Friday, December 5, 2008

Prolog

Saat ini, aku sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit. Gorden jendela melambai lembut tertiup angin. Hari ini sangat indah. Angin kering berhembus menandakan akan berakhirnya musim panas.

“Halo, Tohno Shiki-kun. Selamat…! Sekarang kamu sudah sehat kembali.”

Seorang yang tidak kukenal menjulurkan tangannya. Kacamatanya yang tebal dan berbentuk kotak sangat sesuai dengan wajahnya yang tersenyum hangat. Ia menggunakan jubah dokter yang berwarna putih agak kusam yang sedikit kebesaran.

“Kau mengerti apa yang kukatakan, Tohno Shiki-kun?” dia bertanya

“Tidak” Jawabku “Mengapa aku disini?” aku balik bertanya

“Eeeee… kamu lupa ya? kamu tertabrak mobil ketika sedang berjalan-jalan.” Dokter menjelaskan. “Dadamu tertusuk kaca, dan lukanya lumayan parah. aku sempat berpikir kamu tak akan selamat.” Lanjutnya.

Dokter mengatakan hal tersebut sambil tersenyum.

Sakit------
Aku merasa sangat sakit

“Aku lelah sekali Dok, Boleh aku tidur?”

“Silahkan, kamu memang harus banyak istirahat dan jangan memaksakan diri. Jadilah anak yang baik, OK? Shiki-kun?”

Dokter itu tersenyum. Jujur saja, aku tidak begitu suka dengan caranya tersenyum

“Oh ya, boleh aku bertanya, Dok?”

“Ya, silahkan” kata Dokter mempersilahkan.

“Kenapa banyak sekali garis di badanmu? Dan kenapa banyak sekali retakan-retakan di tembok kamar ini?”

Senyumnya tiba-tiba menghilang berganti dengan raut wajah yang serius setelah mendengar pertanyaanku. Ia kemudian berbalik.

“Tampaknya ada sedikit kerusakan di otaknya. Tolong hubungi Dr Ushiya dari bagian neurologi. aku juga curiga ia mengalami gangguan dimatanya. Sore ini, tolong lakukan pemerikasaan.” Bisik dokter kepada perawat yang disebelahnya. Seolah-olah tak ingin aku mendengar pembicaraan mereka.

“……Aneh, banyak sekali garis-garis di tubuh semua orang disini.” pikirku

Ada garis-garis zig-zag tidak rapi yang berwarna hitam di seluruh tembok, lantai, bahkan tempat tidur. aku tidak mengerti. Tapi ketika aku melihat garis-garis itu, aku merasa tidak nyaman.

“Oh!!!!”

Ketika aku menyentuh garis di tempat tidur, jariku seakan-akan terhisap masuk kedalamnya. aku merasa bisa memasukkan jariku lebih dalam lagi. Aku kemudian mengambil pisau buah yang ada di meja, menyentuhkannya diatas garis hitam, dan kemudian pisau itu masuk kedalam garis hitam itu dengan mudah.

“Menyenangkan” pikirku.

Aku kemudian memotong tempat tidur mengikuti garis hitam itu. Setelah aku selesai menorehkan pisau, tiba-tiba……

“PRAKKKK!!!!!.......”

Terdengar suara yang keras bersamaan dengan terbelahnya tempat tidurku menjadi dua.

“AAAAAAAH!!!!!”

Gadis yang dirawat sebelahku menjerit melihat tempat tidurku yang terbelah dua. Perawat segera mendatangiku dan mengambil pisau buah dari tanganku. Sedangkan perawat yang lain berusaha menenangkan gadis yang berteriak tadi.

Aku hanya bisa terdiam.
Suasana di bangsal tempat aku dirawat mendadak menjadi sangat ramai.

……………………………………………………………………………….

“Bagaimana caramu melakukannya Shiki-kun?!”

Dokter tidak menanyakan ‘MENGAPA’. Sepertinya dia lebih tertarik dengan ‘BAGAIMANA’ aku melakukannya.

“Aku hanya menorehkan pisau sepanjang retakan yang ada di tempat tidur.” Jawabku
“Lagipula, kenapa di rumah sakit ini banyak sekali retakan dan garis-garis hitam di semua tempat?” aku balik bertanya

“Shiki-kun, disini tidak ada retakan maupun garis seperti itu, kamu mengerti?”
“Sekarang katakan, bagaimana kamu merusak ranjangmu?” Dokter kembali bertanya. “Katakan saja, aku janji tidak akan marah” ia berusaha memaksaku untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Sudah kubilang, aku hanya menorehkan pisau dan……”

“Mmmm…ya ya ya” dokter memotong jawabanku. Ia tidak percaya padaku
“Kita lanjutkan saja pembicaraan ini lain kali.” Tambahnya dengan nada kesal.

Ia kemudian pergi meninggalkan bangsal tempat aku dirawat. Tidak ada seorangpun yang mempercayai ceritaku

Akhirnya aku menyadari. aku bisa menghancurkan benda apa saja bila aku memotongkan pisau di sepanjang garis hitam yang ternyata tak bisa dilihat oleh orang lain selain diriku. aku tidak perlu menggunakan tenaga. Hanya dengan sebuah gerakan ringan, maka benda tersebut akan hancur. Sangat mudah. Semudah memotong mentega dangan pisau panas.

Aku bisa dengan mudahnya memotong tempat tidur, dinding, vas bunga, kursi, dan mungkin saja……. aku dapat melakukan hal yang sama terhadap manusia. Meskipun belum pernah kucoba, namun aku yakin bisa melakukannya. Karena garis-garis hitam tesebut juga terlihat di tubuh semua orang. Garis-garis itu terlihat seperti jahitan bekas operasi, yang merupakan kelemahan setiap benda….. dan manusia…..

Aku baru menyadarinya. Dunia ini terdapat bayak sekali “Garis maut” yang menyatukan semuanya. Orang lain terlihat tenang-tenang saja. Karena mereka tak dapat melihatnya

Tapi bagaimana denganku
Aku dapat melihatnya
Aku takut…… takut sekali
Aku bahkan tak bisa membicarakan hal ini dengan orang lain
Aku bisa jadi gila
Kenapa tidak ada seorangpun yang percaya?

Sudah dua minggu aku disini. Sudah dua minggu namun tak ada seorangpun yang menjengukku. Aku hidup sendirian didunia yang penuh dengan garis maut ini.

Aku harus keluar
Aku harus pergi dari tempat ini
Aku tidak mau lagi melihat garis ini.

Aku memutuskan untuk kabur ketempat dimana takkan ada seorang pun yang dapat menemukanku. Namun luka didadaku bertambah sakit setiap kali aku melangkah. aku tak dapat pergi jauh.

Saat itu aku sadar, aku hanya bisa berjalan sampai kepadang rumput diluar rumah sakit

“…*uhuk uhuk*”

Dadaku sakit, aku jatuh terduduk.

“…*uhuk uhuk*”

Tak ada seorang pun disini. Aku tenggelam dipadang ruput pada akhir musim panas. Aku menutup kedua mataku dan tidur terlentang. Aku merasa seakan menghilang

Namun tiba-tiba…

“Hei, Bocah! Bahaya kalau kau tidur disini”

Aku mendengar suara wanita dari belakangku

“Huh…..?” aku bangun dan menengok kebelakang

Seorang wanita yang berambut panjang sedang menatap marah kepadaku.

“Apa maksudmu dengan ‘huh’?” Tanya wanita itu dengan kasar
“Kamu itu sudah kecil, kalau kamu tidur disini terus terinjak, bagaimana coba?” tambahnya. Dia menunjuk kearahku sambil bersungut-sungut

Aku merasa sedikit marah dengan sikap wanita itu.
Lagipula aku tidak sekecil itu sampai bisa terinjak bila tiduran di padang rumput.

“Terinjak? Sama siapa?”

“Sudah jelas kan? Bodoh.” Jawabnya “Disini cuma ada kamu dan Aku. Jadi siapalagi selain Aku?” Dia berkata dengan sangat cuek sambil melipat lengan bajunya.

Dia tiba-tiba tersenyum dan duduk disebelahku.

“Yah, kukira pertemuan ini namanya takdir.” Katanya “Jadi bocah, kamu mau ngobrol? Namaku Aozaki Aoko.” Tambahnya

Sikapnya tiba-tiba berubah ramah. Dia menjulurkan tangannya kepadaku, seakan-akan seorang teman yang sudah lama tidak bertemu.

Aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Sambil menyebutkan namaku, aku menjabat tangannya yang dingin.

Ternyata mengobrol dengan wanita ini sangat menyenangkan. Dia tidak pernah meremehkanku meskipun aku hanya seorang anak kecil. Sebaliknya, dia mendengarkan semua ucapanku layaknya seorang teman.

Kami berbicara mengenai banyak hal, mulai dai keluargaku yang sangat dihormati, dan aturan-aturan yang keras dan tradisional didalamnya, tentang ayahku, tentang adikku, Akiha, yang selalu mengikuti aku kemanapun aku pergi. Kami juga membicarakan rumahku yang besar, dengan kebun yang luas, dan Akiha dan aku yang selalu bermain bersama temanku.

Kami membicarakan hampir setiap hal. Waktu terasa berjalan cepat.

“Oh, sudah saatnya.” Katanya tiba-tiba sambil berdiri. “Maaf Shiki-kun, saatnya aku pergi. Ada urusan yang harus diselesaikan.”

Aku merasa sedih. Memikirkan bahwa aku akan sendiri lagi.

“Sampai ketemu besok yah. Kutunggu kamu disini.” Katanya “Kamu, kembali kerumah sakit, dan ikuti semua nasehat dokter.”

Besok, katanya. Besok kami bisa bertemu dan mengobrol seperti ini lagi.

Aku gembira. Inilah pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang menyenangkan sejak sembuh dari kecelakaan. Sejak saat itu, pergi ke padang rumput setiap sore seolah menjadi rutinitasku.

Dia marah bila aku memanggilnya ‘Aoko’ Untuk suatu alasan, tampaknya dia tak menyukai namanya sendiri. Setelah aku pikir-pikir, aku merasa bahwa dia adalah orang yang memiliki sesuatu yang istimewa. Kemudian aku mulai memanggilnya dengan sebutan ‘Sensei’ (guru).

Sensei sangat serius mendengarkan setiap hal yang kuutarakan. Dia selalu dapat menghilangkan semua kegelisahanku hanya dengan sepatah dua patah kata saja.

Setelah terjadinya kecelakaan, aku selalu murung. Namun perlahan, aku mulai kembali ke diriku yang semula. Dan aku berterimakasih kepada Sensei untuk hal itu. Garis-garis maut yang kulihat tidak terasa terlalu menakutkan lagi setelah aku bertemu Sensei. aku tidak tahu dia siapa dan dari mana asalnya. Namun aku tidak peduli sama sekali. Karena bersama-sama dengan Sensei sangatlah menyenangkan. Hanya itu saja. Hanya dengan bersamanya, aku merasa sudah lebih dari cukup.

Kemudian pada suatu hari,

“Hei, Sensei” aku memanggilnya.
“Lihat apa yang bisa aku lakukan.”

Aku ingin membuat kejutan. Jadi dengan menggunakan pisau buah yang kubawa dari rumah sakit, aku memotong pohon yang tumbuh di padang rumput ini.

Seperti sebelumnya, aku cukup menyayatkan pisau mengikuti garis maut, dan dalam sekejab pohon itu tumbang.

“Hebatkan? Aku bisa memotong apa saja selama aku melihat garis-garis hitam. Tak ada orang lain yang bisa melakukan ini lho,” kataku bangga

“SHIKIII !!!!”

PLAK !!!

Tiba-tiba saja Sensei menamparku.

“Sen….sei?”
Aku ketakutan. Ini pertama kalinya aku merasa takut terhadap Sensei. Aku hanya bisa memegangi pipiku yang memerah

“Apa yang kamu lakukan barusan itu sangat konyol, tahu!!!”

Sensei menatapku dengan tajam dan tampak sangat marah. aku tidak tahu mengapa, namun aku merasa aku telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan.

Melihat raut muka Sensei yang marah, dan rasa sakit di pipiku, membuatku merasa sangat, sangat sedih.

“…ma…maaf…”

Tanpa sadar aku mulai menangis. Air mata mulai mengalir dri kedua mataku.

“……Shiki-kun…. Tidak perlu….. kamu tidak perlu meminta maaf” kata sensei lembut.
“Kamu memang melakukan sesuatu yang membuatku marah. Namun itu semua bukan salahmu.”

Sensei berlutut dan memelukku yang sedang menangis sesenggukan.

“Namun, kau tahu, bila seseorang tidak memperingatkanmu sekarang, suatu hari mungkin kau akan melakukan satu kesalahan yang tak bisa diperbaiki. Karena itu, aku tidak akan meminta maaf karena telah menamparmu…… kamu boleh membenciku bila kamu mau”

“Tidak, aku tidak membencimu, Sensei,” aku masih menangis dalam pelukan Sensei

“Benarkah?” Sensei bertanya lembut. “Aku senang kalau begitu.” Tambahnya “Mungkin inilah yang namanya permainan takdir”

Sensei mulai bertanya tentang garis-garis maut yang dapat kulihat. Kemudian aku mulai bercerita tentang pengalamanku yang berhubungan dengan garis-garis maut itu. Begitu aku selesai menceritakan tentang garis-garis maut tersebut, Sensei mempererat pelukannya.

“Shiki-kun, apa yang kau lihat adalah sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilihat oleh siapapun. Setiap benda memiliki titik-titik dimana mereka dapat mudah dihancurkan. Matamu memiliki kemampuan untuk melihat garis takdir, dengan kata lain kematian suatu benda”

“Aku?.......kematian?”

Aku sedikit bingung dengan penjelasan Sensei

“Benar” jawab Sensei “Kamu bisa melihat kematian. Tapi……Untuk saat ini kamu tidak perlu tahu lebih dari ini.”

“Sensei……… aku benar-benar tidak mengerti”

“Baguslah, sangat penting bagimu untuk tidak mengerti sekarang” Sensei tersenyum
“Yang penting sekarang, kamu tidak boleh memotong garis-garis tadi hanya untuk bersenang-senang, mengerti?”

“…………….”
“Baiklah……bila Sensei berkata begitu, aku tak akan melakukannya. lagipula, sebenarnya dadaku terasa sakit setiap kali aku memotong garis itu. Maaf sensei, aku tidak akan melakukannya lagi”

“Shiki-kun, kamu anak yang baik. Jangan sampai kamu lupa pesanku tadi” kata Sensei sambil membelai rambutku

Sensei akhirnya melepaskan pelukannya

“Tapi Sensei, aku merasa tidak nyaman setiap kali melihat garis-garis itu. Mereka akan hancur bila aku memotong menyusur garis itu, kan?”

Sensei terlihat sedang memikirkan sesuatu

“Kamu benar.” Kata sensei tiba-tiba “Sepertinya aku bisa melakukan sesuatu. Mungkin itu alasan takdir mempertemukan kita.”

Sensei menghela nafas panjang, kemudian memberiku senyuman hangat.

“Shiki-kun, aku akan memberikan sesuatu yang sangat istimewa padamu besok. Aku akan mengembalikan hidupmu seperti pada saat sebelum terjadi kecelakaan”

Kemudian Sensei berdiri membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sesuatu, meninggalkan aku yang masih terbengong. aku hanya berharap bahwa apapun yang akan diberikan Sensei besok, benar-benar akan mengembalikan hidupku yang normal.

Kesokan harinya adalah tepat hari ketujuh aku bertemu dengan Sensei, Dia datang kepadang rumput dengan membawa sebuah koper yang besar.

“Ini” katanya sambil menyerahkan sebuah benda. “Kalau kau menggunakan ini, garis-garis aneh itu tidak akan terlihat lagi.”

Yang diberikan Sensei kepadaku adalah sebuah kacamata.

“Tapi mataku tidak minus”

“Pakai dulu dong, baru komentar” kata Sensei sambil memakaikan kacamata itu dengan sedikit memaksa.

Tiba-tiba,....

“Whoaa! Hebat! Ini hebat Sensei! Garisnya tak terlihat lagi!!!”

Aku gembira. Akhirnya aku bisa melihat normal setelah kejadian kecelakaan yang menimpaku. Semua garis dan retakan yang biasanya terlihat, kini menghilang.

“Tentu saja! aku perlu sedikit waktu untuk mencuri ‘penyegel mata mistis’ dari kakak perempuanku, dan membuat karya masterpiece dari Aozaki Aoko ini, Ha ha ha” Sensei tertawa bangga “Jadi, kamu rawat kacamata ini dengan baik, OK?”

Aku mengangguk

“Akan kurawat dengan sebaik-baiknya!” jawabku mantab. “Kau hebat sekali Sensei semua garis langsung menghilang seperti disihir!”

“Tentu saja, aku kan Penyihir” kata Sensei santai

Sensei kemudian menatapku sambil tersenyum. Dia meletakkan kopernya di tanah. Dan duduk didepanku

“Tapi, ketahuilah Shiki..... Garis-garis itu tidak menghilang, hanya saja kamu tidak bisa melihatnya lagi. Dan bila kamu melepas kacamata ini, kamu akan melihat garis-garis itu lagi.”

“Be..benarkah?”

Sensei mengangguk

“Karena matamu itu sudah bisa bisa disembuhkan lagi. Satu-satunya pilihanmu sekarang adalah memakai kacamata itu dan menjalani hidup seperti biasanya.”

“Tidak….!!! aku tidak mau memiliki mata jahat yang seperti ini!!!” aku berteriak kesal
“Kalau aku memotong garis itu, aku akan melanggar janjiku!!”

“Aaaa, maksudmu janji untuk tidak memotong garis itu lagi?” Tanya sensei sambil mengaruk kepalanya sendiri.

“Mmm” aku mengangguk

Sensei hanya tertawa kecil
“Janji itu bisa kamu langgar kapan saja”

“Huh? Kata-kata Sensei berbeda dengan yang kemarin”

Sensei masih tertawa kecil. “Sebenarnya nih, Shiki-kun, matamu yang sekarang itu adalah sebuah anugerah untukmu. kamu berhak menggunakannya kapanpun kamu mau. Tapi, kemampuan yang kamu miliki sangatlah unik. Bila kamu memiliki suatu kekuatan, artinya ada suatu alasan mengapa kamu memilikiknya. Tuhan tidak pernah memberikan sesuatu tanpa alasan”

Sensei mengelus kepalaku.

“Kamu diberi anugrah ‘Mata Mistis’ yang bisa melihat kematian. aku yakin kalau kamu akan memerlukannya suatu hari nanti. Karena itu, kamu tidak boleh hidup dengan menolak keberadaan kedua matamu yang istimewa itu.” Tambahnya.

Sensei menatap kedua mataku

“Karena itu, kamu hanya perlu mengingat pesanku kemarin, tidak perlu terkekang dengan janji.. kamu anak yang baik Shiki-kun. Selama kamu tetap seperti ini, aku yakin kemampuanmu tidak akan membawa kemalangan untukmu. aku tidak menyuruhmu untuk menjadi orang suci, hanya jalanilah hidupmu seperti apa yang kamu inginkan. Jadilah laki-laki yang baik.”

Sensei kemudian memelukku dan berkata, “Kamu berani mengakui kesalahanmu dan meminta maaf. aku yakin dalam 10 tahun kedepan, kamu akan menjadi seorang laki-laki yang hebat.”

Sensei kemudian berdiri dan mengambil kopernya.

“Oh ya, jangan pernah lepas kacamata itu, kecuali dalam keadaan terpaksa, OK? Bijaksanalah dalam menentukan kapan kamu harus melepaskan kacamata itu. Tidak ada yang namanya kekuatan jahat. Yang jahat adalah hati dari seseorang yang memiliki kekuatan itu.”

Setelah itu sensei hanya terdiam. Namun dalam hati aku tahu bahwa ini adalah saatnya berpisah.

“Aku tidak mengerti!!!!.” aku berteriak “Sejujurnya, sebelum aku bertemu denganmu, aku merasa sangat takut. Meskipun dengan kacamata ini, kalau Sensei tidak ada, aku harus bagaimana? aku masih takut…!!!!”

Sensei tersenyum

“Jangan bicara begitu, Shiki-kun”

Dia kemudian menyentil dahiku.

“Kau sediri tahu kan, kalau kamu akan baik-baik saja. jadi jangan bicara sesuatu yang bodoh yang bisa membuatmu mudah menyerah. Hanya kamu yang bisa menentukan jalan hidupmu. Dan bukan aku. Jadi aku yakin kamu akan baik-baik saja”

Sensei kemudian berbalik.

“Yah, ini saatnya mengatakan selamat tinggal. Dengar Shiki-kun, hidup itu tidak mudah, banyak jalan berliku dan tebing yang curam. kamu punya kekuatan yang lebih dari orang biasa. Jadilah orang yang tegar Shiki-kun”

Sensei kemudian pergi. Memang menyedihkan, tapi aku adalah temannya aku harus mengantar kepergiannya.

“Selamat tinggal, Sensei”

“Bagus Shiki-kun, tetaplah percaya diri. Bila kamu menemui masalah, tenanglah, dan tetap berpikir dengan tenang, OK? Selalu ada solusi untuk setiap masalah. kamu akan baik-baik saja” kata sensei dengan riang

Angin berhembus. Rumput-rumput bergoyang mengikuti angin. Sensei telah pergi

“Selamat tinggal Sensei” aku mengatakannya dengan lirih. aku merasa bahwa aku tidak akan melihatnya lagi. Yang tersisa hanyalah pesan-pesan dan kacamata aneh pemberiannya. Hanya tujuh hari kami bertemu, namun ia mengajari aku hal-hal yang lebih berharga dari apapun juga.

Sekarang aku berdiri seorang diri. Aku merasakan air mata membasahi pipiku. Aku merasa sangat bodoh. Aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal. Aku tak bisa mengucapkan kata terima kasih untuknya.

Tak lama setelahnya, aku keluar dari rumah sakit. Meskipun begitu, aku tidak bisa kembali kekediaman Tohno. Aku diambil dan dirawat oleh salah satu saudara jauhku. Tapi menurutku itu tidak masalah, karena Tohno Shiki akan baik-baik saja meskipun sendirian. Aku akan melewatkan waktu bersama keluarga yang baru. Dan begitulah musim panas Tohno Shiki berakhir. Musim semi telah datang Dan aku merasa menjadi sedikit lebih dewasa.

No comments: