benarkah? Aku suka ‘seandainya’. Tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi masih bisa berharap hingga saat-saat terakhir” Arcueid kembali ceria.
‘Seandainya’
Seandainya Arcueid jenis vampire yang menghisap darah manusia, apakah kami masih bisa berbicara seperti ini?
“Ada apa Shiki? Wajahmu murung. Mau ketoilet?”
“Hey, Aku lagi berpikir serius”
Biarpun aku memikirkannya dengan serius, tampaknya Arcueid tidak begitu peduli dengan ‘meminum darah’
“Bukan urusanku sih,” kataku lirih.
“Kenapa bisik-bisik sendiri? Menyembunyikan sesuatu itu tidak jantan, Shiki” Arcueid terlihat seperti kucing marah lagi.
“Yang menyembunyikan sesuatu itu bukannya kamu? Tampaknya kau senang mengatakan sesuatu yang tidak bisa kumengerti”
“Enggak kok,”
Tiba-tiba saja dia menjadi tenang. Dia mulai memainkan kukunya. Arcueid terlihat sedikit tidak nyaman.
“Benarkah? Yah, karena kita ini dua spesies yang berbeda, Aku tidak peduli” kataku tidak percaya.
“Bu, bukan begitu! Aku terlihat menyembunyikan sesuatu karena kau tidak tanya....”
“Jadi kau akan menjawab apapun yang kutanyakan?”
“Ya. Karena kita teman satu tim” dia kembali bersemangat
Baiklah, kalau begitu aku akan bertanya tentang sesuatu yang lebih biasa.
“Kalau begitu aku mau tanya tentang hobimu, masa lalumu, dan tiga ukuranmu?”
“Pertanyaan yang aneh.”
“Apanya yang aneh? Aku Tidak tahu apa-apa tentang kamu, jadi wajar aku tanya begitu.”
“Baiklah kalau begitu. Untuk hobi dan masa laluku, sepertinya tidak ada deh..... terus tiga ukuranku, Aku tidak pernah mengukurnya. Aku tidak pernah mengitung umur, tinggi, dan yang lainnya seperti kalian”
“Jadi kau tidak pernah tahu dirimu sendiri?”
“Bukan begitu. Hanya aku tidak memasukkannya dalam prioritas. Yang jadi prioritas hanya kemampuan untuk membunuh Dead Apostles”
“Tapi tentunya ada kejadian-kejadian sebelum kau kemarikan? Aku ingin dengar”
“Sebelum kemari? Kalau begitu, mungkin 8 tahun yang lalu. Aku waktu itu menemukan sarang vampire di sebuah desa di Prancis. Setelah dua hari, aku berhasil menemukan Dead Apostles wanita yang menghantui kota____”
Seakan mengingat sesuatu yang buruk, Arcueid memotong ceritanya.
“8 tahun? Selama 8 tahun itu kamu ngapain saja”
“Pulang kekastil dan tidur. Tugasku hanya untuk membasmi Dead Apostles, jadi kalau sudah selesai, aku tidur”
Heeeeeee_____ Selama 8 tahun tidur? Apa dia serius?
“Terus maksudmu kastil? Jangan bilang kau punya istana seperti cinderella”
“Cinderella?” Arcueid terlihat bingung. Salah satu alisnya naik. Wajahnya jadi terlihat lucu.
“A, anu..... ekspresimu tidak sesuai untuk situasi sekarang. Maksudku__Um__ apa kau seorang putri?”
“Mungkin. Dulu aku sering dimarahi karena memotong pendek rambutku. Dan aku harus bersikap seperti bangsawan”
Terkejut aku. Tapi Nero memang selalu memanggilnya putri.
“Putri?” Arcueid memang sangat cantik. Tapi orang yang susah diatur seperti ini seorang purti? “Yah, paling tidak kamu memang seegois putri”
“Hey! Aku mengatakan ini karena kau bertanya!”
Oh. Sang putri sedang marah. Tapi sepertinya Arcueid tidak begitu peduli dia purti atau bukan. Jadi sebaiknya kulupakan saja.
Masih marah, Arcueid melanjutkan makannya. Setelah selesai dan agak tenang, kami pergi ketempat lain.
Setelah makan, kami window shopping sebentar di jalan utama, dan menuju kesekolahku. Arcueid mengatakan ‘Ayo kesekolahmu!’ dengan semangat, dan Aku tidak bisa bilang tidak.
“Mana bisa masuk, Aku hari ini bolos, dan kau orang luar!”
“Sudahlah, tenang saja. Tidak masalah” Arcuei mengintip dari balik gerbang sekolah.
“Heh?” Arcueid memiringkan kepalanya heran.
“Apa? Ada masalah?”
Aku mengintip dari samping Arcueid.
“Heh?” kali inigiliranku yang memiringkan kepalaku heran.
Sepi sekali. Tidak ada tanda-tanda orang. Padahal belum jam 6 sore. Biasanya jam segini klub atletik masih berlatih.
“Shiki, kok tidak ada orang ya?”
Aku tidak yakin. Tapi memang tidak ada orang. Didalam gedung sepertinya juga kosong.
“Shiki. Sekarang tidak ada orang” Arcueid mengulangi kata-katanya.
“Tidak mungkin, ah” Aku masih mencari-cari.
“Ha ha, kalau begini tidak masalah kalau aku masuk. Waktunya pas”
“Sudah kubilang jangan!”
“Wah... besarnya... gedungnya besar sekali. Memang cocok untuk belajar disini”
Aneh. Suara Arcueid tidak berasal dari sampingku, tapi dari dalam halaman sekolah.
“Shiki. Pintunya tidak bisa dibuka. Boleh kurusak?”
WAAAA!! Dia sudah melompat masuk. Sekarang dia bersiap merusak gembok gerbang.
“De, dengarkan orang kalau lagi bicara...!!!” Aku langsung berlari mencoba mencegah perusakan gerbang oleh seorang bodoh.
“Ah, akhirnya datang juga!” dia tersenyum seakan sangat menikmatinya.
“Memangnya main kesekolahku menyenangkan? Masih ada banyak tempat lain yang jauh lebih menyenangkan. Ayo pergi”
“Tempat ini menyenangkan karena sering kau datangi” Arcueid tertawa aneh dan terenyum jahat.
“Shiki, Aku mau masuk. Tolong potongkan gembok ini”
“Potong?___, Kau__”
“Kalau kulakukan sendiri hasilnya berantakan. Kalau kau yang melakukannya, hanya akan terlihat pecah dengan sendirinya. Ayo ayo!” Arcueid menunjuk gembok gerbang dengan bersemangat.
“Ck, kayak anak kecil saja” Aku menuruti keinginannya. Setelah memotong gembok, kami masuk kedalam sekolah. Arcueid menyuruhku untuk membawanya keruang kelasku.
“Hey Shiki. Apa yang kau pelajari disini?”
“Pelajaran sekolah biasa. Sejarah, Fisika, Matematika, dan Bahasa Inggris kalau-kalau suatu saat kami harus pergi keluar negeri”
“Begitu ya? Kalau melihatmu, kukira mereka mengajarkan bagaimana memotong orang dan bagaimana menggunakan bermacam-macam jenis pisau”
Ha ha ha. Menyindir ya?
“Bukannya kamu sudah belajar mengenai kehidupan manusia dijaman ini? Sekolah termasuk dong! Terus untuk apa kamu tanya?”
“Ha ha ha, benar! Kamu pintar!” Arcueid bertepuk tangan.
Aku tahu kalau jalan pikiran Arcueid aneh. Tapi hari ini yang paling aneh. Membawa paksa aku kemari, maksudnya apa sih?
“Shiki,”
“Ya? Mau mengatakan alasan kenapa datang kemari?”
“Tidak ada alasan kok. Aku hanya ingin mendengar ceritamu tentang tempat ini”
“Tempat ini? Sekolah?”
“Ya. Kau menghabiskan separuh harimu disini kan? Apa pengetahuan yang kau peroleh disini berguna? Apa kau hanya membuang waktu mempelajari hal-hal yang tidak berguna?”
“Huh?” Lagi-lagi dia mengatakan sesuatu yang sulit dimengerti
“Maksudku, kau mempelajari sesuatu disini yang tidak akan kau gunakan. Bukannya itu namanya membuang waktu? Sia-sia bukan?”
“Kau benar. Aku belajar matematika, padahal yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari hanya matematika dasar. Aku belajar sejarah dan bahasa inggris, tanpa tahu apa suatu saat nanti akan kugunakan”
“Ah? Kau sadar juga ya? Terus kenapa masih melakukan hal yang tidak berguna seperti itu? Waktumu terbatas. Seharusnya kau tidak membuang-buang waktumu”
“Membuang waktu? Saat ini kami, anak SMA, masih tidak tahu tujuan kami. Jadi kami akan terus membuang waktu sampai kami tahu tujuan masing-masing”
“Kenapa? Padahal kau tahu itu sia-sia saja. Tapi kenapa?” Suara Arcueid terdengar galau. Dan seperti biasa aku tidak tahu kenapa.
“Kenapa? Apakah melakukan hal yang sia-sia itu begitu buruknya untukmu?” tanyaku.
“Heh?”
“Melakukan hal-hal ekstra seperti ini bukankah tidak masalah? Meskipun hal-hal yang kupelajari hanya berlaku disekolah, tapi akan menjadi pengingat hari-hariku disini. Mungkin beberapa tahun kedepan Aku akan diam berpikir, dan mengatakan ‘Dulu waktu sekolah, aku pernah begini’ sambil tersenyum kecut. Jadi bukan berarti aku sekolah disini sia-sia”
“Aku masih belum mengerti. Kenangan itu sendiri tidak berguna. Tapi kau mengatakannya seolah-olah mengenang sesuatu itu menyenangklan” kata Arcueid heran Arcueid terlihat sendu. Mungkin sekarang dia sedang berusaha memahami cara pikir manusia biasa.
“Manusia memang diciptakan untuk hidup dengan mengenang hal-hal baik maupun buruk. Kalau dipikir, hidup manusia itu penuh dengan hal yang sia-sia. Mungkin saja hidup itu sendiri sudah sia-sia. Tapi, aku tidak peduli. Yang penting menurutku adalah bagaimana menghidupkan hidup ini”
“Mmm.... kau tahu ini sia-sia, tapi masih kau lakukan juga. Aku tidak mengerti. Aku tidak pernah melakukan hal yang sia-sia. sekarangpun, aku tidak melakukan hal yang tidak perlu.”
“Bicara apa kamu? Bukakah hari ini penuh dengan kesia-siaan? Bukankah pekerjaanmu itu memburu vampire? Kalau begitu tidak seharusnya kau jalan-jalan hari ini bersamaku”
“Ah,________ Kau benar. Aku sendiri tidak mengerti. Sekarang aku merasa bingung”
“Kau tahu, mungkin kau benar. Aku ini orang yang selalu melakukan hal yang sia-sia.”
“Maaf. Aku mengerti maksudmu, Shiki. Manusia adalah mahluk sosial. Jadi sia-sia atau tidak, tidak ditentukan oleh individu, tapi oleh kelompok. Meski ada seseorang yang melakukan kesalahan, anggota kelompok yang lain akan membenarkannya. Tapi bagi kami yang individual ini, kesalahan tidak bisa diterima. Kami tidak boleh membiarkan keinginan kami dipengaruhi oleh orang lain. Karena itu____ aku tidak pernah melakukan hal-hal ekstra.”
Terdiam. Dia seolah sedang membuat pengakuan.
“Tapi sekarang.... hanya dalam 7 hari, aku mulai bertanya-tanya apakah yang kulakukan adalah benar? Aku senang. Melakukan hal-hal seperti tadi, hidup seperti ini, aku tidak pernah menyangka akan merasa sesenang ini”
“Ar...cueid?”
“Mungkin aku rusak. Aku belum pernah terbangun sampai selama ini. Atau mungkin sebenarnya aku sedang tidur dan semua ini hanya mimpi”
Mata Arcueid terlihat kosong.
“Rusak? Kau baik-baik saja menurutku”
“Dari luarnya, ya. Tapi didalam sudah banyak berubah. Rasa bahagia, sakit, dan masih banyak lagi perasaan asing yang memenuhi dadaku. Aku tidak bisa mengesampingkan perasaan ini seperti sebelum-sebelumnya. Aku pasti sudah rusakkan? Dan lagi....”
Arcueid tersenyum
“Aku tidak normal. Aku berbeda denganmu Shiki. Aku vampire”
Arcueid memaksakan diri untuk tertawa. Tapi aku bisa melihat matanya. Matanya terlihat sedih.
Sinar matahari terbenam yang berwarna oranye menyinari seluruh ruangan. Bermandikan cahaya metahari terbenam, seorang gadis yang terlihat begitu rapuh.....
“Ini tidak seperti kau__Arcueid”
Ya ini tidak seperti Arcueid yang kukenal. Kau ini vampire. Jangan terlihat begitu rapuh seperti gadis biasa pada umumnya.
“Perasaan yang tidak bisa dikesampingkan, melakukan hal yang sia-sia, jika tidak menyusahkan orang lain, biarkan saja mengalir. Jangan kau pikirkan terlalu serius. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tapi, aku tidak melihat ada yang salah.”
“Benarkah? Tapi kau selalu marah-marah padaku. Bukankah artinya itu bermasalah”
“Kalau yang ini lain. Aku membunuhmu. Jadi terlibat denganmu bisa dibilang karma. Tapi karena aku memang ingin melakukannya, kau tidak perlu cemas”
Arcueid kembali terlihat sendu.
Aku tidak suka melihatnya seperti ini. Dia terlihat sangat lemah. Kalau bisa, aku ingin memeluknya, dan memberinya semangat.
“... Arcueid tabahlah. Kau memang egois, tidak mau mendengarkan orag lain, dan selalu mencari masalah. Tapi kau normal. Kau tidak rusak. Jadi, tersenyumlah. Kalau kau begini, Aku juga jadi sedih”
“... Jahat. Memangnya aku seegois itu?” Arcueid menoleh kearahku. Wajahnya memerah karena malu.
Ah, rupanya sang tuan putri tidak menyadari kalau dirinya egois.
“___Hahahaha! Kau ngomong apa? Kalau kau membuang semua sifat egoismu keluar, yang tertinggal nanti cuma tulangmu saja! Cuma tulang!”
Aku tidak tahu aku bicara apa. Tapi Aku merasa lucu. Karena dalam mimpipun aku tidak pernah membayangkan Arcueid bisa tersipu malu.
Arcueid menatap galak kearahku.
O ow, dia marah sekarang
“Bajingan kau Shiki! Aku sedang membicarakan masalah dengan serius, dan begitu sikapmu?!”
“Kan sudah pernah aku bilang Aku ini baik sama semua orang kecuali kamu. Jadi sikap seperti ini harusnya kau sudah terbiasa”
Aku kembali tertawa. Wajah sendu Arcueid sudah hilang. Sekarang berganti kesal yang lebih cocok dengannya.
“Tapi aku sedikit lega kau berpikir seperti itu” kataku
“E, eh? Kenapa lega? Bukankah seharusnya kau jahat padaku?”
“Ah ya. Benar juga.”
Aku sendiri tidak mengerti. Sesaat aku tidak ingin melihatnya bersedih. Aku ingin melindunginya.
Dasar bodoh. Tanpa ragu aku bisa mengatakan kalau dia cantik dan baik. Dan aku tidak pernah merasa bosan bersamanya. Tapi aku tidak bisa membiarkan perasaan seperti itu masuk. Bertahanlah Shiki. Kau tahu kalau dia vampire.
“Aha! Sekarang kau yang bilang kau tidak mengerti dirimu sendiri!”
“Diamlah. Tidak masalah kalau aku tidak mengerti diriku sendiri. Aku sejak awal memang aneh. Jadi tidak usah heran”
“Mungkin karena itu kau sering melamun Shiki” Arcueid mengangguk seakan mengerti semua masalahnya.
Melihatnya mempercayai alasanku membuatku berpikir jangan-jangan apa yang dikatakannya adalah benar.
“Baiklah!”
Kami harus segera keluar. Kalau sampai ada guru yang melihat kami, bisa gawat.
“Ayo keluar. Sudah tidak ada apa-apa disini”
“Ya benar. Tapi Shiki?”
“Ya?”
Arcueid terdiam sejenak.
“Kau menikmati hari ini?”
Arcueid bertanya sesuatu yang aneh
“Kau sakit ya Arcueid?”
“Jangan mempermainkanku. Aku tahu kondisi tubuhmu. Tidak aneh kalau kau bisa mati setiap saat”
“AP___!?”
Deg!
Luka didadaku terasa akan terbuka lagi.
“Manusia juga akan mati nantinya.”
“Tapi untuk kasusmu, kau bisa mati lebih cepat dari orang lain”
Tatapan matanya serius. Tapi semua orang memiliki garis kematian dimana mereka bisa mati dengan mudah.
“Jawab aku. Apa kau juga menikmati saat-saat tertentu meskipun hidupmu tidak stabil”
“Dasar bodoh. Mana bisa aku tahu?”
Tapi satu hal yang aku tahu. Aku hampir mati 8 tahun yang lalu. Dan untuk sesaat, aku merasa hidup didunia yang gelap. Mungkin hanya mimpi, tapi saat itu, aku benar-benar merasa aku sudah mati.
Aku merasa sangat bahagia karena bisa sembuh secara ajaib. Aku bertemu Sensei dan menjalani hidup yang normal. Sebelum mati mungkin aku tidak menyadari bahwa dunia ini sangat menyenangkan.
Jika ada seseorang yang bertanya apakah aku bahagia? Aku akan menjawab tegas YA! Sesulit apapun hidupku, aku merasa sangat bahagia bisa hidup.
“Tidakkah menurutmu bisa hidup saja sudah sangat menyenangkan? Mungkin itu jawabanku atas pertanyaanmu” Aku tidak bisa memberikan jawaban yang mendalam. Karena aku baru hidup selama 17 tahun.
“Jadi itu, kata hatimu? Benar juga. Walau tahu melakukan hal yang sia-sia, kau akan tetap melakukannya karena kau rasa sangat menyenangkan. Jawabanmu bagus”
“Kau masih kepikiran?”
“Ya. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Paling tidak sampai vampire ini dikalahkan. Sampai saat itu, kita akan berjuang bersama” Arcueid tersenyum
Sampai vampir ini dikalahkan huh? Benar juga. Hubungan kami hanya sampai sebatas itu. Hari ini berjalan sangat menyenangkan sampai Aku melupakan sesuatu yang sangat penting.
“Hey, Arcueid. Setelah semuanya selesai, dan sebelum kita berpisah, kau mau jalan-jalan bersamaku lagi?” Aku mengatakannya tanpa berpikir.
“Eh? Maksudmu?”
“Setelah tugasmu selesai, aku mengajakmu melakukan hal yang sia-sia seperti tadi. Kita bisa seperti ini karena kita setuju untuk saling membantu kan? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi seandainya kita bertemu tanpa satu alasanpun.”
Aku ingin kami berjalan bersama sebagai teman. Aku tidak ingin memikirkan kalau dia sebenarnya vampire. Kupikir, Arcueid akan bahagia kalau dapat membuat kenangan seperti itu
“__Tapi kalau kau benar-benar sibuk, tidak usah juga tidak apa-apa.”
“Baiklah!” Arcueid mengangguk “Setelah semua selesai, kita akan bertemu lagi disini. Mungkin tidak ada gunanya, tapi sepertinya akan menyenangkan!”
Bermandikan cahaya matahari terbenam, Arcueid tersenyum dan berjanji padaku.
Kami akhirnya keluar setelah hari menjadi gelap. Kami harus segera memburu vampire yang mengacau kota.
“Kita pergi sekarang Arcueid?” Aku berbalik melihat Arcueid yang berjalan dibelakangku.
“Sekarang? Bukannya masih terlalu sore?”
“Lebih cepat lebih baik. Kita sudah bersenang-senang sepanjang siang, jadi kita harus serius malam ini”
“Kamu aneh Shiki. Kalau kamu serius seperti ini, kenapa melanggar janji kemarin?”
“Aku berniat berangkat, tapi kemarin aku tidak bisa bergerak”
Kalau saja Akiha tidak melarangku, aku mungkin akan memaksakan diri menemui Arcueid.
“Bagitu ya. Baiklah, ayo kita lakukan itu”
Dengan tatapan kosong, Arcueid mengatakan sesuatu yang tak kumengerti.
‘Itu’ apa?
“Kau mau ke taman kan, Shiki? Kita masih punya banyak waktu, jadi kalau kau tidak bisa melakukannya kemarin, kita bisa melakukannya hari ini”
Dia mulai berlari dengan ringan menuju taman
“Hey, tunggu.... Hei!!”
Aku belari sekuat tenaga mengejarnya agar tidak tertinggal.
“Lihatkan, biar kamu terus terusan mengeluh, kau bisa mengejarku. Ahahaha”
Arcuied tertawa. Kami sudah sampai ditaman.
“Bo...bodoh! kalau kau tertinggal....kau bisa menganggu...orang lain” Aku berusaha mengatur nafas setelah berusaha berlari sepanjang jalan.
“Aku tahu sekarang banyak orang. Aku bisa merasakan kehadiran mereka”
“Bisakah...kau *hosh* mendengarkan....omongan ...orang?”
“Aku mendengarmu”
“Ya... kau mendengarku....tapi kau... mengabaikannya. Itu lebih buruk”
“Aku tidak pernah mengabaikanmu. Setiap kali aku jawab pertanyaanmu, kau memanggilku bodoh. Jadi aku diam saja”
“Oh.... jadi...maksudmu mungkin aku....juga sedikit....bermasalah?”
Aku masih berusaha mengatur nafasku. Jarak dari sekolah kemari kira-kira 6 kilo. Tidak baik buat jantungku kalau terus berlari seperti tadi.
“Kau baik-baik saja? Tidak usah memaksakan diri. Kau bisa istirahat di bangku taman”
“....Baiklah... aku istirahat sebentar. Setelah itu, kita langsung kekota”
“Sudah kubilang terlalu sore. Vampire baru bergerak setelah benar-benar gelap. Kita masih punya banyak waktu sekarang.”
Kenapa tidak bilang dari tadi, pikirku kesal.
____Sambil duduk, Aku berkali-kali melihat jam tanganku. Jam 9 lebih sedikit. Taman mulai sepi. Arcueid tidak duduk dibangku. Dia berjalan kesana kemari seperti sedang bosan.
Langit semakin gelap. Berbeda dengan dua malam sebelumnya, tidak ada awan sama sekali. Sinar bulan menerangi taman dan Arcueid.
“....Sinar bulan.....” Seandainya kemarin bulan bersinar seperti ini, Aku mungkin bisa melihat wajah pria berbalut perban kemarin____
“Ah____!”
Aku melompat dari bangku.
“Shiki? ada apa? Kau melihat zombie?!” Arcueid berlari kearahku.
“Tidak. Hanya saja aku melupakan satu hal yang penting” Ah bodohnya Aku. Kemarin aku diserang, tapi sekarang sudah lupa sama sekali.
“Arcueid, dua malam yang lalu, aku diserang oleh orang aneh!”
“Orang aneh? Seperti apa?”
Setelah menenangkan diri, Aku berusaha menjelaskan sebaik yang aku bisa.
“Ya___kira-kira begitu___” Setelah selesai dengan penjelasanku, Aku mencoba membaca ekspresi Arcueid. Sejak aku mulai menjelaskan ampai sekarang, sorot matanya tetap tajam tanpa ada kelembutan sedikitpun.
“Jadi bagaimana? Pria berbalut perban dan orang berjubah kemarin itu musuhmu atau bukan?”
“Keduanya musuhku. Aku tidak tahu siapa pria berbalut perban itu, tapi kalau orang berjubah Katolik menurut ceritamu, sepertinya Aku tahu siapa dia.”
Mata Arcueid menyipit marah.
“Aku mungkin mengenal orang berjubah itu Shiki. Seandainya itu benar-benar dia, mungkin perempuan itu bisa menemukan musuhku sebelum aku” Arcueid menggigit bibirnya sendiri karena kesal.
“Tunggu dulu. Aku tidak bilang kalau dia perempuan”
“Tidak salah lagi. Perempuan ini adalah satu-satunya orang yang diberi wewenang untuk memburu kami dengan menggunakan senjata ‘Black Key’”
Kemarahan Arcueid menghilangkan sopan-santunnya. Padahal ketika melawan Nero, dia tidak sampai seperti ini.
“Arcueid, apa orang yang menolongku kemarin juga vampire?”
“Tidak. Benar juga, aku belum cerita tentang ini padamu” gumam Arcueid. “Sebelumnya Aku pernah cerita tentang vampire yang menetap disuatu kota, menggunakan penduduk setempat menjadi anak buahnya, dan memperluas wilayahnya. Tapi biarpun harus memperluas wilayahnya, vamire harus tetap menyembunyikan dirinya. Meskipun korbannya dimana-mana, tapi mereka akan menggunakan berbagai macam cara agar keberadaan mereka tidak diketahui. Kau tahu kenapa?”
“Mungkin karena manusia tidak bodoh Arcueid. Kalau mereka tahu mahluk seperti itu ada, mereka akan menyerangnya. Mungkin manusia memang lemah, tapi ada polisi yang mungkin bisa melakukan sesuatu.”
“Ya benar. Tapi polisi hanya bisa digunakan kalau lawannya manusia biasa. Shiki, vampire punya musuh alami. Mereka seperti pembunuh profesional. Akan fatal akibatnya bagi vampire kalau sampai mereka mengetahui keberadaannya. Biarpun vampire membangun daerah kekuasaannya di gunung atau tempat terpencil, kalau jumlah korban semakin banyak, keberadaan mereka akan segera diketahui. Vampire harus bersembunyi untuk keselamatan mereka sendiri”
“Huh? Musuh alami vampire? Kelompok monster lain yang aku belum tahu?” Saat ini Aku benar-benar ingin kejadian-kejadian aneh seperti ini berhenti bermunculan.
“Bicara apa kau? Musuh alami vampire ya manusia.”
“Kami?!”
“Sejak dulu, manusia menggunakan sihir, kutukan, upacara ritual dan membentuk organisasi pemusnah monster. Dan yang paling besar adalah para Excorcist dari Vatikan. Mereka selalu menganggap mahluk yang bukan manusia sebagai musuh, dan vampire dicap sebagai musuh terbesar. Mereka itu seperti terobsesi. Mereka itu gila. Aku bahkan tidak mau berurusan dengan mereka.” Arcueid menghela nafas.
“Yang membantumu adalah salah satu anggota elit organisasi tersebut. Kelompok ini, Burial Agency, adalah bagian dari gereja. Mereka menggunakan kekerasan untuk menghadapi apa yang disebut gereja sebagai ancaman.”
Jadi pihak gereja juga ikut memburu vampire ya?
“Kalau begitu, kenapa kita tidak mengajak mereka untuk bekerja sama?”
“Tidak mungkin bisa. Bagi mereka, asal bukan manusia, artinya jahat. Tidak peduli apakah mereka menghisap darah atau tidak. Mungkin saja exorcist ini mungkin lebih tertarik menyegelku daripada bertarung melawan vampire yang kuburu.”
Merasa jengkel, Arcueid kembali berjalan kesana kemari.
Situasi menjadi semakin rumit. Bukan hanya musuhnya saja, Arcueid kini juga diincar oleh pemburu vampire.
......ini artinya, Arcueid hanya sendiri.
...................
………………….
Jam tanganku terus berdetik. Sudah sekitar 2 jam kami menunggu disini. Aku melihat sekeliling, dan tidak menemukan seorangpun kecuali kami disini.
“Arcueid, benar nih, tidak apa-apa?”
“Kurasa begitu”
Dia mengiyakan. Tapi dia tidak terlihat antusias.
“Sedari tadi kamu bertingkah aneh, Arcueid. Ada apa?”
“Tidak. Hanya kepikiran pria berbalut perban yang kau ceritakan tadi”
Menghela nafas, pandangan Arcueid menerawang jauh.
“Shiki....., kemarin aku di’tembak’ seseorang disini”
“Apa?”
“Aku bilang kemarin ada yang nembak Aku disini”
“....Ya, aku dengar itu. Maksudku.... bukannya kamu sedang memikirkan tentang pria berbalut perban ?”
“Tadinya. Tapi tiba-tiba saja Aku ingat ada seseorang yang mulai mengajakku bicara kemarin”
“Begitu ya? Tidak aneh. Dari luar kau tampak sangat cantik. Kalau kau duduk sendirian, terus ada seeorang yang berusaha mendekatimu, itu wajar saja.” Aku menjawabnya dengan sangat serius. Kadang-kadang Aku merasa kalau aku terlalu jujur.
“Begitukah? Tadinya aku mengira dia musuh, tapi aku ingat kau pernah mengatakan agar aku tidak terlalu curiga. Setelah mengamatinya sesaat, aku yakin dia hanya manusia biasa.”
“Tunggu dulu! Kau tidak melakukan sesuatu pada pria itu kan?”
“Tidak kok. Aku hanya bicara sebentar, terus kuhapus ingatannya. Tapi kalau aku tidak ingat kata-katamu, mungkin dia sudah ku.....”
“Syukurlah....” Aku merasa sangat lega mendengar jawabannya.
“Ha ha, yang bisa membuatku marah dan hilang kendali mungkin cuma orang-orang seperti kamu, Shiki” Arcueid mengatakannya dengan sangat santai. Tapi wajar saja kalau kau marah pada seseorang yang telah membunuhmu.
Aku melihat sekeliling taman. Sebulan yang lalu, kalau saja pembunuh berantai itu tidak muncul, mungki sekarang taman ini dipenuhi oleh orang yang sedang pacaran. Tapi sekarang, hanya ada aku dan Arcueid yang ada disini. Kalau kupikir-pikir lagi, sejak kapan aku terjebak kedalam dunia seperti ini?
“Ah, Hey. Lihat!” tiba-tiba Arcueid memanggilku.
“Ada apa?”
“Lihat jamnya. Sudah waktunya!” Arcueid menunjuk kearah jam sambil tersenyum lebar.
Sekarang sudah jam 10. waktu yang dijanjikan. Janji untuk bertemu disini setiap jam 10 malam. Kemarin aku tidak bisa menepati janji itu.
Kenapa? Kenapa dia begitu senang? Aku tidak mengerti. Aku menghabiskan seluruh hari ini bersamanya. Tapi aku tidak pernah merasa kalau dia ini adalah vampire.
“Boleh bertanya sesuatu?”
Hentikan Shiki!
“Ya? Apa?” Arcueid berpaling kearahku.
“Apa kau ini......”
Jangan tanya!!!
“Aku....apa?”
“........Benar-benar vampir?” Dasar bodoh!!! Jawaban apa yang ku harapkan?!
“Eh__? Kenapa Shiki? Kenapa tiba-tiba...?” Arcueid terlihat sangat terkejut dengan pertanyaanku.
“Bukannya tiba-tiba, hanya saja.....” Aku mengalihkan pandanganku ketempat lain.
“Aku tidak tahu kau ini keras kepala atau apa, tapi aku tersinggung, tahu. Katakan, apa maksudmu bertanya seperti itu?”
Sebenarnya tidak ada alasan untuk menanyakannya, tapi aku tidak melihat satu pun yang membuktikan kalau dia vampire.
“........, Kau bilang kau takut darah kan? Jadi, vampire macam apa kau ini?”
Dalam hatiku sebenarnya, Aku hanya berharap kalau Arcueid bukanlah seorang vampire.
“......Shiki, berdiri.” Katanya galak.
Arcueid mendekatiku. Mengikuti perintahnya, Aku berdiri.
Mata kami bertemu. Jarak diantara kami hanya sekitar 2 meter. Jantungku mulai berdebar merasakan ketakutan.
“...........”
“...........”
Tapi tiba-tiba Arcueid tersenyum
“Ha ha. Kau benar. Aku juga kadang berpikir seperti itu. Apa benar, aku, Arcueid Brunestud, adalah vampire? Aha ha ha”
Lega. Sesaat kukira aku bakal dihajarnya, tapi tampaknya dia hanya menganggapku bercanda.
“___Ya. Kau tidak terlihat seperti vampire sama sekali”
“Aha ha ha” Arcueid kembali tertawa “Kalau begitu, bagaimana kalau kita coba saja?” Arcueid mengatakannya sambil tersenyum.
“Mencoba____he?”
“Kita lihat apa aku bisa menghisap darah atau tidak. Kalau ternyata bisa, kau harus memberiku hadiah, Shiki”
“Ah___!?”
Masih tersenyum, Arcueid mendekat selangkah. Suara langkahnya menggema
Dia bercanda kan? Aku tahu dia bercanda ha ha ha.....
Tapi kenapa aku tidak bisa bergerak?
“Ka____”
Aku bahkan tidak mampu menyelesaikan kalimatku. Bukan karena kekuatannya, tapi Aku mematung sendiri.
Mendekat. Selangkah mendekat. aku, yang tidak bisa menggerakkan satu jaripun, terpana pada bibirnya.
“Shiki, kau bilang aku ini bukan vampire.....” Aku mendengar suara dari dalam kepalaku. “Kau tahu, menghisap darah itu sangat mudah.”
Arcueid memelukku.
Deg deg!
Deg deg!
Aku tidak bisa berteriak
Deg deg!
Tapi aku bisa merasakan nafasnya menerpa leherku.
“Ar_____” Aku berusaha memanggil namanya
Deg deg!
“_______”
Kami semakin mendekat. Aku bisa merasakan jarinya yang gemetar ketika menyentuh bahuku.
Deg deg!
Dia merasa takut. Tapi aku tidak.
Deg deg!
Tubuh Arcueid terus gemetar
Deg deg!
Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku bisa merasakan tubuhnya yang memelukku.
Deg deg!
Nafasnya menjadi berat.
“Ar__cueid?”
Deg deg!
“Ini seharusnya....hanya bercanda...” Suaranya terdengar bergetar
Deg deg!
Jari-jarinya menancap dibahuku seperti cakar burung.
Deg deg!
“AAAH___!!” Aku berusaha melepaskan diri, tapi Arcueid tidak membiarkannya. Cakarnya menancap semakin dalam seakan tidak mengijinkan aku pergi.
Deg deg!
“Arc___ maaf, Aku tahu bercandaku keterlaluan. Maaf___jadi tolong lepasakan aku!”
Deg deg!
“Shi___ki?”
Deg deg!
Aku berusaha mendorongnya. Tapi jarinya yang mencengkramku membuatku tidak bisa bergerak. Aku bisa merasakan giginya yang hampir menyentuh leherku.
Deg deg!
Deg deg!
Deg deg!
Deg deg!
“AAAAAAAAAAA____AAAAAAAA!” Tiba tiba saja Arcueid melompat mundur sambil berteriak.
Nafasnya masih terus memburu. Lebih cepat dari nafasku.
“Shi__ki?”
Seluruh tubuhnya gemetar melihat kedua tangannya. Jari-jarinya kini dibasahi oleh darahku. Cairan merah itu mengalir ketelapak tangannya kemudaian membasahi lengannya.
“Ah____” Melihat itu, dia seperti mau pingsan.
“Arcueid!” Aku memanggil namanya.
Dia mengalihkan pandangannya dari tangannya kearahku. Pandangan kami bertemu.
“Shi__ki?”
“Ya, aku disini. Bercandamu tadi sedikit keterlaluan, tahu” Aku mengatakannya karena ingin menganggapnya sebagai bercanda saja. Tapi sepetinya tidak berhasil.
“Shiki__ barusan __Aku___” Matanya seperti mata orang yang tidak waras “Merasa___sangat___haus”
Suaranya menjadi semakin lemah. Tubuhnya seakan siap jatuh kapan aja.
“Pulang sekarang___Shiki__”
“Apa!?”
Dia berlari menghilang dari hadapanku. Aku bersaha mengejarnya secepat yang aku bisa, tapi dia menghilang di tengah kota.
“Cih!” Apa dia pikir aku bisa pulng setelah melihatnya seperti itu? “Si bodoh itu, mau kemana dia?”
Aku mulai berlari mencarinya. Kota ini terlalu besar untuk mencari seseorang tanpa petunjuk. Aku mencari ditempat yang kira-kira akan dia datangi yaitu pusat perbelanjaan. Dia bukan orang yang akan berhenti meskipun terluka. Dia menyuruhku pulang, yang artinya dia tidak mungkin pulang. Mungkin dia berusaha mencari vampire itu sendiri.
Sesampainya di pusat perbelanjaan, aku melepas kacamataku. Arcueid tidak bisa menemukan mereka, tapi aku bisa.
“Baiklah”.
Tanpa kacamata, aku mulai berlari menyusuri tengah kota. Rasa sakit menyerang kepalaku. Aku tidak perlu berkonsentrasi untuk melihat garis maut, tapi garis itu serasa menghantam otakku melalui mata.
“Cih!”
Semua orang yang lewat disini memiliki garis yang normal. Selama aku tidak memakai kacmata, sakit kepala ini akan terus semakin parah. Tapi Aku tidak punya pilihan lain.
Menarik nafas, Aku mulai mengitari jalan utama sekali lagi.
Aku mulai merasa lelah. Sakit kepalaku menjadis semakin parah. Sebanyak apapun aku bolak-balik menyusuri jalan utama, aku tidak melihat satu Zombie pun.
“Belum selesai” Aku menyemangati diriku sendiri, dan sekali lagi menyusuri jalan utama. Dan kemudian,
Tring!
“Ah!” Aku mendengar suara benturan dua logam. Suaranya berasal dari gang kecil diantara dua gedung didepanku.
“Itu....” Tidak salah lagi. Arcueid ada disana. Dengan kondisi seperti tadi, dia memaksakan diri bertempur?
Tanpa mempedulikan sakit kepalaku, aku berlari menuju gang kecil itu. Aku melihat banyak sekali tanda pertarungan dan bekas cakar di sekitar tempatku berlari.
Berapa banyak yang dia hadapi?
Semakin berlari, sakit kepalaku seakan protes dan menyuruhku berhenti. Tapi aku tidak peduli. Karena aku tahu ada sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi didepan sana. Aku tidak bisa meningalkan Arcueid sendiri. Kalau berhenti disini, dia bisa saja terbunuh.
Wha__!!
Sesampainya di tempat kejadian, Aku seperti melihats sebuah lukisan surealis. Potongan tubuh manusia berserakan disepanjang gang sempit dan gelap ini. Kepala, limpa, perut yang terbuka, dan semuanya berlumuran darah. Dinding dan lantai berwarana merah semerah bulan dilangit.
Aku melihat Arcueid memegang kepala seorang Zombie. Dia membenturkannya kedinding, dan meremasnya seperti tomat. Seakan tidak puas, dia membelah tubuh tanpa kepala itu menjadi dua.
“Arcueid.....?”
Seluruh gang ini seperti dicat dengan warna merah gelap. Dan ditengah lautan berwarna merah itu, Arcueid berdiri. Dia masih belum sadar aku disini. Dia hanya memandang bulan dengan tatapan kosong.
Aku tidak bisa bicara. Kepalaku terasa sakit. Seperti dipotong menggunakan gergaji. Aku menjerit dalam hati. Aku seharusnya tidak disini. Aku masih belum mau mati.
Kemudian mata Arcueid melirikku. Matanya tidak berwarna merah seperti biasanya. Tapi berpendar keemasan.
Ketika aku melihat matanya, seluruh tubuhku menjerit seperti tersambar petir.
Aku seharusnya tidak kemari.
Aku seharusnya tidak bertemu mahluk ini.
DIA AKAN MEMBUNUHKU!!!
AKU TIDAK BISA MENGHADAPINYA!!!
Kemampuan kami jauh berbeda. Hanya dengan berada didepan mahluk ini___sama saja artinya mati.
Deg deg!
Aku gemetar. Jantungku berdebar kencang.
Pertama, aku merasa ketakutan,
Kemudian aku merasakan adanya keinginan untuk membunuh.
Karena mahluk yang berdiri didepanku ini tidak seharusnya hidup.
Bunuh!
Cepat bunuh!!
Bunuh dia sekarang!!
Hadapi dia dan hancurkan!!
Deg deg!
Jantungku berdetak seperti menggila. Aku tahu aku tidak akan mampu menghadapinya, tapi seluruh tubuhku berteriak menyuruhku untuk membunuhnya.
Aneh sekali. Aku ingin membunuhnya, meski tahu aku akan terbunuh? Apa ini maksudnya aku harus membunuh sebelum dibunuh?
“Gaa__Ah!”
Tidak! Aku harus melepaskan pandanganku dari mata emas itu. Tapi aku tidak bisa bergerak.
Darahku serasa mendidih.
“AAAAAAAAAA!!!”
Kenapa aku harus membunuh? Apa aku harus membunuh karena ingin tetap hidup?
Bukan! Bukan itu alasannya!
Tidak perlu alsan untuk membunuh.
Jujur saja Tohno Shiki, sejak dulu kau menginginkan gadis ini dan....
“DIAM!!”
Tidak, akal sehatmu yang harus diam. Kau hanya menginginkannya. Kau menginginkan Arcueid. Ingatlah perasaanmu waktu itu. Sejak pertama kau melihatnya, sejak pertama kau membunuhnya dengan tangan ini!
Ya.
Aku menginginkannya.
Hatinya, tubuhnya, air matanya, darahnya, dagingnya, dosa, dan nafsunya.
“Haaa_____GH!”
Nafasku semakin memburu. Aku tidak bisa berpikir jernih. Matanya sakan menelanku. Matanya yang berwarna emas itu.
“Shiki?”
Arcueid akhirnya menyadari kehadiranku. Setelah itu, matanya langsung berubah merah seperti biasanya.
Tapi semua itu, sudah terlambat. Aku mengambil pisauku dan mendorongnya ketanah. Tubuhnya yang lemah sangat mudah untuk didorong. Aku mencekiknya, dan tanganku yang lain mengacungkan pisau.
“Tenanglah....! kau tidak mau melakukan ini, Shiki__!” kata arcueid gemetar
Aku mendengar suaranya. Otakku seperti mendidih.
“DIAM!!”
Aku mencekiknya lebih kencang. Arcueid terlihat kesakitan.
Aku tidak bisa mempercayainya. Dia bahkan tidak bisa melepaskan diri dari satu tangan ini meskipun menggunakan seluruh tenaganya.
“Shi___ki”
Dengan nafas yang hampir putus, Arcueid memanggil namaku.
Deg deg!
Jantungku kembali berdetak kencang. Nafasku memburu. Pengelihatanku menjadi kabur dan tidak fokus. Sesuatu yang ada dalam diriku ini, harus segera kulepaskan.
Perlahan bergerak.
“Ah!”
Dia melihatku dengan tatapan tidak percaya. Tatapannya membuat jantungku berdetak semakin kencang.
Aku harus menyiksanya sekarang, kalau tidak aku bisa gila.
Pipinya yang putih. Lehernya yang halus, dan dibawahku ada tubuhnya yang luar biasa.
Nafasku terus memburu. Aku bisa mendengar suara detak jantungnya. Mata emasnya tadi seakan menghisap jiwaku.
Setelah kulepaskan cekikanku, Aku menyentuh tubuhnya. Tanganku mengelus kulit putih tubuhnya dari balik baju yang basah oleh keringat.
“Tidak! Ini bukan kau___ Shiki!”
Suaranya. Mata merahnya. Semua sensasi ini membuatku lepas kendali.
Arcueid mulai menangis. Tangannya mencoba mendorong tubuhku. Tapi semakin aku didorong, semakin keras aku menekan tubuhnya kelantai. Arcueid melihatku dengan pandangan marah.
Ah..... melihatnya seperti ini, dia tampak semakin indah. Tapi kalau begini terus, aku tidak bisa memakai tanganku. Tapi kalau kulepaskan, dia akan memotong leherku.
“Hentikan___atau kau___akan __menyesal__”
Tak kubiarkan dia bicara lagi. Kututup mulutnya dengan bibirku. Setelah itu dengan liar, kurobek-robek bajunya.
“TIDAK____Shiki__!!”
Arcueid masih berusaha melawan.
“SHIKI____”
Tapi aku lebih kuat darinya sekarang.
“Henti....kan...jalau...tidak...kau takkan...kumaaf....kan....”
Suaranya tertahan.
“Kau...bahkan...membenci...ku...Shiki...”
Persetan dengan semua itu. Sekarang, Aku hanya ingin tubuhnya.
“Shi...ki?”
Suaranya melemah. Sepertinya dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Air matanya masih mengalir.
Air mata?
Apa dia menangis?
“Ghaaaa____!!”
Kepalaku tiba tiba merasa sangat sakit seakan terbelah dua. Instingku mengatakan lanjutkan. Kalau tidak, dia yang akan membunuhku.
“_____”
Tapi dia menangis. Kenapa dia menangis? Kalau aku, takkan kubiarkan dia menangis.
Tubuhku masih menyuruhku untuk terus melanjutkan.
Tapi,...... aku tidak bisa. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang membatnya sedih. Dulu, aku menyerah kepada instingku, dan membunuhnya. Sekarang, aku tidak mau melakukannya lagi. Aku tidak akan membuat Arcueid menangis. Meski kepalaku terbelah, Aku tidak akan melakukannya.
“Ha____ah!”
Aku melompat mundur. Sakit kepalaku hilang. Akal sehatku kembali, dan aku akhirnya sadar apa yang baru saja kulakukan.
“A, apa yang.......”
Tak bisa kupercaya. Tapi aku bisa mengingat semuanya. Bagaimana aku menekannya, bagaimana aku mencekiknya, dan bagaimana aku melakukan hal yang tidak pantas padanya.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Arcueid kemudian berdiri dan membetulkan bajunya.
Aku tidak tahu bagaimana harus meminta maaf. Apa semua bisa selesai dengan sebuah kata maaf?
“Arcueid...Aku.....”
“Tidak usah dipikirkan, aku yang seharusnya minta maaf” Dia terlihat sangat tidak nyaman.
“Kenapa? Yang melakukan kesalahan itu aku kan? kalau saja aku bisa mengendalikan diri, hal seperti tadi tidak perlu terjadi”
“Tidak” Arcueid menggelengkan kepala. “Kau tidak mungkin bisa mengendalikan diri setelah melihat mata mistisku”
“Eh?”
“Sebenarnya, aku tadi merasa sangat haus. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Karena itu aku mencari Zombie dan mencoba menggantikan dorongan untuk minum itu menjadi dorongan untuk menghancurkan mereka. Ketika aku sedang hilang kontrol, kau datang dan melihat mata mistisku”
“Ah, memang aku merasa ada sesuatu yang aneh ketika melihat mata emasmu__tapi, hanya sampai disitu saja, aku, dengan keinginanku sendiri__”
“Kau salah. Mata mistis memikat siapa saja yang melihatnya........ Jadi kupikir karena itulah kau merasakan dorongan seksual yang kuat itu.”
“Kau__bohong__”
Karena meskipun aku tidak melihat mata emasnya, mungkin aku akan tetap....
“Pokoknya, ini semua karena kecerobohanku. Maaf Shiki, aku memanipulasi tubuhmu tanpa mempedulikan perasaanmu” Arcueid mengalihkan pandangannya ketka mengatakannya.
Permintaan maafnya membuat hatiku sakit. Karena aku tidak merasa dimanipulasi sama sekali. Aku merasa hanya mengikuti nafsuku saja.
“Arcueid, aku.....”
“Sudahlah, ini hanya kecelakaan. Aku akan melupakannya, jadi tolong kau lupakan kejadian ini juga.” Setelah mengatakanya, Arcueid berjalan dengan sangat tenang.
“Arcueid...?”
“Malam ini sampai disini saja. Aku sudah membunuh Zombie sebanyak ini, jadi mungkin mereka tidak akan muncul lagi malam ini.”
“Baiklah kalau begitu. Tapi bagaimana dengan tumpukan tubuh Zombie ini?”
“Jangan cemas, setelah matahari terbit, mereka akan menghilang tanpa bekas”
Dengan langkahnya yang lemah, Arcueid berbalik dan menghilang dari hadapanku. Aku tidak bisa mencegahnya. Aku masih merasakan tubuh Arcueid di kedua tanganku.
“Bodoh. Dasar bodoh!!” Aku memaki diriku sendiri.
Gang ini telah menjadi saksi bisu sebuah tragedi.•
Saturday, December 6, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment