Saturday, December 6, 2008

CHAPTER 5: Blue Scar of Sin

Aku merasakan cahaya matahari pagi menerpa wajahku. Aku tetap menutup mataku, berusaha untuk tidur lagi, tapi cahaya matahari memaksaku untuk bangun. Udara terasa sangat dingin, tapi lembut. Hari ini mungkin cuaca diluar sedang bagus. Aku harus segera bangun, dan pergi ke sekolah.

Ya harus pergi kesekolah. Tiga hari yang lalu hidupku menjadi sangat kacau. Aku bahkan lupa kalau Aku masih seorang murid SMU.

Aku membuka mataku. Tapi aku masih berbaring belum berajak dari atas ranjang. Aku mencari kacamataku yang kuletakkan disamping bantal.

Memakai kacamata, Aku kemudian menarik nafas dalam-dalam. Udara segar masuk mengisi paru-paruku. Aku mendengar detak jam, dan suara burung yang berkicau.

___Ahhh, akhirnya Aku kembali kekehidupanku yang dulu____

Meski tidak ada yang istimewa pagi ini, Aku merasa sangat senang. Rasanya sangat nyaman. Aku teringat kejadian dengan vampir hitam kemarin. Tapi sekarang aku kembali kekehidupanku yang biasanya.

“Selamat pagi, Shiki-sama”

“Uwaaaaaa!!”

Aku melompat kaget dari ranjangku. Aku melihat Hisui diam berdiri disamping tempat tidurku.

“Hi-hi-hi-Hisui!”

“Maafkan Saya Shiki-sama. Karena anda tidak juga menyadari kehadiran saya, sehingga saya memberanikan diri untuk menyapa”

“Ah, ya__maksudku__ aku juga minta maaf.”

Hisui kemudian membungkukkan badannya dengan penuh hormat.

Di-di-dia benar-benar mengejutkanku.

Jantungku masih berdetak kencang.

“___Huh? Tapi sekarang belum jam 7 kan, Hisui?”

“Benar. Saat ini sedikit lebih pagi dari waktu bangun anda biasanya, Shiki-sama”

“Ya, terus kenapa kamu disini?”

“Akiha-sama memerintahkan untuk membangunkan anda. Beliau ingin bertanya tentang apa yang anda lakukkan dua hari ini.”

“___Ah”
Aku lupa. Aku membolos pada hari sabtu dan bersama Arcueid sepanjang hari minggu.

“Mmmm....... Dia marah?”

“Saya kurang tahu. Mohon Shiki-sama melihatnya sendiri”

Suara Hisui terdengar dingin.

“Sebentar. Sebelum itu, kenapa aku bisa tidur disini?”

“Shiki-sama, anda kembali pulang sekitar jam 2 pagi ini. Kakak menemukan anda tidur di depan pintu. Jadi kakak membawa anda kesini.”

“Ap......?”
Ini buruk. Menghilang dua hari tanpa kabar, pulang tengah malam, dan tidur didepan pintu. Aku pasti terlihat seperti orang mabuk.

“Gadis itu.... memperlakukanku seperti kucing._____” Aku menggeram kesal karena teringat wajah Arcueid yang melintas dipikiranku. Tapi aku mungkin harus berterima kasih padanya telah membawaku sampai rumah.

“Baik. Aku akan turun secepatnya. Dan aku akan sangat berterima kasih jika kau mau turun dan menenangkannya sedikit.”

“____Saya menolak” jawab Hisui.

Mungkin Hisui juga marah kepadaku. Satu masalah setelah masalah yang lain. Karena Akiha kepala keluarga disini, jadi kalau dia marah tidak mungkin ada yang mau membelaku. Tapi sekarang bangun dulu. Aku tak bisa melakukan apa-apa ditempat tidur.

“Ts___ah,”

Setelah Aku bangun, Aku merasa sakit diseluruh tubuhku.

“Luka___semalam?”

Kalau ada yang mengejutkan pagi ini, mungkin karena aku masih hidup setelah kejadian kemarin. Meski terluka parah, aku masih sanggup berdiri.
“Shiki-sama, itu....?” Kata Hisui terbata sambil menunjuk kearah tubuhku.

Ah, pemandangan yang unik. Hisui melebarkan matanya melihatku seperti terkejut.

“Apa ada yang an___?”

Aku melihat kebawah. Dan aku melihat warna merah di piyamaku.

“Apa ini??!”

Tentu saja itu bukan desain piyamaku. Mungkin darah dari lukaku yang merembes keluar.

Mata Hisui membelalak tanpa bisa berkata apa-apa.

Tenang, tenang. Alasan ada darah ini sangat jelas. Tapi karena tidak mungkin aku menjelaskannya, aku harus berbohong agar dia tidak cemas.

“Shiki-sama, tubuh anda....”

“Ah, tidak, tidak apa. Kau tahu kenapa Aku pulang terlambat? Karena aku berkelahi. Luka ini gara-gara perkelahian semalam. Hanya luka kecil, jangan cemas.”

Pandangan mata Hisui seakan memohon ‘tolong jangan berkata bohong’. Tapi mungkin dia tidak bisa mengatakannya. Aku merasa menyesal membohonginya, tapi aku tidak punya pilihan.

“Jadi, tolong jangan katakan ini kepada Akiha. Kalau dia tahu aku berkelahi, dia bakalan marah.”

“___Baik. Saya mengerti. Akiha-sama tidak akan tahu.” Hisui mengangguk

“Terima kasih. Dan bisa minta tolong lagi? Kau punya disinfektan? Aku harus merawat luka ini.”

“Ah____ya. Akan saya bawakan segera.”

Kenapa dia? Mendadak dia terlihat sangat tidak nyaman? Tapi aku senang dia mau membawakan disinfektan untukku.

Rasanya sudah tidak begitu sakit. Jadi apapun yang bisa menyembunyikan darah akan kugunakan.

“Maaf, sudah membuat anda menunggu”

Yang masuk ternyata bukah Hisui, tapi Kohaku. Dia membawa kotak P3K di tangannya.

“Huh____Kohaku?”

“Benar. Saya mendengar keadaan anda dari Hisui-chan. Shiki-san, anda berkelahi semalam?”

“A, itu, Aku.....” Aku tak bisa menjelaskan situsinya kepada Kohaku.

“Anda seharusnya tidak melakukannya. Menjadi nakal itu masih boleh, tapi jangan sampai terlibat kekerasan. Itu hanya akan menyakiti orang yang melakukannya dan orang yang menerimanya.”

Kata-kata Kohaku terdengar ramah, tapi aku tahu kalau dia sebenarnya sedang memarahiku.

Hanya akan menyakiti orang yang melakukannya dan orang yang menerimanya, ya. Kata-kata Kohaku benar-benar mengena.

“Ah, ya, benar........ hanya akan menyakiti....”

“Benarkan? Saya sedikit kecewa anda sampai terluka seperti ini. Apapun yang terjadi, saya lebih kecewa bila anda melakukan hal-hal seperti itu lagi, Shiki-san”

Kata-katanya menancap didadaku. Maaf Kohaku. Mungkin sebenarnya Aku sudah melakukan berbagai hal yang membuatmu kecewa.

“....Ya. kau benar. Aku bodoh dan sekarang aku menyesal. Aku tidak akan melakukannya lagi”

“Selama anda mengerti, maka tidak apa-apa. Sekarang saya akan memeriksa luka anda, jadi tolong bajunya dibuka dulu.”

“Eh?”

Kohaku mencengkram piyamaku. Apa dia menyuruhku telanjang disini?

“T, t, tunggu dulu... Aku hanya ingin menggunakan disinfektan. Itu saja!” kataku tergagap

“Apa yang anda katakan! Walau anda mengatakan luka kecil, jelas terlihat kalau luka ini bukan luka kecil!”

“A, aku baik-baik saja. Akan kulakukan sendiri”

“Tidak bisa! Luka dipunggung anda____!”

Melihat luka dipunggungku, Kohaku menahan nafas.

“Separah ini? Apakah anda berkelahi dengan Doberman, Shiki-san?”

“Eee... yah, bisa dibilang seperti itu.”

Kohaku terdiam sejenak

“Kalau begitu, saya benar-benar tidak akan membiarkan anda merawat luka sendiri, Shki-san. Baiklah, tolong buka bajunya, dan cepat!” Kali ini Kohaku sedikit memaksa

“Tidak, aku bilang Aku akan merawatnya sendiri. Ini hanya luka kecil, aku tidak perlu telanjang.”

“Ah, begitu rupanya. Anda merasa malu ya, Shiki-san?” tanya Kohaku sambil tersenyum, meskipun begitu dia masih terus berusaha melepas piyamaku.

“Aku pernah melihat tubuh anda, Shiki-san. Jadi saya rasa tidak masalah.”

“’Pernah katamu Kohaku?”

“Ya, Saya pernah mengganti baju anda. Jadi saya tahu setiap detail tubuh anda.........”

“W,w,wo,wo,wo....!!!” Aku memotong kalimat Kohaku.

“Baiklah, waktu kita tidak banyak. Kalau terlalu lama, Akiha-sama akan curiga.”

___guuh, Aku tak bisa membalas. Tapi telanjang didepan Kohaku itu agak....

“Baiklah, kalau begitu, saya hanya akan memeriksa tubuh bagian atas. Dengan begini anda tidak perlu malu ya kan, Shiki-san?”

Meski tetap memalukan, tapi sepertinya lebih baik.

“.......Baiklah, kalau begitu, tolong ya,”

Aku duduk di ranjang dan membuka piyamaku. Dengan cepat, Kohaku merawat lukaku. Mulai dari lengan, bahu, dan punggung. Dia mengoleskan disinfektan. Rasanya perih. Tapi dibandingkan dengan luka lamaku, ini masih belum seberapa.

“Wah, anda benar-benar lelaki. Tidak menjerit ketika dirawat lukanya” Kata Kohaku sambil merawat lukaku. Kohaku mengatakannya dengan ceria. Mungkin untuk membantuku mengurangi rasa sakit.

“Baiklah, sekarang Saya akan membalutnya.” Dia meletakkan kapas dilukaku, dan membalutnya dengan perban.

“Selesai. Apakah anda yakin anda tidak ingin Saya memeriksa kaki anda?”

“Aku bisa melakukannya sendiri. Terima kasih, Kohaku” jawabku malu

“Baiklah, kalau begitu saya akan kembali ke dapur. Setelah anda selesai, harap anda segera ke ruang tengah”

Kohaku bejalan menuju pintu.

“Ah, tunggu!” Kata-kataku menahan langkah Kohaku

“Ya?”

“Uh___maaf, seperti katamu, berkelahi memang tidak menyelesaikan masalah.”

Kohaku terlihat takjub. Kemudian tertawa gembira.

“Baiklah, Saya mengerti. Saya tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun kali ini.”
Dia kemudian meninggalkan kamarku.

“Baiklah. Saatnya turun” kataku sendiri

Aku sampai di depan ruang duduk dimana Akiha menungguku. Apapun masalahnya, tidak ada alasan untuk membolos dan tidak pulang selama dua hari. Aku tak mungkin bisa menjelaskan semuanya. Jadi paling tidak aku akan minta maaf. Aku tidak yakin Akiha akan mengerti tentang Arcueid maupun Nero.

“Baiklah.” Menahan nafas, Aku masuk kedalam ruang tengah. Disana aku melihat Akiha duduk di sofa, dan Hisui berdiri disampingnya.

“Selamat pagi kak.” Matanya menunjukkan kalau dia marah

“Aaa..umm....pagi, Akiha”

“Silahkan duduk kak. Saya ingin berbicara dengan kakak.”

Kata-katanya terasa memaksa, jadi Aku tak bisa mengatakan tidak. Aku kemudian duduk berhadapan dengannya.

“Kak, mungkin ini sangat tiba-tiba. Tapi boleh saya bertanya tenatang dua hari terakhir ini?”

“___Ugh!” Dibalik tutur katanya yang sopan, terkandung semacam ancaman didalamnya.

“Tentang hal itu, Akiha,....”

“Ya?”

“Maaf. Tapi Aku tak bisa mengatakannya.”

Prang!
Cangkir teh Akiha terjatuh diatas meja. Atau lebih tepatnya sengaja dijatuhkan.

“Akiha-sama__!” Hisui terkejut

“Oh, maaf Hisui. tolong bersihkan ini.”

Hisui kemudian membersihkan tumpahan teh dan pecahan cangkir yang terlihat mahal.

Aku terus melihat kearahnya untuk menghindari tatapan Akiha. Setelah selesai membersihkan, Hisui kembali ke dapur.

“Baiklah kak.”

“Ya?”

“Boleh Saya bertanya lagi?”

Akiha belum menyerah. Aku merasa dia akan mengorek keterangan dariku bagaimanapun caranya. Tapi tetap saja aku tak bisa mengatakan yang sejujurnya. Tentu saja bukan hanya untuk kebaikanku, tapi juga demi kebaikannya.

“Berapa kalipun kau bertanya, Aku tidak bisa mengatakannya. Aku minta maaf telah membuatmu cemas, tapi aku benar-benar tidak bisa.”

“Meski kakak menyesal, tidak bisa mengatakannya kepada saya?”

“Maaf aku tidak menghubungimu. Tapi percayalah, aku tidak melakukan sesuatu yang buruk selama dua hari ini.”

Benar, meski selama dua hari ini, isinya hanyalah bunuh atau dibunuh, Aku merasa melakukan sesuatu yang benar. Aku melakukannya untuk membantu Arcueid. Tapi aku tidak menyesal telah membunuh monster itu. Paling tidak, tidak akan ada lagi korban yang darahnya dihisap.

“Maaf Akiha. Aku benar-benar minta maaf. Tapi tolong, berhentilah bertanya.”

Akiha memandang mataku untuk beberapa saat.

“Baiklah. Saya percaya kakak memiliki alasan. Saya tidak akan menekan kakak lagi. Tapi tolong jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi. Kakak adalah putra pertama keluarga Tohno. Kalau kakak tidak menyadari posisi kakak, maka akan sangat merepotkan.”

“Bukankah kau kepala keluarganya? Jadi tidak ada masalah dengan yag kulakukan selama ini kan? Kalau kau benar-benar merasa cemas dengan nasib keluarga Tohno, sebaiknya kamu segera mencari suami yang mau masuk kedalam keluarga Tohno.” Balasku ketus

Untuk suatu alasan, Akiha hanya terdiam.

“Ada apa? Akiha?” tanyaku dengan nada menantang.

“Tidak ada apa-apa! Cukup sudah kakak mengurusiku. Urusi saja urusan kakak sendiri. Kakak punya anemia kronis yang lebih penting untuk diperhatikan!”

Memang Aku sering pingsan karena anemia.

“Selain itu, jangan tinggalkan rumah sendirian. Karena akhir-akhir ini dikota sangat berbahaya. Orang seperti kakak yang selalu melamun mungkin menjadi sasaran pembunuh berantai.”

“Oh, pembunuh berantai itu. Tidak apa-apa. Tampaknya tidak akan terjadi lagi.”

“Ha?”

“Maksudku, si vampire itu telah tertangkap.”

“Benarkah? Bagaimana kakak tahu?”

“Ya, pokoknya begitu.”

Benar. Sekarang sudah tidak akan ada lagi orang-orang yang dibunuh Nero.

“Kak? Ada apa? Kenapa kakak tiba-tiba tampak bahagia?”

Akiha memandang aneh wajahku.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja, akhirnya semua berakhir.” Tanpa sadar aku rupanya telah mengembangkan senyum diwajahku.

Sekarang sudah jam 7.30. Akiha berangkat 20 menit lebih awal dengan menggunakan mobil. Setelah sarapan, aku berangkat kesekolah.

Hisui mengantarku sampai pintu pagar. Dia membawakan tasku.

“Baiklah, aku berangkat. Terima kasih sudah mengantarku Hisui”

Hisui menyerahkan tasku.

“Shiki-sama, sekitar jam berapa anda akan pulang?”

“Masih tidak percaya padaku? Aku akan pulang sore”

“Baiklah kalau begiu, selamat jalan”

Hisui membungkukkan badannya. Sedikit tersipu, Aku meninggalkan rumah.

Sesampainya diperempatan, Aku hanya melihat murid-murid sekolahku. Tidak ada lagi gadis berbaju putih yang duduk di pembatas jalan menungguku.

“Ya, tentu saja”

Mungkin Aku tidak akan melihatnya lagi. Tujuannya ke kota ini hanya untuk membasmi vampire. Setelah Nero kalah, tidak ada alasan baginya untuk tetap tinggal dikota ini. Entah kenapa, Aku merasa sedikit kehilangan. Memang dia hanya membawa masalah, tapi bersamanya cukup menyenangkan.

“Aku ini bodoh ya?”

Aku baru saja hampir terbunuh. Bagian mananya yang menyenangkan? Luka semalam masih terasa sakit. Hampir saja aku menjadi makanan Nero, dan aku tidak mau mengalaminya lagi.

Aku sampai kelas 5 menit sebelum jam pertama. Suasana dikelas sudah ramai.

“Haaah....”

Aku menghela nafas dan duduk dikursiku. Kalau waktunya masih lama, Aku tidak perlu lari tadi.

“Yo, tukang bolos!”

Aku mendengar suara yang sangat kukenal dari belakang.

“Kenapa Shiki?! Kalau mau bolos bilang-bilang dong. Nanti kita bisa bolos bareng.”

“Apa harus?”

“Ya tentu saja. Pas kamu bolos, Ciel-senpai juga tidak masuk. Aku jadi mikir yang enggak-enggak”

Orang ini........

“Serius ini. Ada apa? Biar kena anemia, sejak SMP kamu tidak pernah bolos”

“Ya, waktu berangkat, aku tidak eanak badan. Jadi, aku kembali pulang”

“Gitu ya? Kamu sudah jadi anak nakal ya?”

Kriiiiing!

Bel tanda pelajaran pertama dimulai.

“Ok, karena kau sudah bolos kemarin, hari ini kamu harus belajar giat.”

Arihiko meninggalkan kelas. Artinya, dia mau bolos hari ini. Sesaat kemudian, guru masuk kedalam kelas, dan pelajaran dimulai.

Setelah sesi pertama selesai, bel istirahat siang berbunyi. Beberapa murid mulai meninggalkan kelas.

“Mungkin Aku harus kekantin” Aku berdiri dari kursiku.

“Oh, Tohno-kun, kau sendiri saja?”

Sedikit terkejut melihat Ciel-senpai yang tiba-tiba masuk, Aku menjawab, “Ya. Senpai mau makan?”

“Ya, sebenarnya aku mau makan bersama kalian, tapi_____”

Tiba-tiba Ciel-senpai menatap wajahku. Entah apa yang dipikirkannya, dia mulai mendekat.

“Se, senpai?”

Sekarang dia tepat didepanku. Jaraknya sangat pas untuk kupeluk. Jantungku berdebar kencang. Senpai kemudian seperti mengendusku. Dan kemudian tiba-tiba saja dia menjauh.

“Apa yang terjadi, Tohno-kun?” dia bertanya serius.

“Terjadi? Apa ?”

“Tidak tahu. Karena itu, Aku bertanya?.”

Dia melihat kearahku. Sepertinya dia marah.

“Apa aku terlihat aneh, Senpai?”

“Tidak sih, tapi mungkin hanya perasaanku saja,”

“?” Sekarang Aku tambah bingung.

“Ya sudahlah, mau makan siang dikantin, Tohno-kun? Kalau tidak bergegas, tidak akan kebagian tempat duduk”

“Ah, baiklah”

Tersenyum, dia menarik tanganku dan kami segera menuju kantin. Disana kami berbicara tentang bermacam-macam hal.

Setelah sekolah usai, aku memutuskan untuk kembali kerumah. aku berusaha menghapus Arcuied dari ingatanku. aku harus bisa!

Sesampainya dirumah, aku melihat Hisui sedang berdiri didepan gerbang.

“Sedang apa Hisui?”

Melihatku, Huisui segera membungkukkan badannya.

“Selamat datang, Shiki-sama.”

“Ah, terima kasih Hisui. Mmmm, apa kau sedang menungguku?”

“Benar. Ini adalah salah satu tugas Saya.”

Dia menjawabnya tanpa berkedip

“Hisui, saya sangat senang kalau kau mau menungguku. Tapi lain kali, kau bisa melakukannya didalam. Tidak perlu menungguku diluar.”

Wajah Hisui tampak murung. Jangan-jangan dia juga menungguku seperti ini hari sabtu dan minggu kemarin.

“Hisui__Ummm...”

“Baiklah, mulai besok, saya akan menunggu anda di lobi.” Sekali lagi dia membungkukkan badanya, kemudian membukakan pintu gerbang.

Aku belum pernah bisa mengobrol enak dengan Hisui sampai saat ini.

Sesampainya dikamar, Aku merebahkan tubuhku di kasur. Akiha masih ada kursus, Kohaku sedang menyiapkan makan malam, dan Hisui membersihkan rumah.

“Bosan____”

Seharusnya sebagai murid yang baik, kalau ada waktu luang, ya belajar. Tapi saat ini aku malas melakukan sesuatu.

Aku teringat kembali kepada Arcueid. aku seperti orang yang patah hati, setelah aku mengalami dua hari yang gila bersamanya.

Setelah makan malam, Kohaku merawat lukaku, dan aku kembali kekamar. Akiha belum pulang sampai saat ini. Karena kursusnya sampai malam, mungkin dia makan di luar. Sekarang jam 10 lewat. Aku merasa sangat lelah. Aku mau tidur sekarang.

Mungkin karena terlalu lelah, aku jadi tak bisa tidur nyenyak. Rasa perih lukaku membangunkanku setiap kali aku mulai tertidur. Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi.

“Sial, Aku tak bisa tidur.”

Tak bisa tidur seperti ini terasa menyiksa.

Tik tik tik tik

Suara detik jam

Tik tik tik Krak tik tik tik

Krak? Suara apa barusan? Seperti suara pintu terbuka. Tapi siapa pagi-pagi begini?

Tap tap tap

Suara langkah mendekat

Siapa? Kalau malam-malam begini itu pasti.........

“Shiki, bangun...!”

“Arcueid.....?” Aku melihatnya dalam keremangan kamar.

“Selamat malam. Kelihatannya kamu baik-baik saja, Shiki” Arcueid menyapaku tersenyum.

“E, kenapa kemari?”

“Apa aneh, kalau aku kemari?”

“Aneh? Tentu saja”

___ya, mungkin tidak juga. Karena dia keluar waktu malam. Dan dia bisa berada dimana saja.

“Bukannya yang aneh itu kamu? aku datang kemari, tapi kau malah tiduran saja.”

“Ok, Aku akan bangun,____”

Aku bangun dan mencoba berdiri. Tapi tubuhku mendadak terasa lemas, dan aku kembali terjatuh di tempat tidur.

“Huh?” Ada yang aneh. Pendanganku menjadi kabur.

“Shiki?” Arcueid mendekat. Dan matanya yang merah itu........ “Kau tak apa-apa?” dia bertanya.

Kenapa aku ini? Dia tepat di depanku, tapi aku tak bisa melihatnya. Meski aku mencoba melihat wajahnya, tapi mataku tak mau bergerak. Mataku terpana melihat tubuhnya yang indah. Dadanya yang menawan, dan pinggulnya yang seakan minta dipeluk, bibirnya yang merah merona

....Dia ini vampire, kenapa aku sampai berpikiran seperti itu? Tak mampu bergerak, aku hanya bisa melihat Arcueid yang terus mendekat.

“Hei____” Aku pusing. Aku merasa aneh. Nafasku berat, pikiranku kosong. Jantungku serasa mau berhenti.

“Oh, kau tak bisa bergerak sendiri, ha?”

Aku mendengar suaranya. Dia tersenyum nakal, dan mendekatkan bibirnya yang menggoda ke wajahku.

“Tapi tidak apa-apa. Aku akan memanjakanmu dengan sebaik-baiknya.” Bisiknya ditelingaku dengan suaranya yang mendesah.

No comments: