Friday, December 5, 2008

Chapter 1: Inversion Impulse

Musim semi.
Sisa-sisa musim panas telah menghilang di pertengahan bulan Oktober ini. Hari ini adalah hari dimana aku, Tohno Shiki, kembali kerumah keluargaku, kekediaman Tohno. Setelah Delapan tahun sejak kepergianku dari rumah itu

“Shiki… Cepatlah! Nanti kamu terlambat kesekolah!”

Aku mendengar suara Keiko-san memanggilku dari dapur.

“Baik, aku segera turun”

Aku memandangi kamarku yang selama ini kutempati sejak aku tinggal dikediaman keluarga Arima hingga sekarang. Aku kemudian segera turun menemui Keiko-san.

“Aku pergi sekarang. Terima kasih telah merawatku selama delapan tahun ini”
Aku membungkukkan badanku.

Aku berjalan melalui pintu masuk rumah keluarga Arima, dan kemudian berbalik karena mendengar suara Keiko-san memanggilku.

“Shiki,.....”

Aku berjalan melewati pagar rumah kediaman Arima. Aku tidak akan kembali lagi kesini. Tidak akan kembali lagi kesini, sebagai anggoa keluarga Arima.

Delapan tahun. Mata dari seseorang yang telah menjadi ibuku selama delapan tahun terlihat begitu sedih. Aku belum pernah melihat Keiko-san seperti ini.

“Tinggal di rumah kediaman Tohno sangatlah sulit. Jaga dirimu baik-baik, Shiki. Jangan memaksakan diri, karena badanmu lemah”

Kata-kata Keiko-san menghentikan langkahku. Aku berbalik dan menjawab.

“Tidak apa-apa. Setelah delapan tahun ini, tubuhku semakin sehat. Sesehat orang biasa”

“Mungkin kamu benar, tapi, tinggal di kediaman Tohno sangat ‘berbeda’.”

Aku mengerti maksud Keiko-san. Kediaman Tohno sangatlah besar. Sesuatu yang sangat jarang ditemui zaman ini. Bukan hanya rumahnya yang besar. Namun keluarga Tohno sendiri juga sangat berpengaruh di negeri ini. Katanya, keluarga Tohno menanamkan modalnya ke berbagai perusahaan di seluruh penjuru negeri. Sebenarnya, disitulah aku seharusnya tinggal. Keluarga Arima selama ini hanya merawatku saja.

“Baiklah, aku pergi sekarang. Terima kasih telah merawatku selama ini”

Aku mengulang kata-kata itu sekali lagi, kemudian membelakangi kediaman keluarga Arima, dan melangkah pergi.

Aku meninggalkan kediaman keluarga Arima menuju sekolah dengan hati yang berat. Delapan tahun yang lalu, aku sembuh dari luka akibat kecelakaan yang bisa mengakibatkan kematian. Kemudian aku diserahkan kepada keluarga Arima, yang merupakan keluarga cabang dari keluarga Tohno. Aku tinggal di rumah keluarga Tohno hanya sampai umurku sembilan tahun. Setelah itu aku tinggal dirumah keluarga Arima hingga sekarang. Aku menjalani hidup yang normal sebagai anak angkat. Sejak bertemu dengan Sensei yang memberiku kacamata yang kupakai hingga sekarang, hidup seorang Tohno Shiki sangatlah normal. Hingga kepala keluarga Tohno mengirimkan surat yang menyuruhku untuk kembali kesana, ketempat keluarga yang sempat membuangku

Jujur saja, bahkan sejak sebelum terjadinya kecelakaan, aku sendiri tidak pernah bisa merasa nyaman tinggal di rumah kediaman Tohno. Mungkin karena peraturan disana terlalu tadisional dan keras. Mungkin karena itu pula aku tidak menolak ketika ayah mengirimku ketempat keluarga Arima. Aku bahkan menganggap keluarga Arima sebagai keluargaku sendiri. Aku tidak pernah menyesal tinggal disana.

Kecuali satu hal. Adik perempuanku, yang terpaksa kutinggalkan..

“Mungkin Akiha membenciku sekarang.”

Itu wajar saja, karena Akiha, adikku, selama ini terus hidup dibawah pengawasan Ayah yang keras. Mungkin saja Akiha menganggapku melarikan diri.

“Yah, mau bagaimana lagi? Apa yang akan terjadi, terjadilah” pikirku.

Sepulang sekolah, aku akan kembali kerumah keluarga Tohno. Hanya tuhan yang tahu apa yang akan terjadi. Aku lihat saja perkembangannya nanti. Sekarang aku memiliki masalah yang lebih penting. Jam ditanganku menunjukkan pukul 7.45. itu artinya sebentar lagi aku terlambat, karena pelajaran dimulai pukul 8 tepat. Aku menggenggam erat tasku, dan mulai berlari.

“hosh*….hosh*….”

Tidak terlambat. Untung aku tahu jalan pintas melalui gerbang belakang sekolah. Kalau kupikir-pikir lagi, hari ini adalah hari terakhir aku masuk sekolah melalui gerbang belakang. Karena mulai besok, aku berangkat dari kediaman keluarga Tohno, yang letaknya, meskipun jauh, berada didepan sekolah.

Tiba-tiba,

Tok tok!

Aku mendengar suara palu dan paku

Tok!
Tok!

Sebentar lagi pelajaran dimulai. Tapi aku penasaran dengan suara-suara itu. Aku berjalan menuju kebun belakang sekolah. Disana aku melihat seorang gadis berambut pendek yang sedang melakukan entah apa dengan menggunakan palu dan paku.

“Ngapain dia? Sebentar lagi kan pelajaran dimulai?”
“Mungkin dia tidak bawa jam”

Aku kemudian buru-buru mendatanginya, dan menepuk pundaknya.

“Hey, pelajaran segera dimulai”

“Huh?”

Gadis itu menoleh kearahku. Dia terlihat sedikit terkejut. Gadis itu ternyata orang asing dan berkacamata. Atribut yang dikenakannya menunjukkan kalau dia anak kelas tiga.

“…...”

Seorang anak kelas tiga memandangiku sambil menggenggam palu.

“A....anu…”

Dia menatap langsung kemataku, dan membuatku salah tingkah.

Tampaknya dia sedang memperbaiki pagar kayu tanaman di kebun belakang. Dia memperbaikinya tanpa mempedulikan bahwa apa yang dilakukannya membuat bajunya kotor.

Dia terus menatapku dengan pandangan serius, yang membuatku ingin minta maaf karena menggangunya.

“Ya? Ada apa?” dia bertanya sambil membetulkan kacamatanya yang miring.

“Ng, nggak… hanya heran saja. Sedang melakukan apa?” aku balik bertanya

“Membetulkan pagar” jawabnya sambil menunjukkan palu dan paku yang ada ditangannya kepadaku.

“A…ha, …ya, aku bisa melihatnya. Maksudku, kenapa Senpai melakukannya? Saat ini?”

“A ha ha ha” dia hanya tertawa malu. “Aku hanya seseorang yang tidak bisa melihat sesuatu yang berantakan seperti ini”

Membetulkan pagar hanya karena tidak bisa membiarkannya rusak? Aneh. Orang yang aneh.

“Terus Senpai membetulkannya sendirian? Kalau Senpai tidak suka melihat sesuatu yang berantakan, usahakan untuk menjauhi halaman belakang”

“Tidak bisa” katanya “Soalnya kelasku disana” dia menunjuk sebuah ruang kelas dilantai dua yang jendelanya menghadap langsung ke halaman belakang.

“Karena tempat dudukku disebelah jendela, jadi aku sering melihat kearah sini. Melihat pagar-pagar yang sudah seperti ini.......” Dia mengatakannya dengan raut wajah yang seolah-olah mengatakan bahwa semua pagar di sini sangat ‘mengerikan’

“Mmmm. Tapi kenapa sekarang? Sebentar lagi pelajaran dimulai, kau tahu?”

“EEEEEE…!!! BENARKAH?!!!!”

Kali ini dia benar-benar terkejut. Sesaat kemudian dia terlihat seperti sedang berpikir.

“Tapi kalau pagarnya tetap begini, aku tidak akan bisa konsentrasi belajar dan terus-terusan melihat keluar. Kemudian guru akan mengatakan’ lihat apa kamu?’ dan pastinya aku akan dimarahi.”

Aku berpikir sejenak, kemudian mengatakan, “Ya…. Itu mungkin saja” dengan tidak yakin

“Ya kan?!!....ya kan?! Karena itu aku harus menyelesaikannya sekarang”

Dia pun segera kembali sibuk dengan palu dan pakunya.

Dia tampak sangat kesulitan menggunakan palu. Mungkin dia tidak terbiasa menggunakan alat itu. Padahal tidak hanya satu-dua pagar tanaman saja yang rusak. Aku tidak bisa membayangkan dia memperbaiki semuanya sendirian.

KRIIIING!!!!!

Bel sudah berbunyi tanda pelajaan sudah dimulai. Artinya aku sudah terlambat. Aku hanya bisa menghela nafas dan kemudian duduk membantunya memperbaiki pagar. Aku melihatnya tersenyum seakan mengatakan terima kasih.

Setelah 30 menit, kami akhirnya berhasil memperbaiki semua pagar yang rusak.

Dia kemudian berdiri dan menatapku.

“?”

Aku tidak pernah berpikir seperti ini sebelumnya karena sibuk dengan pekerjaan yang kulakukan tadi. Namun setelah memandangnya dari dekat, aku baru sadar kalau ternyata dia sangat cantik.

“Aku harus pergi sekarang. Jangan bekerja terlalu keras Senpai.”

Dia hanya mengangguk dan tersenyum.

“Terima kasih telah membantuku” dia kemudian membungkukkan badannya. “Ah, dan jangan lupa untuk mencuci tanganmu, Tohno-kun”

“Senpai juga jangan lupa untuk mencuci tangan”

Kemudian aku bergegas menuju kelasku.
Belum tiga langkah aku berjalan, tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang aneh.

“Senpai mengenalku? Apa kita pernah bertemu?”

Senpai terlihat sangat terkejut sekaligus kecewa.
“Eeeh? kamu lupa? Tohno-kun?”

Lupa? Tidak mungkin ah. Seandainya aku pernah bertemu dengan gadis secantik ini, tidak mungkin aku bisa lupa.

Dia menatapku dalam.

Mata itu, aku sepertinya pernah melihat mata itu. Coba ingat-ingat lagi. Sepertinya aku pernah beberapa kali bertegur sapa dengannya. Aku terus berusaha mengingat-ingat

“Ciel-senpai….kan?”

“Baguslah, ternyata kamu masih ingat.” Kata Ciel-Senpai lega.
“Ternyata Tohno-kun tipe orang yang sering melamun dan mudah lupa ya?”

Aku bukan orang sering melamun. Tapi untuk bagian lupa, harus kuakui itu benar.

“Baiklah, sampai ketemu lagi” Ciel-senpai sekali lagi membungkukkan badannya, dan kemudian berlari kearah gedung sekolah.

Ketika aku sampai dikelas, pelajaran pertama telah selesai. Aku diam-diam masuk kekelas ketika teman-teman yang lain sedang mengobrol. Tempat dudukku berada dideretan paling belakang. Jadi aku bisa menyelinap tanpa ketahuan. Namun tampaknya rencana tidak berjalan dengan baik kali ini.

“Yo… Tukang bolos!! tidak biasanya kamu telat.”

Aku hanya bisa menghela nafas. Setelah mengalami saat yang menyenangkan bersama Ciel-senpai, tiba-tiba harus berhadapan dengan cowok yang satu ini.

“Kenapa kamu? Telat pas aku tidak bolos, ngapain aja sih?”

“Dengar. Aku kesekolah bukan untuk ketemu kamu tahu!” aku sediki merasa sebal dengan cara bicaranya

“Apa? Tapi aku ke sekolah cuma untuk ketemu kamu”

Aku sempat heran. Bisa-bisanya aku kenal dengan orang ini. Rambutnya dicat oranye. Telinganya ditindik, tatapan matanya seolah-olah menantang semua orang yang dilihatnya.

Namanya Inui Arihiko. Mungkin dia satu-satunya berandalan disekolah ini.

“Dengar Bung! Kita sudah menjadi singan sejak SMP. Jadi kalau kamu menatapku dengan wajah seperti itu, oooo….artinya kamu cari masalah.” Kata Arihiko dengan nada sedikit mengancam.

“Diamlah, Arihiko. Kau mengacaukan kesempatanku menyusup kedalam kelas tanpa ketahuan. Dan apa maksudmu dengan saingan? Ada banyak orang disini selain aku. Jadi berhentilah menggangguku. Lagi pula sepertinya kamu masih hutang 10.000 yen kepadaku.”

“Kenapa kamu jahat sekali padaku, Shiki? kamu nggak kaya gini sama orang lain” kata Arihiko memelas setelah mendengar kata ‘hutang’. Sepertinya itulah satu-satunya kelemahan Arihiko

“Kamu baru sadar sekarang?”
“Tidak Adil!” protes Arihiko
“Hidup memang tidak adil, bung” aku menyahut

Begitulah hubunganku dengan Arihiko. Kami berteman baik, namun kami selalu melontarkan ejekan-ejekan setiap kali kami bertemu.

“Ngomong-ngomong Arihiko, ada angin apa gerangan yang membuatmu bisa datang tepat waktu? Biasanya kamukan nongol setelah jam kedua selesai”

“Kenapa? Ya setelah ada kejadian ‘itu’ aku tidak pernah keluar malam lagi. Jadi aku bisa bangun pagi” jawabnya “Kamu tahu tentang pembunuhan berantai itu kan?” tambah Arihiko

“Pembunuhan berantai? Ya aku pernah dengar. orang-orang memanggil pelakunya dengan sebutan ‘Vampire Maniak’ kan?”

Kami jadi mengobrol tentang pembunuh berantai yang selalu melakukan aksinya di malam hari. Karena itulah Arihiko tidak pernah keluar malam lagi. Terlalu beresiko.

“Kamu tahu ga? Semua korbannya adalah perempuan. Korban kedelapan ditemukan dua hari yang lalu” kata Arihiko serius. “Lebih anehnya, semua korban meninggal kehabisan darah, seperti dihisap oleh vampire” tambahnya

“Yah, pokoknya karena itulah aku tidak mau lagi main sampai malam” kata Arihiko menegaskan.

Aku duduk disebelah Arihiko. Dan tanpa sengaja, tangannya menyentuh tanganku.

“Hey bung, kamu dingin sekali. kamu terlambat karena anemia lagi ya?” Arihiko bertanya.

“Wah, terima kasih sudah begitu perhatian. Kalau aku anemia 24 jam sehari, aku pasti sudah mati.”

“Ok, kalau kamunya bilang begitu, artinya kamu baik-baik saja”

KRIIIIING!!

Pembicaraan kami terputus karena mendengar suara bel berbunyi.

“Jam kedua segera dimulai. Sana, kembali ke kursimu”

“Ok, tapi nanti kita makan bareng di kantin ya, soalnya aku sudah mengundang tamu istimewa” kata Arihiko sambil tertawa. Dia kemudian duduk dikursinya.

“Baiklah, sampai nanti Tohno-kun” kata Yumizuka.

Ia kemudian berjalan menuju tempat duduknya.

Aku sebenarnya merasa sedikit heran. Kenapa Yumizuka melibatkan diri dalam pembicaraan kami tadi. Memang dia teman sekelasku. Namun aku sebenarnya jarang sekali mengobrol dengannya.

Waktu makan siang tiba. Aku berjalan meninggalkan ruang kelasku menuju kantin.

Seperti biasa, kantin selalu penuh sesak. Antrian panjang dimeja pemesanan terlihat. Akhirnya aku ikut mengantri dan memesan Chikara-Udon. Aku kemudian mencari tempat duduk kosong dan melihat wajah yang sangat kukenal.

“Yo, Shiki!”

Aku melihat Arihiko

“Kesini – kesini!”
Dia memanggilku.

Akhirnya aku terpaksa mendatanginya karena aku tidak melihat tempat duduk lain yang kosong.

“Seeesh, telat banget sih, kamu. Sini-sini!” Arihiko menyuruhku duduk
“Memangnya siapa sih, tamu istimewa mu?” aku bertanya
“Seseorang yang tidak jadi datang karena katanya sedang sibuk hari ini” jawabnya kecewa.

“Ditolak nih? Dia tidak jadi datang? aku kok tidak heran ya?” aku sedikit menggodanya “Cewek cantik?” aku kembali bertanya.
“Yup, seorang Senpai yang kutaksir sejak dulu.”

Arihiko mulai memakan Kari-Udon-nya.
Aku ikut segera memakan Chikara-udon yang kupesan tadi.

“Boleh tanya alasannya?” aku bertanya

Arihiko tampak sedikit bingung dengan pertanyaanku yang tiba-tiba.

“Aku tahu kalau kamu bukan tipe orang yang mau berangkat pagi meskipun kamu bangun pagi.”Aku menjelaskan “Jadi, boleh tahu alasannya?” tanyaku

Arihiko diam sejenak.

“Hari ini, kamu benar-benar pulang kerumahmu yang sebenarnya, eh, Shiki?” Arihiko bertanya dengan serius

“Yup. Aku…. Tunggu dulu, memangnya aku pernah cerita tentang ini ke kamu?”

“Belum” jawabnya. “Aku dengar dari guru”

Arihiko melanjutkan makannya.

“Kukira…..” tambahnya “Kamu akan merasa sediki down. Jadi aku hanya ingin memastikan”

“Gitu ya? Terus hasilnya?” aku balik bertanya

“Sedikit mengecewakan. Ternyata kamu baik-baik saja. Percuma aku datang pagi-pagi”

“Terima kasih deh, atas perhatiannya”

Arihiko pada dasarnya adalah orang yang baik. Sayangnya Dia kasar, dan suka memberontak.

Hari ini aku akan pulang kerumahku yang asli. Setelah Arihiko mendengar hal itu, Dia datang pagi-pagi karena khawatir kepadaku.

“Kau tahu Arihiko, wajahmu tidak menunjukkan sifatmu yang sebenarnya. kamu ternyata orangnya sentimental ya?”

“He heh, kalau Shiki, yang melankolis ngomong begitu, pastinya itu benar.”

Dia kembali memakan makanannya.

“Terus gimana?” Arihiko bertanya lagi.

“Apanya?”

“Kamu tinggal bersama keluarga Arima sejak lama. Kenapa Tiba-tiba keluarga Tohno yang membuangmu memanggilmu kembali?”

“Mereka tidak membuangku. Hanya ‘menendangku’ keluar dari rumah.”

“Hey, Shiki, tidak ada yang namanya keluarga ‘menendang’ anaknya keluar rumah. Itu namanya komedi, bukan tragedi.”

“.....mungkin kau benar”

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu dulu diusir?”

“Jangan tanya aku, mana aku tahu?”

“Kalau memang gak mau ngomong, ya sudah”

Arihiko kemudian menghabiskan sisa makanannya. Waktu makan siang sangatlah pendek. Aku segera mengikuti Arihiko menghabiskan makananku.

Sekolah telah usai. Tapi aku merasa tidak ingin segera pulang. Aku memandang halaman sekolah dengan tatapan kosong.

Ruang kelas bersemu oranye tertimpa cahaya matahari terbenam. Warnanya yang seperti cat air, menyakiti mataku.

Aku tidak suka warna merah. Ketika melihatnya aku merasa mau muntah. Tampaknya aku lemah terhadap hal-hal yang mengingatkanku pada darah. Bisa dibilang aku sendiri lemah terhadap darah. Mungkin karena disebabkan oleh kecelakaan 8 tahun lalu yang hampir merenggut nyawaku. Masih terdapat bekas kecelakaan itu didadaku. Sejak saat itu aku sering sekali pingsan karena anemia, dan sering merepotkan orang-orang disekitarku.

“Bekas luka didada, huh?”

Bukan hanya bekas luka ini yang menjadi warisan kecelakaan tersebut. Mataku menjadi sangat aneh. Aku mampu melihat garis-garis maut disetiap benda. Aku sangat berterimakasih kepada Sensei karena memberiku kacamata ini. Bila tidak, mungkin sekarang aku sudah menjadi gila.

Keiko-san pernah mengatakan kalau kediaman Tohno tidak ‘normal’. Kurasa itu tidak masalah, toh aku sendiri bukan orang yang normal.

..............

Aku harus segera pulang. Aku tidak bisa terlalu lama disini.

Aku pulang berjalan melalui rute yang tidak biasanya kulewati. Langsung menuju kekediaman Tohno. Sebenarnya jalan ini tidak benar-benar asing. Karena aku pernah tinggal disini hingga berumur 9 tahun. Saat ini perasaanku campur aduk. Jalan yang kulewati terasa baru, namun menimbulkan kenangan tersendiri. Selama ini, aku tidak pernah berpikir untuk kembali pulang ke kediaman Tohno.

Aku meninggalkan rumah sejak aku berumur 9 tahun. Saat ini, adikku, Akiha, tinggal dirumah yang bergaya barat itu sendirian. Ayahku, Tohno Makihisa, meninggal beberapa hari yang lalu. Ibu meninggal setelah melahirkan Akiha. Ini artinya, keluarga inti Tohno hanya tinggal kami berdua. Menjadi anak laki-laki pertama belum tentu menjadikanku pewaris kekayaan keluarga Tohno. Menjadi pewaris berarti harus mengikuti aturan-aturan tertentu yang membuatku sering dimarahi oleh ayahku. Mungkin setelah terjadi kecelakaan, Ayah menemukan alasan yang tepat untuk mengusirku dari rumah. ‘Seseorang yang bisa mati kapan saja tidak cocok menjadi pewaris’ mungkin itulah yang ada dibenak Ayah saat itu. Sayangnya harapan Ayah meleset. Aku sembuh. Meskipun begitu, Akiha terlanjur dijadikan pewaris utama keluarga Tohno. Dan kudengar selama ini Akiha dibesarkan dilingkungan yang super ketat dibawah pengawasan Ayah.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bermain bersama Akiha. Setelah kecelakaan, aku belum pernah melihatnya lagi. Sepertinya Akiha selalu mengunjungi rumah keluarga Arima sejak aku pindah kesana. Namun sayangnya, kami tidak pernah bisa bertemu karena aku masih harus pergi kerumah sakit setiap hari. Dan akhirnya kami benar-benar putus kontak setelah Akiha disekolahkan keluar negeri. Berbeda dengan Akiha, aku dibesarkan jauh dari keluarga utama. Sehingga aku bisa hidup bebas seperti ini.

Sebenarnya aku tidak mau kembali kerumah itu meskipun Ayah telah meninggal. Namun Akiha ada disana. Ketika masih kecil, Akiha adalah seorang anak yang patuh, cengeng dan gampang sekali ketakutan. Dia selalu mengikuti aku kemanapun aku pergi. Tubuhnya yang kecil, dengan rambut panjangnya yang berwarna hitam membuatnya tampak seperti boneka Perancis. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian setelah Ayah meninggal. Selain itu, aku juga merasa bersalah. Aku seakan-akan memaksanya menerima semua tanggung jawab keluarga Tohno, sedangkan aku hidup dengan bebasnya diluar. Mungkin saja sebenarnya aku kembali kerumah karena rasa penyesalan dan sebagai bentuk permintaan maafku terhadap Akiha.

Akhirnya, aku sampai didepan pintu gerbang rumah kediaman keluarga Tohno. Rumah yang luar biasa besarnya tepat berada didepanku. Mungkin bahkan lebih besar daripada sekolahku. Rumah ini dikelilingi pagar besi yang sepertinya sangat mahal. Banyak sekali pohon yang tumbuh di taman. Bahkan bisa dibilang terlihat seperti hutan. Bangunan utama terletak ditengah-tengah dengan beberapa bangunan lain disebelahnya.

Aku kemudian membuka pagar yang tidak terkunci.

“Baiklah......” aku berusaha menekan keteganganku.

Aku masuk kehalaman menuju bangunan utama, berdiri didepan pintu, dan kemudian menekan bel.

DING DONG!

Terdengar suara bel yang kutekan diikuti dengan suara langkah kaki dari balik pintu.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka.

“Kami telah menunggu Anda.”

Aku melihat seorang gadis muda yang memakai apron dan yutaka membukakan pintu.

“Syukurlah. anda sangat terlambat. Sehingga saya sempat saya bila anda tersesat. saya bahkan berencana untuk menjemput anda bila anda belum juga tiba hingga matahari terbenam.” Kata gadis yang memakai apron putih tadi tersenyum hangat.

“Ah, tidak, itu...”
Melihatnya menggunakan model pakaian yang sudah kuno membuatku lupa mau ngomong apa.

Melihatku yang sedikit kebingungan, dia sedikit memiringkan kepalanya.

“Anda Shiki-sama (tuan Shiki), bukan?” dia bertanya dengan sopan

“Eh? Ya, ”

“Anda tidak apa-apa? Jangan membuat saya takut seperti itu.” Dia berkata dengan nada agak khawatir. “Saya sempat berpikir kalau saya telah melakukan sesuatu yang salah.”

Caranya berbicara seperti seorang ibu kepada anaknya. Dia berkata dengan lembut dan dengan seyuman hangat diwajahnya.

Dia memakai yutaka dibalik apron putih. Dia juga memanggilku dengan sebutan ‘sama’. Ini artinya......

“Kamu....salah satu pelayan disini, kan?”

Gadis itu menjawabnya dengan senyuman.

“Silahkan masuk, saya tahu anda pasti lelah. Akiha-sama menunggu anda diruang utama”

Dengan cepat gadis itu menuntunku menuju ruang utama melalui lobi. Kemudian dia tiba-tiba berbalik kearahku seakan teringat sesuatu. Ia lalu membungkuk dengan senyuman lebar diwajahnya.

“Okaerinassai (Selamat datang kembali), Shiki-sama”

Dia mengucapkan salam dengan senyumnya yang semanis bunga. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa membalas membungkuk saja.

Dipandu oleh gadis itu, akhirnya aku sampai di ruang utama. Entah aku sudah lupa, atau rumah ini telah dirombak, aku tidak ingat ada ruangan seperti ini. Terasa seakan-akan rumah ini milik orang lain.

“Shiki-sama telah tiba, Nona.” Kata gadis itu

“Baiklah, sekarang kembalilah kedapur, Kohaku” kata seseorang yang ada disana

“Baik”

Tampaknya pelayan tadi bernama Kohaku. Kohaku membungkukkan badannya, kemudian meninggalkan ruang utama.

Dengan perginya Kohaku, dalam ruangan ini, hanya tinggal Aku, dan dua oarang gadis yang tidak kukenal.

“Lama tidak bertemu, kakak” kata gadis yang berambut panjang berwarna hitam.

Semua pikiranku seakan-akan berhenti. Aku terlalu terkejut untuk membalas salamnya. Yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk, dan berkata”ya”. Mau bagaimana lagi. Tampaknya gadis yang memanggilku ‘kakak’ ini sangat berbeda dengan delapan tahun yang lalu. Benar! Dia adalah Akiha.

Dia sudah sangat berubah. Sekarang, dia telah menjadi sepeti seorang putri yang anggun dari keluarga terhormat.

“Kak?” Akiha sedikit merasa heran dengan sikapku.

“Aa...um”

Sial! aku benar-benar kehabisan kata-kata. Kepalaku seperti berjungkir balik mencoba mengenali gadis yang ada didepanku ini sebagai Akiha. Namun tampaknya Akiha langsung mengenaliku sebagai kakaknya.

“Kakak tampak tidak sehat. Apakah Kakak ingin istirahat dulu sebelum kita berbicara?” Akiha bertanya dengan pandangan yang tajam.

Entah ini hanya perasaanku atau apa, namun tampaknya Akiha sedang dalam mood yang kurang baik.

“Tidak usah, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terkejut karena kamu telah banyak berubah, Akiha”

“Manusia akan berubah apalagi kita sudah tidak bertemu selama 8 tahun, Kak” kata Akiha dengan tenang. “Atau mungkin Kakak mengira kalau kita akan tetap seperti dulu selamanya?”

Apa-apaan ini? Kata-kata Akiha sangat tajam dan menusuk.

“Tidak, hanya saja kamu telah banyak berubah. Sekarang kamu menjadi lebih cantik”

Aku tidak berusaha merayunya. Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya.

“Kakak benar. Namun sebaliknya, sepertinya Kakak tidak banyak berubah.” Akiha menjawab dengan dingin. Ia menutup matanya.

Sebenarnya aku sudah mengira kalau ini akan terjadi.

“Baiklah, kalau kakak merasa baik-baik saja, kita mulai pembicaraan kita sekarang saja. Kurasa Kakak belum tahu alasan mengapa Kakak dipanggil kembali, bukan?”

“Ya Kau benar. Aku hanya tahu aku dipanggil kembali setelah Ayah meninggal. Aku pun mengetahui berita meninggalnya Ayah melalui koran. Bukan dari saudaraku sendiri.”

Mungkin akan terdengar sinis. Namun begitulah kenyataannya.

“......maaf. Adalah salahku Kakak tidak mendengar berita tentang kematian Ayah” Akiha tertunduk menyesal.

“Tidak apa-apa. Toh dia tidak akan hidup kembali bila kau memberitahuku tentang kematiannya. Jangan khawatir.”

“....Maaf. namun saya lega setelah Kakak mengatakannya.”

Wajah Akiha menjadi serius. Namun aku tidak begitu suka dengan topik pembicaraan seperti ini.

“Memanggil kakak kembali kesini sebenarnya adalah ide saya. Adalah hal yang aneh bila putra pertama keluarga Tohno dititipkan kepada keluarga Arima selamanya. Setelah Ayah meninggal, keluarga inti Tohno hanya tinggal Kakak dan Saya. saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Ayah ketika Kakak dititipkan ke keluarga Arima. Namun setelah Ayah meninggal, Kakak tidak perlu lagi tinggal bersama mereka. Karena itu Kakak harus kembali”

“Mmm... tapi mengejutkan juga kamu bisa meyakinkan kerabat-kerabat kita yang lain. Bukankah mereka yang mengusulkan untuk menitipkan aku ke tempat keluarga Arima?”

“Tapi sekarang saya adalah kepala keluarga Tohno” jawab Akiha. “Saya menolak semua ide yang diutarakan kerabat-kerabat kita yang lain” tambahnya

“Saya ingin Kakak tinggal disini. Namun perlu Kakak ketahui, disini masih berlaku peraturan-peraturan tertentu. Mungkin Kakak harus membuang gaya hidup yang kakak jalani selama ini.”

“Ha ha. Kuarasa itu tidak akan terjadi, Akiha. Sekarang ini tidak mungkin aku merubah sikapku menjadi layaknya seorang bangsawan.” aku berusaha menentang Akiha.

“Saya hanya ingin Kakak mencoba. Atau jangan-jangan Kakak merasa tidak mampu melakukan sesuatu yang telah berhasil kulakukan?”

Akiha memandangku dingin. Seakan-akan dia ingin menumpahkan semua kekesalannya yang dia pendam setelah kutinggalkan selama 8 tahun.

“Baiklah, aku mengerti. Akan kucoba semampuku”

Akiha menatapku tajam dengan tatapan yang solah mengatakan ‘Aku tak percaya’

“Saya hanya ingin melihat hasilnya.”

Kata-katanya tidak mengenal kasihan.

“Baiklah, kita kembali ketopik awal. yang akan tinggal disini adalah Kakak dan Saya. Karena saya tidak menyukai keramaian, saya mengusir semua kerabat yang dulu tinggal disini.”

“Eh !?”

Baiklah, yang ini baru mengejutkan.

“Tunggu dulu Akiha, kamu mengusir semuanya?” aku bertanya dengan nada tidak percaya.

“Saya yakin, Kakak tidak akan mau bertemu dengan mereka. saya juga telah memecat beberapa pelayan, namun jumlah yang tersisa cukup untuk melayani kita berdua.”

“Akiha, mungkin kamu akan diserang oleh kerabat-kerabat yang lain saat rapat keluarga bila kamu melakukan semua itu.” aku memperingatkan Akiha atas tindakan yang diambilnya.

“Diamlah Kak, daripada banyak orang disini, bukankah lebih baik bila hanya ada kita berdua saja?”

Akiha tampak kesal. Memang benar, dengan begini, aku akan merasa lebih nyaman. Tapi.....

“Kamu baru saja menjadi kepala keluarga, Akiha. Kalau kamu menggunakan kekuasaanmu seperti diktator, kerabat-kerabat yang lain tidak akan tinggal diam.”

“Benar sekali. Namun selama ini, saya sudah tidak menyukai mereka semua. saya sudah muak mendengar rengekan-rengekan mereka.”

“Tapi Akiha.......”

“Ahh, cukup Kak! Dengar, Kakak tidak perlu mengkhawatirkan Saya. Kahawatirkan saja bagaimana Kakak akan menjalani hidup mulai sekarang. Karena saya melihat Kakak akan menemui kesulitan”

Akiha bersungut-sungut. Dia sedikit membuang muka.

“Sekarang bila ada sesuatu yang Kakak tidak mengerti, Kakak bisa bertanya padanya, Hisui.”

Dia menoleh kearah gadis yang berdiri disampingnya. Gadis yang bernama Hisui tadi membungkukkan badannya. Wajahnya dingin tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Dia bernama Hisui.” Akiha memperkenalkan kami berdua.
“Mulai saat ini, dia akan menjadi pelayan pribadi Kakak. Kakak bisa menerimanya?”

___________Eh?

“Tunggu dulu... pelayan pribadi? Maksudmu?”

“Kakak tentunya sudah tahu maksudku”

Aku tidak percaya ini.

“Aku bukan anak kecil, Akiha. Aku tidak perlu pelayan. Aku bisa melakukan semuanya sendiri”

“Termasuk mencuci dan memasak?” tantang Akiha..

Sial. Kali ini dia benar.

“Apapun yang terjadi, karena Kakak sudah kembali, Kakak harus mengikuti semua peraturanku. Aku tidak tahu bagaimana keluarga Arima mendidik Kakak, tapi karena Kakak sekarang tinggal di kediaman Tohno, terima saja semuanya.”

Aku tidak bisa melawan Akiha. Aku kemudian melirik kearah Hisui. Wajahnya dingin seperti boneka.

“Baiklah, sekarang tolong bawa Kakak kekamarnya” Akiha memerintah Hisui. Dan Hisui langsung menjawab dengan patuh.

“Baik, Akiha-sama”

Hisui kemudian mendekatiku.

“Sebelah sini, Shiki-sama”

Hisui kemudian menuntunku ke lobi. Mau tidak mau, aku mengikutinya.

Kami sampai di lobi. Rumah ini terbagi menjadi dua bagian. Sebelah barat dan timur dengan lobi berada ditengah-tengah. Aku ingat bahwa rumah ini dibangun simetris. Sehingga bagian barat dan timur sangat mirip.

“Kamar anda disebelah sini, Shiki-sama”

Hisui menaiki tangga. Tampaknya, kamarku berada dilantai dua. Kamar pelayan berada di lantai satu. Mungkin kamar Hisui dan Kohaku berada disana.

Diluar, matahari telah terbenam. Gadis yang menggunakan baju maid model barat ini terus berjalan tanpa bersuara.

“Seperti di negeri impian”

Tanpa berpikir, aku mengutarakan apa yang ada dikepalaku.

“Anda mengatakan sesuatu, Shiki-sama?”

Hisui berhenti dan menoleh kearahku.

“Tidak, Cuma bicara sendiri kok. Jangan diperhatikan.”

Setelah menatapku sejenak, Hisui membungkukkan badan, dan kembali berjalan.

Akhirnya kami sampai dikamarku. Begitu masuk, aku kehilangan kata-kata. Kamarnya sangat luas. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh anak SMA.

“Ini kamarku?” aku sedikit tidak percaya.

“Ya, namun bila anda tidak berkenan, saya bisa menyiapkan kamar yang lain.” Katanya datar

“Tidak usah. Kamar ini sudah lebih dari cukup.”

“Sebenarnya kamar ini tidak pernah dipakai sejak 8 tahun yang lalu. Jadi saya tidak percaya anda akan menemukan sesuatu yang tidak memuaskan disini”

Ada sesuatu yang aneh ketika Hisui mengatakannya. Dia mengatakannya seolah-olah dulu ini adalah kamarku.

“Hey, mungkinkah dulu ini adalah kamarku?”

“Saya hanya diberi tahu seperti itu. Apa saya salah?”

Hisui mencondongkan kepalanya sedikit kesamping dengan sedikit kesal.

Entah kenapa aku menjadi lega. Ternyata Hisui juga dapat memperlihatkan emosi.

“Baiklah, sekarang kamar ini menjadi kamarku. Dulu kamarku hanya seukuran 3x3. sekarang aku akan tidur ditempat yang seperti kamar hotel ini.”

“Saya mengerti. saya juga berharap anda dapat segera membiasakan hidup disini. Apapun yang terjadi, anda adalah Tohno Shiki-sama” kata Hisui

Aku meletakkan tas dimeja, dan kemudian meregangkan punggungku..

“Shiki-sama, semua barang-barang anda sudah berada disini. Apakah anda merasa ada yang kurang?”

“Sepertinya tidak. Kenapa bertanya?”

“Karena saya merasa barang-barang anda yang dikirim kemari terlalu sedikit. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk meminta.” Kata Hisui masih dengan nada datar.

“Untuk saat ini, tidak perlu. Toh barang-barangku memang hanya sedikit. Hanya tas ini, kacamata, dan....”

Buku didalam tas dan sebuah pita berwarna putih yang entah milik siapa.

“Pokoknya, jangan khawatir dengan barang-barangku.”

“Saya mengerti. Kalau begitu, saya akan kembali satu jam lagi.” Kata Hisui

“Satu jam lagi? Untuk makan malam?”

“Benar.”

Seperti yang kuduga. Ketika berbicara, ekspresi wajah Hisui tetap dingin.

Aku ingin Istirahat. Tapi bagaimana bisa. Biasanya jam segini aku menonton TV. Tapi aku tidak yakin ada benda seperti itu dirumah ini.

“Hisui, mungkin aku menanyakan sesuatu yang aneh, tapi dirumah ini ada TV tidak?”

“TV?”

Mata hisui sedikit menyipit

Mungkin sedkit aneh menanyakan keberadaan TV dirumah sebesar ini. Hisui memperlihatkan wajah bingung yang belum pernah kulihat.

“Tidak ada TV disini. Dulu pernah ada. Namun salah satu tamu membawanya pergi.”

“Tamu? Siapa?” aku bertanya

“Salah satu kerabat” jawab Hisui dingin. “Putra pertama dari Kugamine-sama, putri ketiga dari Touzaki-sama dan tunangannya, dan putra pertama dari Kishima-sama pernah tinggal disini selama 3 tahun” tambahnya

“3 tahun? Itu bukan tamu namanya, tapi orang numpang”

Hisui tidak menjawab

Ayah tidak menyukai benda-benda teknologi. Dia berpikir banda-benda seperti itu terlalu vulgar. Jadi mungkin benar-benar tidak ada TV disini. Akiha mungkin juga berpikiran sama.

“Ya sudahlah, toh, aku tidak akan mati kalau tidak ada TV”

Hisui terdiam. Dia bisa menjadi contoh pelayan yang baik. Dia tidak akan berkata apapun bila tidak ditanya secara langsung. Tapi tentu saja sikapnya itu membuatku susah. Aku ingin membuatnya tersenyum. Tapi tampaknya mustahil bila usahanya hanya setengah-setengah.

“Oh ya, dilantai pertama sayap bagian barat ada perpustakaan kan? Mungkin aku akan sesekali kesana untuk mengisi waktu luang.”

Sekali lagi, Hisui hanya terdiam. Dia tetap berdiri didekat pintu. Aku bahkan tidak tahu kemana dia memandang.

“Hisui?”

Dia tetap diam Namun tiba-tiba dia memandang lurus kearahku.

“Sepertinya dikamar kakak ada satu”

“Huh? Ada ‘satu’ apa ?”

“TV” jawabnya. “Seingat saya, dikamar kakak ada satu.”

Hisui mengatakan seakan-akan mengingat kejadian yang telah bertahun-tahun terjadi.

“Tunggu dulu,... maksudnya Kakak? Jangan bilang kalau itu adalah Kohaku”

“Benar. Yang bekerja sebagai pelayan dirumah ini hanya Kakak dan Saya.”

Aku baru sadar bahwa sebenarnya wajah Kohaku dan Hisui sangat mirip. Hanya saja sulit dipercaya bahwa mereka kakak beradik. Kohaku selalu tersenyum hangat. Sedangkan Hisui terlihat sangat dingin.

“Aaa.. begitu ya, sepertinya Kohaku memang jenis orang yang selalu menonton acara-acara TV”

Tapi aku tidak mungkin pergi kekamar Kohaku dan mengatakan ’boleh menonton TV disini?’

“Ya sudahlah, tak usah dipikirkan lagi”

Hanya tuhan yang tahu komentar sinis seperti apa yang akan dikatakan Akiha bila aku membeli TV.

“Baiklah, aku akan berada dikamar sampai jam makan malam. Kalau sudah waktunya, tolong panggil aku nanti. kamu masih ada pekerjaan kan, Hisui?”

Hisui hanya mengangguk dan dengan tenang meninggalkan kamarku.

Waktu makan malam akhirnya tiba. Yang ada dimeja makan hanyalah aku dan Akiha. Tidaklah aneh, bila kohaku dan Hisui tidak makan bersama kami. Mereka berdiri dibelakang kami untuk menyediakan apapun yang kami perlukan.

Aku tidak begitu menyukai suasana seperti ini. Selain itu itu aku sudah lupa semua hal tentang table manner. Aku berusaha mengingat sedikit-sedikit. Tapi sangatlah menyebalkan melihat Akiha selalu mengangkat alisnya dengan kesal setiap kali aku melakukan gerakan.

Ketika aku berpikir bahwa aku akan makan seperti ini setiap hari, nafsu makanku langsung hilang.

Setelah makan malam, aku segera kembali kekamarku. Sekarang sekitar jam 8 malam. Masih terlalu dini untuk tidur. Aku bingung mau melakukan apa. Setelah melakukan sedikit peregangan, aku membanting tubuhku diatas kasur.

“Saat makan akan menjadi saat-saat yang berat”

Bukan masalah garpu dan sendok, tapi cara Akiha memandangku ketika makan sangat membuatku merasa tidak nyaman.

Tok! Tok!

Terdengar suara pintu kamark diketuk.

“Anda didalam, Shiki-sama?”

Aku mendengar suara Hisui dari balik pintu.

“Ya, masuklah.”

“Permisi”

Hisui masuk kedalam kamarku dan kemudian membungkukkan badannya.

“Saya kemari untuk merapikan tempat tidur. Bila anda tidak keberatan, maukah anda menunggu di ruang Utama.?”

“Tidak, tidak usah. Aku akan menunggu di sini saja. Silakan kerjakan”

Aku bangkit dari tempat tidur dan berdiri menunggu di sudut kamar.

“....”

Hisui terlihat ingin mengatakan sesuatau. Tapi dia kemudian merapikan tempat tidur dengan tenang tanpa suara.

“Hisui___”

“Ya? Ada apa, Shiki sama”

Hisui menghentikan pekerjaannya. Dan membalikkan badan menghadapku.

“Oh, lanjutkan saja pekerjaanmu. Tidak perlu menghadap kearahku.”

“.....”

Hisui tidak menjawab. Tampaknya sikap seorang pelayan benar-benar telah tertanam dalam dirinya.

“Kamu boleh menjawab sambil tetap merapikan tempat tidur. Aku merasa tidak enak kalau aku mengganggu pekerjaanmu.”

“Bila anda ijinkan, Shiki-sama”

Hisui kemudian kembali sibuk merapikan tempat tidur.

“Benarkah jam malam dirumah ini pukul 7?”

“Eh? Ya benar. Gerbang akan ditutup pada pukul 7, dan semua pintu ditutup pukul 8. Selain itu ada peraturan yang melarang berjalan-jalan di dalam rumah setelah pukul 10.”

“Bahkan tidak boleh berjalan-jalan didalam rumah? Memang aku tidak bisa protes, tapi tidakkah peraturan itu terlalu keras? aku dan Akiha bukan anak-anak lagi. Tidak perlu sampai sejauh itu.”

“Benar. Namun peraturan tetaplah peraturan. Selain itu, anda pasti tahu tentang kejadian setiap malam akhir-akhir ini bukan, Shiki-sama?”

...........
Aku teringat dengan vampire yang diceritakan oleh Yumizuka dan Arihiko tadi pagi. Dengan adanya kejadian seperti itu memang lebih baik mengutamakan keselamatan daripada menyesal nantinya.

“Apakah anda mempunyai pertanyaan yang lain?”

Hisui selesai merapikan tempat tidur. Dia berbalik dan menghadapku dengan pandangan lurus.

Sebenarnya aku punya banyak sekali pertanyaan tentang Hisui dan Kohaku.

“Boleh bertanya diluar topik yang tadi?”

“Silahkan, Shiki-sama”

“Kalau boleh aku ingin bertanya tentang pekerjaan yang kau dan Kohaku lakukan disini.”

“Saya disini untuk melayani Anda, dan Kakak melayani Akiha-sama. Kami juga melakukan pekerjaan rumah tangga rutin di sini.” Kata Hisui menjelaskan.

“Apakah anda memiliki pertanyaan yang lain?”

“Intinya tugas kalian melayani kan?”

Mungkin wajar bagi Akiha dilayani seperti ini. Namun untukku yang selama ini dibesarkan sebagai anak normal, hal seperti ini terasa sangat aneh. Aku tidak ingin dilayani oleh seorang gadis yang seumuran denganku. Setidaknya untuk saat ini.

“Sebagai pelayan pribadi ya?”

“Benar. Dan bila anda ingin bertanya sesuatu, anda tidak perlu sungkan.”

“Ok, aku mengerti. Dari pada dimarahi Akiha, sebaiknya aku membiarkan kamu melayaniku”

Hisui memandangku dengan tatapan tanpa ekspresi seperti biasanya.

“Mungkin anda ingin sesuatu, Shiki-sama?”

“Tidak, tidak usah. Tapi bisakah kamu berhenti memanggilku ‘Shiki-sama’? jujur saja, aku tidak begitu suka dipanggil seperti itu,”

“Tapi Shiki-sama, anda adalah tuan saya” hisui menunjukkan keberatannya.

“.......”

Aku terdiam sebentar

“Selama ini aku hidup sebagai anak biasa. Aku tidak ingin ada gadis yang seumuran denganku memangilku dengan imbuhan ‘-sama’”

“Saya mengerti.” Respon Hisui tanpa antusias.

“Panggil saja aku ‘Shiki’. Dan sebagai gantinya aku akan memanggimu ‘Hisui’. Kita hilangkan saja formalitas diantara kita. Menurutku begitu lebih baik”

Hisui menaikkan alisnya seakan-akan mengalami kesulitan

“Tapi, Shiki-sama adalah tuan Saya” Ia kembali mengulang kata-katanya.

“Bukan begitu. Kamu hanya melakukan tugas-tugas yang tak bisa aku lakukan. Jadi bukannya aku adalah tuanmu atau yang lainnya.” aku berusaha menjelaskan.

“Saya mengerti”

Sebuah tanggapan tanpa antusias lagi. Meskipun begitu, tampaknya Hisui belum benar-benar mengerti.

“Pokoknya, jangan terlalu formal padaku. Dan aku akan sangat berterima kasih bila kamu menyampaikannya juga pada Kohaku.”

“Baiklah, akan saya sampaikan, Shiki-sama” Hisui membungkukkan badannya tanpa ekspresi.

Sekarang aku yakin kalau dia benar-benar tidak mengerti apa yang kukatakan tadi.

“Saya akan pergi sekarang. Silahkan beristirahat”

Hisui berjalan meninggalkan kamarku. Tiba-tiba aku ingat menanyakan sesuatu.

“Tunggu, Hisui”

Aku memegang pundak Hisui sebelum dia pergi.

PLAKK!

Tiba-tiba saja dengan cepat Hisui menampar tanganku yang menyentuh pundaknya.

“Eh?”

Kejadiannya begitu cepat terjadi. Hisui masih tetap tanpa ekspresi, namun aku tahu dia memandangku dengan sengit.

“Eh? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?”

“Ah? Ma..maaf” Seakan tersadar, Hisui meminta maaf dengan terbata-bata. “Sa, saya tidak terbiasa disentuh oleh orang lain. Mohon maafkan saya”

Hisui terlihat sedikit gemetar. Aku merasa aku baru saja melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan.

“Ah... Aku juga minta maaf”

Tanpa berpikir, aku juga meminta maaf. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa bersalah terhadap Hisui.

“_____”

Hisui hanya terdiam. Aku merasa dia sudah sedikit tenang.

“Anda tidak perlu meminta maaf, Shiki-sama. Sayalah yang bersalah”

“Ya.., anu..., mungkin aku hanya...”

Aku menggaruk kepalaku sendiri. Hisui tetap menatapku. Sesekali dia berkedip.

“Um...Apa yang ingin anda tanyakan, Shiki-sama?”

Ah, aku kembali teringat. Aku menghentikan Hisui karena ingin menanyakan sesuatu.

“Oh, aku ingin bertanya mengenai Akiha. Bukankah dia bersekolah diluar negeri?”

“Benar, Shiki-sama. Namun hanya sampai SMP. Sekarang, Akiha-sama bersekolah disini.”

“Maksudmu berangkat dari sini?”

“Benar, namun tidak biasanya beliau pulang petang hari seperti hari ini. Akiha sama memiliki kegiatan latihan hingga waktu makan malam. Jadi biasanya beliau pulang sebelum jam 7”

“Latihan? Latihan apa?”

“Hari ini adalah hari kamis. Jadi seharusnya beliau latihan biola. Bila anda ingin tahu lebih banyak tentang Akiha-sama, anda bisa bertanya pada Kakak”

Hisui kemudian membungkukkan badannya dan meninggalkan kamarku.

Akiha yang kuingat adalah Akiha yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Dulu ketika masih kecil, Akhiha sangat pendiam. Dia tidak pernah berani untuk meminta maupun menolak. Dia anak kecil yang rapuh, yang selalu takut dimarahi Ayah.

“Dia benar-benar berubah setelah 8 tahun ini.”

8 tahun adalah waktu yang sangat lama. Hampir separuh dari hidup kami. Aku menghilang dari rumah ini pada saat-saat vital seorang anak kecil menjadi dewasa.

“...Maaf, Akiha”

Aku berpikir mungkin seharusnya aku tetap disini selama 8 tahun itu.

Aku tiduran di kamarku sendirian. Rumah ini, dan para kerabat yang lain, aku merasa bahwa mereka sudah seperti orang asing bagiku.

“Setelah ini, apa yang akan terjadi padaku?”

Bertanya pada diri sendiri, aku mulai mengantuk dan tertidur.

……
……….
…………..

Auuuuuuu!

Aku mendengar suara.

Auuuuuuu!

Ada sesuatu. Seperti suara anjing. Tapi suaranya lebih tajam dan tinggi

Auuuuuuu!

Suara itu terngiang dikepalaku.

Auuuuuuu!

Aku merasa terganggu. Suara binatang ini membuat kepalaku pening

Auuuuuuu!

Belum berhenti juga.

Auuuuuuu!

Auuuuuuu!

Auuuuuuuuuuuuuu!

“Seeesh, bisa diam nggak sih?!!”

Aku terbangun. Aku masih bisa mendengar lolongan itu dari balik jendela. Jam menunjukkan pukul 11 kurang.

“Bagaimana aku bisa tidur, kalau seperti ini?”

Lolongan tersebut berasal dari dekat pintu gerbang.

Sepertinya aku tidak akan bisa tidur lagi malam ini. Bukan cuma Aku, mungkin Akiha dan yang lainnya juga. Karena aku satu-satunya pria dirumah ini, aku harus memeriksanya.

Aku membuka korden untuk mengecek. Dan ternyata ada batang pohon tepat dibalik jendelaku. Aku melihat ada seekor gagak biru yang hinggap disalah satu cabangnya.

Malam ini sangat gelap. Aku bahkan hampir tidak bisa melihat apapun. Namun, gagak berwarna biru itu entah kenapa terlihat sangat jelas.

“............”

Aku tidak pernah mendengar ada gagak berwarna biru.

Gagak itu menatapku.
Aku merasa cara gagak itu menatapku seolah-olah menatap benda yang tak bernyawa

Kaaaaak!

Dia bersuara, kemudian terbang dengan tenang.

“A...apa...itu....tadi...?”

Bulu kudukku berdiri semua. Aku merinding. Lolongan anjing tadi semakin keras terdengar.

Auuuuuuu!
Auuuuuuu!
Auuuuuuu!
Auuuuuuu!

Aku mulai merasa takut.. Mendengar suara lolongan itu membuat jantungku berdebar kencang.

“Diamlah!!!” Aku segera melepas piyama dan memakai seragamku, kemudian aku berlari keluar.

Auuuuuuuu!

Lolongannya menggema di kegelapan malam. Aku berusaha mencari sumber suara. Dan tiba-tiba saja, tenggorokanku terasa kering. Menelan ludah, aku mendekati sumber suara.

Akhirnya aku tiba ditempat suara itu berasal.

“Huh?”

Auuuuuu!

Suara lolongan masih terdengar. Namun aku tidak melihat ada anjing satu-pun. Yang aku lihat hanyalah seorang pria yang berdiri dibawah sorotan lampu jalan menggenakan jubah berwarna gelap.

Suara lolongan itu berasal dari sebelahnya. Tapi aku tidak melihat ada anjing disana.

Pria itu cukup tinggi. Punggungnya kekar, dan dia berdiri membelakangi aku.

“_________”

Tenggorokanku kering.

Auuuuuuu!

Lolongan itu terngiang ditelingaku.
Angin malam membelai kulitku.
Aku mulai merasa sesak tanpa alasan. Seakan-akan udara disekitarku menipis.

Kaaaak!

Suara gagak.
Dengan suara kepaakan yang keras, gagak biru itu bertengger dibahu pria besar tadi.
Dan kemudian, Tiba-tiba saja gagak tadi menghilang.

“Eh?”

Apa yang kulihat tadi Cuma ilusi?

“______”

Pria berjubah itu berbalik.
Dibawah sinar lampu, dia terlihat seperti bayangan. Seperti sebuah gumpalan berwarna hitam. Ditengah-tengah gumpalan itu, sebuah benda yang terlihat seperti senjata berkilauan

“Apa itu?”

Aku tidak bisa bernafas.
Tapi untungnya pria itu tidak melihat kearahku.

“Disini juga tidak ada” kata pria tadi.
Dia kemudian pergi.

Setelah dia menghilang, aku kembali dapat bernafas normal.

“*hosh hosh hosh...*.”

Aku terengah-engah. Kemudian aku sadar lolngan anjing tadi juga ikut menghilang. Aku kembali kekamarku. Tidak ada tanda-tanda Akiha dan yang lainnya terbangun.

Apa yang terjadi.
Kepalaku terasa sakit.
Aku melihat tanganku masih gemetar.
Bukan hanya itu, tubuhku juga gemetar, dan punggungku terasa dingin
Seakan akan ada orang yang mengganti tulang punggungku dengan es.

“______?”

Aku merasa pusing
Anemia?
Aku merasa ingin pingsan.
Namun sebelum pingsan, aku melihat sesuatu yang tidak menyenangkan

“Huh?”

Meski aku memakai kacamata, aku masih melihat ‘garis-garis maut’. Aku sangat tekejut karena sudah lama tidak melihatnya. Aku merasa mual. Kepalaku pusing. Aku sepeerti ingin memuntahkan semua isi perutku.

“Kenapa... ini?”

Aku tidak mengerti.
Selama mataku terbuka, aku terus melihat ‘garis-garis’ dimana saja.

Ini hanya mimpi buruk.
Ya, aku harus segera tidur.
Yang harus kulakukan sekarang hanyalah diam dan tidur.

No comments: