Dulu Sensei berkata bahwa mataku dapat melihat garis maut. Garis yang menjadi kematian setiap benda. Garis-garis yang bila dipotong, dapat menghancurkan apapun dengan mudah. Dengan memotong garis itu, benda sekeras baja-pun dapat hancur.
“Artinya, setiap keberadaan memiliki takdir ‘kematian’ didalamnya. Ini adalah hal yang tidak bisa dihindari oleh semua yang memiliki bentuk fisik, Shiki-kun”
Itulah yang pernah dikatakan oleh Sensei. Waktu itu aku masih kecil. Sekarang aku mulai mengerti maksudnya dan merasa takut. Dunia ini dipenuhi ‘garis dan retakan’. Dan bisa hancur kapan saja. Ketika akhirnya aku mengerti, aku berterimakasih pada Sensei jauh dari dalam hati atas kacamata pemberiannya. Aku tidak dapat terus hidup bila aku melihat ‘garis’ itu selamanya. Titik-titik dimana setiap benda mudah dihancurkan.
Aku melihat tidak ada satu keuntungan-pun memiliki mata seperti ini.
“Selamat pagi”
Aku mendengar sura yang asing ditelingaku
“Sudah pagi, sudah saatnya Anda bangun, Shiki-sama”
Berhentilah memanggilku Shiki-sama. Kan aku sudah bilang kemarin.
Aku membuka mataku. Aku melihat Hisui berdiri jauh dari tempat tidur, berdiri seperti patung.
“........”
Aku dimana ya?
“Selamat pagi, Shiki-sama” kata gadis berpakaian maid itu sambil membungkukkan badannya.
“Ah ya, Aku-kan sudah pulang. Benar....”
Aku mamaksa diriku sendiri untuk melihat sekeliling. Dalam sekejab, aku merasakan sakit yang luar biasa dikepalaku.
“Anda mencari kacamata Anda, Shiki-sama?”
Dengan lembut, Hisui menyerahkan kacamataku.
Aku menghela nafas.
Kemarin malam aku merasa aku dapat melihat ‘garis’ meski aku masih memakai kacamata. Mungkin hanya bayanganku saja. Mungkin disebabkan karena aku tidur dikamar yang baru.
“Shiki-sama?”Hisui memanggilku.
“Selamat pagi, Hisui. Terima kasih telah mau membangunkanku”
“Tidak perlu berterima kasih, Shiki-sama. Adalah tugasku untuk membangunkan Anda.”
Hisui memberi jawaban yang datar dan tanpa ekspesi. Meski begitu, aku melihat bahwa sebenarnya Hisui sangat cantik. Akan sangat menyenangkan bila seorang gadis seperti ini membangunkanku setiap pagi dengan senyuman. Namun tampaknya tidak bisa untuk Hisui. Sayang sekali. Seandainya saja Hisui memiliki setengah dari keceriaan Kohaku, dia pasti tampak sangat manis.
“Anda memerlukan sesuatu?”
Menyadari aku menatapnya, Hisui balas menatapku.
“Tidak, tidak usah..Melihatmu ketika aku bangun pagi meyadarkanku bahwa sekarang aku berada di kediaman Tohno.”
Kemudian aku bangun dan sedikit meregangkan tubuhku. Aku kemudian sadar bahwa aku mengenakan piyama
“Eh, aku yakin kemarin aku,.....tidur dengan baju seragamku”
“Benar, karena tidak baik untuk kesehatan Anda, kakak mengganti baju Anda dan membawa Anda kembali kekamar ini”
Hisui menjelaskan seolah-olah semua itu adalah hal yang biasa.
Begitu ya. Jadi Kohaku mengganti bajuku. Benar, mungkin aku bisa masuk angin bila tidur seperti itu. Sesuai dengan harapanku, mereka memang pelayan yang baik,........ Hey! Tunggu dulu...!!
“Ap____?”
Sadar akan sesuatu, aku segera mengecek celana dalamku. Aku menggunakan baju piyama yang benar-benar baru. Bahkan bagian dalamnya pun baru.
“A – A – A- Apa- !?”
Aku bisa merasakan mukaku mulai memerah.
Aku ingin mengatakan ‘apa yang telah kalian lakukan !?’ namun kata-kata itu tersangkut ditenggorokan.
Aku harus tenang dan berpikir jernih. Pertama, setengah dari kejadian ini adalah salahku. Kemudian, yang mengganti bajuku adalah Kohaku, bukan Hisui. Jadi aku salah bila aku mengeluh kepada Hisui.
“___Hisui,”
Aku meliriknya.
“Ya, Shiki-sama?”
“Mulai sekarang, tolong jangan melakukan sesuatu hal seperti ini. Bila mememang perlu, TOLONG bangunkan aku saja. Karena aku bisa ganti baju sendiri.
Mukaku benar-benar memerah. Hisui hanya mengangguk dengan patuh.
“Seragam Anda telah saya lipat dan saya letakkan di meja. Harap segera turun bila Anda telah selesai berganti pakaian.”
“..........”
Sial. Aku benar-benar ceroboh. Aku memang salah tidur dengan pakaian seperti itu. Tapi yang lebih parahnya, aku tidak bangun ketika Kohaku mengganti pakaianku. Harusnya aku sadar, tapi mungkin waktu itu aku terlalu lelah.
Aku kemudian segera berganti baju, dan turun untuk sarapan.
“Tidak ada salahnya kan, terlihat telanjang? Ya tidak ada salahnya” aku berusaha menghibur diriku sendiri.
Memang tidak ada salahnya terlihat telanjang. Tapi mungkin nanti aku akan tidak bisa melihat wajah Kohaku karena malu. Namun wajahku yang tampak di cermin terlihat lebih sering tersenyum dari pada terlihat malu.
“Apakah kamu baik-baik saja Tohno Shiki?” aku berbicara pada diriku sendiri sambil mengetuk cermin.
Setelah selesai berganti baju, aku segera turun.
Dibawah, Akiha dan Kohaku terlihat berada di ruang duduk. Akiha mengenakan seragam sekolah putri Akagami. Sebuah sekolah putri yang sangat terkenal. Mereka sedang minum teh bersama. Seolah-olah waktu sarapan telah usai. Aku kemudian menyapa keduanya.
“Selamat pagi semuanya,”
“Selamat pagi Shiki-san” Kohaku menjawab salamku
Dia sangat cocok menggunakan apron putihnya. Kohaku membalas dengan senyuman yang lebar. Sebaliknya Akiha hanya membalas dengan tatapan tajam.
“Selamat pagi, kakak benar-benar bisa menikmati waktu pagi ya?” Sindir Akiha.
Akiha benar-benar tahu bagaimana caranya mengendalikan situasi.
“Menikmati? Inikan belum jam 7? aku hanya perlu waktu sekitar 30 menit dari sini kesekolah. Jadi sebenarnya aku bangun tepat waktu.”
“Aaa, jadi kakak berencana menghabiskan sarapan hanya dalam waktu 10 menit? kakak bukan seekor anjing kelaparan. Jadi aku ingin kakak tidak terburu-buru kalau sedang sarapan.”
“_____”
Kata-kata Akiha benar-benar ‘berduri’
“Aku bukan anjing, Akiha”
Kemudian aku teringat mengenai anjing tadi malam.
“Hey, apakah yang terjadi tadi malam, selalu terjadi tiap waktu?”
“Apa?” Akiha tampak tidak mengerti pertanyaanku.
“Aku berbicara mengenai tadi malam. Tentang anjing yang ‘auuuu auuuu’ ribut sekali. kamu pasti juga tidak bisa tidurkan?” aku menjelaskan
“Kak? kakak bicara apa?”
“Heh? Tentu saja kejadian tadi malam. Sekitar jam 11 malam. Kau tahu, gonggongan anjing liar semalam?”
Akiha dan Kohaku saling berpandangan. Kemudian mereka berdua melihat kearahku. Seakan akan berpikir aku sedikit aneh.
“Ok, aku tidak akan bertanya padamu. Kohaku, kamu dengarkan? Semalam?”
“Eh? Aaa... bagaimana ya, memang semalam angin agak kencang. Tapi saya tidak mndengar yang aneh-aneh tadi malam. Satu-satunya hal aneh yang saya temui semalam hanyalah saya melihat anda tidur dengan menggunakan seragam.” Jawab Kohaku.
“Ah ya, mulai sekarang aku akan hati-hati.” aku tertunduk malu
“Apa? apa yang terjadi, Kohaku?” Akiha merasa ketinggalan sesuatu.
“Tidak ada apa-apa nona, hanya saja kebiasan tidur Shiki-san jelek.”
Kohaku menghindari pertanyaan Akiaha dengan senyum. Kalau kupikir-pikir, sekarang Kohaku memanggilku dengan ‘Shiki-san’. Nampaknya Hisui menyampaikan pesanku semalam.
“Kalian yakin tidak mendengarnya? Anjing itu menggonggong sekitar 30 menit lamanya. ‘auuu auuu’ seperti itu.” aku berusaha kembali ke pertanyaanku yang sebelumnya.
“A ha ha ha?” kata Kohaku tertawa
Kohaku tampaknya salah mengerti maksudku.
“Pokoknya begitulah. Masa kalian tidak dengar?”
“Hmmm____ saya tidak ingat apapun tentang itu, kamu juga kan, Kohaku?” kata Akiha kepada Kohaku.
“Iya, maaf Shiki-san. Seingat saya tidak ada kejadian seperti itu semalam.”
“Kalau begitu mungkin saja kakak bermimpi.” Kata Akiha santai.
Ya mungkin saja aku bermimpi.
“Mungkin kakak bermimpi buruk karena belum terbiasa tinggal disini. kakak tahu, bila seandainya kakak masih terganggu dengan gonggongan anjing, mungkin kita bisa memelihara anjing juga untuk berjaga-jaga”
Akiha terkikik. Dia seperti menyepelekan aku., dan aku tidak suka itu.
“Baiklah kalau begitu, aku berangkat sekarang, Kak. Oh ya, jangan sampai kakak dikejar anjing sepulang sekolah ya,” ejek Akiha.
Akiha kemudian meninggalkan ruang santai dan Kohaku mengantar kepergiannya.
Kesimpulanku melihat kajadian kemarin dan hari ini, Akiha benar-benar membenciku sekarang.
Setelah aku menghabiskan makanan yang dibuatkan oleh Kohaku, aku menuju lobi. Disana, Hisui telah menungguku dengan membawakan tas sekolahku.
“Apakah anda tidak akan terlambat?” tanya Hisui.
“Jika aku lari, dari sini ke sekolah tidak sampai 20 menit. Sekarang jam 7.30. Kurasa aku tidak akan terlambat.”
Mendengar penjelasanku, Hisui mengangguk
“Baiklah, saya akan mengantar anda sampai kepintu gerbang.”
Sebenarnya agak sedikit malu aku memiliki pelayan pribadi.
“Shiki-san! Tunggu”
Dengan sedikit tergesa-gesa, Kohaku menuruni tangga dari lantai dua.
“........”
Hisui sedikit mundur begitu Kakaknya muncul.
“Bukankah tadi kamu bersama Akiha?” aku bertanya
“Akiha-sama, berangkat kesekolah dengan mobil. Karena saya harus menyerahkan sesuatu pada Anda, saya tetap tinggal didalam.”
“Memberiku apa?”
“Ini. Ini dari keluarga Arima.” Kohaku tersenyum.
“Huh? Tapi sepertinya semua barang-barangku sudah sampai disini, kok. Semua yang kugunakan ketika aku masih disana adalah milik keluarga Arima. Jadi sebenarnya barang-barangku hanya berupa baju saja.”
“Benarkah? Tapi benda ini juga dikirim kemari”
Kohaku menyerahkan sebuah kotak kayu tipis. Mungkin panjangnya sekitar 20 cm, dan tidak berat
“Kohaku, aku belum pernah melihat benda ini sebelumnya.”
“Mungkin dari almarhum tuan Mikihisa?”
“Dari Ayah?”
Aku malah merasa heran. Benarkah Ayah yang mengusirku selama 8 tahun itu meninggalkan sesuatu untukku?
“Baiklah kalau begitu, Kohaku, tolong kamu letakkan benda ini dikamarku”
“___________”
Kohaku terus memandangi kotak kayu itu. Dia terlihat seperti anak kecil yang menginginkan mainan baru.
Teruuuus memandang.
Dia mungkin benar-benar seperti anak kecil.
“Aku mengerti. Kamu ingin tahu apa yang ada didalamnya kan?”
“Oh, tidak kok. Aku hanya bertanya-tanya kira-kira apa yang ada didalamnya.” Jawab Kohaku tersipu.
Itu sama saja Kohaku. Aku tersenyum.
“Baiklah, kita buka. Satu.... dua... tigaaaaa!!”
Terdengar suara ketika kotak kayu itu dibuka. Didalamnya terdapat batangan besi tipis berukuran 10 Cm.
“Apa ini?”
Bentuknya sudah tidak karuan dan ada banyak bekas jari diatasnya.
Mungkin ayah benar-benar membenciku karena meninggalkan sebuah sampah seperti ini.
“Shiki-san, ini sebuah pisau”
Ah, benar juga. Aku baru sadar.
“Tua, tapi tampaknya sangat kuat.” Aku mengambil pisau itu.
“Ah, di gagangnya tertulis tahun dan era pembuatannya.” Kata Kohaku
Memang ada tulisan digagang pisau ini. Tulisan ‘tujuh’ dan ‘malam’
“Kakak. Tidak ada nama era yang seperti itu. Disitu hanya tertulis Nanaya (tujuh-malam)”
“!!!”
Aku sedikit terkejut. Hisui yang sedari tadi diam ternyata melihat pisau ini dari balik bahuku.
“K, kau membuatku kaget, Hisui. kamu tidak perlu melihat dari balik bahuku seperti itu, Kau tahu. Jika kamu ingin melihat, akan kutunjukkan padamu.”
“Ah____”
Tiba-tiba saja pipi Hisui sedikit memerah.
“Ma, maafkan saya. Pisaunya sangat bagus sehingga saya, .....” kata Hisui terbata
“Bagus? Kau pikir ini bagus? Hanya sebuah pisau tua menurutku,”
“Anda salah. Pisau ini ditempa dengan sangat baik. Saya rasa pisau ini memiliki sejarah yang panjang.”
“Benarkah?”
Karena Hisui terlihat sangat yakin, aku mulai berpikiran sama. Kalau begitu, ini warisan yang tidak terlalu buruk.
“Nanaya, Apa mungkin nama pisau ini ya?” tanya Kohaku.
“Mungkin juga” Aku mamandangi pisau yang ada didepanku. Tidak salah lagi, pisau ini adalah barang antik.
“Baiklah, pisau ini aku ambil” Aku memasukkan pisau itu kedalam kantong celanaku.
“Shiki-sama, apakah Anda tidak terlambat?” Tanya Hisui tiba-tiba.
“Ahh! Aku akan terlambat. Aku pergi sekarang. Kohaku terima kasih telah menyampaikan pisau ini”
“Sama-sama” Kohaku tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Aku segera keluar dari rumah melewati kebun menuju gerbang depan. Hisui mengikutiku dari belakang.
Begitu aku keluar dari gerbang, aku mendengar ada ribut-ribut.
“Ada apa nih? Sepertinya ada sesatu disamping rumah?”
“Saya mendengar ditemukannya noda darah disebelah timur rumah ini” kata Hisui menjelaskan.
“Noda darah?”
“Benar, sepertinya noda yang serupa juga ditemukan di pagar gerbang rumah ini. Polisi sedang menyelidiki hal itu.”
“Apa ada seseorang yang meninggal?” Aku bertanya-tanya
“Tidak, mereka hanya menemukan noda darah.”
“______”
Disebelah timur. Berarti ditempat pria berjubah semalam.
Noda darah
Darah.....merah.
Tiba-tiba saja aku merasa melihat semua menjadi merah.
“Shiki-sama?” Hisui bertanya khawatir.
“Eh? Tidak... Aku tidak apa-apa”
Aku berusaha menghilangkan pikiranku barusan.
“Baiklah, aku berangkat. Hisui terima kasih telah mengantarku.”
“Selamat jalan.”
Kemudian Hisui membungkkukkan badannya.
Aku tidak begitu yakin. Tapi sepertinya Hisui mengkhawatirkan kesehatanku. Aku melambaikan tanganku kearah Hisui dan meninggalkan gerbang rumah.
Aku berjalan melalui jalan yang tidak biasa kulewati. Bisanya aku berangkat dari rumah keluarga Arima. Jadi ini pertama kalinya aku beangkat melalui jalan ini. Yang baru memang hanya rute jalannya. Namun aku merasa akan pergi kesekolah yang baru.
“Tidak banyak murid sekolahku yang lewat sini”
Jarang sekali ada orang yang tinggal didaerah ini. Jam 7.30 pagi. Aku tidak melihat murid sekolahku yang berangkat melaui jalan ini sama sekali.
Memasuki distrik bisnis, suasana semakin ramai. Banyak terlihat orang-orang bersiap untuk bekerja. Aku merasa atmosfer disini sedikit berbeda. Rasanya sedikit berat. Mungkin disebabkan karena pembunuhan berantai itu. Pagi ini, jumlah orang yang berada dijalanan lebih sedikit dari biasanya.
“Sebaiknya kamu menghentikan kebiasanmu main sampai malam, Arihiko”
Tiba-tiba saja aku teringat temanku Arihiko. Mungkin dia akan tetap keluar malam tanpa mempedulikan suasana dikota. Toh dia tidak pernah mendengar nasehatku.
Aku mulai melihat murid-murid sekolahku berjalan diantara kerumunan. Tinggal 10 menit sebelum gerbang ditutup. Aku kemudian mulai berlari agar tidak terlambat.
Akhirnya aku sampai. Beberapa menit sebelum jam pertama dimulai, kelas sudah ramai. Sambil menunggu bel, semua teman teman dikelasku sedang megobrol dengan yang lainnya. Sangat ramai seperti ada festival yang diadakan disini.
Aku duduk di kursiku yang letaknya dekat jendela, dan tiba-tiba,......
“Yo____! Hampir telat, Shiki”
Ada seseorang yang menyapaku dengan seringai diwajahnya. Arihiko
Kemudian,....
“Selamat pagi, Tohno-kun”
Ternyata dia ditemani oleh sesorang yang sangat kukenal.
“Ciel-senpai? Kenapa disini?”
Setengah kaget, aku melihat Ciel-senpai seperti melihat hantu.
“Huh? Aneh ya? Aku hanya ingin tahu apakah kamu sudah sampai atau belum. Jadi aku main kesini, Tohno-kun.”
“Aneh? Tentu saja, karena jarang sekali ada senior yang main kekelas juniornya. Alasannya sangat banyak, tapi salah satunya adalah karena jarak dari sini ke kelas tiga sangat jauh.”
“Oh, begitu ya?” Ciel-senpai mengangguk tidak peduli.
“Kamu tidak usah cemas. Meskipun penampilanku seperti ini, aku pelari yang cukup cepat, lho. Hanya perlu waktu kurang dari satu menit dari kelas kesini” kata senpai menegaskan.
“.........”
Tampaknya Senpai bukan jenis orang yang peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain.
“Berhenti mengeluh, Shiki. Memangnya ada apa? Senpai kemari karena dia ingin”
Arihiko duduk diatas mejaku dan mulai berbincang dengan Ciel-senpai.
“Aku tidak keberatan. Tapi dua menit lagi pelajaran dimulai” Entah kenapa aku merasa lelah melihat Arihiko.
“Inui-kun, tampaknya Tohno-kun sedang ada masalah” kata Senpai kepada Arihiko
“Ya mungkin saja karena dia belum terbiasa setelah pindah rumah. Biasanya Shiki tidak pernah peduli sama yang begituan. Tapi bila dia menemui masalah yang tidak dia mengerti, dia bakal kepikiran terus”
“Benarkah? Tohno-kun tidak terlihat seperti orang yang seperti itu.” tanya Ciel-senpai
“Tidak, tidak, Shiki memang terlihat tenang, namun begitu dia menemui masalah yang gak bisa dimengerti, ___Booooom___!! Meledak dia!”. Jawab Arihiko setengah bercanda.
“Begitu?”
“Yep. Senpai akan melihat dia berubah bila sudah sampai pada batasnya. Jadi sebenarnya ini orang gak bisa dipercaya.”
Mereka berdua berbisik satu sama lain. Aku merasa terganggu dengan apa yang mereka bicarakan.
“Hei dengar, kalau kalian ingin berbicara seperti itu, lakukanlah dilorong depan. Karena aku dapat mendengar semua yang kalian bicarakan.”
“Apa? kamu menguping?”
Arihiko membuat raut wajah seolah-olah terkejut. Tidak ada yang tidak marah setelah dibeginikan. Senpai juga segera menutup mulutnya dengan tangan. Kalau Senpai mungkin benar-benar ingin berbicara secara pribadi.
“Tidak sopan, Shiki. Menguping pembicaraan mesra antara aku dan Senpai. Benar-benar hobi yang buruuuuuk”
Arihiko benar-benar serius menggodaku. Aku semakin marah
“Kau menantangku, Arihiko?”
Tolong jawab ‘ya’ karena aku sedang benar-benar ingin memukul seseorang. Sayangnya dia menggelengkan kepalanya.
“Tentu saja tidak. kamu kan teman terbaikku. Aku akan berkelahi bahkan dengan orang tuaku tapi tidak dengan temanku. Karena aku memiliki jiwa kesatria.”
Wow, hebat! Mungkin menurutnya seorang yang memiliki jiwa kesatria boleh memukuli orang tuanya.
“Aku mengerti. Kamu memiliki policy yang sangat buruk” aku mengutarakan pendapatku
“Hahahaha, mungkin kamu terlihat depresi. Tapi kamu tetap Shiki yang sama. Sialan seharusnya aku tidak perlu mencemaskanmu”
Arihiko memukul punggungku beberapa kali.
“...... Tadi kamu khawatir ya?” aku bertanya pada Arihiko.
“Jangan bertanya hal-hal kayak gitu, . lebih baik kalau kamu gak sadar. Aku kan jadi malu”
Sekali lagi Arihiko memukul punggungku.
Kami telah berteman begitu lama. Tapi aku belum benar-benar mengerti sifat orang ini.
“Jadi, gimana? Rumah baru?” Arihiko bertanya.
”Kelihatannya berat” tambahnya
“Bagaimana ya, aku mimpi buruk semalam. Dan orang-orang disana bersikap dingin padaku.” jawabku
“Kayaknya susah, ya?”
Arihiko mengangguk-angguk. Sedangkan Senpai hanya diam mendengarkan percakapan kami.
“Senpai?”
“Tohno-kun. Sepertinya kamu benar-benar cocok dengan Inui-kun.” Kata Senpai sambil tersenyum.
“Senpai bercanda ya? Mungkin Senpai perlu kacamata baru bila berpikiran seperti itu setelah melihat yang tadi.” aku menyanggahnya
“Aku tidak salah kok, Tohno-kun. kamu terlihat lepas bila bersama dengan Inui-kun. kamu benar-benar terbuka dan sangat mempercayainya.”
Senpai tersenyum kecil untuk sebuah alasan.
Aku dan Arihiko saling bertukar pandang.
“Aku merasa iri. Aku benar-benar mengagumi persahabatan seperti ini.” Kata senpai kagum
“Benarkah” kata Arihiko heran.
“Benar kok. Hanya saja kalian tidak menyadarinya. Sebuah persahabatan yang ajaib.”
“Kalau disebut ajaib, mungkin juga” Arihiko mengangguk.
“Ah, sudah hampir masuk. Aku harus kembali sekarang” kata Ciel senpai.
“Oh ya, kamu melihat berita pagi ini, Tohno-kun?” tambahnya
“Tidak. Dirumahku yang baru tidak ada TV”
“Benarkah? Kalau begitu aku tanya langsung saja. Ada rumah yang sangat besar muncul diberita. Apa itu rumahmu?”
“He? Berita pagi ini?”
Sekarang aku ingat. Hisui tadi mengatakan ada polisi yang mendatangi rumah untuk bertanya satu-dua hal.
“Ya mungkin. Karena kudengar tadi polisi datang untuk bertanya sesuatu.” aku menjawab.
“Benarkah? kalau begitu jangan main sampai malam, Tohno-kun.”
Setelah mengatakan itu senpai bergegas keluar dari kelasku. Aku memandangnya dari jauh, dan_____
“SHIKI!” tiba-tiba saja Arihiko membentakku keras
“Apa?! aku tidak mau mendengar ocehan sampahmu lagi.”
“Bukan ocehan sampah, tapi ini tentang masalah besar! Sejak kapan kamu akrab dengan Senpai !?”
Arihiko menatapku dengan tatapan kesal
“Baru akhir-akhir ini saja. Dia kesini mungkin cuma mau main saja.” jawabku
“Bukannya kamu juga tadi akrab sama Ciel-senpai?”
“Nggak mungkin, bung. Aku saja perlu 7 hari agar dia bisa ingat namaku.”
“Tidak biasanya. Bukannya kamu tidak mau urusan sama cewek yang susah didekati?”
“Iya.! Tapi yang ini lain, bung.” Arihiko terdiam sejenak.
“kau tahu sebenarnya aku......”
“Aha!” aku memotong kalimat Arihiko
“Aku tahu.... kamu menyukai seorang Senpai yang berkacamata, ya kan?”
“Guuuh!” Wajah Arihiko tiba-tiba memerah.
“Kau tahu temanku? Kita berteman sudah lama. Kita memiliki banyak persamaan dan kita menyukai bayak hal yang sama.” aku berkata dengan bahasa diplomatis.
“Aku mengerti. kamu juga menyadari betapa baiknya senpai____ HEY!” Arihiko tampaknya menyadari sesuatu.
“Seperti yang kubilang tadi sahabatku. Kita memiliki banyak persamaan. Dan tidak aneh bila kita sama-sama menyukai tipe wanita yang sama.”
Arihiko mngangguk setuju. Dia kemudian kembali ketempat duduknya.
“Persahabatan yang sangat singkat, ya, Shiki?” katanya bercanda
“Yah, sepertinya begitu” aku menjawab sambil tersenyum
Kemudian pelajaran pertama dimulai.
Waktu makan siang tiba. Arihiko sudah pergi duluan kekantin. Aku memutuskan untuk membeli roti dan memakannya dikelas. Masih ada beberapa orang dikelas yang mengobrol.
Jam kelima dimulai.
Merasa ngantuk mendengarkan penjelasan guru, aku mengalihkan pendanganku ke luar jendela. Kemudian____ aku melihat sekor gagak mendarat dan bertengger di beranda kelas.
Bukan gagak biru yang kemarin. Hanya gagak hitam biasa. Gagak itu melihat kealam kelas melalui jendela.
DEG!
Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur. Keseimbanganku juga kacau. Mataku berkunang-kunang dan kepalaku terasa berat.
“Sial!”
Aku tahu apa yang terjadi. Anemia. Aku merasa pandanganku mulai gelap.
Ini buruk. Aku selama ini tidak pernah pingsan didalam kelas. Aku berusaha menggunakan meja untuk menjaga keseimbanganku. Namun sia-sia. Karena tanganku terasa lemas. Aku hampir terjatuh.
“Maaf, Sensei!” Aku mendengar suara yang sangat kukenal
“Tampaknya kondisi Tohno tidak begitu baik. Aku akan membawanya ke ruang kesehatan.”
Arihiko yang bicara. Dia kemudian membantuku berdiri.
“Kamu tidak apa-apa, Shiki?” tanya Arihiko
“Aku tidak ap,......”
“Wah tampaknya benar-benar buruk. Seharusnya kamu pulang lebih cepat.” Dia mengatakannya dengan agak keras sehingga seluruh kelas bisa mendengar.
“Baiklah, aku sudah tahu tentang masalah kesehatan Tohno. Sebaiknya, jika merasa kurang sehat kamu pergi ke ruang kesehatan, atau pulang lebih awal.” Kata Sensei.
Dia benar-benar percaya apa yang dikatakan Arihiko
“Sebaiknya kamu pulang. Kondisimu nggak mungkin buat sekolah sampai selesai” kata Arihiko.
Aku menjawabnya dengan anggukan.
“Kalau begitu, Sensei, saya minta ijin pulang sekarang”
Pak guru hanya mengangguk.
“Maaf membuatmu cemas, Arihiko.” Kataku pada Arihiko.
“Nggak masalah. Aku sudah kenal kamu sejak SMP. Jadi tahu kapan kamu mau ambruk karena anemia.”
Kemudian aku berjalan keluar kelas.
Aku sampai di gerbang sekolah. Sebenarnya akan lebih baik bila aku tidur di ruang kesehatan. Tapi dengan kondisiku yang sekarang, aku baru akan terbangun setelah sekolah ditutup. Jadi aku berpikir untuk pulang meskipun sedikit memaksa tubuhku.
“Rasanya sudah agak baikan...”
Aku menghirup udara luar dan sedikit merasa sehat.
Setelah kecelakaan 8 tahun lalu, mendadak aku mengidap anemia. Hari-hari pertama aku meninggalkan rumah sakit, pingsan setiap hari sudah menjadi rutinitasku. Semakin aku besar, gejala anemia semakin jarang kurasakan. Namun kadang-kadang aku masih mengalaminya meskipun tidak sesering dulu.
Hari ini aku beruntung ada Arihiko. Karena biasanya, aku bisa pingsan dimana saja.
Aku tiba dijalan utama. Setelah melalui jalan ini dan daerah perumahan, aku akan sampai rumah.
“Ah sial,”
Tampaknya aku belum benar-benar pulih. Aku meletakkan punggung telapak tangan didahi, dan ternyata rasanya panas tubuhku sedikit lebih tinggi dari biasanya. Kalau aku terus memaksa untuk terus, aku bisa pingsan ditengah jalan
“Aku harus istirahat dulu.”
Aku kemudian bersandar pada pembatas jalan.
Karena tidak ada yang bisa kulakukan, aku melamun memandangi jalan. Baru jam 12 lewat, tapi jalanan sudah dipenuhi orang.
Keramaian. Banyak orang yang lalu lalang didepanku tanpa melihat kiri-kanan.
“.......... Mungkin sudah saatnya pulang.”
Aku bangkit dari pembatas jalan, dan kembali berjalan pulang.
Rencananya seperti itu, sampai aku melihat seorang gadis. Biasanya aku tidak peduli sama yang seperti itu, tapi ketika aku melihatnya, pikiranku seperti membeku.
Deg deg!
Rambutnya berwarna emas dan matanya berwarna merah.
Dia memakai baju putih yang seperti melambangkan dirinya sendiri.
Deg deg!
Jantungku berdegup kencang.
Darahku mengalir deras
Syarafku menegang
Tulangku mengamuk seakan-akan hendak keluar dari tubuhku.
Deg! Deg!
Gadis yang cantik. Sangat cantik.
Aku kembali merasa pusing.
Kesadaranku memudar.
Deg! Deg!
Aku tak dapat bernafas.
Jari-jariku gemetar seperti tidak dialiri darah
Tubuhku dingin seperti membeku
Deg! Deg!
Detak jantungku semakin kencang seolah memintaku untuk bergegas
*hah hah*
Aku tak dapat menahannya lagi
Aku mulai mengatakan kata-kata yang tidak jelas
Aku tidak dapat berpikir.
Otakku hanya mengatakan satu kata
Deg Deg!
Hanya satu kata yang terus berputar dikepalaku
Dia
Gadis itu
Aku ingin,______
Deg deg!
Aku merasa mual.
Aku tak bisa bernafas
Sesak
Sesaat aku lupa bagaimana bernafas dengan benar
Deg! Deg!
Kerongkonganku kering
Mataku seakan ingin keluar
Tanganku terasa dingin
Aku merasa kedinginan, tapi aku berkeringat
“Uh....uh...uh...”
Aku mengikutinya
Aku harus mengikutinya
Kejar dia.
Kejar dia
Kakiku mulai bergerak.
Nafasku memburu seperti seekor binatang
Aku mengejar gadis itu.
“Uh....uh....uh....”
Gadis itu berjalan pelan
Dia belum sadar kalau dia sedang kuikuti
“Uh....uh....uh...”
Aku ingin mendekatinya.
Berbicara dengannya
Menanyakan namanya
“Uh....uh...uh....”
Menanyakan namanya?
Apa aku bercanda?
Bukan itu yang kuinginkan
Aku tahu,.... tapi aku juga bingung
Sepertinya aku ingin melakukan yang lain
Tapi aku tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang kuinginkan
Pikiranku terasa berkabut
Tenggorokanku kering
Aku tak dapat bernafas
Terus kenapa?
Hal yang biasa kan? aku baru saja melihat wanita yang hebat. Akan sangat tidak sopan bila tidak tertarik padanya.
Hentikan dia dan tanyakan namanya
Huh? Yang benar saja.
Aku bukan anak kecil
Aku tidak benar-benar mengerti, tapi aku tahu apa yang harus kulakukan
Aku merjalan sambil memasukkan tanganku ke saku celana
Jari-jariku menyentuh besi.
“Ku____uhh!”
Dia berjalan
Aku menjaga jarak agar dia tidak menyadari kehadiranku, sehingga orang-orang disekitarku tidak curiga.
Aku dan dia tidak pernah bertemu
Karena itu, aku harus bergerak sealami mungkin untuk mengikutinya.
Dia masuk kedalam sebuah apartemen
Aku tidak ikut masuk, tapi menunggu diluar.
Dia keatas naik lift
Lift berhenti dilantai 6
Aku kemudian melihat mail box di lantai 1
Ada 5 mail box untuk lantai 6
Aku menyentuh salah satun dan merasakan sensasi yang tajam
Aku tahu
Tidak mungkin salah
Dia ada dikamar nomor 3 lantai 6
Aku masuk kedalam lift dan menekan tombol 6
Aku bersemangat.
Aku menggengam pisau di saku dengan erat
Dia sudah dekat
Sebentar lagi aku bisa melakukannya
Memikirkannya saja membuat tubuhku panas
Tubuhku terasa seperti organ seksual sebelum mengalami klimaks
Aku keluar dari lift.
Koridor lantai 6 sangatlah sepi
Bagus!
Cepat!
Cepat!
Aku ingin melakukannya!
Aku tiba didepan pintu kamar nomor 3
Aku melepas kacamataku karena menggangu
Aku tak dapat melakukan apa yang kuinginkan bila tetap memakainya
‘Berjanjilah, Shiki-kun. kamu tidak boleh memotong garis itu tanpa pikir panjang’
Dulu ada seorang wanita yang mengatakan hal itu padaku
Terus kenapa? Sekarang saja, aku sudah lupa wajah dan namanya
Deg deg!
Aku bisa melihat garis maut
Bukan hanya itu. Apa yang terjadi dengan mataku? Bukan hanya garis dan retakan. Aku juga dapat melihat titik yang seperti lubang hitam disepanjang garis. Dan jumlahnya sangat banyak
Apa itu?
Apa yang akan kulakukan?
Mengapa?
Apa yang diinginkan Tohno Shiki terhadap gadis itu?
Aku tidak tahu
Dalam ketidak tahuan itu, aku menekan bel
“Ya?”
Aku mendengar suara dari balik pintu
Pintu sedikit terbuka
Dengan cepat aku segera memaksa mendobrak masuk
“Eh?” kata gadis itu terkejut
Dia mencoba mengatakan sesuatu. Namun dia tidak akan sempat mengatakannya. Karena aku akan segera memotong-motong tubuhnya
Dalam hitungan sepersekian detik, aku mencabut pisauku
Aku segera memotong garis-garis yang ada di tubuhnya
Crak
Crak
Crak
Crak
Aku membunuhnya
Aku memotongnya menjadi 17 bagian
Dari leher kebelakang, dari mata kanan hingga bibir, tangan kanan bagian atas, tangan kanan bagian bawah, jari manis sebelah kanan, bahu kiri, jempol kiri, jari tengah sebelah kiri, dada kiri, dari tulang rusuk hingga jantung, dari perut hingga abdomen menjadi dua, kunci paha sebelah kiri, paha kiri, kaki kiri, tumit kiri, dan semuanya.
Tidak sampai 1 detik, aku memotongnya menjadi 17 potongan daging.
Mendadak aku sadar dengan apa yang telah kulakukan
Aku merasa pusing
Potongan-potongan tubuh gadis itu berserakan didepanku
Merah darah membasahi lantai
Terus mengalir seperti air.
Potogannya sangat rapi
Sehingga tidak ada organ dalam yang keluar
Hanya darah yang terus-terusan mengalir.
Aneh tidak ada apapun diruangan ini
Hanya potongan tubuh gadis itu,
Dan aku yang berdiri membisu
“Ya tuhan”
Aku melihat tanganku berlumuran darah, masih memegang pisau yang kugunakan untuk membunuh.
“Dia_____mati____”
Tentusaja
Kalau masih hidup berarti dia bukan manusia.
“Kenapa?”
Tidak ada yang perlu tanyakan lagi.
Aku melakukannya sendiri.
Dengan tanganku sendiri, aku memotong-motong seorang gadis yang bahkan tidak kukenal
“Aku___membunuhnya?”
Tentu saja
Atau tidak?
Aku tidak punya alasan melakukannya
Karena itu ini pasti sebuah kesalahan. Ini harus sebuah kesalahan
Perlahan darah merah gelap mengalir menyentuh ujung kakiku
“Ah!”
Aku segera menyingkir
Namun terlambat.
Darah itu menyentuh sepatuku.
Merah darah
Warna yang kubenci
Masih terus mengalir
“______Bukan aku”
Ya ini pasti sebuah kesaahan
Kesalahan kesalahan
Kesalahan kesalahan
Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan Kesalahan kesalahan
Ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun bau darah menyadarkanku
“Tidak.....mungkin”
Ya!
Tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin
Tapi
Aku
Membunuh
Nya
Ya
Aku
Tohno Shiki
Ingin membunuhnya
Gadis itu
Itulah yang ingin kulakukan terhadap gadis ini.
Hanya membunuhnya.
Bau darah membuatku ingin muntah
Aku berlutut ditengah lautan darah
“hoek....ohok...ohok!!”
Aku memuntahkan seluruh isi perutku
Semuanya hingga tak tersisa
Aku menangis
Air mataku tidak mau berhenti
Aku terduduk
“Ah______Ahh!”
Aku terus menangis
Fakta bahwa aku membunuh seseorang membuatku sedih, menyesal, dan takut.
Tidak! bukan begitu.
Aku sedih karena membunuh orang tanpa alasan. Seperti merusak sebuah boneka
Aku tidak mengerti.
Mengapa aku membunuhnya?
Tanpa alasan
Aku tidak bisa menemukan satu alasanpun
Ini bukan mimpi. Dan aku mungkin terus membohongi diriku sendiri selama ini.
Akhirnya aku mengerti
Aku menginginkannya
Pembunuhan ini.
Dengan melihatnya saja aku merasa bergairah
Bahkan ketika aku memotongnya, aku hampir mengalami ejakulasi
Mata ini
Aku tahu apa yang akan terjadi jika aku memotong garis-garis itu. Aku seharusnya mengerti. Seharusnya aku menjalani hidupku dengan normal tanpa memikirkan hal-hal seperti itu.
Jika aku benar-benar orang yang dapat membunuh tanpa pikir panjang seperti ini. Seharusnya aku membuang mata ini atau hidup tanpa perlu melihat orang lain.
Aku menyesal
Bahkan untuk sebuah janji saja, aku tak dapat menepatinya.
“_____Apakah aku sudah gila?”
Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak berpikir untuk menahan diri. Aku bahkan tidak mencoba untuk berhenti
Mungkin benar aku sudah gila. Mungkin sebenarnya sejak 8 tahun yang lalu, kau sudah menjadi gila, Tohno Shiki.
Aku mendengar suara titik-titik air
Hujan.
*****
Aku seperti orang ling-lung
Tenggorokanku sakit bila aku bernafas
“Oh...ouch...”
Aku bisa berbicara
“Shiki-sama?”
Tiba-tiba aku mendengar ada orang yang memanggilku.
Ada seseorang disampingku
“Kamarku...........?”
Entah bagaimana caranya, aku sekarang berada dikamarku.
“Selamat malam, Shiki-sama”
Aku melihat kearah suara itu berasal
“Hisui”
“Ya, bagaimana keadaan Anda?”
Hisui bertanya sesuatu yang aneh. Karena tidak ada yang salah dengan tubuhku
“Kok____bisa?”
Ya. kenapa?
Kenapa aku bisa disini?
“Aku membu_____”
Aku hampir mengatakan ‘membunuh seseorang’. Namun aku segera membatalkannya
Otakku mengatakan ‘jangan katakan’
“Kenapa aku_____disini, Hisui?”
“........., Anda tidak ingat, Shiki-sama?”
“Sekolah menelepon bahwa Anda pulang lebih cepat hari ini.” Kata Hisui mulai menjelaskan.
“Karena Anda belum pulang hingga hari mulai malam, kakak mencari Anda, dan menemukan Anda sedang beristirahat ditaman”
“Taman kota?”
“Ya, ada ditemukan sedang duduk disana ditengah hujan. Kemudian Anda kembali kerumah.”
“Kau bercanda. Aku tidak ingat tentang itu.”
“Bukan hal yang aneh bila ingatan Anda saat ini sedang kacau, Shiki-sama. Ketika kakak membawa Anda pulang, Anda terlihat seperti orang ling lung”
“..........”
Aku tidak ingat sama sekali. Tapi aku tidak meragkan kata-kata Hisui.
“Ketika Anda sampai dirumah Anda hanya mengatakan ‘ingin tidur’. kakak menyarankan untuk memanggil dokter, tapi Anda bilang ‘tidak usah’
“____ Begitu ya. Ya aku sering pingsan karena anemia, tapi____”
Kali ini berbeda
Karena aku sudah membunuh seseorang, _____huh?
“Hisui, waktu itu aku terlihat bagamana?”
“Huh?”
“Maksudku tentang pakaianku. Apakah ada semacam noda ___darah___ dibajuku?”
Aku yakin pakaianku terkena cipratan darah.
“Karena pakaian Anda sangat kotor, maka saya mencucinya”
“Maksudmu...?”
“Pakaian anda banyak terkena lumpur, namun saya tidak menemukan adanya noda darah atau semacamnya” kata Hisui. “Mungkinkah Anda bermimpi buruk?”
Hisui memandang wajahku
“Mimpi? Jadi itu hanya mimpi ya?”
Benarkah tadi itu mimpi?
Perasaan saat itu
Bau darah itu
Gadis berbaju putih itu
“Mungkin kamu benar_____Hanya mimpi”
Aku merasa lega
Benar. Pastilah itu mimpi
Tidak munkin aku melanggar janjiku kepada Sensei tanpa alasan
“Ah___akhirnya aku bangun juga” kataku lega.
“.........? Bila anda sudah merasa baikan, saya akan segera menyiapkan makan malam.”
“Makan malam, huh?”
Meskipun itu tadi hanya mimpi, tapi bau darah dan warnanya masih terus berputar dikepalaku.
“Tidak usah. Aku mau langsung tidur saja. Oh ya, aku ingin bertanya, Hisui”
“ya?”
“hari ini aku pulang agak malam. Terus Akiha bilang apa?”
“Saat itu Akiha-sama belum pulang. Beliau sampai rumah sekitar dua jam yang lalu. Namun kakak sudah memberitahukan keadaan Anda kepada beliau” jawab Hisui
Mata Hisui seakan bertanya ‘kenapa bertanya seperti itu?’
“Enggak, hanya saja apa dia marah karena aku sudah membuat masalah padahal baru tinggal disini 2 hari”
“Beliau terlihat cemas. Namun tidak terlihat marah.”
Mengatakan itu, Hisui melangkah mundur.
“Kalau begitu saya permisi. Bila Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa memanggil Saya”
“Ah, satu lagi. Tadi hujan tidak?” aku menghentikan langkah Hisui
“Ketika kakak menemukan anda, anda basah kuyub, Shiki-sama” jawab Hisui dingin
“........”
Aku bahkan tidak ingat kejadian itu. Tampaknya kasus anemia kali ini cukup parah. Seharusnya aku tadi pergi ke ruang kesehatan saja, dari pada pulang kerumah.
“Baiklah, maaf merepotkanmu. Sampaikan terima kasihku kepada Kohaku”
“Saya mengerti. Selamat malam”
Setelah membungkukkan badannya, Hisui meninggalkan kamarku.
Mimpi, eh?
Aku merasa tidak mengerti apa yang terjadi.
Bagaimana aku yakin kalau semua itu cuma mimpi.
Aku mendengar suara hujan
Kepalaku masih terasa berat.
Aku melihat bekas luka didadaku.
Rasanya panas seperti terbakar.
“Ah____”
Aku melihat pisau warisan ayah diatas meja
Pisau yang memotong tubuh gadis itu menjadi 17 bagian
Tapi semua itu hanya mimpi. Tidak lebih.
Aku mengatakan hal itu terus menerus dalam kepalaku hingga tertidur.•
Friday, December 5, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment