Saturday, December 6, 2008

CHAPTER 7: Eyes of Death Perception #2

Dulu, halaman rumah terlihat seperti taman bermain yang luar biasa besar. Kebunnya terlihat seperti hutan. Rumahnya sendiri terlihat seperti kastil. Waktu itu aku berpikir untuk menjelajahi seluruh rumah saja mungkin akan memerlukan waktu berhari-hari.

Dulu setiap hari terasa menyenangkan. Tidak ada yang berpikir untuk cepat menjadi dewasa. Kami percaya, bahwa setiap hari akan selalu sama seperti ini.

Dulu, kami hanya anak-anak yang senang bermain. Kami sangat akrab. Setiap kali aku menoleh kebelakang, Akiha selalu disana bersembunyi sambil melambaikan tangannya dengan malu-malu.

Dulu, halaman rumah terlihat seperti taman bermain yang luar biasa besar. Kebunnya terlihat seperti hutan. Rumahnya sendiri terlihat seperti kastil. Waktu itu Aku berpikir untuk menjelajahi seluruh rumah saja mungkin memerlukan waktu berhari-hari.

Dulu setiap hari terasa menyenangkan. Tidak ada yang berpikir untuk cepat menjadi dewasa. Kami percaya, bahwa setiap hari akan selalu sama.

Dulu, kami hanya anak-anak yang senang bermain. Kami sangat akrab…….

****

Perlahan Aku membuka mataku. Matahari pagi menghangatkan tubuhku, dan menghilangkan rasa kantukku.

“...........”

Aku bermimpi tentang masa kecilku.

Begitu mataku terbuka lebar, aku kembali melihat garis-garis yang mengerikan itu disertai rasa sakit yang menusuk kepalaku. Aku mencari kacamataku disamping bantal, dan memakainya.

Setelah beberapakali menarik nafas, aku menjadi lebih tenang.

“Sepagi ini?”

Aku melihat garis-garis maut dengan sangat jelas. Biasanya sangat sulit melihat garis maut setelah bangun tidur. Kejadian pagi ini sangat jarang terjadi.

Sensei pernah mengatakan mungkin mataku ini akan menarik hal-hal yang tidak baik disekitarku. Dan yang pertama kali terpikirkan olehku sebagai hal yang tidak baik adalah Arcueid dan para vampire. Jadi mungkin terlibat dengan mereka membuat kemampuan mataku menjadi semakin kuat.

“___Ah, ngaco!”

Mungkin Aku hanya merasa sedikit lelah.

“Huh?”

Aku baru sadar, Hisui tidak berada disini. Aneh sekali. Ini sudah jam 7 lebih. Biasanya dia sudah membangunkanku.

“Mungkin dia ketiduran?”

Tapi aku melihat bajuku sudah diletakkan diatas meja dengan rapi.

“Atau mungkin dia sedang mengerjakan tugas yang lainnya”

Sudahlah, sebaiknya segera ganti baju dan turun keruang duduk.

“Ah?”

Sesampainya di ruang tengah, aku sadar kalau aku melupakan sesuatu yang sangat penting. Aku hanya berdiri didepan ruang tengah, tapi tidak melangkah masuk.

Akiha ada disana. Dan Kohaku duduk disebelahnya. Mereka berdua sedang minum teh dengan tenang.

Biasanya Akiha akan menyapa ‘selamat pagi, kak’ semarah apaun dia. Tapi kali ini, melihat kearahku pun tidak.

Mati aku. Aku lupa kemarin Arcueid datang kemari dan membuat sedikit masalah dengan Akiha. Hawa membunuh Akiha sangat terasa. Aku hanya bisa menelan ludah.

“Selamat pagi, Shiki-san”

Ah, paling tidak Kohaku tidak begitu terpengaruh dengan kejadian kemarin.

“Ah, ya. Selamat pagi Kohaku”

Aku melangkah masuk kedalam ruang duduk sambil melambaikan tangan kearah Kohaku.

Akiha menatapku marah.

Sepertinya kali ini aku tidak akan selamat. Kalau begitu, aku harus mengubah moodnya. Kalau aku bersikap biasa, aku akan tertelan oleh hawa pembunuhnya. Saatnya mengubah cara pendekatan.

“Good morning” aku mengucapkan salam dalam bahasa Inggris “Hari yang indah ya, Akiha?” tambahku

Hahaha aku menyapanya dengan ceria.
Ha ha........ha.....
...............

Rasanya kok dia menataku semakin tajam. Kalau begini, bisa dihabisi aku.

“Mmm...aku mau sarapan. Aku ke ruang makan dulu”

Bagus. aku sekarang harus lari ke ruang makan.

“___Kak__”

Suraranya menghentikan langkahku. Tentu saja dia tidak akan melepaskanku begitu saja.

“Apa? kau perlu sesuatu?” Aku mencoba bersikap bodoh.

Dia menatapku tanpa berkedip

“Sebelum sarapan, kita harus bicara dulu. Tolong duduk di sofa.”

“...Ok. tapi usahakan sependek mungkin.”

Aku di sofa yang bersebrangan dengannya. Kohaku kemudian menuangkan teh untukku. Senyumnya seakan mengatakan ‘bertahanlah’ yang memberiku sedikit keberanian.

Aku segera meminum teh untuk menghindari tatapan Akiha.

“Jadi, apa yang mau kau bicarakan Akiha?”

“Tentang wanita semalam, apa hubungan kakak dengannya?”

Guh!!!
Biasanya Akiha sedikit berputar-putar, tapi kali ini dia mengatakan secara langsung ke pokok permasalahan.

“Kakak? Kau mendengarku?”

“Ya ya, Aku dengar dengan jelas”

“Kalau begitu, tolong segera dijawab”

“....Um, bagaimana ya? Dia teman.... dan aku setuju untuk membantunya melakukan sesuatu.”

“Teman yang sangat penting sehingga membuat kakak meninggalkan rumah malam hari? Saya tidak berniat untuk merestui hubungan yang kakak miliki. Kakak masih sekolah kan? Putra pertama keluarga Tohno pergi bersama seorang wanita asing malam hari? Apa kata orang-orang nanti? Kak, berhentilah membuat masalah.”

Dia mengatakkanya sambil tersipu dan mengalihkan pandangan.

Ternyata Akiha melihat hubunganku dan Arcueid seperti itu ya,

“Akiha. Tidak ada yang terjadi diantara kami. Aku hanya membantunya mencari sesuatu. Setelah itu, kami tidak akan bertemu lagi.”

“Oh benarkah? Tapi kalian terlihat begitu dekat. Apa mungkin hanya imajinasiku saja, ya kan kak?”

Pandangannya terasa dingin. Seandainya saja aku berbohong dan mengatakan ‘Kami tidak seperti itu’ mungkin semuanya jadi lebih mudah. Tapi aku tidak ingin berbohong kepada Akiha, selain itu, aku tidak ingin menyangkal; kalau kami memang dekat.

“...Mungkin bukan hanya imajinasimu saja....mungkin” kataku ragu.

“Lihat! Kakak terlihat panik. Kakak yang tidak pernah serius menunjukkan emosi seperti itu. Apa yang tejadi dengan kakak?” tanya Akiha dengan nada sedikit membentak.

“Bukan begitu! Aku hanya tidak menyangka kalau dia bakal kemari”

“Wanita itu menunggu kakak dengan tenang sepanjaaaang waktu...Kakak tahu itu?”

Dia melirikku seperti mau membunuhku saat itu juga. Tampaknya dia sangat yakin kalau Aku dan Arcueid pacaran.

“Dengar Akiha. Kau salah. Pertama kali kami bertemu ketika____”

Ketika aku membunuhnya.

Aku menelan sisa kalimatku. Bisa dianggap bodoh kalau aku mengatakan sejujurnya. Tapi aku tidak bisa menemukan alasan yang baik.

“Kalau kakak tidak bisa menjawabnya, saya akan merubah pertanyaannya. Siapa nama wanita itu?”

“....Arcueid”

“Ah, dan kakak tidak bertemu dengannya disekolah. Karena disekolah kakak tidak ada murid asing.”

Seperti kata Akiha, tidak ada murid asing disekolahku.

“Jadi kak, dimana kakak bertemu dengan wanita itu?”

“Di kota. Kebetulan saja.”

“Kebetulan? Jadi Arcueid-san menyapa kakak?”

“Ah....tidak. Aku yang, menyapanya....duluan”

Sebenarnya bukan benar-benar menyapa, tapi bagaimana mengatakannya?

“Tapi kenapa? Bukankah bagi kakak Arcueid-san bukan siapa-siapa? Atau sejak awal kakak memang berniat yang tidak-tidak?”

Pertanyaannya tepat sasaran. Sedikit demi sedikit, dia mengorek rahasiaku. Seperti seekor ular yang mengincar katak, dia mengesampingkan semua alasanku dan berusaha memojokkanku.

Hanya paksaan yang bisa kugunakan untuk menghentikan percakapan ini.

“Sudah cukup! Sudahku bilang kami tidak ada apa-apa! Lagi pula bukan urusanmu Aku pacaran dengan siapa!”

Setelah melihat wajah marahku, Akiha berdiri. Dia tidak berusaha menyerang balik, tapi malah terlihat seperti merasa bersalah.

“Maaf. Tapi hanya saja saya merasa ada sesuatu yang salah dengan wanita itu. Mungkin kalau kakak dengan wanita lain tidak apa-apa, tapi kalau dengannya,..... “ Akiha menghentikan kata-katanya.

“Saya terdengar bodoh ya?” Tambah Akiha tertunduk sedih

Aku tidak tahu kenapa. Tapi Akiha menggigit bibirnya sendiri dengan penuh penyesalan ketika mengatakannya.

“Aku sudah bilang dia bukan siapa-siapa. Ada apa Akiha? Kau terlihat aneh?”

“Cukup. Kalau kakak mau melakukan semau kakak, lakukan saja.”

Sambil terisak, Akiha keluar dari ruang duduk. Aku sama sekali tidak mengerti.
“Shiki-san, Anda sangat keterlaluan kali ini.”

Kohaku memandangku kecewa sambil menghela nafas, dan kemudian mengikuti Akiha.

“Kasihan Akiha-sama. Seandainya anda ingin membawa pacar anda, bawalah seseorang yang lebih biasa. Akiha-sama pasti tidak akan merasa keberatan”

Karena suasana yang serba tidak enak dirumah, Aku memutuskan pergi kesekolah tanpa sarapan.

Disekolah, aku masih merasa mengantuk. Aku berkali-kali menguap. Sekarang hari sabtu. Artinya jam pelajaran hari ini lebih pendek dari hari-hari sebelumnya. Karena besok libur, lebih banyak murid yang menunggu bel tanda sekolah usai daripada memperhatikan pelajaran.

Banyak sekali hal aneh yang kualami akhir-akhir ini. Bahkan sekarang Aku merasa aneh bisa duduk dibangku sekolah. Malam nanti aku juga harus mengalami hal aneh lagi, keluar bersama Arcueid. Tapi ketika kulihat pantulan bayangan wajahku di kaca jendela, wajah seorang Tohno Shiki terlihat begitu bahagia. Mungkin menjelajahi kota pada malam hari bersama Arcueid tidak begitu menyenangkan, jadi kenapa aku malah senang?

“....Arcueid....”

Sungguh aneh. Ketika aku melihat keluar melalui jendela, aku melihat bayangan Arcueid yang melambaikan tangannya dan berkata ‘Hai’. Mungkin aku bnar-benar sudah terpikat pada….

Tunggu dulu!

“ Lha....a, wa, wa___!”

Aku segera meneluarkan kepalaku dari jendela dan melihat kebawah.
Aku melihatnya. Bukan hanya bayanganku saja. Arcueid MEMANG berada dihalaman sekolahku melambaikan tangannya.

“!!!!!!!”

Aku segera melihat teman-teman sekelasku. Dan untungnya belum ada yang sadar kalau ada seorang asing yang melambaikan tangannya padaku dihalaman sekolah.

“Apa yang dia pikirkan!” Aku berbisik pada diriku sendiri. Tapi mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Masih ada 20 menit sebelum makan siang. Apa yang harus kulakukan? Jika kubiarkan sendiri, Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Bahaya harus dicegah sebelum terjadi. Sebelum dia membuat masalah, Aku harus menyeretnya keluar dari sekolah.

“Pak guru! Aku merasa pusing karena anemia. Saya minta ijin untuk keruang kesehatan.”

Setelah mendapat ijin dari guru, Aku langsung keluar dari kelas. Menuju tempat Arcueid berdiri.

“Ah, disini rupanya. Larimu cepat juga. Tampaknya hari ini kau sangat sehat, Shiki”

Aku hanya bisa melongo mendengar sapaan Arcueid. Tampaknya dia sama sekali tidak menyadari masalah yang bisa ditimbulkannya.

“Gedungnya kecil sekali ya? Kukira yang namanya sekolah gedungnya akan lebih besar dari___Kyaa!”

Aku mencengkram lengan Arcueid.

“___Kau, ikut aku”

Menyeret paksa Arcueid, aku pergi kesuatu tampat dimana tidak ada seorangpun yang bisa melihat kami.

“Hey. Ada apa? Kenapa membawaku kemari?!!”

Arcueid protes karena kubawa paksa kemari. Selain itu tampaknya dia tidak suka tempatnya. Toh, yang namanya sekolah memang bukan tempat yang menarik

“Aku yang harusnya bertanya begitu!”

Aku melepaskan tangannya, dan mengacungkan jari tengahku ke wajahnya.

“Eh?” sekarang Arcueid yang terkejut

“Kenapa kau jalan-jalan disiang hari? Terus kenapa kesekolahku? Kau belum pulih. Seharusnya kau tidur dan istirahat”

“Tapi karena kau bilang mau membantuku, aku berpikir untuk mencari petunjuk disiang hari. Aku tidak ingin kau melakukan pekerjaan tambahan___”

“Jangan cemas!” potongku

“Karena aku sudah bilang mau bantu, satu-dua pekerjaan tambahan akan kita lakukan bersama. Kamu tu tak bisa dipercaya, ya? Padahal kau lemah pada siang hari, tapi malah keluar. Apa kau senang membuatku khawatir?”

“Maaf” Arcueid tertunduk menyesal

“Eh?” giliranku yang terkejut mendengar permintaan maaf Arcueid

“Maaf telah membuatmu cemas”

“Ah.......”

Jantungku berdegup semakin cepat. Arcueid meminta maaf. Entah kenapa dia terlihat sangat manis.

“Tapi ini juga salahmu Shiki. Aku sudah lama disana, tapi kau belum sadar juga. Jadi kupikir, aku langsung masuk saja”

“Langsung masuk? Kau mau langsung masuk ke kelasku dilantai tiga?”

“Yah, meniti beranda tidak begitu sulit. Selain itu, melompat kesana juga sangat mudah.”

“_____”

Kutarik kata-kataku tadi. Dia tidak punya akal sehat! Tapi untunglah, belum ada orang yang menyadarinya.

“Terus? Kenapa kesekolah? Katanya mau mencari petunjuk?”

“Aku merasa ada yang aneh disini, terus aku mencium baumu. Aku baru sadar kalau ini sekolahmu”

“Jadi kau kesini begitu saja? Tanpa alasan?” aku bertanya dengan nada agak keras.

Mencium bauku? Apa dia anjing?

“Maaf ya, aku punya alasan kemari. Aku tidak melihat ada jejak Zombie disini, jadi aku mau memastikan”

“Kalau tidak ada jejak, bukankah berarti tempat ini tidak penting? Disekolah tidak ada orang ketika malam, jadi pastinya Zombie pergi kekota bukan kesekolah.”

“.... Kata-katamu masuk akal juga” kata Arcueid setelah merenungkan kata-kataku

“Benar. Tidak ada yang aneh disini”

“..... Kalau kau bilang begitu, berarti memang tidak ada yang aneh disini....mungkin,” katanya tidak yakin

“Tidak ada ‘mungkin’. Aku yakin sekali” kataku ngotot. Arcueid tampaknya tidak percaya padaku.

KRIIIIING!

Bel tanda istirahat siang berbunyi.

“Ah, Sial”

Meski tidak banyak murid kemari, ketika jam istirahat, mungkin ada beberapa murid yang melalui tempat ini.

“Dengar. aku akan memenuhi janjiku. Jadi pulang dan istirahatlah. Mungkin nanti malam kita akan bertemu musuh kita.”

“Oh? Kau terdengar seperti ingin mengusirku?” Arcueid mulai terlihat marah.

“Alah, cuma perasaanmu saja. Sana cepat. Nanti dilihat orang”

Aku mendorng punggung Arcueid memintanya segera pergi.

“......”

Meski matanya terlihat ingin mengatakan sesuatu, dia pergi begitu saja mengikuti perintahku. Setelah melihat Arcueid pergi, Aku kembali ke halaman depan.

Aneh. Aku merasa ada orang yang mengawasiku. Aku berbalik dan melihat seseorang.

“Senpai?”

Itu Ciel-senpai. Tapi raut wajahnya yang sangat mengerikan, membuatku ragu apa benar dia Ciel-senpai.

“__Senpai!”

Aku mendatanginya. Dia tetap berdiri disana menatap kearahku.

“Apa yang senpai lakukan disini?”

“Itu pertanyaanku Tohno-kun. Apa yang kau lakukan disini? Jam makan siang baru saja berbunyi. Kalau kau sudah disini, berarti kau membolos jam keempat” wajahnya kembali seperti Ciel-senpai yang kukenal

“Tidak kok. Hanya....kabur”

“Oh” tanggapannya dingin. Senyumnya terlihat sangat normal. Tapi dia terus menerus menatapku.

“Kalau begitu, Senpai sudah makan? Mau makan bareng?” Aku berusaha bersikap sebiasa mungkin.

“Maaf, aku sudah ada janji. Mungkin lain waktu.” Sesaat dia terlihat down setelah mengatakannya.

“Ada apa Senpai? Kau baik-baik saja?”

“Tidak. Hanya saja, kurasa saat-saat menyenangkan cepat sekali berlalu”

Dia memberiku senyuman yang lebar, dan kemudian berjalan meninggalkanku.


****


Sekarang hari sudah sore. Satu demi satu teman sekelasku meninggalkan sekolah.

“Baiklah”

Karena tidak ada lagi yang harus kulakukan, Aku juga pulang untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi nanti malam.

“Apa Akiha masih marah ya?”

Karena tidak dapat mengatakan terus terang, mungkin aku akan dicap sebagai kakak yang sangat buruk.

“Selamat datang, Shiki-sama” Hisui membungkukkan badannya begitu aku melewati pintu depan.

“....Aku pulang. Terima kasih sudah menunggu, Hisui”

Aku sudah seminggu tinggal disini, tapi aku masih belum terbiasa dengan peraturan dirumah ini.

“Akiha sudah pulang?”

“Belum. Akiha-sama mangatakan akan pulang larut malam. Jadi mungkin Shiki-sama akan makan malam sendirian hari ini.”

Aku tahu dia masih marah. Aku segera berjalan menuju kamarku.

“Shiki-sama...”

Hisui melihat kiri kanannya sebelum melanjutkan.

“Maaf menanyakan pertanyaan yang aneh ini, tapi apakah anda hari ini akan keluar malam lagi?”

“Ah?”

Wajahnya masih tanpa emosi. Dia mungkin dia ingin tahu jam berapa aku akan pulang, karena dia adalah pelayan yang berdedikasi. Tapi kalau Hisui tahu, sama saja dengan memberi tahu Akiha.

Tapi aku tak bisa berbohong pada Hisui dan Kohaku yang mengurus rumah.

“Mungkin mulai hari ini aku akan keluar malam setiap hari. Tapi sumpah, aku tidak melakukan hal yang enggak-enggak. Mungkin Akiha akan membenciku, tapi aku belum bisa berhenti sekarang.”

Ya. Karena masih ada vampire yang menggentayangi kota setiap malam.

“Mungkin akan merepotkanmu, Hisui. Aku tidak tahu jam berapa aku akan pulang, tapi tolong pintu depan jangan dikunci”

“Shiki-sama, anda tidak akan mengatakan alasannya?”

“Maaf Hisui, tapi tolong jangan tanyakan itu. Aku tidak mau berbohong.”

“Baiklah. Anda adalah tuan saya. Sebagai pelayan yang baik, saya akan patuh.” Dia berbicara dengan sangat datar dan tanpa ekspresi.

Pecakapan selesai, dan aku segera menuju kamarku.

“Tunggu, Shiki-Sama”

Tiba-tiba saja Hisui memanggilku lagi.

“Mungkin terdengar tidak sopan tapi....”

Hisui menggenggam tangannya sendiri erat-erat sambil melihat kearahku.

“Kalau anda ingin, saya bisa merahasiakannya dari Akiha-sama”

“Eh? Maksudmu___”

“Setelah makan malam, Akiha-sama sangat jarang meninggalkan kamarnya. Sedangkan saya dan kakak bergantian berpatroli mengelilingi rumah. Jadi bila anda tidak mengatakannya, Akiha-sama tidak akan tahu.”

“Terima kasih....terimakasih. tapi kau yakin? Dia yang mempekerjakanmu kan?”

“Tapi anda adalah tuan saya” katanya mantap

__Ah, aku bahagia. Aku memang selalu mengatakan untuk tidak memanggilku dengan kata ‘sama’ tapi, aku benar-benar beruntung ada Hisui disini.

“Terima kasih Hisui”

“Anda bisa menggunakan pintu pelayan dibelakang. Pintu depan akan dikunci, tapi bila anda menggunakan pintu belakang, anda bisa keluar masuk tanpa seorangpun yang tahu.”

Ah? Lewat pintu belakangya? Pantas Aku tidak pernah melihatmu keluar melalui gerbang depan.”

“Tidak. Yang bisa menggunakannya hanya kakak. Kakak memiliki kuncinya. akan Saya ambilkan untuk Anda nanti”

Setelah itu, dia membungkukkan badan dan pergi.

“OK!” kataku bersemangat. Tampaknya aku bisa memenuhi janjiku pada Arcueid tanpa membuat Akiha cemas.

Setelah makan malam, aku kembali kekamarku. Aku melihat kunci di meja. Tampaknya Hisui yang meletakkannya disana ketika aku sedang makan malam.

“Saatnya berangkat” Memasukkan pisau ke saku, aku meninggalkan rumah dengan mengendap-endap. Setelah berhasil, aku langsung berlari menuju taman.

***

Suasana di taman sangat sepi. Mungkin karena kejadian pembunuhan akhir-akhir ini, orang-orang takut keluar.

Dalam kegelapan, aku melihat sosok putih yang berdiri ditengah jalan.

“Shiki!” Begitu melihatku, Arcueid berteriak marah. “Jam berapa ini!? Kau terlambat 20 menit!”

Tampaknya dia datang ke taman tepat waktu.

“Maaf, maaf, soalnya sedikit sulit keluar rumah tanpa ketahuan. Besok-besok tidak akan telat lagi. Aku janji.”

“Huh, tampaknya kau belum paham kalau kita disini untuk membunuh” Arcueid mendengus kesal.

Jangan bilang kalau dia sudah sampai sini lama sebelum waktu janjian.

“Arcueid, jam berapa kau sampai sini?”

“Aku? Aku langsung kemari setelah bangun, jadi____” Arcueid tampak sedikit berpikir.

“Mungkin sejak jam 7”

“Jam 7?! Kau berarti sudah menunggu lebih dari 3 jam?!”

Dia mikir apa sih? Kenapa menunggu sejak jam 7?

“Aneh ya?” gerutu Arcueid

“Ya, aku mengaku kalau salah sudah terlambat. Tapi kamu juga salah kan? Kalau datang sebelum waktu janjian, tentu saja kau harus menunggu.”

“Ini ya ini, itu ya itu. Pokoknya kamu terlambat” kata Arcueid membela diri

“...Iya sih, tapi 3 jam? Kalau punya waktu sebanyak itu, kenapa tidak tidur lagi saja?”

“Aku.......tidak tahu juga. Tapi karena sepertinya menunggumu terasa menyenangkan, tahu-tahu sudah jam 10”

“Menyenangkan? Kok bisa?”

“Tidak tahu. Aku sudah bilang kalau aku tidak tahu. ..... mungkin karena waktu kau membunuhku, ada sesuatu yang rusak dan tak dapat disembuhkan. Aku sendiri tidak tahu apa yang salah dengan diriku”

Kata-katanya membuatku tidak enak. Setelah kopotong-potong menjadi 17 bagian, aku selalu merasa bersalah padanya. Aku hanya bisa minta maaf.

“Sudahalah, kita tidak punya banyak waktu, Shiki”

Aku lega mendengarnya.

“Tapi kalau kau terlambat lagi, aku akan datang kerumahmu, dan menjemputmu. Karena kau tidak bisa menepati janji, kau tidak boleh protes”

“Hey hey! Aku berusaha menepati janji. Tapi keterlambatan seperti ini tidak bisa selalu dihindari. Pokoknya, jangan kerumahku. Akiha tidak tahu apa-apa soal ini. Jangan membuat semuanya jadi sulit”

“Mmm? Akiha? Adikmu itu? kok tidak mirip kamu sama sekali ya?”

“Aku benci mengakuinya, tapi, ya. Kau benar”

“Dan kamu takut ya, sama adikmu?”

“Diam! Aku cuma tidak mau dia cemas. Aku saja sudah jadi beban buatnya, jadi aku tidak mau membuat lebih banyak masalah”

“Oooooh, kamu kakak yang baik ya, Shiki?” kata Arcueid menggodaku

“Aku baik pada semua orang. Tapi akhir-akhir ini ada pengecualian”

“Hahaha, pasti aku” katanya tertawa

“Aku mengeluh, bukan memuji. Jadi hilangkan tawamu”

“Tapi bagimu, aku pengecualian kan? Bagaimana bisa tidak senang? Itu artinya aku istimewa” Dia tersenyum. Senyum polos seperti anak-anak yang ceria dan lepas.

“Sudahlah, ayo berangkat Arcueid”

“Oh ya Shiki, kalau aku memintamu melepas kacamata boleh tidak?”

“Untuk apa?”

“Sulit mencari mereka kalau menggunakan mata biasa. Aku hanya bisa mendeteksi, tapi kalau dengan matamu, pasti akan lebih cepat ketemu”

Aku mengerti maksudnya. Tapi kalau aku melepas kacamataku____

“Aku tahu. Aku bisa merasakan kalau matamu semakin kuat. Aku juga tahu melihat tanpa kacamata berakibat buruk untuk tubuhmu. Aku hanya meminta, tapi tidak akan memaksa. Keputusan ditanganmu, Shiki”

Berkeliling kota tanpa kacamata? Melihat tanpa kacamata saja sudah membuatku sakit kepala, apalagi ditambah jalan-jalan mengelilingi kota.
Tapi, selama luka Arcueid belum sembuh, aku, Tohno Shiki, harus membayar kesalahanku.

“Arcueid Aku____” Tidak apa-apa kan? Toh, Cuma sakit kepala. Kalau dibandingkan rasa sakitnya ketika kupotong-potong, ini belum seberapa “Baiklah. Akan kulakukan”

“Kalau begitu, kita berangkat sekarang.”

Aku melepas kacamataku, dan mengikutinya menuju pusat kota.

Aku berjalan mengikuti Arcueid. Aku tidak pernah melihat pemandangan penuh dengan ‘garis’ sejak keluar dari rumah sakit 8 tahun yang lalu. Anehnya, Aku tidak merasakan sakit kepala seperti biasanya. Mungkin yang menyebabkan sakit kepala bukan garis di gedung-gedung, tapi garis di tubuh mahluk hidup.

Kami berjalan menyusuri kota pada malam hari. Arcueid tidak bcara satu patah katapun. Dia hanya berjalan sambil sesekali menengok ke kiri-kanan. Setelah berjam-jam berjalan, kami tidak berhasil menemukan satu zombie pun.

“Shiki, kau boleh memakai kacamatamu lagi. Tampaknya pencarian malam ini kurang berhasil.” Arcueid terlihat sangat kecewa.

Setelah aku memakai kacamataku lagi, pandanganku kembali normal, dan tubuhku terasa lebih rileks.

“Benar nih, cuma sampai disini saja? Kita baru mengitari kota sekali lho,”

“Sekali sudah cukup. Aku tidak merasakan kehadiran zombie sama sekali. Tampaknya malam ini mereka tidak aktif. Musuh kita sudah menyadari kalau zombinya berkurang banyak. Pengecut satu itu rupanya masih ingin bermain petak umpet.” Arcueid menggigit bibirnya karena merasa tidak puas.

“Mood-mu lagi tidak baik ya?”

“Tentu saja. Kau sudah repot-repot membntuku, tapi tidak malam ini tidak ada hasilnya.”

“Aku sih tidak keberatan. Kalau kau belum puas, kita bisa jalan lagi. Kalau Aku lebih konsentrasi, mungkin kita bisa dapat petunjuk”

“Tidak bisa. Aku tidak bisa menekanmu lagi”

“Aku tidak merasa tertekan.”

“Mungkin kau tidak sadar, tapi kalau kau memaksakan diri, otakmu bisa rusak”

“Rusak? Aku?”

“Kamu tidak tahu sistem kerja matamu ya? Kalau tidak mengerti tidak apa-apa. Pokoknya jangan sampai kau memaksa melihat sesuatu yang sulit dilihat. Kalau kau mau, kau bisa melihat titik kematian di benda mati. Tapi kalau kau melakukannya, otakmu bisa overload dan berhenti berfungsi.”

“Maksudmu Aku bisa kehilangan kemampuan ini?”

“Bukan begitu. Bayangkan apa yang akan terjadi pada mesin jika dipaksa bekerja lebih lama dari batas toleransinya?”

“Tentu saja dikirim ketempat pembuangan. Karena setelah mesin meledak kau tidak bisa____”

Ah! Begitu ya! Sakit kepalaku ini sama dengan mesin yang meraung-raung karena bekerja terlalu keras.

“Sekarang mengerti kan? Kalau kau memaksakan melihat sesuatu yang sulit dilihat, pembuluh darah di otakmu bisa pecah, dan semua berakhir”

Aku selama ini tidak menyadari. Ada bahaya yang sangat seius dibalik sakit kepalaku ini.

“Kau harus banyak berterima kasih pada penyihir yang memberimu kacamata itu. Ada banyak Esper yang tidak mengetahui bahayanya menggunakan kemampuan mereka secara berlebihan.”

‘Mungkin ini alasan takdir mempertemukan kita. Aku kan mengembalikan hidupmu seperti semula’

Sensei pernah berkata demikian. Orang itu, dalam banyak hal telah sangat membantuku.

“?!”

Ah! Tiba-tiba aku merasakan sesuatu sesuatu. Bukan rasa sakit, tapi dadaku terasa sedikit gatal.

“Ada apa Shiki?” Arcueid bertanya

“Apa ini?”

Hanya sesaat, tapi Aku merasa ada yang aneh dengan dadaku. Ketika Aku memasukkan tangan ke kaosku, tanganku terasa lengket. Ada sesuatu yang lengket seperti tinta didalamnya.

Kukeluarkan tanganku dari dalam kaos, dan Aku melihat darah membasahi telapak tanganku.

“Eh?”

Perlu waktu yang sedikit lama untuk menyadari bahwa darah itu keluar dari luka lamaku.

“Shiki, itu_____” Arcueid terkejut. Begitu terkejutnya hingga tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Tidak sakit, lukaku tidak terbuka, tapi aku berdarah?”

Glek!
Aku menelan ludahku.

“Tidak apa-apa. Tidak terasa sakit. Darahnya juga sudah berhenti. Tidak ada yang perlu____”

Arcueid terus menatap tanganku. Lebih tepatnya darah ditanganku.

“Arcueid?”

Dia tidak menyahut. Nafasnya mulai memburu. Seakan berusaha menahan sakit.

“Arcueid, ada apa? Lukamu sakit lagi?”

Aku memegangi bahunya, tapi dia melompat mundur seakan menghindar.

“_____”

Dia melihatku seperti sedang melihat seorang musuh.

“....Ar....cueid?”

“Shi___ki?”

Sesaat, suaranya terdengar penuh kebencian.

“Aku___tidak pernah menyangka” Arcueid mengalihkan pandangannya menghindari aku.

“Ada apa? Sikapmu aneh, kau sakit?”

“....Mungkin aku terlalu memaksakan diri. Sebaiknya aku kembali pulang sekarang” kata Arcueid

“Ah ya. Hari ini sampai disini saja”

“Besok aku tunggu kau disini”

Tanpa melihatku, Arcueid langsung pergi.

Aku juga segera berjalan pulang, menuju daerah perumahan dan berhenti didepan gerbang rumah. Sekarang sekitar jam 2 pagi dan aku merasa sangat mengantuk.

“Apa Arcueid baik-baik saja ya?” Aku mencemaskannya. Sikapnya tadi sangat aneh. Mungkin lukanya sakit lagi,

Sebelum aku masuk kedalam rumah, aku menyadari sesuatu.

Hm____?

Apa itu? Ada seseorang yang berdiri jauh dari sorotan lampu jalan.

Deg deg!

Jantungku berdetak semakin kencang. Secara tidak sadar aku menahan nafas.

Aku yakin ada orang disana. Dia berjalan mendekatiku.

Tap tap tap!

Aku bisa mendengar suara langkahnya.

Deg deg!

Pearasaanku tidak enak. Bulu kudukku berdiri semua.

Dia semakin mendekat.

Pet!

Tiba-tiba lampu jalan mati. Bulan tertutup awan. Keadaan menjadi sangat gelap.

Deg deg!

Jantungku berdetak kencang seakan memperingatkan ada bahaya mendekat.

Tanpa sadar, Aku sudah melompat kebelakang.

Cling!

Sebuah pisau disabetkan membelah udara. Aku tidak dapat menghindar sempurna, dan kacamataku jatuh ketanah.

“Siapa kau?!”

Sesaat setelah aku berteriak, awan yang menutupi bulan menghilang. Aku bisa melihat sosok yang menyerangku.

Seorang laki-laki yang tubuhnya penuh lilitan perban berdiri memegang pisau.

Orang itu menyerang lagi. Aku dengan sigap menangkisnya dengan pisauku. Aku masih panik, tapi bukan karena aku diserang.

“Kenapa?”

Aku terkejut. Aku bisa menangkis semua serangan cepatnya yang tanpa berhenti.

“Badanku bergerak sendiri...?”

Tidak bukan itu. Yang saat ini dilakukan oleh lenganku adalah mengincar garis dan titik ditubuh orang itu. Jadi yang sebenarnya terjadi adalah orang berbalut perban itu yang sedang menangkis seranganku. Dengan kata lain saat ini bukan aku yang diserang, tapi dia yang kuserang.

___Aku bisa menang!

Aku tidak tahu siapa dia, tapi Aku tidak ragu lagi. Aku mengunggulinya. Darahku mendidih karena aku sedang unggul.

Aku akan menang. Aku lebih kuat darinya. Karena aku yang menang, karena aku berusaha dibunuh, aku harus membalasnya.

Trang trang trang!

Suara dua logam berbenturan. Aku mendesaknya hingga dinding gerbang rumah.

Ini dia! Aku melihat kesempatan untuk menyerang garis didadanya, Aku langsung menusuknya.

Tiba-tiba saja___

Aku melihat seorang anak laki-laki berlumuran darah, dan Akiha kecil menangis disampingnya.

Sebelum aku berhasil menusuknya, aku membatalkan seranganku dan melompat mundur.

____ kenapa aku? Kenapa aku berusaha membunuh?____

Kepalaku.
Sakit.
Lututku.
Gemetar

Setelah itu, aku memuntahkan seluruh isi perutku. Kepalaku sakit. Luka didadaku terasa terbakar. Mataku seakan mau meledak.

“Ohook! Hoek!!”

Aku tidak bisa berhenti muntah. Muntahanku menggenangi aspal.

Orang berbalut perban itu mendekatiku.

Trang!

Terdengar suara benturan lagi. Kali ini aku yang menangkis. Aku tahu yang diincarnya. Karena itu, aku segera menangkis serangannya lagi.

Meski Aku tidak dapat melihat serangannya, Aku bisa menangkisnya. Alasanya sangat sederhana, karena dia mengincar garis ditubuhku….

Tunggu dulu! Mengincar garis ditubuhku? Jangan jangan dia?

Orang berbalut perban itu tersenyum sadis.

Detak jantungku semakin kencang. Dikuasai ketakutan, aku menghindar kebelakang. Dia tidak mengejarku. Dia masih tersenyum. Matanya yang haus darah seakan mengatakan ‘Akhirnya kau sadar juga’

“Kau juga bisa____melihatnya?”

Ya. Tidak perlu disangkal lagi. Dia bisa melihat garis maut sama sepertiku.

Pria itu tertawa. Sambil mendekat dia terus tertawa. Jari-jariku yang menggenggam pisau gemetar tidak karuan.

Cras cras cras!

Terdengar suara daging tercabik 3 kali, dan disertai suara tubuh yang terlempar membentur dinding.

“Eh?”

Aku tidak bisa melihat jelas, tapi sepertinya orang berbalut perban itu tertusuk sesuatu yang menyerupai pedang yang panjang namun tipis. Dia tidak hanya tertusuk, tubuhnya juga menancap ditembok.

“___KAU MENHALANGIKU!!”

Suaranya yang rendah bergetar.

Tiba tiba saja 3 buah benda yang seperti pedang itu terbakar dan ikut membakar tubuhnya dalam kobaran api.

“AAAAAaaaAAAAaaAAAh!!!”

Suaranya terdengar kesakitan dalam kobaran api. Pemandangan yang sungguh kejam....namun juga indah.

“AAAAAAAAH!!” dalam kobaran api itu dia melihat kearahku. Matanya dipenuhi keinginan untuk membunuh. Dia seperti sedang mengutukku.

Aku hanya bisa terpaku melihat kejadian ini.

Setelah melepaskan benda yang menancap ditubuhnya, dia berlari menjauh dalam kobaran api, menghilang dalam kegelapan malam.

Sunyi.
Lututku terjatuh menyentuh aspal, dan punggungku bersandar pada tembok. Aku melihat keatas ketempat ketiga benda tadi meluncur. Aku melihat ada seseorang yang berdiri di kejauhan.

Jauh sekali. Aku melihat sosok yang sangat kukenal berdiri diatas lampu jalan. Dia memakai jubah pendeta dari negara lain. Disela-sela jarinya terdapat 3 buah pedang panjang yang seperti kuku. Matanya biru tanpa emosi.

“Senpai...?”

Dalam kegelapan ini, aku hanya bisa melihat siluetnya. Tapi dia benar-benar mirip dengan Senpai. Mata kami bertemu. Kemudian dia menghilang dalam sekejab.

“Ah!”

Sakit kepalaku perlahan menghilang. Bersandar pada dinding, Aku mulai mengantuk, dan tertidur.

No comments: