Pagi hari. Setelah membuka paksa mataku yang masih mengantuk, aku mencari dan memakai kacamataku. Aku melihat keluar melalui jendela dan mendapati langit biru cerah dengan sedikit awan yang menggantung padanya. Meskipun pagi yang sempurna menyapaku, aku tetap merasa sedih. Tidak perlu bertanya mengapa. Kejadian dengan Arcueid semalam, masih membekas diingatanku. Dan rasa bersalah yang menyertainya masih menggangguku.
“Lupakan katanya, tapi bagaimana bisa?”
Aku melihat jari-jariku. Aku masih tidak bisa melupakan sensasi ketika aku menyentuh tubuh Arcueid. Arcueid ingin aku melupakannya. Tapi rasa sesalku membuatku tidak mungkin untuk melakukannya.
Yang kusesalkan bukanlah karena aku tidak bisa mengendalikan diri, tapi seandainya waktu itu aku tidak menyentuhnya seperti binatang, seandainya aku menyentuhnya sebagai manusia, mungkin saja______
Aku tahu, ini bukan karena aku melihat mata emasnya. Aku tidak sadar, tapi aku sudah tertarik padanya sejak lama.
Pagi yang sama setiap hari. Hisui datang dan membangunkanku. Akiha dan Kohaku duduk diruang duduk, dan kami saling menyapa sebelum berangkat kesekolah. Selalu sama.
Aku merasa sangat kosong. Aku tidak bisa merespon ketika diajak bicara. Aku meninggalkan rumah dengan perasaan hampa.
Di sekolah, aku melihat murid-murid lain saling menyapa dengan gembira.
“Ah, sekarang hari sabtu ya?”
Aku kehilangan orientasi waktu sejak Arcueid memasuki kehidupanku. Aku bertemu dengannya pertama kali ketika hari jumat. Seminggu yang lalu pada pagi hari, dia menungguku diperempatan dekat sekolah.
Waktu itu dia sedang tersenyum. Meskipun dia sedang menunggu seseorang yang membunuhnya, aku bisa melihat rasa senang yang terpancar dari matanya.
Mungkin saja dia tidak akan datang malam ini. Pikiran bahwa kemarin malam adalah terakhir kalinya kami bertemu terus berputar-putar dikepalaku. Hatiku merasa berat, dan mendadak semuanya terasa hampa. Mungkin aku tidak bisa melihatnya lagi. Perasaan itu terus menggantung dihatiku.
Aku duduk dikursiku 5 menit sebelum jam pertama dimulai. Aku melihat keluar tanpa semangat.
“Yo, tukang bolos. Kemarin kau bolos lagi. Ngapain saja kamu Shiki?”
“.........”
Aku hanya menghela nafas. Biasanya aku membalas, tapi hari ini aku merasa enggan berbicara dengan Arihiko.
“Kenapa kamu? Wajahmu kusut. Kemarin bolos, dan sekarang seperti ini. Kalau kau begini terus, sekolah jadi membosankan”
Aku menengok kearah Arihiko.
“Maaf Arihiko, sekarang aku lagi pingin sendiri. Kalau aku tidak masuk, kau bisa bicara denngan Senpai. Bukanya kau lebih senang begitu?”
“Ha? Senpai? Senpai yang mana?”
“Ngomong apa kamu? Ciel-senpai yang kelas tiga itu? Ya memang kadang aku berpikir kalau dia lebih muda, tapi Senpai tetap Senpai”
“Shiel-senpai? Siapa? Memang ada murid asing disekolah kita?”
Arihiko terlihat benar-benar bingung.
“Ngomong apa kamu? Senpai itu.....”
Tunggu dulu. Senpai itu.......
“Ada apa Shiki? Kau sakit ya?”
Aku tidak mendengar pertanyaan Arihiko. Pikiranku asih terfokus pada Senpai.
“Ah,.....”
Kenapa aku tidak menyadari keanehan ini. Ciel bukan nama orang Jepang, dan
aku bahkan tidak tahu nama lengkapnya. Aku juga tidak tahu dia dikelas tiga berapa.
Tapi, kenapa aku merasa sudah mengenalnya?
Menyadari sesuatu, aku langsung berdiri dan secara tidak sengaja menjatuhkan kursi tempat aku duduk.
“Kenapa Shiki? Sikapmu aneh”
“Aku mau ke kantor dulu. Kalau absen, katakan aku ada”
Dengan menyimpan beribu pertanyaan, aku berlari keluar ruangan.
Aku mencari semua data anak kelas tiga yang bernama Ciel. Tapi seperti yang sudah kuduga, aku tidak menemukan satu pun. Bahkan ketika aku menanyakannya kepada guru, mereka mengatakan tidak mengenal anak yang bernama Ciel.
****
Bel tanda sekolah usai berbunyi. Semua murid keluar dari sekolah.
Sekarang hari sabtu. Tapi aku seperti tidak mau melakukkan apa-apa. Seperti mayat hidup, Aku berjalan menuju rumah tanpa semangat.
“Selama tdatang Shiki-sama” Hisui menyambutku sesampainya aku dirumah.
Aku tahu kalau dia telah menungguku cukup lama, tapi aku tidak bisa menjawab salamnya dan langsung menuju kamar.
****
Makan malam selesai. Dan sekarang sudah hampir jam 10. Waktu perjanjian dengan Arcueid.
“Pergi tidak ya?”
Aku tidak tahu dia akan datang atau tidak, tapi aku pernah bersumpah tidak akan melanggar janji lagi.
Aku tiba di taman jam 10 kurang. Tidak ada seorangpun disini. Aku duduk dibangku dan terus melihat jam menunggu Arcueid datang. Aku akan terus menunggunya.
Sekarang jam sebelas, dan Arcueid masih belum datang taman benar benar sepi dan terasa sangat dingin. udara seakan berhenti bergerak. Dan aku memutuskan terus menunggunya, meskipun sampai sekarang Arcueid belum datang.
Hampir jam dua belas, dan belum ada tanda-tanda kedatangan Arcueid. Sudah dua jam dari waktu perjanjian.
Aku mengeluh.
“Dia tidak datang mungkin”
Aku tidak tahu. Tapi aku tidak merasa ingin pulang sekarang.
“Akan kutunggu sampai pagi”
Aku tiduran diatas bangku taman yang panjang dengan perasaan frustasi, kemudian....
“Hah?”
Kurasa aku tadi melihat sesuatu berwarna putih berkelebat di belakang semak. Dan bergerak sesaat setelah aku menyadarinya.
“_____”
Berdiri dari bangku, aku langsung menuju kearah bayangan putih tadi. Seakan tahu tidak mungkin bersembunyi, bayangan putih itu menunjukkan dirinya.
“Ahahaha, aku ketahuan ya?” Arcueid muncul dengan senyumnya yang ceria.
“Arcueid kamu,____”
“Ya? Apa?”
“Kenapa kamu datang?” Aku mengatakannya karena aku serasa masih belum percaya.
“Kenapa? Aku kan sudah berjanji. Aku sudah sampai sini 10 menit sebelum kau datang” jawabnya sambil membuang muka
“10 menit sebelum Aku?” Aku datang sebelum jam 10, dan dia datang lebih awal dari aku?
“Kalau begitu, kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah datang?”
“Mmmm, Aku ingin melihatmu sambil bersembunyi.”
“________”
Ah, meski sekarang sikapnya seperti biasa, dia pasti juga masih memikirkan kejadian kemarin. Karena itu dia bersembunyi karena tidak berani berhadapan langsung denganku.
“Maaf ya, tentang itu.........”
“Ya. Kau tidak pernah sadar kalau aku sudah disini. Aku menunggumu menyadariku. Aku berencana bertemu denganmu dengan cara yang sedikit berbeda, tapi kau mengacaukan rencanaku dengan terus melamun”
“Eh?” Aku terkejut.
“Kau bersembunyi karena itu?”
“Kenapa? Aku merasa sedikit bosan, jadi aku mau main-main sedikit” Dia mengatakannya dengan sangat santai tanpa tahu betapa frustasinya aku menunggu.
“__Bermain-main? Kau___?!” Rasa senangku karena bertemu dengannya tiba-tiba lenyap. Dia selalu bertindak seenaknya tanpa mau tahu perasaanku.
Aku beusaha menenengkan diri dengan menghirup udara malam sebanyak-banyaknya. Mungkin aku merasa marah. Mungkin juga aku malah merasa lega karena melihatnya bersikap biasa saja. Lebih tepatnya, biasa untuknya.
“Baiklah, kau menang Arcueid”
“Benarkah? Tapi aku barusan ketahuan kan?”
“Ini bukan masalah petak umpet” Sudahlah, percuma menjelaskannya.
“Aku senang kau datang. Jujur saja, aku sempat berpikir mungkin kita tidak akan bertemu lagi.”
“Eh? Kau berpikir begitu hanya karena menunggu selama dua jam?” kata Arcueid terkejut
“Bukan karena itu. Tapi kemarin malam. Aku mengira kau tidak mau datang lagi.”
Mendengar kata-kataku, air muka Arcueid mendadak berubah menjadi sedih
“Bukankah aku sudah bilang lupakan saja?” katanya dengan suara lemah
“Ah___!”
Dasar bodoh. Aku benar-benar bodoh, dengan seenaknya berpikir kalau dia bersikap seperti biasanya. Dia bersikap seperti ini agar aku tidak merasa bersalah.
“...Maaf, Arcueid”
“Tidak apa. Yang seharusnya disalahkan itu aku. Tolong kejadian kemarin dilupakan saja. Bukankah kalau begitu akan lebih baik bagi kita berdua?”
Arcueid berusaha memaksakan diri mengatakannya dengan ceria. Tapi menyuruhku melupakannya, bagaimana Aku bisa?
“Bukan begitu, Aku tidak meminta maaf untuk kejadian kemarin, tapi karena aku tidak bisa melupakan sesuatu yang harusnya kulupakan”
“.....Shiki?”
“Sejak pagi, aku hanya memikirkan dirimu. Aku hanya memikirkan bagaimana aku harus meminta maaf, dan apa yang harus kukatakan setelah kita bertemu. Jadi, aku belum bisa benar-benar melupakannya”
“______”
Arcueid menghindari tatapan mataku. Dan aku juga tidak bisa menatapnya. Aku tidak berani untuk melihat matanya. Dia tidak menjawab, dan aku tidak bicara apa-apa lagi. Kesunyian panjang diantara kami dimulai
Aku sudah tidak tahu lagi berapa lama kami berdiri disini, kesunyian ini berakhir setelah Arcueid menganggukkan kepalanya.
“Jujur saja, aku sendiri masih belum bisa melupakan kejadian kemarin, Shiki” tersipu, Arcueid berkata dengan malu-malu.
“Arcueid .....”
Wajahnya terlihat manis sekali.
Tapi tiba-tiba, Arcueid berputar melihat sekeliling kami. Entah sejak kapan, kami dikepung oleh beberpa orang.
“Apa___?” Karena begitu mendadak, aku tidak bisa berpikir tenang.
“Kita dikepung. Bersiaplah Shiki, kalau kau tidak melawan, kau bisa mati”
“Melawan mereka?”
“Kau akan paham kalau membuka kacamatamu”
Dengan cepat, Aku mencabut pisauku dan membuka kacamataku. Seperti yang dikatakan oleh Arcueid, ke-5 orang yang mengepung kami adalah Zombie.
“Ada apa ini? Bukannya kau sudah membunuh mereka semua kemarin?”
“Ya, mereka sudah kubunuh kemarin” Mata Arcurid menyipit penuh kebencian.
“Apa kemarin mereka hanya pura-pura mati?”
“Tidak. Aku benar-benar telah membunuh mereka. Kesalahanku adalah, aku tidak memastikan mereka hancur menjadi abu.”
Perlahan mereka mendekati kami. Aku menggenggam erat pisau dengan tanganku yang sedikit gemetar. Tapi aku tidak begitu merasa takut pada mereka. Aku pernah merasakan tekanan yang lebih besar ketika aku menghadapi Nero.
Tapi mereka berlima. Bisakah aku menghadapinya?
“Kalau kau ragu, kau bisa mati Shiki” Aku mendengar suara Arcueid dari belakang. Tampaknya dia melindungiku punggungku.
“Mereka datang!”
Kelima Zombie itu melompat dan menyerang bersamaan dengan kedua tangannya. Aku menghindar kesamping. Kemudian aku merasakan bahaya mendekat dari belakang.
“Khh__!!”
Aku berputar menghindari pukulan Zombie yang membokongku.
Aku melihat banyak sekali garis ditubuh Zombie. Aku bisa menghancurkan mereka dengan mudah. Gerakan mereka tidak secepat binatang-binatang yang keluar dari tubuh Nero.
Salah satu Zombie mengejarku. Menghindari ayunan tangannya, aku menyerang bagian bawah tubuhnya. Tapi gagal. Tanganku tidak bisa menggapai sasaran. Tapi aku sempat memotong salah satu lengannya.
Zombie yang telah kehilangan satu tangan itu tidak berhenti menyerang. Zombie yang lain juga tidak menunjukkan rasa gentar.
Zombie bertangan satu menyerangku. Aku menghindar. Ketika aku menghindari serangannya, Zombie yang lain melompat menyerangku dari belakang.
“AKH__!!”
Leherku tergigit. Dia tidak berusaha menghisap darahku, tapi lebih seperti berusaha membunuh seperti binatang yang menyerang leher mangsanya. Tidak begitu sakit. Tapi terasa menjijikkan.
Zombie bertangan satu mendekatiku. Aku harus membunuh Zombie yang menggigitku, kalau tidak, aku bisa mati.
Kupotong garis diwajahnya ketika dia masih terus menggigitku.
“_____”
Tanganku berhenti. Mereka bukan manusia. Mereka tidak hidup. Tapi aku tidak bisa membunuh mereka yang dulunya manusia.
“Shiki!!!”
Aku mendengar suara Arcueid yang masih bertarung melawan Zombie yang lain. Melupakan Zombie bertangan satu yang mendekatiku, Aku melihat kearah Arcueid.
Aku melihat pemandangan yang sulit dipercaya. Arcueid terluka. Meskipun gerakan Zombie lambat, mereka berhasil mendesak Arcueid. Nafas Arcueid tersenggal-senggal. Langkah kakinya tidak stabil. Dia terlihat kesulitan menghindari serangan yang seharusnya bisa dihindari.
Salah satu Zombie menyerang lengannya. Arcueid membalas. Dia membelah Zombie itu menjadi dua. Namun pada saat itu juga, Zombie yang lain menyerangnya dengan pukulan yang mematikan.
“AH___”
Tidak bisa menghindar, Arcueid terjatuh dengan lutut menyentuh tanah. Dari jauh, aku bisa melihatnya kesulitan bernafas. Zombie yang lain menendang Arcueid yang berlutut hingga jatuh tergeletak.
Kemudian salah satu dari mereka duduk menindih perutnya, dan yang lain memegangi kedua tangannya.
“Hentikan bangsat!!!”
Kupotong wajah Zombie yang menggigitku, dan kupotong perut Zombie bertangan satu yang didepanku. Setelah itu, kuhancurkan Zombie tanpa wajah yang tadi menggigitku.
Aku berlari menuju Arcueid. Zombie yang mengeroyoknya menyadari kehadiranku dan berdiri. Mereka menyerangku.
Tidak ada masalah. Kupotong garis-garis ditubuh mereka yang menyerangku, dan semua berakhir.
“Hah....hah....” Aku berusaha mengatur nafasku.
Kelima Zombie tadi perlahan menjadi abu.
Rasanya sakit juga. Tapi ini lebih baik daripada mereka melukai Arcueid. Untuk pertama kalinya, aku, Tohno Shiki, menggunakan kekuatanku dengan keinginanku sendiri menolong orang lain
“Arcueid....”
Aku melihatnya masih berlutut menahan sakit.
“Kau tidak apa-apa?!” Aku berlari kearahnya.
Tubuhnya melingkar seperti menahan dingin.
“Ada apa? Kau berkeringat. Apa lukamu terbuka lagi?” Aku berlutut berusaha melihat wajahnya.
“Shi___ki” Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Yang bisa kulihat hanyalah mata merahnya yang terlihat haus darah.
Ini aneh. Caranya bernafas tidak normal. Dia bernafas seperti orang kelaparan.
Matanya yang haus darah. Rambutnya yang bergoyang tertiup angin.
“Ar___c....”
Merinding aku dibuatnya. Merasakan adanya bahaya, aku melompat mundur.
Tapi dengan gerakan yang lebih cepat, giginya menempel dileherku siap untuk menghisap darahku. Tangannya memeluk tubuhku dan membuatku tidak bisa kabur.
“Arc____” Nafasku seakan tertahan ketika Aku berusaha memanggil namanya.
Matanya yang haus darah. Gigi taringnya yang setajam pisau. Mendapat tekanan seperti ini, Aku tidak bisa bergerak. Orang yang berusaha menancapkan taringnya ini bukanlah wanita yang kukenal.
Aku tidak bisa apa-apa. Aku bahkan tidak mampu menggerakkan jariku. Aku akan dimakan. Taring menempel di leherku. Pikiranku dikuasai oleh rasa takut.
Tapi sebelum semuanya terjadi,
Buuumm!
Sebuah ledakan membuat tubuh kami terlempar kearah yang berlainan. Seakan tertabrak mobil, tubuh Arcueid terlempar beberapa meter. Tapi Arcueid mampu berdiri seakan tidak terjadi apa-apa.
“A...Aku...” Arcueid berdiri disana mematung.
“Kau mau menghisap darahnya?” Terdengar suara yang dingin dan menyalahkan. “Muncul juga sifat aslimu, Arcueid Brunestud” Suara itu berasal dari atas.
Ketika aku melihat keatas, berdiri diatas lampu jalan seseorang berjubah yang membantuku tempo hari.
“Senpai,___” Kali ini Aku tidak salah. Dilihat dari sisi manapun, dia adalah Ciel-senpai.
Senpai tidak melihat kearahku. Dia terus menatap Arcueid yang terlihat menderita.
“Meskipun kau membunuh sesamamu, tidak mengubah fakta bahwa kau adalah vampire. Aku tidak tahu alasanmu mendekatinya, tapi apa kau tidak berpikir kalau semua mungkin akan berakhir seperti ini?”
Nada bicaranya sama sekali lain dengan nada bicaranya ketika disekolah. Tidak keras maupun lembut. Tanpa emosi. Nada bicara yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia.
Tanpa suara, Senpai turun dari lampu jalan tempat dia berdiri.
“Biasanya aku tidak mau ikut campur, tapi aku tidak bisa melihatmu membunuh manusia biasa. Sebenarnya aku tidak berencana menghadapimu seperti ini, tapi kalau memang harus, akan kita selesakan masalah diantara kita sekarang”
“Jangan bercanda! Aku tidak ada urusan denganmu, dan___” Arcueid memandang senpai dengan penuh kebencian.
“Aku tidak pernah berniat membunuhnya” tambah Arcueid
“Tidak meyakinkan. Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan? Dan apa kau tahu bagaimana dia menjerit ketika melihatmu?”
“____” Arcueid terdiam
“Aku tidak peduli kalau kau membenciku. Tapi kau sedang tidak waras dan berusaha menyerangnya. Apa kita perlu menanyakan perasaannya?”
Berpaling dari Arcueid, Senpai melihat kearahku untuk pertama kalinya.
“____”
Arcueid melakukan hal yang sama dengan wajah sedih.
Keheningan menyelimuti seluruh taman.
Terdengar suara langkah kaki. Senpai mendekatiku perlahan.
“Pergi dari sini vampire! Sejak awal kau tidak berhak berada disisinya.”
“Ap___?”
Salah! Aku tidak tahu siapa senpai sebenarnya dan apa yang terjadi pada Arcueid barusan, tapi aku harus mengatakan ini. Karena, aku sendiri ingin berada disisinya.
“Kau salah! Apa-apan kamu? Tiba-tiba muncul, pakai baju aneh, dan bicara seakan-akan kau tahu semuanya?! Arcueid memang vampire, tapi dia belum pernah menghisap darah sekalipun. Yang tadi barusan mungkin hanya bercanda, dan kau tidak punya hak untuk___”
“Tolong diam sebentar Tohno-kun. Dia belum pernah meminum darah satu kalipun? Ya. Tidak ada catatan korban serangannya selama 800 tahun terakhir ini. Tapi___”
“Diam! Aku tidak mau mendengar cerita aneh yang kau katakan...! dengar, kalau kau macam-macam dengannya, aku tidak akan memaafkanmu. Aku membantunya karena aku memang ingin. Bukan urusanmu untuk ikut campur”
“Tohno-kun, kau__” Sesaat, suaranya terdengar seperti saat senpai disekolah. “__Baiklah. Kalau kau bilang begitu, aku tidak akan melakukan apa-apa, tapi___”
Senpai mengalihkan pendangannya kearah Arcueid. Arcueid menghindari tatapannya.
“Seperti yang dia katakan, Arcueid Brunestud. Apakah setelah ini kau masih ingin berada disisinya?”
Arcueid tidak menjawab. Sesaat dia melirik kearahku, dan setelah itu, dia berlari meninggalkan kami.
“A, Arcueid!!”
Aku berusaha mengejarnya. Tapi kakiku tidak mau bergerak.
“Aku tidak akan biarkan kau mengejarnya. Aku tidak bisa membiarkanmu terbunuh, Tohno-kun”
Tangannya memegang beberapa pedang tipis sepanjang tongkat. Dan salah satu pedang itu menancap dan memaku bayanganku di tanah.
“Selama pedang ini tidak dicabut, kau tidak bisa kemana-mana.”
“Berhenti bercanda! Aku bisa kehilangan dia!”
Kupegang pedang itu, dan berusaha mencabutnya. Tapi sekeras apapun Aku berusaha, pedang itu tidak bergerak sedikitpun.
“Percuma. Hanya aku yang bisa mencabutnya.”
Sambil mengatakan hal itu, dia berjalan, dan berhenti tepat didepanku.
Aku memandangnya dengan kesal. Dia membalas pandanganku dan mengeluh.
“Kenapa sih, kau mau mengejarnya sejauh itu, Tohno-kun?” Nada bicaranya kembali menjadi seperti Senpai yang kukenal.
“Eh? Um... Senpai?”
“Aku tahu. Sebenarnya aku juga tidak membencinya, tapi ini demi kebaikan kalian berdua. Aku tidak akan melepaskanmu, jadi tenanglah dan dengarkan apa yang akan kukatakan”
Entah mengapa meskipun aku belum begitu paham situasinya, aku merasa sedikit lebih tenang.
“Mungkin setelah aku mencereitakan ini padamu kau kan membenciku. Tapi kau harus tahu tentang ini. Sebelumnya, aku mau minta maaf telah mengikat bayanganmu” Senpai membungkukkan badannya meminta maaf.
Pakaiannya memang aneh, tapi Senpai tetaplah Senpai.
“Baiklah, aku tidak akan marah. Senpai telah menolongku sekali, dan lagi aku juga ingin bertanya tentang sesuatu”
“Tanya apa?”
“Mmm Senpai sebenarnya siapa? Berpakaian seperti itu, bisa memukul mundur Arcueid, dan yang paling aneh, kenapa hanya aku yang masih mengingat senpai di sekolah?”
Menghela nafas panjang, Senpai balik bertanya, “Kalau boleh tanya, apa pendapatmu tentang aku, Tohno-kun?”
“Aku pernah dengar dari Arcueid tentang gereja dan sebagainya.”
“Benar. Lebih tepatnya, aku seorang Excorcist utusan gereja. Dan tugasku adalah memburu vampire. Aku masih belum bisa menjelaskan lebih lanjut, tapi kurasa penjelasanku tadi sudah cukup untukmu, Tohno-kun”
“Terus, kenapa kesekolahku? Kalau ingin memburu vampire, bukankah lebih baik senpai mencarinya di seluruh kota seperti Arcueid?”
“Ya ada alasannya sih, tapi karena berhubungan dengan apa yang mau kuceritakan, aku mau tanya dulu sesuatu”
“Apa?”
“Tohno-kun, kau bekerja sama dengan Arcueid Brunestud, apa kau tahu apa yang dia kejar?”
“Ya. Dia bilang dia mengejar vampire yang berusaha memperluas kekuasaannya dikota ini”
“Begitu ya, tampaknya kau juga sudah tahu kalau vampire itu ada dua jenis. Apa kau juga tahu tentang keabadian tidak sempurna?”
“Ya. Ada jenis vampire yang harus menghisap darah untuk mempertahankan tubuhnya. Selama dia meminum darah, dia tidak akan menjadi tua. Aku benarkan?”
“Benar. Karena itu mereka tidak bisa disebut abadi sempurna. Kadang-kadang mereka gagal mempertahankan tubuh mereka hanya dengan menghisap darah. Dan kadang-kadang mereka mati karena kami buru. Mereka masih bisa mati, karena itu keabadian mereka disebut tidak sempurna.”
Aku masih belum mengerti apa yang mau senpai bicarakan.
“Apa ini berhubungan dengan alasan senpai masuk ke sekolahku?”
“Ya tentu saja. Bersabarlah Tohno-kun, sampai aku selesai bercerita.”
“Baiklah, tapi kalau senpai bisa menceritakannya dalam versi yang lebih pendek, aku akan sangat menghargainya”
“Kalau begitu akan kuusahakan sebisaku” Senpai terlihat sedikit kecewa.
“Penjelasan sederhananya, bagaimana ya? Pokoknya keabadian vampire jenis Dead Apostles sangat tidak stabil. Sebenarnya lebih cocok disebut jangka hidup yang lama dari pada abadi”
“Aku mau tanya senpai. Apa ada hubungannya kekuatan mareka yang tidak masuk akal itu?”
“Tidak juga. Sebenarnya kekuatan mereka sama dengan ketika mereka masih manusia. Tapi kekuatan mereka terasah melalui waktu yang ratusan tahun lamanya. Tujuan utama Dead Apostles berbeda-beda. Ada beberapa Dead Apostles yang meneliti tentang keabadian.”
“Huh? Kenapa? Padahal dia sudah abadi kan?”
“Ada beberapa Dead Apostles yang tidak puas dengan keabadian mereka. Mereka mencari cara untuk menyempurnakan keabadiannya.” Senpai terlihat sangat serius.
“Ada hidup, ada mati. Tidak ada yang bisa melawan kuasa waktu. Sesuatu yang lahir, akan diikuti kematian. Walapun tubuhnya tidak bisa tua, selama masih punya bentuk, mereka tidak bisa melarikan diri dari kematian. Cara untuk melarikan diri dari kematian adalah dengan mati itu sendiri. Kontradiksi inilah yang selama ini belum bisa mereka pecahkan.”
“Senpai benar. semua yang hidup memiliki kematian. Jadi bila ada seseorang yang tidak memiliki kematian, mungkin___”
Mungkin mereka memang tidak pernah ada sejak awal. Bahkan Arcueid bisa mati disiang hari. Tidak ada yang tidak bisa mati didunia ini.
“Tapi, bila ada orang yang bisa membentuk hidupnya setelah kematian, maka dia bisa disebut abadi. Memang tidak ada dalam doktrin agama kami, tapi kau pasti tahu kan dengan reinkarnasi? Setelah mati, kau memindahkan jiwamu sebagai manusia baru.”
“Reikarnasi? Maksud Senpai, terlahir kembali sebagai bayi?”
“Ya. Sebelum mati, dia menentukan dulu siapa yang akan menjadi tubuh barunya. Setelah itu, dia akan memindahkan semua informasi tentang dirinya yang lama kedalam tubuh baru itu. Ingatan tentang dirinya yang lama tidak akan bangkit sebelum bayi itu menjadi dewasa. Tapi kadang ada juga yang dapat bangkit sebelum dewasa. Begitu tubuh barunya dirasa mampu untuk menampung semua informasi tentang dirinya dimasa lalu, tubuh barunya akan menjadi vampire”
“Jangan katakan kalau dia melakukan semacam operasi sebelum si ibu melahirkan anak yang akan menjadi induk semangnya”
“Tidak dengan cara medis. Setelah tubuh lamanya mati, dia akan otomatis bereinkarnasi ketubuh barunya. Tadi aku meyebut informasi, tapi mungkin akan lebih tepat kalau disebut memindahkan jiwa.”
“Begitu ya? Tapi hubungannya dengan sekolahku?”
“Tentu saja berhubungan, karena vampire yang bereinkarnasi itu berada disekolahmu Tohno-kun”
“Huh?”
“Aku dan Arcueid mengejar vampire yang sama. Meskipun dia hanya menyebutnya sebagai musuh”
Aku mengangguk. Dia memang memanggilnya musuh, tapi dia sendiri tidak pernah menceritakan sesuatu tentang musuhnya itu
“Dulu tugas Arcueid adalah membunuh vampire. Tapi sejak ‘dia’ muncul, Arcueid hanya memburunya. Dia telah berreinkarnasi sebanyak 17 kali. Dan sebanyak itu pula Arcueid menghancurkannya.”
“Tapi Senpai, jika dia mati, dia akan kembali terlahirkan? Bukankah itu sia-sia?”
“Benar, setelah dibunuh, dia akan terlahir kembali. Dibunuh lagi, lahir lagi. Dan akan terus begitu. Seandainya Arcueid mempunyai kekuatan untuk menghancurkan jiwanya, bukan badannya saja, mungkin perputaran ini tidak akan terjadi.”
Senpai telihat sedih. Dia menggeretakkan giginya ketika berbicara. Aku tidak tahu kenapa, tapi tampaknya Senpai juga memiliki dendam terhadap musuh yang diburu oleh Arcueid.
“Senpai, vampire jenis apa musuh ini?”
“Awalnya dia adalah pria. Tapi bisa berubah menjadi wanita tergantung tubuh baru yang dirasukinya. Dia sulit dicari karena dia terlahir kembali sebagai bayi dan memiliki orang tua. Dia akan berubah menjadi vampire setelah memasuki usia tertentu. Sampai saat itu tiba, tidak ada tanda-tanda kalau dia sebenarnya adalah vampire. Tapi begitu bangkit, dia akan menggunakan semua hal yang telah dibangunnya sampai saat itu, untuk membaur dengan masyarakat. Kudengar gereja baru bisa mendeteksi keberadaannya setelah seluruh kota dikuasainya”
“Tunggu dulu. Jadi si induk semang ini tidak tahu tahu dirinya adalah vampire sampai kekuatannya bangkit?”
“Ya. Setelah mati, dia akan bereinkarnasi ke tubuh yang baru. Setelah kesadaran tubuh barunya cukup baik, dia akan menyerap informasi tentang dirinya yang terdahulu dan berubah menjadi vampire.”
Hanya dengan mendengar ceritanya saja Aku sudah bergidik ketakutan.
“I, ini aneh sekali. Bukankah yang namanya vampire itu tidak mungkin mendadak menjadi vampire? Jadi biarpun jiwanya bangkit, tapi tubuhnya tetap manusiakan?”
“Tidak. Yang namanya reinkarnasi, itu tidak hanya memindahkan kepribadian, tapi memindahkan jiwa. Sekali seseorang meminum darah True Ancestor, bukan hanya tubuhnya, jiwanya juga akan terkontaminasi. Begitu dia memindahkan jiwanya ketubuh yang baru, ketika bangkit, tubuhnya menjadi vampire, tapi___”
“Tapi apa?”
“Seperti yang kukatakan tadi, dia harus memilih induk semang ketika masih hidup. Keluarga yang akan melahirkannya harus memenuhi 2 persyaratan. Pertama, harus dari keluarga yang kaya. Memiliki keluarga dengan tingkat kedudukan sosial yang tinggi dan banyak uang, akan memudahkan mengubah seluruh kota menjadi daerah kekuasaannya. Dan syarat yang kedua adalah, kau tahu kalau beberapa diantara manusia biasa ada yang memiliki kekuatan lebih. Bukan kekuatan sihir yang bisa dipelajari, tapi kekuatan khusus yang didapat sejak lahir. Orang-orang yang biasanya disebut cenayang. Kekuatan cenayang diturunkan secara genetis, jadi pemilik kekuatan cenayang mendapatkan kekuatannya melalui hubungan keluarga. Dan dia akan memilih keluarga yang memiliki garis keturunan seperti itu”.
SEnpai terdiam sesaat, kemudian melanjutkan, “Sebuah keluarga yang terpandang, dan memiliki kekuatan cenayang, adalah dua syarat yang dibutuhkan untuk memlih induk semangnya, Tohno-kun”
Ada yang aneh dengan cerita tadi. Kenapa Senpai menceritakan cerita ini kepadaku?
“Namanya?” Aku bertanya
“Ya? Kau mengatakan sesuatu, Tohno-kun?”
“Kau terus memanggilnya dia dan musuh, bagaimana aku bisa mengerti? Aku mau tahu namanya!!” Aku meneriaki senpai tanpa sadar. Tapi senpai tidak marah. Dia malah memandangku dengan tatapan penuh simpati.
“Diantara Dead Apostles, dia dikenal sebagai Serpent of Akasha yang melambangkan keabadian. Dan di dalam gereja, dia disebut Reinkarnator tanpa batas. Nama manusianya adalah Michael Roa Valdamjong, dan biasa dipanggil ‘Roa’ saja”
“Ro, a____”
Aku tidak pernah dengar. Tentu saja, ketemu saja belum pernah.
“Dan senpai menyusup kesekolahku karena tahu kalau Roa ada disana?”
“Ya. Hanya intuisi sih, tapi aku yakin. Aku lebih baik dalam mencari Roa daripada Arcueid. Karena itu aku lebih cepat sampai kemari daripada Arcueid, dan aku sudah menemukan induk semangnya yang baru”
Sekali lagi Senpai melihatku dengan tatapan simpati seperti sebelumnya.
“Aku sudah menjelaskan tentang persyaratan keluarga yang dipilih Roa bukan? Jadi aku tinggal menyelidiki keluarga dikota ini yang memenuhi peryaratan tersebut. Hanya ada satu keluarga yang memenuhi kedua persyaratan tersebut di kota ini. Aku tidak perlu mengatakan lebih lanjut kan, Tohno Shiki-kun?”
Karena inilah, Aku merasa cerita barusan sangat aneh.
“Ha”
“Ha”
“Hahahaha, ha”
Aku tertawa kering.
“Senpai bicara apa? Ini tidak mungkin kan?”
Senpai terdiam. Meskipun diam, dia seakan mengatakan kalau aku adalah titisan Roa saat ini.
“Tidak perlu diragukan kalau keluarga Tohno memiliki garis keturunan cenayang. Sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Roa. Kekuatan yang kau gunakan untuk mengalahkan Zombie barusan sangat luar biasa. Jadi, kurasa aku tidak salah, Tohno Shiki-kun”
Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang dia bicarakan.
“Kenapa senpai begitu yakin?”
“Karena aku yang memutuskannya”
Sekali lagi dia mengatakan hal tidak Aku mengerti.
“Apa....?”
“Tapi ada sedikit masalah. Kau yang dibunuh, tapi kau yang berhasil bertahan hidup. Yang terbunuh masih hidup, dan yang membunuh malah mati. Kurasa semua kekacauan dimulai dari sana.” Sambil mengatakannya, Senpai mencabut pedang yang memaku bayanganku. “Hanya itu yang ingin kukatakan. Selanjutnya terserah padamu Tohno-kun”
“Terserah aku? Tapi menurut ceritamu aku....”
“Sejujurnya, aku sendiri tidak yakin. Kau benar-benar orang biasa. Seperti murid-murid SMA lainnya. Mungkin intuisiku salah. Karena, kau adalah seseorang yang tidak seharusnya berada didunia yang sama denganku.”
Dengan tersenyum sedih, Senpai melompat membuat jarak yang cukup jauh dariku. Seakan mengatakan bahwa dirinya adalah seseorang yang lain dari yang aku kenal. Seseorang yang tidak terjangkau, seseorang yang jauh, tak tersentuh.
Aku teringat Arcueid. Kalau tidak kukejar sekarang, aku akan kehilangan dia.
“Kau ingin mengejarnya, Tohno-kun?” Suara Senpai kembali seperti ketika dia mengusir Arcueid. Suara yang dingin tanpa emosi.
“Ya. Senpai adalah orang dari gereja yang artinya senpai menganggap Arcueid sebagai musuh. Tapi banyak yang telah terjadi, dan aku memutuskan untuk membantunya. Aku harus mencarinya sekarang. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya kalau aku meninggalkannya sendirian.”
Tertawa seakan mengatakan sebuah lelucon, aku mengatakan ‘sampai ketemu’ dan berbalik mencari Arcueid
“Tunggu! Kalau kau mengejarnya, kau akan terbunuh. Kau tidak boleh menemui Arcueid lagi!”
“Terbunuh? Yah, mungkin Senpai tidak akan percaya, tapi dia benar-benar tidak menghisap darah. Menurutku dia itu orang yang baik”
“Aku tahu kalau dia tidak menghisap darah, tapi sekali True Ancestor jatuh kedalam naluri alaminya sebagai vampire, dia hanya akan terus terbawa arus!” Langkahku terhenti mendengar peringatan Ciel-senpai.
“Maksud Senpai?” Aku berbalik dan bertanya.
“Dead Apostles memerlukan darah untuk mempertahankan tubuhnya. Tapi karena mereka awalnya adalah manusia, kita masih bisa menganggapnya sebagai manusia. Sedangkan orang yang terlahir sebagai vampire, apa kita bisa menganggapnya sebagai manusia?”
“Ap, apa yang senpai katakan? Aku bertanya tentang Arcueid”
“Ini semua tentang dia. Takkan kuijinkan kau berkata kau tidak akan menggubrisnya. Arcueid adalah anggota keluarga bangsawan Vampire Brunestud”
“Terus? Apa hubungannya denganku?”
“Tentu saja ada. Mereka memiliki dorongan untuk meminum darah lebih besar daripada Dead Apostles.”
Mata Ciel-senpai tidak menunjukkan emosi sama sekali. Seperti cermin, wajahku yang yang gelisah terpantul dimatanya.
“Memang True Ancestor dapat hidup tanpa meminum darah manusia, tapi ada kalanya mereka benar-benar ingin memnum darah. Bagi manusia yang telah tersentuh oleh True Ancestor, mereka hanya kan menjadi boneka saja. Masalahnya adalah tidak ada alasan khusus yang membangkitkan naluri alaminya sebagai vampire. Tidak ada alasan pula bagi mereka untuk berhenti. Sebenarnya mereka bisa menahan dorongan untuk meminum darah dengan kekuatan mereka, tapi kalau karena suatu alasan mereka kehilangan kekuatan untuk menekan dorongan tersebut, coba pikir apa yang akan terjadi”
Alasan yang menyebabkan mereka kehilangan kekuatan? Mungkin seperti terluka yang membutuhkan tenaga besar untuk menyembuhkannnya, atau menggunakan kekuatannya untuk meregenerasi tubuhnya stelah terbunuh?
Katakanlah dia memiliki 10 unit tenaga. Dia menggunakan 7 unit untuk menekan keinginan meminum darah. Kalau tiba-tiba dia kehilangan 5 unit tenaganya, itu berarti meskipun menggunakan seluruh tenaga yang tersisa, dia hanya bisa menggunakan 5 unit tenaga tersisa untuk menekan balik.
“Dan apa yang akan terjadi kalau True Ancestor gagal menekan keinginannya untuk meminum darah?”
“Tentu saja mereka akan meminum darah. Tapi sekali mereka meminum darah, kudengar akan menjadi lebih sulit untuk menekan keinginan itu. Akhirnya, mereka akan terus minum dan minum hingga menjadi Demon Lord. Sebenarnya True Ancestor adalah ras yang superior. Tapi mereka tidak bisa menggunakan seluruh kekuatannya karena harus mengikat naluri alaminya.”
Aku teringat keadaan Arcueid tadi. Matanya yang haus darah, nafasnya yang memburu, dan taringnya yang menyentuh leherku.
“Ini bohongkan?” Ya pasti bohong. Dia pernah mengatakan kalau dia takut darah.
“Ah” Tentu saja dia takut. Karena sekali dia mencicipi rasa darah, dia tidak akan bisa berhenti.
“Salah satu cara untuk menekan naluri alaminya adalah dengan membuat Dead Apostles. Mereka dibuat dari manusia untuk meringankan rasa sakit True Ancestor.” Ciel-senpai menambahkan.
“Tapi Arcueid tidak punya Dead Apostles satupun kan? Dia tidak memerlukannya karena dia istimewa. Dia bisa menekan naluri alaminya dengan keinginannya sendiri. Begitu lukanya sembuh dan tubuhnya pulih, dia akan dapat menekan naluri alaminya”
“Secara teknis memang begitu. Tapi satu yang perlu diingat Tohno-kun, naluri alami tidak akan pernah bisa hilang. Semakin lama ditekan, dorongan itu akan semakin menumpuk. Dan ketika sudah sampai pada batasnya, dia akan ......”
“Tapi Arcueid akan baik-baik saja. Saat ini dia memang lemah gara-gara aku, tapi beberapa hari kemudian dia akan___”
“Mungkin bisa. Tapi dia sudah pada batasnya saat ini. Sebentar lagi dia akan dikuasai oleh naluri alaminya. Dia, Arcueid, sudah tidak bisa diselamatkan”
Untuk pertama kalinya, bukan karena anemia tetapi karena ucapan seseorang, aku merasa pusing, dan pandanganku kabur.
Kenapa? Meskipun Arcueid tahu bahwa dia sudah sampai pada batasnya, kenapa dia terus memburu vampire disini? Aneh. Dipikir berapa kalipun ini tetap aneh.
“Kalau begitu senpai, kalau Arcueid tahu bahwa dia sudah sampai pada batasnya, kenapa dia masih memburu vampir untuk manusia?”
“Dia memburu vampire bukan untuk manusia. Tapi untuk tujuannya sendiri.”
“Tujuan apa?”
“Mungkin tujuan yang tetapkan oleh True Ancestor lain. Arcueid lahir pada abad ke-12, dimana saat itu banyak sekali True Ancestor yang bertumbangan. Para True Ancestor saat itu tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa jumlah mereka semakin sedikit, dan jumlah Dead Apostles semakin banyak. Karena itu mereka membuat sesuatu yang bertujuan hanya untuk membunuh. Kemudian mereka menciptakan seorang True Ancestor yang paling murni. True Ancestor yang dipanggil Arcueid Brunestud. Dia seperti sebuah roket nuklir. Sekali dia terbangun, maka sasaran pasti akan dihancurkan.”
Sekali lagi kepalaku serasa berputar. Arcueid itu mahluk hidup. Cara Senpai yang berbicara seakan Arcueid itu sebuah senjata, membuatku marah.
“Mungkin dulu dia memang seperti senjata, tapi sekarang lain. Ini pertama kalinya aku melihat dia berbicara seperti tadi” tambah Ciel-senpai
Huh? Tidak pernah bicara?
“Dulu dia hanya melakukan tugasnya dan tidak melakukan hal yang lainnya. Sejak dia dilahirkan, dia selalu begitu.”
Jantungku berdetak kencang setelah mendengar penjelasan Senpai.
Apa ini? Aku tiba-tiba saja melihat sebuah pemandangan yang asing, sebuah kenangan yang tidak pernah kujalani. Sesuatu memasuki kepalaku. Memasuki otaku tanpa bisa kucegah.
Aku melihat halaman instana yang sangat luas. Padang rumput yang laus menghiasi istana yang terpencil itu. Seorang gadis berkulit putih bersih menerawang kelangit.
“Dia tidak memiliki tujuan dan kebebasan lain selain menjalankan tugasnya. Dia hanya akan terbangun setelah target ditentukan. Dia hanya diajari bagaimana cara menghancurkan musuh”
Tidak ada seorangpun disana. Tidak ada seorangpun yang bisa diajak bicara. Tidak ada wajah-wajah lain yang bisa dikenali. Dia hanya sendiri
“Setelah tugasnya selesai, dia akan kembali tertidur. Dia tidak tahu hal yang lain kecuali membunuh vampire”
Hampa. Kesenangan ketika berbincang dengan orang lain, saat-saat berharga ketika bertemu dan menyapa teman, dia tidak pernah mengalami semua itu.
“Kekuatannya cukup kuat untuk mengalahkan True Ancestor. Tapi ironisnya, karena terlalu kuat, dia dihindari oleh True Ancestor yang lain. Meskipun mereka memberinya gelar ‘putri’, tapi tidak ada satupun yang berani mendekatinya. Meskipun mereka membuatkan istana untuknya, tapi dunianya hanyalah ruang bawah tanah yang gelap. Tidak ada satupun yang mengajarinya tentang perasaan.”
Cukup sudah. Ini namanya parodi hidup.
“Dia tidak pernah berbicara. Dan dia tidak pernah punya waktu untuk dirinya sendiri. True Ancestor yang lain hanya menganggapnya sebagai senjata hidup. Sebuah senjata yang tidak perlu diajari bagaimana membuat roti atu mencuci baju.”
-Aku diajari untuk tidak melakukan hal yang sia-sia-
Ya. Dulu dia pernah berkata seperti itu. Selama ini dia selalu memutuskan semuanya sendiri, dengan matanya yang hampa itu. Karena itu, dia tidak pernah membutuhkan orang lain. Atau dia memang tidak pernah tahu tentang hal yang lain.
“Yang diinginkan oleh para True Ancestor adalah agar dia menjadi mesin pembunuh yang superior. Karena itu di tidak perlu tahu apapun,. Apapun tentang kebahagiaan hidup.”
Dia selalu ceria. Bahkan hal-hal kecil membuatnya sangat gembira. Jadi kupikir dia memang selalu begitu sejak dulu. Tapi aku salah. Dia menikmati hal-hal kecil. Dia pasti sangat menikmati hal-hal kecil. Karena dia merasa hal hal seperti itu sangatlah menyenangkan. Aku tidak pernah memikirkannya. Seperti ketika dia tidak tahu tentang perasaannya ketika kami berada di kelasku yang dihiasi cahaya matahari terbenam, ketika dia bertanya berbagai macam hal dengan suaranya yang sedih.
“Meskipun Arcueid telah hidup lama, dia tidak pernah tahu bagaimana menjalani hidup. Jika kau menghitung berapa lama dia diberi kebebasan, maka hasilnya adalah luar biasa pendek. Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam keadaan tidur. Tidur yang pulas dalam ruang yang gelap”
-Benarkah? Hanya dengan mengobrol, aku sudah merasa senang kok,-
“Karena sebuah kecelakaan kecil, dia menghabisi semua True Ancestor di istana Brunestud. Sejak saat itu, dia tidak pernah meninggalkan istananya.”
Mungkin karena dia ditugaskan untuk membunuh vampire, maka dia benar-benar melaksanakan tugasnya sampai akhir. Dan akhirnya, dia sekarang hanya sendirian.
“Setelah dia membunuh semua True Ancestor, dia mengurung dirinya sendiri di ruang bawah tanah, yang disegel dengan ribuan rantai. Begitu Roa bangkit, dia akan terbangun dan menghabisinya dalam waktu singkat.”
Didalam dunianya yang sempit itu, dia tidak pernah berbicara.
“Dia adalah seorang pembunuh alami. Meskipun True Ancestor yang mengikatnya sudah tidak ada, dia tetap melaksanakan tugasnya sebagai pembunuh vampire. Mungkin hanya itulah satu-satunya kesenangan yang dia tahu”
Ini bohong. Apanya yang bisa membuatnya senang?!
Pemandangan yang masuk kedalam kepalaku tadi tiba-tiba menghilang.
“Ini____”
Kata-katanya, dan wajah bahagianya. Seandainya aku lebih memperhatikannya, aku pasti sudah tahu. Aku tidak pernah sadar betapa kesepian dia. Semua yang kurasakan, seperti mengobrol dengan teman, melakukan hal yang sia-sia tapi menyenangkan sehingga melupakan waktu, dan akhirnya tidur dengan nyenyak, baginya, hal-hal seperti itu tidak pernah ada.
Menyedihkan. Apakah dia sadar betapa menyedihkan hidup yang dijalaninya selama ini?
“Ini bohong........”
Aku tidak perah sadar bagaimana dia sangat menikmati melakukan hal-hal kecil. Seandainya saja aku memberi tahu bahwa hal-hal seperti itu bisa dia nikmati selalu, mungkin dia akan___
“Tohno-kun?”
Suara Senpai membuatku tersadar kembali.
“Ada apa? Kau tiba-tiba saja seperti melamun. Apa kau mendengarkan aku?”
“Maaf, aku mendengar senpai, tapi seakan ada orang lain yang berbicara”
Senpai mengangguk dengan ragu.
“Jadi sebenarnya dia,___”
“Tidak apa senpai” Aku memotong kalimat senpai.
“Aku tidak peduli dia apa yang telah dia lakukan dan bagaimana dia dulu. Sekarang, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Aku harus pergi mengejarnya”
Berbalik, Aku mulai berlari menuju pusat kota.
“Tohno-kun, kalau True Ancestor dikuasai oleh naluri alaminya, tidak ada harapan baginya untuk pulih. Kalau itu terjadi, darahmu akan dihisapnya” kata senpai memperingatkan
Aku tahu yang dikatakan senpai adalah kebenaran, tapi kebenaran-nya berbeda dengan kebenaranku.
“Dia belum meminum darah manusia kan?”
“Saat ini belum, tapi kalau aku tidak mencegahnya, dia sudah meminum darahmu”
“Senpai salah. Sesaat, Arcueid tadi berhenti. Jadi meskipun tadi senpai tidak menghentikannya, hasilnya akan sama saja” kataku sambil berlari.
“Jadi kau tetap akan membelanya, Tohno-kun?”
“Ya. Maaf senpai”
Senpai terdiam. Tapi aku merasa mendengarnya menghela nafas.
“Mungkin kita akan saling berhadapan Tohno-kun”
“Mungkin. Tapi aku tidak akan meminta maaf kalau saat itu tiba”
Tanpa berbalik lagi, Aku langsung menuju pusat kota. Tidak ada seorangpun dijalan utama.
*****
“Sial!”
Sama saja dengan malam kemarin. Aku tidak punya petunjuk sama sekali tentang keberadaannya meskipun sekarang aku sangat ingin bertemu dengannya.
__Dia. Meskipun dia selalu kesakitan, aku tidak pernah bisa membantunya.
Aku terus berlari mencarinya keseluruh pelosok kota hingga aku merasa lelah. Aku masih belum bisa menemukannya. Tubuhku terasa panas, dan aku tidak bisa bernafas dengan benar. luka didadaku terasa sangat sakit.
Nafasku memburu. Aku tidak bisa menemukannya. Aku tidak akan menemukannya kalau terus berlari tanpa tujuan seperti ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ketaman dan mencarinya disana. Kami berjanji untuk bertemu disana. Malam ini, kami masih belum menepati janji untuk bertemu, dan berkeliling kota bersama. Jadi kalau aku tidak mau melanggar janji, dan Arcueid menganggap janji itu sangat penting, maka seharusnya dia kembali ketaman. Aku hanya bisa percaya dan menunggunya disana.
Waktu terus bergulir. Detik jam terus bergerak merekam waktu demi waktu.
Aku merasa kesal. Tubuhku seperti tidak mau diam. Aku ingin kembali berlari mencarinya keseuruh penjuru kota. Tapi aku harus tenang. Aku harus terus menunggunya disini.
Suasana taman saat ini benar-benar sepi. Tidak ada suara. Malam seakan membekukan semuanya. Dua jam lagi, matahari terbit. Setelah itu, mungkin aku dan Arcueid tidak akan pernah bertemu lagi.
Tiba-tiba aku melihat sesorang berbaju putih. Seperti kelinci yang berjalan diatas salju, dia mendekatiku.
Arcueid.
Tapi dia hanya terdiam.wajahnya menunduk sedih. Dia menghentikan langkahnya. Jarak antara kami berdua tidak begitu jauh, tapi juga tidak dekat.
“__Arcueid”
Aku memanggil namanya. Dia tidak menjawab ataupun melihat kearahku.
Aku tidak tahu harus bicara apa. Aku tidak tahu bagaimana membuatnya tersenyum lagi. Aku merasa setiap kata yang akan kuucapkan, hanya akan menambah kesedihannya.
...........
........... ...........
........... ........... ...........
Waktu seakan berhenti. Arcueid mengadahkan wajahnya seakan sedang melihat mimpi.
“Sudah kuduga kau tidak akan pulang Shiki. Jadi aku kembali kemari karena aku tidak bisa membiarkanmu sendiri. Padahal aku sempat berpikir untuk pulang kembali ke apartemenku.” Katanya dengan sikap ceria yang biasanya.
“Tentu saja aku tidak akan pulang. Aku pernah bilang kalau aku tidak akan melanggar janjiku lagi”
“___Sudah cukup. Kau tidak perlu melakukannya lagi.”
“Cukup? Apanya yang cukup, Arcueid?!”
“Apa aku harus mengatakanya lebih jelas, Shiki? Aku vampire sedangkan kau manusia biasa. Sejak awal aku tidak punya hak menerima bantuanmu. Dulu aku tidak mengerti, tapi kalau kita terus begini, Aku bisa menghancurkan hidupmu. Karena itu____”
Perlahan suaranya menghilang hingga tak terdengar.
Apa yang kau katakan? Aku sudah siap menanggung semuanya ketika aku setuju untuk membantumu. Aku sangat mengerti. Mungkin aku bahkan lebih mengerti dari kamu bahwa kau adalah vampire. Dan Aku tetap membantumu meskipun aku tahu itu.
“Arcueid, kau tidak perlu mencemaskan kejadian tadi. Saat ini kau lelah dan lemah. Aku begitu bodohnya hingga tidak menyadari bahwa selama ini kau sudah memaksakan diri. Kau menderita bukan karena lukamu bukan? Tapi karena naluri alamimu. Senpai sudah bercerita banyak tentang itu”
“Perempuan itu, sejak kapan agen dari Burial Agency menjadi cerewat?” kata Arcueid sinis.
“Aku sudah mendengarnya dari Senpai, jadi aku akan jujur padamu Arcueid. Aku tidak peduli sama sekali. Saat ini kau menderita, tapi semuanya akan baik-baik saja dalam beberapa hari ini. Jadi kau tidak perlu cemas. Dan tadi kau sudah berusaha menahan diri kan? Jadi tidak apa. Kita lanjutkan saja seperti selama ini”
Arcueid tersenyum lemah. “Kau tidak mengerti Shiki. Sekarangpun, Aku masih ingin menghisap darahmu.”
“Tapi itu karena kau memikirkannya. Kau bisa melawan dorongan itu. Bukankah selama ini kau telah berhasil?”
“Kau benar, sampai saat ini aku masih bisa melakukannya, tapi kurasa tidak akan lama.” Kata Arcueid “Kau tahu, sebenarnya tujuanku hanyalah memburu vampire, tapi hari ini, aku banyak melakukan hal yang sia-sia. seandainya aku tidak tahu apapun, aku tidak akan menginginkan apapun. Seandainya saja aku memburu musuhku sendiri tanpa mengandalkan bantuanmu, mungkin hasilnya akan lebih baik.”
Kau bilang lebih baik kalau sendiri? Apa kau serius? Dengan wajahmu yang tertunduk seperti itu? Dengan suaramu yang sedih itu? Dengan penampilanmu yang siap jatuh kapan saja seperti itu?
“__Kau membuatku marah, bodoh! Jangan bicara seperti itu!” bentakku
“Apa....?” Arcueid terkejut karena nada bicaraku yang tiba-tiba meninggi.
“Jangan bercanda! Apa maksudmu akan lebih baik kalau sendiri? Kau meminta bantuanku karena kau menyadari ada hal-hal yang tidak bisa kau lakukan sendiri kan? Jadi tidak apa kalau kau mau bergantung padaku sampai semua ini selesai! Aku akan membantumu apapun yang terjadi, jadi____”
Arcueid, tolong jangan melihatku dengan mata sedih seperti itu. Kalau kau begitu, aku___
Jika akhirnya kau menyadari bahwa hidup itu menyenangkan, tolong jangan menyerah dan melepaskan kebahagiaan itu.
“Shiki, kau menangis?”
“Siapa yang menangis! Buat apa aku menangis untukmu!” Aku mengatakannya dengan suara sesenggukan. Aku bisa merasakan air mata yang membasahi pipiku.
Ini gara-gara kau yang terus mengatakan hal-hal bodoh. Kata-katamu membuatku marah. Perasanku campur adauk didadaku.
“Pokoknya, kita kalahkan si Roa ini dulu. Setelah itu, aku bisa istirahat, dan semua selesai!” kataku sambil mengusap air mata.
Tersenyum, dengan matanya yang damai, Acueid memberiku sebuah anggukan.
“Tapi mungkin semuanya sudah terlambat, Shiki. Saat itu aku berhenti karena aku merasakan ketakutamu. Banyak orang yang takut dan menganggapku monster sampai saat ini, jadi aku sudah terbiasa dibenci atau ditakuti.” Kata Arcueid. “Tapi anehnya, aku tidak mau kau menganggapku sebagai monster. Tapi kenyataanya adalah, aku memang monster.” Tambahnya sambil memainkan lidah.
Dia kemudian memaksakan untuk tertawa. Tapi suara tawanya terdengar kering.
“Waktu itu, aku hanya terkejut”
Aku berbohong. Aku tidak punya pilihan lain selain berbohong.
Dengan sedih, Arcueid membuang muka.
Dulu Sensei pernah mengatakan bahwa sebuah kebohongan hanya akan menyakiti jika kebohongan itu tidak bisa menipu dirimu sendiri.
“Sesaat tadi aku berhenti. Aku takut. Aku takut dengan caramu melihatku. Aku takut kau akan melihatku seperti itu untuk selamanya. Karena itu, aku tidak mau melhatmu lagi.” Kata Arcueid.
“Apa__?”
“Kita berpisah disini, Shiki.” Katanya sambil berbalik. Dia menghindari pandanganku.
“Mungkin hubungan kita sudah terlalu dekat. Kita tidak bisa meneruskan ini lagi” tambahnya.
Mungkin dia benar. bagi kami, seandainya kami tidak saling mengenal, mungkin akhirnya tidak akan seperti ini. Aku akan tetap menjalani kehidupan normalku, dan dia akan tetap sendiri.
“Kau benar. kita terlalu dekat. Tapi menurutku tidak ada masalah. Karena tidakkah kau pikir bahwa kau merasa kesepian bila hanya sendirian saja?”
“_____”
Arcueid tidak menjawab. Meskipun Aku hanya bisa melihat punggungnya, Aku tahu kalau dia gelisah. Aku ingin memeluknya dan terus mendukungnya.
“Dan sejujurnya, aku sangat menikmati saat-saat kita bersama. Aku memang hampir mati, tapi kurasa tidak akan lebih buruk dari itu. Jadi ijinkan aku membantumu hingga selesai. Aku tidak akan bisa tidur tenang kalau membiarkanmu terus sendiri.”
“Tidak perlu mencemasakanku. Aku akan membunuh Roa bagaimanapun caranya. Aku akan menghancurkannya meski nayawaku taruhannya. Kau sudah cukup banyak membantuku, Shiki. Sebentar lagi, kota ini akan kembali normal. Jadi, jangan cemas.”
Aku tidak mendengar keceriaan seperti biasanya dari suaranya. Sudah cukup. Aku sudah tidak tahan lagi.
“Bodoh! Bukan itu yang Aku cemaskan” Aku berjalan mendekatinya.
“Ah__”
Arcueid berusaha menghindar. Tapi kupegangi tangannya, dan kupaksa dia berbalik melihatku.
“Karena kau tidak akan pernah mengerti kalau tidak kukatakan langsung, maka aku akan mengatakannya. Dengar! Aku membantumu bukan karena ingin menghentikan vampire dikota ini. Aku bukan orang idealis yang ingin melindungi kota.”
Benar. selama ini, aku berusaha membohongi diriku sendiri. Alasanku sebenarnya tidak semulia itu.
“Aku hanya menyukaimu, jadi aku setuju untuk membantumu. Sekarang, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.”
Aku mengatakan perasaanku sejujur-jujurnya. Kemudian kupeluk Arcueid seerat mungkin.
“Ah___”
Deg deg!
Arcueid terkejut. Tapi dia tidak melawan. Dia tetap berdiri menerima pelukanku.
Deg deg!
“Tidak ada salahnya kalau kau ingin meminum darahku.”
Deg deg!
“Shiki__sakit. Lenganku___”
Deg deg!
“Aku selalu menginginkanmu, Arcueid. Hanya dengan mendengar detak jantungmu, Aku___”
Deg deg!
“Tidak, Shiki. Ini hanya___”
Deg deg!
Aku ingin memeluknya. Terus memeluknya sampai mati.
“Saat ini, kalau aku mengatakan aku menyukaimu, Aku berkata jujur. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Atau jangan-jangan kau membenciku?”
Deg deg!
Detak jantung Arcueid semakin cepat.
“.....Bukan begitu, aku___”
Perlahan tangan Arcueid balas memelukku. Sangat lembut pada mulanya. Tapi kemudian semakin erat, seperti menjawab pertanyaanku dengan pelukannya. Tubuh kami semakin melekat erat.
Namun pelukan itu hanya sekejap saja. Aku tidak tahu siapa yang melepaskan pelukannya petama kali, tapi seperti telah direncanakan, kami berdua melepaskan pelukan kami.
Tersipu, Arcueid melihat kebawah.
Sekitar satu jam lagi, matahari terbit. Ketika malam telah berganti pagi, saat itu pula waktu bebas bagi Arcueid harus berhenti. Tapi aku tidak bisa berpisah darinya lagi.
“___Apartemenku.” Kata Arcueid berbisik.
“Eh?”
“Mmm, kita bisa pergi keapartemenku. Kalau kau bilang ingin melindungiku aku tidak ingin kau pergi.”
Suaranya tertahan. Tapi aku tahu apa maksudnya. Mengangguk, aku mengikuti Arcueid menuju apartemennya.
Aku masuk kedalam kamarnya sebelum Arcueid. Arcueid tepat berada dibelakangku. Kalau aku berbalik melihatnya sekarang, perasaan ini tidak akan terkendali. Tapi saat ini aku masih bisa berpikir jernih.
Aku sendiri tidak mengerti. Mungkin kotradiksi kegilaan dan kewarasan ini muncul karena Aku mencintai seseorang.
“Arcueid__”
Aku mencoba berbalik, tapi tiba-tiba aku merasakan tangannya yang bersandar dipunggungku.
“Jangan berbalik.... tetaplah seperti ini…. sebantar saja.” Suaranya terdengar sangat tenang. Tangannya tidak bergerak, seakan ingin memastikan sesuatu.
“Hey Shiki, kau ingat ketika pertama kali aku menunggumu?”
“Ya. Orang yang kubunuh menungguku sambil tersenyum. Bagaimana aku bisa lupa?”
“Ya. Dulu, aku sangat membencimu.” Suaranya terdengar sangat lembut.
“Arcueid__?”
“Aku tahu kalau aku tidak bisa menahan naluri alamiku lebih lama lagi. Karena itu aku mengejar Roa untuk terakhir kalinya. Tapi, tiba-tiba ada seseorang yang tak kukenal membunuhku dan mengacaukan semuanya. Karena itu, aku dulu sangat membencimu. Aku akhirnya menemukan siapa yang membunuhku. Aku duduk menunggumu di pembatas jalan lama sekali. Aku ingin kau segera muncul. Cepat muncul dan datang kemari. Setelah melihatmu, aku ingin membuatmu menderita seperti apa yang kurasakan. Aku membencimu. aku saat itu sangat membencimu sehingga seakan perasaan itu melompat keluar dari dadaku ketika aku menunggumu.”
Tangannya menekan punggungku lebih keras.
“Ar....Cueid....?”
“Tidak ada yang pernah membunuhku sampai seperti itu. Aku sedikit penasaran seperti apa dirimu. Aku belum pernah memikirkan seseorang sampai sedalam itu. Awalnya, yang ada hanyalah kebencian. Tapi semua berubah ketika aku mulai bertanya-tanya orang macam apa kamu ini. Kemudian aku ingin bertemu denganmu agar aku lebih mengerti tentang dirimu. Orang yang membunuhku, orang yang membuatku setengah gila, orang yang membuatku sangat penasaran.”
Aku merasakan desahan nafasnya menerpa punggungku.
“Shiki, kau bilang kesendirian menimbulkan kesepian, tapi itu salah. Ketika aku menunggumu, orang yang benar-benar membuatku penasaran, aku merasa bahagia. Aku ingin segera bertemu denganmu. Aku terus membayangkan kau itu seperti apa”
Arcueid melepaskan tangannya dari punggungku.
“Kalau kupikir-pikir lagi, saat itu aku mulai berpikir bahwa aku memerlukan orang lain. Aku merasa lelah terus berada dalam kesendirian. Kau bilang kalau kau menyukaiku, tapi kurasa aku sudah menyukaimu sejak sebelum kita bertemu”
Kata-katanya sangat lembut. Suaranya terdengar sangat manis. Tanpa ragu, Aku berbalik dan memeluknya.
“___N___”
Bibir kami bertemu. Aku tidak tahu siapa yang memulai. Mungkin kami berdua secara bersamaan. Kami melakukannya dengan sangat lembut. Ciuman ini membuatku lebih mengerti betapa pentingnya dia bagiku.
Menahan nafas, Aku menyalurkan semua perasaanku. Bibirnya yang tipis, bibirnya yang belum pernah tersentuh, sekarang menyentuhku. Hanya dengan memikirkannya saja membuatku bergairah. Tubuhnya sangat hangat dan menentramkan.
Tubuhnya sedikit gemetar. Tapi Arcueid tidak terlihat takut. Wajahnya yang memerah, terlihat sangat indah.
Aku masih belum benar-benar percaya. Yang berada didepanku adalah Arcueid yang sangat kucintai. Melakukan ini membuatku lebih mencintainya.
Bibir kami berpisah. Masih saling memeluk, mata kami melirik dengan malu-malu.
“Itu.....tadi...... ciuman ya?” kata Arcued tersipu. Matanya yang merah seakan menyelidikiku. Rambut emasnya melambai didepan mataku.
“___Kau menyukainya, Arcueid?”
“Ahahaha, jantungku berdebar kencang sekarang”
Ya. Aku bisa mendengar detak jantungnya. Atau yang kudengar ini detak jantungku sendiri? Dia melihat lurus mataku
“Tapi benarkah ini tidak apa-apa?” Aku bertanya
“Apanya yang tidak apa-apa?” Arcueid balas bertanya.
“Soalnya aku belum pernah mendengar ada vampire yang berciuman”
Tersipu, Arcueid tersenyum malu. Pertanyaanku rupanya mengena. Melepas kacamataku, kami merebahkan tubuh kami diatas tempat tidur.
*****
Kami tiduran didalam ruang yang gelap dan sepi.
“Aku.....lelah.....”
Aku melihat Arcueid yang tertidur pulas disampingku. Aku menjadi sedikit malu mengingat apa yang kami lakukan barusan. Tapi kau tidak menyesal bercinta dengannya. Ya mungkin sedikit menyesal sih. Seandainya aku melakukannya dengan sedikit lebih tenang, aku mungkin akan bisa lebih menikmatinya.
“Yah, pelan-pelan sajalah”
Aku sama sekali tidak ingat bagaimana kami melakukannya. Tapi aku masih ingat sensasi luar biasa yang kurasakan. Begitu lelahnya, mungkin aku tidak akan sanggup berjalan untuk sementara waktu.
“Hwaaaaaaah____!”
Menguap, aku melihat wajah tidur Arcueid. Aku benar-benar mencintainya. Dan dia menjawab cinta yang egois ini. Mungkin berbeda dengan caraku mencintainya, tapi Arcueid juga membutuhkanku.
Hanya dengan itu. Hanya dengan itu saja, Aku sudah merasa bahagia. Untuknya yang selalu sendiri, untuknya yang akhirnya membutuhkan orang lain, membuatku bahagia.
“Dan kau tahu, Arcueid, kau tidak akan sendiri lagi mulai saat ini”
Aku mulai merasa mengantuk. Memeluk tubuh Arcueid, Aku perlahan tertidur.
Dalam mimpi, Aku melihat Arcueid terbangun dan melakukan sesuatu. Dia sedang berbicara sendiri. Terus aku bertanya sedang apa kamu?
“Sudah bangun ya, Shiki?”
Tidak juga. Aku masih merasa mengantuk. Aku berterima kasih padamu telah membuat tubuhku lemas seperti ini.
“Benarkah? Ahahaha kau membuatku malu”
Arcueid tersenyum seperti anak kecil. Aneh sekali bisa melihatnya padahal mataku sedang tertutup. Tapi karena dia tampak bahagia, Aku tidak mempedulikan hal kecil seperti itu.
“Hey, Shiki?”
Apa? Kau lelah? Kau harus tidur sampai malam nanti.
“Bagaimana jika seandainya aku benar-benar menjadi vampire sejati? Apa yang akan kau lakukan?”
Pertanyaan yang aneh. Tapi itu tidak akan terjadi. Karena kau takut minum darah kan?
“Aku kan bilang ‘seandainya’. Mempertahankan hidup dengan mengambil hidup mahluk lain itu wajar bukan?”
Kita hentikan saja percakapan seperti ini. Aku tidak suka kata ‘seandainya’. Sepertinya Aku sudah pernah bilang begitu
“Benarkah? Aku suka ‘seandainya’. Tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi masih bisa berharap hingga saat-saat terakhir”
Ah, aku ingat, Arcueid pernah mengatakan hal yang sama sebelumnya.
“Aku juga sempat bertanya-tanya apa yang akan kulakukan kalau kau ternyata orang yang jahat”
Arcueid.........?
“Aku mencintaimu Shiki. Kau membuatku bisa merasakan semua ini, dan bisa membuatku berkata jujur. Kau terlalu baik.”
Kenapa? Kenapa kau menangis?
“Aku akan pergi sebelum kau bangun Shiki. Aku tidak akan sanggup mengucapkan selamat tinggal secara langsung. Jadi biarlah aku melakukannya dengan cara seperti ini”
Aku mendengar suara pintu. Meskipun Aku masih tertidur, Aku bisa mendengar suara pintu ditutup.
“______Mmmm”
Aku terbangun. Cahaya matahari masuk melalui jendela. Melihat jam, Aku sadar sekarang sudah hampir siang.
“AH, lupa! Sekolah!”
Aku bangun dengan tergesa-gesa.
Tunggu dulu. Sekarang hari minggu kan? Jadi tidak perlu pergi kesekolah. Kalau ada yang harus dicemaskan, itu karena aku menginap ditempat Arcueid tanpa bilang ke orang rumah.
Barusan sepertinya Aku mempi aneh. Aku bermimpi berbicara dengan Arcueid dan kemudian dia menciumku pada akhirnya.
Haha bermimpi ketika Arcueid tidur disampingku mungkin menunjukkan betapa bahagianya aku sekarang.
“Hey, Arc_____”
Aku melihat kesamping, dan suaraku tertahan.
“Ar.....cueid....?”
Tidak ada seorangpun disana. Arcueid tidak ada.
-Aku akan pergi sekarang-
Itu adalah kata-kata Arcueid dalam mimpiku.
“Tunggu dulu!”
Aku mencarinya diseluruh ruangan, tapi tidak ada. Yang kutemukan hanya secarik kertas diatas meja.
“Apa___?”
Aku tidak tahu ini hanya bercanda atau bukan. Tapi dalam kertas itu tertulis kata ‘selamat tinggal’.
“Kenapa?”
Aku tidak ingn percaya. Tapi Aku bisa mengerti kenapa Arcueid melakukan ini.
“Kenapa?”
Kau bercanda kan, Arcueid? ‘Selamat tinggal’. Kami berjanji. Kami berjanji untuk tetap bersama. Aku mengatakan akan membantunya sampai semuanya selesai.
Jadi kenapa?____ kenapa dia pergi sendiri lagi?
“Kenapa Arcueid____!!?”
Aku berteriak sekeras mungkin dan meremas kertas yang kupegang.
Setelah itu, Aku keluar kamar dan mencari Arcueid. Tapi kemanapun aku mencari, aku tidak bisa menemukannya. aku tahu. Sebenarnya aku sudah tahu kalau kami tidak akan bisa bertemu lagi. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan temukan dia, dan mengatakan betapa bodohnya dia.
Dia akan menyelesaikan urusannya dengan Roa. Mungkin dia malah sudah membereskan Roa dan meninggalkan kota ini.
Cip cip cip
Aku mendengar suara burung gereja.
Mataku menemukan sarang burung yang terlantar ditanah.
Aku lega karena tidak menemukan apapun didalamnya.
Aku menangis.
Air mataku bercucuran
Jadi inikah yang disebut patah hati?
Aku mulai berjalan.
Aku berjalan menuju rumah
Naluriku mengatakan Aku harus pulang sebelum Aku menjadi gila.•
Tuesday, December 9, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment