Pagi menyingsing. Hujan semalam telah berhenti. Hari ini sedikit berawan. Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarku tidak seterang biasanya.
Aku menguap. Setelah itu aku bangun dari tempat tidur. Aku tak dapat tidur nyenyak semalam. Setiap kali aku hampir tertidur, adegan pembunuhan terus terbayang dimataku.
“Darah ada dimana-mana”
Akal sehat dan ingatan menjadi modal yang sangat penting disaat-saat seperti ini. Aku terus teringat mimpi kemarin meskipun aku berusaha melupakannya.
“Mimpi, mimpi, mimpi.____mengapa harus terganggu dengan mimpi?”
Ya. Hanya mimpi. Aku harus cepat melupakannya.
Tok tok!
Seseorang mengetuk pintu. Sekarang jam enam lebih. Siapa itu, pagi-pagi begini?
“Permisi”
Hisui memasuki kamarku
“Ah, anda sudah bangun, Shiki-sama” Hisui sedikit terkejut.
“Yah, aku sudah tidur sejak sore, jadi aku bisa bangun pagi hari ini. Ada apa Hisui?”
“........”
Hisui tidak menjawab. Aku melihat Hisui membawakan seragamku.
“Ah, Kamu membawakan seragamku ya?”
“Ya” jawabnya singkat
“Maaf, Saya telah memperlihatkan sesuatu yang seharusnya tidak anda lihat.”
Apa yang seharusnya tidak aku lihat?
“Aku tidak mengerti, tapi terima kasih. Letakkan saja seragamku disana” aku menunjuk meja
Hisui hanya mengangguk. Pikirannya tampak kosong. Hisui berjalan pelan kearah meja. Namun tiba-tiba dia berbalik dan menatapku.
“Shiki-sama, bila anda memiliki sedikit waktu, Saya bisa menyiapkan kamar mandi untuk Anda”
“Mandi? Sepagi ini?”
“Ya. Saat ini tubuh anda sangat kotor, Shiki-sama. Bukankah lebih baik anda membersihkannya dulu sebelum berangkat kesekolah?”
Hisui mengatakannya dengan wajah yang dingin seperti biasanya. Suaranya terdengar datar.
Ah, aku pingsan di taman kemarin. Jadi wajar saja kalau tubuhku kotor.
“Baiklah, aku akan mandi dulu sebelum berangkat.”
“Saya mengerti. Dua puluh menit lagi, kamar mandi akan siap digunakan.”
Hisui meletakkan seragamku dimeja dan melangkah keluar.
Masih jam 6. 20 menit ini aku menunggu sambil melihat pemandangan diluar jendela. Setelah menunggu beberapa saat, Hisui memberi tahu bahwa kamar mandi telah siap digunakan.
Aku masuk kamar mandi dan membilas tubuhku. Rasanya sangat menyegarkan. Aku menahan nafas setiap kali air dingin mengguyur rambutku.
Mimpi yang sangat buruk. Pasti ada yang salah denganku sampai bisa bermimpi membunuh seorang wanita cantik seperti itu. Baru dua hari tinggal disini, aku sudah bermimpi seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan hari-hari selanjutnya.
“Bertahanlah, Shiki” aku berbicara pada diriku sendiri.
Aku sekali lagi mengguyur tubuhku dengan air dingin.dan segera menyelesaikan mandiku.
Setelah selesai, aku mengambil handuk yang sudah disiapkan oleh Hisui. Aku merasa ada sesuatu yang menusuk ketika mengelap leherku dengan handuk.
“Apa ini?”
Aku melihat leherku dengan cermin. Leherku berwarna merah dan lebam.
........
Tapi rasanya bukan masalah besar.
Aku kembali kekamar dan mengenakan seragam. Sekarang belum jam 7. Aku mengambil tasku dan segera turun. Aku secara tidak sengaja berpapasan dengan Kohaku didekat tangga..
“Selamat pagi, Shiki-san. Hari ini anda bangun pagi sekali.”
Kohaku membungkukkan badan sambil tersenyum.
“Anda juga tampak segar. Apakah anda baru saja mandi?”
“Ya begitulah, kau bisa tahu Kohaku?”
“Karena rambut anda belum kering benar. Dan anda tahu? anda terlihat lebih tampan setelah mandi.” goda Kohaku.
Aku sedikit memalingkan muka setelah Kohaku memberikan senyumnya yang hangat dan lepas. Aku sedikit merasa malu.
“Mohon anda menunggu sebentar. Sarapan akan segera saya siapkan.”
Ah, sarapan ya. Tiba-tiba saja aku teringat warna darah. Rasanya aku tidak nafsu makan saat ini.
“Apakah masakan ala barat seperti kemarin cocok dengan selera Anda?” tanya Kohaku
“Ah ya. Tidak apa-apa.”
“Kemarin anda tidak makan malam. Jadi aku katakan ke Hisui mungkin pagi ini anda akan terbangun karena suara perut anda yang keroncongan.” Kohaku sedikit tertawa.
“Aha ha ha, Sayang sekali itu tidak terjadi. Sebenarnya sejak kecil makanku sedikit. Jadi aku terbiasa melewatkan waktu makan.”
“Ah, pantas saja tubuh anda tidak ada lemaknya. Apakah anda juga seorang vegetarian?”
“Mungkin juga. Karena semua makanan yang ada di rumah keluarga Arima semuanya sayuran.”
Setelah membungkukkan badan, Kohaku kemudian menuju ruang makan.
“Ah, tidak usah Kohaku. Hari ini aku tidak sarapan. Katakan itu ke Akiha.” Kataku sebelum Kohaku terlalu jauh. “Aku berangkat”
Sebelum aku melewati pintu depan, tiba-tiba ada yang menahan tanganku. Kohaku.
“Shiki-san!”
“Eh?”
Aku tidak percaya ini. Aku melihat wajah marah Kohaku. Kohaku bisa marah?
“Apa yang anda katakan? Apakah anda sudah bercermin pagi ini?”
“Ya....Aku sudah bercermin......”
“Anda bohong! anda pasti belum melihat wajah anda sendiri di cermin!”
Ya, hari ini wajahku memang tampak kacau dan sedikit pucat.
“Aku tidak apa-apa kok. Hanya kurang darah”
“Tidak bisa! anda tidak akan sehat bila tidak sarapan! Bila anda tidak nafsu makan, akan Saya siapkan sesuatu yang mudah dimakan. Jadi silahkan menunggu dimeja makan.” Perintah kohaku galak.
Masih memegangi tanganku, Kohaku menyeretku keruang makan. Aku tidak punya pilihan selain mengikutinya. Toh, maksud Kohaku sebenarnya baik.
“Selamat pagi, kak. Bagaimana perasaan kakak sekarang?” Akiha menyapaku.
Sikap dinginya kemarin sudah hilang. Kurasa karena dia merasa cemas dengan keadaanku.
“Selamat pagi, keadaanku....baik....untuk beberapa hal.”
Setelah itu, aku menuju salah satu kursi disana.
“Ah, mohon tunggu disini sebentar, Shiki-san. Saya akan memanggil anda bila makanan telah siap.”
Kohaku kemudian meninggalkan ruang makan. Meninggalkanku sendiri bersama Akiha dan Hisui.
..........
Aku merasa kikuk.
“Kak, benarkah kemarin kakak pingsan ditaman?” Akiha bertanya
“Sepertinya begitu. Aku sendiri tidak begitu ingat. Tapi karena Hisui dan Kohaku bilang begitu, pastinya itu benar”
“OH! Berhentilah berbicara seakan-akan tidak terjadi apa-apa kak! Tubuhmu lemah. Jadi kalau kakak merasa tidak enak badan, segera hubungi rumah. Saya akan segera menyuruh seseorang menjemput kakak.” Tiba-tiba saja Akiha menjadi marah.
“Dengar, Akiha. Aku bukan anak kecil. Aku bisa berjalan sampai rumah seburuk apapun kondisiku.” Dikatai seperti itu oleh adikku sendiri, aku merasa sedikit tersinggung.
“Kalau begitu melihat kenyataan bahwa kemarin kakak tidak mampu berjalan sendiri sampai rumah, artinya kakak masih anak kecil?” Akiha membalas dengan sinis.
Cih
Aku kalah. Tidak bisa membalas.
“Yang kemarin berbeda. Meskipun aku menderita Anemia kronis, bukan berarti tubuhku lemah. Kamu Tidak perlu khawatir dengan hal-hal kecil!!”
“Apanya yang berbeda?! Kalau kakak tiba-tiba meninggal dijalan bagaimana?!!” Akiha tampaknya benar-benar marah. “Sebaiknya kakak mulai berlatih menjaga diri.”
“Dengar! Aku selalu menjaga diri. Aku tidak ikut klub apapun, dan selalu mengikuti saran dokter. Kamu tidak perlu memasukkanku ke sanitarium hanya karena sekali pingsan.”
“Oh! Seandainya saja SAYA BISA, akan saya lakukan saran kakak!”
Pagi ini diwarnai dengan pertengkaran kami berdua. Sedangkan Hisui tetap diam berdiri seperti patung.
“Sudahlah, ngomong-ngomong, bagaimana rumah ini?” Aku mengalihkan pembicaraan untuk menghentikan petengkaran.
“Maksud kakak? Jika tentang kepemilikan, sekarang rumah ini milikku” Akiha tampak sedikit lebih tenang sekarang.
“Bukan itu, yang tinggal disini cuma aku, kamu, Kohaku, dan Hisui. Terus kamar yang lain bagaimana?”
“Tidak digunakan. Semua kamar selain yang kita gunakan, semua dikunci. Kamarku dilantai dua sayap timur. Sedangkan kakak di sayap barat. Kamar Kohaku di lantai satu dekat tangga sebelah timur, sedangkan Hisui di dekat tangga sebelah barat. Kamar ayah dekat dengan kamar Kohaku. Ah, yang itu masih belum dikunci”
“Kamar tamu tetap dikunci, kecuali bila kakak membawa teman kemari. Untuk kamar penyimpanan dokumen masih terbuka, namun tidak boleh dimasuki untuk suatu alasan” tambah Akiha
Kata-kata ‘untuk suatu alasan’ membuatku curiga. Tapi toh tidak ada hubungannya denganku.
“Shiki-san, sudah siap!”
Aku mendengar suara Kohaku memanggil dari dapur.
“Baiklah, makan dulu.” Kataku santai
“Kakak! Bisakah kakak menggunakan bahasa yang lebih sopan?”
Akiha menatapku tajam. Akhirnya dia kembali seperti Akiha yang kukenal
“Aku lebih suka kamu tetap tenang bila mengkhawatirkanku” kataku tersenyum
“S....aya tidak khawatir..” Akiha sedikit terbata-bata. Wajahnya memerah.
Aku sedikit tersenyum, kemudian mulai makan makanan yang telah disiapkan oleh Kohaku. Selesai makan, aku berangkat kesekolah. Hisui mengantarku hingga gerbang depan.
“Selamat jalan”
Mengatakan hal yang sama setiap pagi, Hisui kemudian menatapku. “Shiki-sama, sebenarnya apa yang terjadi kemarin?” Hisui bertanya
“Kemarin? Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa tidak enak badan terus pulang cepat. Kemudian dalam perjalanan pulang, Aku_____”
Dalam perjalanan pulang?
“___Pingsan ditaman. Mungkin Akiha benar. Aku harus lebih berhati-hati”
“Saya tidak ingin menyalahkan Anda, Shiki-sama. Namun sepertinya anda sedikit memaksakan diri pagi ini. Tolong berhati-hatilah dan jaga kesehatan Anda.”
Hisui kemudian membungkukkan badan mengantarku pergi.
Semakin dekat dengan sekolah, aku semakin sering melihat murid-murid dari sekolahku. Sekarang hari sabtu. Mungkin karena itu mereka terlihat ceria. Aku akhirnya sampai perempatan dekat sekolah.
Sekarang masih pukul 7.30. sepertinya aku bisa berjalan sedikt santai. Lampu merah menyala. Aku berhenti di perempatan. Gerbang sekolah sudah terlihat. Karena jalan ini adalah jalur anak sekolah berangkat, maka didekat trotoar diberi pembatas jalan.
Tidak ada seorangpun selain murid sekolahku di jalan ini sekarang. Seharusnya seperti itu, tapi aku melihat seseorang yang memakai baju putih di seberang jalan.
“______ap...?”
Gadis itu.
Gadis berbaju putih, dengan rambut berwarna emas sebahu.
Alisnya tipis, panjang, dan matanya berwarna merah.
Aku pernah melihatnya sekali. Jadi tidak mungkin aku salah.
“________”
Tapi tidak mungkin.
Aku membunuhnya kemarin.
Aku memotongnya menjadi 17 bagian.
“____ap...?”
Tidak
Bohong
Ini mimpi
Hisui mengatakan padaku kalau, ........
“_____”
Tidak! Dia tidak pernah mengatakan seperti itu.
Hanya saja aku ingin mempercayainya sebagai mimpi.
Tapi kenapa?
Kenapa dia masih hidup?
Lampu hijau menyala. Murid-murid yang lain mulai menyebrang. Hanya aku yang tetap berdiri mematung dipinggir jalan.
Gadis itu duduk di pembatas jalan. Kakinya mengayun-ayun santai, seakan sedang menunggu seseorang. Aku tidak tahu berapa lama dia menunggu, tapi saat ini wajahnya terlihat bahagia.
Siapa yang dia tunggu?
Dia terlihat tidak sabar. Seakan sedang menunggu kekasihnya datang.
Aku merasakan sesuatu yang buruk.
“Ah___” Gadis itu akhirnya melihat kearahku.
Mungkin ini hanyalah sebuah ketidak sengajaan. Mungkin dia hanya mirip saja. Mungkin dia menunggu orang lain. Jika tidak, berarti sekarang aku sedang bermimpi buruk. Karena kemarin aku benar-benar membunuhnya dengan tanganku sendiri.
Dia tersenyum melihat kearahku. Dia tersenyum puas kearahku seakan-akan mengatakan ‘akhirnya kau datang’
Dia kemudian melompat turun dari pembatas jalan, memainkan rambutnya, dan berjalan mendekatiku.
“___Jangan mendekat___” kataku takut
Lampu kembali menyala merah.
“___Jangan mendekat___”
Dia terus berjalan mendekatiku diantara mobil yang melaju kencang.
Jarak diantara kami tinggal beberapa meter.
“Kuperingatkan!! Jangan mendekat!!”
Tahu apa yang akan terjadi, aku berteriak. Setelah itu, aku berlari menjauh, menghindarinya.
Deg deg!
Aku berlari dengan segenap tenagaku. Terus berlari tanpa menghiraukan sekitarku.
Hosh hosh!
Nafasku tak beraturan dan jantungku berdegup kencang Namun aku tetap berlari seperti dikejar setan.
Deg deg!
Aku menoleh kebelakang. Gadis berbaju putih itu berjalan mendekatiku. Dia terus mengikutiku. Gadis yang telah kubunuh, mengikutiku.
Hosh hosh!
Jantungku seakan meledak. Tapi aku tak peduli. Aku terus berlari.
Aku menengok kebelakang Dan kulihat gadis itu masih berjalan mengikutiku Dengan langkahnya yang ringan, dia bisa mengikutiku yang sedang berlari.
Hosh hosh!
Kepalaku terasa berat. Lengan dan kakiku panas dan serasa tercabik-cabik. Tapi aku terus berlari berlari berlari berlari dan berlari. Berlari sekuat tenaga, tapi tetap saja aku tak bisa melepaskan diri darinya yang hanya berjalan.
Hosh hosh!
Nafasku tak beraturan Aku seperti sudah berlari puluhan kilometer. Namun ketika aku menoleh kebelakang, dia masih terlihat. Berjalan mengikutiku.
Ha ha ha ha ha
Meskipun tidak lucu, aku mulai tertawa.
“Ha ha ha ha ha ha!!”
Aku berlari sambil tertawa. Aku merasa akan mati bila tidak berlari. Jadi kupaksa tubuhku ini berlari lebih jauh lagi. Alasannya sederhana. Bila aku tertangkap, dia akan membunuhku.
Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa itu semua cuma ilusi. Sayangnya aku tahu bahwa semua ini nyata.
Bruk!!
Aku terjatuh. Aku tidak tersandung sesuatu, hanya tubuhku yang sudah tidak mau lagi berlari. Aku mencoba berdiri. Aku berusaha menyandar tembok untuk berdiri. Tapi tidak ada gunanya. Lututku lemas, dan aku terjatuh kembali. Aku sudah tidak bisa bergerak.
Hah Hah!
Aku berusaha mengatur nafas. Aku kekurangan oksigen. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kulakukan.
Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Aku bahkan tidak tahu kenapa gadis yang kubunuh itu masih hidup. Padahal aku sudah membunuhnya hingga batas yang tak bisa dibayangkan oleh orang waras.
Jadi kenapa dia bisa menungguku didepan sekolah, sambil tersenyum?
“Aku sudah membunuhnya.”
Ya, aku yakin
Aku yakin
Aku yakin
Aku yakin
AKU YAKIN !!! JADI______!!!
Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa Kenapa ____________?!
Kenapa dia masih HIDUP?!!
“Ah? Sudah selesai?” Dengan langkah yang ringan, dia mendekatiku, menurunkan bahunya karena kecewa. .
“Hai, orang yang memberiku banyak masalah kemarin,” Dengan senyumnya yang hangat, dia menyapaku.
Mati Aku.
“Sudah selesai kejar-kejarannya? Kebetulan didepan sana jalan buntu. Jadi aku tak perlu khawatir dilihat orang.”
Dia tersenyum senang.
Aku panik. Aku melihat sekelilingku. Ternyata aku sekarang ada di gang yang kecil dan sempit. Bodohnya aku. Lari kesini sama saja dengan minta dibunuh.
“Akhirnya, setelah 18 jam menunggu, aku menemukanmu.”
Dia mendekatiku selangkah.
“Kau...!” aku menunjuk kearahnya, terengah-engah.
“Ya?”
“Aku yakin aku sudah_____”
“Benar, aku gadis yang kau bunuh kemarin. Senang rasanya kamu masih ingat.”
Tidak mungkin, tidak mungkin ini terjadi.
“Jangan bercanda! Orang mati tidak bisa hidup lagi!” Teriakku kepadanya
“Benar. Tapi tidak perlu sampai sekaget itu kan? Aku hanya hidup lagi” katanya santai.
Dia selangkah mendekat. Aku bisa mendengar langkahnya. Perlahan jarak diantara kami memendek.
“Hidup....*hosh hosh*....lagi?” Maksudnya ada dokter menghidupkannya lagi dengan semacam operasi? Dasar gila. “Jangan bodoh, tidak mungkin *hosh* ada manusia yang *hosh* bisa hidup lagi”
“Benar sekali.” Kata gadis itu “Masalahnya aku ini bukan manusia.” Tambahnya.
“Huh?”
Kata-katanya sangat sederhana, pendek, dan jelas. Jadi tidak mungkin aku salah mengerti.
“Kamu bukan manusia?” tanyaku
“Seeesh, apanya yang aneh? Kau pikir ada manusia yang bisa selamat setelah dipotong-potong seperti itu?”
Ya. Tidak mungkin ada. Yang bisa seperti itu hanya monster yang berbentuk manusia.
Sesuatu yang bisa hidup lagi
Sesuatu yang tidak bisa mati
Sesuatu yang bisa cepat pulih dan bergerak setelah dipotong-potong tidak bisa disebut manusia.
“Tidak mungkin...”
Tapi yang didepanku terlihat seperti seorang gadis biasa. Aku berusaha tertawa. Namun tenggorokanku tersasa kering sehingga tidak bisa melakukannya.
Sama sekali tidak lucu. Kalau dia bukan manusia, itu menjelaskan kenapa dia bisa hidup lagi. Aku harus tenang. Pikir dan analisa semuanya.
“Kalau kau bukan manusia? Terus kamu ini apa?”
“Aku? Kalian memanggilku vampire. Kau tahu, monster yang menghisap darah untuk bertahan hidup?”
Oh, akhirnya, kata ‘Vampir’ membuat semuanya jelas.
“Vampire ya?”
Dia tersenyum puas. Karena aku akhirnya mengerti.
Jawaban bodoh. Dari apa yang kudengar, vampir tidak berjalan disiang hari. Tapi itu tidak penting sekarang.
“Jadi apa yang diinginkan oleh monster satu ini dariku?”
Dia terlihat syok setelah aku bertanya begitu. Dia terdiam sesaat. Setelah itu, dengan berkacak pinggang, dia memandangku kesal.
“Kau lupa apa yang yang kau lakukan padaku kemarin? Aku bahkan tidak mengenalmu, tapi tiba-tiba saja kau memotong tubuhku seperti itu. Dan itu terjadi pada pertemuan pertama kita. Dan kau masih bertanya apa yang akan kulakukan padamu?”
Dia lebih terlihat jengkel daripada marah. Tapi bukan saatnya berpikir seperti itu. Saat ini ada seseorang yang pernah kubunuh, sedang komplain mengapa aku membunuhnya.
“Hei! Kamu dengar nggak, pembunuh?!”
“Ya ya ya, aku dengar. Maaf tapi bisa tolong diam sebentar? aku sedang meratapi ketidak beruntungnku.”
Seesh, benar-benar sial. Kemarin aku membunuh seorang gadis tanpa alasan. Karena ingatanku waktu itu samar-samar, aku menganggapnya hanya mimpi. Tapi ternyata aku salah. Tambah lagi ternyata yang kubunuh bukan manusia.
“___ha ha ha”
Aku hanya bisa tertawa. Tapi bagus juga. Kalau yang kubunuh masih hidup, artinya aku bukan seorang pembunuh kan? Dan seharusnya aku senang karenanya. Ya, dengan ini, aku bisa kembali hidup normal. Sebagai gantinya aku berurusan dengan orang aneh ini. Tapi lebih baik dari pada menjadi seorang pembunuh.
“OK, aku sudah tenang sekarang. Kalau kamu ada komplain, atau dendam, silahkan. Aku dengarkan. Bicaralah sepuasmu.”
“Yeah, aku punya banyak sekali yang ingin kukatakan. Tapi ngomong-ngomong kamu aneh ya?” tanya gadis itu tiba-tiba
“Terserah kamu mau komentar apa.”
“Ummmmm...”
Dia terus melihat wajahku.
Aneh. Biasanya balas dendam setelah seseorang melakukan sesuatu yang buruk padamu sudah menjadi semacam hukum didunia ini. Seharusnya dia membunuhku, tapi_____
“Lihat apa? Kamu mau balas dendamkan? Lakukan cepat”
“Ya teorinya sih begitu. tapi_____ enggak dulu deh, membunuhmu sekarang sangat tidak efisien” Dia masih terus melihat wajahku.
Kami berdua terdiam
.....
...........
..............
“Jadi, kau menyesal?” mendadak dia bertanya.
“Eh?” Aku mengenyitkan alis. Dia mengatakan sesuatu yang....... sangat tidak wajar.
“Aku bertanya apa kau menyesal setelah membunuhku? aku berpikir untuk memaafkanmu. Lagipula, sebagai manusia, kamu tidak terlihat jahat.”
“Memaafkan?___Aku?”
“Ya, kalau kau minta maaf.”
Tak bisa dipercaya. Apa yang tak bisa dipercaya? Bukan karena orang ini memaafkanku setelah kubunuh, tapi dia berkata seolah-olah dia itu orang yang baik dan pemaaf.
“Hei! Kalau ditanya jawab. Ayo, cepat jawab. Ini tidak bisa selesai sampai aku tahu kamu menyesal atau tidak.” Kali ini dia terlihat marah.
“..... ya, aku menyesal. Apapun alasannya, aku sudah membunuh orang.” Jawabku cepat. Benar, tanpa alasan yang jelas, aku sudah membunuhnya. “Aku menyesal telah memubunuh seseorang. Tapi yang terpenting yang kubunuh adalah Kamu, jadi_____”
Aku telah membunuhnya. Dengan sadis. Dengan cara yang paling sadis yang bisa dibayangkan.
“___jadi, kamu bisa balas dendam sekarang. Wajar saja kalau kau mau membunuhku disini.”
“Mmmm. Ternyata kamu bukan orang yang jahat.” Dia tersenyum. Meski dia memanggil dirinya sendiri vampire, dia memiliki wajah yang jujur.
“Baiklah, kalau begitu kuputuskan, kamu harus membantuku.”
“Huh?”
Membantunya? Bicara apa dia?
“Maksudnya membantu?”
“Kau akan membantuku melawan vampire yang membuat kota ini kacau”
Tunggu dulu aku jadi makin bingung
“Melawan vampire? Tapi katamu kamu sendiri kan_____”
“Oh, tidak, tidak. Maksudku vampire yang lain. Kamu tinggal disini kan? Pastinya tahu tentang pembunuhan berantai akhir-akhir ini.”
“Ya tentu saja.....Tunggu dulu!” Aku ingat sekarang. Semua korban pembunuhan kehilangan banyak darah kan?
“Jangan katakan kalau,_____”
“Ping pong! Benar sekali. Bahkan berita menyebut pelakunya adalah vampire. Anehnya, tidak ada yang melakukan sesuatu untuk melenyapkannya. Karena itu, aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya untuk mereka.”
“Sebentar, aku masih belum mengerti. Jadi kamu kekota ini untuk membasmi vampire?”
“Benar, Sayangnya sebelum aku berhasil melakukannya, aku diserang dan dibunuh oleh seseorang yang tak dikenal.” Kata gadis itu melirik kearahku. “yeah, serangan mendadaknya sangat sempurna. Aku dipotong menjadi 17 bagian tanpa sempat melawan.” Tambahnya
_ugh_
Aku tahu. Yang dia maksud itu aku.
“Sebelum aku pulilh seperti ini, aku bermaksud membunuhmu. Ini pertama kalinya aku dipermalukan seperti itu. Dan membutuhkan hampir 80 persen tenagaku untuk kembali pulih.”
“Tapi yang paling penting adalah rasa sakit yang kualami. Sakit sekali hingga seperti mau jadi gila. Tapi rasa sakit itu malah menjagaku tetap waras. Kau bisa bayangkan mengalami seperti itu terus semalaman?” keluhnya
Aku tidak tahu. Lebih tepatnya tidak mau tahu
“Jadi, dengan penuh kebencian, aku mencarimu. Aku benar-benar marah sehingga melupakan urusanku dengan vampire itu sejenak. Aku tahu kamu murid sekolah itu. Jadi aku menunggumu disana.”
“Aku jadi bingung. Kalau kau membenciku sampai seperti itu? Kanapa memaafkanku?”
“Mmmm...coba kuingat... selama menunggu, aku menjadi tenang, kepalaku menjadi dingin lagi. Aku sudah bisa berpikir jernih. Aku sudah memakai banyak tenaga, jadi kupikir lebih baik menjadikanmu perisai daripada membunuhmu”
“Itukah peranku sekarang? Sepertinya tidak menyenangkan.”
“Eh? Memang aku bilang apa?”
“Kau bilang memakaiku sebagai perisai.”
“Tentu saja. Aku sudah memaafkanmu. Tapi tetap saja kamu harus menebus dosamu kan?”
“Yah, meskipun begitu........”
“Hey, apa-apan kamu, kalau masih belum mengerti, kuulangi lagi. KAU membunuh AKU. Dan aku perlu banyak tenaga untuk PULIH. Sebenarnya tidak masalah kalau aku hanya mati. Tapi aku MATI dengan cara MENGENASKAN! Lukaku tidak bisa sembuh. Jadi aku harus membuat ulang tubuhku. Karena itu perlu tenaga untuk HIDUP KEMBALI. Kau mengerti, TUAN?!” katanya mempertegas.
Dia tampaknya kembali ingat kemarahannya yang sempat terlupakan.
“Pokoknya, sekarang aku lemah. Aku akan sembuh dalam dua hari. Tapi kalau sebelum itu musuh menyerang, aku akan dalam bahaya. Karena itu, kau harus jadi perisaiku.”
“Kamu menyuruhku begitu? Kamu kok memutuskan semuanya sendiri?”
“APA??!! Semua ini terjadi karena salahmu sendiri!!!” teriaknya marah “Atau jangan-jangan kau tidak merasa menyesal?”
Dia melihatku dengan tatapan mengancam. Mmmm..... tapi manis juga wajahnya.
Ini tidak adil. Menyesal atau tidak, menatapku seperti itu sungguh tidak adil. Tidak adil jika dia memiliki tatapan semanis padahal dia mengaku vampire.
“Uuuh...Aku....” Merasa kesulitan menjawab, aku mengalihkan pandanganku. “Huh?”Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang ganjil. “Tunggu dulu, apa itu?”
Aku berdiri dan berjalan. Aku berdiri ditengah gang dan kemudian sadar dengan sesuatu yang kulihat. Burung berwarna biru. Gagak, untuk lebih tepatnya.
....Gagak....biru. Gagak mencurigakan yang kulihat dua malam lalu.
“Oh, hebat” Kata gadis itu setengah berbisik. “Terimakasih atas kelambananmu, sekarang dia menemukan kita.” Gadis itu kemudian menoleh kearah ujung gang.
“Menemukan kita? Siapa?”
Aku juga menoleh keujung gang.
Kemudian____
“______!!!”
Terkejut, aku mundur selangkah. Tanpa kusadari ada seekor anjing yang berlari mendekat.
Anjing itu memiliki empat kaki yang kuat, dan lehernya terlihat seperti besi. Bentuknya seperti anjing berburu. Setiap orang pasti merasa ketakutan bila melihatnya. Anjing itu terlihat sangat kuat dan cepat.
“....Anjing....hitam?”
Aku gemetar. Anjing itu tidak terlihat seperti anjing liar. Tubuhnya sebesar doberman. Dia berdiri memandangi kami.
Gadis itu diam, tapi menatap tajam kearah anjing itu seakan terganggu dengan kehadirannya. Kemudian anjing itu melompat. Tidak! Hanya berlari. Tapi dengan kecepatan tinggi sehingga terlihat melompat.
“Eh?”
Anjing itu mengincar leherku. Aku melihatnya. Aku melihatnya menuju kearahku. Tapi aku bahkan tidak sempat berpikir untuk menghindar.
Buk!
Aku merasa tubuhku terdorong. Terdorong dari samping.
Bukan anjing itu. Tapi gadis berbaju putih tadi mendorongku sebelum anjing hitam tadi menubrukku. Dengan sebuah gerakan ringan, dia mendorongku ketembok dengan menggunakan satu tangan.
Suara ‘Brak’ terdengar ketika tubuhku membentur tembok.
“Kau! Apa yang kau lakukan?! Tetap waspada!!” teriak gadis itu.
Sadar serangannya gagal, anjing itu melompat lagi. Menggunakan tembok sebagai sandaran, anjing itu kembali menyerangku secepat kilat.
“______?!!”
Terlalu cepat. Aku tak sempat bereaksi.
Anjing itu membuka mulutnya yang dipenuhi gigi dan liur. Kali ini, aku kena.
“Kuh....!”
Giginya menancap dileherku.
Tapi dengan segera, anjing itu melepaskan gigitannya sambil berteriak kesakitan
“Eh____?”
Tidak mungkin! aku melihat anjing itu terlempar keudara. Anjing itu kemudian jatuh membentur lantai.
“Ap......?”
“Cih, Kamu malah membuatku memboroskan tenaga lagi.”
Gadis itu mendekati anjing hitam dengan tenang. Kepala anjing itu hancur seperti terlindas truk.
“Anjing ini.... mungkin mata-mata”
Anjing itu tiba-tiba meleleh dan seakan terserap oleh lantai.
“Hey, meleleh....tidak. dia terurai. Tidak mungkin. Tidak mungkin Chaos ada disekitar sini” kata Gadis itu seakan menyadari sesuatu
Menghela nafas panjang, dia mendekatiku.
“Oh, tidak terluka tampaknya. Jadi kurasa kamu baik-baik saja” Dia bergumam sesuatu
Leherku. Aku masih bisa merasakan gigi anjing itu dileherku.
“A...apa...itu?”
“Anak buah musuh. Nah, ini artinya sekarang kita sudah ketahuan.”
“Ketahuan? Maksudmu oleh vampir musuh yang kau sebutkan tadi?”
“Yah, tampaknya bakalan sulit. Sekarang aku benar-benar membutuhkanmu sebagai perisaiku.”
Dia mengatakannya dengan santai. Dan ditambah senyum lagi.
“Be...berhenti mengatakan hal itu....bodoh! Kau lihat tadi kan? Aku bahkan tak bisa apa-apa! Akan lebih baik bila kau bekerja sendiri!”
“Tidak juga. Setelah menolongmu tadi, sekarang aku benar-benar tak punya tenaga lagi.”
“Ap__?”
Aku berterima kasih telah ditolong. Tapi tetap saja____
“....Sepertinya aku tidak bisa. Aku tidak bisa melawan yang seperti itu.”
“__Bohong. Kemarin kau bisa membunuhku. Mengapa kau masih berbohong?!”
“Kemarin itu_____?” Aku sendiri tidak mengerti. “Dengar. Aku tidak bisa! aku hanya manusia biasa. Aku tidak bisa membantumu.”
“Sebenarnya yang perlu kau lakukan hanyalah berjaga ketika aku tidur. Kalau hanya itu, sepertinya tidak masalah, kan?”
“Itu__”
Dia memandangku dengan mata indahnya. Dan aku tidak bisa menolak mata itu.
“Aku__”
Aku tak bisa menolaknya. Karena aku pernah membunuhnya. Dia melemah karena salahku sehingga harus meminta bantuan orang lain. Ini tanggung jawabku. Selain itu, meskipun hanya kenal sebentar, sepertinya dia tidak jahat.
“Bagaimana? Bisakah seorang manusia biasa bekerja sama dengan vampire sepertiku?”
“Yah,____ kau tahu kan, sebenarnya____”
Aku berusaha mencari alasan. Tapi ketika aku melihat matanya, dia terlihat sedih.
Aaaargh! Jangan melihatku dengan mata seperti itu! Kenapa? Cara dia memandangku membuatku merasa bersalah dan tak bisa menolak.
“Sepertinya aku tidak bisa lari dari tanggung jawab. Jadi___”
Ya tuhan. Aku benar-benar akan menyesali keputusanku ini.
“Baiklah, aku akan membantumu. Musuhnya adalah pembunuh berantai kan, mungkin akan ada gunanya juga bila aku membantumu.”
“Eh? Maksudmu?”
“Aku tidak bisa jadi perisaimu. Tapi kalu hanya berjaga aku bisa.”
Aku merasa bodoh bicara seperti itu.
Tapi meski demikian,_____
“Wow, kamu serius?” Dia malah memasang wajah sangat terkejut. “Aku ini benar-benar vampire, kau tahu.” Tanya gadis itu tidak percaya
“Hei, kenapa bicara seperti itu setelah aku membuat keputusan?”
“Mmm.....benar sih..... tapi, sudahlah. Jika Kamu mau bekerja sama denganku, maka aku harus senang”
Dengan wajah bahagia, dia mendekatiku.
“Ok, kontrak sudah ditanda tangani”
Dia menjulurkan tangannya padaku.
“Sekarang saatnya berkenalan. Namaku Arcueid____hmmm.... nama keluargaku panjang. Jadi Arcueid saja sudah cukup. Aku vampire jenis True Ancestor. Kalau kamu?”
Aku menghela nafas mendengar perkenalan dirinya.
“Aku Tohno Shiki. Sayangnya, aku manusia jenis biasa.”
Menjabat tangannya, aku berdiri. Dia melihatku agak lama. Kemudian mengulurkan tangannya lagi.
“Senang berkenalan, Shiki. Aku akan memaksamu bertanggung jawab karena membunuhku.”
Aku tahu ada banyak jenis tanggung jawab di dunia ini. Namun mungkin ini pertama kalinya seseorang bertanggung jawab dengan membantu orang yang sudah dibunuhnya.
“Sial.... ini bakalan kacau”
Sekali lagi aku menjabat tangan gadis yang mengaku sebagai vampire ini.
*******
“Ruangan yang bagus. Sepertinya tidak masalah kalau menginap disini.”
Arcuied melihat sekeliling kamar hotel yang disewnya. Aku tak bisa berkata apa-apa
“Apartemenku mungkin sudah ketahuan. Jadi kita akan tinggal disini sementara waktu. Oh ya, tidak usah khawatir dengan uang. Aku kaya, jadi aku yang bayar.”
Dia kemudian menutup korden. Dia terlihat sangat ceria. Setelah itu dia mematikan lampu sehingga menjadi segelap malam.
Aku mengeluh, “Apa yang kau pikirkan Arcueid?”
“Banyak hal” jawabnya cepat
“Bukan itu maksudku!”
Aku ingin bertanya Kenapa kau memilih hotel mewah bukannya yang murah. Selain itu, dia menyewa seluruh lantai teratas hotel ini. Aku berusaha mengatakannya tapi tidak jadi. Saat ini tugasku hanya menjaga vampir ini, tidak lebih. Aku tidak akan bertanya pertanyaaan bodoh lain
“Tidak, lupakan. Lakukan sesukamu”
“Kamu aneh, Shiki. Tiba-tiba marah, tiba-tiba terdiam. Aku benar-benar tidak mengerti”
Kemudian Arcuied tiduran di ranjang, tersenyum seakan-akan sedang senang.
“Aku akan tidur hingga matahari terbenam. Sebaiknya kau istirahat kalau sempat. Vampire tidak banyak beraktifitas disiang hari. Jadi aku akan benar-benar berjaga setelah malam.”
Aku merasa bingung.
“Kamu barusan mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan kondisimu sekarang. Kamu barusan berjalan-jalan disiang hari kan?”
“Oh_____kalau aku sih tidak apa-apa. Sudah saatnya tidur. Selamat tidur, Shiki. Bangunkan kalau sudah malam.”
“He___hey!”
Seperti mesin yang dimatikan, Arcueid langsung tertidur.
“Ha.........”
Tidak ada penjagaan.
“Sekarang aku bisa lari kalau aku mau.”
Toh, dia yang memaksaku kesini.
“Padahal kemarin aku barusan membunuhnya, sekarang.......”
Bisa-bisanya dia tidur seperti ini.
Aku melihat wajah Arcueid yang tertidur. Dadanya terlihat naik turun ketika bernafas. Tapi tubuhnya tiak bergerak sama sekali.
Sangat tenang. Seakan-akan udara disekitar kami berhenti bergerak.
____________ tidurnya benar-benar nyenyak.
Arcueid sama sekali melepas kewaspadaan seakan dia sangat percaya padaku. Padahal kami baru saja bertemu.
“....Bodoh”
Dia mungkin terlalu jujur. Sekarang aku malah jadi khawatir. Tapi mungkin ini saat yang tepat untuk kabur.
“Aku sudah terlanjur berjanji”
Apapun itu, aku tak bisa melanggar janjiku sendiri.
Arcueid sedang tidur. Wajahnya pucat seperti orang sakit. Arcueid mengatakan saat ini dia lemah. Jadi mungkin dia tidak sadar apa yang bisa kulakukan saat dia tidur.
Sepi.
Kami berada di lantai 11. Karena Arcueid menyewa seluruh lantai ini, maka tidak ada seorang tamu pun disini. Yang terdengar hanya suara nafas Arcueid.
Ketika aku melihatnya seperti ini, dia terlihat seperti mimpi buruk yang sangat cantik. Kulitnya yang halus dan putih. Rambutnya yang berwarna pirang, bentuk tubuhnya, dan bulu matanya yang panjang dan tipis. Tubuhnya sangat sempurna. Aku tidak pernah melihat yang seperti dia. Untuk lebih tepatnya, mungkin sesuatu yang tak pernah lagi dapat kulihat seumur hidupku.
“________”
Vampire atau bukan, Arcueid tetaplah seorang gadis. Aku harus bertanggung jawab telah membuatnya selemah ini.
“Bertanggung jawablah atas perbuatanmu”
Aku tiba-tiba teringat perkataan Sensei. Paling tidak aku harus menjaganya malam ini.
******
____Putih.
Warna yang kulihat ketika bangun.
Membangkitkan kenangan.
Musim panas.
Langit biru yang luas, dengan awan-awan menggantung.
Pemandangan yang menggerakkan hati.
Terdengar suara burung gereja.
Cip cip cip cip cip
Hari ini sangat panas.
Dunia terasa seperti dalam penggorengan.
Uwaaaa, uh uh
U, waaaaa,
Suara Akiha yang sedang menangis.
Akiha yang selalu mengikutiku sedang menangis.
Seorang anak tergeletak dibawah kakinya.
Bersimbah darah.
Terbunuh
Mayat seorang anak laki-laki seumurku.
Sura burung gereja tidak terdengar lagi.
Kedua tanganku
Merah
Darah dari anak yang tergeletak itu
“SHIKI!!!!”
Orang-orang dewasa berlari mendekat.
Anak yang tergeletak itu mati.
Orang-orang dewasa berteriak.
Apa kau membunuhnya?
Mimpi ini
Sesuatu yang terlupakan
Sesuatu yang mulai teringat
*****
“Shiki, hey, bangun. Matahari sudah tenggelam.”
Seseorang membangunkanku. Suaranya tak kukenal. Dan tangannya yang dingin menyentuh bahuku.
“___Nnnnh...”
Arcueid berdiri dihadapanku. Dia sudah bangun. Dan ketika kulihat keluar, hari sudah menjadi gelap. Jam menunjukkan pukul 8.
“___Eh?”
“Jangan ‘eh?’ Sudah kubilang bangunkan aku setelah matahari tenggelam. Kamu malah tidur”
“....Ah, maaf. Aku benar-benar lelah hari ini.”
Aku sendiri tidak ingat kapan aku tidur. Terakhir yang kuingat adalah saat aku memandangi wajah tidur Arcueid.
“Geeez, kualifikasimu sebagai bodyguard bisa dicabut kalau begini. Kalau musuh datang pas kita tidur, habis sudah.”
“Iya ya, aku minta maaf. Lagian kamu bilang siang hari itu aman.”
“Aman atau tidak, aku tidak bisa yakin. Bisa saja mata-mata seperti tadi pagi datang menyerang.”
Arcueid marah. Yah, dia berhak marah saat ini. Aku tak berhak mengelak sebagai body guard malah ketiduran.
“Lagi pula aku ini vampire, kau tahu. Kok bisa kamu tidur tanpa merasa terancam? aku tidak mau kamu ketakutan tanpa alasan. Tapi paling tidak, cobalah untuk tidak tertidur”
Kutarik pikiranku tadi. Ternyata Arcueid tidak peduli apakah aku melakukan pekerjaan bodyguard dengan baik atau tidak. Dia cuma tidak suka aku tidur.
“Setelah aku bisa bergerak dengan sedikit enak, aku malah melihat wajah tidurmu yang bahagia. Kau terlihat sangat mudah diserang. Bisa tidur tidur seperti tadi disampingku, membuatku merasa martabatku sebagai vampire hilang.”
Vampir memangnya punya martabat?
“Yang sangat mudah diserang itu kamu. Aku pernah membunuhmu sekali, kau ingat? Tidak ada jaminan aku tidak akan melakukannya lagi, ya kan?” bantahku
“Ah?” Arcueid terkejut. Sekarang dia baru sadar. “Benar juga sih, aku kok bisa begitu ya? Mungkin aku jadi benar-benar percaya padamu setelah kita bertemu di gang kecil tadi”
Vampire aneh
“Baiklah, karena kamu sudah mempercayaiku seperti itu, haruskah aku menjagamu lagi sejak sekarang?”
“Yeah, sampai matahari terbit besok. Aku masih belum bisa meninggalkan kamar. Jadi Kamu tetap berjaga kalau-kalau ada orang yang masuk.”
Berjaga ya? Tapi kalau anjing hitam itu datang lagi, aku bisa apa? aku menghela nafas panjang. Tampaknya tugas ini memang tidak cocok bagiku.
“Boleh tanya Arcueid? Apa anjing hitam tadi dikirim oleh musuhmu?”
“Aku tidak yakin. Mungkin hanya untuk mengawasi saja. Mungkin juga rute patrolinya melewati tempat kita bertemu tadi. Dan hasilnya, aku ketahuan.”
“Ketahuan? Oleh musuh?”
“Yah. Seandainya aku dalam kondisi seperti biasanya sih, tidak masalah. Tapi sekarang keadaan terbalik. Kalau aku diserang sekarang, aku yang akan mati. Makanya aku harus bersembunyi seperti ini sampai kekuatanku kembali pulih.”
Musuh Arcueid. Vampire. Pembunuh berantai yang meneror kota ini.
“.....Arcueid, boleh Saya bertanya sesuatu? Maukah anda menjawab pertanyaan Saya?” aku bertanya dengan bahasa sopan
“Tidak masalah, tapi kenapa kamu tiba-tiba jadi formal begini?”
“Apa tujuanmu ke kota ini?”
“Aku? Memburu vampire. Itu tugasku disini”
“Aku tahu. Kau pernah bilang begitu. Tapi kamu sendiri vampire kan?”
“Apa kau masih tidak percaya?”
“Aku percaya. Hanya saja aku heran. Kenapa vampire memburu bangsanya sendiri?”
“Ah, kamu tidak suka pemikiran saling bunuh antar sesama spesies, ya?”
Benar aku tidak suka itu. Aku tidak suka pemikiran vampire yang membunuh vampire lain.
“Tidak aku hanya tidak bisa membayangkan sesuatu seperti itu terjadi” jawabku. “Vampire menghisap darah manusia kan? Jadi seharusnya kalian membunuh manusia. Bukan sesama vampire”
“Membunuh dan meminum darah itu sesuatu yang berbeda” kata Arcueid. “Tapi aku tahu apa yang mau kau katakan. Kau berkata tentang bahwa sesama spesies harus saling membantu, kan? Tapi tidak semua vampire jenis itu sama. Karena itu mereka tidak memiliki apa yang manusia sebut ‘persahabatan’”
“ Eh? Maksudmu kau ingin mengatakan bahwa kau jenis yang berbeda dengan vampire yang kau buru sekarang?”
“Benar. Yang aku buru adalah jenis vampire yang seperti pada cerita-cerita vampire karangan kalian. Mereka menghisap darah hingga si korban mati, kemudian menghidupkan mereka kembali, dan menggunakan mereka untuk meningkatkan kekuatan dan kekuasaan. Jenis vampire seperti itulah yang kuburu. Dan vampire yang berkeliaran dikota ini adalah sejenis itu.”
“Kau mengatakannya seolah ada beberapa jenis vampire didunia ini. Dan kau ingin aku menjadi perisaimu menghadapi vampire seperti itu?”
“Yah, ide awalnya sih seperti itu. Tapi setelah mengenalmu, aku berubah pikiran. Awalnya aku mengira kamu adalah orang suruhan gereja. Jadi mungkin kamu tahu informasi tentang musuhku kali ini. Tapi ternyata, kamu tidak lebih dari manusia biasa. Kau bahkan tidak tahu apa itu vampire” Arcueid menjelaskan. “Setelah kupikir-pikir, tidak mungkin mereka mengirim seorang exorcist ke negeri yang berada jauh ditimur ini.” Tambahnya
Arcueid bicara sendiri, dan aku merasa diacuhkan. Selain itu, apa yang dikatakannya sangat sulit untuk kumengerti.
“Kamu bicara apa, Arcueid? Aku tidak mengerti”
“Eh? Sebentar, bagaimana aku menjelaskannya ya?”
Arcueid terdiam. Dia mulai hanyut dalam pemikirannya.
“Begini saja, kamu jelaskan saja situasi sekarang. Untuk yang lainnya, aku bisa pelajari nanti.” usulku
“Begitukah? Terima kasih, Shiki. Jadi lebih mudah untuk menjelaskan sekarang”
“Tidak perlu. Teruslah menjelaskan”
Arcueid mengangguk patuh.
“Pada dasarnya, vampire yang berkeliaran disini adalah vampire jenis kuno. Dia menobatkan dirinya sendiri sebagai penguasa, dan melepaskan mayat hidup yang dibuatnya kekota. Dengan melakukan itu, dia meningkatkan kekuatannya sedikit demi sedikit. Dia adalah jenis vampire yang menghisap darah manusia.” Arcueid menjelaskan dengan sangat jelas.
“Sekarang dia tidak terlalu kuat, karena jumlah mayat hidup yang dilepaskannya tidak begitu banyak. Tapi semakin bertambahnya jumlah korban, semakin bertambah pula kekuatannya. Aku ingin menghancurkan tubuh utamanya sebelum hal itu terjadi. Tapi, aku belum menemukan persembunyiannya.” Tambahnya lagi
“Tapi begitu aku menemukannya, masalah akan cepat selesai. Masalahnya aku tidak punya petunjuk. Karena itu terpaksa aku menyelidiki keberadaannya disiang hari. Namun tiba-tiba aku dibunuh oleh seorang pembunuh yang sedang lewat, sehingga aku malah menjadi lebih lemah darinya sekarang.”
Arcueid terdengar seperti mengeluh. Dia melihatku dengan dingin.
“Ah, aku sekarang agak mengerti situasinya. Intinya ada vampire di kota ini. Kau datang untuk menghancurkannya. Karena tidak tahu mereka dimana, dan kau mencarinya. Saat itulah kau, __um__ kubunuh. Sekarang kau malah bersembunyi dari musuh karena melemah. Aku benar kan?”
“Yah, tepat” kata Arcueid tersenyum
“Kemudaian pertanyaan utama. Kau mengaku sebagai vampire. Kamu memang bukan manusia. Tapi aku juga tidak merasa bahwa kau adalah vampire”
“Yah, karena aku sedikit berbeda dengan jenis vampire yang kau ketahui.”
“Terus, bedanya apa?”
Arcueid berpikir sebentar. “Baiklah, tidak ada salahnya menjelaskan tentang kami padamu.”
Arcueid menarik nafas sebentar.
“Saatnya pelajaran dasar mengenai vampire” lanjutnya.
“Baiklah, terserah. Tapi jangan panjang-panjang”
“Yaa...... Aku akan mencoba sebisaku.”
Tampaknya dia tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang lain. Tapi karena aku punya banyak waktu luang, aku akan mendengarkan apa yang Arcueid katakan, dan mencoba memahaminya sebisaku.
“Vampire, terbagi menjadi dua kategori utama.” Arcueid memulai kuliahnya. “Yang pertama adalah yang terlahir sebagai vampire, dan yang kedua adalah manusia yang berubah menjadi vampire. Yang pertama disebut True Ancestor, dan yang satunya disebut Dead Apostles. Yang biasa kalian sebut vampire adalah Dead Apostles. Mereka menghisap darah manusia dan menjadikannya sebagai budak. Mereka lemah terhadap sinar matahari, dan dapat musnah dengan ritual tertentu. Musuh kita adalah salah satu dari Dead Apostles ini.”
Arcueid sekarang menggunakan kata ‘musuh kita’ bukan lagi ‘musuhku’. Aku tidak keberatan karena dia tidak salah, bila melihat situasi sekarang.
“Jadi Dead Apostles bukan vampire sejak lahir? Maksudnya?”
“Dulu Dead Apostles adalah manusia. Mereka memperoleh keabadian melalui sihir atau darahnya dihisap oleh True Ancestor. Mereka abadi setelah menjadi vampire. Meskipun tidak benar-benar abadi.”
“.........”
Jadi ada yang sudah jadi vampire sejak lahir, dan ada juga manusia yang menjadi vampire. Sepertinya ada yang salah. Ada sesuatu yang hilang dari teori ini.
“Hey, Shiki. Apa yang Kamu tahu tentang cerita Vampire?”
“Mmm....... mereka menghisap darah perawan, mereka bisa hipnotis, bisa berubah,.... seperti itulah,”
“Ya benar. Mereka menghisap darah perawan karena lebih murni daripada mereka yang sudah melakukan ‘pertukaran cairan’ karena itulah darah perawan paling cocok untuk memperbaiki sel vampire yang rusak. Seperti yang kukatakan tadi, Dead Apostles tidak abadi sempurna. Mereka tidak bisa mati karena tua namun mereka perlu mengisi ulang energi atau mereka akan menghilang. Semua mahluk hidup perlu nutrisi untuk beraktifitas kan? Vampire tidak akan mati selama mereka terus mendapat suplai nutrisi.”
Arcueid terdiam sebentar. Kemudian dia melanjutkan
“Dead Apostles menghisap darah karena memang perlu. Gen yang membentuk mereka tidak cocok dengan tubuh manusia. Ketika menjadi vampire, terjadi proses degenerasi yang cepat dalam tubuh mereka. Karena itu, mereka harus menghisap darah manusia untuk menstabilkan tubuh mereka. Bagi vampire, meminum darah itu tidak seperti makan, tapi itu hanyalah persyaratan minimum untuk tetap hidup.”
Kedengarannya sulit, dan panjang. Aku tidak bisa mengikuti logikanya, tapi Arcueid terus saja menjelaskan tanpa berhenti.
“Kita lanjutkan. Kemampuan menghipnotis dengan menatap mata adalah salah satu jenis mata mistis. Mata dan kata adalah jenis umum dari pola sihir. Jadi banyak sekali vampire yang memiliki mata mistis. Kami biasanya memiliki mata mistis pemikat. Kami tidak memikat seseorang dengan memandang mata korban, tapi kami memikat mereka yang memandang mata kami. Seorang vampir yang kuat dapat menggunakan mata mistisnya hingga mampu memaksakan keinginannya dan mendominasi pikiran korban. Namun mata mistis Dead Apostles tidak sekuat itu.”
“Kemudian yang dimaksud dengan berubah sebenarnya adalah membentuk tubuh lain dan mengontrolnya dengan pikiran. Begitu tugas tubuh buatan itu selesai, vampir akan memutuskan aliran mana didalamnya dan tubuh itu akan berubah menjadi debu. Sedangkan berubah menjadi binatang adalah salah satu cara vampire memperbaiki tubuhnya yang rusak. Bagi vampire yang sudah lama hidup, menstabilkan tubuhnya dengan darah manusia tidak begitu cocok lagi. Akan lebih efektif bila mereka memperbaiki tubuhnya dengan cara menghisap binatang kedalam tubuhnya. Vampir yang memperbaiki tubuhnya dengan cara seperti itu, dapat kembali menjadi binatang yang telah dihisapnya. Dari apa yang aku dengar, ada vampir yang sudah hidup lebih dari seribu tahun, dan telah menghisap 666 binatang kedalam tubuhnya.”
Arcueid terlalu terbawa dengan penjelasannya. Jujur saja, aku sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkannya.
“Yah begitulah penjelasan dasar mengenai vampire. Sekarang kamu tahukan, vampire itu seperti apa?”
“Yaaa..... sepertinya begitu” Sekarang semakin sulit untuk menerima kenyataan bahwa Arcueid adalah vampire.
“Sekarang giliranku bertanya.” Kata Arcueid
“Apa? aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya murid biasa.”
“Aku ingin bertanya tentang bagaimana kau membunuhku.”
“Huh?”
“Aku ingin bertanya tentang caramu membunuhku. Aku tidak percaya dengan Rune atau Kabbalah karena tidak berpengaruh padaku. Satu-satunya yang bisa melukaiku adalah sihir yang mungkin penggunaannya terbatas pada kalangan Shinto di negeri ini atau menggunakan pusaka. Bahkan sihir seperti itu tak bisa membunuhku sampai bisa seperti kemarin. Jawab Aku, Shiki. Pusaka apa yang membuatmu bisa melakukannya?”
“Pusaka? Apa itu?”
“Benda yang menyimpan sejarah dan kekuatan. Kau punya pusaka gaib kan? Seperti pedang, permata, atau apapun. Ayolah, Shiki.”
“Aku hanya seorang murid SMA. Aku tidak tahu apapun” aku berusaha mengelak.
“Bohong!! Tak mungkin manusia biasa, bahkan seorang penyihir sekalipun, yang bisa membunuhku. Kau menyembunyikan sesuatu, eh, Shiki?”
Tatapan mata Arcueid seperti kucing yang sedang marah. Tapi aku harus bilang apa? aku memang tidak menyembunyi.....EH! tunggu dulu
“Sebenarnya ada sesuatu. Tapi aku tidak tahu ..... tapi....”
Acruid masih menatapku sambil berkacak pinggang. Rasanya aku memang harus cerita.
“Ok baiklah. Aku cerita. Dari mana mulainya ya? aku bisa melihat ‘garis’ yang bisa untuk memotong”
“Eh?” Dia terpaku. Biasanya orang biasa tidak akan percaya cerita seperti ini.
“Maksudmu?” Arcrueid bertanya dengan serius. Dia tidak terlihat seperti biasanya saat ini.
“Maksudku, aku bisa melihat garis dimana sebuah benda bisa mudah terpotong. Benda hidup, tanah, pokoknya sesuatu yang dapat dipegang. Warna garisnya hitam, dan bila aku memasukkan sesuatu yang tajam kedalamnya, benda itu akan terpotong rapi. Mengerti?”
“________”
Mata Arcueid masih menatapku dengan serius. Namun kali ini matanya tampak sangat liar. Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Aku menahan nafas sejenak.
“_____ah, kukira mata mistis yang bisa melihat kematian hanya ada di dongeng-dongeng saja. Ternyata ada juga orang yang bisa menggunakannya, monster sepertimu”
“A, apa? Kurasa vampire tidak berhak memanggilku monster!” Kataku protes
“Monster, ya monster. Tidak ada seorangpun, bahkan diantara kami, yang bisa ‘melihat kematian’”
“Melihat kematian?”
Arcueid mengangguk membenarkan.
“Ada sirkuit sihir dimatamu yang telah terbuka, Shiki. Apakah kau lahir dengan mata seperti itu?” Dia kemudian bertanya
“Tidak, ketika lahir, mataku belum seperti ini”
“Kalau begitu, Kamu pernah mengalami kejadian hampir mati. Benarkan?”
“Wha___?”
Benar, kecelakaan delapan tahun yang lalu.
“Benar dugaanku. Kau memiliki kemampuan laten. Dan bangkit setelah dipicu oleh kejadian itu. ..........Mata mistis, huh? Kalau dengan itu, tidak heran jika kau mampu membunuhku.”
Dengan sebuah tarikan nafas, Arcueid menjadi normal seperti biasanya.
“Arcueid, kau tahu sesuatu tentang ini?”
“Tidak banyak sih, tapi, ya, aku tahu. Yang kau lihat adalah akhir dari semuanya. Titik kematian setiap benda. Lebih singkatnya kematian setiap benda.”
Aku ingat. Sensei pernah mengatakan hal yang sama. Tapi ada sedikit perbedaan. Yang kulihat hanyalah garis. Bukan kematian itu sendiri.
“Tapi yang kulaihat hanyalah garis saja.” aku berusaha protes.
“Aku bilang garis itu adalah ‘kematian’ setiap benda. Dengar Shiki, setiap keberadaan didunia ini, pasti akan mati. Kematian tidak selalu ‘menghampiri’. Namun kematian telah ditentukan sejak benda itu dibuat. Itulah yang dinamakan prinsip sebab akibat. Karena benda itu diciptakan, maka kematin telah ditentukan. Kau pernah dengarkan, Shiki? Ada awal, ada akhir. Kapan berakhir, telah ditentukan sejak awal. Itulah kebenaran dibalik garis yang kau lihat. Ini hanyalah sebuah konsep umum, tapi kalau mau berteori, maka aku akan mengatakan kalau garis itu adalah bagian terlemah dari sambungan antar molekul. Atau mungkin tombol yang mengaktifkan kematian dari suatu benda.”
“Tapi aku tidak tahu. Karena aku tidak dapat melihatnya. Tapi bukan hanya garis itu saja yang dapat kau lihat kan? Mungkin ada semacam titik diantara garis-garis itu?” Lanjutnya
“Ah?”
Aku ingat. Ketika pertama kali melihat Arcueid. Ketika aku bukan diriku sendiri.Aku melihat titik hitam.
“Ada, ada. Aku hanya melihatnya sekali, tapi aku benar-benar melihat titik hitam. Aku melihat beberapa ditubuhmu. Seakan-akan garis hitam itu disambung di titik itu”
Kalau boleh beranalogi, aku melihatnya seperti pembuluh darah.
Arcueid melipat tangannya. “Tapi aku terkejut. Kamu masih bisa hidup sampai saat ini. Kau pasti memiliki hati yang sangat tenang dan tidak peduli pada apapun, Shiki”
Arcueid mengatakannya seakan berfilosofi. Aku mengerti maksudnya. Tapi aku tidak mau percaya.
“Ya, kau melihatnya. Biasanya, ketika kau memotong leher seseorang, dia mati. Artinya berhenti setelah dipotong. Sebaliknya, jika kau tak dapat memotong leher seseorang, maka dia tidak akan mati. Ah, kalau Aku, anggap saja perkecualian. Untuk kasusmu, kau tak perlu memperhatikan sebabnya. Meskipun kau melawan sesuatu yang tak bisa dilukai, bila kau membunuhnya, maka dia mati. Bukan karena kau memotongnya terus dia mati. Tapi karena dia mati, terus dia terpotong.” Penjelasan Arcueid berhenti disini.
“Mengertikan? Jadi aku harus memanggilmu apa kalau bukan monster? Mungkin kau hanya menyebutnya sebagai garis. Namun matamu sebenarnya lebih istimewa dari pada pengguna kekuatan supranatural sepanjang sejarah. Kau, Shiki. Kau bisa membunuh apa saja. Kau seperti pembawa kematian itu sendiri”
Aku kehilangan kata-kata Jika benar apa yang dikatkan Arcueid, garis hitam yang kulihat adalah ‘saat mati’ bagi setiap benda. Aku melihat sekelilingku yang dipenuhi oleh ‘kematian’
“Kalau benar semua yang kaukatakan itu, maka aku bisa saja membunuhmu lagi” kataku
“Benarkah? Mau coba?” Arcueid menantangku
Arcueid membuka korden jendela. Lampu dimatikan. Satu-satunya pencahayaan hanyalah cahaya bulan yang remang-remang yang masuk melalui jendela.
“Ayo, silahkan. Jangan ragu-ragu.”
“______, kau yakin, Arcueid?”
Aku membuka kacamataku. Dalam sekejap, benda-benda disekitarku dipenuhi oleh garis hitam. Terlihat bulan yang berwana putih. Garis yang ada di badan Arcueid sangat tipis. Kalau aku tidak konsentrasi, aku akan kehilangan garis itu.
“Ah?!!” aku terkejut. Perlahan garis ditubuh Arcueid timbul-menghilang. Begitu terus berulang-ulang
“Jika aku belum pernah terbunuh, aku yakin, kau tidak akan pernah bisa melihat garis dibadanku. Tapi mungkin sekarang kau bisa melihatnya. Kau mengerti? Meski aku tidak punya ‘garis kematian’ pada malam hari, tapi kalau siang, ada beberapa yang mungkin jelas terlihat. Kau bisa membunuhku karena waktu itu siang hari. Dan sekarang kau mungkin masih bisa melihatnya karena aku menggunakan banyak energi untuk memulihkan tubuhku. Dengan kata lain, aku kehilangan keabadianku .”
Arcueid tersenyum “Jadi Shiki, bisa kau bunuh aku lagi?”
Mungkin bisa karena aku masih melihat garis hitam. Tapi aku tidak akan bisa melakukannya tanpa ragu seperti kemarin.
“Sulit. Garisnya terus muncul dan menghilang. Jadi aku mungkin tidak bisa melakukannya kecuali kau sedang tidur”
“Sulit bukan? Karena meskipun kau bisa melihat ‘kematian’, kau perlu memotongnya mengikuti garis dengan tanganmu sendiri. Selemah apapun aku, aku yakin dengan kemampuan tubuhku. Kau tidak akan bisa menangkapku”
Dia benar. Aku tak dapat menangkap binatang yang gesit. Aku juga tidak mungkin bisa menangkapnya. Artinya, meski aku bisa melihat garis, aku tidak bisa membunuh sesuatu yang tidak bisa kutangkap.
“Ah!”
Aku merasa kepalaku sangat sakit. Melihat garis hitam selalu membuatku sakit kepala.
Aku menggunakan kacamatAku, dan dunia kembali terlihat normal. Aku melihat Arcueid menatapku terus-terusan.
“Apa ada apa lagi?”
“Nggak, tapi kau tidak bisa melihat garis bila memakai kacamata kan?”
“Ya. Aku mendapatkan kacamata ini dari seseorang ketika aku pertama kali dapat melihat garis itu. Kacamata ini tidak ada ukurannya. Tapi aku bisa hidup normal karenanya.”
“Aku mengerti. Seteguh apapun dirimu, pilihanmu hanyalah menghadapi kematian setiap waktu akan membuatmu kehilangan mata atau membuatmu jadi gila”
Berkata demikin, Arcueid mendekat.
“Hey, boleh pinjam?” Arcueid menunjuk kacamataku
“Tidak. Soalnya ini penting. Tidak bisa dipinjam-pinjam.”
“Ayolaaaaah! Tidak akan rusak. Aku cuma mau melihatnya” kata Arcueid merengek seperti anak kecil
.
Arcueid terus mendekat. Aku punya firasat buruk.
“Baiklah, tapi sebentar saja” Aku menyerahkan kacamataku padanya.
Setelah memelihat-lihat kacamataku, Arcueid memandangku dengan tatapan curiga.
“Shiki, yang membuat kacamata ini, apa tinggal dikota ini?”
“Kurasa tidak. Aku bertemu dengan orang itu 8 tahun lalu.”
“Untunglah, aku tidak harus berhadapan lagi....yah, pokoknya lebih aman untuk tidak berurusan dengan Blue saat ini”
[ keterangan: huruf Ao (blue) digunakan untuk menulis Aoko]
“Arcueid, kau mengenl Sensei,____maksudku orang yang membuat kacamata ini?”
“Ya, aku kenal. Dia penyihir. Satu dari 4 orang penyihir yang tersisa. Kacamata ini, benar-benr sebuah maha karya. Aku bahkan tidak bisa merusaknya.” Wajah Arcueid menjadi lebih serius
“Tunggu! Kau berniat merusaknya?”
“Eh? Apa aku mengatakan seperti itu?” Arcueid langsung memasang wajah bodoh.
“Aku tahu!.... kau memang berniat merusaknya” Aku mengambil kacamataku dengan paksa.
“Tsk, padahal kamu sendiri yang mengatakan aku bisa gila kalau tanpa kacamata ini. Atau jangan-jangan kau memang ingin aku jadi gila?”
“Bukan begitu. Aku hanya tidak suka bagaimana kau benar-benar menjaganya.”
“....Hei, dengar......” Duh, seseorang, tolong jelaskan padaku bagaimana cara berpikirnya
“Kenanganku terhadap sensei memang sangat berharga, tapi aku tak bisa hidup kalu tidak pakai kacamata! Kalau aku melihat garis hitam selama 24 jam sehari, aku akan mati duluan karena sakit kepala sebelum aku jadi gila”
“Mmm, mungkin otakmu mengalami tekanan bila melihat garis itu. Kalau ada kesempatan, mungkin aku akan menelitinya lebih dalam”
“Sudahlah, aku tidak suka cerita panjang-panjang”
“Benarkah? Tapi aku suka bicara panjang dengan orang lain lho. Aha ha ha” Arcueid tertawa. Dia terlihat sangat care free.
Malam semakin larut. Kami berdua melamun sambil melihat jam. Sekarang sudah jam 4 pagi. Sebentar lagi matahari terbit.
“Satu jam lagi ya?”
Tidak ada yang terjadi sampai sekarang. Dan Arcueid tidak menunjukkan tanda-tanda ketegangan. Suasana sangat hening. Dan aku mulai percaya bahwa hari ini berakhir seperti ini.
“Hey, Shiki”
“Apa? aku tidak punya bahan pembicaraan lagi”
“Benarkah? Tapi akan sia-sia kalau kita tidak mengobrol dalam situasi seperti ini”
“Dengar, kau tahu berapa aku harus mendengar ocehanmu yang tidak masuk akal itu? Enam jam! Itu membuatku lebih lelah daripada sekedar berjaga.”
Arcueid memandangku dengan tatapan tidak puas. Benar selama 6 jam, Arcueid terus mengajakku bicara. Aku terus mengatakan sebaiknya tidur kalau memang masih lemah. Tapi dia menjawab ‘lebih enak ngobrol’. Heeeh. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya.
__kruyuuuuk__!!
Mana aku lapar lagi. Kalau kupikir-pikir lagi, terakhir aku makan pas sarapan kemarin. Jadi aku tidak makan lagi sepanjang hari.
“Kenapa tidak makan? Kalau kau lapar, kau bisa memanggil room service” saran Arcueid
“Aku tidak apa-apa. Kamu sendiri bagaimana? Kau lemah, dan kau tidak tidur. Paling tidak kau harus makan sesuatu”
“Kalau kau tidak makan, aku juga tidak. Makanan biasa memang sangat berguna, tapi aku tidak suka makan sendiri.”
“Makanan biasa? Memangnya ada makanan yang tidak bi___?”
Ah, aku hampir lupa. Dia vampire. Baginya, makanan artinya minum darah seseorang.
“Sebagai vampire, kurasa kau tidak makan banyak kecuali darah”
Meski tidak tampak, Arcueid benar-benar seorang vampire. Vampire membutuhkan darah manusia untuk tetap hidup. Jadi, sudah berapa banyak darah yang dia minum, dan berapa banyak korbannya.
“____”
Kupandangi wajahnya. Aku tidak bisa percaya. Aku tahu kalau dia vampire, tapi aku tidak percaya dia bisa meminum darah manusia.
“Kenapa? Apa ada sesuatu diwajahku?”
Secara tidak sengaja, mata kami bertemu. Aku segera mengalihkan pandanganku. Tapi Arcueid tetap menatapku. Dia tertawa terkikik.
“Apa kau penasaran?”
“Te...tentang?”
“Tentang jumlah orang yang kuhisap darahnya?”
Ugh! Dia membaca pikiranku. Senyum Arcueid semakin lebar. Dan aku tidak suka itu.
“Ya tentu saja penasaran. Aku tidak tahu kapan kamu akan berubah pikiran dan menyerangku.”
“Mmmm, ya. Aku mengerti” kata Arcueid. “Jadi pertanyaannya adalah, berapa banyak orang yang sudah kuhisap darahnya sampai saat ini?”
Dia berdiri dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela.
“Berapa banyak ya? Coba tebak?” Arcueid tersenyum riang dan melihat kearahku. Udara disekitarnya terasa ringan.
Sial, jelas sekali dia berusaha melakukan provokasi. Baiklah akan kutebak kalau begitu.
“Ada seratus?”
“Salah”
“Seribu mungkin?”
“Salah juga”
Arcueid tertawa seakan aku mengatakan hal yang lucu.
“Sial, apa mungkin cuma belasan?”
“Salah lagi. Ayolah, belasan, ratusan, ribuan, apa kau melihatku sebagai orang yang mampu melakukannya? Jahatnyaaaa. Aku tidak seperti vampire lainnya, tahu?”
“Aku salah? Memangnya vampire tidak begitu? Manusia saja kalau lapar harus makan. Kalau sudah masalah seperti ini, kau juga tidak pilih-pilih makanan kan?”
“Benar tapi,”
Arcueid berbalik membelakangiku.
“Sudah lebih dari 800 tahun aku tidak meminum darah, ataupun membunuh manusia biasa.”
Eh?
“Benarkah?”
“Mmm. Benar. Karena aku..... takut meminumnya.”
Huh? Takut meminum darah?
“Kau bercanda. Benarkan? Ada vampire yang takut minum darah?”
“Mungkin karena aku penakut. Karena itu aku merasa gagal sebagai vampire.”
Arcueid bergumam sendiri. Dia melihat bulan dari balik jendela. Lama sekali ia menatap langit. Punggungnya terlihat samar. Seakan akan keberadaannya hanyalah sebuah ilusi.
“....Begitu ya.” aku berbisik dan entah kenapa aku merasa lega. Tentu saja karena sekarang aku tahu, bahwa orang yang berdiri didepanku, bukanlah sesuatu yang jahat. Aku merasa aman. Tapi bukan hanya itu saja yang membuatku lega.
____Sial. Kenapa aku ini? Merasa lega karena sesuatu seperti ini, dan merasa senang karena kegagalan Arcueid.
___Ah!
Tiba-tiba aku merasa mau pingsan.
“Kenapa, Shiki? Keringatmu banyak sekali”
“Tidak, hanya kepalaku sakit.”
Aku tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu dibelakang Arcueid. Dibalik kaca jendela, ketika langit masih gelap, aku melihat seekor gagak biru yang menatapku.
“___itu?”
Aku tak bisa melakukan apapun kecuali menunjuknya. Arcueid segera menoleh kebelakang.
“Nero?” jerit Arcueid sama terkejutnya.
“BENAR. AKHIRNYA aku MENEMUKANMU, PUTRI”
Entah dari mana, aku merasakan adanya tenaga yang masuk melalui jendela. Mata Arcueid terlihat penuh kebencian. Dari luar, gagak itu berkaok dengan kencang
“BAIKLAH! aku KESANA SEKARANG!”
Gagak biru itu terbang. Yang tersisa hanyalah kegelapan, dan bulan yang bersinar putih.
Tiba-tiba,
BRUAK!!!
Dengan suara berat, kamar ini berguncang keras. Untuk lebih tepatnya seluruh hotel ikut berguncang.
“Ap....?”
Aku bangun dari tempat tidur. Arcueid tetap diam, menggigit bibirnya sendiri dengan perasaan marah.
“Arcueid! Goncangan barusan...?”
“_____”
Dia tidak menjawab.
“Katakan sesuatu! Ini bukan sekedar gempa bumi kan?!!”
Kalau aku harus menebak, rasanya ada seseorang yang menerobos masuk lobi dengan menggunakan kontainer besar dalam kecepatan tinggi.
“Arcueid...!!!”
Dia tetap terdiam. Raut wajahnya berubah seperti menahan rasa takut. Dia bilang kalau saat ini dia sedang lemah. Mungkin karena itu dia tidak menjawab.
Menit demi menit berlalu. Namun suasana hotel tetap sepi. Da begitupula Arcueid yang tetap diam dan tak bergerak.
Menggigit bibirnya sendiri, aku bisa melihat darah mengalir dari bibirnya yang terluka.
Apakah dia cemas? takut? Dia seakan menahan sesuatu. Dia bilang kalau dia tidak akan meninggalkan ruangan. Terus apa gunanya aku disini?
“Baiklah!”
Aku memutuskan apa yang akan kulakukan sekarang. Mengambil pisau dari saku, aku keluar kamar.
“Shiki?!”
“Aku hanya melihat keadaan saja. Jangan pergi dari kamar sebelum aku kembali.”
Aku melangkah keluar. Meninggalkan Arcueid yang tampak ingin mengatakan sesuatu. Tidak ada seorangpun dilorong. Aku mendengar suara ribut dibawah. Ada semacam kekacauan di lantai bawah. Aku mendengar suara orang-orang berteriak.
Guncangan tadi mungkin membangunkan tamu yang lain. Dan sekarang mungkin mereka sedang protes ke manajemen hotel.
“Sejauh ini, situasi masih normal.” Aku berjalan menyusuri lorong. Suara-suara ribut dibawah terdengar seperti suara ombak dilaut.
“______”
Tanganku yang memegang pisau seperti mati rasa. Bulu kudukku berdiri semua. Tiba-tiba saja mataku terasa pedih.
“_______”
Sakit.
Mataku sakit.
Kepalaku berat. Rasanya mau pingsan.
Aku tahu ini. Seperti ketika aku mau pingsan karena anemia.
“haaah.....haa....aah”
Tidak tahan dengan sakitnya, aku melepas kacamataku.
10 meter lagi aku sampai di lift.
Dengan suara ’ding dong’ pintu lift terbuka.
Didalamnya aku melihat manusia.
Berdarah.
Mati.
Didalam lift aku melihat potongan daging manusia
Dan dua ekor anjing hitam
Yang sedang mengunyah sesuatu.
“Wha_____”
Aku menahan nafasku.
Semuanya mendadak terlihat merah.
Darah mengalir keluar lift secara perlahan.
Didalam aliran darah itu, aku melihat jari, otak, tulang, tangan, dan bagian-bagian manusia yang lain.
Otakku menolak mempercayainya. Didepan sana, aku melihat dua ekor anjing yang memakan daging manusia. Dan aku mendengar suara-suara dari bawah. Suara mengunyah, tangis, dan teriakan minta tolong.
Aku membayangkan ada binatang dibawah yang sedang menyerang dan memakan tamu hotel yang lain. Aku mendengar suara orang berlari. Dan kemudian diikuti suara daging yang terkoyak. Aku mendengar suara gadis yang menangis, mengunci diri didalam kamarnya. Dan kemudian terdengar suara pintu didobrak.
Dibawah kakiku.
Dilantai bawah hotel.
Aku membayangkan neraka.
Aku merasa mau muntah tapi tidak bisa.
Kalau aku diam saja, aku akan menjadi bagian dari lautan merah didepan.
“hah hah hah!”
Aku memaksa untuk bernafas.
Gigiku berdenyit menggeram.
Anjing didalam lift menyadari kehadiranku.
Suara-suara dibawah tiba-tiba menghilang.
Dengan kata lain, tak seorangpun yang masih hidup.
Grrrrrrr!!!
Kedua anjing itu mulai engejarku. Aku melihat banyak sekali garis ditubuh mereka. Dan sebuah titik hitam didahinya. Tapi meskipun begitu, aku tak bisa bergerak karena takut. Tubuhku seperti lumpuh.
Anjing pertama menyerang dengan kecepatan luar biasa. Tak sampai dua detik, jarak 10 meter telah terlampaui. Mulutnya terbuka. Mulut dengan gigi yang terlihat lebih tajam dari pisauku, mengincar leherku.
Cepat dan Akurat.
TAPI!!!!
Aku tidak bisa dibunuh oleh mahluk seperti ini. Kutusukkan pisauku ke dahi anjing yang mengincar leherku. Tanganku bergerak sesaat sebelum anjing itu berhasil menggigitku.
Gerakanku sangat sempurna. Seperti mesin yang memang diciptakan untuk memotong, aku menusuk dahi anjng itu tanpa gerakan sia-sia. Biasanya meskipun otak telah mati, otot masih akan bergerak mengikuti perintah terakhir dari otak. Itu biasanya. Tapi seperti yang dikatakan Arcrueid, aku mematikannya seperti menekan tombol off pada lampu. Anjing itu langsung jatuh dan berhenti bergerak.
Anjing kedua menyerangku. Langsung saja kutusukkan pisauku kemulutnya yang terbuka. Tapi aku salah. Titiknya tidak disitu. Titik anjing yang kedua ada di dadanya.
Meski aku menusuk mulutnya hingga tembus kebelakang, anjing itu masih hidup
“Ah?”
Anjing itu menutup mulutnya. Tanganku serasa terkoyak. Rasa sakit membuatku sadar kembali.
Ini pasti bercanda. Aku seakan membirkannya mengunyah tanganku dengan menyerang mulutnya.
“Kauuuuuu!!!!”
Aku berusaha menarik tanganku. Tapi gigi anjing itu menancap sangat dalam.
Dan anjing ini masih hidup.
Dengan cepat, anjing itu menindih tubuhku.
“Ahhhh!”
Aku terjatuh. Tanganku masih digigitnya. Anjing itu menggigitku makin keras.
“_____”
Ini tidak mungkin.
Tidak ada anjing yang bisa menggigit seperti ini.
Aku melihat darah mengalir keluar dari mulut anjing. Apakah ini darah anjing? Atau darahku?
“Lepas___kan!”
Aku tidak bisa lepas! aku tidak bisa lari! aku harus membunuhnya! Tapi bagaimana? Tanganku yang memegang pisau ada didalam mulutnya.
“Aaaaa____aaaah!!!”
Tenang Shiki. Lihat dan pelajari situasinya. Begitulah kau biasanya mengatasi suatu masalah. Ada cara!! aku bisa melihat banyak garis dikepalanya. Dan titik hitam di dadanya.
Rencananya mudah.
Tapi bisa atau tidak?
“Guuu___uuuh!”
Tekanan di tanganku meningkat. Bisa-bisa tanganku hancur duluan.
Darah mengalir melalui wajahku.
Dari dahi, menuju mata.
Kesadaranku mulai pudar, dan menghilang.
Meski begitu aku tidak bisa membunuh.
................
‘Munafik!! Kau pernah membunuh kan?’
Ya tapi waktu itu lain. Ketika aku membunuh Arcueid, aku dalam keadaan gila. Dan ketika aku membunuh anjing yang pertama, itu diluar keinginanku.
‘Hei Shiki. Sensei pernah berkata. Gunakan kekuatanmu menuruti keinginanmu. Dan bukan keinginan orang lain’
Benar! Kalau menuruti keinginanku, maka aku tidak bisa membunuh.
‘Munafik. Bukankah kau dulu pernah....’
Ah! aku teringat mimpi tentang masa kecilku.
‘Jadi tunggu apa lagi? Bunuh atau dibunuh’
Aku melihat anak yang bersimbah darah didepanku.
‘Kau pernah.....’
Panas...darah ditanganku terasa panas.
‘Bukankah kau pernah membunuh seseorang?’
“AAAAAAAAAAAAAA!!!!!!”
Aku menusuk. Aku tidak lagi berusaha menarik tanganku. Tapi aku menusuk anjing itu lebih dalam. Aku mendengar suara anjing didepanku. Anjing itu menangis. Aku yakin rasanya pasti sakit. Tapi aku tidak peduli. Kutusuk anjing itu lebih dalam lagi.
Tanpa suara, ujung pisau keluar dari kepala anjing bagian belakang. Seakan tumbuh tanduk dari belakang kepalanya.
Setelah itu, kubelah kepalanya menjadi dua.Darah dan otak tersembur keluar. Meski begitu, anjing ini masih hidup.
Kalau begitu,
Kuambil pisau yang menembus kepalanya dengan tanganku yang masih bebas bergerak. Dan kutusuk titik didadanya. Dan kemudian anjing itu mati.
Aku melepaskan tanganku dari mulutnya.
“Baguslah tidak sampai terkoyak.”
Aku melihat tanganku yang bersimbah darah. Banyak sekali bekas gigitannya. Meskipun begitu, tampaknya tidak ada luka sobek di tanganku. Berarti darah yang mengalir itu berasal dari anjing hitam ini.
Terduduk lelah, aku melihat sekelilingku.
Nyut!
Kepalaku sakit
Aku melihat titik dan garis hitam dimana-mana. Disebelahku, ada dua mayat anjing hitam yang besar.
“Ha ha ha ha...ha..ha!”
Aku tertawa. Ini tidak nyata. Tidak mungkin ini nyata. Apa aku melihat mimpi buruk dengan mata terbuka?
Ding dong!
Lift kembali terbuka.
Aku melihat pria berjubah hitam berada didalamnya. Sakit kepalAku makin parah.
“Dia...?”
Ya. Aku pernah melihatnya.
“_____”
Dia mendekatiku.
“Kau...!”
Aku menatapnya tajam. Dengan pisau ditanganku yang teracung.
“_____”
Tapi dia tidak bereaksi. Dia tetap berjalan mendekat. Seakan tidak melihatku sama sekali.
Jarak diantara kami semakin mengecil. Setelah tinggal beberapa meter saja, dia baru menyadari keberadaanku.
Matanya sangat sadis. Tidak mungkin ada manusia yang memiliki mata seperti itu.
“Kukira semua orang sudah kubunuh. Ternyata masih ada yang tersisa”
Dia kemudian melihat mayat anjing disampingku.
“Bajingan kalian. jika kalian tidak bisa mengatasi satu orang saja, maka kalian tidak pantas menjadi bagian dari tubuhku.”
Dia berkata dengan nada tidak puas sambil mengangkat tangannya. Tiba-tiba saja tubuh kedua anjing itu mencair dan tererap masuk kedalam jubah yang dikenakannya.
“Ah,”
Dibalik jubah hitam pria ini, hanyalah kegelapan. Aku tidak bisa melihat garis apapun.
“I.... i.....”
Ini bisa bahaya. Pria ini berbahaya. Instingku mengatakan untuk lari, tapi tubuhku tak bisa bergerak. Pria itu mendekatiku.
“_____”
Harus....lari.... Tempat ini berbahaya. Lari. Nanti dibunuh.
Terlambat. Pria itu berdiri tepet didepanku. Tapi matanya melihat kearah yang lain.
“Makanan”
Dia mengangkat salah satu tangannya.
Bruk!
Seekor buaya muncul dari balik jubahnya. Mulutnya sangat besar. Cukup besar untuk melahap manusia.
“Ah______” Mati aku Dimakan buaya seperti seonggok daging.
Tiba-tiba, seseorang menarikku kebelakang.
Kromp!
Aku tidak percaya ini
Alih-alih memakanku, mulut buaya itu menggigit tubuh Arcueid yang baru saja menarikku kebelakang.
“Uuuugh...!”
Wajah Arcueid terlihat kesakitan. Dia melompat mundur sebelum benar-benar ditelan.
“.......”
Pria itu terdiam melihat Arcueid. Arcueid membalasnya dengan tatapan menahan sakit. Bajunya memerah karena darah.
“Tak kusangka seorang vampire bernama Chaos akan memainkan permainan sepele seperti ini. Seperti skenario mimpi buruk yang benar-benar buruk, eh. Nero Chaos?”
“Mmm. Aku juga tidak pernah bermimpi untuk dapat menangkap salah satu True Ancestor disini. Mungkin ini juga merupakan mimpi buruk untukku.”
Dengan tenang, pria bernama Nero menurunkan lengannya. Buaya itupun menghilang dibalik jubahnya. Dia hanya melihat kearah Arcueid. Seakan tidak peduli kepadaku, yang berdiri memegang pisau dibelakang Arcueid.
“Tapi apa-apan ini? Kudengar eksekutor sebelumku bahkan tak bisa melukaimu sedikit saja. Apa ini sebuah kesalahan? Sekarang kau terlihat sangat lemah. Bahkan lebih lemah dari mayat hidup yang kau serang digereja sebelum aku tiba disini, Arcueid Brunestud?”
“......”
Arcueid hanya terdiam
“Aku tidak mengerti. Hanya sedikit sekali senjata yang mampu melukaimu. Dan hanya pemburu suruhan gereja yang memilikinya. Dan aku tidak yakin kalau Burial Agency itu mau mengirim seseorang jauh kemari.” Pria itu menyipitkan matanya, dan kemudian melihat sekeliling.
“Tapi hari ini aku beruntung sekali. Aku tidak perlu menanyakan kenapa kau melemah. Akan kuambil kepalamu selagi aku punya kesempatan menang.”
“Tsk...”
Aku menggengam pisauku bersiap menerima serangannya. Tapi tiba-tiba pria itu malah menghilang. Alih-alih menyerang kami, pria itu memilih meninggalkan lorong menggunakan lift.
“Huh?” Aku tidak tahu apa yang terjadi. Pria itu, dua anjing yang menyerangku, kejadian di lantai bawah, tidak satupun yang aku mengerti.
“Shi___ki__”
Arcueid bersandar padaku.
“Ah!”
Lukanya parah. Meski darahnya sudah berhenti keluar, wajahnya masih tampak kesakitan.
Beberapa detik yang lalu, dia melindungiku dari pria berjubah hitam itu.
“Kau....kenapa?”
“Tampaknya aku terlalu meremehkannya. Kukira aku bisa menyelamatkanmu kemudian menghindari serangannya. Kerjamu bagus Shiki. Kukira luka akibat seranganmu sudah tidak terlalu terasa lagi.”
Wajahnya yang menahan sakit, berubah tersenyum.
“kau...dasar bod___” Aku tak bisa melihat wajahnya lagi. Dia terluka karena melindungiku. Seharusnya dia tidak tersenyum seperti itu.
Arcueid menyandarkan tubuhnya padaku. Dan perlahan matanya tertutup.
“.....bertahanlah, jangan menutup matamu bodoh! Bertahanlah! Kau adalah vampire yang tak bisa mati dimalam hari kan?”
“Ya benar..... tapi tampaknya aku sudah sampai pada batasku.”
“Ap......?”
”Maaf, tapi bisa kau gendong aku kembali ke apartemenku?” Pinta Arcueid
“Hei bertahanlah!..ini..kalau kau mati, Aku...... HEIII !!!!”
Aku memanggil Arcueid yang telah menutup matanya. Kemudian,
“....zzzzz”
Aku mendengar suara nafasnya. Dia tertidur.
*huh*
Sia-sia saja aku cemas. Dia hanya tertidur.
“Menyuruhku menggendongnya kekamar seperti itu. Egois benar dia.”
Memang egois. Tapi mau apa lagi? Lagi pula, jika kami tetap tinggal dihotel ini, aku merasa kami akan dapat banyak masalah.
“Ugh!”
Sakit kepalaku belum hilang. Kurasa aku juga perlu istirahat. Kalau tidak aku bisa pingsan.
“Apartemen Arcueid? Ah yang kemarin itu ya?” Memang hanya sekali kesana, tapi aku masih ingat tempatnya.
Kalau begitu, aku harus segera bergegas. Sambil menggendong Arcueid, aku segera meninggalkan hotel.
Perlahan, langit menjadi terang. Untungnya, sekarang masih sangat pagi, sehingga belum ada seorangpun yang bangun. Aku menggendong Arcueid tanpa dilihat orang lain.
Aku akhirnya sadar, kenapa pria berjubah tadi pergi. Karena matahari telah terbit. Dia tidak tahan dengan sinar matahari.
Setelah memastikan keadaan aman, aku berlari sambil menggendong Arcueid menuju apartemennya.•
Saturday, December 6, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment