Saturday, December 6, 2008

CHAPTER 6: Eyes of Death Perception

“Whaaaaaa.......!” Aku terbangun dengan setengah melompat.

*hah hah hah*

Nafasku tidak teratur, dan pikiranku kacau.

Tunggu dulu Shiki, tenang, tenang, Ok?

Pertama, ini masih kamarku?
Benar.

Kedua, aku masih ditempat tidur?
Benar, tampaknya begitu.

Ketiga, sekarang sudah pagi, dan tadi malam Aku bercinta dengan Arcueid?
Baguslah_____ ? Maksudku tidak bagus!!

Aku mencoba mengatur nafas. Tanganku menggenggam selimut yang basah oleh keringat. Tubuhku panas seakan aku barusan benar-benar tidur bersama Arcueid.

Perlahan aku mengangkat selimut dan melihat celanaku.

“.............”

Tampaknya hanya mimpi. Tapi aku tidak tahu haruskah aku merasa senang atau tidak.

Kenapa? Mimpiku semalam? Apa begitu tertariknya aku padanya sampai-sampai memimpikannya?

“Uuuuu.....”

Aku seakan masih bisa merasakan sentuhannya, kulitnya yang sangat lembut dan hangat. Aku merasa bersalah telah bermimpi melakukan itu dengan Arcueid, tapi mau apa lagi?

“Shiki-sama”

“Hiyaaaaaaaa.....!!!” Aku terkejut, begitu terkejutnya, aku sampai melompat turun dari tempat tidur.

“Hi, Hi...Hi, Hisuiii? Sejak kapan kamu disini?”

“Sejak sebelum anda bangun, Shki-sama”

Cara bicaranya tetap dingin seperti biasanya. Masih duduk dilantai, menutupi celanaku dengan selimut, Aku memandang wajah Hisui.

“Sebelum.... Aku.... Bangun?” Artinya, Hisui melihat wajahku yang sedang bermimpi? Kemudian aku bisa merasakan wajahku yang memerah.

“Mmm.... ap, apa waktu itu wajahku terlihat aneh?”

“Kalau bisa, saya tidak ingin menjelaskannya lebih lanjut”

“A__ah?” Aku tahu itu! Aku pasti terlihat sangat aneh.

“Tapi bila anda ingin, Shiki-sama, saya bisa menjelaskannya sedetil yang saya bisa”

“Tidak perlu....!!” potongku cepat. Wajahku serasa terbakar. Suaraku gemetar. “Ummm. Hisui-san?” Aku menambahkan kata ’-san’ dibelakang namanya kali ini

“Ya Shiki-sama?”

“Aku mau ganti baju. Jadi bisa tolong keluar sebentar?”

Aku ingin Hisui keuar sekarang. Mungkin agar aku tidak merasa lebih malu lagi. Tapi tampaknya, pagi ini Hisui tidak sepatuh biasanya.

“Setelah Saya memastikan anda benar-benar bangun, Saya akan keluar, Shiki-sama”

Kau bercanda! Kau pikir kenapa aku harus menggunakan selimut untuk menutupi tubuhku? Untuk menutupi sesuatu yang masih berdiri tahu!

“Pe, pergilah sekarang. Aku akan segera bangun, dan tidak akan tidur lagi. Janji! Aku akan segera ganti baju, dan turun keruang tengah sesegera mungkin.”

“Shiki-sama, apakah anda terluka sehingga tidak bisa bangun?” Dengan wajah cemas, Hisui mendekat.

“Tidak! Jangan! Aku berdiri, maksudku, aku bisa berdiri sendiri! Jadi jangan khawatir” Aku bergerak menjauhi Hisui sambil menyeret selimut.

“Kalau begitu, saya akan segera menyiapkan sarapan anda. Setelah selesai berganti pakaian, harap anda segera menuju ruang makan.” Dia terlihat sedikit curiga. Tapi dia kemudian membungkukkan badannya, dan keluar dari kamarku.

Haaah.... lega rasanya. Aku benar-benar terkejut. Mimpiku saja sudah mengejutkan, apa lagi Hisui melihatku ketika sedang bermimpi. Ini bisa jadi masalah. Ini salah Arcueid. Dalam mimpi saja dia masih suka merepotkan orang.

Aku segera berganti pakaian, dan turun.

Setelah agak tenang, aku duduk diruang tengah. Seperti biasa, Akiha duduk di sofa dan meminum tehnya dengan anggun.

“Selamat pagi kak. Tumben kakak bangun pagi-pagi sekali?” Sepertinya dia sedang senang. Dia menyapaku dengan senyum.

“Selamat pagi. Ada satu-dua hal yang unik pagi ini” Setelah mengatakannya, Aku kembali teringat mimpiku semalam.

“_uh!” Ini tidak baik. Aku masih bisa merasakan wajahku memerah.

“Kakak? Ada apa? Wajah kakak memerah” tanya Akiha cemas “Kakak demam ya? Kohaku! Kesini sebentar! Sepertinya Kakak tidak enak badan!”

Akiha memanggil Kohaku yang sedang berada diruang makan.

“Tidak apa-apa! Hanya sedikit flu. Tidak perlu cemas”

“Kalau memang flu, Saya malah khawatir. Bagi kakak, penyakit biasa bisa menjadi bahaya. Karena sistem kekebalan tubuh kakak lebih lemah dari kebanyakan orang”

Akiha menggunakan punggung tangannya untuk mengukur suhu tubuhku. Disentuh oleh tangannya yang dingin dan lembut_____

!!!

Ini tidak baik. Sama sekali tidak baik. Aku langsung berdiri, dan lari kelobi. Dan secara tidak sengaja, aku bertemu Hisui.

“Shiki-sama, anda sudah sarapan?”

“Ah, huh? Belum. Tapi, dimana tasku?”

“Saya membawanya, Shiki-sama. Anda ingin berangkat sekarang?”

Mengangguk, Aku mengambil tasku dari tangan Hisui.

“Aku berangkat! Tidak usah mengantarku!”

“Kakak! Pagi ini kakak bertingkah aneh?” Akiha tiba-tiba muncul didepanku.

“Sudah kubilang tidak apa-apa! Aku mau berangkat sekarang. Aku tidak sarapan hari ini”

“Tidak sarapan? Hei, kak___?”

Aku langsung lari keluar.

*hah hah*
Akiha tidak akan mengejarku sampai kesini. Karena kami sudah bukan anak kecil lagi, dia tidak akan mencegahku kesekolah.

Aku menarik nafas dan menenangkan diri.

“Untuk apa aku lari?”

Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. Jadi untuk apa lari seperti tadi?

“Aku benar-benar bodoh”

Tapi akan terlihat lebih bodoh lagi kalau Aku masuk kembali kerumah untuk sarapan. Sedikit mengeluh, aku berangkat kesekolah.

Aku sampai disekolah 30 menit lebih awal dari biasanya. Masih belum ada seorangpun murid disini. Mungkin aku orang pertama yang sampai sekolah.

Di halaman, klub Atletik melakukan latihan pagi. Saat ini aku tidak mengikuti satupun kegiatan klub, tapi sejujurnya, aku ingin sedikit banyak bergerak. Aku tahu kalau sebenarnya aku punya kemampuan dibidang atletik. Tapi karena anemia, aku hanya akan merepotkan teman yang lain saja. Dokter melarangku terlalu banyak berolah raga.

Di SMP, Aku sering diajak untuk ikut klub. Tapi aku selalu menolak. Tapi setiap kali aku menolak, aku merasa sedikit merasa menyesal.

Sudahlah. Berhenti berpikir seperti itu!

Aku kemudian masuk kekelasku. Setelah jam 7.50-an, kelas mulai ramai.

“Huh?”

Aku merasa melihat Ciel-senpai di lorong depan kelasku.

“Dia kesini lagi? Mau apa?”

Untuk melihatku mungkin?

“Biasanya dia akan langsung masuk tanpa malu-malu. Apa sekarang dia sudah sadar kalau anak kelas 3 terlihat aneh kalau keluar-masuk ke kelas dua terus menerus?”

Aku berdiri dan berjalan kelorong sekolah.

“Senpai!”

“Ah, Tohno-kun?” Dia terlihat sedikit terkejut

“Sedang apa? Sebentar lagi pelajaran dimulai. Kenapa masih disini?”

Dia melihatku.

“Apa yang kulakukan? Itu bukan urusanmu Tohno-kun” katanya sedikit judes

“Y, ya, mungkin Senpai benar, tapi.......”

“Ha ha, Cuma bercanda kok, tidak perlu ditanggapi seserius itu, Tohno-kun” kata Senpai.

Senpai kemudian memicingkan matanya seakan tersadar sesuatu, kemudian mulai mengendusku

“Senpai?”

“Mmm... Tohno-kun, kau tidur nyenyak semalaman?” Senpai bertanya sambil terus mengendus tubuhku Tanpa sengaja pendangan kami bertemu.

Tidur nyeyak? Bagaimana mengatakannya ya?

“Uuuum....”

Wajahku memerah begitu mengingatnya. Dengan curiga, mata senpai menyipit seperti sedang menyelidiki sesuatu.

“Senpai, Ummm....”

Seakan tersadar dengan sesuatu, mata Senpai melebar kemudian berteriak, “Tohno-kun, mesuuuum.....!!”

“Huh?”

Dengan cepat senpai berbalik dan berlari meninggalkanku yang terbengong.





Setelah bel makan siang berbunyi, orang yang meninggalkan kelas selama setengah hari penuh tiba-tiba muncul.

“Yo! Shiki! Makan! Ayo makan!” Dia gembira sekali sesuatu yang baik mungkin telah terjadi padanya.

“Baiklah. Tapi kau senang sekali. Ada apa nih, Arihiko?”

“Ya. Karena aku baru saja mengajak Senpai makan siang bersama dan dia menolaknya”

Maksudnya ’Senpai’ pasti Ciel-senpai. Tapi kenapa dia senang setelah ditolak?

“Heh? Kau ditolak tapi malah senang?”

“Ha ha, Aku belum selesai cerita. Ketika kutanya kenapa, dengan jelas senpai menjawab, ‘kalau Tohno-kun juga ikut, aku tidak mau!!’ Uwahahahahahahaha!!!!.... hebatkan, Shiki?” Arihiko tertawa dengan suaranya yang keras.

Kok bisa-bisanya aku berteman dengan orang ini sejak SMP.

“Oh man, dia membencimu sekarang Shiki. Karena aku kehilangan seorang rival, aku yang traktir deh!” Arihiko menepuk punggungku gembira.

“..... Ah, Senpai masih marah sama kejadian pagi tadi ya?” gerutuku

Aku tidak tahu kenapa, tapi yang jelas dia marah. Apa mungkin dia bisa menebak mimpiku semalam?

“Ayo Shiki. Nanti tidak kebagian kursi.” Memegangi tanganku, Arihiko menyeretku keluar.

Aku duduk disamping Arihiko. Kami memilih kursi yang tempatnya tepat didepan televisi di kantin. Setiap hari, TV sekolah selalu menyiarkan berita pagi yang direkam sebelumnya.

Sekarang TV sekolah sedang menyiarkan berita tentang seorang pemabuk yang membunuh pegawai mini merket, yang membuatku berpikir untuk tidak pergi ke mini market selama beberapa hari kedepan.

“Kita benar- benar hidup didunia yang berbahaya. Mulai pembunuhan berantai, sekarang pemabuk menusuk orang. Sekarang main keluar tengah malam sudah tidak aman” Arihiko terlihat serius mengukuti berita TV.

“....Memang berbahaya sih, tapi karena pembunuh berantai sudah tidak ada, situasi menjadi sedikit lebih aman.”

“Benarkah? Sudah tertangkap ya?”

“Sepertinya belum,” Tapi Nero sudah tidak ada lagi didunia ini. Jadi berita tentang pembunuhan berantai seharusnya sudah tidak jadi Headline lagi. “Tapi yang penting, jalanan sudah menjadi aman”

“Tidak___ kurasa masih akan ada korban lagi, Shiki”

“Kau yakin, Arihiko?”

“Kamu tidak melihat berita tadi ya? Korban ke-10 sudah ditemukan.”

“........Eh?” Sekarang aku yang terkejut

“Dibelakng gedung bioskop, tempat aku biasa nongkrong”

“Tu, tunggu!” Aku kembali melihat kearah televisi. Tidak salah, berita memang menyiarkan adanya korban ke-10. “Tidak mungkin!” Nero, sudah mati. Jadi kenapa masih ada korban?

“Aku tidak tahu siapa vampire ini. Tapi kalau dia itu cewek cakep, aku nggak keberatan darahku dihisap”

“?”

Cewek cakep? Tidak mungkin! Nero sudah mati, jadi satu-satunya vampire yang tersisa adalah.......









Tanpa sadar bel usai sekolah berbunyi. Teman-teman sekelas sudah pergi. Kelas kosong menyisakan Aku seorang.

“Masih terjadi?” Aku tidak tahu ada apa ini. Satu-satunya yang tahu jawabannya mungkin hanya Arcueid. Aku tidak tahu. Aku tidak mau terlibat kejadian seperti kemarin lagi. Aku akhirnya kembali kekehidupan yang normal setelah bertarung dengan Nero.

“Aku tidak boleh______terlibat lagi.”

Aku mengerti itu, tapi dulu seseorang pernah memberi tahuku sesuatu. ‘Dengar Shiki-kun, hidup itu tidak mudah, banyak jalan berliku dan tebing yang curam. Kamu punya kekuatan yang lebih dari orang biasa. Jadilah orang yang tergar Shiki-kun’

Aku tidak boleh berpura-pura tidak tahu. Ini belum berakhir. Aku harus sekali lagi melibatkan diri dalam kejadian ini.

Setelah aku meninggalkan sekolah, menuju apartemen Arcueid.

Kosong. Barang-barangnya masih ada, tapi Arcueid tidak sini. Aku memang berpikir tidak akan mudah menemukannya. Aku akhirnya memutuskan berkeliling kota mencarinya. Setelah sekian lama mencari, matahari perlahan terbenam. Langit perlahan menjadi gelap. Tapi Aku tidak menemukan satupun petunjuk mengenai keberadaannya.

“Sial. Kalau dicari, dia malah tidak ada.”

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang kerumah. Sekarang jam 7 malam. Mungkin Akiha sudah pulang dan sedang minum teh di ruang duduk.

Sesampainya dirumah, Aku mendengar suara orang berbincang diruang tengah. Sekarang hampir saatnya makan malam, tidak bisanya ada orang yang berbincang-bincang saat ini dirumah.

“Mungkin Akiha dan Kohaku?” Aku membuka pintu rumah, dan melihat Hisui berdiri menunggu di lobi.

“Sedikit terlambat sih, tapi aku pulang.”

Hisui tetap diam tanpa menyahut. Dia tidak mengucapkan ‘selamat datang’ seperti biasanya, dan tampaknya suasana hatinya sedang tidak baik.

“Sesuatu terjadi? Karena kau terlihat agak marah.”

“Ada tamu untuk anda, Shiki-sama. Sebaiknya anda segera menuju ruang tengah, karena dia telah cukup lama menunggu.”

“Tamu?”

Hisui mengangguk.

“Siapa ya? Siapa yang mau menemui_____”

Oh! Perasaanku jadi tidak enak.

“Hisui! seperti apa tamunya?”

“Seorang gadis cantik berambut pirang.”

Tanpa pikir panjang, Aku langsung berlari menuju ruang tengah.

Terlambatttt!! Habis sudah Aku!

“___Selamat datang, kak”

“Oh, Pulang juga kamu, Shiki?”

Kedua orang diruang duduk ini menyapaku bersamaan dengan sikap yang berbeda. Akiha menyapaku dengan judes, sedangkan Arcueid menyapaku sambil tersenyum.

Kenapa? Arcueid ada disini. Dan sekarang kelihatannya dia sedikit bertengkar dengan Akiha. Mereka berdua duduk santai. Jika Arcueid terlihat tenang, beda halnya dengan Akiha.

Akiha menatapku. “Ada apa kak? Jangan berdiri saja. Silahkan duduk”

Aku serasa akan ditusuk jika Aku mengikuti perintah Akiha.

“Um, tidak apa. Akiha, orang ini,__Um....”

Bagaimana Aku menjelaskannya? Tidak mungkin Aku mengatakan kalau dia teman sekelasku. Kalau aku mengatakan bertemu dengannya dijalan, sama saja menyiram api dengan bensin.

“Ya kak?”

Dari pada mikir yang begituan, lebih baik Aku segera mencari alasan agar bisa keluar dari sini. Lagi pula, kenapa Arcueid kemari?

“Um____ dia mengatakan alasannya kemari?” Aku menunjuk Arcueid. Ini pertaruhan, dan taruhannya adalah leherku.

“Hm?” Akiha terlihat bingung. “Bukankah dia temanmu kak? Katanya sih, begitu”

“Ya___ dikatakan teman juga bisa”

“Kalau begitu, kenapa kakak tidak memperkenalkannya kepadaku? Jika benar dia teman kakak, Aku tidak akan mengusirnya dari rumah”

“Umm__Akiha...”

Aku memutar-mutar bola mataku. Kemudian, merasa tidak suka diacuhkan, Arcueid angkat bicara.

“Jangan cemas. Aku kesini hanya untuk meminjam Shiki. Setelah ini, kami akan segera keluar. Benarkan Shiki?”

Hancur sudah semua alasan yang kusiapkan hanya dengan sebuah kalimat dari Arcueid.
Ini buruk. Kalau dia terus-terusan bicara, Aku bisa masuk kuburan lebih cepat.

“Hahahahaha....” Tertawa putus asa, Aku mencengkram tangan Arcueid.

“Shiki? Kenapa tiba-tiba?”

Tidak ada waktu mendengar keluhannya. Aku memaksanya berdiri, dan membawanya lari dari ruang duduk, meninggalkan Akiha yang terbengong.

Ketika Aku melihat Hisui di lobi, dia menatapku dengan mata yang lebih dingin dari biasanya.

“Anda akan pergi Shiki-sama?”

“Ya, Aku akan pulang malam. Bisakah gerbangnya tidak kau kunci malam ini?”

“Baiklah. Sesuai perintah anda.” Jawabnya.

Aku langsung melanjutkan lariku ketika Hisui sedang membungkukkan badannya, keluar dari rumah.

Sesampainya diluar,

“Aw,........ apa maksudmu membawaku lari begitu saja, Shiki?” katanya sambil melepaskan tanganku dengan paksa

“Aku yang harusnya tanya! Kamu mikir apa sih?! Datang kerumahku, cari mati ya? Kau bisa menghancurkan kehidupanku sekali lagi, bodoh!”

“Bo, bodoh!? Kau memanggilku bodoh?!”

“Aku sealu memanggil orang bodoh dengan sebutan bodoh! Kalau mau protes, Aku dengarkan!”

Kali ini aku benar-benar terbakar. Sudah lama aku tidak semarah ini. Kalau aku benar-benar marah, aku mengatakan apapun yang kupkirkan kepada orang yang kumarahi tanpa pikir panjang.

“Hey, aku kesini hanya mau melihatmu. Aku tidak melakukan apapun yang bisa membuatmu marah!”

“Kau serius? Hanya untuk melihatku?” Aku bertanya dengan nada menyelidiki.

“Aku bahkan tidak mengatakan sesuatu yang aneh., seperti matamu, aku, atau yang lainnya.”

“Aku percaya. Kalau kau berani mengatakannya, kita tidak mungkin bisa bicara seperti ini. Aku tidak akan ragu melemparmu keluar kalau kau berani mengatakan sesuatu yang aneh”

“Terus kenapa kamu marah?”

“Karena kau nggak mikir! Kamu tidak tahu ya, keberadaanmu saja sudah masalah. Dan setiap kali aku melihatmu, yang datang hanya masalah melulu!”

Akhirnya......Aku bisa mengatakan semua yang ada dipikiranku. Aku merasa agak baikan sekarang. Tapi tampaknya tidak demikian dengan Arcueid. Dia melihatku dongkol dengan tatapan matanya yang seperti kucing.

“Apa maksudmu mengatakannya? Apa aku tidak terlihat seperti manusia biasa?”

“Hey, ini tidak ada hubungannya kau terlihat seperti manusia atau tidak”

Kami berdua terdiam. Aku mengatakan semua yang kupikirkan dengan jelas. Dan Arcueid tampaknya benar-benar mengerti kali ini. Aku jadi merasa tidak enak.

“___ya, kurasa kata-kataku tadi agak keterlaluan. Soalnya aku tadi sedikit panik.”

“Tidak apa. Aku juga yang salah.” Arcueid mengangguk lemah.

“Oh ya. Kenapa kau kemari? Sebenatnya Aku juga mau bilang sesuatu jadi kebetulan.”

“Aku hanya ingin tahu keadaanmu, jadi aku bertamu”

“Kalau begitu, lain kali sebaiknya kau memanggilku saja, tidak usah datang kerumah. Tapi ngomong-ngomong boleh tanya sesuatu?”

“Tentang apa?”

“Mmmm..... disini sedikit banyak ada orang. Jadi lebih baik bicaranya ditaman saja.” Aku mulai berjalan. Dipenuhi rasa penasaran, Arcueid mengikutiku.

“Ok, sekarang apa yang mau kautanyakan, Shiki?”

“Tentang vampire. Kau pernah mengatakan kalau pembunuhan berantai akhir-akhir ini dilakukan oleh vampire”

Arcueid mengangguk.

“Kau sudah dengar tentang korban pagi ini? Darahnya dihisap habis!”

Arcueid menyipitkan matanya. Tiba-tiba saja ada perasaan dingin merasuk dalam syarafku.

“Ah? Dan?” Arcueid bertanya

“Dan kau___”

Aku menelan ludah. Arcueid menatapku sangat tajam. Seakan dia akan menyerangku tanpa ragu bila aku bergerak sedikit saja.

“Ini anehkan, Arcueid? Nero sudah mati, tapi korban masih berjatuhan. Jangan katakan kalau kau___”

“Bukan aku kok. Tapi vampire yang lain” Arcueid memotong pertanyaanku yang belum selesai dengan jawaban. Perasaan tegangku mulai mengendur. Tapi aku belum puas dengan jawabannya.

“Maksudmu? Vampire lain? Jadi mereka akan terus-terusan datang?”

“Tentu saja tidak. Pembunuhan berantai itu sejak awal perbuatan seorang vampire yang lain. Nero sama sekali tidak terlibat dengan kejadian ini.”

Eh? Tidak terlibat?

“M, maksud...mu?”

“Kamu biasanya pintar, tapi kali ini kau melupkan satu poin penting. Coba ingat-ingat lagi, Shiki. Nero memang vampire, tapi apa kau pernah melihatnya menghisap darah manusia?”

“Menghisap darah? Dia memakan____AH!” Begitu ya? Aku sama sekali tidak sadar. Korban pembunuhan meninggal karena darahnya dihisap. Tapi Nero berbeda. Dia memakan tubuh korbannya.

“Jadi yang melakukan pembunuhan berantai itu, siapa?”

“Vampire itu bukan Nero. Untuk lebih jelasnya, aku kemari karena vampire itu, kemudian Nero mengejarku kemari.”

“Jadi yang kau incar sejak awal bukan Nero?”

“Yah, begitulah.”

“Jadi..... membunuh Nero kemarin itu tidak ada gunanya?”

“Tidak mungkin tidak ada gunanya. Kau bertarung untukku. Ya, kau sebenarnya tidak perlu melakukannya kalau kau tidak membunuhku.”

Aku merasa pusing dengan penjelasan Arcueid.

“Initinya, pembunuhan itu dilakukan oleh vampire lain yang tidak ada hubungannya dengan Nero?” aku memperjelas pertanyaanku.

“Benar. Tapi itu semua masalahku. Kau tidak perlu terlalu cemas. Tapi, hey, ada yang lebih penting.” Dengan senyumnya yang terlihat sangat bahagia, di berdiri didepanku yang masih bengong tidak percaya. “Semalam bagaimana? Siapa yang datang?”

“Huh?”

Apa maksudnya dengan semalam? Aku tidak mengerti sama sekali. Ya, aku kan orang bodoh yang salah mengerti kata-kata Arcueid hingga mencurigainya yang bukan-bukan, jadi wajar saja kalau aku sekarang juga tidak mengerti kata-katanya. Dan__huh__? Jangan-jangan yang dia maksud ‘yang datang semalam’ itu____?

“__Arcueid, apa maksudmu dengan semalam?”

“Hm?? Aneh sekali, padahal semalam Aku memberimu mimpi”

“Tunggu dulu. Maksudmu ‘mimpi’?”

“Ya semacam mimpi yang sangat ‘kau inginkan’ terhadap seseorang yang kau kenal. Karena kau laki-laki, biasanya yang muncul mimpi basah. Jadi gimana semalam? Mimpi bagus?”

“Aku____” Mimpi bagus? Aku kambali teringat mimpi semalam, dan kemudian aku dapat merasakan wajahku yang memerah tersipu. “Jadi___! Semalam itu perbuatanmu?!”

Melihat reaksiku, Arcueid menyeringai licik. “Aha! jadi benar-benar ada yang datang ya? Siapa? Adikmu?”

“T, ti, bu, buukan Akiha! Kau pikir aku ini kakak macam apa?! Aku tidak mungkin mimpi seperti itu dengan adikku sendiri!”

“Hmmmm, kalau begitu dengan salah satu pembantumu....kah?” Mata Arcueid terlihat berbinar.

“Guuu____ bukan urusanmu! Tinggalkan aku sendiri!”

Aku memalingkan mukaku. Tapi Arcueid terus mengatakan ‘ayo, ayo, ayo’ berusaha memaksaku bicara.

“Ayolah, masa kamu tidak mau mengatakannya sih?”

Dia terlihat seperti anak kecil yang penasaran. Setiap kali Aku memalingkan wajah, dia akan langsung melompat kedepanku sambil terus mengatakan ‘ayo, ayo, bilang’

Ini siksaan. Setelah aku memimpikanya semalam, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Aku hanya bisa menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku.

“Hey, Shiki, jangan diam saja. Ayo, beritahu aku” Arcueid menarik tanganku yang kugunakan untuk menyembunyikan wajahku.

Ya tuhan! Baiklah. Aku akan mengatakannya kalau dia memang ingin tahu.

“...Kamu...” Aku mengatakanya denga suara yang sangat pelan.

“Eh? Kenapa dengan aku?”

“Jangan membuatku mengatakannya sekali lagi. Aku bilang kamu yang datang!” Aku berteriak setengah marah, tapi tetap memalingkan mukaku.

Mata Arcueid melebar karena terkejut.

“A, Aku?” katanya tidak percaya

“Ya. Dan Aku tidak bercanda. Kau datang dan____”

Tidak mungkin aku menyelesaikan kalimatku.

Sekarang Arcueid yang memalingkan muka dariku. Dia terlihat kebingungan.

“.................”
“.................”
“.................”
“.................”

Kami berdua hanya bisa terdiam. Hening, tak seorangpun dari kami yang mau memulai pembicaraan.

.....
.........
.............
...................
.......................*ehem*

Tidak tahan suasana hening seperti ini, Aku sengaja batuk.

“Kenapa kau mengirimkan mimpi seperti itu? Apa karena kau masih marah karena aku membunuhmu?”

“Buukan! Hanya saja, aku ingin berterima kasih sudah menolongku mengalahkan Nero. Karena itu, kukira kau akan senang.”

“Sebagai ucapan terima kasih? Wow! Apa sih yang dipikirkan vampire seperti kalian?”

Mendengar perkataanku, dia seperti marah. Aku tidak tahu kenapa dia marah. Tapi aku bisa melihat kalau dia merasa tidak puas.

“Apa maksudmu? Dasar jahat. Kau tahu sendirikan, kalau aku bukan manusia? Mana mungkin aku tahu apa yang biasanya kalian inginkan?” Berbalik badan, Arcueid melangkah pergi.

“Hey, tunggu. Mau kemana kau?”

“Jangan ikuti aku! Itu bukan urusanmu!”

Apa Arcueid semarah itu? Dia bahkan tidak menoleh ketika kupanggil.

“........”

Mau kemana dia?

“.......”

Mungkin aku juga yang keterlaluan. Dia hanya ingin berterimakasih saja kan? Meski caranya sedikit aneh. Aku merasa menyesal. Mungkin aku seharusnya menerima ‘hadiahnya’ dengan sedikit gembira.

“Ey, Tunggu!”

Dalam kegelapan malam, Arcueid berjalan menyusuri kesunyian. Dia berjalan lurus kedepan. Rambut pirang dan baju putihnya terlihat berpendar.

“Hey, Arcueid!”

Arcueid terus berjalan mengacuhkan panggilanku.

“Aku ingin bicara! Paling tidak kasih tahu aku kau mau kemana!”

Arcueid terus berjalan tanpa menoleh. Aku merasa tidak senang kalau diacuhkan seperti ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya saja, tanpa bicara. Suara langkah kakinya menggema di udara malam. Kemudian Arcueid berhenti dan menoleh kebelakang.

“Jangan ikuti aku. Kau tidak mengerti ya, kalau diikuti orang biasa itu mengganguku?”

“Kalau begitu beritahu aku kau mau kemana. Setelah itu aku akan pulang.”

“Bukan urusanmu, tinggalkan aku sendiri.” Arcueid kembali berjalan.

Sial! Tampaknya Aku harus terus berjalan mengikutinya.

Mendekati jalan utama, Arcueid berhenti.

“Ketemu akhrnya!” Suara Arcueid terdengar sangat dingin. Tidak seperti Arcueid yang kukenal.

“Ah?”

Bulu kudukku berdiri semua

“Arcueid, apa yang kau.....?”

Aku bahkan tidak mampu melanjutkan kata-kataku. Sudah jelas apa niatnya tanpa harus memberitahuku. Tidak diragukan lagi, aku merasakan nafsu membunuh.

“Hey, apa yang kau pikirkan?”

Arcueid tidak menjawab. Matanya tertuju pada sesorang berjas yang berjalan melenggak lenggok seperti orang mabuk.

“Shiki, lepas kacamatamu, dan lihat orang itu” perintah Arcueid

“Maksudmu orang yang mabuk itu?”

“Kalau kau mau tahu apa yang akan kulakukan, cepat lakukan saja. Kau bisa bertanya nanti”

“Baiklah, Aku sebenrnya tidak suka melepas kacamataku ditengah kota, tapi____”

Aku melepas kacamataku. Aku mulai melihat garis-garis di seluruh bangunan kota.

“Aku mau bertanya Shiki, kau bisa melihat titik ditubuh mahluk hidup kan?”

“Ya, kalau benda mati, Aku hanya melihat garis, tanpa titik.”

“Kemudian satu lagi. Bagaimana menrutmu dengan orang itu?”

!!!

Aku melangkah mundur.

Apa ini? Aku bisa melihat garis ditubuhnya, tapi, banyak sekali. Bahkan bisa dibilang seluruh tubuhnya terbentuk dari garis-garis hitam. Tapi tanpa titik!

“Bagaimana Shiki?”

Aku tidak bisa menjawab. Sekarang ini, Aku menggunakan semua kekuatan mentalku untuk menahan diri agar aku tidak muntah.

“Kau tidak bisa melihat ‘kematian’ ditubuhnya kan?”

“Ah, aku bisa melihat garisnya. Tapi rasanya tidak normal.”

“Seperti yang kau lihat, kau tidak bisa lagi memanggilnya manusia. Itu adalah vampire yang bertahan hidup dengan menghisap darah manusia” Arcueid mempercepat langkahnya menuju orang itu.

“Hey, Arcueid?”

“Tetap ditempat!” kata Arcueid setengah berlari

Orang itu menyadari ada Arcueid didepannya. Dia mulai berlari menuju gang yang berada dibelakangnya dan Arcueid mengikutinya.

Jantungku bergedup kencang. Malam belum terlalu larut. Masih banyak orang disekitar sini. Tapi, aku seperti tidak merasakan keberadaan mereka. Aku kemudian kembali memakai kacamataku.

Dibawah bulan yang berpendar kebiruan, Aku hanya mendengar suara jeritan dari balik gang tempat Arcueid berada.

___Kesana!_____

Karena gugup, aku tidak bisa memakai kacamataku dengan benar.

Pandanganku berubah merah. Aku kembali melihat garis maut yang tidak bisa dilihat orang lain.

Kacamataku. Aku harus memakai kacamataku. kalau tidak, Aku bisa gila. Tanganku gemetar ketika meletakkan gagang kacamata diatas telinga. Setelah itu, Aku kembali mendengar suara-suara keramaian. Mataku kembali normal. Aku melihat banyak orang berlalu lalang di sepanjang jalan pusat perbelanjaan.

Nafasku memburu, kepalaku sakit. Mengingat perasaan ketika melihat garis tadi membuatku mual.

“Arcueid?” Aku melihat Arcueid berjalan terhuyung keluar dari gang tadi. Nafasnya lebih cepat dari nafasku.

“____Shiki? Kau masih disini...?”

Bahunya naik turun seiring dengan nafasnya. Dia berjalan melewatiku dengan langkah gontai dan lemah seperti orang sakit.

“Apa yang terjadi?”

“Tidak apa-apa....., hanya sedikit lelah. Jangan khawatir. Toh, ini bukan urusanmu, Shiki”

“Bodoh! Kalau lelah, kau harus istirahat! Wajahmu pucat, tidak mungkin kau tidak apa-apa!” Aku memegangi lengannya dengan tanganku yang masih gemetar.

“....Kau ngomong begitu, tapi malah kau yang sepertinya akan pingsan duluan...” kata Arcueid mengejekku dengan nafasnya yang tersenggal-senggal.

“....Hanya anemia. Daripada aku, sebaiknya khawatirkan keadaanmu dulu”

“....Sudah kubilang aku tidak apa-apa”

Nafasnya makin melemah.

“__Jangan katakan luka itu yang kemarin____” Belum sembuh? Tapi aku tidak berani meneruskan pertanyaanku. Karena waktyu itu dia terluka untuk menyelamatkanku.

Dia hanya menunduk. Dan Aku mengartikannya sebagai ‘ya’.

“Bod__! Jangan memaksakan diri. Harusnya kau istirahat dulu!”

“Aku tidak memaksakan diri......”

“Tidak, kau memaksakan dirimu sendiri.”

Aku tidak bisa meninggalkannya seperti ini. Bagaimana aku bisa meninggalkan orang yang selalu terlibat masalah sendiri?

“Hei, katakan sesuatu!” Aku memegangi kedua bahunya. Arcueid hanya mengangguk lemah.

“Ck, keras kepala. Kita ketempat lain dulu untuk bicara” Arcueid melepaskan tanganku yang memeganginya, kemudian berjalan.

Kami tiba di taman. Selama berjalan, sepertinya kondisinya membaik. Perlahan, dia menjadi ceria seperti biasanya.

“Baiklah Shiki, sekarang kau boleh bicara semaumu”

Entah kemana perginya rasa lelahnya tadi, tapi sekarang dia tampak enerjik.

“Kalau begitu, Aku mau tanya tantang pria tadi. Pria tadi itu apa? Apa dia vampire yang kau incar?”

“Bukan. Dia hanya bagian dari vampire yang kuincar. Mengirim kembali Zombie ke kuburan bukan tujuan utamaku. Aku membunuhnya karena dia anak buah musuhku. Kalau kubiarkan terus, dia akan membunuh lebih banyak orang untuk meningkatkan kekuatan tuannya.”

“....Arcueid, bisa tolong jelaskan dengan sedikit lebih baik? Soalnya aku masih belum mengerti pria tadi sebenarnya apa?”

“Ow? Rupanya aku belum begitu detil menjelaskan tentang vampire ya? Waktu itu ada Nero sih, jadi aku tidak kepikiran untuk menjelaskan tentang musuhku.”

“Jadi vampire yang satu ini bagaimana?”

“Musuhku adalah vampire yang seperti ada dalam cerita-cerita karangan kalian. menghisap darah, mati karena matahari, awet muda, pokoknya semuanya.”

“Maksudmu si pembunuh berantai ini?”

“Ya. Tapi yang menghisap darah korban bukan dia, tapi zombie yang kau lihat tadi. Manusia yang darahnya dihisap oleh vampire, dapat memperoleh sedikit kekuatan dari vampire yang menghisap darahnya. Mereka mati, tapi tetap dapat hidup sebagai pelayan vampire yang menghisap darahnya. Mereka disebut zombie. Mmmm, kau mengerti maksudku?”

“Jadi pria tadi dibunuh oleh vampire yang kemudian mengubahnya menjadi zombie untuk melayaninya?”

“Ya, ya,” Arcueid menganggguk gembira.

“Terus, untuk apa? Membunuh, menghidupkan lagi, terus menggunakan mereka yang mati. Selera mainnya jelek sekali”

“Ya. Tapi hanya Dead Apostles yang melakukannya. Lain dengan True Ancestor”

True Ancestor? “__Ah, Aku ingat. Ada dua jenis vampire. Yang dulunya manusia, dan yang sudah jadi vampire sejak lahir.”

“Benar. Tadi kau bilang selera yang jelek sekali kan? Tapi ini masih belum seberapa. Ada vampire lain yang melakukan permainan yang lebih buruk dari ini.”

“Permainan? Apa lagi ini? Kalian membunuh manusia untuk bersenang-senang dan menggunakan tubuh korbannya untuk bermain?”

“Aku tidak akan menyangkalnya. Bagi manusia yang menjadi vampire, musuh terbesarnya adalah kebosanan. Karena dulunya mereka tidak abadi, setelah menjadi vampire, mereka kehilangan ketamakan mereka. Mereka merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dilakukan, dan menjadi bosan”

“Ayolah, membunuh untuk bersenang-senang? Mereka sudah abadi, kan? Kurang apa lagi?”

“Itulah masalahnya. Mereka telah mendapatkan semua yang mereka inginkan. Terus mereka tak tahu harus berbuat apa. Artinya, mereka sudah kehilangan nilai hidup. Begitu mereka merasa kehilangan nilai untuk hidup, sama saja atinya dengan hidup mereka berhenti sampai situ. Sebenarnya keabadian bisa dikatakan bentuk lain dari kematian. Terus untuk mempertahankan nilai hidup mereka, mereka perlu melakukan sesuatu yang bisa membuat hidup lebih berarti. Yah, bersenang-senang misalnya” Arcueid menyipitkan matanya dengan penuh kekesalan.

“Kemudian mereka menciptakan permainan dengan cara memperbanyak pasukan zombie dan memperluas wilayah kekuasaan mereka.. Sepertinya mereka menemukan kesenangan lebih dari yang mereka bayangkan dengan permainan itu.”

Arcueid seakan berbicara dengan orang lain. Arcueid juga salah satu dari mereka. Tapi tampaknya, permainan seperti itu bukan salah satu hobinya.

“Dead Apostles dulunya manusia. Setelah menjadi vampire mereka abadi. Meski begitu, keabadian mereka tidak selamanya. Untuk mempertahankan keabadian, mereka harus meminum darah manusia.”

“Sebentar. Kalau mereka harus meminum darah untuk mempertahankan keabadian, bukankah itu artinya Dead Apostles baru akan lahir setiap kali jatuh korban.?” Aku bertanya

“Benar. Tapi bagaimana menjelaskannya ya? Setelah manusia dihisap darahnya mereka mati. Tapi bila saat itu Dead Apostles memberikan setitik darah mereka, tubuhnya tidak akan mati. Setelah otaknya membusuk, mereka menjadi mayat pemakan daging atau Ghoul. Tapi yang bisa sampai seperti itu hanya satu dari 100 saja. Ada beberapa orang yang mempunyai bakat langsung menjadi vampire setelah darahnya dihisap, tapi kejadian seperti itu sangat jarang terjadi. Kita lanjutkan, ghoul harus memakan mayat untuk mempertahankan tubuhnya. Setelah itu, mereka menjadi zombie. Setelah kecerdasan zombie pulih seutuhnya, mereka menjadi vampire. Yang bisa sampai tingkat vampire mungkin hanya satu dari 10.000”

“Tapi Aku mesih heran. Kalau hal seperti ini terus terjadi sejak ratusan tahun yang lalu, bukankah seharusnya dunia ini sudah dipenuhi vampire?” semakin Arcueid menjelaskan, Aku malah menjadi semakin bingung.

“Biasanya, setelah menjadi vampire baru, mereka akan membunuh Dead Apostles yang mengubah mereka menjadi vampire. Jadi seperti kesatria yang menjadi penguasa setelah membunuh rajanya sendiri dalam video game. Aku tidak tahu kenapa, tapi mereka mungkin melakukannya untuk menghilangkan rasa bosan. Meski mereka abadi, kalau tidak dapat mempertahankan nilai hidupnya, sama saja dengan keabadian kosong.” Arcueid menurunkan bahunya seakan mengatakan ‘bodohnya mereka itu’

“Jadi pria tadi itu semacam zombie buatan Dead Apostles?”

“Ya. Mereka mempertahankan tubuhnya dengan cara menghisap darah manusia. Tapi sebagian besar tenaga yang diperoleh diambil oleh tuannya. Jadi Dead Apostles bisa meningkatkan kemampuannya sambil tidur.”

“Musuhku tidak dapat ditemukan dengan mudah, karena menggunakan banyak sekali zombie. Dia hanya sekali bertindak untuk membuat satu zombie, kemudian mengontrolnya sambil tidur untuk meperluas wilayahnya. Tubuh-tubuh korban yang diberitakan telah ditemukan sebenarnya hanyalah hasil yang gagal menjadi Ghoul. Mungkin korban sebenarnya sudah mencapai ratusan”

“Ap___?”

Sudah ratusan?
Jumlah korbannya sudah sampi sebanyak itu?
Dan mereka menghisap darah orang lain untuk mengubahnya menjadi seperti mereka?

“Ini tidak masuk akal” Tiga hari yang lalu dihotel Aku melihat ratusan orang dibunuh tanpa alasan. Sekarang yang ini. Seandainya ada seseorang yang kukenal mati seperti itu, apa yang harus kulakukan?

Tiba-tiba saja Aku membayangkan Akiha yang darahnya dihisap. Dan tubuhnya dibuang seperti sampah.

Yang membuatku marah adalah skenario terburuk yang kubayangkan bisa saja terjadi kapan saja dikota ini dan aku sama sekali tidak tahu tentang hal itu.

“Aku tahu kau marah, Shiki. Aku tak mau mengatakannya, karena mungkin bagi kalian hal seperti ini adalah kejahatan yang tak termaafkan”

“Ya! Meski aku tidak mengenal semua korbannya, mereka juga punya mimpi yang ingin dicapai. Aku sendiri___tentu saja tidak mau dibunuh hanya untuk bersenang-senang.”

Ya benar. Korban Nero dihotel, dan gadis yang kebetulan lewat ditaman, mereka mungkin tidak tahu alasan mengapa mereka dibunuh. Mereka mati sia-sia. Mereka mati, dan tak seorangpun yang tahu bahwa mereka sudah meninggal.

“..........Ini tak bisa kuterima. Apapun alasannya, Aku tak bisa menerimanya.”

“Shiki, mereka tidak punya alasan. Bagi mereka, ini hanyalah sebuah permainan.”

“....Karena itu aku bilang tidak masuk akal! Untuk Nero dan orang yang satu lagi, apa arti nyawa manusia bagi mereka?!” Aku berteriak marah

“Entahlah. Aku tidak tahu cara mereka berpikir, dan aku tidak mau tahu. Tapi kalau kau tanya siapa yang salah, aku menjawab yang salah adalah yang lemah kan. Sudah hukum alam yang lemah dibunuh. Jadi yang terbunuhlah sebenarnya yang salah.”

“Apa kata_____!” Aku mau memprotes kata-kata Arcueid, tapi dia langsung memotong.

“Tapi, Shiki. Mungkin sebenarnya manusia juga disebut mahluk terkuat. Kalian bisa menutupi kelemahan dengan menggunakan suatu cara atau peralatan tertentu. Karena itu, kalian bisa disebut yang terkuat. Mungkin mahluk terkuat yang bisa membunuh ‘dunia’ adalah kalian, para manusia”

Aku memandang mata Arcueid. Dia tampak tidak peduli dan terus melanjutkan penjelasannya.

“Tapi meski secara spesies kalian yang terkuat, secara individu kalian sangat lemah. Kalian juga tak dapat hidup tanpa mengorbankan hidup mahluk yang lebih lemah dari kalian. Kalau aku mau menyebutkan, kalian juga telah melakukan suatu kejahatan yang tak termaafkan. Tidak peduli apakah korban kalian memiliki kecerdasan atau tidak, ini hanya masalah rantai makanan bukan? Jadi yang membunuh bisa dikatakan benar, dan terbunuh bisa dikatakan salah karena tidak mampu hidup dibawah hukum alam”

“I, itu___ hanya argumen dari bangsa kalian yang kuat. Kami manusia tidak sekuat yang kalian pikir!” Aku berusaha membela diri. “Karena tidak bisa membela diri sepenuhnya, kami hidup bersama saling membantu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika orang-orang seperti kalian tiba-tiba datang dan___”

“Benar” potong Arcueid. “Itulah sistem pertahanan yang kalian buat. Karena tidak bisa melindungi diri sendiri ketika spesies seperti kami masuk kedalam kelompok kalian, kalian membuat peraturan yang tidak memungkinkan bagi kami untuk memasukinya. Mungkin kau tidak tahu Shiki, tapi spesiaes kalian sangat kuat. Kalian bisa membuat sistem pertahanan dari spesies lain yang mengungguli kalian”

“Sistem....pertahanan?”

“Ya. Alasan kenapa vampire menyembunyikan diri bukan karena mereka tidak ingin manusia tahu, tapi untuk melindungi nyawa mereka. Mereka tidak ingin kalian tahu bahwa vampire itu ada. Kalau mereka bertindak seenaknya, maka sistem pertahanan kalian akan aktif. Ya, mungkin sistem itu belum aktif meskipun berita tentang ‘vampire moderen’ terus menyebar. Mungkin karena Jepang adalah negara ateis”

Arcueid menggunakan kata-kata yang tidak umum, sehingga Aku kesulitan menangkap maksudnya.

“Tapi kau tenang saja Shiki, karena aku ada disini. Aku pernah bilangkan, kalau tujuanku membasmi vampire?” Arcueid tersenyum

Tiba-tiba suasana yang mencekam menghilang begitu saja. Mungkin karena Arcueid yang tiba-tiba menjadi ceria

“Ya, Aku ingat..... tapi kau sendiri vampire kan? Kenapa kau membela kami, manusia?”

“Aku melakukannya bukan karena kalian kok. Aku melakukannya karena aku tidak punya kegiatan lain.” Arcueid mengatakanya dengan sangat santai

Tidak ada kegiatan lain? Aku benar-benar tidak tahu jalan pikiran vampire yang satu ini.

“Memang sih, Aku jadi dikejar-kejar Dead Apostles, tapi kau sendiri sudah membunuh Nero yang mengejarku kan, Shiki? Jadi aku bisa kembali kerencana semula mengejar musuhku. Kau bisa menjalani hidupmu seperti biasanya. Tidak perlu lagi berurusan denganku” Dia tersenyum seakan gembira karena menemukan sesuatu yang sangat diinginkannya.

“Ah, Aku ikut senang kalau begitu____”

Tapi kau tidak apa-apa sendirian? Kata-kata itu tersangkut ditenggorokanku. Ada yang aneh denganku. Merasa bersalah membiarkannya sendirian menghadapi bahaya. Benar-benar ada yang salah denganku.

“Shiki, kenapa wajahmu seperti susah begitu?” tanya Arcueid

“Karena memang lagi susah. Sesuatu sedang terjadi kota tempat tinggalku”

“Kan sudah kubilang tidak usah khawatir. Dua-tiga hari lagi semuanya akan berakhir. Tidak akan ada korban lagi”

Itu seharusnya kata-kataku, Arcueid. Karena aku yang tinggal dikota ini.

“Arcueid, boleh tanya? Apa musuhmu ini kuat?”

“Aku belum pernah bertemu dengannya. Tapi karena dia sudah ada sejak 8 tahun lalu, mungkin dia sudah mencapai level 5 sekarang”

Tapi melihanya kesakitan ketika menghadapi zombie barusan, bukankah itu artinya dia terlalu menganggap enteng?

“Apa dia lebih kuat dari Nero?”

“Tidak mungkin. Nero itu vampire yang spesial. Aku akan kesulitan melawannya meskipun Aku menggunakan seluruh tenagaku. Dibanding Nero, musuhku ini sangat lemah.”

“Kalau begitu kau tidak mungkin kalah ya,” Aku lega mendengarnya.

“Mmm siapa tahu? Kalau beberapa hari yang lalu, Aku bisa yakin. Tapi sekarang, aku masih dalam masa penyembuhan. Kemungkinan dia lebih kuat dariku ada”

“Penyembuhan? Kau sakit ya?”

“Ya, karena kau membunuhku, Aku tidak yakin akan baik-baik saja dalam beberapa hari ini”

Ah, iya. Aku yang membuatnya lemah seperti sekarang.

Arcueid memegangi pinggangnya.

“Luka ini juga.... Aku bisa menyembuhkan bagian luarnya, tapi bagian dalamnya Aku masih belum bisa.”

Luka itu, ketika dia menyelamatkanku dari Nero.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Dia jadi selemah ini, semua adalah kesalahanku. Jadi kenapa? Kenapa dia tidak dendam padaku? Kenapa dia tetap tersenyum seperti itu padaku?

“Hentikan Arcueid. Sampai kau sembuh, kau sebaiknya istirahat saja. Setelah dua-atau tiga hari mungkin kau____”

“Tidak bisa. Kuucapkan terima kasih pada Nero gara-gara dia, musuh sudah tahu aku disini. Kalau aku istirahat, sama saja memberi tahu bahwa aku sedang lemah.”

“Jadi, kau tetap pada rencanamu?”

“Ya. Karena aku tidak tahu dimana dia, aku akan tetap menghancurkan pemasok darah untuknya. Ini akan memaksanya keluar.”

“...Arcueid, bagaimana jika dia muncul besok? Bukankah kau bisa terbunuh?”

Aku ingin mengatakan ‘hentikan!’ tapi aku tidak sanggup. Seperti kata Arcueid, kalau musuh tahu dia sedang lemah, Arcueid bisa dalam bahaya. Selain itu, Arcueid tidak akan berhenti setelah memutuskan sesuatu meski bahaya.

Arcueid tidak mungkin mau berhenti. Kalau aku membiarkannya sendiri, mungkin dia tidak bisa bicara seperti ini lagi besok. Aku merasa marah karena dia bahkan tidak peduli bila dia sendiri terbunuh.

Aku melihatnya tersenyum. Kenapa dia selalu tersenyum? Kalau kau bertingkah seperti vampire yang sesungguhnya, Aku tidak akan merasa seperti ini.

“Kenapa Shiki? Tubuhmu gemetaran. Mau ketoilet ya?” goda Arcueid

“___kau__kau__!!!” Kenapa kau bisa sesantai ini? “Aaaah! Siaal!”

Aku tidak ingin kehilangan dia. Aku tidak tahu perasaan ini datangnya darimana. Tapi empat hari terakhir ini tidak mungkin kulupakan begitu saja. Jadi kalau kutinggalkan dia, dan dia meninggal besok, Aku__akan__sangat__sangat__menyesal!

“Ck, mataku ini sudah rusak, apa hatiku juga akan ikut rusak?”

Arcueid adalah vampire. Aku tidak ingin terlibat masalah seperti kemarin lagi. Mengingat kejadian dengan Nero saja membuatku ngeri. Sekarang sama saja. Musuh kali ini juga tidak normal. Seharusnya aku tidak perlu terlibat. Karena Arcueid mengatakan dia akan menanganinya, aku bisa bergantung padanya. Tapi aku tidak bisa meninggalkannya sendirian.

“Aku ini kenapa sih?!” Marah, Aku menendang tanah. Aku marah karena tidak bisa menerima akal sehatku.

“Ke, kenapa? Ada apa Shiki? Tiba-tiba marah seperti itu?” tanya Arcueid sedikit takut

“Ya! Aku marah karena Aku bodoh! Kenapa aku ingin mengatakan ini setelah apa yang terjadi padaku kemarin?!”

Sekarang aku bertambah marah. Seandainya ada cermin disini, sudah kupecahkan dari tadi.

“Hey, ayolah. Ada apa Shiki? Kamu aneh deh”

“Ya! Aku aneh! Kalau aku normal, Aku tidak akan mengatakan ini....”

Aku akhirnya memutuskan.

“Dari tadi kau bilang ingin mengatakan sesuatu, tapi mengatakan apa?”

“Bodoh! Sudah jelaskan? Sampai lukamu sembuh, aku akan membantumu! Itu yang ingin dikatakan si bodoh, Tohno Shiki, ini kepadamu!” teriakku.

“Eh?” Arcueid benar-benar terkejut.

Setelah mengatakanya, perlahan aku menjadi tenang.

“Shiki, benarkah?”

Aku mengangguk.

“Aku kurang jelas mendengarnya, bisa katakan sekali lagi?”

Sekali lagi Aku mengangguk. Aku tahu aku akan menyesalinya. Tapi sekali aku mengatakannya, Aku tidak akan menarik kata-kataku kembali.

“Ayo, ayo, Aku ingin dengar lagi” Arcueid terlihat sangat senang seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

“Karena aku yang membuatmu seperti ini, dan sekarang ada monster yang berkeliaran dikota, Aku memutuskan untuk membantumu. Itu yang barusan aku katakan”

“Shiki___!” Matanya berbinar-binar. Dia memegang tanganku dan menggerakkannya naik turun.

“Mungkin tidak begitu berguna, tapi daripada tidak” Aku mengatakannya sambil melepaskan tanganku darinya

“Ya! Jika kau membantuku, aku tidak takut apapun” Arcueid kembali memegang tangnku dan menggerakkannya naik turun. Dia terlihat sangat gembira.

“Terus, apa yang harus kita lakukan sekarang, Arcueid? Mencari zombie lebih banyak lagi?”

“Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kita lakukan. Yang barusan itu adalah zombie yang ke-20 yang sudah kuhancurkan. Jadi kupikir sisanya tidak banyak lagi. Setelah semua hancur, vampire mau tidak mau harus keluar. Kau setuju?” dia bertanya.

“Terserah kamu. Aku ikut saja. Sekarang kemana kita pergi?”

“Untuk malam ini rasanya sudah cukup. Mereka selalu mengikuti rute yang ditentukan, jadi malam ini sepertinya tidak akan muncul lagi. Karena jumlahnya semakin sedikit, kurasa mereka tidak akan keluar secara bersamaan.”

“Benarkah? Bukannya ini berarti musuhmu mencoba menyembunyikan anak buahnya dari kamu?”

“Ya. Tapi karena dia butuh darah, dia akan tetap mengirimkan anak buahnya keluar”

“Sepertinya pekerjaan memburu vampire ini bakal sangat membosankan ya?”

“Ya soalnya kta harus mencari peti matinya disuatu tempat dikota ini. Jadi ini tidak akan mudah.” Arcueid melepaskan tanganku dan melompat mundur dengan ringan.

“Arcueid...?”

“Malam ini cukup sampai disini saja. Kita ketemu lagi besok” Dengan langkah yang ringan seperti sedang menari, dia melompat menjauh.

“Besok? Dimana?” aku bertanya dengan suara sedikit keras sebelum dia semakin menjauh.

“Disini saja. Sekitar jam 10 kita bertemu disini. Selamat malam, Shiki”

Ketika aku melambaikan tanganku, dia sudah menghilang.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang kerumah. Sekarang sudah larut malam. Suasana rumah sangat gelap dan dingin.

Aku menarik pintu gerbang.

clang!

Dikunci.

“Sial! Apa sebaiknya kupotong saja?”

Setelah berpikir sebentar, Aku memutuskan untuk memanjat gerbang rumah. Setelah menyusup masuk seperti pencuri, Aku mengendap-endap menuju pintu depan. Gerbangnya dikunci, tapi pintu depannya tidak.

“Terima kasih Hisui” kataku dalam hati

Berusaha untuk tidak membangunkan Akiha, Hisui, maupun Kohaku, Aku mengendap-endap menuju kamarku.

“Haaah......”

Menghela nafas, Aku berbaring di tempat tidur.

Aku teringat dengan janjiku pada Arcueid. Mungkin ini sudah takdir, tapi kau melibatkan diri dalam masalah lagi, Tohno Shiki.

“Aku tak bisa membiarkannya sendirian” Aku mulai bicara sendiri seperti orang gila

Atau aku memang tidak ingin membiarkannya sendirian?

“Dia cantik juga sih,”

Saat ini Aku bingung dengan perasaanku. Entah mana yang benar, dan mana yang salah, pokoknya aku akan membantu Arcueid mulai besok. Sekarang tidur saja dulu.

No comments: