Wednesday, December 17, 2008

CHAPTER 11: Savage Night

Aku terbangun. Suara Hisui membangunkanku.

“Shiki-sama, Anda baik-baik saja?”

“Ya. Aku baik-baik saja.” Menjawab pertanyaan Hisui, Aku duduk diatas tempat tidurku.

Aku merasa terkejut. Meskipun hati ini merasa hampa, tubuhku tetap bergerak sendiri seperti yang kulakukan rutin setiap pagi.

“Aku akan segera turun”

“Baiklah kalau begitu. Saya akan menunggu anda dibawah.”

Terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu, Hisui meninggalkan kamarku.

Aku memakai seragamku, dan turun menuju ruang tengah. Aku melihat Akiha dan Kohaku disana.

“Pagi”

Menyapa mereka seperti biasa, Aku menuju ruang makan untuk sarapan. Setelah selesai, aku kembali keruang tengah. Aku duduk disofa dan terus melihat jam.

“....Kak? Um, Kakak sekolahkan, hari ini?”

“Hm____? Ah benar juga. Aku harus skolah.”

Aku lupa. Aku merasa tidak ingin melakukan apapun sekarang. Hidupku seperti tenggelam dalam kehampaan.

“Aku masih bisa hidup sebagai Tohno Shiki. Pergi ke sekolah tidak akan membuatku sakit”

“Kak......?” Akiha melihatku dengan cemas.

Tanpa bicara, Aku meninggalkan rumah. Waktu begitu cepat berlalu. Disekolah, aku sama sekali tidak bisa fokus. Aku hanya termenung. Suara gesekan kapur dengan papan tulis menggema diseluruh ruangan. Aku mencatat semua yang ada di papan tulis dalam buku catatanku

Aku melihat halaman sekolah melalui jendela. Aku tidak melihat siapapun disana.

Apa yang kulakukan?
Mengikuti pelajaran seperti ini?
Tidak berusaha mencarinya dan kembali kekehidupanku yang biasa?

“_______”

Tapi aku tidak mungkin bisa menemukan Arcueid. Karena dia memutuskan untuk pergi, aku tidak mungkin dapat menemukannya.

Aku telah kehilangan dia.

*krak*

Aku mendengar suara.
Ah, rupanya pensilku patah karena Aku menggenggamnya terlalu keras.

Kriiiiing!

Bel tanda sekolah telah usai berbunyi. Diantara hiruk pikuk kelas, aku tetap duduk dengan tenang.

“Tohno-san, bisa kemari sebentar?”

Guru matematikaku memanggil.

“Ya? Ada apa pak?” Aku berjalan dan mendekatinya.

“Tohno-san, aku mendengar kalau kau sering keluar malam sekarang. Ada apa?”

“Ya, beberapa hari ini, saya ada perlu dikota malam hari”

“Begitu?”

Guru matematika yang sekaligus wali kelasku melihatku dengan sedih.

“Aku tahu kau bukan murid yang nakal, tapi komite disiplin sekolah sudah mulai membicarakanya. Tampaknya BP akan segera memanggilmu. Karena itu, setelah ini, tolong kau pergi keruang BP segera. Anggap saja kau kurang beruntung dan bertahanlah.”

Mengucapkan selamat tinggal, dia meninggalkan kelas.

Setelah itu, Aku pergi menuju ruang BP, tapi aku tidak melihat ada seorang guru pun disana. Aku ingat kalau guru BP juga menjadi penasihat klub senam, jadi mungkin ruangan ini akan tetap kosong sampai latihan klub selesai.

Aku duduk dan terus menunggu. Aku melihat keluar. Cahaya matahari senja mewarnai langit menjadi jingga. Diluar, terdengar suara-suara murid yang mengikuti berbagai kegiatan klub. Di bandingkan diluar, suasana ruang ini sangat sepi.

Aku marah.
Kenapa aku disini?
Aku tidak bisa melakukan apa-apa
Aku marah atas kelemahanku
Aku hanya bisa menerima semuanya

“Apa yang kulakukan?”

Tidak ada yang menjawab. Aku hanya duduk dan mendengar suara-suara dari luar. Aku terus duduk hingga jam menunjukkan pukul 7 malam. Gerbang ditutup jam 6 sore. Jadi sudah tidak ada seorangpun disekolah ini.

“Kurasa mereka melupakan aku”

Aku bangkit dari kursi tempat aku duduk. Setelah termenung lama, kepalaku terasa lebih jernih sekarang. Selama ini aku terus berpikir. Apa yang harus kulakukan setelah ini. Aku memutuskan untuk tetap mencari Arcueid. Meskipun peluangnya sangat kecil, tapi aku akan tetap melakukanya. Aku akan terus mencarinya sampai ketemu. Aku tidak akan membiarkannya sendiri.

“Baiklah!”

Aku sudah memutuskan. Aku tidak boleh berlama-lama disini. Meskipun seperti mencari jarum diantara tumpukan jerami, Aku harus menemukan Arcueid.

Aku menuju lorong utama yang sepi. Cahaya bulan yang kebiruan masuk menembus melalui jendela.

“_______”

Melihat bulan purnama dari balik jendela.

“........”

Sesaat aku seperti terhanyut.
Bulan purnama yang keperakan.
Cantik dan terlihat rapuh.
Seakan mudah pecah bila tanganku mampu menggapainya.
Bulan itu
Aku pernah melihatnya
Ketika aku masih kecil.

Deg deg!

“Argh___!”

Luka didadaku terasa panas.

Deg deg!

Jantungku berdetak sangat kencang.

Deg deg!

Darahku mengalir sangat cepat, dan nafasku memburu.

Deg deg!

Ketika tanganku menyentuh dada, Aku sadar kalau seragamku berlumuran darah.

Luka lamaku terbuka kembali.

Deg deg!

Bulu kudukku berdiri.

Deg deg!
Deg deg!
Deg deg!
Deg deg!

Tap tap!

Diantara suara detak jantungku, aku mendengar suara yang lain.

“Ah?”

Ada yang datang
Dari ujung sana, datang mendekatiku.

Tap tap!

Suara langkah kaki.

Ada sesuatu yang tidak beres disini.
Ini tidak seperti detak jantung ketika aku menghadapi bahaya.
Aku merasakan bahawa aku, Tohno Shiki, tidak boleh bertemu orang itu

Nafasku memburu.
Tanpa bisa bernafas normal, Aku melepas kacamataku
Aku mengambil pisauku dari saku

Semakin mendekat.
Seorang laki-laki
Aku melihat titik kematian dijantungnya
Tubuhnya terdapat banyak garis maut seeprti kabel yang melilit

“______________”

Aku menahan nafas
Ada yang salah dengan kepalaku
Aku tidak kenal siapa dia, tapi dia mengingatkanku pada seseorang

Tap tap!

Semakin mendekat
Sebentar lagi aku bisa melihat wajahnya

“_____________”

Siapa?
Siapa?
Siapa?
Siapa?

Seseorang yang kulupakan?

Perlahan figurnya mulai terlihat.
Dia memiliki mata yang dingin dan haus darah
Tatapan matanya seakan membuat udara disekitarku membeku

Dia....bukan manusia

Pria berbalut perban.

Dia semakin mendekat
Dia menatap langsung kearahku
Dia tersenyum

Aku mengacungkan pisauku kearahnya
Tapi dia terus berjalan mendekatiku
Tidak ada waktu untuk berpikir dan ragu
Aku mengambil kuda-kuda.

Dia semakin dekat.

Perlahan, dia mendekat.
Menyentuh ujung pisauku.
Dia merebutnya

“Ah___!”

Aku____ tidak bisa____ bergerak.

“......Shiki, melihat garis maut bukan hanya keahlianmu” Sambil mengatakannya, dia menggerakkan lengannya.

Jleb!

Aku merasa sakit.
Aku tidak bisa berpikir
Tubuhku merasakan rasa sakit yang sama dengan 8 tahun yang lalu.

Suara daging yang terkoyak.
Pisau yang direbutnya dariku tadi, kini menancap didadaku.

Aku jatuh.
Semua tenagaku seperti terhisap habis begitu tubuhku menyentuh lantai.

Tapi sesaat sebelum jatuh, aku menarik perban yang membalut tubuhnya.

“Kau ingin melihat wajahku, Shiki?” katanya sambil melepas perban yang membalut seluruh tubuhnya.

“________”

Wajah itu.
Aku tahu wajah itu.

Dalam mimpiku.
Wajah itu mengingatkanku pada anak kecil yang bersimbah darah dalam mimpiku.
Aku masih bisa merasakan pisau yang menancap didadaku.
Anehnya, tidak ada darah. Rasa sakitnya juga hilang.
Aku hanya merasa kedinginan
Kesadaranku perlahan menipis.
Aku sudah tidak bisa menggerakkan tubuhku.

“Ini balasannya karena kau sudah membunuhku” katanya sambil melihatku.

Wajah yang kukenal itu.
Tentu saja aku mengenalnya.
Kenapa aku bisa lupa.

Ketika aku masih kecil, aku dan Akiha bermain bersama dengan satu orang anak yang lain. Kami selalu bermain bersama. Aku ingat namanya.

“SHI__KI” (SHIKI dengan Shiki ditulis dengan kanji yang berbeda namun pengucapannya sama)

“Ya, Shiki, sudah lama kita tidak bertemu”

Dia, SHIKI, tersenyum puas.

SHIKI, Shiki, Akiha, SHIKI, SHIKI, Akiha, Shiki.

Coretan-coretan nama di tembok rumah itu,........

“Ini_____ tidak mungkin”

“Maaf Shiki, aku ingin kau mendengar keluhanku sebelum mati. Jadi aku sengaja meleset menusuk titik kematianmu. Karena tidak begitu fatal, kau tetap akan sadar. Jangan mati semudah itu.”

Dia tertawa. Aku merasa seperti berhadapan dengan Nero. Dalam keadaan seperti itu, Aku menyadari sesuatu. Dia adalah musuh yang dicari Arcueid.

“Haruskah ku ambil pisaunya dulu, orang yang mau mati tidak butuh pisau kan?”

Dia menggenggam gagang pisau. Aku tahu begitu dia mencabut pisau itu dari dadaku, artinya Aku mati. Tapi aku masih tidak bisa bergerak. Menutup mata saja aku tidak mampu.

TRANG!!!

“Gah__!!”

SHIKI tiba-tiba melompat mundur. Bersamaan dengan itu, seseorang dengan jubah hitam muncul. Ini dilantai tiga, tapi dia masuk dengan cara melompat menerobos jendela.

“Ughhh!!”

Setelah terlempar beberapa meter, SHIKI melihat kearahku dan Ciel-Senpai yang melindungiku.

“Dasar pelacur! Beraninya mengangguku lagi!”

“.................”

Senpai hanya diam. Dia terus menatap tajam kearah SHIKI.

SHIKI merendahkan kuda-kudanya bersiap meyerang Senpai. Tapi seakan menyadari sesuatu, SHIKI mulai tertawa.

“Huhu, hahaha, ahahahahahaha!!!!”

“Begitu rupanya. Aku tidak percaya ini, tapi begitu rupanya. Menarik! Ini pertama kalinya terjadi dalam 800 tahun ini. Kalau begini, sesuatu yang baru berarti sudah menungguku.”

SHIKI terus tertawa sepenuh hati.

Senpai tetap menatap vampire yang ada didepannya.

“Apa? Kau mau membunuhku? Apakah cangkang yang sudah dibuang ini bisa melakukannya?”

“________” Senpai tidak menjawab. Mengalihkan pandangannya, Senpai mengangkat tubuhku.

“Oh? Si penipu itu lebih berharga dari apa yang menyebabkanmu begini? Percuma, dia sudah mendapat ganjarannya karena menjadi Tohno Shiki selama ini. Tidak ada yang bisa menyembuhkan seseorang yang titik kematiannya sudah dipotong. Bahkan tuan putri itu memerlukan tenaga yang sudah disimpannya selama 800 tahun untuk memulihkan tubuhnya kembali. Manusia seperti dia, tidak akan bisa bertahan”

Tawanya semakin keras.

Tidak mempedulikan ucapan SHIKI, Senpai memeluk tubuhku erat, dan melompat keluar melalui jendela yang pecah.

Dia terus melompat seakan tidak terpengaruh gravitasi. Dengan langkah yang ringan, dia menginjak tanah dan berlari keluar area sekolah tanpa menoleh kebelakang.

Aku hanya bisa memandangi gedung sekolah dengan tatapan mata yang kosong.

No comments: