Kamar Arcueid tidak mirip dengan kamar vampire seperti bayanganku. Sangat biasa. Waktu masuk kemari, Aku hanya mengkhawatirkan Arcueid yang sedang terluka, jadi Aku tidak begitu memperhatikan kamarnya.
“Ada koran juga disini,” Aku membaringkan Arcueid ke tempat tidur sambil melihat koran yang tergeletak diatas meja didekat ranjang.
“Huwaaaaaah!” Aku menguap dan kemudian duduk dilantai. Sekarang sudah jam 6 pagi. Langit cerah berawan.
“Ah, harus menutup jendela.”
Aku memaksakan tubuh lelahku untuk bergerak bergerak. Setelah menutup korden dan jendela, Aku kembali duduk.
Bruk!
Begitu duduk, tenagaku seakan mengalir keluar dan aku terjatuh dilantai karena tubuhku terasa sangat lemas.
“Sepertinya, aku juga kelelahan” Kalau kupikir-pikir, semalaman ini Aku terus mengobrol dengan Arcueid dan belum makan sejak kemarin.
Meskipun Aku masih memakai kacamata, kepalaku masih terasa sakit.
“...Arcueid..... apa dia baik-baik saja?” Darahnya sudah tidak mengalir. Lagipula, dia bisa pulih setelah dipotong-potong seperti kemarin. Tampaknya Aku tidak perlu terlalu khawatir.
Aneh, saat ini aku bisa pingsan kapan saja karena terlalu lelah. Tapi entah kenapa, aku malah lebih mengkhawatirkan Arcueid daripada diriku sendiri.
[\\penyelidik percaya bahwa penyebab kecelakaan motor Takada Youichi adalah kerusakan rem. Dan untungnya, tidak ada korban dalam kecelakaan tersebut.\\]
Aku terbangun karena mendengar suara seseorang.
“__nggh? Aku tertidur ya?”
Kemudian Aku melihat ada selimut yang menutupi tubuhku. Aku melipat selimut itu dan melihat jam. Sekarang sudah siang.
Arcueid tidak diranjang lagi, dan televisi menyiarkan berita yang tidak menarik.
“Kemana dia pergi?”
Aku mendengar suara dari dapur.
“Si bodoh itu berjalan kesana kemari dengan luka seperti itu?” Aku berdiri dan menuju dapur untuk memeriksa lukanya.
[\\ Pagi ini beberapa orang telah menghilang dari sebuah hotel diselatan kota Minamiyashirogi. \\]
Langkahku terhenti mendengar berita itu. Televisi menayangkan berita tentang kejadian tadi pagi.
[\\ 103 orang yang menginap dihotel masih belum ditemukan. Noda darah ada dimana-mana. Dan polisi mencurigai adanya keterlibatan sebuah organisasi kejahatan.\\]
“Noda darah? Yang barusan bukan hanya noda darah!! Tapi genangan darah!” geramku
Kemudian televisi menayangkan daftar 103 orang yang menghilang. Tentu saja tidak ada namaku maupun Arcueid didaftar itu.
[\\ Selain itu, telah ditemukan sejumlah bulu binatang didalam hotel. Mungkin ada hubungan antara bulu binatang ini dan kejadian tersebut. Hasil penelitian menyetakan bulu-bulu tersebut milik, anjing, serigala, dan mungkin juga beruang. Lebih anehnya di TKP juga ditemukan bekas gigitan hiu.\\]
Klik!
Aku mematikan televisi.
Ratusan orang. Tadi ada ratusan orang yang dibunuh secara brutal hanya dalam setengah jam. Noda darah? Tak terhitung? Bisa-bisanya mereka bicara seperti itu dengan informasi yang sedikit. Semua orang yang dibunuh oleh binatang-binatang itu menghilang tanpa jejak.
“Ugh” Aku berusaha menahan agar tidak muntah ketika aku mengingat kejadian tadi pagi.
Ratusan orang dibunuh. Bahkan tubuhnya menghilang. Wajah pria berjubah hitam tadi muncul dalam pikiranku. Aku tidak tahu siapa dia. Tapi tidak salah kalau Aku berpikir dia berada dibalik semua ini. Sekarang rasa benci di hatiku mengalahkan rasa takutku. Atau mungkin perasaan ini hanyalah sebuah perasaan takut yang lebih besar lagi?
“Brengsek!”
Aku menggretakkan gigiku. Aku tidak tahu kenapa, tapi hanya dengan mengingat wajah pria itu membuatku ingin membanting sesuatu.
“Sudah bangun Shiki?” Arcueid menjulurkan kepalanya keluar dari pintu dapur. “Wajahmu mengerikan sekali. Ada apa?”
Arcueid berbicara dengan santai. Seakan tidak terjadi apa-apa.
Dengan melihat wajah dan mendengar suaranya, tiba-tiba saja perasaan campur aduk didadaku menghilang seketika.
“Arcueid,...lukamu baik-baik saja?”
“Ya. Untuk saat ini” dia tertawa riang.
Dia terlihat baik-baik saja. Mungkin lebih baik daripada Aku.
“Ah, baguslah”
Aku lega dia selamat. Tunggu dulu, dia bukan manusia kan? Jadi tidak aneh kalau dia selamat.
“Yah, pokoknya aku senang lukamu tidak begitu serius.”
“Oh? Kamu kenapa Shiki? Beberapa saat yang lalu kau menyebutku monster. Sekarang kau mencemaskanku?”
“Bodoh! Aku masih menganggapmu monster. Ini masalah lain. Aku hanya ingin berterima kasih kau telah menolongku.”
“Eh? Aku menolongmu?” Matanya membelalak terkejut.
Tampaknya dia belum sadar kejadian tadi pagi.
“Ya. Kau menolongku. Meski sedikit terlambat, Aku ucapkan terimakasih. Kalau kau tidak menarikku saat itu, mungkin namaku sudah masuk kedalam daftar 103 orang tadi.
“Sama-sama. Tapi tidak apa. Kau bertemu Nero karena aku. Jadi kau tidak berhutang apapun.”
“Mungkin. Tapi yang jelas, kau telah menolongku. Karena itu aku berterima kasih padamu”
“Tapi, jika aku tidak memaksamu menjagaku, kau tidak akan terlibat masalah ini. Akulah yang mengacaukan kehidupan keseharianmu. Jadi bukannya kau seharusnya membenciku daripada berterima kasih padaku?”
“Ya tidak bisa begitu. Tetap saja aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku. Dulu seseorang mengajariku untuk menyelesaikan apa yang telah kumulai. Dan aku suka kata-kata itu.”
Karena itulah aku tidak bisa membenci Arcueid. Aku hanya merasa terlibat suatu masalah yang menyebalkan.
“Oh, aku baru ingat. Kemarin aku mengatakan kalau kamu harus menjadi perisaiku karena kau telah membunuhku. Jadi kurasa aku tidak perlu merasa bersalah atas kejadian ini”
“Benar ini karena kesalahanku sendiri.”
“Salahmu huh? Ha ha ha kalau seandainya waktu itu kau membunuh orang lain, tidak perlu jadi sampai seperti ini”
“Hey...”
Kau tidak seharusnya berpikir aku akan membunuh orang lain selain kamu Arcueid. Hanya Arcueid yang membuatku ingin menguntit, dan membunuh. Dan semoga hanya dia satu-satunya yang bisa membuatku begitu.
“Ah!” Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Ada apa Shiki? Teringat sesuatu?” tanya Arcueid
“Tidak, tiba-tiba saja aku merasa heran. Kenapa aku membunuhmu ya?”
Wajah Arcueid langsung merengut. Yah, itu reaksi yang wajar. Aku, orang yang membunuhnya, mengatakan kalau aku tidak punya alasan untuk melakukannya.
“Tidak ada alasan kan? Itu karena kau adalah seorang pembunuh alami, Shiki. Natural born killer”
“___eh?” Tunggu dulu apa yang barusan dikatakan wanita ini tentang Aku?
“Waktu membunuhku, kau terlihat sangat ahli dalam membunuh. Kau menekan bel, menekan pintu ketika seseorang membukanya, dan masuk” Arcueid terlihat sedikit sebal “Ketika Aku tidak siap, kau langsung membunuhku dengan sekali serang dan memotongku menjadi 17 bagian. Serangan mendadakmu sangat sempurna.”
“Tapi....”
“Sayangnya, sebaik apapun teknik membunuhmu, kau memilih korban yang salah waktu itu. Aku tidak tahu berapa jumlah orang yang kau bunuh sampai saat ini, tapi sudah saatnya kau tertangkap gara-gara kau memilihku sebagai korban.”
“Ta, ta,ta... tapi...” Aku berusaha menjelaskan, tapi tidak satu katapun yang keluar dari mulutku.
“Ta ta ta, kenapa kamu? Kalau ada sesuatu yang ingin kau katakan, katakan. Tidak ada rahasia diantara kita kan?”
Aku mengangguk dan menyuruhnya mendekatkan telinganya padaku
“Eh? Apa? Mau mengatakan sebuah rahasia ya?”
Arcueid terlihat senang dan bersemangat seperti anak kecil. Ia mendekatkan telinganya. Kemudian aku juga mendekatkan mulutku ke telinganya, dan mengatakan dengan jelas apa yang ingin kukatakan.
“Kau tahu Arcueid...?”
“Apa? Apa? “
“BUKAN BEGITU BODOOOH!!!!!”
Bodoh doh doh doh....
Suaraku menggema diseluruh ruangan. Aku berteriak sekeras mungkin tanpa mengurangi tenaga sedikitpun
“Ooooow...ow, ow, ow, ow” Arcueid menutup kedua telinganya.
“A,apa yang kau lakuakan? Shiki?” Arcueid terlihat marah sambil masih memegangi kedua telinganya
“Aku yang seharusnya marah! Aku selalu bertanya-tanya kenapa kau memilihku untuk menjadi perisaimu. Sekarang Aku tahu jawabannya!!”
“__eh? Mengerti__apa?” Sekarang Arcueid terlihat bingung.
“Tentang kenapa kau memintaku menjadi perisaimu menghadapi monster dan menjagamu karena kau mengira aku seorang pembunuh gila, ya kan?! Cih, kau memandangku terlalu tinggi. Dengar, aku bukan seorang pembunuh, maupun seorang maniak. Ka,__kau orang pertama yang kubunuh, tahu”
Mulut Arcueid membentuk huruf O saking terkejutnya.
“...Tidak mungkin? Pertama kalinya? Dan kau sudah sehebat itu?”
“Ya, meski aku bisa melihat garis maut, aku tidak mau menggunakannya untuk membunuh seseorang.”
“Tapi__kenapa membunuhku? Kau bahkan tidak mengenalku saat itu kan?”
“Tidak tahu. Aku waktu itu merasa sangat bersemangat ketika melihatmu, dan ketika sadar, kau sudah terpotong-potong.”
Ya.
Diruangan ini
Tanpa alasan
Tanpa tujuan
“Ah....” Aku tidak berhak marah kepada Arcueid. Meski sekarang masih hidup, tapi aku telah membunuhnya.
“Kenapa diam? Apa maksudmu Shiki?”
“A,...maaf......aku minta maaf.....” Kenapa Aku bisa lupa. “Maafkan aku, Arcueid. aku, Tohno Shiki, telah membunuhmu. Lebih dari itu, seharusnya aku minta maaf sejak awal.”
Ada yang salah denganku. Wajar saja dia mengira aku sebagai pembunuh. Karena aku sendiri tidak mengerti rangsangan yang kurasakan waktu itu. Jadi, mungkin.....Tohno Shiki benar-benar seorang pembunuh.
“Kenyataannya____aku membunuhmu. Jadi aku siap menerima hukuman. Seorang pembunuh, tidak bisa hidup ditengah-tengah masyarakat.”
Aku tidak menyadari hal seperti ini karena aku seorang pengecut. Terlepas dari Arcueid adalah vampire, aku telah membunuh seseorang tanpa alasan.
“Begitu rupanya. Kau sendiri tidak mengerti, Shiki?”
Aku mengangguk. Aku menyesal.
“Apakah kau tidak merasakan suatu kenikmatan waktu itu? Ada beberapa pembunuh yang melakukan pembunuhan untuk mendapatkan kenikmatan. Tapi nampaknya, kau hanyalah seorang yang normal, Shiki”
“Benar. Setidaknya aku berusaha menjadi normal.”
“Tidak. Kau benar-benar normal. Jadi hanya aku yang ingin kau bunuh?”
“Ya. Selain dirimu, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti itu.”
“Kalau begitu, tidak masalah. Kau bukan seorang pembunuh.”
Dia mengatakannya dengan sangat pelan. Aku hampir tidak mendengarnya. Aku semakin merasa menyesal.
“Kau tidak perlu menerima hukuman. Akulah satu-satunya yang ingin kau bunuh. Dan lebih parahnya, kau memiliki teknik membunuh yang tanpa tanding. Untungnya aku vampire. Jadi aku tidak benar-benar mati, aku benar kan? Jadi kurasa itu tidak masalah”
“Aku tahu. Tapi, tetap saja aku pernah membunuh. Tidak seharusnya aku dibiarkan bebas seperti ini.”
“Sudah kubilang tidak masalah. Yang bisa menghukummu hanyalah aku, si korban, dan kamu sendiri.
Jika tidak ada hukuman, dosa ini tidak akan bisa hilang
“Shiki, sebenarnya saat ini aku masih marah padamu. Apalagi jika kau berani melupakan dosamu itu. Tapi, tidak apa-apa. Selama kau terus mengingat kejadian itu dan menyesalinya.”
Dia hanya berusaha menghiburku.
“Shiki, ada orang-orang yang tidak akan menjual jiwanya kepada setan meski dia sangat membenci dunia ini. Seperti seseorang yang dengan tulus, berani meminta maaf kepada vampire. Jadi tidak ada masalah. Apapun kata orang dan apapun yang kau pikirkan, kau masih tetap dapat hidup ditempat yang kau inginkan.”
“Ap....?” Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau tersenyum dan mengatakan hal itu kepada orang yang membunuhmu.
“Ar____cueid?”
“Ayolah Shiki. Kita punya masalah yang lebih gawat. Dan mumpung kamu sudah bangun Aku ingin bertanya tentang____”
Belum selesai dia bicara, Arcueid jatuh tergeletak dilantai.
“Arcueid___!?” Aku segera menolongnya. Keringatnya deras dan nafasnya terdengar berat.
“....Tampaknya, aku masih belum sembuh benar....” Kata Arcueid lemah.
Aku melihat kebawah. Darahnya merembes keluar memerahkan baju putihnya.
“Lukamu....”
“Ah ini? Tampaknya luka seranganmu masih terasa. Jadi Aku tak bisa menyembuhkan luka ini dengan baik. Aku sudah menutup lukanya. Tapi tampaknya tidak terlalu berguna.”
Suaranya terdengar ceria. Tapi aku tahu kalau dia kesakitan.
“Menutup luka? Dengan apa?”
“Ummmm, itu”
Arcueid menunjuk sesuatu dilantai. Sebuah lakban
“K, kau Bodoh! Bisa-bisanya kau menutup luka dengan lakban!”
“Hey....kau tidak boleh memanggilku bodoh terus-terusan. Soalnya aku jadi sempat berpikir kalau aku benar-benar bodoh, tahu?”
“Diam dan perlihatkan lukamu!”
Aku berusaha membuka bajunya.
“Jangan bercanda, bagaimana kalau lukanya terbuka lagi!?” Arcueid berguling dilantai menghindariku. “Aku baik-baik saja. Kau juga jangan bertindak bodoh. Mencoba membuka baju seorang gadis dengan paksa seperti ini, kau lebih buruk dari Nero”
“Dengar, kau bukan manusia. Jadi mau laki-laki, mau perempuan, tidak ada bedanya. Sekarang tenang dulu. Jika kau mati akibat melindungiku, aku akan merasa bersalah selamanya.”
Arcueid melihatku dengan sebal. Kemudian dia berguling kearahku. Arcueid menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tampaknya jenis orang yang suka merajuk. Tapi tak apa, asal aku bisa melihat lukanya.
Kuangkat bajunya sehingga perutnya terlihat. Lakban membelit sekitar lukanya. Dan yang lebih parah, dia melakukannya dengan tidak rapi. Aku melihat darah masih keluar dari sambungan lakban.
Aku merasa jijik dan mungkin sedikit sebal. Aku segera menurunkan bajunya dan membopong Arcueid.
“Apa yang kau lakukan, Shiki?!” Arcueid sedikit panik.
“Aku akan membaringkanmu di ranjang. Kalau bisa, Aku ingin membawamu ke rumah sakit. Tapi tampaknya kau tidak akan mau.”
Aku membaringkannya ke tempat tidur sehati-hati mungkin.
“Dengar, sampai aku kembali, jangan bergerak. Kalau kau berani jalan-jalan seperti tadi, anggap kita tidak pernah kenal.”
Aku berusaha mencari diseluruh ruangan. Tapi seperti yang kuduga, tidak ada alat-alat P3K.
“Arcueid, katamu kamu orang kaya kan?”
“Eh? Ya. Kenapa?”
“Pinjam uang sedikit. Aku akan membeli sesuatu untuk merawatmu. Aku tidak tahu apa ini bisa efektif untukmu, tapi Aku akan merawatmu seperti merawat orang biasa yang terluka.”
“Baiklah, tapi mungkin usahamu tidak berguna”
“Tck, tidak berguna juga tidak apa. Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini.”
“Ummm....karena badanku terbuat dari bahan yang sama dengan badan manusia, mungkin akan sedikit berguna.”
“Sudahlah, mana uangnya? Kamu tetap tidur disini, jangan bergerak. Oh, dan jangan tidur. Kamu harus tetap terjaga.”
“Shiki, perintahmu tidak jelas. Tadi kau bilang di termpat tidur, tidak boleh bergerak, tapi juga tidak boleh tidur.”
“Aku tahu kalau tidak jelas, tapi lakukan saja. Kudengar, fungsi tubuh melemah ketika tidur. Kalau kau tidur, sistem imunitasmu melemah dan lukamu akan tambah parah. Tidur hanya menghilangkan lelah, tapi tidak menyembuhkan luka.”
“___Benarkah? Baiklah, Aku patuh.” Arcueid tersenyum gembira. Cara pikir Arcueid, Aku benar-benar tidak mengerti cara berpikirnya..
“Ummm.. kenapa tersenyum?” aku bertanya.
“Karena Shiki bisa diandalkan”
Aku hanya diam dan mengadahkan tangan didepan Arcueid. Arcueid kemudian merogoh saku dan menyerahkan dompet.
Aku segera keluar. Begitu sampai diluar, Aku teringat sesuatu.
“___Makanan”
Dimeja tampaknya ada makanan. Tapi lebih seperti ‘pokoknya sesuatu yang bisa dimakan’. Karena itu Arcueid ada didapur. Katanya dia jarang makan makanan biasa. Jadi aku tahu untuk siapa sebenarnya makanan itu dibuat.
“Dasar bodoh.”
Aku merasa jengkel. Aku harus segera bergegas mendapatkan sesuatu untuk merawat lukanya. Meski Aku tadi mencari alat P3K, yang ada dipikiranku hanya perban dan penghilang rasa sakit.
Aku segera membeli apa saja yang terpikirkan, dan segera kembali.
********
“Geliiiiii !!” Arcueid terus berteriak-teriak ketika aku mengobati lukanya dengan obat yang baru kubeli.
Aku mengacuhkan Arcueid dan terus mengolesi lukanya dengan obat menggunakan kapas. Luka di perutnya tidak terlalu lebar karena kemampuan regenerasi Arcueid. Tapi meski begitu masih ada luka sebesar bola golf di empat tempat. Untuk berjaga-jaga, kuberikan obat anti infeksi. Setelah selesai, kubalut lukanya dengan perban.
“Ahahaha...ahahaha... hentikan...”
Aku mengacuhkannya dan memasang pin diperban. Untuk menghentikan pendarahan, ikatan perbannya kupererat.
“Ow____ Sakit, Shiki!” kali ini Arcueid meringis.
Fiuuh, selesai.
“Bagaimana? Sekarang kau sudah bisa bergerak?”
“Yah sudah agak enakan. Tapi bagian dalamnya masih parah, jadi belum bisa bergerak bebas.”
“Selanjutnya tergantung padamu. Keahlianku memotong, bukan menyembuhkan.”
Aku menjauh dari Arcueid, dan duduk dilantai.
“Sekarang, kau bisa tidur. Tidur akan mengembalikan kekuatanmu, sehingga lukamu bisa cepat sembuh. Aku akan berjaga disini.”
“Tidak. Tidur tidak benar-benar mengembalikan kekuatanku. Seperti yang kau bilang tadi, hanya menghilangkan kelelahan. Bagiku, mengembalikan kekuatan itu hanya masalah waktu. Besok aku pasti sudah bisa bergerak normal.”
“Sudah, tidur sana. Untuk berbicara saja kau kelihatan kesulitan.”
“Tapi karena kau tidak tidur, aku juga tidak tidur.” Arcueid duduk diatas ranjang. Dia terlihat gembira.
Sudahlah. Sebenarnya Aku ada sedikit pertanyaan, jadi biar kutemani saja dia.
“Arcueid, boleh tanya tentang hotel kemarin?”
“Ya, silahkan”
“Tentang pria yang semalam, yang kau sebut Nero, siapa dia? Tolong jawab dengan serius”
“Kukira kau sudah tahu mengenai hal ini. Dia itu vampire. Kami memanggilnya Nero dan dia sedikit istimewa. Dia bukan jenis orang yang bisa kau ajak bicara seperti aku.”
Jadi dia vampire? Tapi seperti halnya Arcueid, Aku tidak bisa membayangkan kalau Nero itu vampire.
“Jadi, dia orang yang seperti apa? Kau sepetinya mengenalnya.”
“Tidak. Aku tidak punya kenalan vampire. Jika aku sampai mengenal mereka, berarti aku akan membunuhnya saat itu juga. Ini pertama kalinya Aku bertemu vampire, tapi tidak kubunuh.”
“Tapi kalian bicara banyak hal?”
“Nero itu terkenal, jadi kami sudah saling tahu. Bukan hal yang aneh mengetahui vampir yang memiliki kekuatan lebih, dan sejarah yang panjang. Selain sangat tua, dia tidak punya kastil atau daerah kekuasaan. Dia adalah vampir petualang. Gereja memberinya julukan Chaos”
“Chaos?”
“Dia itu seperti bermacam-macam hewan yang bergabung menjadi satu sejak zaman dulu tanpa seorangpun yang tahu apa saja yang ada didalam tubuhnya. Aku juga baru tahu semalam.”
“Maksudnya?”
“Kita sudah membicarakan hal ini kemarin Shiki. Vampire tidak dapat menstabilkan tubuhnya hanya dengan darah manusia. Apalagi untuk vampire yang sudah hidup lama. Jadi mereka menggunakan binatang liar atau binatang magis untuk membentuk ulang tubuhnya. Dan sebagai salah satu vampire tertua, Nero memiliki banyak sekali binatang sebagai pembentuk tubuhnya.”
“Seperti anjing hitam yang keluar dari tubuhnya itu?”
“Benar. Tapi tentu saja ada batasannya. Mungkin dia hanya bisa mengeluarkan dan mengendalikan 30 binatang sekaligus. Tidak bisa lebih. Bila sampai berlebihan, akan berakibat buruk untuk tubuh Nero.”
Aku tidak begitu mengerti, tapi 30 binatang seperti anjing hitam itu?
“Tidak mungkin. Kemarin tidak hanya anjing hitam saja. Sepertinya ada singa atau macan tutul.”
“Benar, bisa membawa 30 binatang saja sudah luar biasa. Tapi Nero bisa memembawa bermacam-macam hewan dalam tubuhnya, membuatnya menjadi satu tingkat diatas yang lainnya.” Arcueid tampak berpikir sesuatu.
“Sudahlah, pokoknya kita tahu bahwa dia bisa mengeluarkan 20-30 binatang. Tidak heran dia dijuluki Chaos.”
“Eh? Namanya bukan Chaos?”
“Biasanya bila sudah menjadi vampire, mereka membuang nama manusianya. Karena mereka tidak membuat nama baru, Kemudian Gereja memberi julukan bagi mereka.”
“.........”
Ada 30 binatang dalam tubuh Nero. Dan mereka memakan ratusan tamu hotel hanya dalam waktu setengah jam.
“___tak bisa dipercaya, dia benar-benar monster.”
“Ya. Dia salah satu musuh terberat yang kita miliki. Salah satu dari monster yang tak ingin kau temui. Lebih parahnya, dia sedang melacak kita. Mungkin salah satu binatangnya sedang mengawasi kita saat ini.”
“Ap___?”
“Jangan heran, waktu itu kita selamat karena matahari terbit. Tapi kita tak dapat mengandalkan matahari malam ini. Dia tahu tempat ini, dan dia pasti kemari.”
“Dia akan membunuh kita malam ini?”
“Harusnya begitu.”
Ini gila! Dia akan datang malam ini. Aku hanya bisa gemetar. Kabur adalah pilihan paling bijaksana. Bagaimana dengan Arcueid? Dengan kondisinya, dia tidak bisa lari dari monster itu. Apalagi Aku. Kalau aku tetap berada disini, mau tak mau, aku akan berhadapan lagi dengan monster itu.
Dia berbahaya. Gila. Tubuhnya bisa mengeluarkan binatang. matanya sedingin mesin. Tidak punya emosi Mata seorang pembunuh yang akan melakukan apa saja yang diperintahkan. Dia harus dihindari.
“_______”
Tapi kalau begitu, sama saja aku meninggalkan Arcueid. Saat ini dia terluka karena melindungiku. Apa aku bisa mengatakan ‘selamat berjuang’ dan terus pulang?
“Arcueid, aku .......”
“Tapi meskipun begitu, Nero bukanlah masalah untukmu. Siapapun lawanmu, kau bisa membunuhnya dengan sekali serang.”
“Huh?”
Arcueid mengatakan seolah semua itu adalah hal yang biasa.
“Tu, tunggu. Bicara apa kamu?”
“Bicara apa aku? Kau akan bertempur bersamaku kan?”
Arcueid melihatku. Matanya menunjukkan kepercayaannya padaku. Tapi ini bukan main-main. Aku harus menolaknya.
“Maaf Arcueid. Tapi aku____”
Apa aku akan membiarkannya sendirian? Ini salahku. Karena aku, dia terluka.
“____Aku____”
Apa aku akan melarikan diri? Dari monster yang membantai semua orang-orang itu? Lari dan berpura-pura tidak tahu? Setelah menjadi satu-satunya orang yang selamat, apa aku bisa lari tanpa merasa bersalah?
“_________”
Aku bisa melihat garis maut. Bukankah dulu seseorang yang penting bagiku pernah mengatakan, bahwa suatu saat aku akan membutuhkan mata ini?
“Shiki?”
Aku tersenyum
Aku tidak bisa melarikan diri sendirian.
Aku perlahan menarik nafas.
“Aku akan membantumu Arcueid. Karena aku satu-satunya manusia yang selamat dari insiden hotel tadi”
“Baiklah Shiki. Kau tidak akan menemui banyak masalah membunuhnya dengan kemampuanmu itu.” Arcueid mengatakannya dengan sangat jelas. Aku tidak seoptimis dia, tapi aku tidak punya pilihan.
“Tapi Arcueid, bagaimana caranya? Aku langsung gemetaran ketika melihat matanya dihotel tadi?”
“Oh itu karena semangatmu lemah, Shiki. Mata mistis Nero tidak istimewa. Jika kau menghilangkan keraguanmu, kau tidak akan banyak terpengaruh oleh matanya.”
Tapi tetap saja aku gugup.
“Begini saja, Aku akan menunggunya dan mendekatinya dari belakang. Terus aku potong garis dibadannya. Ini akan menghalangi gerakannya sedikit”
“Shiki, kalau kau melakukannya kau akan mati” Arcueid menggeleng.
“Eh?”
“Yang harus kau pikirkan adalah, bagaimana cara membunuhnya. Bukan bagaimana menghentikan gerakannya. “
“Ya, kau benar. Tapi____”
“Shiki, yang kau lawan itu vampire. Jadi buang saja semua rasa kemanusiaanmu. Paling tidak untuk saat ini. Itu hanya akan menghalangimu disaat-saat penting.”
“Aku tahu. Dia monster. Karena itu aku ingin membantumu menghentikan gerakannya.”
“Tidak, kau tidak mengerti. Daripada kau memotong badannya, lebih baik kau potong hidupnya. Tak seorangpun yang mampu melakukannya selain kamu. Jangan beri Nero kesempatan untuk membalas. Perbedaan kemampuan kalian terlalu jauh. Sekali kau gagal, kau habis.” Arcueid tidak menerima penolakan.
Benar. Dia benar. Jika aku memotong badannya dulu, mungkin setelah itu giliran kepalaku yang dimakan buaya dari tubuhnya.
“Shiki. Malam ini Nero akan datang. Saat itulah kita akan membunuhnya. Jadi jangan pikirkan bagaimana bertindak, tapi bagaimana membunuhnya.” Mata Arcueid berubah mengerikan.
“Baiklah, Aku mengerti. Akan kutusuk titiknya dalam sekali serang.”
“............” Arcueid tidak menjawab. Kurasa itu artinya setuju.
“Tapi dimana kita menunggunya? Kalau disini, mungkin tetangga yang lain akan jadi korban seperti tamu hotel tadi. Kita harus pindah lokasi”
“Benar. Taman tempat yang terbaik. Kalau malam, disana tidak ada orang. Kalaupun toh masih ada orang, anggap saja nasib buruk.” Arcueid mengangguk
Arcueid terdiam sejenak, kemudian membelakangiku.
“Ada apa? Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja. Aku sudah memutuskan untuk membantumu.”
“Tampaknya ini percuma saja. Kau bahkan tidak pernah mengatakan ‘bunuh’ sekalipun. Kalau begini, kau akan ragu di saat-saat terakhir, dan terbunuh.”
“Kau salah. Dia monster yang membunuh ratusan orang. Aku tak akan ragu membunuhnya.”
Aku mendengar keluhan Arcueid.
“Kalau aku mengontrol tubuhmu, aku dapat memastikan Nero terbunuh. Aku ingin melakukannya, tapi pada saat yang sama, aku juga tak ingin melakukannya. Aku bingung” Dia bergumam tentang sesuatu dan kemudian berbalik kearahku.
“Aku percaya padamu Shiki. Kita hadapi Nero bersama.” Sebuah senyuman mengembang diwajah Arcueid. Sebuah senyuman yang tampak dipaksakan
Kami membuat sebuah rencana yang sangat sederhana. Sebelum tengah malam, Arcueid pergi ke taman duluan. Gagak biru, menurut Arcueid pasti mengikutinya. Kemudan aku menyusulnya beberapa saat setelah dia meninggalkan apartemen. Aku bersembunyi dibalik semak-semak menunggu Nero tiba. Ketika Arcueid mengalihkan perhatiannya, aku akan menusuk ‘titik mautnya’
Malam akhirnya tiba, dan kami melaksanakan rencana kami. Arcueid berdiri sendirian ditengah taman. Aku bersembunyi dibalik semak-semak yang berjarak sekitar 20 meter darinya.
“........”
Sepi. 10 menit sebelum tengah malam. Arcueid menatap bulan yang berpendar biru diatasnya.
“.........” Aku menggeggam pisauku erat-erat. Arcueid mengatakan bahwa Nero pasti akan datang. Jadi aku menunggunya, dan akan menyerang titik mautnya dalam sekali tarikan nafas.
“Huuu____uuuuh” Sedikit gugup. Tapi masih bisa kuatasi.
“............” Benar-benar gugup. Nero akan datang lagi. Aku akan menghadapinya sekali lagi. Aku harus membunuhnya sesegera mungkin.
Nafasku memburu. Jantungku berdetak kencang
“Tenang, tenang, dia belum datang.” Benar. Target belum datang. Aku mulai cemas kalau ketika Nero datang, Aku tak mampu bergerak.
“Apa Arcueid juga merasa takut?” Aku melihatnya yang sedang memandangi bulan. Dia terlihat tenang-tenang saja. Kemudian pandangannya beralih.
“Rupanya aku sudah membuatmu menunggu, Putri”
Suara yang berat seperti besi karatan.
Kearah suara itulah, Arcueid mengalihkan pandangannya. Sekitar 5 meter dari Arcueid, dan 10 meter dariku, si jubah hitam muncul.
“Ya. Aku menunggu cukup lama Nero Chaos. Atau lebih baik Aku memanggilmu Fabro Rowan?”
Suara Arcueid terdengar olehku.
“Wow, Aku tak menyangka akan dipanggil dengan nama ketika aku masih seorang manusia. Seperti yang kuharapkan. Sepertinya kau sudah tahu semua tentang ke-27 Dead Apostles.”
Aku juga bisa mendengar suara Nero. Nafasku makin memburu. Sekarang Arcueid sedang mengalihkan perhatian Nero. Ini kesempatanku. Kulepas kacamataku. Aku menggenggam erat pisau dengan tangan kananku. Akan kupotong-potong dia sekarang.
Tapi tunggu dulu. Masih terlalu dini. Sebentar lagi. Hingga semua perhatiannya tertuju pada Arcueid.
“Jangan bodoh Nero. Jumlahnya 28-kan? Kau tidak menganggap ‘the Serpent’ sebagai sejenismu?”
“Ya, tentu saja. Sayangnya, jalan pikirannya berbeda dengan kami. Dia Vampire, Tapi tidak berperilaku selayaknya Vampire. Konsekuensinya, kami tidak menganggapnya sebagai salah satu dari kami.”
Nero menutup salah satu matanya.
“Tapi tetap saja kami teman lama. Aku mengenalnya lebih dari Dead Apostles yang lain.”
“Mmm. Tapi kalu kupikir-pikir, kau juga seperti ‘The Serpent’. Lain dari pada yang lainnya. Karena dulu kalian sesama penyihir, kalian mungkin memiliki minat yang sama”
“Ya. Hanya karena kami terpisah, bukan berarti kami tidak saling memahami.”
“Aaaaa...benarkah? pergi jauh-jauh ke negeri kecil ini untuk mengejarku. Kukira kalian benar-benar mirip.”
“Jangan bercanda. Kau benar-benar orang yang tak bisa diduga. Tujuanmu adalah menghabisi Dead Apostles. Tapi kenapa kau mengincar The Serpent, si Naga Akasha? Padahal kau tidak kebal terhadap racun The Serpant”
Suara Nero sedikit mengeras. Pancingan Arcueid mengenai sasaran. Sekarang Nero hanya melihat kearahnya. Saatnya menyerang!
Aku berlari secepat mungkin kearah Nero. Dia hanya memperhatikan Arcueid. Punggungnya terbuka. Akan kupotong-potong dia dalam sekejab
Bisa
Aku bisa melakukannya
Sebentar lagi.
Punggungnya!
Selangkah lagi!
“Eh?”
Aku berhenti
“Ap__?”
Punggungnya.
“Tidak ada”
Tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Tidak ada satupun garis dipunggungnya!!!
TIDAK MUNGKIN!!!
Kepalaku sakit. Tanganku yang memegang pisau gemetar. Setelah Aku merasa sakit dikepala, Aku melihat titik dipunggungnya.
Ada! Aku bisa melihat titiknya! Akan kuserang sekarang!!!
“Eh!” sekali lagi aku terkejut.
Satu titik
Dua titik
Tiga titik
Ratusan titik!
Ini tidak mungkin Aku melihat ratusan titik. Kenapa ini?
“SHIKI !!!”
Arcueid berteiak. Bukan saatnya berpikir. Pokoknya serang dulu salah satu titik.
“Disini!!!”
Sebelum pisauku mnemui sasaran, jubahnya tiba-tiba menggelembung. Seekor anjing hitam muncul dari punggungnya.
“Akh!”
Anjing hitam meluncur kearahku seperti misil.
Kupotong garis mautnya dengan pisauku. Tapi yang kupotong hanya garis. Salah satu kaki anjing itu terlepas. Tapi anjing itu tetap melaju. Menubruk perutku.
“Uhhhh!!”
Aku terpental beberapa meter kebelakang. Anjing hitam itu kemudian mencoba menyerang leherku.
“AAAAAA!!”
Kutusuk perutnya dengan pisau tepat dititiknya.
Gerakan anjing itu tiba-tiba berhenti. Setelah itu, anjing itu berubah menjadi cairan dan tumpah kebadanku.
Terkena cairan hitam, Aku tak dapat bergerak.
“Sepertinya ada sesuatu dibelakangku”
Aku mendengar suara Nero. Aku melihat kearah Nero dan Arcueid.
“Temanmu ya? Sayang sekali. Siapapun yang masuk daerahku, akan segera diserang meski Aku tidak menyadarinya. Jadi tidak ada serangan mendadak yang berlaku untukku.”
“Sepertinya begitu. Kau bisa menyerang balik padahal kau sedang berbicara denganku.”
Arcueid menyipitkan mata dan mendekati Nero.
“Menarik! Saat ini kau bahkan tak bisa menggunakan jurus pamungkas milikmu. Dan kau masih berani menantangku?”
“Kalau hanya untuk melawanmu, Nero Chaos, cakar ini saja sudah cukup” jawab Arcueid sambil memperlihatkan cakarnya.
Nero tertawa kecil.
“BODOH! Sesalilah tindakan bodohmu itu Arcueid Brunestud!” Nero mengangkat tangannya. Dari balik jubahnya yang berkibar, muncur berbagai jenis binatang.
Secepat kilat, tiga ekor binatang menyerang Arcueid. Bukan anjing hitam. Tapi leopard yang bahkan lebih besar dari tubuh Nero.
Arcueid tidak bergerak. Lantai taman pecah ketika diinjak oleh leopard yang berlari itu. Mereka sangat cepat. Mereka melompat kearah Arcueid.
Dengan cepat Arcueid membuat satu gerakan. Dan tiba-tiba saja ketiga leopard itu terbelah dua.
“Apa?!”
Giliran Nero yang terkejut. Arcueid tetap diam. Sekarang dia maju menyerang Nero.
Sekali lagi beberapa binatang keluar dari tubuh Nero. Dan seperti yang telah terjadi, binatang-binatang itu langsung hancur dihantam Arcueid. Mulai dari Singa, Leopard, Harimau, Elang, Beruang Grizzly, Hiu, Gajah, dan yang lainya menemui nasib yang sama, kembali menjadi cairan hitam.
“Ah!”
Sekarang Nero berusaha menghindar. Arcueid mengayunkan cakarnya. Setelah terdengar suara daging terkoyak, tubuh Nero terbelah dua dari leher kebawah.
“Gaaaaaaaaaaah!!”
Menjerit kesakitan, Nero melompat menghindari Arcueid. Terpotong dari leher hingga pinggang, Nero kehilangan setengah dari tubuhnya.
Bruk!
Setengah dari tubuhnya jatuh dibawah kaki Arcueid.
“______”
Padahal Arcueid mengatakan kalau dia sedang lemah. Binatang yang dikeluarkan oleh Nero tidaklah lemah. Binatang-binatang itu tercabik-cabik dengan sadisnya. Bahkan tubuh Nero terbelah dua.
“Ha____”
Ini lelucon. Kalau memang bisa semudah ini, seharusnya sejak awal Aku tidak melibatkan diri.
“Gaaa....aaaa....h!!”
Nero tetap mundur seakan ingin melarikan diri. Mungkin karena lelah, perlahan Arcueid mendekati Nero.
*hosh hosh*
Aku mendengar nafasnya yang berat. Nafas Arcueid memburu.
Kenapa bisa begini? Arcueid terlihat lebih kesakitan dari pada Nero yang tubuhnya terbelah dua.
“Tak bisa dipercaya. Meski sedang lemah, kau masih sekuat ini. Benar-benar pemburu yang disiapkan oleh para True Ancestor. ‘Jangan sampai berhadapan dengan sang putri’ Rasanya nasehat teman-teman yang lain sangat benar.”
Arcueid mencoba mengatur nafas dan kembali mendekati Nero.
“Tapi Aku sejak awal memang tidak berniat menghabisimu hanya dengan 10 atau 20 binatang.”
“Cukup bicaramu! Kau tak bisa membunuhku meski menggunakan semua peliharaanmu. Dan Aku sudah memotong tubuhmu menjadi dua. Kau tak punya kesempatan menang.”
“Kau salah putri. Aku tidak pernah menggunakan binatang. Semua yang kau kalahkan tadi benar-benar bagian dari tubuhku. Aku tidak suka disamakan dengan orang-orang bodoh yang menggunakan binatang untuk memperbaiki tubuhnya yang rusak.”
“Kau harusnya sudah menyadarinya sejak awal jika kau tidak selemah ini. Gunakan mata mistis emasmu dan lihatlah. Lihatlah ke-666 binatang dalam tubuhku!”
Aku melihat sesuatu yang aneh. Setengah tubuh Nero yang terpotong bergerak-gerak. Melayang, dan menyerang Arcueid dari belakang.
“Arcueid! Awas!!”
Arcueid berbalik. Namun terlambat. Bagian tubuh Nero yang melayang itu berubah menjadi belasan ular dan menyerang Arcueid.
“Sia___!!”
Belasan ular itu melilit tubuh Arcueid dan berubah menjadi cairan hitam. Arceid terpaku ditanah sepertiku. Tapi tampaknya tekanan yang diberikan padanya lebih besar.
“Tidak mungkin___” Arcueid meronta berusaha melepaskan diri.
“Percuma kau meronta, Putri”
Wajah Arcueid terlihat menahan sakit.
“Akan kujadikan kau menjadi bagian tubuhku yang ke-667”
“Apa kau gila? Tubuh manusia terdiri dari tiga ratus ribu faktor yang dipadatkan menjadi sekecil tubuh ini. Kalau kau melakukannya, Aku akan menjadi seperti_____” teriak Arcueid.
“Kau benar. Seperti mahluk primodial. Aku selama ini tidak menggunakan binatang untuk memperbaiki tubuhku. Tapi menjadikan mereka sebagai tubuhku. Aku mencampur binatang-binatang itu dengan mengubahnya menjadi seperti lumpur.” Nero tertawa.
“Aku tidak punya binatang peliharaan. Yang ada hanyalah 666 binatang, dan nyawa yang sejumlah itu. Menghancurkan tubuhku, atau memotong kepalaku tidak akan berguna. Karena Aku adalah seorang dan dan juga 666 orang sekaligus. Kalau kau ingin membunuhku, kau harus membunuh ke-666 nyawaku secara bersamaan.”
“Jadi....artinya....?!”
“Ya. Dan tentu saja bagian tubuh yang kulepaskan akan berubah menjadi bentuk spesiesnya yang semula. Mereka sejak awal sudah tidak lagi memiliki bentuk. Kau bisa membunuhnya ketika diluar tubuhku. Tapi begitu mereka kembali bergabung, maka mereka akan segera pulih sebagai bagian dari Chaos” Vampire yang tubuhnya tinggal separuh itu tertawa. Suaranya terdengar menjijikkan.
“Kau menghisap nyawa mahluk lain. Kalau kau melakukannya kau bisa kehilangan kepribadianmu”
“Benar. Kepribadian Chaos sebenarnya sudah hilang. Tubuh ini sebenarnya hanya gabungan dari berbagai mahluk. Tapi bukankah ini hebat? Mungkin karena itulah gereja memberiku nama Chaos. Nero Chaos!”
Arcueid sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Cairan hitam itu sudah membungkus tubuhnya. Bahkan setengah dari wajahnya sudah terbungkus.
“Sudahlah, kau sudah tak bisa bergerak lagi. Inilah penggabungan tubuhku. ‘Soil of Genesis’! kau sudah tak bisa lari lagi Arcueid. Kau membutuhkan tenaga yang setara dengan tenaga untuk menghancurkan sebuah benua kalau kau ingin melepaskan diri dari situ”
Nero mendekati Arcueid.
“Banyak sekali saudara-saudaraku yang sudah kau bunuh. Banyak yang berusaha membunuhmu, malah terbunuh olehmu. Namun itu semua akan segera berakhir! Aku! Nero Chaos akan segera mencapai sesuatu yang belum pernah dicapai oleh siapapun.”
“Nero___ini___” Arcueid terlihat ingin mengatakan sesuatu
“Kau pasti sudah menduganya kan? The Serpant, sebelum kau bunuh, dia mengajariku bagaimana menggunakan metode ini.”
Aku tak dapat lagi mendengar suara Arcueid. Mulutnya telah tertutup cairan hitam.
“Tapi kejadian The Serpant juga merupakan sebuah tragedi. Dia yang dulunya seorang pendeta dari gereja tak dapat hidup karena kau terus mengejarnya. Jika dia masih hidup, mungkin dia bisa mengendalikan tubuhku ini.”
Wajah Nero berubah beringas.
“Aku dan The Serpant adalah teman. Aku ingin tahu kenapa kau begitu ingin membunuhnya. Sayangnya, sekarang kau sudah tidak bisa lagi bicara.”
Cairan hitam itu mulai menggulung tubuh Arcueid. Tubuh feminim Arcueid sudah tidak terlihat lagi. Yang ada hanyalah gumpalan lumpur hitam.
“Aku akan menjadikanmu bagian dari tubuhku, Arcueid Brunestud. Mencerna tubuhmu akan sedikit sulit. Tapi setelahnya, Aku akan menjadi Vampire terkuat. Pembunuh profesional dari Burial Agency itu tak lagi menjadi halangan bagiku. Akan kuhancurkan semua anggota gereja brengsek itu!”
Wajah Arcueid sudah tertutup oleh cairan hitam. Bahkan garis yang kulihat samar ditubuhnya tak lagi terlihat. Kalau begini terus Arcueid akan dihisap oleh Nero.
Aku melihat cairan hitam diatas tubuhku. Aku melihat adanya garis-garis maut. Mengesampingkan sakit dikepalaku, kupotong garis itu. Cairan hitam tadi berubah menjadi seperti air begitu kupotong garisnya.
“Baiklah”
Aku berdiri. Aku harus menyelamatkannya. Aku harus menyelamatkan Arcueid dari monster itu. Tapi bagaimana? Bagaimana Aku bisa mendekati Nero? Bahkan Arcueid saja dikalahkan olehnya. Kalau Aku meyerbu begitu saja, bukankah sama saja cari mati? Melawan anjing saja sudah susah, bagai mana kalau melawan singa atau leopard? Selain itu titik dipunggungnya sangat banyak.
Kalau begitu....Tusuk saja semua titik yang ada dipunggungnya.
“Ukh....” Aku tak dapat berjalan. Siapapun itu, aku yakin tak ada manusia yang bisa menghadapi monster seperti dia.
“Siaaal!!” Sekali lagi, Aku berusaha menyelamatkan diri meski ada seseorang yang hampir terbunuh.
“Oh?”
Aku mendengar suara Nero yang sedikit terkejut. Dia melihat kearah sudut lain dari taman ini. Kemudian Aku mendengar suara langkah kaki. Langkah ringan kaki yang berjalan mendekat
“Tidak mungkin”
Suara langkah kaki itu terus mendekat.
Arcueid pernah bilang, kalau ada orang lewat, anggap saja nasib buruk. Aku melihat sosok manusia dari kejauhan. Gadis yang seumuran denganku. Dan Nero terus melihat kearahnya.
Gawat. Kalau dia menuju kemari artinya......
“LARIIIII !!!!”
Aku berteriak sekencangnya. Tidak mempedulikan mungkin saja Nero menyerangku.
Meski begitu, gadis itu tetap berjalan mendekat tanpa tahu situasinya saat ini
“Setengah tubuhku baru saja tercabik-cabik, Aku perlu bahan lagi. Dan ini dia bahannya datang.”
Seekor harimau keluar dari tubuh Nero.
“Berhen____”
Gadis tidak mendengar suaraku. Harimau itu berlari dengan sangat cepat. Dan semuanya selesai dalam sekejab. Terdengar jeritan pendek, dan suara tubuh jatuh ketanah. Bau darah menyebar. Harimau itu kembali dengan tubuh gadis itu dimulutnya. Wajahnya sudah tak dapat dikenali lagi. Bekas cakaran dimana-mana.
Kejam
Menjijikkan
Deg deg!
Sakit kepalaku kambuh lagi.
Tenggorokanku terasa kering.
Pikiranku kacau.
Yang terlihat hanyalah musuh didepan
Deg deg!
Harimau itu kembali masuk kedalam tubuh Nero.
Aneh. Mayat gadis tadi juga ikut menghilang.
Nyam Nyam Kreeess!
Meski Aku tidak dapat melihat tubuhnya, Aku mendengar suara mengunyah.
Deg deg!
Suaranya terdengar dari dalam tubuh Nero.
Deg deg!
Tidak salah lagi. Didalam tubuhnya, dia memakan tubuh gadis itu.
Nero tersenyum sadis.
Aku tidak dapat berpikir lagi.
“Bajingaaan....!!!” Aku berlari menyerbu Nero.
__mendadak pengelihatanku menjadi merah.
Seekor leopard yang lebih besar dari anjing hitam tadi keluar dari tubuh Nero.
Tapi Aku tidak peduli.
Binatang itu hidup.
Selama dia mahluk hidup, tak ada yang bisa mengalahkanku.
Cras!
“Kau mehalangiku!” Aku berkata pada mayat leopard yang terpotong empat dibawah kakiku
“Ah, kau orang yang menyerangku dari belakang tadi.” Tampaknya Nero baru sadar akan kehadiranku.
Matanya yang tanpa emosi melihat kearahku. Seperti yang dikatakan Arcueid tadi, selama Aku tidak ragu, tatapan matanya tidak akan mempengaruhiku.
“Lepaskan Arcueid, monster!”
Nero hanya diam
“Kubilang lepaskan dia. Lawanmu sekarang Aku. Dengan tubuhmu yang tingggal separuh, kau bukan lawanku.”
Tanpa bicara, Nero melihat Arcueid, dan kemudian kembali melihatku.
“Kau mengatakan aku lawanmu?”
“Ya, jadi lepaskan dia, dan pulihkan tubuhmu.”
Leher Nero terlihat bergerak naik turun Dia tertawa
“Tidak lucu. Bersiaplah untuk menerima hukuman, manusia. Akan kukunyah kau sedikit demi sedikit dalam keadaan hidup.”
Nero mengibaskan jubahnya. Angin hangat berhembus disertai kemunculan beberapa binatang dari tubuh Nero. Bukan hanya sepuluh, atau dua puluh. Tapi mencapai ratusan.
Aku mengarahkan pisauku ke leher anjing hitam didepanku. Dalam sekejab, anjing itu mati.
Kemudian terdengar suara kepakan sayap dari atas. Seekor burung menyerang dahiku.
Aku tidak punya waktu untuk merasa sakit. Aku segera membunuh burung itu. Kemudian beberapa anjing hitam menggigit tanganku dari dua sisi.
Cras cras cras!
Kumatikan juga kedua anjing itu.
Tapi kalau begini saja tidak cukup. Sekali aku membunuh, sepuluh binatang bergantian menyerangku.
“Ah......ah....”
Tiba-tiba aku tak dapat melihat apapun. Semuanya hitam. Tidak ada yang salah dengan mataku. Hanya saja, binatang-binatang tadi mengerumuniku.
Tidak bisa terus begini. Aku bisa mati. Aku tak mungkin bisa bertahan lebih dari 5 detik. Sikuku digigit. Darah mengalir. Tubuhku serasa mau jatuh. Tapi kalau aku sampai jatuh, semua berakhir.
Tidak
Tidak
Rasanya lebih menakutkan daripada menyakitkan
Semuanya gelap.
Aku tak dapat melihat
Aku tak dapat bergerak.
Tapi aku harus berpikir.
Tubuh utamanya. Kalau aku bisa melakukan sesuatu terhadap tubuh utama Nero, paling tidak Arcueid selamat.
“AAAAAAAAAAA!!!”
Aku menyabetkan pisauku kesegala arah. Aku memaksakan tubuhku untuk berlari
NERO!!!
“Jangan bersuara. Kau membuatku muak, manusia”
Jubahnya berkelebat.
“Eh?”
Tiba-tiba seekor rusa menandukku. Tidak terlalu sakit, tapi cukup untuk membuatku terjatuh.
“Aku orang yang cukup sabar. Beristirahatlah. Akan kupastikan tak satupun selmu yang masih hidup.”
“Ah!!” Tiba-tiba Aku kembali diserang oleh ratusan binatang yang keluar dari dalam jubah Nero. Aku melihat mata binatang liar ada dimana-mana.
Cras
Kuliku tersayat.
Mati___
Krauk!
Rasanya dagingku sedang dimakan.
Mati____
Krak!
Rasanya tulangku patah.
Mati____
Aku tak bisa lagi berpikir. Yang kulakukan hanyalah melindungi wajahku dengan tanganku. Aku menggeggam erat pisau ditangan kananku.
Mati____
Aku sedang dimakan. Jika diserang oleh binatang sebanyak ini, seharusnya mereka bisa memakanku dalam satu menit. Tapi tampaknya mereka ingin melakukannya secara perlahan.
Mati____
Aku berdarah. Darah dan liur hewan membasahi bajuku. Rasanya__mengerikan
Mati____
Mati____
Mati____
Mati____
Mati____
Cepatlah mati____
“_____!”
Aku berusaha berteriak. Tapi tak ada seorangpun yang akan menolongku. Aku akan dibunuh. Aku akan ditelan hidup-hidup.
“Tidak!”
Aku tidak mau mati seperti ini
Aku tidak mau dimakan hidup-hidup.
Aku tidak mau aku tidak mau dibunuh seperti ini.
TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut TAkut
“Ha ha ha ha ha!” Aku tertawa. Karena aku sendiri bahkan tak tahu kenapa aku dibunuh.
“Dasar bodoh. Kalau menyerah, akan lebih enak untukmu. Ha ha ha ha.” Aku mendengar suara dari jauh. Memakanku. Mengunyahku. Nero terus tertawa. Melihatku dan tertawa.
Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit Sakit
Aku akan mati
Mungkin sudah takdirku mati
Atau mungkin seharusnya aku sudah mati 8 tahun yang lalu.
Aku benci ini
Ya aku benci ini. Aku benci segala sesuatu yang sudah ditetapkan.
__kalau kau mau membunuhku, maka.......
Deg deg!
Tubuhku lemas
Deg deg!
Yang terasa hanyalah pisau ditangan kananku.
Deg deg!
Tidak mungkin aku melarikan diri.
Deg deg!
Kalau begitu
Deg deg!
Terbunuh
Deg deg!
Terbunuh
Deg deg!
Terbunuh
Deg deg!
DIA AKAN TERBUNUH OLEHKU!!!!
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!!” Aku mulai tertawa seperti orang gila. Aneh sekali. Aku tak bisa berhenti tertawa.
Cras cras cras cras cras cras
Satu perseatu binatang yang mengerumuniku mati oleh pisauku
Kepalaku terasa kacau. Semuanya terasa aneh. Tubuhku, ototku, syarafku, darahku, semua menjadi tidak normal. Aku telah membunuh selitar 70 binatang yang tadi mengerumuniku.
“A____Apa?” Aku mendengar suara Nero yang terkejut.
Oh iya, Aku harus segera berdiri. Kalau tidak, aku tidak bisa membunuh lagi. Aku berdiri. Ada luka di beberapa tempat, tapi rasanya aku masih bisa bergerak.
“Bagaimana kau____?”
“Aku mengerti apa yang mau kau katakan Vampire,” Aku merasa bersemangat. Nafasku memburu. Seperti ketika aku membunuh Arcueid.
“Mau membunuhku monster?” Aku bertanya pada Nero. Ah, aku baru sadar kalau ternyata aku dan Nero memiliki persamaan. Kami berdua sama-sama pembunuh.
“Baiklah, mari bertarung sampai mati, Chaos!!”
Aku langsung maju menyerang Nero. Seekor binatang yang lebih besar dari yang sebelumnya muncul. Tapi tidak untuk waktu yang lama untuk membunuhnya. Karena sebesar atau sebrutal apapun binatang yang menyerangku, tidak akan pengaruh apa-apa. Tidak ada bedanya antara anjing, singa, atau yang lainnya, selama titik dan garis maut ditubuh mereka terlihat.
Kubunuh mereka dengan menyerang titik kematiannya. Setelah mati, mereka berubah menjadi air berwarna hitam.
“Bagaimana bisa?”
Nero mengatakan sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa.
“Apa yang kau lakukan?”
Aku melihat tubuh Nero. mmmmmm..... titiknya ada banyak. Untuk membunuhnya, Aku perlu memotong semua titik dibadannya.
“.........”
Aku menggeram. Terlalu banyak bergerak membuat badanku lelah. Aku tidak punya cukup tenaga untuk menjawab Nero. Kalau aku masih punya tenaga untuk bicara, lebih baik gunakan saja untuk membunuh monster bau binatang ini.
“Baiklah kalau begitu, aku akan serius” Nero kembali mengibaskan jubahnya. Kemudian keluarlah binatang-binatang yang pernah kulihat dibuku ketika aku masih kecil. Seperti kuda bertanduk satu, atau kadal bersayap. Sedikit merepotkan, karena titik kematiannya tidak begitu terlihat jelas.
Apakah karena aku mengatakan kata ‘bunuh’? Seluruh tubuhku bergerak menghancurkan apa saja yang menghalangiku saat ini. Kupotong kuda bertanduk tadi menjadi dua. Begitu pula dengan kadal bersayap.
“Tidak mungkin!” Sekali lagi Nero terkejut
Sayangnya, Aku sudah tidak bisa melihat dengan jelas sekarang. Yang kulihat hanyalah garis dan titik saja.
“Sial! Kenapa aku harus menghadapi seorang manusia dengan kekuatan penuh?!”
Setengah tubuh Nero yang membungkus tubuh Arcueid menggeliat, dan kembali bergabung ketubuh Nero. Arcueid terlepas dari cairan hitam yang membungkusnya.
“Akan kubunuh kau manusia! Akan kutunjukkan siapa yang lebih hebat!”
Nero menusuk dadanya sendiri. Dari lukanya, keluarlah seekor laba-laba yang mirip dengan kepiting, yang lebih besar dari gajah yang sudah dibunuh oleh Arcueid.
Aku sudah tak bisa melihat. Yang kulihat sekarang hanyalah titik kematian saja. Jariku terasa dingin. Mungkin Aku kehilangan banyak darah. Tapi tetap saja tubuhku seakan mengatakan ‘maju terus dan bunuh Nero’
Laba-laba yang seperti kepiting itu menghalangi jalanku.
Cras!
Mati
“Tidak mungkin....!!” Nero melompat mundur. “Tidak mungkin ada manusia yang bisa membunuh semua binatangku?! Kami abadi! Selama Aku hidup, binatang itu akan terus hidup! Tapi kenapa mereka mati setelah kau tusuk?!”
Aku terus maju mendekati Nero yang berteriak-teriak sendiri.
Sebentar lagi. Dari sini Aku bisa melompat membunuhnya.
“Tidak bisa! Aku Nero! Tidak mungkin Aku kalah!”
Tubuhnya mulai berubah menjadi sesuatu. Tidak lagi mengeluarkan binatang, tubuhnya sendiri berubah menjadi binatang, dan menyerangku. Gerakannya secepat Arcueid. Tangannya mengincar leherku.
Aku menghindar dan memotong garis yang ada ditangannya.
“Kenapa?!”
Nero melihat tangannya yang hilang.
“Kenapa tidak bisa sembuh sendiri?! Dia bukan penyihir! Tapi kenapa Aku bisa hancur bila dipotong olehnya?!” Suara Nero terdengar panik.
“Bodoh! Kalau kau terlalu memikirkan remeh temeh seperti itu, kau bisa dibunuhnya Nero Chaos”
Aku mendengar suara Arcueid.
“KAUUU!!”
Dengan matanya yang penuh kebencian, Nero melihat Arcueid yang berdiri didipinggir dengan santainya. Setelah Nero menarik kembali setengah bagian tubuhnya, Arcueid menjadi bebas.
“Oh, jangan khawatir. Aku tidak akan ikut campur. Saat ini Shiki yang akan mengurusimu. Kalau aku ikut campur, mungkin aku juga bisa ikut dibunuhnya.” Arcueid terkikik “Salah sendiri kau ingin memakannya hidup-hidup. Seharusnya kau membunuh musuhmu secepatnya tanpa memberi kesempatan untuk serangan balik kan? Itu kesalahanmu yang paling mendasar.”
“Diam! Aku tidak membuat kesalahan. Aku masih memiliki 560 nyawa. Lihat saja. Setelah dia kubereskan, akan kuhabisi kau selanjutnya.”
“Oooh? Benarkah? Sepertinya tidak akan terjadi, tapi aku akan menunggu saat itu.”
Arcueid tidak mendekat. Nero melihat kearahku. Dia datang. Kupegang pisauku dengan dua tangan.
“Oh, Aku lupa memberi tahu sesuatu padamu Nero.” Arcueid tiba-tiba angkat bicara. “Mungkin sedikit terlambat, tapi......aku pernah dibunuhnya sekali.”
“Ap.........?!”
Gerakan Nero terhenti. Dia sangat terkejut mendengar apa Arcueid katakan. Saat itu, pikiran Nero seakan tersampaikan padaku.
Ini gila Dia membunuh Arcueid Brunestud? Monster ini, yang tak bisa dijabarkan hanya dengan kata abadi, pernah dibunuh oleh manusia?
“Ku____huhu, hahahahahahahahahaa!!” Nero tertawa Ini kesempatan. Aku menyerangnya yang sedang tidak bergerak.
“Kau mau membunuhku, manusia?” Dia menggeram. Tangannya langsung mengincar jantungku. Sangat cepat.
Tapi, kupotong tangannya begitu saja. Ada ratusan titik ditubuhnya. Tapi Aku bisa melihat titik utamanya, yang paling besar. Aku tidak peduli dia punya berapa nyawa. Yang akan kubunuh hanyalah keberadaan Nero Chaos.
Terdengar suara benturan logam. Pisauku menancap tepat ditengah.
“Tidak...mungkin....”
Jarinya berubah menjadi cairan hitam.
“Aku...mati...”
Tubuhnya mendadak menjadi dingin. Kemudian jatuh seperti sebuah benda rongsokan Dengan sebuah serangan, Aku membunuh Nero Chaos. Dan ke-560 nyawa lainnya.
Selesai sudah. Nero telah kukalahkan.
“Lelah.....” Aku jatuh ketanah. Tapi aku berusaha menahan badanku dengan tangan.
“Dingin____”Aku kedinginan. Aku tak bisa merasakan sakit dibadanku lagi. Terdapat bekas gigitan dan cakaran diseluruh tubuhku. Mungkin saja aku akan mati seperti ini. Aku menghela nafas panjang. Aku kemudian mengadahkan wajahku melihat langit.
Bulan terlihat sangat cantik. Ini Dejavu. Dulu, aku seperti pernah mengalami kejadian seperti ini.
“Kau baik-baik saja, Shiki?” Arcueid mendatangiku seakan tidak terjadi apa-apa barusan.
“Bodoh! Kalau aku baik-baik saja, artinya aku bukan manusia.” Aku bicara tertahan. Untuk bicara saja rasanya sakit. Seharusnya aku tidak menjawab.
Aaaa........
Kesadaranku perlahan menghilang. Rasanya nyaman sekali.
Plak!
Arcueid memukul kepalaku. Membuat kesadaranku pulih kembali.
“K....kau...?”
“Kalau kau langsung tidur dengan luka seperti ini, kau akan sekarat dan mati. Kau tidak boleh tidur sampai lukamu dirawat.”
Kata-katanya barusan____
____membuatku ingin marah.
“Arcueid, boleh Aku mengatakan sesuatu?”
“Hm? Apa?”
“Jangan ngomong sesuatu yang tidak masuk akal, Bodoh!”
Aku roboh. Kesadaranku perlahan menghilang. Dingin sekali.
“Hey, Shiki! Kamu bakal mati kalau begini!”
Sudah kubilang Aku mengantuk. Sebelum mati, Aku mau tidur dulu. Jadi bangunkan Aku besok pagi.
“Shiki! Kita harus merawat lukamu dulu! Kalau tidak, kau tidak akan bangun lagi!”
Ck, ribut banget sih. Aku mau tidur. Kau lakukan saja semaumu.
“Eh? Aku boleh melakukan semauku? Kenapa tidak bilang dari tadi?”
Setelah dia mengatakannya dengan ceria, jari-jarinya menyentuh lukaku, penuh simpati.
“Yah, sebenarnya aku tidak mau melakukannya. Tapi apa boleh buat.”
Dia sepertinya membalutkan sesuatu. Rasanya sangat tidak nyaman.
“Wah, meski sumbernya sudah mati, tubuh Nero masih punya kemampuan menyembuhkan diri. Kalau begitu Aku bantu sedikit. Pertama, Aku masukkan bagian tubuh Nero ketubuhku hingga pulih, kemudian kukeluarkan, dan kumasukkan kedalam tubuhmu”
Dia melepaskan jari-jarinya dari tubuhku.
“Bagaimana? Kukira akan cepat menyesuaikan diri dengan tubuhmu. Lebih enakan Shiki? Hey, Shiki? Kamu tidur ya?”
Ya__ Aku tidur.
“Baiklah, kalau tidak salah rumahmu diatas bukit itu kan? Akan kubawa kau kesana”
Aku melihat bulan dalam tidurku.
“Terima kasih Shiki. Kau sudah menyelamatkanku.”
Aku sudah tidak bisa mendengar suaranya lagi.•
Saturday, December 6, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment