Wednesday, December 24, 2008

EPILOG: Tsukihime

“Shiki-sama, selamat pagi.”

Aku mendengar suara yang sudah familiar ditelingaku.

“Shiki-sama, cepat bangun, kalau terlambat, anda akan melanggar janji anda dengan Akiha-sama.”

Suaranya terdengar kadang keras, kadang lembut.

“Shiki-sama, anda yakin tidak mau bangun? Akiha-sama mungkin akan memarahi anda lagi”

Tunggu dulu! Kalau yang itu aku tidak mau.

“..... Aku sudah bangun...... tapi tunggu sebentar”

Masih dibawah selimut, perlahan aku membuka mataku.

“Selamat pagi, Shiki-sama.” Sapa Hisui.

“....Pagi....” Aku menjawab salamnya sambil menguap. Setelah itu aku memakai kacamataku.

Sudah jam 7 lebih sekarang. Hisui datang tepat waktu dan membangunkanku seperti biasanya.

“Saya akan menyiapkan sarapan untuk anda. Setelah berganti baju, silahkan menuju ruang makan”

Setelah membungkukkan badan, Hisui meninggalkan kamarku.

Aku menguap, menggeliat, kemudian bangun. Aku memakai seragam sekolahku sambil melirik sesuatu yang berada diatas meja. Aku melihat pisau yang tidak akan kugunakan lagi.

Korden melambai tertip angin pagi. Hisui mungkin yang membuka jendelanya. Aku melihat langit pagi yang cerah. Tapi udaranya sedikit terasa dingin.

Aku kemudian berjalan menuju jendela kamarku.

Setelah kejadian dengan Roa, Senpai membawaku kembali pulang. Untungnya tidak ada seorangpun dirumah yang tahu kalau aku pergi diam-diam. Kejadian itu terjadi seminggu yang lalu.

Kehidupan Tohno Shiki tidak berubah sama sekali. Kadang-kadang aku measa tidak enak dengan Akiha, tapi tidak akan ada masalah. Karena kami berdua adalah kakak beradik.

Selain lorong penghubung yang ambrol, sekolah tidak berubah sama sekali. Sebenarnya ada satu yang berubah, tidak ada lagi Senpai yang bernama Ciel, dan tidak seorangpun yang mengingatnya.

Pembunuhan berantai tidak terjadi lagi sejak malam itu. Tapi karena pelakunya tidak pernah tertangkap, mungkin jalan-jalan dikota masih relatif sepi setiap malam. Tapi aku yakin semuanya akan berubah normal setelah beberapa bulan.

Kemudian aku. Aku terus membawa perasaan yang sangat berat setiap waktu. Tapi aku terus melanjutkan hidupku. Atau lebih tepatnya, aku bertahan. Kadang, aku tenggelam dalam kenanganku. Tapi aku tidak akan menjadi gila karenanya.

Suatu hari nanti, apakah aku akan menjadi gila, atau aku menerima semua kenyataan dan hidup normal, tidak ada yang tahu. Tapi sampai saat ini aku terus menepati janjiku padanya.

“Sebentar lagi musim semi ya?”

Langit biru yang indah membuatku terbuai. Menghirup udara pagi, aku kemudian menutup jendela.

****

Sekolah telah usai. Kelas sudah kosong dan sepi. Tapi aku tidak akan pergi sampai matahari benar-benar tenggelam.

Kelas memerah tertimpa sinar matahari sore. Sinar matahari yang menyala masuk melalui jendela.

Aku akan terus menunggu disini. Aku teringat janjiku padanya. Aku akan terus menunggunya disini.

Ada satu janji yang belum sempat kutepati.

Setelah semuanya selesai, bisakah kita melakukan hal yang sia-sia seperti ini lagi?

Dulu, dia merasa bingung.

Bagaimana jadinya seandainya kita bertemu kembali tanpa alasan apapun

Ketika aku mengatakan ini, aku hanya memikirkannya.

___jika kau terlalu sibuk, tidak apa. Aku juga baru kepikiran sekarang

Seandainya.
Tidak sebagai dua orang yang bekerja sama.
Hanya dua orang yang berteman akrab, tanpa melakukan sesuatu yang penting.
Seandainya kami berdua bisa membuat kenangan seperti itu.
Aku yakin dia akan bahagia.

Baiklah! Kalau semuanya sudah selesai, kita akan kesini lagi, Shiki! Mungkin memang sia-sia, tapi sepertinya akan menyenangkan!

Katanya waktu itu sambil mengangguk.

Didalam ruang kelas yang bermandikan cahaya matahari sore, kami mengucapkan janj itu.

Aklu masih ingat janji itu.
Aku masih ingat senyum itu.
Aku masih ingat semuanya.

Aku tidak mungkin lupa.
Aku tidak akan lupa.
Aku akan selalu ingat.

“...........”

Matahari mulai tenggelam.
Sebentar lagi warna merah ini akan menghilang.

Tapi, dunia yang rapuh ini masih terus ada.

Mungkin aku sudah mulai gila.
Meskipun aku menunggu seseorang yang tidak mungkin datang, hatiku masih berdebar-debar.

Krak!

Suara sesuatu yang menyentuh meja.
Aku melihat kearah suara tadi berasal.

Jendela terbuka
Aku melihatnya.
Seseorang yang selalu kutunggu
Aku melihatnya berdiri didekat jendela.

Dia tidak bergerak, tapi dia disana.
Dia tepat didepanku
Bukan sebuah ilusi atau bayangan saja.

Tapi aku merasakan adanya jarak yang memisahkan kami, yang tidak mungkin kuperpendek.

Aku terus memandanginya. Aku merasa tenang sekarang.

“Kau tahu Shiki, aku berencana untuk segera pergi. Tapi kau terus menungguku seperti ini. Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini terus, jadi aku datang menemuimu.” Dia terenyum tersipu.

“.....Aku sudah pernah bilang kalau aku tidak akan melanggar janjiku lagi”

“Benar. dan terima kasih telah menepatinya.” Kata Arcueid. “Tapi tampknya, kali ini akulah yang tidak bisa menepati janji.” tambahnya.

“Kenapa?” Aku merasa terkejut dengan ucapanku sendiri. Aku bisa bertanya dengan suara yang lembut, tanpa kemarahan.

“Ya. Aku tidak pernah mengatakan padamu kenapa aku memburu Roa. Sebenarnya dulu, aku pernah meminum darah manusia. Kemudian, orang itu mencuri kekuatanku, dan menjadi Dead Apostles yang sangat kuat.” Kata Arcueid

“Kemudian, dia membuatku membunuh semua True Ancestor yang lain.”

....artinya.....

“___Maksudmu Roa?”

“Saat itu, aku masih belum tahu mengenai naluri alami. Dan True Ancestor yang lain juga percaya bahwa aku tidak memilikinya. Saat itu aku bahkan tidak tahu kalau aku adalah seorang vampire. Jadi aku tidak tahu kalau aku tidak boleh melakukannya.”

Dia tidak pernah diberi tahu apapun. Dia bahkan tidak tahu kalau dirinya sama dengan yang diburunya.

“Karena satu kesalahnku itu, aku menghancurkan semuanya. ..... jadi, aku tidak akan meminum darah manusia lagi. Tapi, True Ancestor yang sudah pernah meminumnya, tidak akan tetap waras kalau tidak melakukannya lagi.”

“_______”

“Sekarang, aku bisa berada disini karena kau telah ‘benar-benar’ membunuh Roa. Aku memang telah membunuhnya berulang kali, tapi hanya tubuhnya. Bukan jiwanya.” Arcueid melihat kearahku dengan tatapan yang lembut.

“Tapi kau telah membunuh jiwanya Shiki. Sehingga kekuatan yang dicurinya kembali kepadaku, dan aku bisa terselamatkan.”

“___ Itu ____ bukan___”

“Tapi hanya itu saja yang bisa kulakukan. Aku tidak akan mempu menahan naluri alamiku lebih lama lagi. Jadi____”

“___Itu___ tidak masalah.” Kataku terbata-bata. Karena aku tahu apa yang kan dia katakan selanjutnya.

“....... Shiki, aku tidak bisa melihatmu lagi. Maaf, aku telah melanggar janjiku.”

Bagiku..... tidak masalah kau bisa menahan nalurimu atau tidak. Yang kuinginkan hanyalah kau berada disisiku selalu.

“Kau, bisa memenuhi janjimu, Arcueid”

“Shiki?”

“Kau bisa meminum darahku. Jika kau melakukannya___ kau bisa menepati janjimu.”

Detik demi detik berganti. Tapi kami tetap terdiam membisu. Setelah keheningan ini,

“__Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa, Shiki”

“Kenapa? Apa alasannya?”

Dia mengangguk, dan berkata “Karena aku menyukaimu, jadi aku tidak bisa melakukannya” jawabnya sambil tersenyum.

Dia tersenyum seperti bunga yang mekar di padang rumput yang gersang.

Aku kembali terdiam berusaha menahan perasaan ini.

Aku ingin menahannya.
Aku ingin menahannya.
Aku ingin menahannya.
Aku ingin menahannya.

Meskipun aku harus membunuhnya, aku ingin menghentikannya. Aku tidak ingin dia menjauh dariku.

Tapi aku kalah oleh senyum itu. Aku tidak bisa dengan egoisnya menghancurkan senyuman itu.

“__Selamat tinggal. Terima kasih untuk semuanya, Shiki”

Tenggorokanku terasa kerig. Tidak satu katapun yang terucap. Tapi, aku harus tetap mengucapkan selamat tinggal.

“....Aku mungkin seorang pembohong” kataku lirih

“Kenapa? Kau sudah menepati janjimu, Shiki”

“Aku pernah mengatakan akan membuatmu bahagia.’

Ya. Aku pernah bersumpah seperti itu.

“Tidak. Aku akan terus tertidur, tapi aku akan terus melihatmu dalam mimpiku. Aku sangat menikmati saat-saat kita bersama. Aku akan terus memimpikannya.”

“_______”

“Mungkin hanya sia-sia saja, tapi aku rasa akan sangat menyenangkan. Jadi, Shiki, kau sudah membuatku bahagia. Kau benar-benar membuatku bahagia.”

“Kh........hh!”

Aku tidak ingin.... seperti itu.

“Kau benar-benar orang yang baik, Shiki. Aku tahu kalau aku datang kemari akan ada hal bagus terjadi. Aku mencintaimu, Shiki. Kejujuranmu, bagaimana kau melamun, bagaimana kau memarahiku, bagaimana kau yang selalu melihat kedepan, aku menyukai semua hal yang ada pada dirimu. Jadi, tetaplah hidup seperti itu, Oke?”

Sekejab, Arcueid tampak tersenyum sedih. Melambaikan tangannya, perlahan tubuhnya menghilang. Dia menghilang tepat didepan mataku.

Aku menggertakkan gigiku berusaha menahan semuanya. Dia tetap tersenyum sampai akhir, jadi aku tidak ingin menangis.

Ruang kelas yang sepi.

“.....Begitu ya. Kau benar-benar menepati janjimu, Arcueid.”

Didalam kelas ini. Kami berjanji untuk bertemu lagi didalam kelas ini saat matahari terbenam. Dan dia sudah memenuhinya.

Aku merasa kehilangan sesuatu. Tapi aku tahu semuanya telah berakhir. Tirai waktu kami telah tertutup, waktu yang kulalui bersamanya.

Aku tahu ada saatnya mengucapkan selamat tinggal. Tapi dalam kasus ini, ‘selamat tinggal’ kami terlalu cepat.

Kalau kupikir-pikir lagi, tadi itu ucapan selamat tinggal yang bagus. Dia masih hidup, dan dia....mengatakan kalau.....dia ......bahagia.

“tapi buakan ini yang kuinginkan......”

Benar. aku ingin bersamanya lebih lama.
Aku ingin berberbicara dengannya.
Aku ingin merasakan kehangatan tubuhnya.
Aku ingin melihat senyumnya lebih lama.

Selalu.
Tidak seperti ini
Aku ingin selalu membuatnya bahagia

Tapi dia,......
Tersenyum sampai akhir
Pergi
Dan menyuruhku melanjutkan hidupku.

“......Dasar bodoh......”

Itulah yang diinginkannya.
Dengan senyumnya, dia mengatakan padaku
Sekeras apapun
Meskipun aku harus menipu diriku sendiri
Sampai aku bisa menganggapnya sebagai sebuah kenangan saja.
Dia ingin aku terus hidup, dan menatap masa depan.

“Ck......!’

Itu tidak mungkin.
Aku tidak punya kepercayaan diri untuk menjalani hidup seperti itu.

Tapi,
Sampai akhirnya dia melihat mimpi indah,
Aku akan mengabulkan keinginannya.

Aku akhirnya tersadar. Matahari sudah lama tenggelam. Langit yang berwarna merah telah berubah menjadi biru gelap.

Langit malam yang gelap.
Awan yang bergumpal.
Bulan yang berwarna putih.

Yang tersisa hanyalah sebuah kenangan yang indah.

Mungkin dia sudah tidak berada disini sekarang, tapi aku harus mengucapkan sesuatu yang tidak sempat kuucapkan tadi.

“Selamat tinggal......... aku merasa senang bisa bersamamu meskipun hanya sebentar”

Kalimat yang terlambat itu menggema diseluruh ruangan.

Hanya bulan yang seperti kaca yang menggantung di langit malam. Bulan yang terlihat sangat rapuh, dan bisa pecah kalau kusentuh.

Aku terus melihat bulan yang berpendar keperakan dilangit. Aku terus menikmatinya, hingga fajar menyingsing, di dalam ruang kelas yang sepi.


TAMAT

No comments: