Masih memegangi tubuhku, Senpai berlari menuju rumahku. Aku tidak tahu apa yang direncanakannya, tapi ini bisa jadi gawat. Dengan pisau yang masih tertanam didadaku, hidupku tidak akan lama lagi. Apa jadinya kalau Akiha sampai tahu.
“_________”
Sial! Aku tidak bisa bicara! Aku ingin menyuruhnya berhenti, tapi aku tidak bisa.
“Diamlah sebentar Tohno-kon. Aku yakin adikmu bisa menyelamatkanmu.”
“..............”
Menyelamatkanku? Itu tidak mungkin Senpai. Aku tertusuk didada, dan aku tidak mampu bergerak. Tidak ada yang bisa menyelamatkan orang yang sekarat seperti ini.
“Dengar! Kalau adikmu tidak menyelamatkanmu 8 tahun lalu, kau pasti sudah mati sejak dulu. Karena itu, aku tahu kita masih punya kesempatan”
“..............”
Senpai, apa yang kau,........
“Tck! Bisa diam bentar nggak sih?! Simpan tenagamu!”
Dia melihatku dengan wajah yang sangat marah. Aku akhirnya memutuskan menutup mataku.
Aku mulai ….
Sulit….
Menjaga kesadaran………..
“_____________________________________________________________”
___Aku selalu menjadi orang asing di keluargaku. Sejak kecil, aku selalu berpikir demikian.
Sejak aku diadopsi oleh keluarga Arima, aku selalu berpikir demikian.
Tidak, mungkin sebelum saat itupun aku sudah berpikir demikian.
Aku tidak pernah bertanya kenapa. Aku sadar kalau aku selalu sendirian. Ada orang yang bertindak sebagai orang tuaku, jadi aku bertindak sebagai anak mereka. Kupikir rumah pertamaku memiliki tatami yang sangat luas. Dari sana, setelah ada beberapa kejadian, aku pindah kerumah besar bergaya barat itu.
Ada kakak beradik dirumah itu yang seumuran denganku, dan kami menjadi sangat akrab. Tapi selalu ada semacam tembok diantara ayah mereka denganku. Tapi kami mencoba untuk terlihat seperti keluarga. Meskipun kami tidak berhubungan darah, kami mencoba untuk percaya bahwa kami adalah keluarga.
Semua tiba-tiba berubah. Setelah terjadi kecelakaan, aku dikirim kerumah sakit. Tidak ada seorangpun yang menjengukku, dan mataku menjadi aneh. Sampai saat itu aku selalu sendiri. Dan pada akhirnya, aku tetap sendiri.
Aku sempat berpikir untuk menghilang. Sampai aku bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai penyihir.
.....................................................................................................................................................................
mimpi yang membangkitkan kenangan.
“Aku..... masih hidup?” Aku meracau
Aku masih belum mampu menggerakkan satu jaripun, tapi aku sudah bisa bicara. Pikiranku cukup jernih untuk menyadari bahwa sekarang aku berada dikamarku.
“.....Kak? Kakak sudah bangun?” Akiha melihatku dengan sedih.
“Akiha....? Kau disana?” Akiha berdiri disamping tempat tidurku. Mungkin dia sedang merawatku.
“Akiha... kau?” Aku melihat Akiha tanpa tahu apa yang terjadi. Dia mengalihkan pandangannya dengan tidak nyaman.
“Lukaku.......”
Aku tidak bisa mengatakan kalau dia, -SHIKI- , yang membuatku jadi seperti ini. Lagi pula bagaimana reaksinya ketika melihatku pulang terluka seperti ini?
“Akiha,....Ummmm....”
“Tidak apa-apa kak. Saya sudah mendengar sebagian besar ceritanya dari orang yang mengantar kakak kemari.”
“Ah, maksudmu Senpai?”
Masih menunduk, Akiha menganggukkan kepalanya.
Aku ingin tahu apa yang sudah diceritakan Senpai kepada Akiha. Tanpa tahu apa yang dikatakan Senpai, aku tidak bisa seenaknya bicara.
“Senpai mana....?”
“Kalau dia, sekarang sedang istirahat di kamar tamu. Biasanya saya tidak akan mengijinkan orang seperti dia untuk menginap di rumah ini, tapi dia sudah menolong Kakak. Jadi saya harus melayaninya sebaik-baiknya” kata Akiha.
“Kak, yang melukai kakak itu SHIKI bukan?”
Akiha bertanya langsung tanpa alih-alih.
“K,kau.......” Aku sangat terkejut. Aku tidak menyangka kalau Akiha sudah tahu itu.
“Saya tahu sebagian besar kejadiannya dari orang itu. Meskipun sebenarnya saya juga bisa menebaknya dari luka kakak”
Aku menelan ludah. Akiha berkata seolah-olah dia sudah tahu mengenai SHIKI sejak dulu.
“Akiha, kau...... tentang SHIKI.....”
“Ya, saya tahu. Sejak awal saya sudah mengetahuinya. Saya memanggil kakak kembali kerumah karena khawatir kalau hal seperti ini terjadi.”
Mendengar kata-kata Akiha, aku merasa kepalaku seperti dipukul dengan palu yang sangat besar.
“Tu, tunggu dulu____ apa maksudmu kau sudah tahu sejak awal? Aku sendiri belum begitu yakin apa yang terjadi. Waktu kecil, aku merasa ada anak sebaya kita yang juga ikut bermain bersama. Tapi ketika kutanyakan, kau menjawab,_____”
Kau bilang tidak ada anak yang lain.
“.......Maaf, saya telah membohongi kakak. Meskipun aku tahu hal seperti ini akan terjadi, tapi.............”
“Bohong? Jadi benar ada anak yang lain? Terus kenapa dia menghilang?”
Aku tidak bisa mengingat dengan jelas. Aku hanya ingat kalau aku pernah bermain bertiga. Ketika Ayah sedang pergi, biasanya Akiha menyelinap keluar dan bermain bersama kami.
Tapi kenapa aku bisa lupa? Kenapa dia menghilang? Kenapa namanya SHIKI sama seperti aku.?
Aku teringat akan mimpiku. Mimpi masa kecilku. Ada Akiha, ada aku, dan ada seorang anak yang bersimbah darah tergeletak ditanah.
“___AH!”
Tadi SHIKI mengatakan ‘Ini balasannya karena kau sudah membunuhku’. Jadi artinya, _____
“Artinya Aku_____”
Aku membunuhnya? Karena itukah dia tiba-tiba menghilang, dan aku lupa semuanya tentang dia?
“Akiha. Aku membunuh_____”
“Tidak! Bukan begitu!” kata Akiha memotong
“Kakak tidak membunuh siapapun!”
“....Akiha. Tadi kau bilang kau mencemaskan hal seperti ini terjadi, dan memanggilku pulang. Apa maksudmu? Kau sudah tahu tentang SHIKI, tentang kejadian 8 tahun yang lalu, dan tentang semuanya bukan?”
“......Ya. Aku tidak ingin kakak mengingat tentang SHIKI. Aku ingin kakak melupakannya selamanya. Tapi semuanya sudah berakhir. Sejak awal memang mustahil meyembunyikan hal ini.” Kata Akhia lemah sambil menghindari tatapan mataku.
Dia melirikku sambil tersenyum, kemudian melanjutkan,
“Kak, orang itu mengatakan kepada kakak mengenai kemampuan khusus keluarga Tohno bukan? Mungkin kakak tidak percaya, tapi ada sesuatu yang bukan-manusia yang mengalir dalam darah keluarga Tohno. Itu yang dikatakan oleh Ayah sejak aku kecil. Tentu saja mulanya Aku tidak percaya, tapi, ada sesuatu kejadian yang membuatku percaya. “
Akiha terdiam sejenak.
“.....Yaitu ketika kakak dibunuh oleh SHIKI 8 tahun yang lalu.”
“....Dibunuh? ...... Aku? .... oleh SHIKI?”
Akiha mengangguk.
Tapi, aku melihat tubuh SHIKI tergeletak bersimbah darah dalam mimpiku. Dan lagi dia tadi berkata ‘ini balasannya karena kau sudah membunuhku’ ?!
“Semakin dewasa, sesuatu yang bukan-manusia dalam diri kami bertambah besar. Aku sempat berpikir darah keluarga Tohno meningkatkan insting membunuh seseorang. Bisa saja insting ini mengambil alih akal sehat kita.”
“............., Akiha............?”
“Aku tahu, aku tahu kakak tidak percaya. Tapi tolong dengarkan dulu”
____Tidak. Aku tahu seseorang yang seperti itu. Sekarang, kalau saja aku bisa bebas bergerak dan menghindari SHIKI, aku akan langsung pergi mencarinya.
“Sifat yang dibawa oleh darah keluarga Tohno berbeda dalam setiap orang. Ada yang tidak berubah meskipun sifat itu bangkit, tapi ada juga yang berubah drastis dan menggila ketika sifat itu bangkit. Dan SHIKI adalah jenis yang terakhir tadi.”
“Jadi, dia berubah drastis?”
“Benar. tapi entah mengapa, dia berubah ketika dia masih sangat kecil. Setelah dia berubah, dia membunuhmu, kak”
“SHIKI....membunuhku?”
Jleb!
Tiba-tiba saja luka didadaku menjadi terasa sakit.
“Terjadi di halaman belakang. Shiki menusuk kakak, dan kakak sudah sekarat ketika ayah datang dan menghentikan SHIKI. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan membunuhnya. Itulah tugas kepala keluarga Tohno untuk mengatasi anggota keluarga yang menggila. Jadi anak yang tergeletak berlumuran darah yang kakak lihat adalah tubuh SHIKI yang sudah dihajar oleh Ayah.”
.....Aku tidak ingat. Tapi memang sepertinya ada sesuatu yang penting terjadi waktu itu. Tapi aku tidak bisa mengingatnya.
“Ajaibnya, kakak sembuh. Kakak dirawat dirumah sakit dan dilaporkan sebagai korban kecelakaan”
“..............” Aku terdiam tidak percaya.
“Karena itulah, Aku yang dibesarkan sebagai pewaris keluarga Tohno meskipun aku hanya anak kedua. Karena SHIKI sudah berubah, maka aku yang ditunjuk sebagai pewaris selanjutnya.”
Begitu ya? Karena itu Akiha mengambil tanggung jawab sebagai pewaris keluarga Tohno. ........ huh?
“Tunggu Akiha. Kau bilang tadi SHIKI berubahkan? Kalau begitu, kenapa aku tidak?”
“Wah, tidak bisa kupercaya. Kak bisa percaya dengan semua yang kuceritakan?” tanya Akiha heran
“Hey, ini bukan waktunya bercanda. Lagi pula aku sudah terbiasa dengan topik seperti ini. Le, lebih pentingnya, Aku merasa semua ini ada yang aneh”
“Aku tidak tahu. Tapi yang saya ceritakan tadi tidak ada yang salah. Jadi, bisa kita hentikan pembicaraan ini?”
“Tidak! Akiha! Mencari tahu tentang SHIKI sangat penting bagiku....! Dia itu musuh bagi kami. Aku dan dia. Jadi___Aku harus tahu semuanya. Kenapa dia masih hidup padahal Ayah sudah membunuhnya? Dan aku seperti melupakan sesuatu yang penting! Tolong jawab aku Akiha”
“Sebenarnya saya ingin semuanya tetap begini.”
“Akiha!!”
“Kak, sebenarnya kakak bukan anggota keluarga Tohno. Ayah mengadopsi kakak hanya karena kakak memiliki nama yang sama dengan salah satu anaknya, SHIKI”
____________ Eh?
“Kakak, saya, dan SHIKI. Kita bertiga dibesarkan sebagai saudara. Kakak dan SHIKI sangat akrab, sampai-sampai saya merasa cemburu. Tapi setelah apa yang terjadi dengan SHIKI, semuanya menjadi terbalik. SHIKI, anak pertama keluarga Tohno, tidak boleh mati. Karena untuk menjaga status sosial keluarga ini. Mereka tidak bisa mengatakan SHIKI menghilang begitu saja.”
“Ayah mendapat ide. Ayah menukar identitas Kakak dan SHIKI. Kakak menjadi Tohno Shiki, dan SHIKI menjadi anak yang diadopsi, yang meninggal karena kecelakaan. Jadi yang dibunuh tetap hidup, dan yang membunuh, mati. Itulah hubungan Kakak dengan SHIKI.
_____ ha_______ha_____
“Jadi? Aku bukan kakakmu? Aku bukan anggota keluarga Tohno?”
Tentu saja aku juga bukan anggota keluarga Arima. Jadi aku ini sebenarnya siapa?
“Maaf kak, tidak ada yang bisa menjawabnya. Shiki sudah meninggal. Bukan orangnya, tapi masa lalunya, keberadaannya, dan juga ingatannya. Kakak bertukar tempat dengan SHIKI 8 tahun yang lalu, jadi ayah sudah membuang data-data mengenai kakak” kata Akiha menyesal.
“Karena itu, kakak tidak bisa menjadi pewaris keluarga Tohno. Menjadikan kelemahan tubuh kakak sebagai alasan, Ayah memberikan kakak kepada keluarga Arima, dan menyuruhku untuk tidak pernah mengijinkan kakak kembali menginjak rumah ini.”
Suara Akiha terdengar gemetar. Aku tahu kalau dia merasa sangat bersalah sekarang. aku tidak pernah berniat menyalahkannya. Dan aku masih punya pertanyaan yang lebih penting lagi.
“Aku masih ingin memastikan dua hal, Akiha”
“Kak?”
“Pertama, aku bukan anggota keluarga Tohno. Dan tadi kau bilang setiap anggota keluarga Tohno memiliki sifat istimewa dalam tubuh mereka. Tapi, kenapa aku juga memilikinya?”
“Saya tidak tahu. Mungkin hanya ayah yang bisa menjawabnya. Dan aku yakin kakak diadopsi bukan hanya karena persamaan nama.”
“Begitu ya? Jadi sudah tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku. Kemudian, um, aku selalu merasa sangat beruntung bisa hidup sampai saat ini. Lukaku yang dulu cukup fatal kan? Jadi mungkin aku benar-benar beruntung”
Ya. Aku benar-benar orang yang beruntung.
“Dan pertanyaan kedua, kenapa SHIKI masih hidup?”
Aku mempelototi Akiha ketika bertanya secara tidak sadar.
“....Kak.....itu.....”
“Aneh kan? SHIKI menggila. Dan Ayah membunuhnya. Jadi seharusnya dia sudah mati”
“....Itu......” Akiha terlihat ragu-ragu
“Hanya ada satu kemungkinan. Kalau aku bisa sembuh, maka dia juga bisa. Atau mungkin ayah tidak benar-benar membunuhnya. Apapun yang terjadi, SHIKI tetap anak kandungnya.”
Akiha diam tidak menjawab.
“....Aku mengerti. Mungkin ayah bermaksud mengembalikannya ke kedudukan semula jika SHIKI sudah kembali waras.”
“Bu, bukan begitu kak.......”
Benarkah? Tapi kau tidak melanjutkan penjelasanmu. Akiha hanya terdiam sambil melihat kebawah.
“Sudahlah. Ini bukan salahmu, Ayah, maupun SHIKI. Ini mungkin yang disebut takdir. Dan kebetulan ada orang asing yang gila merasuki tubuh SHIKI.”
Akiha tetap terdiam.
Aku merasa lelah. Jujur saja, aku sendiri tidak terlalu berminat mencari tahu masa laluku. Yang lebh penting, aku harus mencari dimana Arcueid sekarang.
“Akiha, aku merasa lelah. Aku ingin istirahat”
“Baiklah kalau begitu”
Akiha berdiri, dan melangkah menuju pintu.
“Akiha___”
Sebelum Akiha keluar, Aku memanggilnya. Sebelum Akiha pergi, Aku masih ingin memastikan satu hal.
“Ya kak?”
“kenapa kau memanggilku kembali? Aku bahkan bukan kakak kandungmu”
“Kak tolong jangan bicara seperti itu” kata Akiha dengan nada sedih. Sejak dulu hingga sekarang, meskipun Kakak lupa, bagiku, Tohno Akiha, kau satu-satunya kakakku”
Terdengar suara ‘klik’ ketika Akiha menutup pintu.
“.................”
Setelah dia pergi, Aku merenungkan situasi saat ini. Sekarang jam 10. 3 jam setelah SHIKI______bukan, Roa menyerangku.disekolah. Dan aku masih belum mampu bergerak bebas.
*haaaah*
Menarik nafas panjang, aku mencoba menenangkan diri. Aku mulai mencoba menggerakkan bagian tubuhku yang kecil, seperti jari tangan kananku. Aku harus mengerahkan seluruh tanagaku untuk menggerakkan jariku. Setelah beberapa menit, jariku berhasil kegerakkan, meskipun hanya sedikit.
Setelah itu, aku mencoba menggerakkan telapak tangan, siku, lengan, dan bahu. Nafasku terengah-engah. Semakin aku bergerak, semakin terasa sakit badanku.
“Akh......!”
Keringat mengalir membasahi dahiku. Aku merasakan sakit diseluruh tubuhku seperti disayat-sayat pisau. Tapi kalau aku tidak mencoba, aku tidak bisa pergi dari kamar ini. aku tidak bisa pergi ke kota, kesekolah, aku tidak akan bisa pergi mencari Arcueid.
“Ag.....HHH!!”
Menahan sakit, aku berusaha menggerakkan tubuh bagian atas. Akan sangat sulit memaksa berjalan dalam kondisi seperti ini, tapi aku tidak peduli. Lagi pula sudah merupakan keajaiban Aku masih bisa hidup setelah Roa menusuk dadaku. Jadi Aku tidak boleh mengeluh.
Aku melihat luka tusuk didadaku. Tapi anehnya, aku tidak melihat titik kematian disana. Tapi karena itu, aku masih bisa hidup. Kalau Roa menusuk tepat dititik kematianku, aku tidak akan berada disini sekarang.
“.....Mungkin Roa melihat titik yang berbeda?”
Ketika aku masih berusaha menggerakkan tubuhku, aku mendengar pintu diketuk, dan Senpai masuk kekamarku.
“____To,Tohno-kun?! Kau seharusnya istirahat. Kau belum boleh bangun sekarang.....!” katanya sambil bergegas mendekatiku.
“.....................”
Aku hanya bisa terdiam melihat wajahnya yang penuh kecemasan.
“......? Ada apa?”
“Tidak, hanya kakak tidak memakai kacamata kakak”
“Sayang sekali ya, padahal kalau aku pakai, mungkin kita bisa cocok. Sama-sama memakai kacamata” kata Senpai terenyum.
Ha ha, senpai akan terus menjadi senpai. Meskipun dia memakai jubah pendeta yang aneh, dan mampu bertarung seimbang dengan Roa, dia tetaplah Senpai yang kukenal.
“Terima kasih. Senpai menolongku lagi”
“Ya. Dengan ini sudah 3 kali kau berhutang padaku. Aku tidak bisa terus membantumu, jadi behati-hatilah”
“Tentu saja, lain kali aku akan menghajarnya, sebelum dia sempat menghajarku”
Mendengar ucapanku, senpai menatapku lurus.
“Jangan katakan kau belum belajar dari ini”
“Ayolah, aku korban disini. Aku harus belajar apa? Dia yang menyerangku. Aku tidak bisa apa-apa”
“Benar, tapi kau berniat menyelesaikan ini semua kan, Tohno-kun?”
“.........................”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu apakah aku berniat menyelesaikan semua ini atau tidak. Hanya saja, aku tidak bisa diam tanpa melakukan apapun sekarang.
“Boleh bertanya sesuatu senpai?”
“Tidak.” Jawab senpai tegas “Tapi biar aku bilang seperti itu juga, kau tidak akan berhenti sampai disitu saja kan? Baiklah, kalau begitu silahkan bertanya. Tapi kau harus tenang dulu”
Senpai kemudian duduk dikursi tempat Akiha duduk sebelumnya. Kukira Senpai akan menghentikanku dengan paksa, tapi kau tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
“Yang barusan itu Roa bukan?”
“Ya. Dengan tubuhnya yang baru. Tohno SHIKI yang sama dengan yang menusukmu 8 tahun yang lalu. Kau sudah mendengarnya dari Akiha-san bukan?”
“Ya begitulah. Apa Senpai berteman dengan Akiha? Tapi dia tampak membenci senpai”
“Bisa dibilang begitu. Dia memandang rendah pekerjaanku. Dan tampaknya secara pribadi dia memang tidak menyukaiku” Senpai mengatakannya sambil tersenyum. Luar biasa.
“Kembali ke Roa. Apa dia membangun sarangnya disekolah?”
“.....Aku tidak yakin, tapi tampaknya memang begitu. Dia bergerak sendiri karena Arcueid sudah membunuh hampir semua Zombie-nya”
Dengan kata lain, Arcueid belum menemukannya. Jadi aku masih ada kesempatan untuk menemukan Arcueid terlebih dulu.
“Tohno-kun?”
“Ah tidak. Tapi kenapa di sekolah?” Aku sempat tenggelam dalam pikiranku. “dan lagi, kenapa dia lebih terlihat seperti SHIKI dari pada Roa? Dia tidak terlihat seperti vampire sama sekali”
“Tentu saja, karena kepribadian utamanya adalah SHIKI. Karena itu, dia tidak bertindak seperti vampire.”
“Tunggu dulu. SHIKI hanya induk semang, bukan? Jadi seharusnya kepribadiannya tetap Roa”
“Begini Tohno-kun. Sebelum induk semangnya dewasa, Roa tidak akan bangkit. Jadi kepribadian Roa tidak akan muncul. Jadi, kepribadiannya tetap mengikuti kepribadian induk semangnya.”
“Jadi, yang tadi itu SHIKI? Bukan Roa?”
“Sepertinya begitu. Masalahnya, dia sudah memiliki keinginan, sejarah, dan ilmu pengetahuan yang selama ini dimiliki oleh Roa. Apa yang diinginkan oleh SHIKI dan apa yang diinginkan oleh Roa sangat berbeda.”
“Keinginan.......SHIKI..........?”
“Ya. Mungkin keinginan SHIKI untuk membunuhmu lebih kuat daripada keinginan Roa”
Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Senpai.
“Kenapa dia mau membunuhku?”
“Sulit dijelaskan, tapi mungkin dia merasa kau telah membunuhnya.”
“Apa maksudmu!?” Aku merasa marah “Aku yang dibunuhnya. Dia membalikkan semua fakta”
“Tapi kau masih hidup bukan? Dan kau menjadi Tohno Shiki sekarang. Setelah seharusnya SHIKI mati, ternyata dia dapat pulih secara ajaib seperti halnya kau dulu. Tapi, dia sudah tidak memiliki rumah tempat untuk pulang. Karena ada orang lain yang menjadi Tohno Shiki, dan hidup bersama adiknya, Akiha-san.”
“Jadi bisa dikatakan kau membunuh Tohno SHIKI. Kau mengambil tempatnya ketika Tohno Makihisa mengasingkannya. Bisakah kau bayangkan bagaimana perasaannya?”
“....Jadi menurutnya, aku hanya penipu yang memakai nama Tohno Shiki?”
“Ya. Karena itu SHIKI sngat membencimu”
Tapi, Aku melakukannya bukan karena ingin. Tapi mungkin SHIKI tidak peduli akan hal itu. Baginya, aku hanyalah penipu yang mengambil segalanya dari dirinya. Orang yang mengambil rumahnya, namanya, dan keluarganya. Tentu saja dia ingin membunuhku.
“Tapi tetap saja Aku yang dibunuhnya, Senpai”
“Tohno-kun?”
Ya. Bukan hanya dia saja. Ada yang mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku juga. 8 tahun yang lalu umurku baru 9 tahun. Aku yang masih hidup sampai sekarang kehilangan semuanya. Aku tidak bisa mengingat masa laluku. Aku tidak bisa mengingat kedua orang tua kandungku. Aku tidak bisa menemukan aku yang sebelum berumur 9 tahun. Shiki kecil yang itu, sudah tidak mungkin bisa ditemukan lagi.
“Kau tidak bisa bertarung jika diliputi rasa marah, Tohno-kun”
Seperti menyadari kemarahan dalam ucapanku, Senpai memperingatkanku. Aku mengatakan kepadanya jangan bercanda sambil menggelengkan kepala.
“Aku tetap akan mengahdapi Roa. Tapi dengan alasan yang berbeda”
“Kau tidak membencinya?”
“Aku bohong kalau bilang tidak. Tapi bukan itu masalahnya. Aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Kalau tuan putri yang satu itu dibiarkan sendiri, Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku harus membantunya. Aku berjanji akan membantunya sampai semua ini selesai.”
Benar. Aku tidak boleh terus disini. Arcueid selalu menderita. Meskipun dia selalu terlihat riang didepanku.
“.....Aku tidak habis pikir, kenapa kau mati-matian membela Arcueid? Dia itu vampire, kau tahu?”
“Aku tidak peduli. Yang Aku tahu hanyalah aku mencintainya. Karena itu aku akan membantunya” kataku sambil menatap mata senpai.
Senpai meletakkan tangannnya didepan mulutnya yang menganga. Wajahnya memerah.
“Begitu kah?”
“Ya. Aku tidak boleh membuang waktu lagi. Kalau Roa ada disekolah, Aku harus segera kesana”
Kalau tidak, Arcueid akan menemukan Roa dan bertarung melawannya. Kalau itu terjadi, kemungkinan Arcueid menang sangat kecil. Aku akan membantunya. Aku tidak tahu seberguna apa aku nanti, tapi lebih baik daripada membiarkan Arcueid sendiri.
“Percuma Tohno-kun. Meskipun kau membantunya, dengan keadaan sekarang, Arcueid tidak bisa mengalahkan Roa.”
“Tidak bisa mengalahkan Roa..... kenapa Senpai bisa yakin?”
“Mudah saja, sejak Arcueid terbunuh, dia sudah mengerahkan tenaganya untuk menekan naluri alaminya. Karena tenaganya banyak berkurang, Arcueid yang sekarang tidak akan bisa melawan Roa. Sedangkan kamu, kekuatanmu tidak sampai setengahnya dari Roa. Meskipun kalian bekerja sama, kalian tidak akan menang” kata Senpai dingin.
“Sejak awal, Arcueid sudah hampir mati. Tenaganya menjadi sangat lemah. Dan dia menggunakan sisa tenaganya untuk menekan naluri alaminya. Kalau diumpamakan, dia seperti kita yang memaksakan diri untuk bergerak setelah ulu hatinya dipukul keras.”
“Ap____?”
Apa maksudmu hampir mati? Arcueid memang terlihat kesakitan, tapi dia tidak terlihat hamnpir mati.
“Ini dikarenakan dia tetap menolak untuk meminum darah. Semuanya akan lebih mudah kalau dia memilih meminum darah manusia. Tapi kurasa dia tidak akan melakukannya. Selama dia masih memburu Roa dengan keadaan seperti ini, dia sama saja sedang berlomba dengan kematian”
“Kau.....kau bohong!”
Aku berdiri. Dan aku langsung terjatuh kelantai karena tubuhku masih belum cukup kuat. Aku terjatuh seperti sampah, menghantam karpet lantai kamarku.
“Akh____!!!” Aku kesakitan
Lemah. Sekarang aku sangat lemah. Aku bahkan tidak bisa berjalan.
“Jangan memaksakan diri Tohno-kun.” Kata Senpai tanpa beranjak dari tempat duduknya.
“Meskipun kau tidak terluka-pun, tenagamu banyak terkuras. Mungkin karena kemampuan SHIKI. Mungkin setelah menusukmu, dia mengambil sedikit ‘nyawamu’. “
“Nyawaku?”
“Katakanlah sumber energi kehidupanmu tidak terbatas. Tapi tetap saja bisa berkurang. Energi kehidupan terus diproduksi selama seseorang itu masih hidup, tapi jumlah yang di produksi sangat bervariasi tergantung orangnya. Jadi energi yang digunakan tetap terbatas. Sebelum kita menggunakan energi tersebut sampai habis, kita akan mengambil energi tambahan dari sumber yang tidak terbatas itu” kata Senpai menjelaskan. “Jadi kalau ada yang bisa mencuri sumber energi tadi, maka orang yang energinya diambil, tidak akan mampu memenuhi kebutuhan minimal energi untuk digunakan.”
“Jadi maksud senpai dengan kehidupan itu........?
“Benar. kalau diumpamakan seperti mobil yang tidak bisa berjalan karena kehabisan bensin.”
Senpai berdiri, membantku bangun dan kembali membaringkanku diatas tempat tidur.
“Sudahlah Senpai, kau tahu kan, kalau aku tidak akan tiduran terus?”
“Memangnya kau bisa apa? Kau bahkan tidak bisa berdiri sendiri. Kalau kau tidak mau berbaring, kau boleh tetap dilantai seperti tadi”
Dia memaksaku kebali ketempat tidur.
Aku memaksakan diri untuk duduk. Hanya dengan berusaha duduk saja, Aku sudah kehabisan nafas.
“Si__al!”
Dengan kondisi seperti ini, aku tidak mungkin pergi kesekolah. Meskipun aku menemukan Arcueid, Aku hanya kan menjadi beban saja.
“Kau tidak perlu bertarung lagi, Tohno-kun. Semuanya akan selesai dalam beberapa hari ini.”
“____ Maksud Senpai?”
“Karena aku telah menemukan tubuh Roa yang baru, maksudku,... Vatikan telah menjawab permintaanku. Dalam 7 hari, Burial Agency yang bergerak dibawah perintah langsung Paus, akan tiba dan menghabisi Roa. Memang akhirnya Roa hanya akan terus berreinkarnasi lagi, tapi paling tidak satu masalah sudah selesai.”
7 hari ya.
7 hari.........?
“Aku tidak bisa menunggu selama itu. Sekarang mungkin Arcueid akan menemukan Roa dan menghadapinya. Kalau selama itu, semua akan sia-sia”
Aku memfokuskan tenaga ke kakiku. Tanpa mengindahkan rasa sakit, Aku berdiri dari tempat tidurku.
“....Senpai, pisauku. Dimana pisauku?”
“Aku membawanya. Tapi kau pikir aku mau menyerahkannya padamu?”
“Tidak sih, tapi kau tidak boleh membawa barang milik orang lain tanpa ijin, Senpai”
Mendengar ucapanku, Senpai hanya menghela nafas dan merogoh sakunya. Dia mengeluarkan pisauku.
“Karena ini milikmu, aku akan mengembalikannya. Tapi apa kau berniat kembali kesekolah, Tohno-kun?”
“____Ya. Sebelum Arcueid menemukan Roa, aku harus_____”
Membunuhnya. Kalau SHIKI memang menginginkanku, maka mau tidak mau aku harus menghadapinya juga. Jadi untuk melindungi Arcueid, aku harus membunuh Roa terlebih dahulu.
“Dengan kondisimu yang seperti ini? Kenapa sih kamu? Katakan alasanmu. Kalau kau katakan, aku tidak akan menghentikanmu”
Pertanyaan yang sama dengan yang sebelumnya. Wajahnya sangat tenang dan lembut. Senpai benar-benar ingin tahu.
“____ Aku____”
Kenapa kau ingin membantunya? Karena aku menyukainya? Karena kalau bersamanya terasa menyenangkan? Ya. Semua itu memang penting, tapi ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Ada sesuatu yang membuatku tidak bisa melepaskannya.
“.... Karena dia selalu sendiri. Karena itu aku tidak bisa meninggalkannya.”
“Bohong” kata senpai. Dia terlihat marah. “Kau tidak mungkin mempertaruhkan nyawamu hanya untuk itu saja. Jawab yang jujur Tohno-kun. Aku tidak bisa menerima alasan seperti itu.”
“Tidak. aku mengatakan yang sejujurnya. Sampai saat ini, dia tidak pernah tahu rasanya bersenang-senang. Selama ini dia selalu, selau terisolasi dan kesepian. Aku tidak bisa membiarkannya seperti itu. Jadi____”
Aku hanya ingin dia tahu. Ada banyak hal yang bisa dilakukan didunia ini. Meskipun semua tampak sia-sia, merasakan kesenangan adalah bagian dari hidup. Bahkan anak kecil saja tahu tentang hal itu.
“Aku hanya ingin mengatakan kepadanya. Meskipun dia selalu tersenyum seakan menikmati semuanya, Aku ingin memperlihatkan kepadanya bahwa semua orang bisa merasakannya. Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa dunia ini memiliki lebih___ sesuatu yang lebih menyenangkan yang bisa membuat segala kesusahan terlihat tidak ada artinya. Merasakan sesuatu yang biasa dirasakan orang lain, Aku hanya ingin membuatnya bahagia.”
Jadi dia dapat sungguh-sungguh tersenyum dari dalam hatinya. Karena aku menyukai senyuman Arcueid.
“Aku ingin membuatnya merasa lebih bahagia.”
Sangat sederhana. Hanya dengan berbicara dengan seseorang dan melakukan apa yang kau inginkan.
“Tapi Tohno-kun, kalau hanya itu, semua orang juga bisa melakukannya.”
Aku tahu. Aku tahu itu. Tapi____
“____Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan orang lain yang melakukannya. Aku tidak bisa berpisah dengannya seperti ini. Bagiku, tidak ada orang lain selain dia”
Karena hanya Arcueid seorang didunia ini yang ingin kubuat bahagia.
“Aku mencintainya”
Aku mencintai Arcueid sebagai seorang laki-laki. Aku menyukai semua hal yang ada pada dirinya.
“Aku ingin membuatnya bahagia dengan tanganku sendiri. Untuk itu aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak mau dia mati. Hanya itu alasanku, Senpai”
Ya. Hanya itu. Bagiku, da lebih penting daripada hidupku sendiri.
“....Jangan bicara seperti itu, Tohno-kun. Kau berkata seolah-olah hanya kau yang boleh melakukannya.” Kata senpai sambil memegangi sikunya.
Setelah itu, Senpai menghela nafas. Tampak dia sedikit kecewa.
“____ Senpai?”
“Kau tahu, kau membuatku sedikit marah. Sampai saat ini, dia cukup bahagia, kau tahu?”
Seakan menyerah, Senpai berkata dengan suara yang lembut.
Tiba-tiba aku mendengar suara bergersak dari luar jendela.
“?!”
“Jangan terkejut. Dia baru saja pergi. Aku memang merasakan sesuatu dari tadi, jadi itu memang dia” kata senpai sambil melihat kearah jendela.
“Tidak seperti biasanya. Dia menempatkanmu sebagai prioritas diatas Roa. Yah, kalau saja dia masih memberi Roa prioritas utama setelah mendengar ucapanmu tadi, akan kuhukum dia”
“Eh.....?”
Jadi, sedari tadi, Arcueid berada diluar?
“Ke, kenapa dia.......? senpai......?”
“Mungkin dia cemas setelah tahu roa menyerangmu. Mungkin dia telah mendengar semuanya dan sekarang pergi mencari Roa.”
Dengan kata lain, dia...............
“Kenapa?...... Dia pergi. Kenapa?”
“Tidak heran, setelah mendengar semua yan kau katakan, aku juga mungkiin akan melakukan hal yang sama. Yah, mungkin aku jadi sedikit merasa kasihan padanya”
“...Tapi...tapi....?!”
“Kau ingin membantunya, tapi dia tidak ingin kau terlibat dalam pertempurannya. Jadi artinya hanya ada satu kan?”
Senpai berkata dengan sangat tenang. Seakan dia tahu hal seperti ini akan terjadi.
“Sekarang kau bisa menyerah Tohno-kun. Sekeras apapun kau mencoba, kau tidak mungkin mengejarnya. Serahkan sisanya padaku, dan istirahatlah.”
“Bajingan!!!!”
Aku mencengkeram kerah Senpai. Melakukannya membuatku semakin pusing, tapi aku tidak peduli.
“Kau tetap bertanya meskipun tahu hal seperti ini akan terjadi, huh, Senpai___?!” kataku marah.
“.....Tidak. Aku tidak tahu kau melihat Acueid sampai seperti itu. Ini bisa dibilang kesalahanku.”
Ekspresi wajahnya tidak berubah ketika Senpai mengatakannya. Tetap dingin.
“_________”
Marah-marah tidak akan menyelesaikan apapun. Arcueid sudah pergi. Yang harus kulakukan bukanlah menyalahkan senpai.
“___Aku akan mengejarnya. Bawa aku kesana” perintahku.
“Kau pikir aku akan mematuhi perintah orang yang kondisinya seperti kamu?”
Tentu saja tidak.
“Kalau kau tidak melakukannya, akan kuperkosa kau”
Ekspresi wajah senpai berubah. Dia seakan melihat langsung kedalam hatiku. Tapi aku tidak bisa mundur sekarang.
“__________”
Kemudian senpai sekali lagi menghela nafas.
“Baiklah. Sebagian adalah salahku. Lagipula aku sudah terlanjur campur tangan sampai sejauh ini. Aku akan menemanimu sampai akhir.”
Melepaskan tanganku yang mencengakeram kerahnya, dia berdiri disampingku.
“Aku akan membawamu kesana, jadi diam dulu.”
Mengatakan ‘yoisho’ Senpai membopongku.
“Kalau Akiha-san melihat ini, dia akan menghentikan kita. Jadi kita akan keluar dengan cara yang dilakkan Arcueid tadi”
“Eh__?”
Dengan langkah yang ringan, senpai membawaku melompat keluar melalui jendela.
****
Kami akhirnya tiba di sekolah. Meskipun sambil membawaku, nafas Senpai tidak terengah-engah. Dan dia bisa berlari seakan tidak membawa beban sama seklali.
“Kau bisa berjalan Tohno-kun? Tanya senpai sambil berlari.
“Mungkin. Kita akan menyerang Roa. Jadi kita tidak bisa masuk dengan seperti ini.”
“Kau benar. Mulai dari sini, kau harus berjalan sendiri”
Berhenti, Senpai menurunkanku.
Suasana sekolah dimalam hari luar biasa sepi. Kesannya malah jadi mengerikan. Setelah masuk, yang tersisia hanya tinggal bertarung sampai mati.
Setelah perlahan menghisap nafas, Aku melepaskan kacamataku. Garis-gars maut terlihat diseluruh gedung sekolah. Kepalaku mualai terasa berdenyut.
“Ini buruk” kata senpai sambil melihat keatas.
Bulan purnama. Sinarnya menerangi halaman sekolah.
“Apanya yang buruk?”
“True ancestor mendapatkan kekuatan dari bulan. Begitu pula Roa. Dia mungkin akan sulit dibunuh sekarang. Dia bisa dibilang abadi. Dengan perlengkapan yang kubawa, mungkin akan sulit untuk membunuhnya sekarang”
Senpai menggeretakkan giginya.
Abadi huh? Keabadian tidak ada artinya didepan mataku. Kalau aku bisa mendekatinya, Aku bisa memotong titik kematiannya.
“....Terlalu terang. Kita akan sulit untuk bersembunyi. Aku biasanya sangat menyukai bulan purnama, tapi tidak untuk kali ini” keluh Senpai.
Cahaya bulan purnama yang pucat, dan udara malam yang dingin. Aku bisa melihat garis maut lebih jelas.
“Benarkah? Sejak dulu aku tidak suka malam bulan purnama”
“Tohno-kun?”
“Dibandingkan siang hari, aku bisa melihat hal-hal yang tidak menyenangkan di malam seperti ini. Aku lebih suka matahari yang bersinar terang, atau gelap tanpa cahaya sama sekali.”
Aku kembali memakai kacamataku. Menggenggam erat pisauku, aku berjalan menuju gedung sekolah.
Aku masuk melalui pintu depan. Bahkan berjalan normal terasa sangat sulit bagiku. Jarak didalam sekolah terasa sangat jauh.
“Kita berpisah disini Tohno-kun.” Kata Senpai tiba-tiba. “Dari sini pergilah sendiri. Aku harus melakukan sesuatu yang lain”
“Yang lain? Apa?”
“Dengar, tampaknya Roa kali ini sangat kuat. Aku tidak akan menghadapinya secara langsung. Ketika kau dan Arcueid terbunuh oleh roa, aku akan menggunakan kesempatan itu untuk membunuhnya.” Katanya jujur dengan wajah serius.
“Kau..... tampak sangat serius, Senpai”
“Ya. Ini terakhir kalinya aku membiarkan urusan pribadi orang lain mencampuri pekerjaanku. Kau bertarung untuk Arcueid bukan, Tohno-kun? Aku juga punya alasan tersendiri untuk membunuh Roa. Jadi mulai sekarang, Aku tidak akan membantumu.”
“Baiklah. Terima kasih senpai.karena mungkin ini terkahir kalinya kita kan bertemu, aku ingin mengatakan kalau aku menyukai Senpai. Sangat menyenangkan bersama Senpai dan Arihiko mengobrol tentang hal-hal yang bodoh.”
“___ Ya. Bagiku, saat-saat itu terasa seperti mimpi, Tohno-kun.” Senpai tersenyum
Senpai kemudaian menghilang seperti bayangan.
“Baiklah, saatnya beraksi”
Memaksakan tubuhku yang terasa sakit setiap kali aku bergerak, aku berlari menuju gedung sekolah.
Dinding-dinding sekolah dipenuhi retakan dan goresan. Sepertinya pertarungan antara Ro dan Arcueid sudah dimulai.
“....Diatas ya?”
Aku berlari menuju lantai atasku.
Berhenti sebentar untuk mengambil nafas, akhirnya aku sampai dilantai 4. Retakan dan goresan terus berlanjut sampai lorong yang menghubungkan kedua gedung sekolahku.
“Sial!”
Entah bagaimana caranya, Aku bisa menggerakkan kakiku dan berlari menuju lorong itu. Akhirnya aku sampai diujung lorong penghubung.
Ditengah-tengah lorong, Aku melihat dua orang yang saling menatap dari kejauhan. SHIKI berada diujung lorong satunya. Dan ditengah lorong, Aku melihat Arcueid berlutut. Nafasnya terlihat berat.
“Arcueid__!!”
Aku berlari mendekatinya. Tapi sebeelum aku sampai, Arcueid yang masih berlutut, melihat kearahku.
“...........?!”
Aku tidak bisa bergerak. Setelah melihat matanya, Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Tubuhku seakan menjadi batu.
“Ah, keterlaluan sekali kau Arcueid. Mengikat tubuh temanmu sendiri dengan menggunakan mata mistismu seperti itu. Bukankah lebih baik kalau kau membiarkannya mati bersamamu?”
SHIKI, bukan, Roa, tertawa puas.
“Kenapa?”
Kenapa Arcueid melakukan ini padaku. Padahal aku sudah sampai sini.
“Kenapa? Kenapa Arcueid?!”
Arcueid melepaskan pandangannya dariku dan melihat Roa. Dia hanya diam. Dia tidak mengatakan apapun padaku. Dia hanya melihat kearah musuhnya sambil bernafas terengah-engah.
“___Kenapa___Kenapa___?”
Aku bahkan tidak bisa berteriak. Bukan karena mata mistisnya, tapi karena setelah aku sampai disini, tubuhku yang sedari tadi kupaksakan, mula kehilangan tenaganya.
Tawa Roa semakin keras melihat situasi kami berdua.
“__Akhirnya. Kau sudah siap, Putri?” kata Roa sambil mendekati Arcueid.
Arcueid tetap berlutut tidak begerak.
“Ck ck ck. Usahamu cukup bagus, Shiki. Sepertinya Tuan Putri ini masih akan tetap bertarung untuk menolongmu. Kalau saja dia masih seperti yang dulu, dia akan membiarkanmu. Tapi, sekarang dia hanya seperti vampire biasa. Dia bahkan sudah tidak memiliki kekuatan seorang True Tncestor lagi. Kau tahu Arcueid, akan lebih baik kalau kau membiarkan dirimu dikuasai oleh naluri alamimu.”
“Diam!!” suara Arcueid menggema diseluruh gedung.
Apa ini? Kalau ini bukan halusinasi, semua disekitar Arcueid mulai bergelombang. Tubuhnya berpendar.
“Ap____?” Roa menghentikan langkahnya.
“Noble Phantasm? Kau masih bisa menggunakannya?”
Ketakutan, Roa melompat mundur.
“Tapi kau tidak akan menang! karena aku memiliki sesuatu yang tidak kau miliki!”
Arcueid menahan nafasnya. Dia menghentikan semua gerakan untuk menghimpun kekuatan.
“Dan kau tahu itu. Pengalaman mati. Aku tahu rasanya mati. Tapi kau tidak. Selama kau masih hidup, kau tidak akan pernah mengalami mati. Yang bisa mengalaminya hanyalah reinkarnator seperti aku.”
Gelombang yang dikeluarkan Arcueid semakin kuat.
“Secara insting, manusia takut terhadap hal-hal yang belum diketahuinya. Dan kau juga sama saja. Selama apapun hidupmu, kau tidak akan pernah merasakan pengalaman mati. Kau mengumpulkan begitu banyak kekuatan untuk mencegah kematian. tapi pada saat yang sama, kau mengumpulkan semua kelemahanmu. Kau melarikan diri dari kematian, sedangkan Aku menerimanya. Itulah perbedaan antara kau, Arcueid Brunestud, dan aku, Michael Roa Valdamjong.
Prak!!
Kaca jendela disekitar kami mulai retak.
“Aku tahu mengenai kematian, kegelapan, kehampaan yang telah kutempuh sepanjang waktu! Bagiku, yang namanya kematian, hanyalah sebuah ritual umum. Meskipun kau bunuh tubuh ini, Aku masih akan tetap ada. Kenapa kau tidak sadar juga kalau melawanku itu percuma?”Roa mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Arcueid tidak menjawab.
“___Baiklah, kalau kau masih terus menantangku, akan kuladeni. Akan kuberi kau hadiah atas kekeras kepalaanmu.”
Menurunkan lengannya, Roa menunduk.
Semua yang ada disekitar Arcueid siap meledak.
“A_____”
Aku tidak bisa bicara saat ini. Ini buruk. Didalam kepala, aku terus berteriak. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku tidak tahu kenapa, tapi sebagai seseorang yang bisa melhat kematian, Aku tahu antara Roa dan Arcueid, siapa yang lebih dekat kepada kematian.
“Henti___kan__”
Aku berusaha menghentikan Arcueid. Tapi suaraku tidak mau keluar.
Blas!!
Suara udara yang tercabik. Membungkus Arcueid dan seluruh lorong.
Seluruh gedung bergetar. Kaca jendela, dinding, lorong, dan seluruh gedung. Semuanya berputar-putar didalam gelombang tersebut. Tertelan.
Dalam sekejab, tubuh Roa menghilang.terhempas, terpotong terlumat. Yang tersisa hanya engkelnya.
Semua tiba-tiba berhenti. Mungkin kejadian itu hanya terjadi beberapa saat. Lorong ini tetap seperti sebelumnya.
Tapi ini tidak berkhir begitu saja. Engkel itu bergerak-gerak, dan seakan berlari menuju Arcueid. Bukan hanya itu saja, kaki, pinggang, perut, dan bgian-bagian lain seakan hidup kembali.
Masih berlutut, Arcueid tidak bergerak. Didepannya leher dan kepala Roa mulai bersatu kembali.
“Ar_____”
Aku tidak bisa memperingatkannya. Roa yang bangkit kembali memotong perut Arcueid. Seperti memotong garis maut, tidak ada darah, tidak ada daging yang tersayat.
“Nyaris saja. Untung sekarang bulan purnama. Kalau tidak, Aku tidak akan bisa kembali pulih hanya dari engkel saja.” Kata Roa
“Dan kau, Putri. Kau tidak akan mungkin bisa sembuh dari luka itu. Cakarku memiliki kemampuan yang sama dengan manusia yang berdiri dibelakangmu itu.”
Bruk!
Arcueid terkapar dilantai.
“Inilah kekuatan yang kudapat setelah berkali-kali mengalami kematian. Lucunya, Aku sendiri belum tahu bagaimana menggunakannya. Tapi dia sudah mengajariku.”
Roa menendang tubuh Arcueid kearahku.
“Arcueid....!” Aku bisa bergerak kembali.
___ini karena kekuatan mata mistisnya sudah menghilang. Artinya, dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi.
“____Sial!” Gemetar, Aku memeluk tubuhnya.
Perasaan takut menyelimutiku ketika aku memeluk tubuhnya. Tubuhnya benar-benar dingin. Roa tetap berdiri didepan kami. Tapi Aku tidak peduli. Saat ini, Aku hanya ingin memeluk Arcueid.
“Arcueid........” Aku memanggil namanya.
Matanya yang tertutup terbuka dengan cepat. Seperti terbangun dari tidur.
“Ahahaha____ memalukan ya?” Seperti biasanya, Arcueid memaksakan diri untuk tersenyum.
“Dasar bodoh..... apa yang kau lakukan?”
Suaraku tidak jelas. Aku ingin mengatakan sesuatu yang lebih baik, tapi pikiranku saat ini sedang kacau. Suhu tubuhnya mengatakan kalau semuanya sudah terlambat. Kalau saja aku membuka kacamataku, Aku akan melihat sesuatu yang sudah tidak tertolong lagi.
“Kenapa___kenapa, kenapa___?”
Hanya itu yang bisa kuucapkan. Marah pada diriku sendiri, Aku memeluk erat tubuhnya. Dia tidak membalas pelukanku. Dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Yang dia lakukan hanyalah tersenyum bahagia.
“Jangan____!” Ini tidak mungkin terjadi. “Kenapa_____kau___kenapa kau selalu melakukan semua seorang diri?! Kita rekan! Kita berjanji akan saling membantu sampai akhir!”
“Ah,.....benar juga...... sepertinya......aku sedikit lupa.......” kata Arcueid lemah. Dia masih tetap tersenyum
“Bisa-bisanya kau lupa! Aku bilang Aku akan membantumu! Tapi____tapi sekarang.......!!”
“Tidak Shiki........ kau..... sudah membantuku lebih dari cukup.....*Uhuk*” Arcueid terbatuk. Batuk berdarah. Dia terus tersenyum menahan rasa sakit.
“Aku.....ingin berterimakasih. Aku senang.......... Aku masih mampu........ melindungimu dari Roa.”
Aku terhenyak mendengar kata-katanya.
Mata Arcueid kosong.
“Ah,___ ya___ sama-sama” Aku tidak bisa. Aku tidak bisa berbohong dengan baik.
Cahaya matanya meredup. Suhu tubuhnya mendekati nol.
Aku akan kehilangan dia. Apa aku akan kehilangan dia seperti ini?
“Ar....cueid.....”
“____ Y, ya?”
”...... Minum darahku. Kalau kau melakukannya, kekuatanmu akan kembali....” Aku mengatakannya tanpa berpikir panjang.
Dia tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?! Jangan katakan kau masih takut! Kau pernah betanya seandainya burung dan ikan memiliki kecerdasan, apakah aku akan tetap memakannya? Ya. Akan kumakan. Kalau aku harus melakukannya demi hidup, aku akan melakukannya. Bukankah mengambil hidup mahluk lain untuk mempertahankan hidup adalah hukum alam?!”
Bukankah itu yang dikatakannya dulu? Terus kenapa sekarang dia hanya menggeleng?
“Aku.... tidak suka ‘seandainya’” jawab Arcueid lemah
Itu adalah kata-kataku. Tapi dulu dia mengatakan kalau dia suka ‘seandainya’?
“___Benarkah, Arcueid? Tapi aku suka ‘seandainya’. Meskipun hanya sedikit, tapi___ tapi aku merasa masih ada harapan” Tenggorokanku terasa kering. Aku tidak bisa bicara leluasa.
“..... Benar...... Tapi sekarang...... aku menginginkan sesuatu yang lebih......”
Dengan sesenggukan, aku bertanya apa itu
“.... Aku ingin kau menciumku, Shiki.....”
Apa? Hanya itu?
Aku menempelkan bibrku kepada bibirnya. Tidak manis ataupun lembut seperti sebelumnya. Aku mencium bibirnya yang dingin, tanpa kehangatan.
Setelah itu, dia tersenyum. Dia tersenyum bahagia.
“Aku.... selalu .....ingin melakukan itu.......”
“.....Oh? kau menyukai hal-hal yang aneh, Arcueid”
“..... Ya. Tapi aku bahagia. Aku sudah hidup sangat lama, tapi baru kali ini aku merasa bahagia seperti ini.”
___Jadi
“Aku mulai merasa...mungkin.... menghilang seperti ini bagus juga.”
Setelah bergumam, kehangatan tubuhnya lenyap sama sekali.
“Ar.....cueid?”
Tidak ada jawaban.
Meskipun Aku masih memeluk tubuhnya.
Meskipun Aku masih merasakan kelembutannya.
Meskipun Aku masih mengingat suaranya ditelingaku.
____Tidak akan lagi.
Aku tidak akan merasakannya lagi.
“A________!”
Apa yang telah kulakukan? Aku ingin membuatnya bahagia.
Aku ingin mengajarinya banyak hal.
Aku ingin mengajaknya mengunjungi banyak tempat.
Aku ingin bersamanya selamanya
Tpi tidak akan lagi terjadi.
Dia sudah tidak ada. Bagaimanapun kau melihatnya, dia sudah tidak ada. Sebelum aku mengatakan perasaanku, dia, dengan seenaknya, meninggal.
Aku ingin melupakan semua ini.
Kematian ini
Ketenangan yang membuatku gila ini.
Tapi tidak mungkin aku melupakannya.
Tap tap!
Aku mendengar langkah kaki orang yang membuat semua ini terjadi padaku.
“Sudah selesai, Shiki?” katanya
“Ya, sudah selesai” jawabku.
Aku melihat kearahnya. Kami saling berhadapan didalam sinar bulan yang masuk melalui jendela. Roa tidak bergerak. Mungkin dia tahu kalau dia saat ini berada dalam posisi yang dominan.
“Tidak kusangka kau masih hidup” kata Roa seakan tidak terjadi apapun.
Aku memelepas kacamataku, dan memainkan pisauku.
“Kelihatannya, orang yang bisa melihat kematian, juga bisa menghindari kematian. Ini bukan masalah kuat lemahnya energi kehidupan yang dimiliki” kata Roa.
“Kau yang bicara begitu. Kau, dan aku. Kita yang pernah sama-sama mengalami kematian”
“Benar!” kata roa tersenyum sinis. “Orang yang bisa kembali dari kematian, dapat mengerti apa arti kematian itu. Kau dan aku adalah contoh dari kejadian khusus tersebut. Aku sudah mengalami 17 kali kematian, tapi kau hanya mengalaminya sekali. Jujur saja, pasti ada perbedaan dalam kemampuan laten kita. Aku penasaran, kemampuan apa yang akan kumiliki kalau aku berreinkarnasi kedalam tubuhmu.”
Suaranya terdengar sombong dan memuakkan. Mendengarnmya saja memuatku saklit kepala.
“Aku punya dua hal untuk kutanyakan, dan satu hal untuk kuberitahukan padamu.” Aku mengatakannya sambil menahan sakit kepalaku.
“__Oh? Ok, silahkan” Karena mungkin terlalu percaya diri akan posisinya yang lebih menguntungkan, Roa menjawab sambil tertawa kecil.
“Pertama, kenapa kau membunuh Arcueid?”
“Kenapa? Dia selalu membunuhku. Jadi tidak aneh kalau aku membunuhnya. Sebenarnya yang kuinginkan bukanlah putri lemah seperti ini. Diriku yang dulu, tidak pernah bisa mengalahkan tuan putri ketika dia masih hidup. Tapi tidak ada gunanya menghabisi True Ancestor yang tidak berbeda dengan vampire biasa. Karena dia sudah tidak berharga lagi, kuputuskan untuk segera menyelesaikannya”
Memainkan lidahnya, Roa tertawa.
Mendengar jawabannya, Aku ingin menghabisinya secepat mungkin.
“Terus apa lagi? Jangan bilang kau mau melawanku dengan kondisi seperti itu, Shiki”
Aku tahu itu! Aku tahu aku bahkan masih belum mampu untuk berdiri dengan benar. Tapi Aku terus melihatnya dengan penuh kebencian.
“Sudahlah, meskipun kau bisa melihat titik kematianku, kalau kau tidak bisa menyentuhnya, percuma saja. Kau tahu, aku mungkin terlalu menganggapmu tinggi. Tapi sekarang, karena kepribadian SHIKI sudah mulai menghilang, Aku lebih Roa daripada SHIKI.”
Roa melangkah maju.
“Tidakkah kau bangga Shiki? Mungkin didunia ini hanya kita yang mempunyai mata mistis yang dapat melihat kematian. selain itu, kita bisa saling mengerti lebih daripada orang lain. Mungkin orang yang bisa memahami aku hanyalah kau.”
“...Kau mau mengajakku bergabung?”
“Aku tidak mengajakmu. Aku hanya membiarkanmu bergabung. Aku sendiri tidak peduli apa yang ingin kau lakukan. Tenang saja setelah kuminum darahmu, akan kuubah kau menjadi mahluk yang tidak ragu menggunakan kemampuanmu itu”
Aku meggeretakkan gigiku.
“Terserah kamu. Sekarang pertanyaan kedua. Yang bisa kau lihat garis, atau titik? Lebih jelasnya, kau bisa melihat kematian pada mahluk hidup bukan? Apa kau juga bisa melihat kematian benda yang lain?”
“Huh? Bicara apa kamu? Benda mati tidak punya kehidupan. Hanya mahluk hidup yang memliki kematian.”
Aku mengangguk mendengar jawabannya.
“Begitu ya? Aku sudah mengerti semuanya Vampire”
Aku mengacungkan pisauku. Rasa sakit menyerang kepalaku. Dan saat ini, aku hanya bisa melihat satu hal.
“Sudah cukup bicaranya. Aku masih harus menghabisi wanita gereja itu. Kau beruntung, Shiki. Setelah aku membuatmu menjadi vampire, lawan pertamamu adalah wanita yang sangat kau percayai itu.” Roa kembali berjalan mendekat.
Mataku yang masih berkunang-kungang, masih belum bisa terfokus pada sosoknya.
“____Yang kulihat, dan yang kau lihat, sangat berbeda, SHIKI! Yang kau lihat adalah hidup. Dan kau tidak mengerti sama sekali mengenai kematian. karena itu kau tidak bisa membunuhku. Yang bisa kau bunuh hanyalah wanita yang sudah lemah!”
Kepalaku serasa terbakar. Sangat panas. Aku tersenyum. Tersenyum sadis.
“kau ngomong apa?”
“Kalau kau memang bisa melihat kematian, kau tidak mungkin bisa mempertahankan kewarasanmu sampai saat ini. Apa yang kau lihat adalah sesuatu yang membuat menjaga sesuatu tetap hidup. Kalau kau benar-benar bisa melihat kematian, saat ini, aku tidak mungkin mampu berdiri.”
Sebagai contoh, semua yang kulihat seperti tanah gersang. Aku melihat lautan kematian. semua akan menghilang begitu kusentuh.
“apa maksudmu___?” Aku melihat sedikit rasa takut dari suara Roa
“Melihat kematian, artinya kau dipaksa melihat bagaimana rapuhnya dunia ini. Tanah ini seakan tidak ada. Dan langit seakan siap runtuh kapan saja.”
“kau___kau ngomong apa?!” Suara Roa bergetar.
Tentu saja karena dia tidak mungkin mengerti satupun yang kuucapkan. Artinya, mata kami mungkin tampak sama. Tapi, sebenarnya jauh berbeda.
“___Hentikan____jangan melihatku dengan mata itu____”
Takut. Roa ketakutan. Dia sendiri mengatakan bahwa manusia takut akan sesuatu yang tidak diketahuinya.
“___Kau tidak pernah melihat ilusi hancurnya dunia ini dalam sekejab, Roa. Itulah yang namanya melihat kematian. Mata ini. Kemampuanku ini bukanlah kemampuan yang bisa seenaknya kau umbar seperti itu”
Ya. Dulu, aku bahkan takut untuk berjalan. Seandainya aku tidak bertemu dengan orang itu, mungkin sudah sejak dulu aku menjadi gila.
“Kau berbuat kesalahan, Vampire. Kau tidak tahu bahwa hidup dan mati seperti uang logam. Selalu bersama, tapi tidak pernah saling berhadapan.”
“Kuperingatkan kau! Jangan melihatku seperti itu.....!”
Roa berlari. Dia takut. Dia menghindariku.
“Percuma.” Kataku.
“Akan kautunjukkan perbedaan kita. Inilah yang disebut melihat kematian”
Aku mendekati titik kematian dilantai, dan memotongnya. Dan dalam sekejab, lorong yang menghubungkan dua gedung sekolah, tempat kami berada, retak.
“____Ahh!!” Suara teriakan Roa tertelan suara lorong yang runtuh.
Lorong ini sudah mati. Batu bata yang menyokongnya pecah dan rubuh. Bagi roa, ini seperti serangan mendadak yang sangat mengejutkan. Roa terjatuh bersamaan dengan rubuhnya bangunan.
Lorong itu rubuh didepan mataku. Menahan sakit dikepala, aku berlari menuju tangga. Melewati tubuh Arcueid, aku menuju halaman.
Dibawah sinar bulan purnama, halaman sekolah terlihat seperti lautan garis maut. Dan ditengahnya, ada sesuatu yang bergerak-gerak.
Rupanya roa juga kikuk bila menghadapi kematian yang sebenarnya. Memaksa tubuhku yang hampir pingsan, aku berlari menuju kearahnya.
Roa benar-benar hebat. Setengah dari tubuhnya sudah tidak ada. Tapi setengah tubuhnya bagian atas masih bisa bergerak. Jumlah energi kehidupan yang dimilikinya ini sesuatu yang patut dihargai.
“___Apa, itu tadi?” Teriak roa.
Berlari melewati reruntuhan, Aku melesat kearahnya.
“___Shiki” Roa berpaling kearahku. Matanya dipenuhi kebencian.
“___Dasar monster!” Suaranya dipenuhi ketakutan dan kebencian.
“Siapa yang monster?” kataku tepat didepannya.
Titik kematian Roa berda sedikit di kanan jantungnya. Perlahan kutusukkan pisauku. Aku merasakan seperti memotong-motong kertas. Peasaan ketika aku memottong kematian.
“Ah…” Roa berteriak sedikit.
Dia pernah mengalami kematian, jadi dia seharusnya tahu tentang perasaan ini dengan sangat baik.
“....Kau tidak takut dengan ini ya? Ya. Mungkin karena kau sudah terbiasa. Tapi kau merasakan ada yang berbeda bukan?” tanyaku sambil tersenyum. “Kali ini, kau tidak bisa berreinkarnasi lagi”
Setelah mencabut pisauku, aku berjalan meninggalkannya. Roa masih belum mati. Seperti Arcueid, seseorang yang telah hidup lama, memiliki energi kehidupan yang lebih besar..
Nafasku melemah.
Pikiranku kabur.
Ini artinya aku sudah mencapai batasku.
Arcueid pernah mengatakan jangan memaksakan diri untuk melihat kematan sebuah benda. Kalau aku melakukannya, mungkin pembuluh darah diotakku bisa pecah.
Tapi aku sudah tidak peduli lagi........
Bruk!
Aku terjatuh ditanah. Aku menoleh kebelakang. Aku melihat setengah dari tubuh roa mendekatiku.
“K, kau,kau____”
Dia mendekatiku.
“Meng, hilang___Aku,__menghilang___”
Tangannya yang berlumuran darah mencoba mencekikku.
“Kenapa,__kenapa aku menghilang? BagaimanA, Kau, MEMbunUH, Ku,Ku,ku,kU,kUUuuuUUUuU____?”
Membuka mulutnya yang seperti gergaji, dia bergerak ingin mengigitku.
“Aku, TidaK AKan MenHilANG. Kau dAn Aku SalinG BerHubUngaN, Kau TaHu?”
Giginya menancap dileherku. Tiba-tiba,
“Ah__?”
Dia menghilang. Tubuhnya hancur berantakan.
“__OK, dengan ini, Aku yang membunhnya”
Senpai tiba-tiba muncul dengan pedang ditangannya. Dia tertawa riang.
“Eh?”
Aku tidak begitu mengerti.
“Kubilang, aku yang membunuh Roa. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh membunuh manusia. Kau bukanlah orang yang harus masuk kedalam duniaku. Jadi aku yang membunuhnya.” Kata senpai sambil berkacak pinggang.
“....Senpai, kau bercanda bukan? Kau berusaha agar aku tidak membunuh?”
“Mungkin juga sih. Tapi tidak apa-apa kan? Tapi yang lebih penting lagi, kau tidak apa-apa, Tohno-kun?”
Senpai bergegas memeriksa lukaku.
Lelah. Aku sudah tidak mau bergerak lagi. Aku ingin istirahat.
“...... –kun.......Shiki......hey”
Suara Senpai terdengar jauh. Mataku masih terbuka. Aku melihat ketas. Bulan purnama yang bundar. Perlahan semuanya menjadi gelap. •
Tuesday, December 23, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment